Showing posts with label Stanley Kubrick. Show all posts
Showing posts with label Stanley Kubrick. Show all posts

Friday, 8 November 2013

The Deer Hunter, Apocalypse Now, Platoon, Full Metal Jacket

Quadruple Vietnam Wars!


Empat film berikut ini selain terbaik di genre-nya juga mewakili hampir semua dampak negatif yang timbul akibat peperangan. Impact-nya semakin membekas kalau film-2 ini kita sandingkan dan kita kontraskan dengan apa yang ada dalam Konvensi Jenewa (konvensi yang mengatur perang). Membuat kita sadar betapa ironisnya, betapa mustahil dan sia-2nya, usaha untuk mendefinisikan aturan perang tersebut. Perang pada dasarnya terjadi karena segala upaya yang beraturan tidak berhasil menyelesaikan konflik -- kok sekarang malah perangnya sendiri yang ingin dibuat beraturan, mana mungkin?! :-)

Satirically, empat film perang berikut ini dengan sangat mengena menyampaikan pesan anti-perangnya.

1) The Deer Hunter (1978)

Film arahan sutradara tak ternama, Michael Cimino, ini tidak tergesa-2 masuk ke dalam scene action, tetapi lebih menitikberatkan pada bagaimana perang secara total mengubah (baca, merusak/menghancurkan) kehidupan empat sekawan: Mike (Robert De Niro), Nick (Christopher Walken), Steven (John Savage), dan Stan (John Cazale), yang tinggal di sebuah kota kecil di selatan kota Pittsburgh, AS. Hampir separuh film bersetting di kota tempat tinggal mereka -- menceritakan kehidupan rutin dan kegiatan sehari-2 mereka sebagai pekerja pabrik baja: pulang kerja, pergi ke pub/bar untuk minum, melepas lelah, dan  bersosialisasi, menghadiri pesta perkawinan kerabat, dan pergi berburu rusa; penulis script memberi banyak waktu untuk menampilkan masing-2 karakter, kekuatan dan kelemahannya.

Setengah jalan, film tiba-2 berubah arah, meloncat masuk ke dalam scene action -- perang di belantara Vietnam, menimbulkan kontras yang drastis, kesan yang mengena betapa “misplaced” (salah tempat)-nya empat sekawan dari kota yang tenang dan damai di AS tersebut di belantara Vietnam yang “anything but” -- bahaya mengancam di mana-2 dan kematian mengintai di segala waktu. Dari empat sekawan tersebut, ada yang survive, ada yang tewas, ada yang kuat mental, ada yang trauma, ... atau apapun di antaranya.

Arahan Cimino dengan efek slow-burning ini meninggalkan kesan yang mendalam di akhir film. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik (Walken -- siapa yang tidak ingat scene Russian roulette Walken?!); dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Terbaik (De Niro), Aktres Pendukung Terbaik (Meryl Streep -- film pertama Streep dengan peran penting), dan Script Original Terbaik.

2) Apocalypse Now (1979)

Jangan mengira hanya prajurit wajib militer saja yang bisa “edan” gara-2 perang (seperti dalam The Deer Hunter), prajurit profesional-pun tidak luput dari dampak negatif tersebut. Film arahan Francis Ford Coppola ini adalah film anti-perang yang dengan berani menampilkan horor perang: perang menciptakan “monster”!

Kolonel baret hijau, Walter Kurtz (Marlon Brando), adalah prajurit teladan yang memperoleh banyak penghargaan atas prestasinya di perang Vietnam. Suatu saat dia menghilang/desersi (melepaskan diri dari komando atasannya) dan melaksanakan misinya sendiri, bersama prajurit-2 yang lain yang juga desersi, membasmi Viet Cong (dan sekaligus yang lainnya!). Komando atasannya memutuskan bahwa Kurtz sudah menjadi gila dan harus dihentikan. Kapten Benjamin Willard (Martin Sheen), belum sembuh dari trauma perangnya, ditunjuk untuk melacak Kurtz dan membasminya. Pesan komando atasannya jelas dan gamblang: “Terminate with extreme prejudice!

