Friday, 27 December 2013

Philomena

2014 Oscar Watch

Philomena (8.0/10)



Sutradara: Stephen Frears
Script: Steve Coogan, Jeff Pope
Cast: Judi Dench, Steve Coogan


Berdasarkan kisah nyata, film garapan Stephen Frears ini walaupun ceritanya sederhana tetapi mencakup berbagai isyu penting; dan walaupun isyu-2 tersebut sensitif script-nya berhasil menampilkannya tanpa prejudice. Hasilnya, film kecil ini terasa padat dan berbobot.

Hamil di luar nikah dan norma sosial saat itu (tahun 1950-an) menilai situasi tersebut sebagai aib, Philomena Lee yang berusia 14 tahun (Sophie Kennedy Clark) diasingkan keluarganya ke sebuah biara di Roscrea, Irlandia. Segera setelah itu, Philomena melahirkan seorang bayi laki-2 dan dia namai Anthony. Peraturan saat itu menyebutkan bahwa bayi-2 seperti Anthony harus diberikan untuk adopsi. Sementara mengetahui hari perpisahan dengan Anthony dapat datang setiap saat,  Philomena bekerja di biara selama 4 tahun sebagai ganti rugi untuk biaya yang dikeluarkan biara untuk dirinya dan Anthony, dan dia diijinkan menjenguk Anthony selama 1 jam setiap harinya. Pada usia sekitar 3 tahun, Anthony akhirnya diadopsi dan Philomena yakin dia diadopsi oleh keluarga dari Amerika Serikat. Sejak itu Philomena mengubur peristiwa tersebut sebagai rahasia masa lalu. 50 tahun kemudian, Philomena (Judi Dench) akhirnya membuka rahasia tersebut ke anak perempuannya, Jane (Anna Maxwell Martin). Usaha Philomena dan Jane mencari Anthony menemui jalan buntu di biara Roscrea, karena Philomena telah menandatangani kontrak yang menyebutkan bahwa dia telah melepas hak-2nya sebagai ibu dan setuju tidak menanyakan tentang adopsi tersebut. Sampai suatu saat Jane bertemu dengan seorang jurnalis yang baru saja kehilangan pekerjaannya sebagai “spin doctor” di pemerintahan Perdana Menteri Tony Blair, Martin Sixsmith (Steve Coogan), dan menawarkan kisah hidup ibunya untuk dijadikan novel. Sixsmith mula-2 menolak tawaran ini karena dia menilai topik “human interest” kurang bergengsi, tetapi pihak editor justru mencium cerita yang menarik dan memerintahkan Sixsmith untuk menerima tawaran tersebut. Lagi-2 menemui jalan buntu di biara Roscrea -- kali ini pihak biara memberi alasan bahwa semua catatan adopsi terbakar ludes dalam kebakaran, dengan bantuan finansial dari pihak editor dan jaringan koneksi yang Sixsmith miliki, Philomena dan Sixsmith akhirnya pergi ke AS untuk mencari Anthony -- yang mereka duga namanya pasti sudah berubah. Di luar dugaan, Sixsmith ternyata dengan mudah menemukan Anthony (namanya berubah menjadi Michael Hess), tetapi Anthony/Michael sudah meninggal dunia. Mendengar kabar tersebut, Philomena mula-2 memutuskan untuk pulang saja, tetapi kemudian berubah pikiran untuk menemui orang-2 yang pernah berhubungan dengan anaknya untuk mengetahui perjalanan hidupnya -- dan yang lebih penting lagi: apakah Anthony/Michael pernah mencari dirinya?

Ada pepatah yang mengatakan “fact is stranger than fiction”; kisah nyata Philomena ini betul-2 mengalahkan fiksi. Plot dalam fiksi sering terasa dibuat-2; kisah nyata Philomena ini plotnya mengalahkan fiksi, tetapi tidak terasa dibuat-2 -- karena memang itulah kejadiannya. Dengan plot awal yang padat dan akhir yang tidak terduga, beruntung sekali script ditangani oleh penulis-2 yang menangkap esensi dari kisah nyata ini dengan tepat: di tengah isyu-2 lain yang ada di sekitarnya -- norma sosial yang ada saat itu, peran institusi gereja saat itu, perubahan jaman/perubahan norma sosial, penilaian sejarah trans-generasi, institusi gereja saat ini yang terancam kehilangan relevansinya di depan umatnya sendiri, terletak inti ceritanya: human bonding antara ibu dan anaknya. Steve Coogan dan Jeff Pope juga dengan sensitif dan berimbang, tanpa prejudice, menampilkan argument dan counter-argument dari isyu-2 tersebut -- menarik melihat Philomena yang mengalami sendiri pengalaman pahit tersebut justru sebagai pihak yang memberi counter-argument yang “in the context”, sedang Sixsmith yang hanya melihat Philomena justru sebagai pihak sering terbawa emosi, yang sering kali memberi argument yang “out of the context”. Cerita seperti ini dapat dengan mudah jatuh ke melodramatis yang berlebihan, beruntung sekali Coogan dan Pope tidak membiarkan script-nya tergelincir ke situ ... hasilnya justru inspirational.

Judi Dench tampil menjiwai sebagai Philomena, sedang Steve Coogan yang notabene seorang stand-up comedian menunjukkan versatilitas-nya sebagai aktor yang serius dan penulis script yang berbobot.

Melihat film-2 yang bakal meramaikan nominasi Oscar tahun 2014 y.a.d., Oscar kali in bakal menjadi Oscar yang paling kompetitif dalam beberapa dekade terakhir ini, khususnya untuk kategori Film Terbaik dan kategori Aktres Terbaik. Filmnya sendiri harus bersaing ketat dengan film-2 yang lain untuk masuk nominasi Film Terbaik. Demikian juga dengan Stephen Frears untuk nominasi Sutradara Terbaik. Tetapi Judi Dench memegang kartu As untuk nominasi Aktres Terbaik  -- siapapun yang berhasil masuk nominasi Aktres Terbaik tetapi tidak memenangkan piala Oscar patut merasa dirinya “diloncati” :-); demikian juga dengan Steve Coogan dan Jeff Pope untuk nominasi Script Adaptasi Terbaik. Last, but not least, Alexandre Desplat yang menciptakan musik pengiring yang inspirational juga besar kemungkinan akan meramaikan nominasi Original Score Terbaik.

Prediksi Nominasi Oscar 2014:
  • Aktres Terbaik (Judi Dench)
  • Script Adaptasi Terbaik (Steve Coogan, Jeff Pope)
  • Original Score Terbaik (Alexandre Desplat)


Philomena dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 19 December 2013

American Hustle

2014 Oscar Watch

American Hustle (8.0/10)



Sutradara: David O. Russell
Script: Eric Warren Singer, David O. Russell
Cast: Christian Bale, Bradley Cooper, Amy Adams, Jeremy Renner, Jennifer Lawrence, Robert De Niro

Setelah menghasilkan The Figther (2010) yang mengantar Christian Bale ke Oscar pertamanya dan Amy Adams ke nominasi Oscar (sayang sekali Adams harus bersaing dengan sesama anggota cast, Melissa Leo, yang akhirnya memenangkan Oscar) dan Silver Linings Playbook (2012) yang mengantar Jennifer Lawrence ke Oscar pertamanya dan Bradley Cooper dan Robert De Niro ke nominasi Oscar, sutradara David O. Russell tahun 2013 ini menggabungkan mereka semua dalam drama kriminal yang konon berdasarkan kisah nyata, yang dikemas dalam black comedy dan bersetting pada era 1970-an. Karena black comedy, Russell yang juga ikut menulis script-nya, mempunyai kebebasan menciptakan karakter-2 yang “over the top”, berlebihan, atau dengan kata lain: karikaturis. Dan tidak hanya dalam karakterisasi saja Russell “having fun” (baca, “merayakan”) black comedy ini, tetapi juga dalam fashion dan design dari era tersebut: celana komprang; kacamata separoh gelap selebar separoh wajah :-); gaya rambut blow-dry, afro, atau Farrah Fawcett; gaun wanita yang berusaha menampilkan bagian-2 tubuh wanita yang di era-2 sebelumnya belum pernah ditampilkan; dan design eksterior/interior yang showy/berani, tetapi tacky alias tasteless. Ugly, but Russell presented it beautifully!

Seorang penipu veteran, Irving Rosenfeld (Christian Bale), jatuh cinta dan bergabung dengan seorang penipu “wannabe”, Sydney Prosser (Amy Adams), walaupun dia sudah mempunyai istri, Rosalyn (Jennifer Lawrence). Sejak bekerja sama dengan Sydney, yang menyamar sebagai aristokrat Inggris dengan koneksi di dunia perbankan, mereka berdua berhasil menipu banyak client dari kalangan atas ... sampai suatu saat mereka jatuh dalam jebakan yang dipasang oleh agen FBI yang ambisius, Richie DiMaso (Bradley Cooper). Terancam hukuman penjara yang berat, mereka akhirnya menerima tawaran (baca, paksaan) DiMaso untuk bekerja untuk FBI -- dengan imbalan hukuman yang lebih ringan -- untuk menangkap Walikota Camden, Carmine Polito (Jeremy Renner), yang korup yang mempunyai koneksi dengan mafia setempat, Victor Tellegio (Robert De Niro). Sementara bekerja di bawah paksaan dan pengawasan FBI, Irving dan Sydney menggodok rencana sendiri untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Tidak memahami seluk-beluk rencana suaminya, Rosalyn yang besar mulut dan sekaligus cemburu setiap saat siap menghancurkan baik rencana FBI maupun rencana suaminya tersebut.

Dalam film ini masing-2 cast berhasil menampilkan sisi lain dari akting mereka yang belum pernah disaksikan oleh penonton. Christian Bale, yang kurus kering dalam The Machinist (2004), fit dan berotot dalam film-2 Batman-nya, kali ini tampil gendut dan botak :-) Moga-2 perut gendut tersebut bukan 100% miliknya sendiri -- moga-2 ditambahi oleh Divisi Makeup. Juga kepalanya yang botak, moga-2 bukan 100% kepalanya sendiri :-) Bale adalah aktor yang tidak hanya akting dengan wajahnya saja, tetapi juga dengan seluruh tubuhnya. Amy Adams, yang biasanya tampil sebagai pendukung dan memainkan peran “good girl”, dalam film ini memperoleh centre stage dan tampil memukau memainkan peran femme-fatale dengan akting yang menampilkan berbagai wajah dan emosi. Hal ini semakin diperkuat dengan penempatan camera yang mengambil sudut-2 close-up, yang menampilkan kerut dalam wajahnya dan merekam segala reaksi dalam wajahnya -- bahkan yang paling minimal sekalipun. Amy Adams bisa menjadi ancaman berat untuk Cate Blanchett (Blue Jasmine) dalam Oscar 2014 nanti. Bradley Cooper tampil semakin matang -- dia mulai melepaskan diri dari peran-2 stereotype untuk aktor ganteng. Jennifer Lawrence, walaupun usianya masih 23 tahun, ternyata mempunyai kemampuan seperti Meryl Streep! Peran apa saja bisa: drama, romantic comedy, action, dan sekarang black comedy. Usia juga tidak menjadi batasan: peran lebih muda dari usianya bisa, seperti dalam fim-2 The Hunger Games; peran seusianya tentu saja bisa, seperti dalam Silver Linings Playbook; dan sekarang peran lebih tua dari usainya ternyata juga bisa. Hebat! Secara keseluruhan, berkat script yang rapi dan tajam, ensemble cast dalam film ini betul-2 padu. Last, but not least, film ini dihiasi dengan soundtrack yang menarik -- lagu-2 top 1970-an -- a.l. dari Elton John (Goodbye Yellow Brick Road), Paul McCartney's Wings (Live and Let Die), The Bee Gees (How Can You Mend a Broken Heart), dan Tom Jones (Delilah).

