Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Catatan Perjalanan. Show all posts

Tuesday, 12 March 2019

Catatan Perjalanan: Capri, Italy

Sharing catatan perjalanan

Destination: Naples, musim semi bulan Mei 2018
Duration: 4 malam (hari ke-1: ½ hari habis untuk perjalanan dari Venice ke Naples, hari ke-2, 3 dan 4: padat dan capek)

Bagian ke-3: Daytrip ke Capri (1 hari, pas dan puas)

Dari Naples sekali lagi saya datang ke pelabuhan ferry Molo Beverello untuk catch jasa ferry SNAV untuk pergi ke Capri yang terletak ± 40km di sebelah south-south-west-nya. Perjalanan ferry tersebut membutuhkan waktu ± 50 menit dan harga tiketnya 23,80 Euro, oneway/orang -- bisa beli tiket pp, via online atau di counternya. Atau, kalo anda nginap di Sorrento, perjalanan ferry dari Sorrento ke Capri bahkan lebih cepat, yaitu sekitar 20 menit saja. Kalo anda beli tiket via online, baca keterangan di printout vouchernya, apakah voucher tersebut berlaku sebagai tiket atau anda masih perlu menukar voucher tersebut dengan tiket.

Perjalanan ferry dari Naples ke Capri berjalan mulus. Pagi itu cuaca cerah dan suhu lumayan hangat menyegat. Sesampai di Capri, saya jalan-2 dan makan siang di sekitar pelabuhan. Mumpung masih dekat dengan pelabuhan, saya catch Capri Island Tour yang disediakan oleh Motoscafisti di Capri, yaitu kapal kecil bermotor berkeliling pulau Capri. Harga tiketnya 18 Euro/orang. Kalo air laut sedang surut, kapal akan berhenti di Blue Grotto, yaitu gua di lepas pantai Capri yang sorotan sinar mataharinya membuat air laut di dalam gua berwarna biru benderang, dan anda bisa membayar tiket tambahan untuk masuk ke gua tersebut. Saat itu saya tidak beruntung karena air lautnya sedang pasang.

Setelah puas (dan kepanasan ☺) berkeliling pulau Capri, saya naik funicular yang menghubungkan pelabuhan (Marina Grande) di bawah dan pusat kota (Capri) di atas. Waktu tempuhnya 5 menit saja. Harga tiketnya murah banget. Alternatif yang lain, ada shuttle bus yang menghubungkan kedua tempat ini. Tetapi funicular menyediakan bird’s-eye view yang spektakuler. Sesampai di pusat kota, anda dapat menjelajahi kota ini cukup dengan jalan kaki. Kombinasi antara suasana yang rileks, suhu yang hangat dan laut Mediterania yang tenang membuat Capri menjadi tempat yang ideal untuk honeymooners atau mereka yang ingin melupakan segala rutinitas di rumah atau segala masalah di pekerjaan. Menu yang tersedia adalah: rileks sepanjang hari, makan-minum sepuasnya dan cuci-mata secapeknya … ☺ Selain Capri, yang cenderung lebih padat turisnya, di sebelah baratnya ada kota yang lain, yaitu Anacapri. Ada shuttle bus yang menghubungkan Capri dan Anacapri. Silakan menjelajahi kota ini kalo anda punya waktu luang dan tidak capek. Saat itu walaupun suhunya tertulis 27-28 derajat Celcius, tetapi sinar mataharinya terasa sangat menyengat. Hati-2, anda sebaiknya selalu mengenakan topi lebar dan membawa minuman dingin.

Sama seperti Lake Como, Cinque Terre dan Amalfi Coast, kalo anda penggemar alam/nature Capri juga worth revisiting. Kalo ada kesempatan ke sini lagi saya akan coba menginap di Sorrento (ada akses KA dari/ke Naples) selama 4 malam: hari ke-1 tiba dan jalan-2 di Sorrento, hari ke-2 daytrip ke Positano, hari ke-3 daytrip ke Amalfi dan sekitarnya, hari ke-4 daytrip ke Capri -- atau menginap di Capri?? ... hmmm, maybe?! Next time, better prepared, better executed.

Semoga bermanfaat untuk para paduka/wati yang berencana berkunjung ke sini.

Thursday, 21 February 2019

Catatan Perjalanan: Amalfi Coast, Italy

Sharing catatan perjalanan

Destination: Naples, musim semi bulan Mei 2018
Duration: 4 malam (hari ke-1: ½ hari habis untuk perjalanan dari Venice ke Naples, hari ke-2, 3 dan 4: padat dan capek)

Bagian ke-2: Daytrip ke Amalfi Coast (1 hari, terlalu singkat dan ndak puas)

Base untuk Amalfi Coast adalah Sorrento yang terletak ± 50km di selatan Naples. Ada dua pilihan public transport untuk pergi ke Sorrento, yaitu: 1) KA Circumvesuviana dari Napoli Garibaldi atau 2) kapal ferry dari pelabuhan ferry Molo Beverello. Cara paling mudah dan murah adalah KA Circumvesuviana, tujuan Sorrento, direct ± 1 jam 10 menit, harga tiketnya cuma 2,50 Euro, one way/orang. Lagi-2 gara-2 review yang buruk tentang KA Circumvesuviana, saya memilih menggunakan jasa ferry -- direct ± 45 menit, sekalian liat-2 lepas pantai Naples.

Pelabuhan ferry Molo Beverello terletak persis di belakang Castel Nuovo (Municipal Museum). Dari stasiun Napoli Garibaldi, naik KA Metro Line 1 (warna kuning), tujuan Piscinola Scampia, turun di Municipio. Dari stasiun ini cukup jalan kaki ± 500m menuju Molo Beverello (warna biru). Di sini anda akan menemukan counter-2 jasa-2 ferry yang melayani berbagai tujuan. Saya memilih jasa ferry Alilauro, tujuan Sorrento, harga tiketnya 14,15 Euro, oneway/orang -- bisa beli tiket pp, via online atau di counternya. Kalo anda beli via online, baca keterangan di printout vouchernya, apakah voucher tersebut berlaku sebagai tiket atau anda masih perlu menukar voucher tersebut dengan tiket. Datang 30 menit lebih awal sehingga anda punya waktu untuk menukar voucher (if required) dan cuci mata di sekitar pelabuhan.

Perjalanan ferry dari Naples ke Sorrento berjalan mulus. Pagi itu cuaca cerah dan suhu lumayan hangat menyegat. Sesampai di Sorrento, demi kepraktisan saya menggunakan shuttle bus Sorrento – Positano – Amalfi (pp) dari CitySightseeing (bis warna merah) untuk menyusuri pantai Amalfi. Dari pelabuhan Sorrento yang picturesque, saya jalan kaki menuju halte bis CitySightseeing di pusat kota -- ternyata terrain-nya sangat terjal: pelabuhan di bawah, naik tangga setinggi 50m … ☹ terus njedul di pusat kota. Setelah ngos-2an naik tangga, ternyata halte bis CitySightseeing terletak persis di depan stasiun KA Circumvesuviana … haha ☺ Nyesel dech, semestinya tadi naik KA, ndak perlu ngos-2an dan lebih murah ☹ 

Shuttle bus Sorrento – Positano – Amalfi (pp) menyediakan 2 stop, yaitu: Positano dan/atau Amalfi. Harga tiketnya sesuai dengan jumlah stop yang anda pilih. Karena saat itu jam sudah mendekati tengah hari dan menurut jadwal yang tertera perjalanan dari Sorrento ke Amalfi membutuhkan waktu ± 1,5 jam, saya memutuskan stop di Amalfi saja -- kalo stop di Positano juga, nanti bakalan ndak nututi jadwal pulang shuttle bus ke Sorrento.

Mirip seperti Cinque Terre, perpaduan antara langit dan laut Mediterania yang biru, landscape pantai yang terjal dan berbukit-2 dan perumahan penduduk yang warna-warni membuat perjalanan menyusuri pantai Amalfi sangatlah berkesan. Kalau anda penggemar alam/nature, pantai Amalfi sebaiknya menjadi tujuan utama … jangan seperti saya, daytrip dari Naples, terlalu terburu-2 sehingga ndak puas.

• Positano adalah kota yang super cantik.
Anda sebaiknya berhenti dan explore kota ini seharian.

• Amalfi juga kota yang cantik.
Anda juga perlu berhenti dan explore kota ini seharian.
Dari Amalfi anda dapat explore pantai Amalfi ke arah lebih barat lagi. CitySightseeing menyediakan shuttle bus Amalfi – Ravello (pp) dan shuttle bus Amalfi – Minori – Maiori (pp).