Horor perang yang ditampilkan dalam film ini, yang pada saat pertama kali dikeluarkan terkesan fiktif, dengan berjalannya waktu ternyata sama sekali tidak fiktif -- faktanya, AS sampai sekarang masih sibuk melacak dan membasmi “monster”-2 perang yang notabene hasil ciptaannya sendiri. Pesan moral dengan universal truth ini dengan meyakinkan memasukkan Apocalypse Now dalam jajaran klasik.

Mungkin karena setahun sebelumnya Academy Awards sudah menghadiahkan Film Terbaik ke film dengan tema yang sama, film ini hanya berhasil menerima nominasi Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Script Adaptasi Terbaik.

3) Platoon (1986)

Orang-2 muda yang naif, yang belum pernah pergi (atau mengalami) perang, sering mempunyai imajinasi patriotisme yang muluk tentang perang -- mungkin seraya membayangkan pepatah masyhur: “Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country.” Inilah imajinasi keliru mahasiswa drop-out, Chris Taylor (Charlie Sheen, anaknya Martin Sheen), dalam film arahan Oliver Stone ini. Idealisme (baca, kenaifan) Chris segera menemui “batu”-nya di medan pertempuran di Vietnam -- apa yang dia lihat sama sekali tidak cocok dengan apa yang ada di dalam peraturan ... let alone Geneva Conventions. Sementara dia berjuang untuk survive, dia akhirnya menyadari bahwa dia menghadapi tidak hanya perang melawan Viet Cong, tetapi juga perang melawan rekan-2 prajurit sepeletonnya sendiri.

Sama seperti Coppola, Stone juga dengan berani menampilkan horor perang. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik; dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik (Tom Berenger dan Willem Dafoe), dan Script Original Terbaik.

4) Full Metal Jacket (1987)

Kalau Coppola menampilkan “monster” perang, film arahan Stanley Kubrick ini menampilkan bagaimana “monster” perang tersebut diciptakan. Bagian pertama film ini betul-2 monumental: menampilkan bagaimana rekrut baru yang naif dan hijau, digojlok -- bastardised and to a certain extent ... brainwashed! (arahan Kubrick di sini betul-2 memukau), untuk dipersiapkan terjun ke medan pertempuran di Vietnam. Setelah bagian pertama yang berat -- bikin hati penonton miris dan jantung deg-2an, bagian kedua (scene action-nya) menjadi terasa ringan :-) Ternyata Kubrick tidak hanya mempersiapkan karakter-2 dalam film ini saja sebelum mereka terjun ke medan pertempuran, Kubrick juga mempersiapkan penonton sebelum kita melihat scene action-nya. Tidakkah ini adalah arahan yang pandai?!

Sama seperti film-2 Kubrick yang lain, anggota Academy Awards membutuhkan waktu yang lama untuk mengapresiasi karya Kubrick ini. Film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik.

The Deer Hunter,  Apocalypse Now, Platoon, Full Metal Jacket dapat anda temukan di eBay.com

Saturday, 21 July 2012

Lolita

Resensi Film: Lolita (8.5/10)

Tahun Keluar: 1962
Negara Asal: UK
Sutradara: Stanley Kubrick
Cast: James Mason, Shelley Winters, Sue Lyon, Peter Sellers

Plot: Seorang profesor berusia setengah baya jatuh cinta dengan seorang remaja berusia 14 tahun (IMDb).

Ada film-2 yang setiap kali kita menontonnya, kita memperoleh pemahaman tambahan/berbeda daripada ketika terakhir kali kita menontonnya. Film-2 karya Stanley Kubrick banyak yang seperti ini dan Lolita adalah salah satu di antaranya. Penulis sudah beberapa kali menonton film ini; dan setiap kali menontonnya, penulis memperoleh pemahaman tambahan/berbeda daripada ketika terakhir kali menontonnya -- seakan-2 ceritanya sedemikian luasnya sehingga selalu saja ada bagian-2 kecil yang luput dari perhatian atau pemahaman, atau kadang-2 terasa seperti parable yang menyembunyikan cerita sesungguhnya di balik facade yang kasat mata. Stanley Kubrick konon tidak dapat secara bebas mengadaptasi isi novel dengan judul yang sama karya Vladimir Nabokov ini ke dalam layar lebar karena batasan-2 censorship yang ketat saat itu. Mungkin gara-2 ini Kubrick mesti "berkelit" di balik facade yang dapat diterima oleh kode etik perfilman saat itu -- tidak ada adegan erotik, apalagi seks, dalam film ini, semuanya disampaikan secara implisit, namun demikian penonton menyadari sepenuhnya sifat hubungan antara profesor tersebut dan Lolita. Akibatnya, ada perbedaan cukup besar, dari segi plot dan karakterisasi, antara novelnya dan film ini. Despite all this, mungkin justru di sinilah letak keunggulan film ini -- membuatnya bertahan melawan waktu, karena penonton dapat selalu menemukan hal baru setiap kali menontonnya. Penulis belum pernah membaca novelnya, karena itu review ini hanya membahas filmnya saja -- sama sekali tidak ada perbandingan dengan novelnya.