Dengan jumlah nominasi Film Terbaik yang mencapai 9-10 film, American Hustle besar kemungkinan akan meramaikan nominasi Film Terbaik. Untuk nominasi Sutradara Terbaik, David O. Russell harus bersaing ketat dengan Ethan Coen & Joel Coen (Inside Llewyn Davis) dan Martin Scorsese (The Wolf of Wall Street). Untuk nominasi Aktor Terbaik, Christian Bale mempunyai kesempatan luas untuk memasukinya. Untuk nominasi Aktres Terbaik, Amy Adams harus bersaing ketat dengan Judi Dench (Philomena), Meryl Streep (August: Osage County), dan Emma Thompson (Saving Mr. Banks) -- karena masing-2 sudah pernah memenangkan Oscar, penulis tidak keberatan salah satu di antaranya diloncati untuk memberi kesempatan pada Adams :-) Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence masing-2 nampaknya dengan mudah memasuki nominasi Aktor Pendukung Terbaik dan Aktres Pendukung terbaik. Last but not least, kostum-2 era 1970-an yang ugly dan berani -- terutama yang dikenakan Adams, ciptaan costume designer Michael Wilkinson, dapat meramaikan nominasi Desain Kostum Terbaik.

Prediksi Nominasi Oscar 2014:

  • Film Terbaik
  • Script Original Terbaik (Eric Warren Singer, David O. Russell)
  • Aktor Pendukung Terbaik (Bradley Cooper)
  • Aktres Pendukung Terbaik (Jennifer Lawrence)
  • Desain Kostum Terbaik (Michael Wilkinson)




American Hustle dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 10 December 2013

The Act of Killing

2014 Oscar Watch

The Act of Killing


Sutradara: Joshua Oppenheimer, Christine Cynn, Anonymous
Produser: Signe Byrge Sørensen, Werner Herzog, Anonymous

Jarang-2 penulis menulis review untuk film dokumenter,  tetapi kali ini perkecualian karena film dokumenter yang masuk “shortlist” daftar nominasi Oscar untuk Film Dokumenter Terbaik, bahkan menurut prediksi terakhir dijagokan memenangkannya, adalah film dokumenter tentang penjagalan massa yang terjadi di Indonesia pasca 30 September 1965. Filmmaker asal AS, Joshua Oppenheimer, yang bermukin di Copenhagen, Denmark, datang ke Indonesia antara tahun 2004 sampai tahun 2012 untuk membuat serangkaian film tentang Indonesia, salah satu di antaranya adalah film ini. Dalam film ini Oppenheimer pergi ke Medan, Sumatera Utara, dan mengundang para pelaku penjagalan di daerah tersebut untuk membuat film tentang peristiwa tersebut -- mereka dipersilahkan untuk memilih setting sendiri, memilih ekstra (cast pendukung) sendiri, menyusun script sendiri, mengarahkan sendiri, bahkan memilih genre film sendiri. Para pelaku tersebut kemudian menghubungi orang-2 penting, baik dari masa lalu maupun masa kini, yang mempunyai koneksi dengan mereka yang ingin tampil dalam film mereka; antara lain seorang penerbit surat kabar, seorang gubernur, seorang wakil presiden, dan seorang pemimpin organisasi paramiliter yang paling ditakuti (semuanya berstatus aktif ketika film ini dibuat). Sementara mereka membuat film mereka, Oppenheimer menempatkan camera untuk merekam pembuatan film tersebut, juga microphone untuk merekam segala pembicaraan off-stage yang terjadi. Hasilnya, suntingan dari camera dan microphone milik Oppenheimer ini, adalah chilling reenactment dari para pelakunya sendiri; dan yang lebih mengerikan lagi, sampai saat ini mereka semua masih memiliki impunitas (kekebalan hukum). Entah bagaimana kelanjutan film mereka sendiri.

Ada banyak crew Indonesia dari pihak Oppenheimer yang terpaksa disembunyikan dengan nama Anonymous demi menjaga keselamatan mereka. Akankah Oppenheimer mempunyai kesempatan mengucapkan terima kasih kepada crew tersebut dari atas panggung Oscar pada tanggal 2 Maret 2014 yang akan datang?

Menonton film ini membuat penulis sedih dan prihatin.

Prediksi Nominasi Oscar 2014:
  • Film Dokumenter Terbaik

The Act of Killing dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 5 December 2013

Captain Phillips

2014 Oscar Watch

Captain Phillips (8.0/10)


Sutradara: Paul Greengrass
Script: Billy Ray
Cast: Tom Hanks, Barkhad Abdi, Barkhad Abdirahman, Faysal Ahmed, Mahat M. Ali

Berdasarkan kisah nyata pembajakan kapal cargo Maersk Alabama di lepas pantai Somalia pada tanggal 7 April 2009, Tom Hanks memainkan perannya sebagai Captain Richard Phillips dengan penuh simpati dan penghayatan, namun demikian casting yang brilliant/sangat tepat untuk keempat aktor pendukung: Barkhad Abdi, Barkhad Abdirahman, Faysal Ahmed, dan Mahat M. Ali, sama sekali tidak dapat diabaikan dalam memberi kontribusi sepenuhnya terhadap akting keseluruhan dalam film ini. Tom Hanks dengan mudah menarik perhatian penonton, tetapi keempat aktor pendukung tersebut betul-2 cocok untuk masing-2 perannya -- “a match made in heaven” :-)

Berangkat dari pelabuhan Salalah di Oman menuju Mombasa di Kenya, Captain Phillips menahkodai kapal cargo Maersk Alabama menyusuri teluk Aden di lepas pantai Somalia. Mengetahui daerah tersebut rawan terhadap pembajakan, Captain Phillips menginstruksikan awak kapalnya untuk siap-siaga -- dan ketika mereka sedang berlatih kesiap-siagaan, eeeh  ... betulan, ada dua perahu motor kecil dengan awak bersenjata AK-47 meluncur dengan cepat menuju kapalnya. Tidak boleh membawa senjata apapun di dalam kapal (peraturan dari pemilik kapal), Captain Phillips dan awak kapalnya berusaha menjauhkan diri dengan mempercepat laju kapal, men-zigzag gerakannya, dan bahkan menyemburkan air untuk menyingkirkan mereka. Usaha tersebut sia-2, karena keempat pembajak tersebut walaupun prasarananya minim mereka ternyata betul-2 nekad! Mula-2 berhasil menguasai kapal cargo tersebut, tetapi kemudian melarikan diri dengan lifeboat (perahu penyelamat) sambil membawa Captain Phillips, keempat pembajak tersebut akhirnya berhadapan dengan US Navy destroyer USS Bainbridge yang sebelumnya menerima pesan SOS tentang pembajakan tersebut. Tidak lama kemudian, dua kapal US Navy yang lain ikut datang mengepung lifeboat tersebut. OMG! :-) Diselingi suspense anggota Navy SEAL melihat ke dalam kamera tembus pandang untuk mencari “clear shot”, script memberi pendalaman/sisi personal cerita pembajakan ini dengan meluangkan screen-time yang longgar untuk dialog antara Captain Phillips dan keempat pembajak tersebut.

Dengan jumlah nominasi Film Terbaik yang mencapai 9-10 film, Captain Phillips besar kemungkinan akan meramaikan nominasi Film Terbaik. Demikian juga dengan nominasi Sutradara Terbaik, Script Adaptasi Terbaik, dan Aktor Terbaik. Anggota cast pendukung Barkhad Abdi dapat membuat kejutan masuk nominasi Aktor Pendukung Terbaik (anggota Academy Awards menyukai first-timer). Keempat aktor pendukung dalam film ini adalah imigran asal Somalia yang sekarang menetap di AS; dalam kehidupan nyata mereka adalah empat sekawan dengan Barkhad Abdi seorang aktor, sutradara, dan produser, dan Faysal Ahmed seorang aktor teater/panggung.

Prediksi Nominasi Oscar 2014:
  • Film Terbaik
  • Sutradara Terbaik (Paul Greengrass)
  • Script Adaptasi Terbaik (Billy Ray)
  • Aktor Terbaik (Tom Hanks)

Captain Phillips dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 2 December 2013

The Picture of Dorian Gray, Death Becomes Her

Double Vanity!


Siapa bilang hanya wanita saja yang concern terhadap penampilannya atau khawatir menjadi tua, pria juga. Caranya saja yang berbeda: wanita dengan melakukan bedah plastik -- agar nampak awet muda, pria dengan menemukan istri muda -- bukti bahwa dia awet muda. Gitu kali ya? :-) Vanity! Filsuf ternama Friedrich Nietzsche pernah mengatakan “Vanity is the fear of appearing original.” Coba kita lihat dalam dua film berikut ini: film pertama adalah drama horor dan film kedua adalah black comedy.

1) The Picture of Dorian Gray (1945).

Adaptasi dari novel klasik dengan judul yang sama karya sastrawan Irlandia, Oscar Wilde, The Picture of Dorian Gray menceritakan kehidupan hedonistik kalangan atas di London pada abad ke 19 yang dikemas dengan gaya Gothic, dalam tema Faustian (a pact with the Devil/persekutuan dengan roh jahat) yang kental. Muda, kaya, tampan, dan naive, Dorian Gray (Hurd Hatfield), 22 tahun, mendengarkan nasehat dari Lord Henry Wotton (George Sanders) bahwa hidup hanya berguna jika kita memperoleh kesenangan darinya, dan untuk Dorian usia muda dan ketampanannya akan mendatangkan segala sesuatu yang dia inginkan dalam hidupnya. Terkesan dengan nasehat tersebut, di depan lukisan potretnya, Dorian mengucapkan keinginannya: “Semoga potretnya, bukan dirinya, yang menjadi tua!” -- tidak menyadari di dekat lukisan potretnya berdiri sebuah patung kucing purbakala dari Mesir yang konon mempunyai kemampuan mengabulkan keinginan. Uuuuuuu ... dan mulailah drama Gothic horor ini -- I love it! :-) Dorian mula-2 tidak menyadari kalau keinginannya terkabul, sampai suatu saat ketika dia dengan teganya memutus hubungan asmara dengan tunangannya, Sibyl Vane (Angela Lansbury), untuk mengejar gaya hidup hedonistik dia menemukan “perubahan” dalam lukisan potret dirinya. Terkejut, Dorian menyembunyikan lukisan potret tersebut ke dalam gudang. Dorian tidak pernah menjadi tua dan gaya hidup hedonistiknya semakin menjadi-2. Dan script dengan sabar menyimpan horor puncaknya sampai ke akhir film.