Sayang sekali karena waktunya mepet dan diperparah dengan traffic jam antara Positano dan Amalfi, saya hanya sempat makan siang dan jalan-2 di pusat kota Amalfi saja. Sore hari ketika pulang ke Sorrento, saking macetnya jalan antara Positano dan Amalfi (semakin sore, semakin macet!!), saya ketinggalan ferry yang semestinya membawa saya kembali ke Naples. Ketinggalan, padahal saya sudah megang tiketnya dan ndak bisa refund ☹ Maka, setelah menghindari 2x, sore itu saya mau ndak mau akhirnya naik KA Circumvesuviana untuk kembali ke Naples ☺

Berbeda dengan KA-2 sebelumnya, KA regional ini kondisinya sangat sederhana -- gerbongnya kuno (mungkin bekas), fasilitasnya minim, namun demikian lumayan bersih. Stasiun-2 regional antara Sorrento dan Naples juga terlihat kuno dan tidak terawat -- rumput liar/ilalang setinggi semeter dibiarkan saja. Karena terkenal sebagai sarang copet, sepanjang perjalanan saya waspada terhadap lingkungan di sekitar saya. Sedikit was-was, but nevertheless no drama, no trouble … akhirnya tiba di Napoli Garibaldi dengan selamat juga ☺ Not bad-lah ☺ Jangan takut naik KA Circumvesuviana, cukup waspada saja.

Setelah Lake Como dan Cinque Terre, Amalfi Coast juga worth revisiting. Kalo ada kesempatan ke sini lagi saya akan coba menginap di Sorrento (ada akses KA dari/ke Naples) selama 3 malam: hari ke-1 tiba dan jalan-2 di Sorento, hari ke-2 explore Positano, hari ke-3 explore Amalfi dan sekitarnya. Next time, better prepared, better executed.

Berlanjut ke bagian ke-3: Daytrip ke Capri.

Semoga bermanfaat untuk para paduka/wati yang berencana berkunjung ke sini.

Sunday, 3 February 2019

Catatan Perjalanan: Pompeii, Italy

Sharing catatan perjalanan

Destination: Naples, musim semi bulan Mei 2018
Duration: 4 malam (hari ke-1: ½ hari habis untuk perjalanan dari Venice ke Naples, hari ke-2, 3 dan 4: padat dan capek)

Naples, terletak ± 200km di selatan Rome, adalah base yang paling cocok untuk  melakukan daytrip ke Pompeii, Amalfi Coast dan Capri. Kecuali kalo anda ingin bermalam di salah satu kota di pantai Amalfi atau di pulau Capri, Naples adalah base untuk daytrip ke 3 tujuan wisata tersebut.

Perjalanan dengan kereta api cepat (pilih yang direct/ndak perlu ganti kereta) dari Venezia Mestre ke Napoli Centrale menempuh jarak ± 700km dalam waktu sekitar 6 jam. Berangkat dari Venice sekitar pukul 9 pagi, kereta tiba di Naples sekitar pukul 3 sore -- menurut tiketnya waktu tempuhnya sekitar 5 jam, tetapi kenyataannya selama perjalanan terlambat 5-10 menit di hampir semua stasiun, termasuk di Venice sendiri, akhirnya tiba di Naples tidak bisa tepat waktu. Sore hari itu langit mendung dan udara tercium akan hujan. Hotel tempat saya menginap terletak di seberang Napoli Centrale, yaitu di Piazza Garibaldi. Lokasi ini sangat strategis karena selain dekat dengan Napoli Centrale dan mudah cari makan di sini juga dekat dengan Napoli Garibaldi -- yaitu stasiun subway/underground kota Naples dan stasiun Circumvesuviana yang melayani jalur ke selatan, a.l. ke Pompeii dan Sorrento (untuk ke pantai Amalfi).

Bagian ke-1: Daytrip ke Pompeii (1 hari, capek dan puas)

Pompeii terletak ± 25km di selatan Naples.

Cara termudah pergi ke daerah arkeologi Pompeii (Scavi di Pompeii) adalah dengan KA Circumvesuviana dari Napoli Garibaldi, tujuan Poggiomarino, turun di Torre Annunziata, Pompeii. Harga tiketnya murah, cuma 2,80 Euro, one way/orang. Tiket masuk ke Scavi di Pompeii dapat dibeli secara online. Selain tiket masuk ke Scavi, ada pilihan paket tiket ke 3 tempat sekaligus, yaitu: Scavi, Oplontis (monumen) dan Boscoreale (museum). Kalo anda cuma punya waktu 1 hari, pilih tiket masuk ke Scavi saja -- karena menjelajahi Scavi membutuhkan waktu 1 hari juga. Jangan lupa mendownload/membawa peta Scavi karena daerah arkeologi ini sangat luas -- supaya anda gampang navigasinya dan ndak kesasar. Selain itu, daripada bingung cari makan ketika berada di dalamnya, anda sebaiknya membawa makan dan minum sendiri -- ada public toilet dan tempat-2 untuk istirahat.

Saat itu gara-2 review yang buruk tentang KA Circumvesuviana (katanya menjadi sarang copet), saya memutuskan menggunakan shuttle bus Napoli - Pompeii (pp) dari CitySightseeing (bis warna merah) yang sudah menyertakan tiket ekspres (skip the queue) masuk ke Scavi -- harga totalnya 15 Euro lebih mahal daripada kalo berangkat sendiri naik KA. Pengalaman hari berikutnya ternyata menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap KA Circumvesuviana tersebut rada berlebihan … nyesel dech ☹

Berlanjut ke bagian ke-2: Daytrip ke Amalfi Coast.

Semoga bermanfaat untuk para paduka/wati yang berencana berkunjung ke sini.

Friday, 18 January 2019

Catatan Perjalanan: Venice, Italy

Sharing catatan perjalanan

Destination: Venice, musim semi bulan Mei 2018
Duration: 3 malam (hari ke-1: perjalanan singkat dari Florence ke Venice, istirahat, hari ke-2 dan ke-3: pas dan puas)

Dari Florence saya melanjutkan perjalanan KA ke arah timur ke Venice -- waktu tempuh sekitar 2 jam saja. So, hari itu adalah hari istirahat: bangun pagi agak siangan, terus catch KA menjelang siang hari dan tiba di Venice pas jam check-in ke Airbnb dan makan siang. Hari itu cuaca cerah dan temperatur lumayan hangat. 

Quick facts tentang Venice:
• Lokasi
Kota Venice terdiri dari daerah yang terletak di daratan (mainland) dan daerah yang terletak di lepas pantai laut Adriatik -- terdiri dari banyak pulau yang dipisahkan oleh canal-2 besar dan kecil. Venice yang tampil dalam film-2 atau kartupos-2 adalah Venice yang terletak di lepas pantai. Selanjutnya, kalo saya menyebut Venice, maksudnya adalah Venice yang lepas pantai.
• Over-tourism
Tidak bisa dipungkiri, jumlah turis yang mengunjungi Venice sangatlah bejibun, sampai-2 pada setiap saat ada 77x lipat lebih banyak turis daripada penduduk Venice sendiri -- dan ratio ini meningkat terus setiap tahunnya! Implikasi dari over-tourism ini antara lain: 1) harga akomodasi menjadi sangat mahal, 2) kenyamanan sightseeing berkurang dan 3) authenticity kota kurang terasa (karena semuanya disetup untuk kepentingan turis).

Karena harga akomodasi di Venice sangat mahal, saya menginap di daratan saja. Dari daratan ke Venice anda bisa naik bis atau KA. Bis menuju Venice dapat anda temukan di depan stasiun Venezia-Mestre. Atau anda dapat naik KA dari stasiun Venezia-Mestre ke stasiun Venezia Santa Lucia. Untuk memudahkan kunjungan, saya membeli Unica City Pass via online. Pass ini dapat anda tailor-make sesuai dengan kebutuhan pribadi, misalnya: apakah anda perlu public transport (termasuk waterbus untuk transportasi di Venice), apakah perlu airport transfer, apakah perlu tempat parkir, atau atraksi-2 apa saja yang ingin anda kunjungi, atau yang lainnya. Setiba di Venice, tunjukkan voucher pembelian tersebut di tempat-2 koleksi yang telah ditentukan untuk mengambil pass-nya. 

