Lausanne, Switzerland
Yugoslavia, Riva, "Rock Me"
Showing posts with label 1980s. Show all posts
Showing posts with label 1980s. Show all posts
Saturday, 11 April 2015
Friday, 10 April 2015
1988 Eurovision Winner ★★★★★
Dublin, Ireland
Switzerland, Céline Dion, "Ne partez pas sans moi"
Thursday, 9 April 2015
Wednesday, 8 April 2015
Tuesday, 7 April 2015
Monday, 6 April 2015
1984 Eurovision Winner
Luxembourg, Luxembourg
Sweden, Herreys, "Diggi-Loo Diggi-Ley"
Sunday, 5 April 2015
1983 Eurovision Winner
Munich, Germany
Luxembourg, Corinne Hermès, "Si la vie est cadeau"
Saturday, 4 April 2015
1982 Eurovision Winner ★★★★★
Harrogate, United Kingdom
Germany, Nicole, "Ein bißchen Frieden"
Friday, 3 April 2015
1981 Eurovision Winner
Dublin, Ireland
United Kingdom, Bucks Fizz, "Making Your Mind Up"
Thursday, 2 April 2015
1980 Eurovision Winner ★★★★★
The Hague, Netherlands
Ireland, Johnny Logan, "What's Another Year"
Saturday, 23 November 2013
Duel, Jaws, Raiders of the Lost Ark
Triple Spielberg's!
The Irony of Academy Awards.
Melihat perjalanan karier Steven Spielberg penulis tiba-2 menemukan betapa nyarisnya Spielberg mengalami nasib yang sama seperti Alfred Hitchcock -- tidak pernah memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik -- seandainya dia tidak “ganti haluan”. Sebelum dia memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik untuk pertama kalinya, hampir semua film-2nya adalah thriller adventure/sci-fi adventure: Jaws (1975), Close Encounters of the Third Kind (1977), Raiders of the Lost Ark (1981), E.T. The Extra-Terrestrial (1982), Indiana Jones and the Temple of Doom (1984), Indiana Jones and the Last Crusade (1989), dan Jurassic Park (1993). Dari film-2 ini Jaws, Raiders of the Lost Ark, dan E.T. menerima nominasi Film Terbaik; dan Spielberg menerima nominasi Sutradara Terbaik untuk Close Encounters of the Third Kind, Raiders of the Lost Ark, dan E.T. Tetapi semuanya hanya nominasi saja, gagal memenangkannya -- nasibnya mirip seperti film-2 Hitchcock: instant classic, menerima banyak nominasi, tetapi semuanya gagal memenangkannya.
Memulai kariernya sebagai sutradara film-2 pendek dan televisi, Spielberg memperoleh “big break”-nya ketika dia mengarahkan film televisi dengan anggaran hanya $450,000 saja,
1) Duel (1971).
Dalam soal kreativitas, kita sering tercengang bagaimana seorang artis justru menghasilkan kreativitas terbaiknya ketika dirinya sedang dalam keadaan kepepet. Dengan anggaran cuma $450,000, Spielberg hanya mampu meng-cast satu aktor untuk pemeran utama -- inipun hanya aktor televisi saja, satu sedan tua, dan satu truk tanker tua. Setting produksinya juga murah: jalan berdebu di padang gurun California. Costume designer dan make-up artist, hampir tidak diperlukan sama sekali -- pemeran utama tidak perlu didandani keringatan dan berdebu, dengan setting yang ada dia sudah ‘mblegadus’ sendiri :-) Dengan anggaran minim ini, Spielberg justru memiliki kebebasan menampilkan kemampuannya menyusun tension dan suspense dari perjalanan antar kota yang mula-2 nampak biasa-2 saja menjadi road rage (perseteruan jalan raya) yang mencekam yang membuat penonton duduk di pinggir kursinya!
Pertama kali nonton film ini di televisi, tengah malam -- sekitar pukul 11.30 malam, yang semestinya hanya beberapa menit saja di depan TV sebelum pergi tidur, penulis akhirnya baru beranjak dari tempat duduk sekitar pukul 1 pagi :-) Baru di akhir film, ketika kredit film ditampilkan, penulis menemukan bahwa sutradaranya adalah Steven Spielberg -- oooooh, makanya :-) Selidik punya selidik, saking populernya film televisi ini, film ini akhirnya dikeluarkan/diputar di gedung-2 bioskop, dengan suntingan film diperpanjang menjadi 90 menit. Ada berapa banyak film televisi yang diputar di gedung-2 bioskop? Sama sekali tidak banyak (tidak ada). This is classic!
Kalau dengan anggaran kecil Spielberg mampu menghasilkan film sehebat ini, bayangkan dengan anggaran besar?! Benar sekali, dengan anggaran besar (20 kalinya) dia menghasilkan:
2) Jaws (1975).