Dengan kontras hitam-putih yang tajam, film ini memenangkan Oscar untuk Sinematografi B/W Terbaik. Angela Lansbury, walaupun tampil hanya singkat saja, penampilannya mengesankan -- dia menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik. Tetapi masterpiece dalam film ini adalah lukisan potret Dorian Dray yang tampil di akhir film karya pelukis macabre Ivan Albright, sekarang disimpan di Art Institute of Chicago. Film ini pernah di-remake pada tahun 2009 dengan judul Dorian Gray, tetapi penulis punya keinginan Francis F. Coppola me-remake drama Gothic horor ini seperti dia membuat Dracula (1992). Hmmm ... nengok kiri, nengok kanan, moga-2 ada patung kucing purbakala dari Mesir yang mendengarkan keinginan ini :-)

Bersama dengan Mary Shelley's Frankenstein dan Bram Stoker's Dracula, Oscar Wilde's Dorian Gray menduduki Top 3 novel Gothic horor terbaik sampai saat ini.

2) Death Becomes Her (1992).

Bertema sama dengan cerita di atas, eternal youth, black comedy ini menceritakan perseteruan antara dua wanita dalam memperebutkan cinta seorang pria dengan menjaga kecantikan/penampilan fisiknya seprima mungkin. Di awal cerita, Helen Sharp (Goldie Hawn), seorang penulis, bertunangan dengan Dr. Ernest Menville (Bruce Willis), seorang ahli bedah plastik. Tetapi segera setelah Ernest bertemu dengan Madeline Ashton (Meryl Streep), seorang aktres, Ernest meninggalkan Helen dan mengawini Madeline. Shocked, depressed, dan kegemukan karena tidak bisa berhenti makan, Helen menghabiskan waktu bertahun-2 di rumah sakit jiwa sambil memelihara dendam kesumat terhadap Madeline. Waktu berjalan, Madeline memasuki usia setengah baya, kariernya meredup, bagian-2 tubuhnya yang dulu sedemikian dibanggakan sekarang cuma mengikuti gravitasi bumi :-) , Ernest juga mulai beruban dan buyuten, kariernya juga merosot menjadi juru rias mayat :-) ... perkawinan mereka hambar dan masing-2 saling mengabaikan yang lainnya. Setelah lebih dari 14 tahun tidak mendengar kabar tentang Helen, Madeline terkejut ketika tiba-2 ada kabar bahwa Helen mengadakan pesta peluncuran perdana bukunya yang berjudul “Forever Young”. Lebih terkejut lagi ketika Madeline bertemu dengan Helen dan melihat Helen tampil begitu muda -- seakan-2 tidak menjadi tua seharipun sejak mereka bertemu terakhir kalinya 14 tahun yang lalu! Merasa tersaingi dan terpojok, Madeline menerima rekomendasi beauty salon-nya untuk mengunjungi Lisle von Rhuman (Isabella Rossellini) yang misterius. Ramuan ajaib yang Madeline dapatkan dari dukun maut ini ternyata betul-2 ajaib dan bahkan lebih ajaib daripada yang dia (baca, penonton) bayangkan. Lebih seru lagi, Helen ternyata juga mendapatkan ramuan yang sama dari dukun yang sama. Siapa yang menang? Penonton tentu saja.

Dengan empat bintang layar perak yang berkharisma dan special effects yang mempesona, black comedy arahan Robert Zemeckis (Back to the Future, Forrest Gump, Contact, Cast Away) ini selain berhasil memenangkan Oscar untuk Visual Effects Terbaik, juga berhasil mengundang tawa -- sekaligus refleksi, karena dengan lantang menciptakan definisi baru untuk eternal youth/eternal beauty, seraya mengolok siapa saja yang terobsesi dengan penampilan fisiknya. Sama seperti The Picture of Dorian Gray, penulis terkesan dengan scene terakhir dalam film ini.

The Picture of Dorian Gray, Death Becomes Her dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 25 November 2013

Blue Jasmine

2014 Oscar Watch

Blue Jasmine (8.0/10)


Sutradara: Woody Allen
Script: Woody Allen
Cast: Cate Blanchett, Alec Baldwin, Bobby Cannavale, Andrew Dice Clay, Sally Hawkins, Peter Sarsgaard

Blue Jasmine = A Streetcar Named Desire versi Woody Allen.

Walaupun berasal dari kelas bawah, Jasmine (Cate Blanchett), selalu berupaya menempatkan dirinya di kalangan atas. Perkawinannya dengan pebisnis kaya, Hal (Alec Baldwin), membuat dirinya terbiasa dengan gaya hidup “champagne & caviar”. One thing led to another, tragedi kehidupan menyambar ... Hal akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke penjara, meninggalkan dirinya jatuh miskin! Bersetting pasca GFC (Global Financial Crisis) dan Bernie Madoff -- stockbroker Wallstreet yang ternama yang ternyata seorang penipu, heroine ciptaan Woody Allen kali ini harus berjuang menghadapi kenyataan pahit tersebut. Antara cita-2, upaya, dan ... delusion, Jasmine berusaha mempertahankan kehidupan sebelumnya yang sudah hancur tersebut sementara dia mondok gratis di rumah adiknya yang miskin -- dan sekaligus bersikap merendahkan terhadapnya :-)

Dengan peran psychotic seperti ini, Blanchett mempunyai kesempatan luas menampilkan berbagai “wajah”, baik fisik maupun mental, tetapi tetap mengundang simpati penonton. Dengan formula seperti ini, Allen sudah berkali-2 membawa aktresnya memenangkan Oscar untuk Aktres Terbaik -- so, watch out for Blanchett's top-notch performance! (sama sekali tidak kalah dengan Vivien Leigh dalam A Streetcar Named Desire). Walaupun berinspirasi dari film/novel tersebut, script dari Allen menampilkan originalitas dari segi setting, plot, dan dialog.

Dengan arahan, script, dan casting yang sangat baik, Blue Jasmine dengan mudah melanjutkan kesuksesan Allen setelah Midnight in Paris (2011).

Dengan jumlah nominasi Film Terbaik yang mencapai 9-10 film, Blue Jasmine besar kemungkinan akan meramaikan nominasi Film Terbaik. Woody Allen, untuk arahannya, dapat membuat kejutan masuk nominasi Sutradara Terbaik; tetapi untuk scriptnya, besar kemungkinan akan menerima nominasi Script Original Terbaik. Cate Blanchett dijagokan meramaikan nominasi Aktres Terbaik -- mempertimbangkan calon-2 nominee yang lain, Blanchett bahkan dijagokan memenangkan kategori ini. Anggota cast yang lain: Alec Baldwin, Bobby Cannavale, Andrew Dice Clay dapat membuat kejutan masuk nominasi Aktor Pendukung Terbaik; dan Sally Hawkins, Aktres Pendukung Terbaik. Last but not least, kostum-2 stylish/elegant yang dikenakan Blanchett, ciptaan costume designer Suzy Benzinger, dapat meramaikan nominasi Desain Kostum Terbaik.

Prediksi Nominasi Oscar 2014:
  • Film Terbaik
  • Script Original Terbaik (Woody Allen)
  • Aktres Terbaik (Cate Blanchett)
  • Desain Kostum Terbaik (Suzy Benzinger)

Blue Jasmine dapat anda temukan di eBay.com

Saturday, 23 November 2013

Duel, Jaws, Raiders of the Lost Ark

Triple Spielberg's!

The Irony of Academy Awards.


Melihat perjalanan karier Steven Spielberg penulis tiba-2 menemukan betapa nyarisnya Spielberg mengalami nasib yang sama seperti Alfred Hitchcock -- tidak pernah memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik -- seandainya dia tidak “ganti haluan”. Sebelum dia memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik untuk pertama kalinya, hampir semua film-2nya adalah thriller adventure/sci-fi adventure: Jaws (1975), Close Encounters of the Third Kind (1977), Raiders of the Lost Ark (1981), E.T. The Extra-Terrestrial (1982), Indiana Jones and the Temple of Doom (1984), Indiana Jones and the Last Crusade (1989), dan Jurassic Park (1993). Dari film-2 ini Jaws, Raiders of the Lost Ark, dan E.T. menerima nominasi Film Terbaik; dan Spielberg menerima nominasi Sutradara Terbaik untuk Close Encounters of the Third Kind, Raiders of the Lost Ark, dan E.T. Tetapi semuanya hanya nominasi saja, gagal memenangkannya -- nasibnya mirip seperti film-2 Hitchcock: instant classic, menerima banyak nominasi, tetapi semuanya gagal memenangkannya.

Memulai kariernya sebagai sutradara film-2 pendek dan televisi, Spielberg memperoleh “big break”-nya ketika dia mengarahkan film televisi dengan anggaran hanya $450,000 saja,

1) Duel (1971).

Dalam soal kreativitas, kita sering tercengang bagaimana seorang artis justru menghasilkan kreativitas terbaiknya ketika dirinya sedang dalam keadaan kepepet. Dengan anggaran cuma $450,000, Spielberg hanya mampu meng-cast satu aktor untuk pemeran utama -- inipun hanya aktor televisi saja, satu sedan tua, dan satu truk tanker tua. Setting produksinya juga murah: jalan berdebu di padang gurun California. Costume designer dan make-up artist, hampir tidak diperlukan sama sekali -- pemeran utama tidak perlu didandani keringatan dan berdebu, dengan setting yang ada dia sudah ‘mblegadus’ sendiri :-) Dengan anggaran minim ini, Spielberg justru memiliki kebebasan menampilkan kemampuannya menyusun tension dan suspense dari perjalanan antar kota yang mula-2 nampak biasa-2 saja menjadi road rage (perseteruan jalan raya) yang mencekam yang membuat penonton duduk di pinggir kursinya!

Pertama kali nonton film ini di televisi, tengah malam -- sekitar pukul 11.30 malam, yang semestinya hanya beberapa menit saja di depan TV sebelum pergi tidur, penulis akhirnya baru beranjak dari tempat duduk sekitar pukul 1 pagi :-) Baru di akhir film, ketika kredit film ditampilkan, penulis menemukan bahwa sutradaranya adalah Steven Spielberg -- oooooh, makanya :-) Selidik punya selidik, saking populernya film televisi ini, film ini akhirnya dikeluarkan/diputar di gedung-2 bioskop, dengan suntingan film diperpanjang menjadi 90 menit. Ada berapa banyak film televisi yang diputar di gedung-2 bioskop? Sama sekali tidak banyak (tidak ada). This is classic!

Kalau dengan anggaran kecil Spielberg mampu menghasilkan film sehebat ini, bayangkan dengan anggaran besar?!  Benar sekali, dengan anggaran besar (20 kalinya) dia menghasilkan:

2) Jaws (1975).

Tidak banyak sutradara yang mampu menyamai Hitchcock ketika dia menghasilkan Psycho (1960). But, this is it! Bernasib sama seperti Psycho dalam Academy Awards, Jaws masuk nominasi Film Terbaik bersama dengan One Flew Over the Cuckoo's Nest, Stanley Kubrick's Barry Lyndon, Dog Day Afternoon, dan Robert Altman's Nashville; tetapi Spielberg sendiri ‘kecolongan’ menjadi satu-2nya sutradara dari film-2 yang masuk nominasi Film Terbaik yang tidak menerima nominasi Sutradara Terbaik -- Psycho terbalik, filmnya tidak masuk nominasi Film Terbaik, tetapi Hitchcock menerima Sutradara Terbaik. Tahun 1976 adalah tahun Oscar yang berat. Kita menyadari betapa sulitnya film thriller adventure tentang ikan hiu pemangsa manusia bisa mengalahkan film dengan “tema besar”, “tema penting” seperti One Flew Over the Cuckoo's Nest. Tetapi paling tidak John Williams berhasil mengantongi Musical Sore Terbaik untuk dua not bass legendarisnya:

E, F ... ... E, F ... ... E, F, E, F, E, F, ...

