* Menampilkan dan membahas film-2 klasik Hollywood dan internasional.
* Memberikan alternatif pilihan selain dari yang ada saat ini di pasar atau jalur utama.
* Memperkenalkan film-2 lama yang bersejarah.
* Meningkatkan kesadaran penonton dalam apresiasi film.

Selamat bergabung dan silakan menikmati.

Tuesday, January 24, 2012

Oscar Flashback (Top Hat)

Oscar Flashback:

Selama kariernya, Irving Berlin banyak menciptakan lagu-2 dengan melodi yang indah. Salah satunya adalah "Cheek to Cheek" yang dinyanyikan oleh Fred Astaire ketika dia berdansa dengan Ginger Rogers dalam film terbaik mereka Top Hat (1935), arahan Mark Sandrich. Lagu ini memperoleh nominasi Lagu Terbaik dalam Oscars 1936.

Heaven, I'm in Heaven,
And my heart beats so that I can hardly speak;
And I seem to find the happiness I seek,
When we're out together dancing, cheek to cheek.



Oscar Flashback (Breakfast at Tiffany's)

Melodi indah dari Henry Mancini dalam film Breakfast at Tiffany's (1961) arahan Blake Edwards ini adalah pemenang Lagu Terbaik dalam Oscars 1962.

Moon River, wider than a mile,
I'm crossing you in style some day.
Oh, dream maker, you heart breaker,
wherever you're going I'm going your way.

Two drifters off to see the world.
There's such a lot of world to see.
We're after the same rainbow's end,
waiting 'round the bend,
my huckleberry friend,
Moon River and me.



Oscar Flashback (The Man Who Knew Too Much)

Oscar Flashback:

Tidak seperti biasanya, musik memainkan peran penting dalam film thriller The Man Who Knew Too Much (1956) arahan Alfred Hitchcock -- apalagi dengan meng-cast Doris Day sebagai pemeran utama wanita. Hitchcock secara khusus mengakomodasi kemampuan Day dalam menyanyi ke dalam script yang ada, yaitu dengan menyisipkan lagu berjudul "Whatever Will Be, Will Be (Qué Será, Será)". Day sendiri mula-2 tidak menyukai lagu tersebut. Ketika dia akhirnya dipaksa menyanyikan lagu tersebut, dia konon berkata: "That's the last time you'll ever hear that song!"

Betapa kelirunya Day, karena lagu tersebut kemudian memenangkan Lagu Terbaik dalam Oscars 1957, menjadi hit di seluruh dunia, dan menjadi signature song dirinya -- Day menjadi identik dengan lagu Qué Será, Será.



Oscar Flashback (The Woman in Red)

Oscar Flashback:

Dalam film romantik komedi The Woman in Red (1984) arahan Gene Wilder ini, ada alasan tertentu mengapa dia senang duduk di dalam mobilnya di tempat parkir. Ssshhh, jangan mbocorin rahasia ini ke istrinya ya ...

Video klip berikut ini menampilkan lagu tema yang memenangkan Lagu Terbaik dalam Oscar 1985. Menjadi hit di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, lagu ini dinyanyikan oleh Stevie Wonder ... well, lagu apa lagi kalau bukan lagu itu!



Oscar Flashback (Never on Sunday)

Oscar Flashback:

Meskipun merupakan powerhouse dari industri perfilman dunia, Hollywood banyak dipengaruhi oleh film-2 yang berasal dari luar Hollywood -- mulai dari cerita, pengarahan, akting, ... sampai lagu. Perfilman Eropa memberi banyak ide dan pengaruh pada awal mulanya, kemudian perfilman Asia Timur (Hong Kong/China), dan akhir-2 ini perfilman Bollywood India.

Video klip berikut ini menampilkan lagu tema dalam film dari Yunani yang berjudul Never on Sunday (Pote tin Kyriaki) (1960), diarahkan oleh Jules Dassin, dinyanyikan oleh aktres Melina Mercouri. Lagu tema ini memenangkan Lagu Terbaik dalam Oscars 1961, kemudian dinyanyikan kembali oleh Connie Francis dalam bahasa Inggris dan menjadi hit di seluruh dunia.



Tuesday, November 29, 2011

Once Upon a Time in the West

Resensi Film: Once Upon a Time in the West (C'era una volta il West) (****/4)

Tahun Keluar: 1968
Negara Asal: Italy, USA
Sutradara: Sergio Leone
Cast: Henry Fonda, Claudia Cardinale, Jason Robards, Charles Bronson

Plot: Seorang pemain harmonika bergabung dengan seorang buronan kriminal untuk melindungi seorang janda dari segerombolan bandit yang bekerja untuk seorang pengusaha yang rakus (IMDb).