Film drama serius yang dikemas dalam komedi gelap ini dibintangi oleh tiga bintang besar Hollywood pada jamannya, yaitu: James Mason, Shelley Winters, dan Peter Sellers, dan satu pendatang baru, Sue Lyon, yang memainkan 'title role' Lolita. Kesan pertama yang menggelitik dari film ini adalah nama-2 karakternya: 1) Profesor Humbert Humbert. Dengan jabatan profesor dan nama Humbert Humbert (seakan-2 satu Humbert saja tidak cukup :-)), penonton mencium ada sesuatu yang "tidak beres" dengan dirinya -- di balik eksterior yang terhormat, tersimpan interior yang sleazy, disreputable, tidak bermoral. 2) Charlotte dan Dolores Haze. Haze mempunyai arti kabut atau pikiran yang tidak jelas atau bingung. Charlotte adalah nama priyayi, sementara karakternya adalah wanita dari kelas bawah. Sedang Dolores adalah nama seorang wanita suci dari Spanyol -- gabungan Dolores + Haze menimbulkan kesan nama seorang prostitute. 3) Clare Quilty. Clare adalah nama wanita, sementara karakternya adalah pria, menimbulkan kesan foxy, serigala berbulu domba, tidak dapat dipercaya. Pertama kali menonton film ini, penulis menangkap kesan ini, tetapi baru menyadari sepenuhnya setelah beberapa kali menontonnya: nama-2 tersebut adalah summary atau ringkasan dari masing-2 karakternya! So spot on.

James Mason yang selalu tampil suave (smooth & sophisticated) adalah aktor yang tepat memainkan peran Humbert Humbert. Dengan censorship yang ketat saat itu, penampilan Mason berhasil menghindari kesan penonton secara frontal terhadap karakternya sebagai seorang fedofilia*) -- walaupun penonton menyadari sepenuhnya. Selanjutnya, di sepanjang film Mason berhasil menampilkan berbagai warna dari kepribadian karakternya: condescending -- memandang rendah orang dari kelas bawah (terhadap Charlotte, juga terhadap Dolores/Lolita), scheming -- memanipulasi untuk kepentingan diri sendiri, dan possessive -- menguasai, mengontrol untuk memuaskan diri sendiri. Shelley Winters yang selalu tampil menjiwai sebagai wanita yang histeris dan pathetic/'ngenes' :-) adalah aktres yang tepat memainkan peran Charlotte Haze. Charlotte, seorang janda dari kelas bawah, sangat ingin menaikkan status sosialnya dengan bersosialisasi dengan orang-2 dari kelas atas -- istilahnya, social climber. Sedemikian desperate-nya, dia menutup mata terhadap motivasi sesungguhnya dari pria-2 dari so called "kelas atas" tersebut. Sedemikian ignorant-nya, dia tidak mampu melihat anaknya yang menginjak dewasa ini mulai menampilkan kedewasaannya secara tidak pantas, dia juga tidak mampu melihat pria-2 dari "kelas atas" tersebut menyimpan agenda terselubung setiap kali mereka tersenyum kepadanya. Singkat kata, Charlotte adalah ibu dan wanita yang betul-2 pathetic, mengenaskan (!) ... dan Winters membawakan peran ini dengan sempurna! Peter Sellers dengan kemampuannya menampilkan "seribu wajah" adalah aktor yang tepat memainkan peran Clare Quilty. Charlotte tergila-2 dengan Clare karena dia adalah seorang playwright (penulis teater) -- menuju akhir film reputasi sesungguhnya terkuak sebagai seorang pornographer. Kubrick memberi kebebasan kepada Sellers untuk berimprovisasi dan hasilnya sangat menarik! Sebagai playwright, Sellers tampil avant-garde, superior, dan sekaligus arogan (tidak heran Charlotte tergila-2 ingin mendekatinya). Sebagai polisi, Sellers tampil misterius dengan gaya interogasinya yang pasif-agresif. Sebagai Doctor Zempf, Sellers tampil betul-2 maniak (peran ini nampaknya menjadi acuan bagi Sellers untuk perannya di kemudian hari dalam film Dr. Strangelove yang juga disutradarai oleh Kubrick). Karakter-2 samaran yang dimainkan Sellers ini betul-2 menggelitik, karena dia tidak ada habisnya "menyiksa" Humbert dari awal sampai akhir film :-) Di Golden Globes, ajang penghargaan yang diberikan oleh kalangan jurnalis, Mason, Winters, dan Sellers, ketiganya menerima nominasi untuk aktor terbaik, aktres terbaik, dan aktor pendukung terbaik. Penulis setuju sekali, kekuatan utama film ini ada di pundak mereka.