-- komposer Bernard Herrmann bahkan ‘kecolongan’ terus sepanjang kariernya bersama Hitchcock; tidak ada satupun musical scorenya dari film-2 Hitchcock yang menerima nominasi Musical Score Terbaik: Vertigo (1958), North by Northwest (1959), Psycho (1960) ... padahal semuanya klasik. Oh, how disgraceful :-(

Usaha Spielberg mencari nominasi ganda, Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, berjalan terus sampai akhirnya dia menghasilkan:

3) Raiders of the Lost Ark (1981)

Selama ini belum pernah ada seorang ahli purbakala menjadi hero dalam film thriller adventure. But, once again, this is it! Tahukah anda bahwa produser George Lucas mula-2 memilih Tom Selleck untuk memainkan Indiana Jones, tetapi dia menolak karena dia sedang sibuk dengan serial TV-nya, Magnum, P.I.? Spielberg kemudian memaksa Lucas untuk memilih Harrison Ford ... and the rest is history! Magnum, P.I. over Indiana Jones? Tom Selleck pasti nyesel banget atas keputusan bodoh tersebut :-)

Raiders of the Lost Ark berhasil memperoleh nominasi ganda: Film Terbaik -- bersama dengan Chariots of Fire, Atlantic City, On Golden Pond, dan Warren Beatty's Reds; dan Sutradara Terbaik -- bersama dengan sutradara-2 dari film-2 tersebut. Alangkah indahnya seandainya anggota Academy memilih film yang tidak membosankan sebagai Film Terbaik? Tetapi lagi-2 anggota Academy memilih film dengan “tema besar”, “tema penting” Chariots of Fire sebagai Film Terbaik. Spielberg juga “terlewati” untuk memberi jalan pada Warren Beatty.

Tahun berikutnya Spielberg berhasil lagi memperoleh nominasi ganda, Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, untuk filmnya E.T. The Extra-Terrestrial. Tetapi tahun 1983 adalah tahun Oscar yang berat -- bagaimana mungkin film thriller adventure tentang extra-terrestrial bisa mengalahkan film dengan “tema besar”, “tema penting” Gandhi? Lagi-2 Spielberg gagal memenangkan penghargaan tertinggi.

Sampai akhirnya pada tahun 1987 Spielberg menerima penghargaan dari Academy yang dinamakan Irving G. Thalberg Memorial Award, penghargaan yang sama yang diterima Hitchcock di akhir kariernya pada tahun 1968. Seakan-2 melihat premonition -- dirinya bernasib sama seperti Hitchcock, pada tahun 1993 Spielberg memutuskan “ganti haluan” dan menghasilkan Schindler's List -- film dengan “tema besar”, “tema penting”, seperti yang diinginkan anggota Academy. Tetapi sejak itu Spielberg kehilangan mojo/magic power-nya dalam film-2 thriller adventure-nya.

Sebagai fans anda lebih suka Spielberg sebagai pemenang Oscar atau Spielberg sebagai Master of Thriller Adventure?

Duel, Jaws, Raiders of the Lost Ark dapat anda temukan di eBay.com

Saturday, 16 November 2013

Gravity

2014 Oscar Watch

Gravity (8.0/10)



Sutradara: Alfonso Cuarón
Script: Alfonso Cuarón, Jonás Cuarón
Cast: Sandra Bullock, George Clooney, Ed Harris

Meskipun merupakan “crowd pleaser”, Gravity mempunyai kualitas lebih sehingga berhasil juga menyenangkan para film critic. Kualitas apa saja yang ada dalam film ini? Pertama-2, pengarahan yang cemerlang: penempatan kamera yang terasa melayang, mengikuti gerak para astronot yang melayang, menampilkan efek non-gravitasi yang sangat baik; sebaliknya, ketika plotnya mendekati gravitasi bumi, penempatan kamera dari sudut rendah menampilkan efek gravitasi yang mulai terasa -- sutradara menunjukkan efek gravitasi sepenuhnya dalam scene penutup yang berkesan. Kedua, script yang rapi dan ketat, -- tetapi karena plotnya memang sederhana, besar kemungkinan tidak akan masuk nominasi.

Kejutan ketiga, Gravity adalah film science -- bukan science fiction, tetapi science. Bukan karena science fiction kalah bagus dibandingkan science, tetapi karena sudah lama (jarang-2) kita mempunyai film science. Walaupun bertopik science, film ini mempunyai daya tarik baik untuk penonton yang memahami science (menarik menyaksikan Hukum Newton “in action” :-)), maupun penonton yang awam. Pada abad ke 17 yang silam, ilmuwan Sir Isaac Newton berdalih: Tanpa gravitasi, obyek akan diam terus atau bergerak terus dengan kecepatan yang konstan, kecuali kalau terkena gaya eksternal. Letnan Matt Kowalski (George Clooney) dapat bergerak ke sana ke mari karena dia mempunyai jetpack di punggungnya. Sedang medical engineer, Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock), terpelanting gara-2 tertabrak sampah antariksa, dan dirinya meluncur terus, terus, dan terus ..., dan hanya berhenti ketika Kowalski dengan jetpack-nya berhasil menangkapnya. Tetapi ketika semua bahan bakar akhirnya habis, keduanya mesti bergantung (untuk Kowalski, “menyerah”) ke Hukum Newton lagi. Satu-2nya gaya eksternal yang ada adalah gravitasi! Bagaimana Dr. Ryan Stone menggunakan gravitasi untuk membawa pulang dirinya ke planet bumi? Saking tegangnya, kita lupa bahwa kita melihat hanya satu aktor saja di separuh film ini (sedemikian kuatnya kharisma Bullock).

Dengan jumlah nominasi Film Terbaik yang mencapai 9-10 film, Gravity besar kemungkinan akan meramaikan nominasi Film Terbaik. Demikian juga dengan nominasi Sutradara Terbaik (anggota Academy Awards menyukai first-timer) dan nominasi Aktres Terbaik (ever increasing popularity of Sandra Bullock :-)). Tetapi pada saat voting betulan, Gravity besar kemungkinan tidak akan memenangkan tiga kategori utama tersebut, tetapi lebih besar kemungkinan memenangkan kategori-2 technical.

Bravo Gravity, bravo gravitasi, bravo Newton ...

Kapan lagi menyaksikan Hukum Newton “in action” dengan aktres secakep Sandra Bullock sebagai heroine?! :-)


Prediksi Nominasi Oscar 2014:
  • Film Terbaik
  • Sutradara Terbaik (Alfonso Cuarón)
  • Aktres Terbaik (Sandra Bullock)
  • Desain Produksi Terbaik
  • Kategori-2 technical yang lainnya (menyusul).




 Gravity dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 8 November 2013

The Deer Hunter, Apocalypse Now, Platoon, Full Metal Jacket

Quadruple Vietnam Wars!


Empat film berikut ini selain terbaik di genre-nya juga mewakili hampir semua dampak negatif yang timbul akibat peperangan. Impact-nya semakin membekas kalau film-2 ini kita sandingkan dan kita kontraskan dengan apa yang ada dalam Konvensi Jenewa (konvensi yang mengatur perang). Membuat kita sadar betapa ironisnya, betapa mustahil dan sia-2nya, usaha untuk mendefinisikan aturan perang tersebut. Perang pada dasarnya terjadi karena segala upaya yang beraturan tidak berhasil menyelesaikan konflik -- kok sekarang malah perangnya sendiri yang ingin dibuat beraturan, mana mungkin?! :-)

Satirically, empat film perang berikut ini dengan sangat mengena menyampaikan pesan anti-perangnya.

1) The Deer Hunter (1978)

Film arahan sutradara tak ternama, Michael Cimino, ini tidak tergesa-2 masuk ke dalam scene action, tetapi lebih menitikberatkan pada bagaimana perang secara total mengubah (baca, merusak/menghancurkan) kehidupan empat sekawan: Mike (Robert De Niro), Nick (Christopher Walken), Steven (John Savage), dan Stan (John Cazale), yang tinggal di sebuah kota kecil di selatan kota Pittsburgh, AS. Hampir separuh film bersetting di kota tempat tinggal mereka -- menceritakan kehidupan rutin dan kegiatan sehari-2 mereka sebagai pekerja pabrik baja: pulang kerja, pergi ke pub/bar untuk minum, melepas lelah, dan  bersosialisasi, menghadiri pesta perkawinan kerabat, dan pergi berburu rusa; penulis script memberi banyak waktu untuk menampilkan masing-2 karakter, kekuatan dan kelemahannya.

Setengah jalan, film tiba-2 berubah arah, meloncat masuk ke dalam scene action -- perang di belantara Vietnam, menimbulkan kontras yang drastis, kesan yang mengena betapa “misplaced” (salah tempat)-nya empat sekawan dari kota yang tenang dan damai di AS tersebut di belantara Vietnam yang “anything but” -- bahaya mengancam di mana-2 dan kematian mengintai di segala waktu. Dari empat sekawan tersebut, ada yang survive, ada yang tewas, ada yang kuat mental, ada yang trauma, ... atau apapun di antaranya.

Arahan Cimino dengan efek slow-burning ini meninggalkan kesan yang mendalam di akhir film. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik (Walken -- siapa yang tidak ingat scene Russian roulette Walken?!); dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Terbaik (De Niro), Aktres Pendukung Terbaik (Meryl Streep -- film pertama Streep dengan peran penting), dan Script Original Terbaik.

2) Apocalypse Now (1979)

Jangan mengira hanya prajurit wajib militer saja yang bisa “edan” gara-2 perang (seperti dalam The Deer Hunter), prajurit profesional-pun tidak luput dari dampak negatif tersebut. Film arahan Francis Ford Coppola ini adalah film anti-perang yang dengan berani menampilkan horor perang: perang menciptakan “monster”!

Kolonel baret hijau, Walter Kurtz (Marlon Brando), adalah prajurit teladan yang memperoleh banyak penghargaan atas prestasinya di perang Vietnam. Suatu saat dia menghilang/desersi (melepaskan diri dari komando atasannya) dan melaksanakan misinya sendiri, bersama prajurit-2 yang lain yang juga desersi, membasmi Viet Cong (dan sekaligus yang lainnya!). Komando atasannya memutuskan bahwa Kurtz sudah menjadi gila dan harus dihentikan. Kapten Benjamin Willard (Martin Sheen), belum sembuh dari trauma perangnya, ditunjuk untuk melacak Kurtz dan membasminya. Pesan komando atasannya jelas dan gamblang: “Terminate with extreme prejudice!

Horor perang yang ditampilkan dalam film ini, yang pada saat pertama kali dikeluarkan terkesan fiktif, dengan berjalannya waktu ternyata sama sekali tidak fiktif -- faktanya, AS sampai sekarang masih sibuk melacak dan membasmi “monster”-2 perang yang notabene hasil ciptaannya sendiri. Pesan moral dengan universal truth ini dengan meyakinkan memasukkan Apocalypse Now dalam jajaran klasik.

Mungkin karena setahun sebelumnya Academy Awards sudah menghadiahkan Film Terbaik ke film dengan tema yang sama, film ini hanya berhasil menerima nominasi Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Script Adaptasi Terbaik.