Setelah menyelesaikan Trilogi Dollar-nya: A Fistful of Dollars (1964), For a Few Dollars More (1965), dan The Good, the Bad and the Ugly (1966), Sergio Leone sesungguhnya ingin pensiun dari membuat film-2 koboi -- dia merasa misi western-nya sudah selesai. Tetapi studio United Artists (studio yang memproduksi Trilogi Dollar) meminta Leone untuk membuat film koboi sekali lagi, untuk terakhir kalinya, dengan mengiming-2i dia anggaran yang besar dan akses ke aktor favoritnya, Henry Fonda! Sepanjang kariernya, Leone selalu ingin bekerja dengan Henry Fonda, maka diterimalah tawaran tersebut.

Ide awal dari film ini adalah cerita yang menggabungkan semua referensi dari film-2 klasik koboi Amerika, mulai dari My Darling Clementine (1946), Duel in the Sun (1946), High Noon (1952), Shane (1953), The Searchers (1956), The Magnificent Seven (1960) sampai The Man Who Shot Liberty Valance (1962). Hasilnya adalah Once Upon a Time in the West ... judul yang sangat cocok untuk cerita yang bersifat timeless -- tidak hanya mengacu pada waktu tertentu saja, tetapi pada kumpulan kenangan dari masa lalu yang berisi tema universal tentang kebaikan dan kejahatan, romans, dan yang lainnya. Mengacu ke sekitar 30 film klasik koboi Amerika (menurut film critic dan film historian Christopher Frayling), Once Upon a Time in the West menyampaikan cerita dari tiga tokoh utamanya: pemain harmonika yang misterius (Charles Bronson), buronan kriminal yang notorious Cheyenne (Jason Robards), dan pengantin baru yang cantik Jill McBain (Claudia Cardinale). Berada di tengah jalan mereka adalah Frank, seorang pembunuh bayaran yang sadis, yang dimainkan dengan sangat meyakinkan oleh aktor yang selama ini selalu berperan sebagai good guy, Henry Fonda!

Setiap karakter mempunyai cerita sendiri-2 (dan musik tema sendiri-2!), dan setiap cerita dimulai secara misterius -- dengan gaya Leone yang klasik, motivasi dan identitas setiap karakter terungkap secara perlahan-2. Walaupun ceritanya kental dengan plot dan sub-2 plot, film ini menitikberatkan pada style/gaya dalam menyampaikan cerita tersebut -- menghasilkan scene-2 yang indah, yang mempunyai daya tarik sinematik yang kuat. Sebagai contoh, film ini dimulai dengan sequence pembuka sepanjang 15 menit yang dimainkan praktis dalam kesunyian sementara tiga koboi jago tembak menunggu kedatangan Harmonica di stasiun kereta api yang sunyi. Sequence ini mensetup style/gaya dari film ini secara keseluruhan -- momen-2 penting dimainkan dengan gaya seperti ini untuk menghasilkan efek suspense yang maksimal. Untuk penonton yang tidak mengenal gaya Leone, cara ini mungkin terasa lambat dan membosankan, tetapi percayalah ... jika anda sabar menunggu, hasilnya sangat sumbut -- tidak ada sutradara lain (kecuali Alfred Hitchcock!) yang dapat secara konsisten melakukan hal ini dengan baik.

Secara keseluruhan, penampilan film ini sangat elegen, mulai dari pengambilan gambar-2 dari Claudia Cardinale yang bagaikan goddess, pengambilan gambar-2 dengan lensa lebar dari Monument Valley yang menakjubkan, sampai musical score dari Ennio Morricone yang mengusik sanubari (film ini dapat anda pinjam hanya untuk mendengarkan musiknya saja!). Setelah suspense bergaya Hitchcock, Leone melepas Fonda dan gerombolannya dengan suara-2 tembakan yang paling memekakkan telinga dalam sejarah film-2 koboi. Ketika seorang tertembak, dia bahkan mati dengan gaya Leone: jatuh terpelanting secara brutal ... !

Dari segi originalitas, film ini memang tidak orisinil. Ketika film ini keluar, film ini langsung menjadi populer di seluruh dunia, tetapi penonton Amerika tidak menyukainya. Dengan berjalannya waktu, film ini berhasil mengumpulkan fans di Amerika, karena Leone dinilai berhasil menjadikan film ini sebagai filmnya sendiri (menggunakan style/gayanya sendiri). Pada tahun 2009, Once Upon a Time in the West terpilih masuk dalam United States National Film Registry sebagai film yang "culturally, historically, or aesthetically significant."