Atraksi-2 utama di Venice terpusat di Piazza San Marco (St. Mark’s Square), yaitu: St. Mark’s Basilica, St. Mark’s Bell Tower, Palazzo Ducale, Museo Correr, Museo Archeologico, Biblioteca Marciana, Caffe Florian, dan gondola. Tiket untuk St. Mark’s Basilica dan Bell Tower tidak termasuk dalam Unica City Pass sehingga perlu saya beli secara terpisah via online. Caffe Florian, kalo anda tidak keberatan membayar sangat mahal untuk secangkir kopi, adalah coffee house tertua dan bersejarah di Italy. Duduk dan minum kopi di coffee house adalah satu-2nya cara untuk menikmati suasana piazza dengan santai. Mengapa?? Karena tidak ada tempat duduk untuk publik di seluruh piazza -- in fact, di seluruh Venice; bahkan ada larangan duduk (apalagi duduk sambil makan) di semua tempat untuk publik, misalnya anak tangga, pelataran, dlsb-nya. Tempat seluas itu tidak ada sejengkalpun publik bisa duduk untuk istirahat. Secara implisit: kalo anda capek, silakan mampir ke coffee house, resto atau hotel. Ada petugas “hansip” yang berpatroli terus di sekitar piazza dan memberi peringatan atau mengusir turis yang ketahuan duduk atau duduk sambil makan di tempat publik. Ini adalah peringatan dari penduduk Venice untuk para turis: nikmati Venice tetapi jangan lama-2. Kalo ingin lama, mampirlah ke coffee house atau resto, atau nginaplah di hotel di Venice … di sini anda bisa dengan rileks menikmati Venice. 

Omong-2 tentang over-tourism, berita-2 mengatakan bahwa penduduk Venice sudah capek dengan jumlah turis yang datang ke kotanya. Yang terkena kritik paling tajam adalah turis yang “daytripper”, yaitu mereka yang berkunjung tanpa menginap -- termasuk di antaranya mereka yang datang dengan kapal-2 pesiar. Mereka dianggap kurang berkontribusi untuk ekonomi Venice -- yang tentu saja tidak benar, karena banyak dari “daytripper” ini yang “big shopper” … selain makan & minum, mereka juga belanja, menggunakan jasa gondola dan yang lainnya dan mengunjungi atraksi-2 yang ada. Diberitakan ada usaha-2 untuk membatasi jumlah turis dengan melarang “daytripper” masuk ke Venice atau mengurangi jumlah kapal pesiar yang berlabuh di Venice. Namun demikian sejauh ini semua itu masih omongan saja.

Luangkan satu hari untuk Piazza San Marco. Kemudian, luangkan satu hari lagi untuk island-hopping ke pulau-2 yang lainnya -- di sini suasana lebih sepi, anda akan lebih merasakan authenticity kota Venice.

Semoga bermanfaat untuk anda yang berencana berkunjung ke sini.

Saturday, 12 January 2019

Catatan Perjalanan: Florence, Italy

Sharing catatan perjalanan

Destination: Florence, musim semi bulan Mei 2018
Duration: 3 malam (hari ke-1: habis untuk daytrip di Pisa, hari ke-2 dan ke-3: pas dan puas)

Is there such a thing as over-planning?Apakah sebuah rencana bisa berlebihan?

Saya tipe traveller yang suka merencana. Ketika merencana saya juga memasukkan faktor-2 what-if, misalnya jika menghadapi situasi X, maka mesti begini; jika situasi Y, maka mesti begitu. Namun demikian, kadang-2 tidak peduli seberapa bagus rencana disusun tetap saja tidak bisa foolproof dari kejutan atau salah perhitungan -- seperti ketika berkunjung ke French Riviera dan terjebak dalam pemogokan buruh kereta api di sana. Demikian juga pada kesempatan ini ketika saya menyelesaikan daytrip ke Pisa dalam perjalanan KA dari La Spezia ke Florence.

Saya mempunyai kebiasaan membeli tiket transportasi in advance (di depan) via online setelah itinerary perjalanan fixed. Selain harganya lebih murah, keuntungan yang lain adalah agar tidak perlu repot ngantre untuk beli tiket. Tetapi ada kerugiannya, yaitu saya harus tahu pukul berapa saya berangkat dan commit pada waktu yang telah ditentukan. Karena saya tidak tahu secara pasti membutuhkan waktu berapa lama di Pisa, saya beri waktu longgar sekitar 8 jam untuk daytrip di Pisa. KA tiba di Pisa sekitar pukul 10.30 pagi, kemudian saya tambahi 8 jam, maka saya beli tiket lanjutan ke Florence untuk pukul 18.30 petang. Ternyata daytrip di Pisa berjalan sangat lancar -- tidak menemui halangan apapun, saya malah sempat sedikit jalan-2 dan shopping di pusat kota, dan semuanya selesai dalam waktu sekitar 6 jam. Sekitar pukul 16.30 sore saya sudah kembali ke stasiun Pisa Centrale dan siap melanjutkan perjalanan ke Florence. Karena tiket yang saya pegang tidak bernomor kursi, saya pikir saya boleh naik KA yang lebih pagi asal KA tersebut tidak penuh atau masih ada tempat duduk yang tersisa. Maka saya putuskan naik KA yang lebih pagi. Dalam perjalanan ke Florence, petugas KA datang memeriksa tiket dan memberitahukan bahwa tiket yang saya pegang invalid. Dia menjelaskan bahwa saya boleh naik KA yang lebih malam (sampai batas waktu 4 jam dari jam yang tertera), tetapi tidak boleh yang lebih pagi. Dia selanjutnya dengan sopan mengatakan bahwa saya harus membeli tiket baru dan membayar penalti untuk kesalahan tersebut. So, apa daya … saya membeli tiket baru dan membayar penalti sebesar 5 Euro. Saya semestinya bertanya, bukan cuma beranggapan atau berasumsi. Lesson learned!

Florence adalah kota besar yang indah dan penuh dengan peninggalan seni. 3 atraksi utama di kota ini adalah: Duomo (kompleks Florence Cathedral), Galleria dell’Accademia dan Galleria degli Uffizi.

• Duomo
Duomo terdiri dari Cathedral, Dome, Baptistry, Bell Tower, Crypt (ruang bawah tanah) dan Museum adalah UNESCO World Heritage Site. Anda dapat membeli tiket masuk yang menyertakan semua bagian tersebut secara online seharga 18 Euro. Baca dengan teliti terms and conditions-nya sehingga kunjungan anda berjalan lancar.

• Galleria dell’Accademia dan Galleria degli Uffizi
Jika anda penggemar patung dan lukisan, luangkan waktu ½ - 1 hari untuk masing-2 gallery. Accademia, lebih kecil dan lebih spesifik daripada Uffizi, adalah rumah dari patung tersohor karya Michelangelo yang bernama “David”. Sedang Uffizi adalah salah satu dari museum-2 yang menyimpan koleksi seni terbesar di dunia. Uffizi adalah rumah dari lukisan ternama karya Botticelli yang berjudul “The Birth of Venus”. Anda dapat membeli tiket masuk secara online. Hati-2 kunjungan ke gallery-2 ini ada waktunya -- datang minimal 15 menit sebelum waktu yang tertera, jangan sampai terlambat, kalo terlambat anda tidak boleh masuk dan tiket hangus.

Hari ke-2 di Florence saya menghabiskan waktu ½ hari, dari pagi sampai siang, di Accademia, disambung dengan ½ hari berikutnya, dari siang sampai petang, di Duomo. Hari ke-3, dari pagi sampai sore di Uffizi. Setelah itu masih ada sisa waktu untuk jalan-2 dan shopping (or window shopping) kerajinan kulit karya produsen lokal di pusat kota: tas, handbag, jaket, sepatu, dlsb.

Florence adalah ibukota region Tuscany yang terkenal dengan keindahan alam dan peninggalan Renaissance-nya. Saat itu saya tidak sempat berkunjung ke region Tuscany -- but maybe in the future, kalo saya mempunyai kesempatan lagi berkunjung ke Italy saya pasti akan mampir ke region Tuscany.

Semoga bermanfaat untuk anda yang berencana berkunjung ke sini.

Sunday, 4 November 2018

Catatan Perjalanan: Pisa, Italy

#IITPisa
#IITBagbnb

Sharing catatan perjalanan

Destination: Pisa, musim semi bulan Mei 2018
Duration: 6 jam (pas dan puas)

Untuk mereka yang independent travellers persiapan adalah bagian paling penting dan paling berat (menyita waktu dan pikiran), tetapi sekaligus paling menarik, dari  sebuah perjalanan. Benjamin Franklin pernah ngomong: “By failing to prepare, you are preparing to fail.” Kita belajar, mengalami “learning curve”, paling banyak selama masa persiapan. Menyusun itinerary sedemikian rupa sehingga pelaksanaannya berjalan mulus, efektif dan efisien, adalah operasi yang kompleks.

Dari La Spezia saya melanjutkan perjalanan ke arah timur memasuki region Tuscany, dan kota pertama di region ini yang saya kunjungi adalah Pisa. Kota ini sudah sering dibahas di grup ini, namun demikian siapa tahu ada beberapa point yang belum pernah atau jarang disampaikan yang dapat membantu para paduka/wati yang ingin berkunjung ke kota ini.