3) Platoon (1986)

Orang-2 muda yang naif, yang belum pernah pergi (atau mengalami) perang, sering mempunyai imajinasi patriotisme yang muluk tentang perang -- mungkin seraya membayangkan pepatah masyhur: “Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country.” Inilah imajinasi keliru mahasiswa drop-out, Chris Taylor (Charlie Sheen, anaknya Martin Sheen), dalam film arahan Oliver Stone ini. Idealisme (baca, kenaifan) Chris segera menemui “batu”-nya di medan pertempuran di Vietnam -- apa yang dia lihat sama sekali tidak cocok dengan apa yang ada di dalam peraturan ... let alone Geneva Conventions. Sementara dia berjuang untuk survive, dia akhirnya menyadari bahwa dia menghadapi tidak hanya perang melawan Viet Cong, tetapi juga perang melawan rekan-2 prajurit sepeletonnya sendiri.

Sama seperti Coppola, Stone juga dengan berani menampilkan horor perang. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik; dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik (Tom Berenger dan Willem Dafoe), dan Script Original Terbaik.

4) Full Metal Jacket (1987)

Kalau Coppola menampilkan “monster” perang, film arahan Stanley Kubrick ini menampilkan bagaimana “monster” perang tersebut diciptakan. Bagian pertama film ini betul-2 monumental: menampilkan bagaimana rekrut baru yang naif dan hijau, digojlok -- bastardised and to a certain extent ... brainwashed! (arahan Kubrick di sini betul-2 memukau), untuk dipersiapkan terjun ke medan pertempuran di Vietnam. Setelah bagian pertama yang berat -- bikin hati penonton miris dan jantung deg-2an, bagian kedua (scene action-nya) menjadi terasa ringan :-) Ternyata Kubrick tidak hanya mempersiapkan karakter-2 dalam film ini saja sebelum mereka terjun ke medan pertempuran, Kubrick juga mempersiapkan penonton sebelum kita melihat scene action-nya. Tidakkah ini adalah arahan yang pandai?!

Sama seperti film-2 Kubrick yang lain, anggota Academy Awards membutuhkan waktu yang lama untuk mengapresiasi karya Kubrick ini. Film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik.

The Deer Hunter,  Apocalypse Now, Platoon, Full Metal Jacket dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 21 October 2013

His Girl Friday, Adam's Rib, Dirty Rotten Scoundrels, The War of the Roses

Quadruple The Battle of the Sexes!


Elemen paling penting dalam sebuah film adalah konflik. Dan tidak ada konflik yang lebih natural daripada konflik antara pria dan wanita -- sebelum Dr. John Gray menulis buku larisnya yang berjudul “Men Are from Mars, Women Are from Venus,” penulis lagu George Gershwin dan Ira Gershwin sudah menuangkan konflik tersebut dalam lirik lagunya yang kira-2 seperti ini:

You say either, I say eyether,
 you say neither, I say nyther;
 You like potayto, I like potahto,
 you like tomayto, I like tomahto;

membuat The Battle of the Sexes tema yang sering diangkat menjadi film. Campuran antara satire dan komedi, ditandai dengan script yang ketat dan dialog yang tajam, empat film berikut ini dijamin membangkitkan tawa, sekaligus self-criticism, kepada penonton.

1) His Girl Friday (1940)

Mengetahui bekas istrinya, Hildy Johnson (Rosalind Russell), akan menikah lagi dan meninggalkan kariernya sebagai reporter jagoan, Walter Burns (Cary Grant) -- yang masih mencintainya -- dengan segala cara berusaha menyabotase rencana tersebut dengan mengiming-2i dia untuk melakukan reportase terakhir tentang berita besar eksekusi Earl Williams (John Qualen).

Dengan dialog yang tajam, tetapi lucu, dan super cepat (subtitle sebaiknya di-“on”-kan!), His Girl Friday adalah screwball comedy dengan kecepatan tinggi. Karakter-2nya nampak karikaturis, namun demikian memang itulah yang diinginkan penulis cerita film ini. Di bawah arahan Howard Hawk, seluruh cast menyadari hal tersebut dan menampilkan akting yang hard, brittle, strained to the breaking point, bahkan lebih dari titik zenith tersebut -- mereka seakan-2 menunggu kamera berhenti merekam sehingga mereka bisa jatuh pingsan ke lantai karena kecapekan.

Film klasik yang tetap “menggigit” walaupun sudah lebih dari 70 tahun sejak release perdananya.

2) Adam's Rib (1949)

Seorang istri membuntuti suaminya dan menemukan dia menyeleweng dengan wanita lain. Dalam keadaan emosional sang istri menembakkan pistolnya ke arah mereka -- salah satu dari pelurunya mengenai bahu suaminya. Sang istri ditangkap dan dijatuhi tuduhan usaha pembunuhan. Adam Bonner (Spencer Tracy), asisten jaksa wilayah, memperoleh tugas menjadi jaksa penuntut dalam kasus tersebut. Mendengar suaminya menjadi jaksa penuntut, Amanda Bonner (Katharine Hepburn), seorang advokat, yang bersimpati pada sang istri, mendatangi sang istri dan menawarkan jasanya sebagai pembela. Dimulai dari ruang pengadilan, perseteruan antara Adam dan “rusuknya” ini  merembet masuk ke dalam rumah tangga mereka. Di jaman dimana keseteraan hak dan tanggung-jawab antara pria dan wanita masih belum lazim, sementara Adam bersikap prosedural dan “textbookish”, Amanda menggunakan metode unconventional untuk membangkitkan simpati juri (semuanya pria) dengan mengajak mereka membayangkan seandainya situasinya terbalik.

Dengan judul yang catchy dan bermakna ganda ini, sebagian penonton mungkin menemukan plot ini rada irritating, terutama karena berhubungan dengan tema women's lib -- ketika film keluar pada tahun 1949, tema ini terasa berlebihan; sekarang, terasa ketinggalan jaman. Tetapi faktanya, peristiwa seperti dalam plot ini memang terjadi pada jamannya, dan untuk sebagian tempat di dunia masih terjadi sampai sekarang.

Dikenang sebagai salah satu dari  film-2 Tracy-Hepburn yang paling memorable, script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Terbaik.

3) Dirty Rotten Scoundrels (1988)

Empat dasawarsa kemudian jaman berubah, emansipasi menjadi norma standard dalam masyarakat modern. Namun demikian, sebagian prejudice -- terutama reverse-prejudice -- terhadap masing-2 gender masih bertahan. Didukung pemilihan casting yang tepat, pada titik lemah inilah penulis cerita film ini berhasil dengan cerdik memperdaya penonton.

Penipu kelas kakap, Lawrence Jamieson (Michael Caine), melakukan operasinya di pantai wisata “Beaumont-sur-Mer” di French Riviera. Namun demikian, Lawrence mempunyai etika yang tinggi: dia tidak pernah menipu wanita baik-2; mangsanya hanya wanita yang kaya-raya, manja, dan korup -- misalnya, IMHO, wanita seperti Paris Hilton :-) Karena dia adalah pria yang berbudaya, metode penipuannya halus dan sopan. Caine memainkan perannya dengan smooth dan meyakinkan -- membuat penonton langsung bersimpati dengannya :-) Suatu hari, datang penipu kelas teri/kampungan, Freddy Benson (Steve Martin), ke tempat yang sama untuk mencari mangsa. Walaupun kelasnya berbeda, Lawrence merasa terancam dengan kehadiran Freddy. Tidak berhasil mengusir Freddy, mereka akhirnya mengadakan kontes untuk menentukan siapa yang boleh tinggal di tempat tersebut. Kontesnya adalah mengeruk $50,000 dari Janet Colgate (Glenne Headly), yang konon menurut bellboy hotel adalah pewaris perusahaan multi-nasional sabun dan pasta gigi Colgate di AS. Siapa yang duluan mengeruk $50,000, dia yang menang -- yang kalah harus pergi dari tempat tersebut. And the contest begins.

Dipenuhi dengan situation comedy dengan timing yang pas dan slapstick comedy, Caine dan Martin menampilkan chemistry yang luar biasa dinamisnya sebagai duet -- membuat penonton terpusat perhatiannya kepada mereka, sampai-2 tidak terpikir yang lainnya :-) Kocak dari awal sampai akhir, Michael Caine menerima nominasi Golden Globe untuk Aktor Terbaik - Comedy/Musical (dikalahkan oleh Tom Hanks dalam Big (1988) -- tahun yang bagus untuk film-2 drama komedi).

4) The War of the Roses (1989)

Termasuk salah satu dari screen couples yang paling memorable, Danny DeVito mengemban tanggung-jawab yang besar sebagai sutradara film ini, mempertemukan kembali untuk ketiga dan terakhir kalinya Michael Douglas dan Kathleen Turner, setelah sukses besar mereka dalam Romancing the Stone (1984) dan The Jewel of the Nile (1985). Chemistry positif/cinta antara mereka berdua dalam dua film tersebut tertransformasi dengan sangat baik menjadi chemistry negatif/benci dalam black comedy tentang perceraian ini -- membuat penonton langsung percaya dengan situasi mereka.

Oliver Rose (Douglas) dan Barbara Rose (Turner) adalah pasangan suami-istri dengan dua anak. Awalnya perkawinan mereka nampak perfect, dengan Oliver bekerja sebagai pengacara dan Barbara tinggal di rumah mengurus rumah tangga. Dengan berjalannya waktu, Oliver semakin menanjak kariernya, sedang Barbara semakin restless (tidak puas) dan mulai menyimpan resentment, bitterness (tidak suka) terhadap Oliver. Suatu hari ketika Oliver terkena serangan jantung, Barbara mula-2 terkejut dan concern, tetapi kemudian merasa relief (lega) terhadap kemungkinan Oliver jatuh mati! :-) Tetapi karena Oliver tidak jadi mati, Barbara akhirnya minta cerai, dan Oliver setuju. Perseteruan merebak ketika Barbara menuntut pembagian harta yang Oliver tidak bersedia memberikannya. Dan perseteruan meningkat terus, terus, dan terus, dan tetap tidak ada yang mau mengalah ... sampai titik darah penghabisan. Akhir yang memorable dari duet Douglas-Turner.

Filmya menerima nominasi Golden Globe untuk Film Terbaik - Comedy/Musical; Michael Douglas dan Kathleen Turner masing-2 menerima nominasi Golden Globe untuk Aktor dan Aktres Terbaik - Comedy/Musical.

His Girl Friday, Adam's Rib, Dirty Rotten Scoundrels, The War of the Roses dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 11 October 2013

The Best Man, Primary Colors, Election

Triple Presidential Elections!