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Friday, November 25, 2011

Bicycle Thieves

Resensi Film: Bicycle Thieves (Ladri di biciclette) (****/4)

Tahun Keluar: 1948
Negara Asal: Italy
Sutradara: Vittorio De Sica
Cast: Lamberto Maggiorani, Enzo Staiola

Plot: Di Roma, Itali, setelah Perang Dunia ke 2, seorang pria harus menemukan kembali sepedanya yang hilang dicuri, karena tanpa sepeda tersebut dia tidak dapat melakukan pekerjaannya (IMDb).

Berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Luigi Bartolini, film klasik arahan Vittorio De Sica ini adalah studi yang sangat berani tentang kemiskinan. Bicycle Thieves dipengaruhi oleh gaya neorealism Itali -- gaya realism baru yang dipopulerkan oleh Roberto Rossellini, bersetting di kelas pekerja/bawah, di-shooting di lokasi (bukan studio), menggunakan cast orang biasa (bukan aktor), dan berkutat tentang tema kesulitan ekonomi dan perubahan moral yang ditimbulkannya setelah Perang Dunia ke 2 selesai. Gaya realism baru ini lebih menampilkan elemen-2 dari kehidupan nyata, daripada dari imajinasi belaka. Bersetting di Roma, Itali yang miskin setelah Perang Dunia ke 2, pria miskin Antonio (Lamberto Maggiorani), didampingi oleh anak laki-2nya Bruno (Enzo Staiola), harus menemukan kembali sepedanya yang hilang dicuri, karena tanpa sepeda tersebut dia tidak dapat melakukan pekerjaannya. Untuk meningkatkan realism, peran-2 tersebut dimainkan oleh orang-2 biasa (bukan aktor): Maggiorani adalah pekerja pabrik dan Staiola adalah anak laki-2 biasa yang karena situasi ekonominya nampak lebih dewasa dari usianya. Mereka berdua berhasil menampilkan kemanusiaan mereka di tengah-2 kemiskinan yang kronis yang menggilas mereka tanpa tedeng aling-2: dari pria yang berpengharapan di pagi hari ke pria yang putus asa di malam hari. Judul filmnya sendiri baru memukul benak penonton menjelang akhir film ketika Antonio, setelah gagal menemukan sepedanya, akhirnya berusaha mencuri sepeda orang lain (menjadi seperti orang yang telah menyusahkan dirinya). Ketika film selesai, Antonio menyadari bahwa dia secara moral tidak lebih superior daripada orang yang telah mencuri sepedanya. What a powerful ending! Ketika film ini dibuat, tidak ada film di Hollywood yang berani mempunyai pesan akhir seperti ini, karena pasti dilarang oleh Motion Picture Production Code (MPPC)/Hays Code.

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Thursday, November 24, 2011

Mr. Skeffington

Resensi Film: Mr. Skeffington

Tahun Keluar: 1944
Negara Asal: USA
Sutradara: Vincent Sherman
Cast: Bette Davis, Claude Rains, Walter Abel

Plot: Fanny Trellis, socialite cantik yang materialistis, mengawini Job Skeffington, pengusaha Yahudi yang mencintainya secara tulus, untuk tujuan convenience ("kemudahan") -- dan membutuhkan waktu yang lama dan nasib buruk yang berentetan untuk menyadarkan Fanny atas keegoisan dirinya tersebut (IMDb).

Berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Elizabeth von Arnim, Mr. Skeffington adalah melodrama yang bertumpu pada kekuatan akting dari dua pemeran utamanya: Bette Davis sebagai Fanny Trellis yang self-centered, egois dan Claude Rains sebagai Job Skeffington yang sabar dan pemaaf. Pesan ceritanya sesungguhnya bagus, walaupun temanya sudah umum. Karakterisasi Trellis sebagai ego-sentris terasa unbelievable, tetapi tertolong dengan adanya sub-plot antara dia dan adik kesayangannya, Trippy (Richard Waring) -- namun demikian, Davis membawakan perannya dengan penuh keyakinan sehingga penonton menjadi yakin. Transformasi Davis menjadi "old lady" di akhir film betul-2 mengejutkan, sekaligus mengharukan. Karakterisasi Skeffington sebagai suami yang tidak pernah putus harapan terhadap istrinya juga terasa unbelievable, tetapi tertolong dengan adanya sub-plot antara dia dan sekretarisnya -- namun demikian, Rains membawakan perannya dengan penuh kehangatan sehingga penonton menjadi percaya. Betul-2 peran yang pas untuk Davis, sama seperti gaun yang dia kenakan untuk menggoda semua pria yang dia inginkan, Mr. Skeffington merupakan kemenangan untuk penampilan Davis. Davis dan Rains menerima nominasi Oscar untuk penampilan dalam film ini.