Terletak di antara La Spezia dan Florence, kira-2 1 jam perjalanan KA dari kota-2 tersebut, Pisa adalah tujuan yang ideal untuk daytrip -- cukup singgah, ndak perlu nginap. Saat itu saya mempunyai 3 pilihan untuk daytrip ke Pisa, yaitu:
1. pp dari La Spezia atau
2. pp dari Florence atau
3. mampir ketika perjalanan KA dari La Spezia ke Florence.

Pilihan nomor 1 mudah dilaksanakan, tetapi merasa rugi nambah 1 hari nginap di La Spezia yang kotanya boring. Pilihan nomor 2 juga mudah dilaksanakan, tetapi juga merasa rugi ngambil jatah waktu di Florence yang kotanya indah dan atraksinya banyak. Akhirnya, pilihan jatuh ke nomor 3. Tetapi pilihan ini mempunyai masalah, yaitu bagaimana dengan bagasi yang kami bawa? Jawabannya sesungguhnya gampang, yaitu sewa locker di stasiun -- karena stasiun KA biasanya menyediakan fasilitas locker. Maka, saya cari info tentang fasilitas locker di stasiun Pisa Centrale. Saya ‘ublek’-2 isi website Trenitalia, ternyata informasi yang saya cari ndak ada. Tanpa informasi yang faktual, beranikah saya berasumsi bahwa stasiun Pisa menyediakan fasilitas locker? Kalo saya berasumsi ada, tetapi ternyata ndak ada, terus bagaimana??? Akhirnya, saya putuskan mencari fasilitas locker di tempat lain daripada berasumsi dan salah. Lebih baik pasti daripada what if … what if …

Lagi-2 Google datang sebagai malaikat penolong ☺ Ndak perlu mencari terlalu lama, saya search “luggage storage”, langsung keluar deretan penyedia jasa penitipan bagasi. Dari deretan tersebut saya baca satu per satu “terms of service”-nya dan akhirnya yang cocok dengan hati dan kebutuhan adalah Bagbnb -- namanya mirip seperti Airbnb, tetapi sama sekali ndak ada hubungannya. Mereka ber-partner dengan tempat-2 bisnis seperti hotel, resto, café, atau yang lainnya untuk menjadi tempat penitipan bagasi. Tempat-2 bisnis tersebut biasanya buka 24/7 (24 jam/hari, 7 hari/minggu), sehingga ndak ada masalah kapan kita nge-drop dan kapan ngambil bagasi. Biayanya, ndak peduli besar atau kecil, berat atau ringan, per item per hari flat rate 5 Euro. Biaya harus prepaid/dibayar di muka dengan kartu kredit atau Paypal. Saat itu tempat penitipan bagasi terdekat dari stasiun Pisa adalah Hotel La Pace yang terletak +/- 150 meter di depan stasiun. Setiba di Pisa, semuanya berjalan mulus: kami nge-drop bagasi di lobby hotel, diminta mengisi formulir dan menunjukkan ID/paspor, ditanya kira-2 jam berapa ngambil bagasi, kemudian concierge hotel memberi receipt untuk bagasi yang dititipkan.

Selain karena letaknya, Pisa cocok dikunjungi via daytrip karena semua atraksinya terkumpul di satu tempat, yaitu Square of Miracles (Piazza dei Miracoli). Ketika keluar dari stasiun Pisa, di sisi sebelah kanan ada deretan halte bis. Halte bis pertama dengan gambar Tower of Pisa (Torre di Pisa) adalah tempat pemberhentian bis yang menuju Square of Miracles. Tiket bis bisa dibeli di toko “tabacchi” (penjual rokok) di stasiun, harganya 1,40 Euro untuk 70 menit dari saat tiket divalidasi. Karena pasti menghabiskan waktu lebih dari 70 menit, anda bisa sekaligus beli 2 tiket untuk pulang-pergi.

6 jam di Pisa cukup untuk istirahat makan siang dan mengunjungi semua monumen yang ada, yaitu: Cathedral, Camposanto, Baptistery, Opera del Duomo, Sinopie Museum dan Tower. Saya sarankan membeli tiket paket yang menyertakan semua monumen tersebut secara online. Hati-2, kunjungan masuk ke menara ada jamnya, sehingga datangnya harus tepat waktu -- in fact, datang 15 menit lebih awal untuk menitipkan tas, karena naik ke menara tidak boleh membawa tas. Perhitungkan waktunya, jangan sampai terlambat -- kalo terlambat, anda ndak boleh masuk dan tiket menara hangus. Saya sarankan pilih jam kunjungan ke Tower menuju akhir daytrip, sehingga anda pasti sudah ada di lokasi.

Semoga bermanfaat untuk para paduka/wati yang berencana berkunjung ke sini.

Sunday, 14 October 2018

Catatan Perjalanan: Cinque Terre (dari La Spezia), Italy

#IITItalianRiviera
#IITCinqueTerre

Sharing catatan perjalanan

Destination: Cinque Terre, musim semi bulan Mei 2018
Duration: 2 malam (hari ke-1: ½ hari habis untuk perjalanan dari Cannes ke La Spezia, hari ke-2: capek tapi puas)

Dari French Riviera saya melanjutkan perjalanan balik ke arah timur ke Italian Riviera.

Italian Riviera pada dasarnya adalah kota-2 di sepanjang pantai Mediterania, di region Liguaria, mulai dari Ventimiglia di ujung barat, di perbatasan dengan Perancis, sampai ke Portovenere di ujung timur Liguaria, sebelum memasuki region Tuscany. Di antara dua kota ini, yang populer dikunjungi turis adalah (dari barat ke timur):
• Sanremo
Terkenal dengan festival musiknya, yang diadakan setiap tahun di awal bulan Februari. Selain menjadi inspirasi terbentuknya Eurovision Song Contest, festival musik ini sering menjadi ajang debut lagu-2 baru -- salah satunya yang sekarang menjadi klasik adalah “Volare”, penyanyi-2 baru Italy -- misalnya, Andrea Bocelli, dan penyanyi-2 USA/non-Eropa yang ingin menembus pasar Eropa. Jika anda penggemar serius musik, Sanremo Music Festival patut masuk dalam bucket list.
• Genoa
Ibukota region Liguaria.
• Portofino
Kalo di French Riviera ada Saint-Tropez, tempat libur para selebriti dan tempat mangkal yacht (kapal layar/motor), di Italian Riviera ada Portofino, yang juga tempat libur para selebriti dan tempat mangkal yacht.
• Cinque Terre (Five Lands) yang terdiri dari 5 desa kecil (dari utara ke selatan), yaitu: Monterosso, Vernazza, Corniglia, Manarola dan Riomaggiore.
Terkenal dengan keindahan alamnya, yaitu perpaduan antara langit dan laut Mediterania yang biru, landscape pantai yang terjal dan berbukit-2 dan perumahan penduduk yang warna-warni. Kalo anda penggemar nature/alam, UNESCO World Heritage Site ini is A MUST! -- sebaiknya menjadi tujuan utama ya, bukan cuma sisipan.

Karena alasan waktu dan logistik (misalnya, Portofino, 1 jam perjalanan dari Genoa, tetapi dari stasiun KA terdekat ternyata masih membutuhkan transportasi tambahan untuk sampai ke Portofino), pada kesempatan ini saya loncati dulu 3 kota pertama di atas, saya langsung saja menuju Cinque Terre.

Cinque Terre

Kalo terpaksa melakukan daytrip, dari mana anda sebaiknya berangkat?
Dari Milan? Milan ke Monterosso, 3 jam sekali jalan. Kejauhan.
Genoa? Genoa ke Monterosso, 1 jam 20 menit. Doable, tapi mepet.
Pisa? Pisa ke Riomaggiore, 1 jam. Okay.
Florence? Florence ke  Riomaggiore, 2,5 jam. Kejauhan juga.
So, kalo terpaksa, daytrip ke Cinque Terre sebaiknya dilakukan dari Genoa (dari sisi utara) atau Pisa (dari sisi selatan). 

Tapi idealnya adalah menginap -- menginap di mana? 
Saat itu saya nginap di La Spezia. Dari sisi lokasi, sangat strategis, karena cuma 7 menit perjalanan KA ke Riomaggiore. Sayangnya, menyolok banget dengan Cinque Terre yang picturesque, La Spezia is worlds apart … kotanya boring, ndak ada atraksinya ☺ Rada nyesel nginap di kota ini. Kalo ada kesempatan ke sini lagi saya akan coba nginap di Cinque Terre, terbaik mungkin adalah Monterosso karena landscape-nya landai dan turisnya tidak terlalu padat.