*) Orang dewasa yang mempunyai nafsu birahi terhadap anak-2.

Bagaimana dengan ceritanya sendiri? Sebagian besar penonton menilai film ini sebagai cerita tabu tentang fedofilia. Penulis setuju, tetapi fedofilia bukan satu-2nya topik yang dieksplorasi oleh Kubrick di sini; ada topik yang lain, yaitu: (kecenderungan) sifat posesif pria terhadap wanita, dhi. sifat posesif tiga pria dalam hidup Lolita. Humbert ingin memiliki Lolita dan kemudian berusaha "mendidik"-nya -- seakan-2 tidak cukup menjadi kekasih saja, dia juga ingin menjadi ayah Lolita! :-) Sikap Humbert yang senang mengontrol ini akhirnya "menyesakkan" Lolita. Clare juga ingin memiliki Lolita (Lolita mula-2 mempunyai "crush" terhadapnya). Tetapi segera setelah Lolita memberontak darinya, ketika dia menolak berperan dalam film "seni"-nya (baca: pornografi), Clare mencampakkannya. Di akhir film, Lolita ditampilkan sudah berkeluarga. Suaminya juga posesif terhadap dirinya, menuntut ini dan itu tanpa mempedulikan perasaannya. Di akhir film, Lolita mengakui bahwa dia tidak pernah mencintai Humbert, tidak mencintai Clare, juga tidak mencintai suaminya -- well, tidak mengherankan kalau dia tidak mencintai semuanya! :-) Kalau dipikir-2, semua karakter dalam film ini betul-2 hopeless dan tragis; nevertheless, ada pelajaran berharga yang dapat ditarik dari komedi gelap ini.

All in all, Lolita is an incredibly sharp piece of filmmaking; khususnya penampilan Mason, Winters, dan Sellers. Sayangnya, karakter Winters dimatikan di tengah film, padahal karakter ini mempunyai fungsi penting sebagai ground/foundation di tengah-2 Humbert yang semakin neurotic, obsessive dan Clare yang semakin evil, sinister.

8.5/10

Lolita dapat anda temukan di eBay.com


Tuesday, 22 February 2011

Dr. Strangelove or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb

Resensi Film: Dr. Strangelove or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb (****/4)

Tahun Keluar: 1964
Negara Asal: UK
Sutradara: Stanley Kubrick
Cast: Peter Sellers, George C. Scott, Sterling Hayden

Plot: Seorang Brigadir Jenderal AS hilang ingatannya dan memulai prosedur untuk meluncurkan perang nuklir terhadap Rusia (IMDb).

Adaptasi lepas dari  novel thriller cold war berjudul Red Alert karya Peter George, Dr. Strangelove mempunyai script yang rapi dan tajam, karakter-2 yang eksentrik dan karikatural, dan akting cartoonish yang pas untuk masing-2 karakternya (pujian khusus untuk Peter Sellers yang memainkan 3 peran sekaligus). Gabungan antara Brigadir Jenderal yang hilang ingatan, Presiden yang tidak efektif, petinggi militer yang paranoia, ilmuwan yang sado-masochist, dan prajurit yang naive membuat film komedi hitam karya Stanley Kubrick ini merupakan salah satu dari satire politis terbaik sepanjang masa. Penonton menyadari, film ini hanyalah satire; namun demikian, kita tidak dapat mengabaikan betapa cocoknya suasana kegilaan dalam film ini dengan realitas yang ada.

