Catatan harian seorang penggemar film klasik :

* Menampilkan dan membahas film-2 klasik Hollywood dan internasional.
* Memberikan alternatif pilihan selain dari yang ada saat ini di pasar atau jalur utama.
* Memperkenalkan film-2 lama yang bersejarah.
* Meningkatkan kesadaran penonton dalam apresiasi film.

Selamat bergabung dan silakan menikmati.

Sunday, May 6, 2012

The Graduate

Resensi Film: The Graduate (9.5/10)

Tahun Keluar: 1967
Negara Asal: USA
Sutradara: Mike Nichols
Cast: Anne Bancroft, Dustin Hoffman, Katharine Ross

Plot: Baru saja menyelesaikan studi tingkat sarjana, Benjamin Braddock pulang ke rumah orangtuanya, depressed dan kehilangan arah terhadap masa depannya. Mrs. Robinson, istri yang kesepian dari partner bisnis ayahnya, menggoda Ben dan menjebaknya masuk ke dalam affair. Komplikasi timbul ketika Ben bertemu dengan anak perempuan Mrs. Robinson, Elaine, dan jatuh cinta dengannya (IMDb).

Sayang sekali American Film Institute menurunkan ranking film ini dari urutan #7 dalam daftar AFI's 100 Movies pada tahun 1998 ke urutan #17 dalam daftar AFI's 100 Movies pada tahun 2007. Mungkinkah ranking film ini akan turun terus dengan berjalannya waktu? Semoga tidak. Penulis mempunyai analisis, penurunan ranking tersebut terjadi karena para film critic saat ini (dari negara-2 Barat) sedikit banyak "take for granted" pesan penting dalam film ini. Sebagai orang yang berasal dari negara berkembang, penulis merasakan sendiri betapa sulitnya suatu perubahan sosial dapat terjadi -- setiap perubahan sosial, sekecil apapun, memerlukan keberanian dan pengorbanan yang kadang-2 (sering-2) membuat pelakunya bertanya-2 apakah hasilnya akan setimpal dengan pengorbanan tersebut. Karena itu, penulis tidak pernah "take for granted" segala perubahan sosial yang telah dilakukan oleh generasi pendahulu yang sekarang penulis nikmati dalam kehidupan sehari-2.

Kalau anda membaca review-2 dari The Graduate, film milestone yang menyuarakan isyu-2 sosial penting yang terjadi di Amerika Serikat pada dekade 1960-an ketika generation gap sangat kentara, anda akan tertegun menemukan bahwa ada banyak interpretasi tentang film ini.

Benjamin Braddock (Dustin Hoffman) baru saja menyelesaikan studi tingkat sarjana, tetapi dia somehow tidak happy dan merasa kehilangan arah terhadap masa depannya. Dari scene pembuka, nampak jelas bahwa Ben merasa tertekan gara-2 harapan muluk orangtuanya terhadap dirinya. Mrs. Robinson (Anne Bancroft), istri dari partner bisnis ayahnya, memasuki scene dan meminta Ben secara memaksa untuk mengantarnya pulang -- ketika dia melempar kunci mobil ke dalam fish tank, kita mengetahui dia mempunyai maksud terselebung. Sesampai di rumahnya, ketika suaminya sedang tidak ada di rumah, Mrs. Robinson mulai "memojokkan" dan menggoda Ben. Tidak menyangka dan panik dengan tingkah laku tidak senonoh ini, Ben melarikan diri darinya. Tetapi beberapa hari kemudian Ben menelpon Mrs. Robinson dan mulailah hubungan affair mereka. Tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, Mr. Robinson meminta Ben untuk berkenalan dengan anak perempuannya, Elaine (Katharine Ross). Pada waktu yang sama, orangtua Ben juga meminta dia untuk mendekati Elaine. Mendengar rencana ini, Mrs. Robinson langsung marah dan mengancam Ben untuk tidak pernah mendekati anak perempuannya (karena Ben dinilai bukan pria yang "baik" untuk anak perempuannya). Moralitas ganda ini membuat Ben sakit hati, tetapi dia setuju untuk menjaga jarak dari Elaine. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya adalah kebalikan dari apa yang semestinya tidak terjadi; Ben jatuh cinta dengan Elaine. Konsekuensinya, hubungan affairnya terbongkar dan masa depannya hancur berantakan. Sejak itu, cintanya terhadap Elaine menjadi satu-2nya cara untuk menyelamatkan hidupnya dan juga melawan moralitas ganda yang berlaku saat itu.

Apa interpretasi penulis tentang film ini? Dengan setiap scene-nya merupakan masterpiece, ceritanya menampilkan dinamika interaksi antara generasi pendahulu dan generasi penerus, yaitu: bagaimana generasi pendahulu "mewariskan" nilai-2 mereka (termasuk segala kekurangan dan kesalahan mereka) ke generasi penerus, dan bagaimana generasi penerus "belajar" (termasuk menyontoh atau mengulang kekurangan dan kesalahan tersebut) dari generasi pendahulu dan "membawanya ke tingkat yang lebih atas". Dalam cerita ini, subyek yang perlu dibawa ke tingkat yang lebih atas adalah moralitas ganda. Apa yang dilakukan oleh Mrs. Robinson adalah sesuatu yang tidak terpuji. Apa yang dilakukan oleh Ben adalah sesuatu yang tidak terpuji. Keduanya sama-2 tidak terpuji; tetapi Mrs. Robinson tidak mau mengakuinya, sedang Ben mengakuinya. Dengan demikian, walaupun Ben juga bersalah, dia adalah hero dari generasi penerus yang berhasil melawan moralitas ganda.

Dari awal sampai akhir, Dustin Hoffman dan Anne Bancroft memberikan performance yang meyakinkan, sutradara Mike Nichols mengarahkan scene-2 yang memorable, dan penulis script Calder Willingham dan Buck Henry menyediakan dialog-2 yang setajam pisau cukur! The Graduate menerima 7 nominasi Oscar, termasuk: Aktor Terbaik untuk Hoffman, Aktres Terbaik untuk Bancroft, Aktres Pendukung Terbaik untuk Ross, Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Script Terbaik, dan Cinematography Terbaik (Mike Nichols memenangkan Sutradara Terbaik). Sayang sekali, karena pada tahun tersebut ada dua film yang lain yang juga menyuarakan isyu-2 sosial yang penting, yaitu In the Heat of the Night (1967) dan Guess Who's Coming to Dinner (1967), trophy-2 Oscar terpaksa dibagi rata di antara tiga film ini. Personally, penulis memilih The Graduate sebagai Film Terbaik untuk tahun 1968. In the Heat of the Night dan Guess Who's Coming to Dinner juga bagus, tetapi The Graduate adalah film yang betul-2 berani! The Graduate juga meningkatkan profile penyanyi folk-rock duo Simon & Garfunkel yang mengisi soundtrack film ini, termasuk hit mereka “Mrs. Robinson”. Sekedar info, Robert Redford pernah dipertimbangkan untuk memainkan peran Benjamin Braddock, tetapi rencana ini diurungkan karena dia dianggap terlalu comfortable dengan seksualitasnya, padahal peran Ben memerlukan orang yang justru sebaliknya. Doris Day, si “the girl next door” juga pernah dipertimbangkan untuk memainkan peran Mrs. Robinson, tetapi dia menolak tawaran ini (oh, Doris! ... what a big mistake!!! dia menolak mungkin karena dia tidak ingin merusak citranya sebagai “professional virgin” :-)).