Riomaggiore (nomor 2 paling picturesque): Sangat berbukit, payah kalo mesti bawa-2 koper.
Manarola (nomor 1 paling picturesque): Naik-turun juga, turisnya paling banyak, paling rame, harga akomodasinya paling mahal.
Corniglia: Killer!! Dari stasiun KA terdekat, mesti jalan kira-2 ½ km untuk mencapai “Lardarina” (tangga), terus manjat 382 anak tangga untuk mencapai desanya di ujung bukit. Ndak bawa koper saja ngos-2an; bawa koper?? … hahaha … forget it! ☺
Vernazza: Mirip seperti Manarola, turisnya padat dan rame.
Monterosso: Landscape-nya lumayan landai, turisnya ndak terlalu padat sehingga ndak terlalu rame … not bad untuk bawa-2 koper dan nginap.

Cinque Terre Card

Beli Cinque Terre Card yang sudah termasuk tiket KA regional (unlimited, boleh bolak-balik sepuasnya antara Levanto - Cinque Terre - La Spezia). Kartu dapat dibeli di stasiun La Spezia atau di setiap stasiun di Cinque Terre. Pilihannya: 1 Day atau 2 Day. Kalo anda cuma ingin sightseeing di 5 kota tersebut, pilih 1 Day (16 Euro). Kalo ingin trekking, sebaiknya pilih 2 Day (23 Euro). Hari pertama: ½ trekking mencakup Riomaggiore, Manarola dan Corniglia. Hari kedua: ½ trekking yang lain mencakup Corniglia, Vernazza dan Monterosso. Selain fasilitas KA regional, dengan Cinque Terre Card anda bisa gratis memasuki jalur-2 trekking yang ada, naik bis dan connect ke Wifi di taman-2 nasional di sekitarnya.

Setelah Lake Como, Cinque Terre juga worth revisiting.
Kalo ada kesempatan, pingin ke sini lagi -- next time, better prepared, better executed.

Semoga bermanfaat untuk para paduka/wati yang berencana berkunjung ke sini.

Thursday, 27 September 2018

Catatan Perjalanan: Airbnb, Italy

#IITAirbnb

Sharing catatan perjalanan

Airbnb di La Spezia, Florence, Venice dan Rome, Italy, musim semi bulan Mei 2018

Okay, ini adalah pengalaman pertama saya menggunakan Airbnb.
Secara singkat, happy ending, memuaskan, alias pingin kembali menggunakan Airbnb di waktu yang akan datang. Tetapi sebelumnya, ada cerita pengantar sebelum saya sampai di Airbnb pertama di La Spezia, Italy.

Setelah mengalami rangkaian “minor mishaps” atau ketidakberuntungan selama di French Riviera, entah kenapa malam hari sebelum besoknya melanjutkan perjalanan kembali ke Italy, saya tiba-2 punya gut feelings untuk check dan re-check jadwal KA Perancis, SNCF, yang akan membawa saya dari Cannes La Bocca (stasiun terdekat dari hotel saya) kembali ke Nice -- tiket sudah saya beli online jauh-2 hari sebelumnya. Dengan ipad saya check website SNCF untuk memastikan kalo KA saya on schedule. Paranoid? Mungkin saja, tetapi why not-lah ... semuanya khan ngurus sendiri, jadi ndak ada salahnya kalo saya teliti, check dan re-check. Waktu ngliat websitenya, saya terheran-2: KA saya kok ndak ada dalam jadwal. Bahkan semua KA dari Cannes La Bocca ke Cannes lenyap dari jadwal -- tertulis: “tidak beroperasi”! Lho, ini maksudnya apa?? Saya sudah mbayar kok terus KA-nya ndak beroperasi … heh? ☺ Selain itu, KA dari Cannes ke Nice yang frekuensinya biasanya setiap ½ jam, hari itu berubah menjadi beberapa kali saja. Saya pentelengi website SNCF itu -- sambil perasaan gundah, saya akhirnya menemukan catatan kaki yang menginfokan bahwa besok ada pemogokan buruh di Perancis. Oalah, pemogokan buruh! Lucky me! ☺ Okay, don’t panic, don’t panic ... perasaan boleh gundah, tapi pikiran harus tetap dingin.

Karena di Nice saya mesti boarding KA Italy, Thello, tertentu -- tiketnya bernomor kursi (yang juga sudah saya beli jauh-2 hari sebelumnya), pikiran langsung muter dan saya ambil keputusan sbb: 1) Beat the crowd: berangkat lebih pagi untuk menghindari kerumunan penumpang yang lain. Karena KA dari Cannes La Bocca ke Cannes tidak beroperasi, maka harus naik bis ke Gare de Cannes -- kebetulan bus pass saya masih tersisa 1 kali trip lagi. 2) Boarding KA pertama dari Cannes ke Nice, no matter what! Ndak perlu beli tiket lagi, karena saya sudah pegang tiket Cannes La Bocca - Nice yang dibatalin itu. Kalo ndak boleh, who cares, pokoknya saya tetep boarding … nanti urusan belakang. Ndak dapet kursi juga ndak papa. Karena host Airbnb di La Spezia, namanya Marina, bertanya kapan saya check-in di tempatnya, saya lebih baik terus terang menceritakan kendala ini supaya dia mengerti kalo saya sampai terlambat tiba di La Spezia. Marina minta saya ngirim pesan perkembangan situasinya.

Besoknya contingency plan tersebut ternyata berjalan dengan mulus. Bis dari Cannes La Bocca ke Cannes penuh, tetapi nevertheless terangkut. KA pertama dari Cannes ke Nice juga penuh, tetapi beruntung dapet kursi -- dan ndak ada pemeriksaan tiket karena pegawai KA-nya khan mogok. Denger dari penumpang lain, loket penjualan tiket juga tutup, so hari itu penumpang ndak perlu tiket. Saya akhirnya sampai di Gare de Nice ahead of  schedule; ada banyak waktu untuk sarapan pagi di sana; dan saya lihat KA Italy, Thello, sudah menunggu dengan manis di treknya untuk membawa saya kembali ke Italy. So, guys, when you travel independently, it pays to always check and re-check. Di Genoa saya ganti kereta, makan siang dan ngirim pesan ke Marina: “All is good. We’ll be arriving in La Spezia as scheduled.” Mungkin karena saya pandai bercerita, Marina membalas: “I’ll pick you up at the station.” Wow … dia semestinya ndak perlu njemput, khan saya mbayar Airbnb ndak termasuk ongkos njemput. Tetapi setelah rangkaian ketidakberuntungan, goodwill dari total stranger ini adalah welcome relief -- thank you, Marina. Dan ini ternyata adalah “good omen” untuk kunjungan-2 selanjutnya di Airbnb Florence, Venice dan Rome.

Airbnb

Airbnb membuka pilihan baru selain penginapan konvensional yang ada selama ini. Mula-2 saya rada gamang mencoba Airbnb, tetapi karena desakan kebutuhan (harga hotel room yang diinginkan di lokasi yang diperlukan melebihi anggaran yang ditentukan), maka saya melirik ke Airbnb. Ternyata Airbnb menawarkan banyak pilihan, yaitu:

1) Tipe bangunan: dari rumah, apartemen, cabin, cottage, sampai villa mewah atau yang lainnya -- bahkan rumah jerami, rumah bawah tanah atau igloo! ☺ Tuh, bagi yang pingin nginap di igloo, silakan check Airbnb.
2) Tipe akomodasi: entire place, private room, shared room atau bahkan hotel room (sekarang hotel-pun memasukkan kamarnya di Airbnb). Detil akomodasi ditampilkan dalam foto-2 dan dari pengalaman yang lalu foto-2 tersebut tidak menipu dari kenyataannya.
3) Pilihan jumlah kamar/tempat tidur dan kamar mandi.
4) Pilihan amenities: dapur, aircon, mesin cuci, mesin pengering, pemanas, setrika atau yang lainnya.
5) Pilihan fasilitas: parkir, gym, spa.
6) Pilihan accessibility: misalnya, ada anak tangganya atau ndak.
7) Pilihan house rules: boleh bawa binatang piaraan atau ndak, boleh ngrokok di dalam atau ndak.
8) Pilihan lokasi: dapat ditampilkan dengan Google Maps sehingga anda dapat dengan mudah melihat lokasinya.
9) Pilihan bahasa pengantar.

Saking banyaknya pilihannya, saya sampai bingung mesti mulai dari mana. Untuk saya, mula-2 saya tentukan kriteria lokasinya -- misalnya, mesti walking distance maksimum radius sekian ratus meter dari train atau metro station. Kemudian, dari yang terseleksi, saya tentukan kriteria tipe bangunan dan akomodasi yang saya inginkan. Selanjutnya, dari yang terseleksi, saya tentukan kriteria host yang punya 5 bintang (artinya, mendapat review positif dari pengunjung-2 sebelumnya) -- sekarang host-2 ini disebut dengan “Superhost”. Terakhir, dari shortlist yang terseleksi, saya teliti foto-2nya dan saya bandingkan amenities, fasilitas, accessibility dan tentu saja total harganya (termasuk VAT, cleaning fee dan service fee, jika ada). Sering kali proses seleksi tidak bisa dilakukan sekali saja. Kalo yang pertama tidak berhasil, anda mungkin perlu mengganti atau memperluas kriteria. Begitu terus sampai akhirnya menemukan yang anda inginkan.