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Dr. Strangelove or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 23 March 2010

The Shining

Movie Review: The Shining

Year of Release: 1980
Country of Origin: UK, USA
Director: Stanley Kubrick
Cast: Jack Nicholson, Shelley Duvall, Danny Lloyd

Plot outline: A family heads to an isolated hotel for the winter where an evil and spiritual presence influences the father into violence, while his psychic son sees horrific forebodings from the past and of the future (IMDb).

Time and space are elements that Stanley Kubrick toys with in all of his movies, but a near empty hotel may be the perfect place for him to explore those particular elements. He has plenty of long hallways to play with, interesting rooms and confines to scope out and a stark surrounding landscape to finish it all off. Quite often the camera starts far away from its subject and either the camera closes in or the subject slowly approaches the camera. This creates a permanent sense of unease, nothing is ever quite in focus, objects take up more space than they should or are confined to a smaller area that feels comfortable. At every moment Kubrick plumbs the depths of the landscape of the hotel, leaving no area safe. His camera is always pervasive yet standoffish at the same time. Much like its lead character The Shining never feels quite right visually and in that way it is perfect. The question then becomes, sure, the craftsmanship is great, it’s a great looking picture, but how does it work as a horror movie? The answer to that isn’t easy, or maybe it is, I’m not sure. The simple answer is that The Shining may be the best horror movie ever made, but to get to that conclusion requires a bit of complexity. Most great horror is all about the mood and atmosphere of the picture, and The Shining has mood and atmosphere in spades. It starts with the eerily artificial score, there’s no better way to instill horror in a naturally beautiful setting than by having a score that sounds like something from another world entirely. Every scene has a bit of an edge to it, even when there isn’t any malicious intent in the story the score implies that there is and the viewer is taken aback by this contradiction. I’ve already covered the visuals, so that moves us onto the acting. Jack Nicholson, Shelley Duvall and Danny Lloyd are very naturalistic and minimalistic in their approach. This isn’t Jack being Jack, this is Jack adapting his natural persona into a creepy atmosphere to great affect. Duvall is scared and because we relate to her fear we are scared for/along with her. Lloyd isn’t a typical child actor, he is mighty creepy and never once feels out of step with his adult counterparts. All of the above elements combine to form the slow cooker approach to horror. For those who don’t understand what I mean, think of that crock pot in your parents kitchen. You watch them put all sorts of ingredients in and then walk away. Hours pass by and the ingredients slowly combine and join together to form what will eventually be a scrumptious meal. That is the horror on display in The Shining, not the fast slasher type or the twist type, but the kind that slowly cooks over the course of the movie. It cooks and cooks until it reaches its conclusion, a conclusion that never had any choice but to be great, because all the ingredients were slowly added and cooked to perfection. (BT)

My judgement: **** out of 4 stars

Monday, 26 October 2009

Full Metal Jacket

Movie Review: Full Metal Jacket

Year of Release: 1987
Country of Origin: UK, USA
Director: Stanley Kubrick
Cast: Matthew Modine, Adam Baldwin, Vincent D'Onofrio, R. Lee Ermey

Plot outline: Story follows a group of Marine recruits from the harrowing experience of boot camp to the horrifying battlefronts of Vietnam (IMDb).

What can be said about the Vietnam war that hasn't been said already? Full Metal Jacket answers that question, and demonstrates that there is always room for a great movie, even if the genre has already been thoroughly explored. Full Metal Jacket is really two different movies, with Matthew Modine's everyman character bridging the gap. Only three mild criticisms about the first half, which is superior to the second half. Out of the large number of marine recruits, only four (Joker, Snowball, Pyle and Cowboy) have speaking parts. Did the writers think we would get confused with too many characters, or was the producer unwilling to pay extras to speak? Also, Modine frequently does a John Wayne impersonation, which is not very good! Finally, Pyle has a weird character turn that doesn't seem likely despite all the abuse and brainwashing he has received. The second half of the movie has Modine in Vietnam, covering the war first as a journalist and then as a soldier. The early scenes of this second half are outstanding, but when Modine finally sees action the movie declines slightly, though still excellent. War is hell, but in this case not quite as interesting. One observation is that the American soldiers have great respect for the North Vietnam soldiers, but contempt and bitterness towards the people of South Vietnam. This may be due to its corruption, depicted through extended scenes of negotiations with prostitutes, or the notion that South Vietnam was not grateful for the "assistance" of Uncle Sam. Actually, given scenes of a soldier in a helicopter machine-gunning every Vietnamese he sees, of any age or gender, it is clear why the South Vietnamese weren't so grateful! Not the greatest war movie ever, but perhaps the best movie about Vietnam (Apocalypse Now was overlong and lacked necessary focus). (BK)