Pemilihan presiden sering diangkat menjadi tema dalam film, terutama pemilihan presiden AS. By now, walaupun hampir semua orang mengetahui bahwa proses pemilihan tersebut berada jauh dari sempurna, dengan script yang baik dan akting yang meyakinkan filmnya masih akan mampu membuat penonton tersenyum getir menyaksikan segala ketidak-etisan yang terjadi. The Ides of March (2011) hampir penulis masukkan dalam trio film berikut ini, karena temanya mirip dengan dua film sebelumnya, tetapi penulis tiba-2 teringat dengan film kecil “cabe rawit” tentang pemilihan “presiden” yang lain -- sama sekali tidak kalah pentingnya dan tidak kalah intensitasnya, yaitu pemilihan ketua OSIS di SMA! :-)

1) The Best Man (1964)

Adaptasi dari teater dengan judul yang sama karya Gore Vidal, dibintangi oleh Henry Fonda dan Cliff Robertson, The Best Man adalah satire politik tentang pemilihan primary -- pemilihan kandidat sebuah partai politik, sebelum pemilihan umum. Fonda memerankan William Russell, konon mewakili figur intelektual Adlai Stevenson; dan Robertson memerankan Joe Cantwell, konon mewakili figur populis John F. Kennedy. Masing-2 saling berseberangan dan berambisi mewakili partainya menuju pemilihan umum. Masing-2 saling berebut dukungan dari senior partai, Lee Tracy, yang memerankan bekas presiden AS, Art Hockstader, konon mewakili figur pragmatis bekas presiden AS, Harry Truman. Hockstader menyukai Russell, tetapi khawatir dengan prinsip idealismenya; sebaliknya tidak menyukai Cantwell, tetapi kagum dengan ketegaran dan kesediaannya melakukan apa saja untuk mencapai tujuan. Sementara persaingan sengit semakin memuncak, serangan “ad hominem” (“to the person”) di antara mereka mulai merebak -- skandal pribadi dari masa lalu digali, ditemukan, bahkan kalau perlu dilebih-2kan, dan digunakan untuk menghancurkan kredibilitas kandidat. Dengan situasi hancur-2an tersebut, bagaimana pemilih, dhi. pemilih dalam partai tersebut, mesti memilih siapa yang bakal menjadi kandidat dari partai?

Didukung pengarahan dari Franklin J. Schaffner yang no non-sense, karya-2 selanjutnya termasuk Planet of the Apes (1968), Patton (1970), dan Papillon (1973), Henry Fonda, Cliff Robertson, dan Lee Tracy masing-2 memberikan akting yang luar biasa -- yang menonton saja merasakan betapa capeknya kampanye seperti itu, apalagi yang nglakoni :-) Lee Tracy menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik.

2) Primary Colors (1998)

Tiga dasawarsa selanjutnya taktik kampanye ternyata tidak berubah sama sekali, bahkan lebih sengit! Adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya jurnalis Joe Klein, dibintangi oleh all-star cast John Travolta, Emma Thompson, Billy Bob Thornton, Kathy Bates, dan Larry Hagman, Primary Colors adalah satire politik tentang (konon) pemilihan primary partai Demokrat pada tahun 1992 -- saat itu Joe Klein mengikuti kampanye primary Bill Clinton untuk majalah Newsweek. Cerita disampaikan dari kacamata sang jurnalis, yang diwakili oleh karakter Henry Burton (Adrian Lester), seorang political idealist yang muda, pandai, dan berkulit hitam, yang direkrut menjadi manajer kampanye -- hmmm, siapa yang nyangka satu dasawarsa kemudian seorang political idealist yang muda, pandai, dan berkulit hitam berhasil menjadi presiden AS. Seluruh film menjadi eye-opening experience bagi Burton yang masuk “hijau” di awal film dan keluar “abu-2” di akhir film :-) Betapa mudahnya kita terkecoh dengan so called “kharisma” seorang politikus. Betapa naifnya kita menganggap bahwa apa yang terlihat di luar sama dengan apa yang betul-2 ada di dalam. Betapa lugunya kita sebagai masyarakat awam, tidak menyadari betapa mujarabnya strategi seorang “spin doctor” :-)

Didukung script yang rapi, tajam, dan menampilkan realitas dengan dosis yang pas, dan pengarahan dari Mike Nichols yang simpatik -- karya-2 sebelumnya termasuk Who's Afraid of Virginia Woolf? (1966), The Graduate (1967), Catch-22 (1970), Silkwood (1983), dan Working Girl (1988), seluruh cast berhasil tampil endearing, dicintai penonton -- Travolta yang konon mewakili Clinton: tidak peduli apapun kekurangannya, orang tetap cinta padanya; Thompson yang konon mewakili Hillary: keras, ambisius, nevertheless partner yang sepadan dengan suaminya; Thornton sebagai political strategist yang ganas tetapi diperlukan; dan Bates sebagai “bumper” yang nampak tegar tetapi akhirnya mengalami breakdown. Script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik dan Kathy Bates menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik.

3) Election (1999)

Orang-2 ambisius di dunia politik tersebut banyak yang memulai perjalanan (atau petualangan)-nya dari sekolah atau univeritas. Dalam film ini, adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Tom Perrotta, dari sekolah. Jangan dikira karena settingnya di sekolah kemudian intensitasnya berkurang :-) Untuk anak sekolah, pemilihan ketua OSIS adalah ajang berpolitik yang prestisius. Film dengan setting SMA dan mayoritas cast remaja ini betul-2 kejutan -- dan kejutan yang positif! Tetapi setelah melihat siapa yang menulis dan mengarahkan film ini, kita menjadi tidak heran lagi: Alexander Payne -- karya-2 selanjutnya termasuk About Schmidt (2002), Sideways (2009), dan The Descendants (2011).

Dengan gaya komedi fatalistic-nya, Payne menampilkan seorang guru Civic yang idealist, Jim McAllister (Matthew Broderick), yang berusaha mendidik siswanya menjadi pelaku demokrasi yang bertanggung-jawab. Di antara semua siswa yang indifferent (EGP ... nggak care lah :-)), ada satu yang sangat care :-), bahkan ambisius menjadi pemimpin, namanya Tracy Flick (Reese Witherspoon). Sementara Flick sibuk mempersiapkan diri untuk pemilihan ketua OSIS, McAllister terlibat dalam urusan pribadi yang akhirnya mempengaruhi judgement-nya sebagai guru. Dengan script yang rapi dan tajam, dan dibumbui dengan komedi fatalistic, semua sub-plot yang ada terjalin koheren menuju akhir yang bittersweet.

Lulus dari film-2 remaja sebelumnya, Witherspoon -- saat itu berusia 23 tahun -- dengan meyakinkan menampilkan versatilitas aktingnya; tidak mengherankan enam tahum kemudian dia berhasil menggondol Oscar untuk Aktres Terbaik dalam Walk the Line (2006). Script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik.

The Best Man, Primary Colors, Election dapat anda temukan di eBay.com

Saturday, 28 September 2013

Grease, Walk the Line, Les Misérables

Triple Actors Turned Into Singers!


Kalau penyanyi tampil sebagai aktor jumlahnya lumayan banyak, sebaliknya sama sekali tidak banyak. Dari jumlah yang tidak banyak tersebut, sebagian besar tampil dengan resiko diketawain -- seperti dalam “The X Factor” -- misalnya, Jim Carrey dalam the Cable Guy (1996) atau Gwyneth Paltrow dalam Duets (2000), bikin penonton feel embarrassed melihatnya :-), dan hanya sebagian kecil tampil serius. Dari sebagian kecil yang tampil serius ini, mereka jatuh dalam dua kategori, yaitu: pertama, mereka yang suaranya di-dubbing, artinya mereka hanya akting menyanyi saja, a.l. Deborah Kerr dalam The King and I (1956), Audrey Hepburn dalam My Fair Lady (1964), atau Jamie Foxx dalam Ray (2004); kedua, mereka yang betulan menyanyi. Penulis kali ini memilih empat aktor yang tampil serius menyanyi dan memang betulan menyanyi. Dengan demikian, semua aktor yang asal-usulnya dari theatre musicals tidak penulis tampilkan, misalnya Gene Kelly atau Judy Garland dan anak perempuannya, Liza Minnelli.

1) Grease (1978)

John Travolta.

Adaptasi dari theatre musical dengan judul yang sama, walaupun ceritanya tipis (setipis romantika SMA :-)) dan tidak memenangkan satupun piala Oscar, Grease berada di posisi aman dalam daftar film klasik. Ada tiga faktor yang membuat Grease tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan: Pertama, chemistry antara John Travolta dan Olivia Newton-John terbukti everlasting, eternal, forever. Ditonton pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, oleh generasi yang lahir pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, chemistry di antara mereka tetap fully-charged! Dalam kenyataan, walaupun mereka terpisah 15000 km antara Amerika dan Australia, setiap kali Travolta datang ke Australia, pertemuan mereka selalu membangkitkan kembali popularitas Grease. Demikian juga sebaliknya. Mereka betul-2 pasangan on-screen yang sempurna -- till death they do part. Kedua, lagu-2nya juga terbukti forever. Didengarkan pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, oleh generasi yang lahir pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, lagu-2nya tetap terdengar in, fashionable. Ketiga, ada sesuatu yang “ndak bener” dengan Rydell High School; apa ya??? ... oh, para muridnya semuanya sudah ketuaan :-) -- Danny (John Travolta) berusia 24 tahun, Sandy (Olivia Newton-John) 30 tahun, Betty (Stockard Channing) 34 tahun, dan Kenickie (Jeff Conaway) 28 tahun. No wonder they were so good! Mana mungkin anak SMA betulan bisa sebagus itu? :-) Hahaha. Walaupun bersetting romantika SMA, Grease sesungguhnya adalah film nostalgia (atau imajinasi/mimpi yang ndak kesampean) penonton dewasa tentang masa lalu mereka di SMA.

Forever ... klasik.

2) Walk the Line (2005)

Joaquin Phoenix.
Reese Witherspoon.

Sayang sekali biopic penyanyi country Johnny Cash ini tidak menerima lebih banyak nominasi/piala dalam Oscar 2006. Penampilan Reese Witherspoon sebagai istri Cash, June Carter, betul-2 meruntuhkan typecast-nya sebagai Elle Woods dalam Legally Blonde (2001). Sejak penampilannya dalam film ini, Witherspoon bukan lagi aktres manis yang berambut pirang, tetapi aktres! Titik. A really good one. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia tidak hanya akting, tetapi menyanyi juga, dan tidak di-dubbing. Piala Oscar Aktres Terbaik yang sangat pantas untuk Witherspoon. Sayangnya, Joaquin Phoenix tidak mengalami nasib yang sama seperti rekannya ini. Saatnya sesungguhnya tepat untuk Phoenix untuk memenangkan Oscar Aktor Terbaik untuk perannya sebagai Johnny Cash ini -- menarik simpati dan dicintai banyak orang. Juga siapa yang nyangka Phoenix menyanyi betulan, lagu-2 legendaris Johnny Cash, sama sekali tidak di-dubbing. Keduanya tampil menyakinkan dan menghanyutkan.

3) Les Misérables (2012)

Anne Hathaway.

Setelah membaca bukunya, adaptasi dari theatre musical dengan judul yang sama ini ternyata lumayan patuh dengan bukunya. Bravo. Menonton pertama kali di gedung bioskop (tidak pernah nonton musical-nya), penulis kurang bisa mengapresiasi musiknya. Menonton kedua kalinya di DVD, dengan subtitle sengaja di-“on”-kan (agar dapat dengan lebih baik menangkap lirik dalam lagu-2nya), penulis terkejut -- bagaikan terjaga dari tidur lelap selama ini -- betapa indah dan betapa cocoknya lirik dalam lagu-2 tersebut menceritakan isi bukunya. Dan bukan pertama kali ini penulis keliru mengapresiasi gara-2 “tidur lelap”.

Yes, they are beautiful.