Hampir setiap scene dalam film ini adalah masterpiece, tetapi tiga yang menjadi favorit penulis adalah:

3) Di dalam bis, duduk di bangku paling belakang, Ben dengan jaketnya yang robek dan Elaine dengan gaun pengantinnya terengah-2 setelah melarikan diri dari gereja.

2) Di hotel, Ben memulai affairnya dengan Mrs. Robinson.
Mrs. Robinson: Benjamin.
Benjamin: Yes?
Mrs. Robinson: Isn't there something you want to tell me?
Benjamin: Tell you?
Mrs. Robinson: Yes.
Benjamin: Well, I want you to know how much I appreciate this. Really.
Mrs. Robinson: The number.
Benjamin: What?
Mrs. Robinson: The room number, Benjamin. I think you ought to tell me that.
Benjamin: Oh, you're absolutely right. It's 568.
Mrs. Robinson: Thank you.
Benjamin: You're welcome. Well ... I'll see you later, Mrs. Robinson.

1) Di rumah Mrs. Robinson, Mrs. Robinson "memojokkan" dan menggoda Ben.
Benjamin: Mrs. Robinson, you're trying to seduce me.
Mrs. Robinson: [tertawa]
Benjamin: Aren't you?
Mrs. Robinson: Benjamin, I am NOT trying to seduce you.
Benjamin: I know that, but PLEASE, Mrs. Robinson, this is difficult ...
Mrs. Robinson: Would you like me to seduce you?
Benjamin: What?
Mrs. Robinson: Is that what you're trying to tell me?

* 9.5/10

Thursday, May 3, 2012

A Tale of Two Cities

Resensi Film: A Tale of Two Cities (8.5/10)

Tahun Keluar: 1935
Negara Asal: USA
Sutradara: Jack Conway
Cast: Ronald Colman, Elizabeth Allan, Edna May Oliver, Reginald Owen, Basil Rathbone

Plot: Kisah cinta dua pria terhadap seorang wanita sementara revolusi menyapu bersih seluruh Perancis (IMDb).

Novel klasik karya Charles Dickens ini adalah salah satu dari novel-2 favorit penulis ketika kecil. Bagaimana tidak, kalimat pertama dalam paragraf pertama sedemikian mengesankannya:

"It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity, it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way -- in short, the period was so far like the present period ..."

Ya, betul sekali, Mr. Dickens ... it's like present time, it's like now (!), itulah perasaan penulis ketika membacanya untuk pertama kali dan setiap kali mengenangnya. Ceritanya tidak pernah lekang oleh panas, tidak pernah lapuk oleh hujan, selalu relevan, bahkan sampai saat ini. Di bawah pengawasan David O. Selznick -- satu-2nya produser (setelah Irving Thalberg) dalam sejarah Hollywood yang "care"  tidak hanya terhadap box-office saja tetapi juga terhadap kualitas atau mutu dari film-2nya, cerita klasik ini berhasil diadaptasi ke layar lebar sangat dekat dengan cerita aslinya. A Tale of Two Cities mempunyai cast yang unggul, khususnya Ronald Colman, sebagai pemeran utama Sydney Carton; juga aktor-2 yang lain yang memainkan peran-2 pendukung, termasuk Basil Rathbone sebagai Marquis St. Evrémonde -- aristokrat yang angkuh dan jahat, Henry B. Walthall sebagai Dr. Manette -- ayah Lucie, orang tidak bersalah yang menjadi korban kesewenang-2an aristokrat, Edna May Oliver sebagai Miss Pross -- pengasuh Lucie, pembantu yang setia, dan Blanche Yurka, yang hampir saja "mencuri" centre-stage, sebagai Madame Defarge -- juga korban kesewenang-2an aristokrat, heroine dan sekaligus arch villainess! Walaupun nampak sebagai kisah cinta, Dickens menciptakan karakter-2 yang menyampaikan pesan-2 yang jauh lebih dalam dari sekedar kisah cinta. Sydney Carton, pria yang mempunyai posisi dan profesi terhormat, tetapi somehow dia tidak menemukan kebahagiaan, tidak menemukan "arti" dalam hidupnya. Dia menghabiskan waktu dan pikirannya antara minum dan ruang pengadilan. Sampai akhirnya dia bertemu Lucie, wanita yang memberinya "arti", tetapi secepat itu pula dia mengetahui bahwa dia tidak dapat memilikinya. Dr. Manette, korban kesewenang-2an yang berhasil berdamai dengan masa lalunya. Madame Defarge, juga korban kesewenang-2an, sebaliknya, tidak pernah sirna nafsu balas dendamnya -- memimpin revolusi di kampung halamannya, menggalang persatuan dan membangkitkan amarah rakyat terhadap aristokrat; dengan sinar matanya yang tajam dan senyumnya yang sinis, dia tidak pernah absen menjatuhi hukuman mati sambil dia duduk merajut di pengadilan kangguru, the Reign of Terror. Kebenciannya terhadap seluruh keturunan Evrémonde, tidak peduli bersalah atau tidak, telah mengkonsumsi dirinya dan mengubah dirinya menjadi monster. Peran-2 pendukung yang lain, dan jumlahnya banyak, dimainkan dengan sangat baik dan mesti anda tonton sendiri untuk mengapresiasinya. Bahkan bagian-2 kecil ini juga unik, berkarakter, so colourful; betul-2 salut untuk casting yang tepat. Anda jarang menemukan perhatian sedetil ini jaman sekarang, unfortunately. Cinematography dan editing dilakukan dengan sangat baik dan menjadikan film ini enak ditonton. Arahan dari Jack Conway juga dilakukan dengan sangat baik, khususnya scene penyerbuan Bastille dan menuju akhir film, scene hukuman mati massal dengan Madame Guillotine -- menimbulkan perasaan eerie (strange and frightening). Scene paling berkesan untuk penulis adalah menuju akhir film ketika Sydney Carton berusaha menghibur seorang seamstress (penjahit wanita) yang ikut-2 dijatuhi hukuman mati hanya gara-2 dia berteman dengan seorang aristokrat. Sambil ketakutan, si seamstress bertanya ke Sydney: "Mengapa aku harus mati?" "Apa gunanya?"