My judgement: ***1/2 out of 4 stars

Friday, 23 October 2009

Eyes Wide Shut

Movie Review: Eyes Wide Shut

Year of Release: 1999
Country of Origin: UK, USA
Director: Stanley Kubrick
Cast: Tom Cruise, Nicole Kidman, Sydney Pollack, Todd Field

Plot outline: Consumed by betrayal and jealousy, a wealthy Manhattan doctor becomes entangled in sexual adventures when his wife admits to having sexual fantasies about another man (IMDb).

Eyes Wide Shut quickly developed a strong following, mostly from admirers of legendary director Stanley Kubrick. The movie is less popular, however, than several of Kubrick's later movies, e.g. A Clockwork Orange, Full Metal Jacket, and The Shining. Loosely based on the 1926 novel "
Traumnovelle" (Dream Story) by Arthur Schnitzler, the setting has been changed to modern-day New York City. Bill Harford (Tom Cruise) is a successful doctor who learns that his beautiful wife Alice (Nicole Kidman) has been fantasizing about having sex with another man. Bill decides to get his revenge through some sexual adventures of his own, which soon get him into trouble after crashing a private party at a wealthy estate. The hotties that tempt Bill aren't offering him sex or comfort. They want more ... they want to take him away from Alice. Bill seems to know this, which is why he is unable to commit adultery. Bill and Alice are bound together by their young daughter, Helena. The oddest thing about Eyes Wide Shut is that the script is at heart a mystery, and throws many false clues at the viewer that turn out to be unrelated to the plot. This is truly unconventional film-making, a deliberate prevention of tying up the loose ends. These diversionary subplots are all sexually related. And the movie is quite forward in its depictions, retaining Kubrick's favoritism of art over commerce. (BK)

My judgement: *** out of 4 stars

Tuesday, 21 April 2009

2001: A Space Odyssey

Movie Review: 2001: A Space Odyssey

Year of Release: 1968
Country of Origin: UK, USA
Director: Stanley Kubrick
Cast: Keir Dullea, Gary Lockwood, William Sylvester, Daniel Richter

Plot outline: Mankind finds a mysterious, obviously artificial, artifact buried on the moon and, with the intelligent computer HAL, sets off on a quest (IMDb).

2001: A Space Odyssey was probably the most original movie ever made. It is so different from conventional movies that, in fact, it may be a different art form altogether. Even the very best movies, such as Casablanca, Rebecca and Chinatown have formulaic elements. In contrast, 2001 is in its own world, as if all the movies made before had never existed. Even though Stanley Kubrick has made even better movies (Dr. Strangelove and Barry Lyndon), 2001 will always be the most impressive, just for its originality and audacity. The movie has four parts. The first part is the dawn of man. Man-apes are taught to use tools and kill by an imposing black monolith. In the second part, a second black monolith is found buried in the moon by astronauts in the year 2001. This leads to a mission to Jupiter by another team of astronauts and a talkative, emotional computer named HAL. The final and most surreal part has astronaut Dave Bowman traveling to the infinite and beyond. Many critics were (and perhaps still are) put off by the lack of dialogue and character development, the slow pace, and surreal imagery. 2001 is a story told by cinematography, with much of the meaning left to the imagination of the viewer. The most developed character in the movie is HAL, a computer that is more emotional than the robotlike humans that accompany him on the mission. The confrontation between HAL (voiced by Douglas Rain) and Dave Bowman (Keir Dullea) is the most interesting part of the movie, more so than the increasingly bizarre and unfathomable finale. (BK)

My judgement: **** out of 4 stars