Cerita (***)
Screenplay (***)
Karakter (***)
Akting (****)

Keseluruhan: ***/4

Wednesday, November 23, 2011

Now, Voyager

Resensi Film: Now, Voyager (**1/2/4)

Tahun Keluar: 1942
Negara Asal: USA
Sutradara: Irving Rapper
Cast: Bette Davis, Paul Henreid, Claude Rains, Gladys Cooper

Plot: Charlotte Vale, seorang perawan tua, mengalami gangguan mental gara-2 tekanan batin dari ibunya yang menguasai hidupnya. Setelah menjalani perawatan, dia pergi berpesiar dan berkenalan dengan seorang pria yang menyadarkan dirinya untuk menjadi wanita yang utuh dan independen (IMDb).

Berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Olive Higgins Prouty, inti ceritanya sesungguhnya berbobot, tetapi ... my oh my, film ini dipenuhi dengan cliché dan sentimentalitas -- seperti opera sabun. Namun demikian, transformasi Bette Davis dari wanita terkungkung menjadi wanita independen betul-2 luar biasa. Penampilan Gladys Cooper sebagai ibu yang menguasai juga sangat menyakinkan, walaupun rada berlebihan. Mereka berdua pantas menerima nominasi Oscar untuk penampilan dalam film ini. Claude Rains, seperti biasanya, memainkan perannya (sebagai Dr. Jaquith) dengan sangat baik, tetapi Paul Henreid tampil rada kaku (sebagai Jerry) dan karakternya (subplot antara dia dan anak perempuannya) terasa tidak masuk akal. Dialog-2nya terasa corny, pretentious -- muluk, tetapi tidak berarti :-) -- misalnya, dialog antara Dr. Jaquith dan Charlotte (Dr. Jaquith mengutip salah satu baris dari puisi Walt Whitman: "Now, Voyager, sail thou forth, to seek and find," atau dialog antara Charlotte dan Jerry:
Oh Jerry, don't let's ask for the moon. We have the stars.
What?! :-)

Kalau bukan gara-2 Bette Davis dan Gladys Cooper, film ini akan terlupakan dengan bergantinya jaman.

Maaf, penulis mesti tidak setuju dengan rating film ini di IMDb :-)

Cerita (**1/2)
Screenplay (**1/2)
Karakter (***)
Akting (***)

Keseluruhan: **1/2/4

Friday, November 18, 2011

Airport

Resensi Film: Airport (***1/2/4)

Tahun Keluar: 1970
Negara Asal: USA
Sutradara: George Seaton
Cast: Burt Lancaster, Dean Martin, Jean Seberg, Jacqueline Bisset, George Kennedy, Helen Hayes, Van Heflin, Maureen Stapleton

Plot: Berbagai drama kehidupan yang terjadi pada suatu malam bersalju di bandara internasional Chicago, AS (IMDb).

Berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Arthur Hailey, dari segi teknologi Airport memang terasa ketinggalan jaman; tetapi dari segi pengarahan, script dan akting film action ini patut menerima pujian -- tidak mengherankan Airport menjadi inspirasi bagi film-2 tipe bencana yang lain. Diarahkan secara sangat efektif oleh George Seaton, Airport mencakup lima plot: 1) kepala bandara Lancaster dan pesawat yang terjerembab di landasan (dimana mekanik jenius George Kennedy turun tangan), 2) Lancaster dan istrinya (dimana Public Relation bandara Seberg menjadi sub-plotnya), 3) kapten pesawat Martin dan pramugari Bisset (dimana istri Marti menjadi sub-plotnya), 4) pesakitan Heflin dan istrinya, Stapleton, dan 5) stowaway Hayes. Selain plot-2 dan sub-plot-2 tersebut, ada karakter-2 yang lain yang standout secara individual, yaitu Lloyd Nolan sebagai kepala custom yang waspada, uncredited aktor remaja sebagai penumpang pesawat yang inquisitive, dan uncredited aktor dewasa sebagai penumpang pesawat yang histeris. Dengan cerita yang riel, script yang rapi dan tajam, dan karakterisasi yang meyakinkan, Seaton berhasil menampilkan semua storyline secara berimbang -- menghibur di awal film dan menegangkan syaraf di akhir film. Burt Lancaster menampilan akting yang meyakinkan, George Kennedy memperoleh dialog-2 yang terbaik, tetapi Helen Hayes dan Maureen Stapleton-lah yang berhasil mencuri perhatian penonton: Hayes sebagai stowaway yang mula-2 menarik simpati, tetapi kemudian menggemaskan, dan Stapleton sebagai istri yang terkejut. Airport adalah film hiburan yang tidak hanya menghandalkan action, tetapi juga isi.

Cerita (***)
Screenplay (****)
Karakter (***1/2)
Akting (***)

Keseluruhan: ***1/2/4