Sydney Carton mengetahui alasan untuk dirinya ...

Scene terakhir, kamera bergerak mengarah ke langit, sementara Carton mengucapkan kalimat terakhirnya,  betul-2 a knock-out! Di akhir film, penulis hanya dapat bergumam, "Wow ..."

A Tale of Two Cities adalah film yang dapat ditonton untuk seluruh keluarga. Ceritanya simple bagi anak-2 untuk memahaminya, tetapi sekaligus compelling bagi orang dewasa untuk menemukan makna yang lebih dalam darinya. Sedikit ganjalan, film ini dikeluarkan pada musim liburan Natal pada tahun 1935 sehingga musical scores-nya disesuaikan dengan festivity yang ada saat itu, padahal tanpa bantuan festivity ini cerita klasik dari Dickens ini akan tetap mampu menjadi klasik.

* 8.5/10

Monday, April 30, 2012

In the Heat of the Night

Resensi Film: In the Heat of the Night (9.0/10)

Tahun Keluar: 1967
Negara Asal: USA
Sutradara: Norman Jewison
Cast: Sidney Poitier, Rod Steiger, Warren Oates, Lee Grant

Plot: Kasus pembunuhan seorang industrialis di kota kecil Sparta, Mississippi yang rasis menyeret seorang detektif kulit hitam dari Philadelphia menjadi pemimpin dalam penyelidikan tersebut (IMDb).

Ras adalah topik yang tidak mudah ditangani dalam film, terlebih lagi untuk film ini karena film ini dibuat pada jaman dimana ras tidak didiskusikan dalam film. Jaman sekarang berbeda, kita sering melihat ras didiskusikan dalam film, sebuah topik yang hangat dimana para filmmaker senang mencobanya. Namun demikian, bahkan di jaman sekarang-pun, topik ini tetap memberi tantangan (dan bahkan menciptakan masalah) bagi para filmmaker. Contohnya, coba lihat film Crash (2004), sebuah film dimana ras harus nampak secara gamblang, dimana setiap orangnya adalah rasis, dan agar penonton memahami isyu racism, penonton harus digelontor dengan karakter-2 dan skenario yang dibuat-2. Sebaliknya, dalam film ini, walaupun ras adalah topik utama, filmnya tidak pernah "menghantam" penonton "over the head" dengan ras. Bagaimana film dengan ras sebagai topik utama berhasil menempatkan ras ke latar belakang dengan sedemikian suksesnya? Jawabannya sederhana. Sutradara Norman Jewison memahami bahwa ras ada dimana-2, dan di segala waktu -- bahkan jika ditempatkan di latar belakang! Sangat mengagumkan konstruksi arahan dan script dalam film ini: ketika penonton asyik mengikuti misteri pembunuhan yang terjadi dan terbenam dalam penyelidikan yang berlangsung, kemudian dengan secara tiba-2 berubah menjadi rasis. Misalnya, di akhir film, ketika Virgil Tibbs dan Bill Gillespie berpisah di stasiun kereta api, penonton merasakan ada pengertian di antara mereka berdua, kemudian dengan secara tiba-2, tanpa disangka-2, Gillespie mengucapkan komen rasis kepada Tibbs. Dalam film ini ras selalu hadir dan mempunyai pesan penting tentang hal tersebut, tetapi tidak pernah "menghantam" penonton "over the head", sebaliknya membiarkan penonton melihat bahwa racism adalah salah satu aspek dalam kehidupan. Tidak dapat disangkal, film ini juga bertumpu pada kemampuan akting Sidney Poitier dan Rod Steiger. Memang betul, keduanya memerankan karakter-2 yang ekstrem: Steiger mewakili humanity paling buruk, sedang Poitier mewakili humanity paling baik. Tetapi, penampilan mereka berubah menjadi spesial justru ketika mereka bergerak menuju ke "tengah". Tibbs tidak selalu sempurna dan baik -- suatu kali dia mengakui bahwa dia mengejar seorang tertuduh bukan karena alasan hukum tetapi karena alasan pribadi. Sedang Gillespie, beberapa kali punya momen dimana dia bergerak menuju respectability dan kindness, dimana sikap rasisnya hilang digantikan dengan sikap humane-nya. Walaupun keduanya tidak pernah tinggal di "tengah", tetapi "middle ground" tersebut selalu ada di sana. Ini membuat penonton dapat mengidentifikasi diri mereka tidak sebagai salah satu dari karakter-2 tersebut, tetapi sebagai orang -- yaitu, orang yang dapat buruk, dapat baik, atau segalanya yang ada di antaranya. Di antara semua film tentang ras, In the Heat of the Night adalah salah satu dari yang terbaik ... if not, the best!

* 9.0/10


Friday, April 20, 2012

The Motorcycle Diaries

Resensi Film: The Motorcycle Diaries (Diarios de motocicleta) (8.5/10)

Tahun Keluar: 2004
Negara Asal: Argentina, USA, Chile, Peru, Brazil, UK, Germany, France
Sutradara: Walter Salles
Cast: Gael García Bernal, Rodrigo de la Serna

Plot: Catatan perjalanan Ernesto 'Che' Guevara dan temannya, Alberto Granado, ketika mereka berpetualang mengelilingi benua Amerika Latin (IMDb).

Penulis mula-2 tidak mengetahui siapa Ernesto 'Che' Guevara ini, selain mengenalnya dari potret atau gambar wajahnya di banyak T-shirt yang dikenakan oleh anak-2 muda di negara-2 Barat. Baru setelah itu, penulis mengetahui bahwa 'Che' Guevara adalah tokoh revolusi di benua Amerika Latin, khususnya berperan dalam revolusi di Cuba. Oooh, ... makanya, 'Che' Guevara adalah idola anak-2 muda, simbol dari "hero" atau "pemberontak" -- pemberontakan terhadap sistem yang ada, pemberontakan terhadap orangtua mereka, pemberontakan terhadap segala sesuatu yang mengekang atau membatasi dirinya. 'Che' Guevara adalah anak muda, seorang idealis, dan sebagai anak muda yang menginjak dewasa, dia mempunyai panggilan untuk berperan dalam hidup ini -- dia mempunyai ide bagaimana dia dapat menyumbangkan pikiran dan tenaganya untuk memperbaiki hidup dirinya dan hidup sesamanya.