Selain Hugh Jackman dan sebagian cast yang berasal dari theatre musicals, cast Hollywood yang lain, termasuk Russell Crowe (!), dengan berani dan meyakinkan menyanyi betulan. Dan tidak hanya itu, menyanyinya tidak dilakukan di dalam studio kemudian ditambahkan ke dalam track film, tetapi direkam live bersamaan dengan shooting adegannya. Ini betul-2 menarik, karena menciptakan efek realism yang tajam. Di tengah pasukan theatre musicals yang berpengalaman, Anne Hathaway berhasil mencuri perhatian penonton, dan para film critic, dengan penampilannya sebagai Fantine dan lagunya “I Dreamed a Dream” yang heart-rending.


Grease, Walk the Line, Les Misérables dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 20 September 2013

Going My Way, From Here to Eternity, Moonstruck

Triple Singers Turned Into Actors!



Hampir semua penyanyi pernah tampil dalam film, mencoba menjadi aktor, tetapi tidak banyak yang berhasil. Akting ternyata tidak segampang yang kita bayangkan. 3 “Singers Turned Into Actors” berikut ini penulis pilih karena masing-2 pernah memenangkan Oscar untuk peran Non-Singing dan lebih dari 1 kali menerima nominasi Oscar juga untuk peran Non-Singing. Singkat kata, penyanyi dengan peran tidak menyanyi. Dengan demikian, Barbra Streisand tidak penulis tampilkan kali ini karena walaupun dia pernah memenangkan Oscar, perannya adalah peran menyanyi: Funny Girl (1968). Barbra Streisand bisa menyanyi dengan sangat baik dan meyakinkan? ... well, of course! :-)

1) Going My Way (1944)

Bing Crosby.

Film garapan Leo McCarey ini adalah film sederhana tentang orang-2 yang sederhana dalam setting cerita yang sederhana pula. Father O'Malley (Bing Crosby), seorang pastor muda, dikirim ke paroki St. Dominic’s di New York City untuk menjadi asisten dari Father Fitzgibbon (Barry Fitzgerald), pastor paroki yang sudah tua. Berbeda dari gaya pastor paroki yang kaku dan kolot, Father O'Malley lebih fleksibel dan terbuka terhadap perubahan. Tidak menyukai gaya Father O'Malley, Father Fitzgibbon melaporkan dirinya ke pemimpin gereja untuk mengeluarkannya dari parokinya. Tetapi pemimpin gereja memberitahu Father Fitzgibbon bahwa Father O'Malley dikirim ke parokinya bukan untuk menjadi asistennya, tetapi untuk menggantikannya. Father O'Malley menghadapi berbagai masalah paroki dengan pendekatan humanisme yang hangat dan bersahabat (karena memang itulah gayanya, “his way”, “going his way”): mulai dari umat yang kehilangan rumahnya, wanita muda yang melarikan diri dari rumah orangtuanya, gerombolan anak muda yang sering berurusan dengan polisi, bekas pacar O'Malley yang sekarang menjadi penyanyi opera ternama, dan sekarang ditambah dengan Father Fitzgibbon yang distressed dan melarikan diri dari parokinya :-) Mampukah O'Malley menyelesaikan misinya di St. Dominic’s? Script dengan rapi menjalin semua sub-plot yang ada menuju akhir yang bittersweet, just like life itself.

Film pemenang Film Terbaik Oscar 1945 ini adalah film sederhana yang indah dan mengesankan.

2) From Here to Eternity (1953)

Frank Sinatra.

Cerita saga tentang “trials and tribulations”, masalah dan ujian, dari tiga prajurit, Sergeant Milton Warden (Burt Lancaster), Private Robert E. Lee Prewitt (Montgomery Clift), dan Private Angelo Maggio (Frank Sinatra), menjelang serangan Jepang ke Pearl Harbour di Hawaii. Diingat penonton dengan scene klasik Burt Lancaster dan Deborah Kerr berciuman di pantai Oahu, Hawaii, sementara ombak lautan Pasifik menerpa mereka, cerita saga dari novel dengan judul yang sama karya James Jones ini mempunyai detil cerita dan karakterisasi yang sangat baik -- dan berkat script yang jeli detil tersebut tidak hilang dalam proses adaptasi. Didukung oleh akting yang mumpuni dari cast utamanya, Frank Sinatra dan Donna Reed berhasil mencuri perhatian para film critic dan masing-2 menggondol Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik.

Film pemenang Film Terbaik Oscar 1954, bertahan klasik sampai saat ini.

3) Moonstruck (1987)

Cher.

Despite kenyentrikan dirinya, Cher adalah aktres yang mumpuni. Empat tahun sebelumnya, dia tampil bersama Meryl Streep dalam Silkwood (1983) dan mampu mengimbangi akting Streep -- dia menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik. Dalam film ini, bersetting dalam keluarga imigran Itali di New York City, Cher sekali lagi membuktikan dirinya memang bisa akting.

Dibesarkan dalam tradisi Itali, Loretta Castorini (Cher) baru saja menjanda gara-2 suaminya mati ditabrak bis. Percaya bahwa nasib buruk tersebut terjadi gara-2 perkawinannya tidak direstui orangtuanya dan tidak dilakukan di gereja, kali ini setelah dia menemukan calon suami baru, Johnny, seorang imigran Itali juga, dia memastikan bahwa dia mematuhi semua tradisi Itali agar perkawinan tersebut lancar. Loretta sesungguhnya tidak cinta dengan Johnny, tetapi karena orangtuanya suka dengannya, Loretta bersedia kawin dengannya. Lebih komplet lagi, Johnny ternyata adalah pria yang juga mematuhi tradisi Itali. It seems like a perfect match! :-) Ketika Johnny pulang ke Sicilia untuk minta restu ibunya, Loretta bertemu dengan adik Johnny, Ronny (Nicolas Cage), yang sifat dan sikapnya kebalikan dari saudaranya. And they fell in love ... dan komplikasi timbul.

Cerita dengan setting keluarga Itali memberi nuansa baru dan menyegarkan, karena tidak seperti biasanya (keluarga Anglo), mereka tidak sungkan-2 ceplas-ceplos ngomong sesuatu yang termasuk “politically incorrect”. Hasilnya, dialog-2 yang tajam, tanpa tedeng aling-2, very funny! Melihat keluarga dalam film ini bagaikan berkaca melihat keluarga sendiri :-) Good or embarassing, it's my family. 15 tahun kemudian, Nia Vardalos, me-reprise cerita yang mirip dalam My Big Fat Greek Wedding (2002) -- kali ini bersetting dalam keluarga imigran Yunani.

Menerima nominasi Film Terbaik Oscar 1988, Cher dan Olympia Dukakis masing-2 menggondol Oscar untuk Aktres Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik. Sayang sekali Cher tidak tampil lebih banyak dalam film-2 drama.


Going My Way, From Here to Eternity, Moonstruck dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 12 September 2013

Cool Hand Luke, Papillon, Midnight Express

Triple Prison Breaks!


Ada jaman-2 dimana penjara identik dengan hukuman -- murni hukuman. Kemudian pada tanggal 10 Desember 1948 PBB menandatangani deklarasi yang disebut dengan The Universal Declaration of Human Rights (UDHR). Sejak itu penjara berubah fungsinya dari tempat hukuman menjadi tempat rehabilitasi. Tetapi perubahan ini tidak terjadi secara sekejap dan sepenuhnya: di beberapa tempat di dunia penjara masih berfungsi sebagai tempat hukuman, di beberapa tempat yang lain 50-50, di beberapa tempat yang lain lagi, misalnya di negara-2 Skandinavia, murni rehabilitasi -- ada televisi untuk hiburan, ada gym untuk olahraga, ada perpustakaan untuk belajar, ada klinik untuk berobat ... saking lengkapnya sampai orang yang tidak dipenjara pingin masuk penjara :-) I should move to Sweden :-) Tetapi kalau semua negara patuh terhadap UDHR, para filmmakers bakal kehilangan inspirasi untuk membuat film-2 dengan topik Prison Breaks -- bisa dibayangkan betapa uninteresting dan boring-nya cerita-2 penjara di negara-2 tersebut.

Cool Hand Luke (1967) dan Papillon (1973) bersetting di jaman sebelum UDHR; Midnight Express (1978) bersetting di negara yang saat itu mungkin belum sepenuhnya menerima UDHR.

1) Cool Hand Luke (1967)

Di masa lalu, kejahatan kecil menerima hukuman berat.

Setelah semalam suntuk menghabiskan waktunya di bar dan merusaki meteran-2 parkir di pinggir jalan, Luke Jackson (Paul Newman)ditangkap dan dihukum penjara dua tahun di “chain gang prison”* di Florida (* penjara dimana para napinya dirantai secara berentetan). Di dalam penjara Luke -- yang ternyata seorang hero/veteran PD-2 -- berhasil memperoleh respect dari teman-2 napinya. Kepala penjaranya, yang ternyata seorang sadistis (normal untuk ukuran jamannya), berusaha “mematahkan” Luke, jiwa dan raga -- apalagi Luke sering berusaha melarikan diri. Ketegaran Luke membuat dirinya diidolakan oleh teman-2 napinya, tetapi at the end apakah dia berhasil mengalahkan sistem yang memang didesain untuk “mematahkan” dirinya???

Film klasik yang menjadi signature dari Paul Newman.

2) Papillon (1973)

Lagi-2 di masa lalu, kejahatan kecil diganjar dengan hukuman berat.

Berdasarkan kisah nyata dari Henri Charrière dalam sistem penjara Perancis yang sadis, brutal, dan without mercy/tanpa ampun, sutradara Franklin J. Schaffner -- Planet of the Apes (1968) -- mempunyai keahlian menampilkan realitas buruk tanpa tedeng aling-2. Dan tidak hanya itu saja, ketika penonton mengira bahwa situasi sudah sangat buruk dan tidak mungkin menjadi lebih buruk lagi, Schaffner tanpa sungkan-2 menyodori penonton dengan situasi yang ternyata lebih buruk, dan lebih buruk lagi, dan lebih buruk lagi. Penonton tidak bisa lagi menebak sampai seburuk apa situasi bakalan menjadi. Ujian berat inilah yang harus dilalui oleh Henri Charrière (Steve McQueen) dan Louis Dega (Dustin Hoffman). At the end apakah mereka berhasil mengalahkan sistem yang memang didesain untuk “menghancurkan” mereka???

McQueen dan Hoffman secara fisik perlu diacungi jempol dengan diet ketatnya sehingga mereka tampil meyakinkan seperti napi yang betul-2 kurang makan. Secara akting, menjadi salah satu dari akting terbaik mereka. Klasik juga.

3) Midnight Express (1978)

Berdasarkan kisah nyata juga, tetapi bersetting di Turki. Mahasiswa Amerika, Billy Hayes (Brad Davis), bersama dengan kekasihnya berlibur di Turki. Mungkin karena harga cannabis di Turki murah, dia menyelundupkan 2 kg cannabis, strapped to his body, untuk dibawa pulang ke Amerika. Tetapi dia tertangkap di bandara dan dihukum penjara beberapa tahun, yang kemudian diubah dan diperpanjang menjadi 30 tahun! Berada di negara asing sendirian, tidak punya kerabat/keluarga untuk menjenguknya, harapan demi harapan pupus, dan penjara Turki yang mengerikan, sutradara Alan Parker dengan berhasil menampilkan bagaimana situasi ini sedikit demi sedikit menggerogoti jiwa dan raga Billy -- mendorongnya sampai ke batas antara waras dan gila. Ada banyak scene yang heartbreaking, tetapi dua yang paling memorable adalah ketika kekasihnya mengunjunginya di penjara dan scene terakhir. Berhasilkah Billy melarikan diri dari neraka tersebut?