Sebelum booking, baca dengan teliti cancellation policy yang ada (setiap host bisa punya policy yang berbeda), yaitu syarat-2 untuk merubah reservasi atau membatalkan. Dari pengalaman yang lalu, pembayaran dilakukan ketika melakukan booking: ada yang sekaligus, ada yang instalment 2 kali. Pembayaran bisa pake kartu kredit atau Paypal dan dilakukan oleh Airbnb, bukan host. So, cukup aman ya karena yang mengetahui detilnya adalah Airbnb, bukan host. Ketika buka account Airbnb ada verifikasi ID, menggunakan paspor atau kartu ID yang lain, misalnya driver’s licence/SIM. Nanti ketika check-in, anda juga diminta menunjukkan ID (mirip seperti di hotel), biasanya paspor.

Selain variasi pilihan yang luas dan harga yang bersaing, anda mempunyai kesempatan untuk masak sendiri. Kangen makan nasi? Kangen masakan Indonesia? Jawabannya: Airbnb. Selain itu, ini artinya menurunkan biaya perjalanan. Berapa biaya yang dapat anda hemat dengan masak sendiri? Significant. Anda ndak perlu bawa rice cooker atau peralatan masak yang lain, karena semuanya sudah tersedia (kalau anda milih akomodasi yang ada dapurnya). Di Airbnb yang saya tempati tidak ada rice cookernya, tapi banyak pancinya … dan masak nasi dengan panci = masak nasi dengan rice cooker … no problem ☺ Apalagi masak Indomie pake telor … a piece of cake ☺ Tapi saran saya, pergilah ke supermarket dan belanjalah bahan-2 yang mudah dipersiapkan. Karena sering-2 sudah capek ketika pulang ke penginapan, saya biasanya beli ayam panggang (dari bagian deli, cukup dipanasi lagi dengan oven) atau frozen food yang lain, misalnya buffalo wings atau spicy wings (dari bagian freezer, bisa dimasak dengan oven). Juga buah-2an dan sayuran/salad. Di penginapan cukup masak yang simple-2 saja: nasi, dadar jagung, tumis jamur, sosis, bacon, atau yang lain sejenisnya.

Namun demikian Airbnb mempunyai kekurangan: tidak seperti hotel yang ada room service-nya (setiap hari ada yang mbersihin ruangan, tempat tidur, kamar mandi dan ngosongin tempat sampah), Airbnb tidak ada room service-nya. Jadi, mereka yang berantakan, ya akan tetap berantakan selama nginap di situ ☺ Hati-2 kalo check-out dalam keadaan berantakan dan kotor, karena host-nya bisa me-review anda sebagai tamu yang buruk -- akibatnya, anda akan kesulitan mencari tempat yang lain di masa yang akan datang. Sebaliknya, anda juga bisa me-review host. Jadi dua arah ya: host menilai tamu, tamu juga menilai host. Cara terbaik adalah jagalah tempat itu sebaik mungkin dan tinggalkan semirip mungkin seperti ketika anda masuk.

Untuk Airbnb yang saya tempati di La Spezia, Florence, Venice dan Rome, semuanya saya beri 5 bintang. Beruntung mereka juga memberi saya review yang positif. Namun demikian, pengalaman saya di atas tidak menjamin semua pengalaman di Airbnb bakal memuaskan. So, untuk para paduka/wati yang tertarik, be brave … silakan mencoba dan good luck!

Saturday, 15 September 2018

Catatan Perjalanan: French Riviera (Côte d'Azur), France

#IITSouthernFrance
#IITFrenchRiviera
#IITCotedAzur

Sharing catatan perjalanan

Destination: French Riviera, musim semi bulan Mei 2018
Duration: 3 malam (Nice, santai, termasuk daytrip ke Monaco), 2 malam (Cannes, santai)

Mumpung sedang berada di Italy bagian utara, saya pikir sebaiknya ndak nyia-2kan kesempatan untuk ngunjungi kota-2 di tepi laut Mediterania di Perancis Selatan. Melihat lokasinya, ini adalah kesempatan baik untuk side trip/mampir ke French Riviera, yang disebut Cote d’Azur (pantai Azure) oleh orang lokal. Ada banyak kota di sepanjang pantai ini, tetapi yang populer dikunjungi turis adalah Monaco, Nice, Cannes dan Saint-Tropez (urut dari utara ke selatan). 4 kota ini lokasinya berdekatan dan yang terbesar adalah Nice. So, tujuan selanjutnya adalah Nice.

Saya sesungguhnya ndak terlalu ngefans dengan pantai, karena ndak suka berjemur, apalagi berenang di laut. Paling-2 cuma kecek di tepi pantai sambil menikmati suasana saja. Namun demikian saya curious, ingin tahu tentang tempat yang digambarkan dalam film-2 Hollywood sebagai “the playground of the rich and famous” ini. Curiosity tersebut semakin menggoda sejak nonton film klasik/jadul “To Catch a Thief” yang dibintangi oleh almarhum Grace Kelly (aka Princes Grace of Monaco) dan almarhum Cary Grant. Hahaha … semuanya sudah almarhum, tetapi filmnya tetap hidup abadi. Setting filmnya di Nice, Cannes dan Monaco. It looks so much fun! ☺

Bagaimana mencapai Nice?
Karena saat itu saya berada di Como, saya mesti naik KA untuk balik ke Milan. Pastikan anda berada di stasiun Milano Centrale, karena hanya dari stasiun ini ada KA direct/langsung ke Nice-Ville. KA direct tersebut bernama “Thello”. Waktu tempuhnya, termasuk pemeriksaan imigrasi di perbatasan Perancis, sekitar 4 jam 50 menit. Setelah memasuki wilayah Perancis, di sepanjang trek menuju Nice penumpang disuguhi dengan pemandangan laut Mediterania yang indah. Beruntung sekali sore itu cuacanya bagus -- really enjoyed the ride and the view! So, hari pertama saya di Nice praktis ½ hari habis dalam perjalanan: berangkat dari Como pagi hari, ganti kereta di Milan, tiba di Nice sekitar jam 5 sore hari. Tetapi secara keseluruhan okay-lah, ndak terlalu capek kok, setelah check-in masih ada waktu untuk jalan-2 di sekitar hotel sekalian cari resto untuk makan malam.

Atraksi/aktivitas apa saja yang dapat kita lihat/lakukan?
Pada dasarnya French Riviera adalah beach resort, persis seperti Bali, cocok untuk mereka yang tujuannya having fun/a good time, termasuk para honeymooners. Kecuali surfing karena ombaknya terlalu kecil, pantai adalah pusat atraksi dan aktivitas: berjemur, berenang, berkayak, berkapal, parasailing, boat-tubing, dlsb. Resto, café, bar dan diskotek dapat ditemukan di mana-2. Dan karena tempat ini adalah taman bermainnya the rich and famous, outlet-2 retail brand mewah dapat juga ditemukan di mana-2. 

Nice

1. Avenue Jean Medecin
Jalan utama yang menghubungkan stasiun Gare de Nice-Ville ke Vieux Nice (Old Nice). Trotoar jalannya lebar, ideal untuk pejalan kaki. Tempat cuci mata dan shopping.

2. Vieux Nice (Old Nice)
Kendaraan bermotor tidak boleh masuk ke sini -- pejalan kaki bebas dan aman menjelajahi daerah heritage ini. Tempat resto, café dan shopping untuk produk lokal.

3. Promenade des Anglais (Walkway of the English) atau disebut “La Prom” oleh orang lokal
Pastikan anda jalan-2 di promenade yang terbentang sepanjang pantai Mediterania ini, dimulai dari ujung barat Old Nice, ke arah barat. Kalo anda bersepeda, anda dapat bersepeda sepanjang 7 km ke arah barat dan anda akan sampai ke Nice Airport. Kalo anda jalan kaki, silakan jalan kaki sepuasnya. Jangan khawatir kalo capek karena ada banyak bangku berjejeran di sepanjang pantai untuk istirahat, piknik atau melamun sambil menikmati pemandangan laut. Atau kalo pas musim panas, anda mungkin tertarik untuk renang atau olah-raga pantai yang lain. Ada beberapa spot di pantai yang “reserved” untuk customer yang membayar -- sign/markingnya jelas, tetapi selebihnya gratis untuk publik. Di sepanjang promenade segala kebutuhan anda untuk resto, café, bar, hotel dan shopping tersedia lengkap. Pantainya bersih dan situasinya aman dan teratur. Very family friendly. Saya menghabiskan seharian di sini -- ndak pernah capek melihat pemandangan laut yang tenang dan langit yang biru.  