Berbeda dari sebagian film critic yang tidak menyukai film ini (di antaranya adalah Roger Ebert) karena film ini tidak menceritakan sisi politik dari 'Che', penulis justru sebaliknya -- menyukai film ini justru karena film ini tidak menceritakan sisi politik dari 'Che'. Mirip seperti cerita Chanel sebelum dia memasuki masa kejayaannya dalam film Coco avant Chanel (2009), adaptasi dari catatan perjalanan yang ditulis oleh 'Che' ini menceritakan 'Che' ketika dia muda belia -- berusia 23 tahun, satu semester sebelum dia lulus menjadi dokter, totally non-political, yang sama seperti anak-2 muda yang lain, hanya bertujuan untuk mencari kesenangan dan petualangan ketika dia dan temannya, Alberto -- juga seorang dokter muda, memutuskan untuk mengelilingi benua Amerika Latin dengan sebuah sepeda motor tua. Berasal dari keluarga kaya, 'Che' sama sekali tidak menyangka perjalanan tersebut bakal mengubah dirinya.

Aktor Meksiko, Gael García Bernal, dengan penampilannya yang dreamy memainkan perannya sebagai 'Che' dengan penuh kharisma: perasa, poetic, sensitive, dan kadang-2 foolish karena usianya yang masih muda sehingga kurang berpengalaman dalam "seni" menjalani hidup. Sedang aktor Argentina, Rodrigo de la Serna, dengan sangat baik melengkapi penampilan Bernal tersebut sebagai teman perjalanan yang lebih tua dan lebih berpengalaman. Istilahnya, keduanya saling melengkapi satu sama lain. Sejak awal penulis sudah waswas apakah sepeda motor tua tersebut, yang dijuluki La Poderosa (The Mighty One), mampu membawa mereka dari rumah mereka di Argentina ke 8,000 kilometer mengelilingi benua Amerika Latin? Dalam perjalanan tersebut, La Poderosa yang tua dan setia ini pernah kecebur masuk ke dalam sungai, pernah tergelincir di jalan bersalju, pernah nabrak sapi, ... sampai akhirnya menemui ajalnya di Chile. Sementara itu, 'Che' pernah jatuh cinta dengan seorang cewek, pernah hampir dikeroyok orang sekampung gara-2 "main mata" dengan istri orang (beruntung dia berhasil meloloskan diri), sedang Alberto yang lebih berpengalaman justru jarang mendapatkan cewek karena cewek lebih menyukai 'Che' yang dreamy. Dengan kematian La Poderosa, rute dan tempo perjalanan mereka berubah total! Tidak dapat bergerak secara bebas dan cepat lagi, ditambah dengan masalah kehabisan uang, mau tidak mau mereka harus meneruskan perjalanan secara primitive, yaitu hitchhike (cari tumpangan gratis dari penduduk lokal), atau kalau gak ketemu tumpangan ya jalan kaki (!), dan cari teman baru agar dapat makan gratis :-) Persahabatan antara 'Che' dan Alberto mengalami ujian berat: mereka berbeda pendapat, mereka bertengkar, tetapi persahabatan tidak pernah putus. Pertemuan dengan penduduk lokal di setiap tempat yang mereka singgahi ternyata adalah eye-opening experience (pengalaman yang membuka mata) untuk 'Che' dan Alberto: di suatu tempat di pegunungan Andes mereka bertemu dengan seorang petani yang kehilangan tanahnya karena perlakuan tidak adil dari pemerintah setempat; di tempat yang lain di tengah padang gurun Atacama mereka bertemu dengan sepasang suami-istri yang terlunta-2 setelah diusir dari rumahnya karena mereka adalah komunis; di tempat yang lain lagi mereka menyaksikan bagaimana perusahaan pertambangan mengeksploitasi para buruh tambang. Eye-opening experience ini diakhiri dengan mereka mengunjungi leper colony (kompleks penderita kusta) di daerah Amazon, Peru, dimana mereka dapat menyumbangkan keahlian mereka sebagai dokter. Setelah menyelesaikan perjalanan mereka di tujuan akhir di Caracas, Venezuela, 'Che' adalah orang yang berbeda dari orang yang dia kenal sebelum dia melakukan perjalanan tersebut.

Sutradara Brazil, Walter Salles, dengan sangat baik menghidupkan kembali perjalanan 'Che' dan Alberto tersebut -- melibatkan lebih dari 30 lokasi di Amerika Latin, menggunakan rute yang sama seperti yang dilalui oleh 'Che' dan Alberto, menampilkan kontras dari masing-2 lokasi tersebut, dan menggunakan aktor-2 non-professional untuk orang-2 yang ditemui dalam perjalanan tersebut. Dibantu dengan penempatan kamera yang membuat penonton seakan-2 "ikut" atau "masuk" dalam perjalanan tersebut, cinematography yang menangkap keindahan alam Amerika Latin, dan musical score yang menyiratkan budaya benua ini, film ini mempunyai nilai authenticity yang tinggi yang sangat mengesankan. Selain cerita tentang persahabatan -- penampilan Bernal dan de la Serna berhasil mencerminkan kedalaman persahabatan tersebut, film ini juga cerita tentang menemukan jati diri.

Keabsenan politik dalam film ini justru mencerminkan authenticity dari kepingan sejarah tentang tokoh revolusioner abad ke 20 yang mungkin paling illusive ini -- membuat penonton semakin ingin tahu: "So, ... terus bagaimana perjalanan 'Che' sampai akhirnya dia terlibat langsung dalam revolusi?"

Film ini adalah film untuk anak muda dan mereka yang berjiwa muda.

* 8.5/10

Tuesday, April 17, 2012

Gilda

Resensi Film: Gilda (8.5/10)

Tahun Keluar: 1946
Negara Asal: USA
Sutradara: Charles Vidor
Cast: Rita Hayworth, Glenn Ford, George Macready

Plot: Seorang boss casino high-class yang beroperasi secara illegal menemukan orang kepercayaannya mempunyai masa lalu dengan istri barunya (IMDb).

Bersetting di Buenos Aires, Argentina, sekitar Perang Dunia ke 2, Gilda adalah film noir yang dikemas sebagai detective story, tetapi sesungguhnya adalah love story. Johnny Farrell (Glenn Ford) adalah penjudi "profesional" yang suatu malam diselamatkan oleh seorang tidak dikenal ketika dia dirampok di pinggir jalan, seraya diberitahu bahwa ada casino high-class yang beroperasi secara illegal, tetapi diperingatkan tidak mempraktekkan "keahliannya" tersebut di casino itu. Mengabaikan peringatan tersebut, Johnny pergi ke casino itu, curang di meja blackjack, kemudian ditangkap dan diserahkan ke pemilik casino yang ternyata adalah orang yang sama yang menolongnya tempo hari, Ballin Mundson (George Macready). Merasa bangga berhasil mencuranginya, Johnny menawarkan diri untuk bekerja di casino itu dan secara cepat memperoleh kepercayaan dari boss-nya. Suatu hari, sepulang dari perjalanan bisnis, boss-nya memperkenalkan Johnny kepada istri barunya, Gilda (Rita Hayworth) ... ternyata Johnny dan Gilda adalah eks pasangan. Mula-2 tidak mengetahuinya, Mundson akhirnya mencium masa lalu tersebut dari sikap "benci" mereka setiap kali mereka bertemu. Anehnya, Mundson menugaskan Johnny untuk menjaga/mengawasi Gilda. Sementara hubungan "love-hate" antara Johnny dan Gilda memanas, urusan bisnis Mundson dengan organisasi kartel dari Jerman menemui jalan buntu. Menambah complicated situasi, polisi rahasia Argentina membututi Johnny untuk memperoleh informasi tentang organisasi kartel tersebut.