Ketika membuat film ini (dan sesudahnya) Brad Davis bukan aktor yang ternama, tetapi aktingnya di sini sangat meyakinkan. Film ini adalah film klasik penting bagi semua anak muda yang bepergian ke luar negeri -- jangan macem-2, jangan banyak tingkah.


Cool Hand Luke, Papillon, Midnight Express dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 6 September 2013

Deliverance, Frantic, The Impossible

Triple Holidays Turned Into Nightmare!


Siapa yang nyangka bahwa nasib buruk bisa datang ketika kita sedang liburan? Memangnya, siapa sih yang bertujuan mencelakai orang yang sedang liburan? Orang yang predisposisi setiap harinya waspada-pun, ketika liburan dia akan bersikap rileks dan tidak cepat menaruh kecurigaan terhadap hal-2 yang nampak sepele.

Tetapi menurut tiga film berikut ini nasib buruk ternyata bisa datang di waktu yang kita paling tidak waspada tersebut.

1) Deliverance (1972)

Empat sekawan, Lewis (Burt Reynolds), Ed (Jon Voight), Bobby (Ned Beatty), dan Drew (Ronny Cox), memutuskan pergi berakhir pekan dengan ber-canoe di sebuah sungai di belantara terpencil di negara bagian Georgia sebelah utara. Lewis dan Ed sudah berpengalaman, sedang Bobby dan Drew adalah “newbies” -- baru pertama kali ini pergi ke belantara. Sesampai di tempat tujuan mereka bertemu dengan penduduk lokal yang uncivilized dan nampak hasil inbreeding (perkawinan terlalu dekat antara keluarga). Lewis dan Ed meyakinkan Bobby dan Drew bahwa mereka tidak apa-2. Tetapi Bobby dan Drew khawatir dan mempunyai firasat buruk. Entah apa.

Di akhir film, salah satu dari empat sekawan tersebut tewas dan yang lainnya bersumpah tidak bercerita tentang pengalaman tersebut kepada siapapun seumur hidup mereka. Nightmare ini sebaiknya dikubur saja -- karena kalau diceritakan, memangnya siapa sih yang mau percaya?

Film arahan John Boorman dengan rating 94% di Rotten Tomatoes ini betul-2 original dan berhasil dengan sangat baik membangkitkan “primal fear” dalam diri kita. Classic.

Hati-2 kalau pergi camping/canoe ke daerah terpencil :-)

2) Frantic (1988)

Lima tahun sebelum memerankan dokter yang kehilangan istrinya akibat pembunuhan, Harrison Ford sudah memerankan dokter yang juga kehilangan istrinya! :-) Tetapi kali ini bukan akibat pembunuhan, tetapi hilang begitu saja. Just vanished, without a trace!

Sambil mengunjungi konferensi kedokteran, suami-istri Dr. & Mrs. Walker siap berbulan madu kedua di kota paling romantis di dunia, Paris. Tiba di Paris pagi hari, masih jet-lagged, mereka langsung check-in ke hotel. Sementara istrinya mulai membongkar bagasi mereka, sang suami pergi mandi. Di saat paling kritis dalam film ini sutradara Roman Polanski dengan sangat pandai menempatkan kamera dari sisi suami yang sedang mandi, dengan suara air mengalir deras memekakkan telinga suami (penonton) -- dia (penonton) sayup-2 mendengar telpon berdering dan istrinya mengucapkan sesuatu. Kemudian kamera bergerak perlahan-2 menuju sudut pintu kamar mandi mengikuti gerakan terakhir istrinya. Sang suami menyelesaikan mandinya, mencukur jenggotnya, memesan makan pagi, membaca koran, dan ... ketiduran. Bangun kesiangan, istrinya ternyata belum kembali juga ke kamar. Kemana gerangan istrinya? Hilang, tanpa jejak.

Tidak bisa lagi bekerja di AS, Polanski menyelesaikan seluruh film ini di Perancis. Dari segi thriller film ini sama sekali tidak kalah dengan The Fugitive (1993). Dari segi akting, Ford sebagai suami yang desperate membongkar teka-teki yang misterius ini, juga tidak kalah dengan aktingnya dalam The Fugitive. Musik dari Ennio Morricone, walaupun beliau berasal dari Itali, terdengar begitu melankolis Perancis-nya, menghantui dari awal sampai akhir film, dengan menyertakan alat musik akordion. Memperoleh rating tinggi dari para film critic, tetapi gagal di box-office AS, satu-2nya kekurangan film ini adalah tidak bersetting di AS dan saat itu (bahkan sampai saat ini) Polanski masih di-“persona non grata” oleh publik AS.

Hati-2 kalau ngambil bagasi :-)

3) The Impossible (2012)

Berdasarkan kisah nyata tentang keluarga Spanyol yang sedang liburan di Thailand ketika tsunami tanggal 26 Desember 2004 menghantam hotel di mana mereka menginap di pantai Khao Lak, Thailand. Film ini tidak hanya menampilkan nasib buruk yang bisa datang sewaktu-2, bagaikan pencuri di malam hari, tetapi juga mukjizat yang bisa terjadi darinya. Musibah seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, mengapa terjadinya pas ketika mereka berlibur di sana? Mukjizatnya, sementara hampir semua orang kehilangan anggota keluarganya, keluarga ini seluruh anggotanya berhasil lolos dari maut. It's impossible!

Sayang sekali film produksi Spanyol ini cepat-2 memutuskan meng-“inggris”-kan film ini dengan meng-cast Naomi Watts dan Ewan McGregor sebagai keluarga Inggris yang sedang berlibur ke Thailand. Padahal ada banyak aktor dan aktres Spanyol yang mampu memainkan peran ini dengan sangat baik juga. Mungkin karena alasan distribusi -- mungkin takut jangkauan distribusinya tidak seluas kalau filmnya dibuat dalam bahasa Inggris. But anyway, it's an inspiring and uplifting film.

Selama liburan kita hanya bisa berdoa saja moga-2 tidak ada musibah.


Deliverance, Frantic, The Impossible dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 5 September 2013

The Cassandra Crossing, Outbreak, Contagion

Triple Outbreaks!


Epidemi atau wabah penyakit sering tidak masuk dalam daftar yang kita paling takutkan terjadi dalam hidup ini. Subconsciously kita menaruh kepercayaan bahwa teknologi kedokteran jaman sekarang mampu menanggulangi segala macam penyakit yang ada. Kenyataannya tidak seperti itu, karena penyakit senantiasa berubah karena virus juga senantiasa berubah/bermutasi. Antara penyakit baru dan ditemukannya obat untuk mengalahkannya ternyata selalu “kejar-2an”.

Coba bayangkan seandainya virus HIV bermutasi menjadi airborne sehingga penularannya menjadi seperti influenza?! Dan obatnya belum ada. Seluruh dunia pasti panik. Dan skenario seperti ini yang sering diangkat masuk ke dalam film.

1) The Cassandra Crossing (1976)

Dibuat pada era film malapetaka, film dengan all-star cast ini -- mulai dari Sophia Loren, Richard Harris, Burt Lancaster, Martin Sheen, Lee Strasberg, Ava Gardner, sampai bintang sepakbola AS saat itu O. J. Simpson -- bersetting di Eropa dan memadukan antara drama, romance, dan malapetaka wabah penyakit.

Dimulai dengan tiga “teroris” (imho, “aktivis”) memasuki instalasi fiktif International Health Organization di Jenewa, Swiss (parodinya WHO???) untuk menghancurkan lab milik AS yang diduga menyimpan berbagai bibit penyakit untuk riset senjata biologis. Dua tertembak, satu lolos, dan lab-nya berantakan ... sudah tahu lab-nya menyimpan banyak bibit penyakit, satpamnya trigger happy nembak kesana, nembak kemari :-) ... hasilnya, satu yang lolos terinfeksi salah satu bibit penyakit yang ada. Dia melarikan diri ke stasiun kereta api dan menyelinap masuk kereta api tujuan Stockholm, Swedia.

Sementara obat untuk mengalahkan bibit penyakit ini belum ditemukan, kereta api ini tidak boleh berhenti di semua stasiun kereta api antara Jenewa dan Stockholm -- tidak ada satu negarapun antara Swiss dan Swedia yang bersedia menerima kereta api ini. Drama kehidupan berlangsung terus di dalam kereta api bernasib buruk ini sementara mereka tidak menyadari akhir yang mengerikan menunggu di Cassandra Crossing.

Superb thriller. Sukses di pasar internasional, tetapi tidak di AS, karena penonton AS tidak suka film yang menggambarkan negaranya sebagai “bad guy” :-)

2) Outbreak (1995)

Sementara wabah penyakit Ebola yang mengerikan merebak di benua Afrika, Hollywood memanfaatkan momentum ini dengan memproduksi Outbreak yang dibintangi oleh Dustin Hoffman, Rene Russo, dan Morgan Freeman. Dalam film ini mulai ditampilkan bagaimana politik di balik penemuan penyakit baru dan pembuatan obatnya. Lagi-2 AS selalu ingin menjadi yang pertama -- dan kalau bisa, satu-2nya -- yang mempunyai obatnya. Tetapi dalam film ini korbannya adalah warga negara AS sendiri (hmmm, seakan-2 wabah penyakit itu tidak bisa loncat ke negara lain? :-)) dan obatnya belum ditemukan.

Dihadapkan pada wabah penyakit yang bakal memusnahkan seluruh negara (koreksi, seluruh dunia), militer terpaksa turun tangan. Dan kita tahu sendiri apa yang bakal terjadi kalau militer ikut turun tangan ... :-)

Sukses di pasar AS, walaupun imho endingnya rada silly.

3) Contagion (2011)

Empat puluh tahun selepas era film malapetaka, filmmakers jaman sekarang tidak takut memasukan elemen scientific yang dapat dipertanggung-jawabkan. Film garapan Steven Soderbergh dengan all-star cast ini -- Marion Cotillard, Matt Damon, Laurence Fishburne, Jude Law, dan Kate Winslet -- tidak hanya sekedar thriller yang menghibur tetapi juga pesan/informasi lingkungan hidup yang penting.

Diilhami oleh flu babi yang beberapa tahun sebelumnya menjadi wabah di seluruh dunia, film ini secara komplit menampilkan semua segi ketika sebuah wabah penyakit muncul: dari segi politik, komersial, dan sosial. Contagion dengan sangat baik menunjukkan tidak ada lagi wabah penyakit yang terbatas hanya di satu negara saja, semua wabah selalu menyebar ke seluruh dunia, karena itu sangat diperlukan kerjasama internasional untuk menyelesaikan masalah bersama ini.

Scene akhir film ini sangat bagus.

Ketika teknologi kedokteran akhirnya berhasil menanggulangi wabah penyakit tersebut, kita semua lega. Tetapi, sadarkah kita bahwa kita sendiri yang sesungguhnya sering menjadi catalyst utama dari wabah penyakit itu?

An excellent film.


The Cassandra Crossing, Outbreak, Contagion dapat anda temukan di eBay.com