Monaco

Monaco bisa diinapi, tetapi harga penginapan di sini cukup mahal. Untuk saya, Monaco ndak perlu diinapi, karena 1) Dapat dengan mudah dikunjungi dari Nice. Perjalanan KA dari Nice ke Monaco cuma membutuhkan waktu 20 menit. Harga tiketnya murah, 3,50 Euro, one way/orang. 2) Atraksi utama di Monaco adalah casino, yacht (kapal layar/motor), dan Grand Prix. Padahal saya ndak ada niat yang berhubungan dengan ketiganya ☺ So, untuk saya daytrip dari Nice sudah cukup. 

Rencananya ingin naik hop on hop off karena landscape Monaco ini terjal naik-turunnya -- seluruh kota berada di tepi tebing! Kayak ndaki gunung. Tetapi rencana ini batal karena ketika saya di sana ternyata sedang ada Grand Prix … hop on hop off-nya stop beroperasi karena semua jalan di sekitar jalan utama di pantai Monaco diblokir! Jalan kaki ke mana saja akhirnya menemukan blokiran. Stuck ndak bisa kemana-2, akhirnya … ya sudahlah nonton Grand Prix saja. Bukan F1, tetapi Grand Prix mobil-2 balap antik … ☺ Always check the date before you go there. Tetapi secara keseluruhan okay-lah, I enjoyed the time.

Cannes

Cannes terletak 35 km di selatan Nice. Dengan KA membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Harga tiketnya 7,20 Euro, one way/orang. Cannes segala sesuatunya mirip seperti Nice, cuma lebih kecil. So, tergantung tujuan anda, kota ini bisa dikunjungi via daytrip dari Nice. Saat itu pas ada Cannes Film Festival, lha saya kok pas penggemar film. So, saya putuskan nginap 2 malam di kota kecil ini. 

1. Cannes Film Festival
Diadakan setiap tahun pada minggu ke-2 dan ke-3 di bulan Mei di Convention Centre di sebelah pelabuhan yacht. Kalo anda punya kartu press, anda bisa mendaftar untuk mendapatkan pass ke screening film-2 yang ikut kompetisi. Untuk publik, setiap jam 8 malam ada pemutaran film gratis di pinggir pantai di dekatnya. Ada sign-nya, “Cinema de la Plage”. Film-2 yang diputar biasanya film-2 klasik.

2. Boulevard de la Croisette
Boulevard ini mirip seperti “La Prom”-nya Nice -- terbentang sepanjang pantai Cannes, dimulai dari Convention Centre ke arah timur. Tempat jalan-2, cuci mata dan shopping.

3. Eglise Notre-Dame d’Esperance (Church of Our Lady of Esperance)
Terletak di puncak bukit di sebelah barat Convention Centre, dari halaman gereja batu bergaya Gothic ini anda dapat melihat panorama Cannes dengan bird’s-eye view.

4. Daytrip cruise ke pulau St Marguerite dan Saint-Tropez
Pulau St Marguerite terletak 5 km (15 menit cruise) di selatan Cannes dan terkenal dengan hutan pinus dan eukaliptusnya dan benteng yang memenjarakan tokoh misterius yang dikenal dengan sebutan “The Man in the Iron Mask”.

Saint-Tropez, another beach resort, terletak 75 km di selatan Cannes, ndak sempat saya kunjungi. Saya lihat Saint-Tropez mirip-2 juga seperti Nice dan Cannes, bahkan lebih kecil lagi, karena itu saya ndak ngoyo pergi ke sana … pepatah bilang “you’ve seen one, you’ve seen them all”. Selain itu ndak ada KA ke sana. So, bagi yang pingin ke sini, daytrip cruise dari Cannes adalah alternatif yang praktis.

Jasa daytrip cruise bernama Trans Cote d’Azur, letaknya di Quai Saint-Pierre di dekat pelabuhan yacht. Perusahaan yang sama juga beroperasi dari Nice.

Semoga bermanfaat untuk para paduka/wati yang berencana berkunjung ke sini.

Thursday, 13 September 2018

Catatan Perjalanan: Lake Como, Italy

#IITItaly
#IITLakeComo

Sharing catatan perjalanan

Destination: Lake Como, Italy, musim semi bulan Mei 2018
Duration: 2 malam (hari ke-1 santai, hari ke-2 capek tapi puas)

Terletak 5 menit dengan mobil dari perbatasan Swiss, atau sekitar 40 menit dengan KA dari Milan, daerah di sekitar Lake Como shortly speaking adalah Swiss-nya Italy. Memiliki danau, pegunungan Alpen dan pepohonan yang hijau, daerah ini sangat cocok sebagai tempat untuk retret atau istirahat -- perpaduan antara air, gunung dan kehijauan membuat hati tenang dan pikiran rileks. Untuk honeymooners atau mereka yang ingin lepas dari kebisingan kota besar, atau sedang mencari inspirasi, atau refleksi diri, atau sekedar ingin beristirahat, this is the place! Menurut orang lokal, Lake Como sudah menjadi tempat peristirahatan sejak jaman Romawi yang silam -- saya sendiri tahunya sejak membaca berita gosip bahwa George Clooney konon memiliki villa di tempat ini ☺ 

Bagaimana mencapai Lake Como?
Kota utama yang biasanya menjadi tempat kedatangan adalah Como. Como mempunyai dua stasiun KA: yang besar adalah Como San Giovanni di sebelah barat, yang lebih kecil Como Nord Lago di tengah kota. Ndak ada masalah anda tiba di stasiun yang mana, karena keduanya walking distance ke pusat keramaian di pinggir danau. Kalo anda berangkat dari Milan, pilih KA yang direct/langsung, waktunya cuma sekitar 40 menit. Dari pengalaman yang lalu, kalo anda ingin tiba di Como San Giovanni (direct), berangkatnya mesti dari stasiun Milano Centrale. Kalo ingin tiba di Como Nord Lago, berangkatnya dari stasiun Milano Nord Cadorna. Harga tiketnya murah, 4,80 Euro, one way/orang. Atau alternatif yang lain, naik mobil dari Milan, waktunya sekitar 1 jam-an.

Atraksi/aktivitas apa saja yang dapat kita lihat/lakukan?
Jawabannya sudah tertera di atas, yaitu bersantai-ria: makan, minum, jalan-2 dan sightseeing.

1. Como - Brunate Funicular
Kereta listrik ini membawa anda naik dari pinggir danau di Como ke Brunate yang 500 meter lebih tinggi. Tiket dapat dibeli on-the-spot di loket tiket, harganya 5,50 Euro, pp/orang. Dari sini anda bisa melihat pemandangan Lake Como dengan bird’s-eye view. 

2. Lake Como cruise
Cara paling mudah menikmati pemandangan Lake Como adalah dengan naik ferry. Tiket dapat dibeli on-the-spot di loket tiket dari perusahaan ferry “Navigazione Lago di Como” di pinggir danau -- warnanya biru, banyak orang antri, you won’t miss it! Pilihan tiketnya ada banyak, tetapi untuk memudahkan memilih, shortly speaking ada dua: One-way (sekali jalan) atau Free-circulation (boleh berulang-kali, seperti hop-on hop-off). Sebagai turis, lebih cocok Free-circulation. Selanjutnya, Free-circulation bisa milih One-day pass (berlaku 1 hari) atau Six-day pass (berlaku 6 hari). Kecuali anda bermalam di Como selama seminggu, pilih Free-circulation One-day pass. Terakhir, anda mesti milih seberapa jauh (berapa “stretch”) anda ingin ber-cruise. Di sini anda perlu melihat peta Lake Como dan menentukan sampai di mana anda ingin pergi. Dari pengalaman yang lalu, kalo anda berangkatnya pagi, sekitar jam 9-nan, anda mungkin bisa mencapai titik terjauh di Colico (ini 8 “stretch”), harganya 28 Euro. Kalo berangkatnya tengah hari, saya sarankan cukup sampai Bellagio saja (ini 6 “stretch”), harganya 23,30 Euro. Pulang ke Como bisa sekitar jam 8 malaman. 

3. Villa-2 di pinggir Lake Como
Selama cruise anda bisa hop-on hop-off di kota-2 kecil di sepanjang danau, misalnya Tavernola, Cernobbio, Isola Comacina, dlsb. Tetapi yang populer adalah Tremezzo (ada Villa Carlotta), Bellagio (kota yang sangat cantik, picturesque, tempat makan dan minum, dan shopping untuk produk lokal, juga ada Villa Melzi), dan Varenna (ada Villa Monastero). Catatan: Tremezzo dan Bellagio 6 “stretch”, sedangkan Varenna 7 “stretch”. Kalo waktunya mepet, sempatkan saja ke Tremezzo dan Bellagio -- dua kota ini berdekatan, sehingga waktu tempuhnya singkat.