Okay, penulis dapat menilai film ini dari dua sisi. Pertama, cerita. Dari sisi cerita, kurang valid. Relasi antara Johnny dan boss-nya tidak pernah masuk akal -- apakah mungkin seorang boss merekrut orang yang mencuri darinya menjadi manajer untuk usahanya? bukankah dia semestinya sudah mempunyai manajer untuk usahanya tersebut? Mundson mengawini Gilda, yang ternyata adalah eks-nya Johnny -- ini adalah big coincidence yang terasa dibuat-2 ... only happens in the movies :-) Kemudian, Mundson menugaskan Johnny untuk "menjaga" atau "mengawasi" Gilda -- ini betul-2 laughable :-) ... seakan-2 hanyalah pretext saja (alasan saja) untuk melayani tujuan yang lain, yaitu melihat hubungan "love-hate" antara Johnny dan Gilda. Dan ... ya memang betul, THAT IS IT! Film ini walaupun bernuansa film noir/detective story, sesungguhnya adalah love story. Ada banyak "lubang" dalam ceritanya, terutama menuju akhir film, tetapi penulis tidak ingin membuka semua plot agar tidak merusak keinginan mereka yang belum pernah menonton film ini.

Kedua, produksi. Dari sisi produksi, kalau kita menerima film ini adalah film love story (tepatnya, femme fatale), sehingga segala sesuatu yang terjadi antara Johnny dan Gilda terasa make sense, betul-2 fantastik! Dibuat ketika Hollywood berada di bawah pengawasan MPPC (Motion Picture Production Code), yaitu badan yang melakukan moral censorship terhadap film-2 Hollywood dari tahun 1930 sampai tahun 1968, penulis betul-2 kagum melihat bagaimana sutradara Charles Vidor dan tim penulis script-nya berhasil memenuhi semua tuntutan MPPC dan tetap berhasil menyampaikan esensi dari cerita yang ada. Johnny dan Gilda bagaikan kutub utara dan kutub selatan yang berseberangan dan sekaligus saling tertarik. Hubungan "love-hate" tersebut dicerminkan dalam scene-2 yang highly sexual dan sensual, dan diisi dengan dialog-2 yang ... (oh my god) deliciously spiteful! :-) Penonton tahu, tinggal tunggu waktu saja sebelum mereka melampiaskan cintanya, sehebat mereka melampiaskan bencinya. Tetapi beruntung sekali ada MPPC :-) ... sehingga pelampiasan tersebut hanya terjadi sekali saja, dan itupun hanya 3 detik saja :-) Ada pepatah yang mengatakan: less is more, dan ini berlaku di sini. Walaupun Glenn Ford tampil hampir dalam setiap scene, Rita Hayworth adalah "jiwa" dalam film ini. Sementara Ford terasa kaku (ekspresi wajahnya jarang berubah sepanjang film), Hayworth betul-2 femme fatale yang believable -- ekspresi wajahnya komplit: dari gembira, kaget, kesal, sinis, manja, marah, sexy, frustrasi, sampai segalanya yang lain. Dia menyanyi (di-dubbed), menari, dan menggoda dengan passionate. Jack Cole adalah orang yang berjasa meng-koreografi Hayworth ketika dia menyanyi dan menari "Put the Blame on Mame" dan "Amado Mio". Sedang Charles Vidor betul-2 mengetahui dimana dia mesti meletakkan kamera untuk menangkap sisi terbaik Hayworth. Scene-2 dimana Hayworth mengibaskan rambutnya dari luar kamera masuk ke dalam kamera, entah sudah berapa kali diimitasi oleh filmmaker-2 yang lain. Penampilan Hayworth juga dibantu oleh kostum-2 elegan dan sexy dari Jean Louis. Dan secara keseluruhan, filmnya menerima cinematografi hitam-putih yang kaya dan indah dari Rudolph Mate.

Walaupun dari sisi cerita kurang valid, penulis lebih condong mengapresiasi film ini dari sisi produksinya, terutama bagaimana filmmaker pada jamannya berhasil melewati "halangan" dari MPPC.

* 8.5/10

Thursday, April 12, 2012

Coco avant Chanel

Resensi Film: Coco avant Chanel (Coco Before Chanel) (8.5/10)

Tahun Keluar: 2009
Negara Asal: France, Belgium
Sutradara: Anne Fontaine
Cast: Audrey Tautou, Benoît Poelvoorde, Alessandro Nivola, Marie Gillain

Plot: Biopic perancang busana Gabrielle 'Coco' Chanel sebelum dia memasuki masa kejayaannya (IMDb).

Kali ini penulis betul-2 tidak setuju dengan pendapat Margaret dan David yang memberi rating 3 dan 2.5 untuk film ini -- What? David!!! I thought I could trust your opinion :-) Penulis juga tidak setuju dengan pendapat-2 yang mengatakan topik Coco SEBELUM Chanel tidak menarik, tidak penting, atau tidak perlu, dengan alasan topik Coco SELAMA Chanel-lah yang lebih menarik, lebih penting, dan lebih perlu. Mengapa? Sebagian pengagum Coco Chanel ingin menyaksikan cerita yang spektakuler tentang dirinya -- seorang heroine yang melakukan heroism-nya dengan "big bang" (seperti Superman atau Spiderman menyelamatkan dunia dari orang jahat), tetapi justru inilah yang dihindari oleh sutradara Anne Fontaine. Sama dengan penulis, justru di sinilah letak keindahan film ini. Tidak ada yang glamourous atau spektakuler dari masa lalu Chanel (Audrey Tautou), seorang anak yatim yang setelah ibunya meninggal dunia, ayahnya menelantarkan dia dan saudaranya, Adrienne (Marie Gillain), di rumah yatim piatu. Dengan setting seperti Dickensian ini, Anne Fontaine tidak terpancing masuk ke dalam sentimentalisme. Nuansa film secara keseluruhan bahkan terkesan un-sentimental. Dalam hal ini penulis kagum bagaimana script yang ditulis oleh Fontaine sendiri (dkk.) telah menampilkan bakat kreativitas Chanel sejak dari awal film, tetapi bakat ini seakan-2 "melayang" tidak ada yang mempedulikan (termasuk penonton dan Chanel sendiri!). Secara halus/tanpa terasa, Fontaine sedikit demi sedikit meng-accentuate bakat ini, kemudian menjadi prominent secara tiba-2 ketika keadaan memaksa -- dan anehnya, penonton terpana, padahal penonton sudah mengetahui bakat tersebut sejak dari awal film. Scriptnya tidak pernah berusaha "menahan" atau "menyembunyikan" bakat Chanel ini dengan tujuan sebagai kejutan atau "big bang" yang memuaskan sentimen penonton.

Tumbuh dewasa praktis sendirian (bersama saudaranya), Chanel mempunyai ambisi untuk menjadi wanita terhormat dan mandiri. Dengan latar belakang sebagai yatim piatu, cita-2 tersebut bukanlah cita-2 yang mudah dicapai. Bekerja sebagai tukang jahit di siang hari dan penyanyi cafe di malam hari (dia mendapat julukan 'Coco' karena setiap malam dia menyanyikan lagu populer berjudul "Coco" - dari kata Perancis "cocotte" yang berarti wanita simpanan), Chanel tidak pernah putus asa mencari kesempatan untuk mencapai cita-2 tersebut. Tidak jauh dari isi lagu yang dia nyanyikan, dia menjadi wanita simpanan seorang pria terhormat, Étienne Balsan (Benoît Poelvoorde), dengan harapan suatu saat dia bakal dikawini secara resmi -- dia tahu bahwa harapan ini adalah harapan kosong. Balsan sedikit banyak mencerminkan sosok ayah yang tidak pernah hadir dalam hidup Chanel. Belum sepenuhnya lepas dari Balsan, Chanel menjadi wanita simpanan pria terhormat yang lain, Arthur 'Boy' Capel (Alessandro Nivola), yang usianya sepadan dengan dirinya, yang dia ternyata betul-2 mencintainya ... juga dengan harapan suatu saat dia bakal dikawini secara resmi -- dia lagi-2 tahu bahwa harapan ini adalah harapan kosong. Kematian Capel secara tiba-2 akhirnya menyadarkan Chanel bahwa dia tidak bisa bergantung pada orang lain. Kehormatan dan kemandirian yang dia idam-2kan hanya dapat dijamin kalau dia bergantung pada diri sendiri -- dan untuk Chanel, ini artinya melakukan apa yang dia lakukan dengan baik, yaitu menjahit, merancang busana!

Penulis kagum dengan scene-2 dimana Fontaine sedikit demi sedikit meng-accentuate bakat Chanel ini, mulai dari ketika Chanel tampil "blend-in" (nampak sama seperti) wanita-2 di sekitarnya, kemudian sedikit demi sedikit tampil "out-of-place" (nampak berbeda dari) wanita-2 di sekitarnya, karena dia mengenakan gaun rancangannya sendiri yang berbeda dari gaun pada jaman itu -- gaun rancangan Chanel pada dasarnya mencerminkan sifat atau cita-2 mandiri Chanel: sederhana, tidak menyusahkan wanita ketika mengenakannya, tetapi tetap elegan atau bahkan lebih elegan! Penulis particularly terkesan dengan scene terakhir, yaitu montage parade busana, sementara Chanel duduk termenung sendirian di anak tangga, sambil sekali-2 sinar matanya memancarkan rasa puas dan bahagia. Frame terakhir ketika film berubah warnanya menjadi hitam-putih dan wajah Audrey Tautou tampil mirip seperti wajah Chanel yang sesungguhnya betul-2 poignant, profoundly moving, touching. Bagaimana tidak, parade busana tersebut terjadi pada awal tahun 1900-an, tetapi rancangannya bagaikan rancangan dari tahun ini -- hati penulis langsung miris melihat ini.

Audrey Tautou memainkan perannya dengan sangat baik. Benoît Poelvoorde memainkan peran tidak simpatiknya juga dengan sangat baik (penonton percaya Chanel kecantol dengan pria seperti ini). Sayangnya, Alessandro Nivola rada mis-cast sebagai gentleman Inggris (penonton rada gak percaya Chanel betul-2 mencintai pria seperti ini :-)). Cinematography dari Christophe Beaucarne sangat indah. Musical score dari Alexandre Desplat menghanyutkan. Dan Costume Design dari Catherine Leterrier tentu saja elegan.

Pernahkah anda menyadari, kadang-2 apa yang anda lakukan dengan sangat baik justru anda kecilkan atau abaikan. Sekecil apapun bakat anda, pedulikan ... ada 'chanel' dalam diri setiap orang.

Salah satu rancangan Chanel yang paling terkenal adalah The Little Black Dress, gaun satu potong berwarna hitam, mengenakannya sangat mudah, tetapi super elegan. Muncul pada tahun 1920-an dan terus populer bahkan sampai saat ini. Rancangan ini menjadi immortal ketika dikenakan oleh Audrey Hepburn dalam filmnya, Breakfast at Tiffany's (1961).

* 8.5/10

Tuesday, April 10, 2012

Great Expectations

Resensi Film: Great Expectations (8.5/10)

Tahun Keluar: 1946
Negara Asal: UK
Sutradara: David Lean
Cast: John Mills, Valerie Hobson, Bernard Miles, Francis L. Sullivan, Anthony Wager, Jean Simmons

Plot: Seorang anak laki-2 yatim piatu menerima bantuan keuangan dari seorang anonimus untuk dididik menjadi pria terhormat (gentleman) dengan masa depan cemerlang (great expectations) (IMDb).