Como sebagai tempat kedatangan sesungguhnya bukan tempat yang ideal untuk menginap -- ideal maksudnya bisa melihat keindahan Lake Como dengan bird’s-eye view. Kalo anda ingin menginap di tempat yang bisa seperti itu, tempat tersebut harus ada di atas atau perbukitan. Saya sendiri saat itu menginap di Como, tetapi kalo ada kesempatan ke sini lagi saya akan coba menginap di daerah perbukitan, mungkin Brunate (ada funicular untuk turun ke Como).

Semoga bermanfaat untuk para paduka/wati yang berencana berkunjung ke sini.

Friday, 7 September 2018

Catatan Perjalanan: Milan, Italy

#IITItaly
#IITMilan

Sharing catatan perjalanan

Destination: Milan, Italy, musim semi bulan Mei 2018
Duration: 4 malam (santai)

Kota tujuan ini sudah sering dibahas di grup ini mungkin sampe bosen. So, silakan di-skip bagi yang sudah sering baca atau pengalaman, mondar-mandir, di kota ini. Namun demikian, siapa tahu ada beberapa point yang belum pernah atau jarang disampaikan yang dapat membantu para paduka/wati yang ingin berkunjung ke kota ini.

Milan terletak di bagian utara Italy, sekitar 1 jam saja perjalanan dengan mobil ke perbatasan Swiss, menjadikan kota ini titik awal yang ideal untuk scenic train “Bernina Express” yang rutenya dari Tirano di perbatasan Italy/Swiss ke Chur di pegunungan Alpen Swiss. Milan juga ideal sebagai hub utama untuk melanjutkan perjalanan ke kota-2 di bagian selatan Perancis -- sekitar 4 jam perjalanan dengan KA ke Nice. Pada kesempatan ini saya ndak side-trip ke Swiss, tetapi ke bagian selatan Perancis (sharing ceritanya nanti berikutnya).

Milan tidak termasuk tujuan wisata utama di Italy, karena kota ini lebih terkenal sebagai kota bisnis dan fashion. So, anyway, kalo kita berkunjung ke sini, atraksi/aktivitas apa saja yang dapat kita lihat/lakukan?

1. Sforza Castle (Castello Sforzesco)
Di abad pertengahan kompleks ini adalah istana/benteng keluarga bangsawan Sforza, penguasa Milan. Sekarang menjadi tempat berbagai macam museum. Kita bisa beli tiket sightseeing istana/benteng saja, atau bagi yang senang dengan museum, bisa beli pass yang menyertakan entry ke semua museumnya.

2. Milan Cathedral (Duomo di Milano)
Gereja terbesar ke 4 di dunia dan bergaya Gothic yang sangat impresif ini harus dikunjungi ya karena penting banget untuk selfie di depannya … wkwkwk ☺ Konon gereja ini membutuhkan waktu 600 tahun untuk menyelesaikan pembangunannya, mulai dari abad ke-14 sampai ke abad ke-20 ybl. Setelah foto-2an di depan, kita sebaiknya masuk ke dalam gerejanya -- tiket masuk selain entry ke dalam gereja, juga entry ke museum gereja di bawah tanah dan entry ke rooftop gereja.

3. Galleria Vittorio Emanuele II
Terletak bersebelahan dengan Duomo, shopping mall tertua di Italy ini dibangun di akhir abad ke 19 dan mempunyai rooftop yang sangat cantik. Arsiteknya pasti seniman juga nich -- konon arsiteknya tewas jatuh tergelincir dari rooftop bangunan ini. Anyway, penting juga untuk selfie di sini … fotonya ngambilnya harus dari bawah agar rooftopnya bisa kelihatan ☺ Karena kecantikan tempatnya, shopping mall ini populer menjadi lokasi wedding photo, terutama pasangan pengantin dari Asia. So, yang sebentar lagi jadi pengantin, ini ada ide untuk lokasi wedding photo … ☺ Bagi yang suka belanja, anda bisa “shop till you drop” di sini -- range barangnya, dari mewah sampai super mewah. Resto-2 berbintang juga dapat ditemukan di sini. Konon, dulu ada McDonald’s-nya, tapi kemudian setelah kontraknya habis, kontraknya tidak boleh diperbarui lagi sehingga McDonald’s harus pergi -- tempatnya digantikan oleh fashion house Prada. Yaaah, nasib, batal sudah rencana makan di sini … ☺

Ketiga tempat di atas saling berdekatan, walking distance: dari Castle ke Duomo jalan kaki 20 menit, dari Duomo ke Galleria jalan kaki 2 menit.

4. Teatro alla Scala
Atau disingkat La Scala, adalah opera house. Dibangun di akhir abad ke 18, penampilan luar gedungnya tidak istimewa, kalah iconic kalo dibandingkan dengan misalnya Sydney Opera House, tapi opera house Milan ini sering menjadi tempat untuk world premiere opera-2 ternama karya komposer-2 Italy. Selain opera juga menampilkan orkestra klasik. Berkunjung ke sini adalah pengalaman unik yang hanya ada di Milan. Jangan khawatir soal pakaian, karena penonton ndak perlu mengenakan jas/gaun formal -- cukup pakaian yang sopan dan rapi saja. Dari Galleria ke La Scala jalan kaki 5 menit.

5. Quadrilatero della Moda (Fashion Quarter)
Ini adalah daerah shopping dimana fashion paling baru, paling kini, bisa ditemukan -- dari Galleria, jalan kaki 5 menit. Jangan nyari bargain, karena semuanya barang baru, the latest trends. Atau sightseeing dan window shopping saja juga okay.

Dua tempat berikut ini sering terloncati dalam itinerary, yaitu: 

6. Leonardo da Vinci’s The Last Supper
Banyak yang ndak tahu lukisan The Last Supper terletak di Milan, tepatnya di gereja Santa Maria delle Grazie. Dari Castle, jalan kaki 10 menit ke arah barat. Tidak seperti lukisan di atas kanvas yang awet, lukisan di dinding (mural) lebih cepat pudar. The Last Supper sudah pudar banget, waktu ngliat … waduh, kasihan banget … warna-2nya sudah banyak yang hilang -- konon restorasi pernah dilakukan, tapi tetap saja pudar. Tidak heran banyak pertanyaan yang muncul tentang siapa saja yang ada dalam lukisan tersebut. Yang itu siapa?? Maria Magdalena?! Demikian dugaan penulis Dan Brown dalam novelnya The Da Vinci Code. 

7. Leonardo da Vinci’s Museum of Science and Technology
Banyak juga yang ndak tahu kalo Leonardo bukan saja seorang seniman/pelukis, tetapi juga inventor, matematikawan, insinyur, arsitek, astronom … singkat kata ilmuwan. Saat itu Leonardo bekerja untuk keluarga bangsawan Sforza, penguasa Milan, sehingga tidak heran koleksi catatan kerjanya disimpan di Milan. Untuk mereka yang curious mind, silakan berkunjung ke museum ini -- dari Santa Maria delle Grazie, jalan kaki 5 menit ke arah selatan. 

Dua tempat berikut ini khas Milan, yaitu:

8. Casa Milan
Markas besarnya AC Milan, di sini ada museum klub, display sejarah perjalanan klub, juga toko yang menjual berbagai macam merchandise klub. Bagi penggemar sepak bola, silakan berkunjung ke sini – dari metro/subway Duomo, naik jalur merah arah Fieramilano, turun di Lotto.

9. San Siro Stadium
Daripada cuma ngliat museum atau stadium kosong, kalo bisa ya nonton pertandingannya. Untuk bisa nonton pertandingannya, kita mesti datang pas ketika musim liga berlangsung -- jadwal pertandingan bisa dilihat di website klub. Ada pemeriksaan security sebelum masuk stadium. Dari metro/subway Lotto, naik jalur ungu arah San Siro Stadio, turun di stasiun terakhir.

Kalo anda datang di akhir Agustus/awal September, anda bisa juga nonton F1 Grand Prix.

10. Italian Food
Yang ini bisa ditemukan di mana saja di Milan.
Italian food di luar Italy cenderung lebih spicy dan berlebihan; padahal di negaranya sendiri, simple dan sederhana. Yang letaknya dekat dengan Duomo yang bisa saya rekomendasikan adalah: Luini (bakery), di Via Santa Radegonda 16, hmmm … keju melur mozzarella, top lah. Persis di depannya, Cioccolatitaliani (gelato). Banyak orang lokal yang datang ke sini. Pizza bisa ditemukan di mana saja. Kalo datangnya berkelompok, order pizzanya bisa meteran … isinya bisa divariasi. Selamat mencoba.

Orang Italy walaupun mungkin ndak lancar berbahasa Inggris, mereka ngerti bahasa Inggris.