Film arahan sutradara David Lean ini adalah adaptasi bebas dari novel klasik dengan judul yang sama karya Charles Dickens. Mereka yang sudah membaca novelnya akan menemukan beberapa perbedaan antara novel dan filmnya. Selain perbedaan beberapa karakter, script adaptasi film ini juga menghilangkan ambiguity di akhir cerita -- konon dengan maksud memuaskan tuntutan sentimental penonton (sementara mereka yang mengenal novelnya justru ambiguous dengan akhir cerita tersebut). Anyway, David Lean dkk. telah melakukan adaptasi dengan sangat baik -- sebaik mungkin yang dapat dilakukan oleh tim penulis script dari "memampatkan" 59 bab dalam novelnya menjadi hanya 3 babak saja dalam filmnya, dan tetap berhasil menjaga esensi dari cerita yang ada. Tidak ada penulis lain, selain Shakespeare tentunya, yang dapat menandingi Charles Dickens dalam menciptakan karakter-2 dengan nama yang aneh, dan karakterisasi yang aneh pula, sedemikian rupa sehingga melekat dalam ingatan pembaca. Walaupun Pip (John Mills/Anthony Wager -- Pip kecil) adalah tokoh utama dalam cerita ini, Pip hanyalah hero yang pasif, yang terseret menjadi "saksi" dalam rentetan peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Miss Havisham (Martita Hunt) adalah kekuatan utama dalam film ini: seorang wanita yang patah hati, yang memelihara patah hatinya dengan "mengabadikan" momen tersebut dan mendidik anak angkatnya, Estella (Valerie Hobson/Jean Simmons -- Estella kecil), dengan meracuni pikirannya untuk mematahkan setiap hati pria yang jatuh cinta dengannya. Walaupun sudah diperingatkan oleh temannya, Pip tidak dapat menolong dirinya, dia tetap saja jatuh cinta terhadap Estella. Mr. Magwitch (Finlay Currie) adalah kekuatan utama yang lain dalam film ini: seorang kriminal/buronan yang satu-2nya cara untuk menebus keburukan hidupnya adalah dengan menjadikan orang lain orang terhormat, yang mempunyai nasib berbeda dari dirinya, yang mempunyai masa depan cemerlang. David Lean selalu menggunakan visual yang dramatis untuk menciptakan atmosfir yang sepadan dengan cerita yang ada. Scene di kuburan ketika Mr. Magwitch mencengkeram Pip dari luar frame kamera entah sudah berapa kali diimitasi oleh film-2 horor yang lain. Dan satu scene yang menjadi trademark dari film ini: rumah megah yang gelap dan terlantar dengan penghuninya yang gila, jelas-2 mempengaruhi sutradara Billy Wilder dalam filmnya Sunset Boulevard yang dia buat 4 tahun kemudian. Sedikit kekecewaan dari penulis dari film ini adalah casting untuk Pip dewasa dan Estella dewasa. John Mills dan Valerie Hobson (ketika film ini dibuat berusia 38 tahun dan 29 tahun) terlalu tua memerankan Pip dan Estella yang berusia 20 tahunan dalam ceritanya. Untungnya, Anthony Wager sebagai Pip kecil dan Jean Simmons sebagai Estella kecil jauh lebih pas castingnya. Anyway ...

Cerita tentang revenge dan redemption yang dikemas dalam setting horor ini menjadikan film arahan David Lean ini klasik seketika.

* 8.5/10

Thursday, April 5, 2012

Ballad of a Soldier

Resensi Film: Ballad of a Soldier (Ballada o soldate) (9.5/10)

Tahun Keluar: 1959
Negara Asal: Soviet Union
Sutradara: Grigoriy Chukhray
Cast: Vladimir Ivashov, Zhanna Prokhorenko, Antonina Maksimova

Plot: Seorang prajurit muda, setelah melakukan tindakan heroik di medan pertempuran, memperoleh penghargaan cuti untuk pulang ke kampung halamannya sehingga dia bisa bertemu dengan ibunya dan memperbaiki atap rumahnya. Tetapi perjalanan pulang tersebut ternyata tidak mudah: dia bertemu dengan berbagai macam "halangan", sementara waktu cutinya semakin habis dan dia sendiri belum sampai ke rumahnya (IMDb).

Bersetting pada Perang Dunia ke 2 dan bertokoh seorang prajurit muda, Ballad of a Soldier bukanlah film perang, tetapi film yang bercerita tentang tiga macam cinta: eros (romans), storge (komitmen), dan agape (pengorbanan). Cinta romans antara pasangan muda, terjadi ketika tokoh utamanya, Alyosha (Vladimir Ivashov), bertemu dengan Shura (Zhanna Prokhorenko); cinta komitmen antara pasangan suami-istri; dan cinta pengorbanan ibu untuk anaknya. Penulis kagum dengan script dalam film ini, yang walaupun ceritanya sederhana, tetapi cara menyampaikannya memikat hati -- efeknya seperti menjadi anak kecil lagi yang dengan penuh antisipasi mendengarkan dongeng. Dengan script yang tanpa pretensi menyembunyikan kesederhanaan ceritanya, Ivashov yang saat itu berusia 20 tahun dan Prokhorenko, 19 tahun, memainkan perannya juga tanpa pretensi, betul-2 dengan dosis realitas yang pas. Tetapi pujian tertinggi mesti ditujukan ke sutradara Grigoriy Chukhray yang arahannya sedemikian poetic-nya -- efeknya seperti mimpi (dreamlike): pernahkah anda bermimpi anda harus pergi ke suatu tempat, tetapi tidak peduli apapun yang anda lakukan anda tidak pernah sampai ke tempat tersebut? Efeknya seperti ini. Literatur Rusia memang sarat dan terkenal dengan nuansa tragedi yang siap menerkam anda; dan arahan dari Chukhray dalam film ini persis sama menghasilkan efek seperti ini. Ada banyak adegan yang menghasilkan efek seperti ini: Alyosha ketinggalan kereta ketika dia mesti menunggu Vasya (prajurit invalid yang mengira istrinya sudah meninggalkan dirinya); Alyosha ketinggalan kereta lagi ketika dia mesti mengambilkan air untuk Shura; Alyosha kehilangan waktu lagi karena dia mesti menyampaikan pesan untuk keluarga Pavlov (prajurit yang dia temui dalam perjalanan pulang); Alyosha terburu-2 berpisah dengan Shura, dan dia lupa memberitahukan alamatnya ke Shura ... oh my god; jembatan keretanya hancur kena bom, padahal rumahnya hanya 10 km saja dari sana ... penulis sampai berteriak dalam hati, "Alyosha cepet pulang, lari, lari, lari ... run, Alyosha, run, run!!! ", tetapi dia tertahan di sana karena mesti membantu para penumpang yang lain ... oh my god! Tetapi adegan paling membekas adalah ketika Alyosha betul-2 sampai ke rumahnya, tetapi ibunya sedang bekerja di ladang, padahal waktu cutinya sudah habis dan dia mesti segera kembali ke markasnya. Arahan dari Chukhray ketika ibu dan anak akhirnya bertemu betul-2 luar biasa! Chukhray berhasil "menghentikan waktu" -- waktu seakan-2 berhenti, waktu yang hanya sekejap itu seakan-2 seperti eternity ... antara sekejap dan selamanya melebur menjadi satu.

Ballad of a Soldier adalah salah satu dari karya terbaik perfilman Rusia.

* 9.5/10

Tuesday, April 3, 2012

You Can't Take It with You

Resensi Film: You Can't Take It with You (8.0/10)

Tahun Keluar: 1938
Negara Asal: USA
Sutradara: Frank Capra
Cast: Jean Arthur, Lionel Barrymore, James Stewart, Edward Arnold

Plot: Seorang pria dari keluarga konservatif jatuh cinta dengan seorang wanita dari keluarga bohemian. Ketika dua keluarga yang berbeda bagaikan bumi dan langit ini bertemu, gaya hidup dan pandangan hidup bertabrakan secara frontal (IMDb).

Adaptasi dari teater pemenang penghargaan Pulitzer karya George S. Kaufman dan Moss Hart ini menunjukkan bagaimana tulisan yang baik dapat mengubah cerita yang biasa dan sederhana menjadi cerita yang menarik dan mempunyai kedalaman. Sama seperti film-2 arahan Frank Capra yang lainnya, You Can't Take It with You mengajak anda untuk mempertanyakan: Apa sich yang paling penting dalam hidup ini? Kalau kita meninggal dunia, kita tidak dapat membawa apa yang kita miliki di dunia ini bersama kita ... you can't take it with you! Hero dalam film ini adalah Martin Vanderhof (Lionel Barrymore). Orang bilang dia eksentrik, karena dia meninggalkan pekerjaannya yang mapan untuk hidup sesuai dengan panggilannya, yaitu melakukan apa yang membuat dia bahagia. Sama seperti dalam film-2 Capra yang lainnya, hero yang kecil dan lemah ini dihadapkan pada anti-hero yang besar dan kuat, Anthony P. Kirby (Edward Arnold), seorang industriawan dengan kekuasaan yang menjangkau mulai dari rumahnya sampai ke Gedung Putih. Tetapi Vanderhof tidak gentar sama sekali terhadap Kirby, karena dia sudah memegang "kunci" kehidupannya. Ketika cucunya, Alice (Jean Arthur), memberitahu bahwa dia jatuh cinta dengan Kirby Junior (James Stewart), dua keluarga yang berbeda bagaikan bumi dan langit ini bertemu ... kontan saja gaya hidup dan pandangan hidup bertabrakan secara frontal. Segala macam pertanyaan sederhana, and yet philosophical, keluar dari sarangnya: uang versus kebahagiaan, uang adalah segalanya, uang bukan segalanya. Apakah anda bersedia mengorbankan jati diri dan kebahagiaan anda demi menjadi "normal" -- "normal" itu apa; eksentrik -- "eksentrik" itu apa. Script-nya dengan pandai menghibur penonton dengan pertanyaan-2 tersebut. Empat tokoh utama dalam film ini memperoleh character development yang matang dan multi-faceted, sehingga mereka tampil believable dan riel. Lionel Barrymore tampil meyakinkan sebagai eksentrik yang normal (atau normal yang eksentrik?), dan Edward Arnold dengan sangat baik mengimbangi penampilan Barrymore tersebut. Jean Arthur dan James Stewart tampil believable sebagai pasangan muda yang terhimpit dalam situasi "gila" tersebut, padahal satu-2nya hal yang mereka pedulikan adalah cinta mereka. Sayangnya, tokoh-2 pendukung yang lainnya tidak memperoleh treatment yang sama, sehingga mereka nampak karikaturis atau parodis -- sehingga membuat film secara keseluruhan terkesan trying too hard to get the message across. Namun demikian, film ini adalah film drama komedi yang langka (menerima Oscar untuk Film Terbaik pada tahun 1939) yang akan membekas dalam ingatan anda jauh setelah anda selesai menontonnya.

Would you sacrifice your own happiness to become "normal"?

* 8.0/10

Thursday, March 29, 2012

Mostly Martha

Resensi Film: Mostly Martha (Bella Martha) (8.0/10)

Tahun Keluar: 2001
Negara Asal: Germany, Italy, Austria, Switzerland
Sutradara: Sandra Nettelbeck
Cast: Martina Gedeck, Sergio Castellitto, Maxime Foerste

Plot: Kehidupan tenang dan serba teratur seorang koki Jerman yang introvert dan perfeksionis tiba-2 menjadi hingar-bingar gara-2 kedatangan keponakannya yang berusia 8 tahun yang tidak direncana -- kontan saja ketegangan muncul ... sampai seorang koki Itali yang extrovert dan rileks datang untuk menghangatkan hati dingin mereka (IMDb).

Film berbahasa Jerman ini adalah mutiara yang terpendam. Kalau anda terbiasa melihat film-2 Hollywood yang formulaic -- artinya, segala sesuatunya, mulai dari pengarahan, script, sampai akting, mengikuti formula atau "resep" yang sudah terbukti sukses di pasaran (seperti produk fast-food), film berbahasa Jerman ini menunjukkan kepada anda betapa miskin dan keringnya film-2 formulaic tersebut! Thank goodness for that!

Pertama-2, pujian mesti diberikan kepada sutradara Sandra Nettelbeck yang berhasil dengan sangat efektif menampilkan kepribadian tokoh utamanya yang introvert dan perfeksionis melalui pengambilan gambar-2 yang menghasilkan scene-2 yang clinical -- unemotional, cold, detached, impersonal. Arahan dari Nettelbeck ini betul-2 meletakkan fondasi yang kuat dan tepat untuk cerita yang sedang disampaikan. Kedua, aktres senior Jerman, Martina Gedeck, juga berhasil dengan sangat baik menangkap esensi dari karakter yang dia mainkan, Martha -- bagaimana dia mencuri pandangan terhadap Mario, terjadi beberapa kali, betul-2 brilliant! Ketiga, aktor Itali, Sergio Castellitto, dengan penuh inspirasi menjadi Mario, 180 derajat antithesis-nya Martha. Last, but not least, Maxime Foerste -- tidak seperti Abigail Breslin yang "too cute to be true" :-) -- dengan natural memainkan perannya sebagai Lina, anak berusia 8 tahun. Script-nya ketat, namun demikian tetap berhasil memberi cukup waktu bagi cerita untuk terkuak dengan tempo yang normal, bagi karakter-2 yang ada untuk menampilkan kepribadiannya, dan bagi relationship di antara mereka untuk terjalin secara natural. Sebagai contoh, ketika Lina menerima kabar bahwa ibunya meninggal dunia, dia tidak menangis -- script-nya tidak menyuruh dia untuk menangis, tetapi dia menampilkan reaksi yang jujur dan natural -- tidak theatrical seperti dalam script yang formulaic, dan dalam kasus ini Lina bereaksi dengan tidak mau makan. Juga jujur dan natural melihat bagaimana Martha dengan kedodoran berusaha merawat keponakannya tersebut. Juga jujur dan dapat dipercaya melihat bagaimana Mario dengan berbagai cara dan empati berusaha menghangatkan hati dingin Lina dan Martha -- membutuhkan beberapa jam untuk Lina, tetapi jauh lebih lama untuk Martha. Soundtrack film ini, menggunakan musik jazz yang mulus dan modern, sangat pas dengan esensi dari cerita ini.

Penulis sangat kagum dengan penggambaran kepribadian introvert dan perfeksionis dalam film ini ... betul-2 mengena. Mostly Martha adalah film yang pandai dan sekaligus memikat. It's one of my personal favourites. Hati-2 dengan barang tiruan: remake dari Hollywood yang berjudul No Reservations (2007) dengan Catherine Zeta-Jones, Aaron Eckhart, dan Abigail Breslin betul-2 kehilangan esensi dari cerita yang ada.

* 8.0/10