Tidak banyak sutradara yang mampu menyamai Hitchcock ketika dia menghasilkan Psycho (1960). But, this is it! Bernasib sama seperti Psycho dalam Academy Awards, Jaws masuk nominasi Film Terbaik bersama dengan One Flew Over the Cuckoo's Nest, Stanley Kubrick's Barry Lyndon, Dog Day Afternoon, dan Robert Altman's Nashville; tetapi Spielberg sendiri ‘kecolongan’ menjadi satu-2nya sutradara dari film-2 yang masuk nominasi Film Terbaik yang tidak menerima nominasi Sutradara Terbaik -- Psycho terbalik, filmnya tidak masuk nominasi Film Terbaik, tetapi Hitchcock menerima Sutradara Terbaik. Tahun 1976 adalah tahun Oscar yang berat. Kita menyadari betapa sulitnya film thriller adventure tentang ikan hiu pemangsa manusia bisa mengalahkan film dengan “tema besar”, “tema penting” seperti One Flew Over the Cuckoo's Nest. Tetapi paling tidak John Williams berhasil mengantongi Musical Sore Terbaik untuk dua not bass legendarisnya:
E, F ... ... E, F ... ... E, F, E, F, E, F, ...
-- komposer Bernard Herrmann bahkan ‘kecolongan’ terus sepanjang kariernya bersama Hitchcock; tidak ada satupun musical scorenya dari film-2 Hitchcock yang menerima nominasi Musical Score Terbaik: Vertigo (1958), North by Northwest (1959), Psycho (1960) ... padahal semuanya klasik. Oh, how disgraceful :-(
Usaha Spielberg mencari nominasi ganda, Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, berjalan terus sampai akhirnya dia menghasilkan:
3) Raiders of the Lost Ark (1981)
Selama ini belum pernah ada seorang ahli purbakala menjadi hero dalam film thriller adventure. But, once again, this is it! Tahukah anda bahwa produser George Lucas mula-2 memilih Tom Selleck untuk memainkan Indiana Jones, tetapi dia menolak karena dia sedang sibuk dengan serial TV-nya, Magnum, P.I.? Spielberg kemudian memaksa Lucas untuk memilih Harrison Ford ... and the rest is history! Magnum, P.I. over Indiana Jones? Tom Selleck pasti nyesel banget atas keputusan bodoh tersebut :-)
Raiders of the Lost Ark berhasil memperoleh nominasi ganda: Film Terbaik -- bersama dengan Chariots of Fire, Atlantic City, On Golden Pond, dan Warren Beatty's Reds; dan Sutradara Terbaik -- bersama dengan sutradara-2 dari film-2 tersebut. Alangkah indahnya seandainya anggota Academy memilih film yang tidak membosankan sebagai Film Terbaik? Tetapi lagi-2 anggota Academy memilih film dengan “tema besar”, “tema penting” Chariots of Fire sebagai Film Terbaik. Spielberg juga “terlewati” untuk memberi jalan pada Warren Beatty.
Tahun berikutnya Spielberg berhasil lagi memperoleh nominasi ganda, Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, untuk filmnya E.T. The Extra-Terrestrial. Tetapi tahun 1983 adalah tahun Oscar yang berat -- bagaimana mungkin film thriller adventure tentang extra-terrestrial bisa mengalahkan film dengan “tema besar”, “tema penting” Gandhi? Lagi-2 Spielberg gagal memenangkan penghargaan tertinggi.
Sampai akhirnya pada tahun 1987 Spielberg menerima penghargaan dari Academy yang dinamakan Irving G. Thalberg Memorial Award, penghargaan yang sama yang diterima Hitchcock di akhir kariernya pada tahun 1968. Seakan-2 melihat premonition -- dirinya bernasib sama seperti Hitchcock, pada tahun 1993 Spielberg memutuskan “ganti haluan” dan menghasilkan Schindler's List -- film dengan “tema besar”, “tema penting”, seperti yang diinginkan anggota Academy. Tetapi sejak itu Spielberg kehilangan mojo/magic power-nya dalam film-2 thriller adventure-nya.
Sebagai fans anda lebih suka Spielberg sebagai pemenang Oscar atau Spielberg sebagai Master of Thriller Adventure?
Duel, Jaws, Raiders of the Lost Ark dapat anda temukan di eBay.com
The Irony of Academy Awards.
Melihat perjalanan karier Steven Spielberg penulis tiba-2 menemukan betapa nyarisnya Spielberg mengalami nasib yang sama seperti Alfred Hitchcock -- tidak pernah memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik -- seandainya dia tidak “ganti haluan”. Sebelum dia memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik untuk pertama kalinya, hampir semua film-2nya adalah thriller adventure/sci-fi adventure: Jaws (1975), Close Encounters of the Third Kind (1977), Raiders of the Lost Ark (1981), E.T. The Extra-Terrestrial (1982), Indiana Jones and the Temple of Doom (1984), Indiana Jones and the Last Crusade (1989), dan Jurassic Park (1993). Dari film-2 ini Jaws, Raiders of the Lost Ark, dan E.T. menerima nominasi Film Terbaik; dan Spielberg menerima nominasi Sutradara Terbaik untuk Close Encounters of the Third Kind, Raiders of the Lost Ark, dan E.T. Tetapi semuanya hanya nominasi saja, gagal memenangkannya -- nasibnya mirip seperti film-2 Hitchcock: instant classic, menerima banyak nominasi, tetapi semuanya gagal memenangkannya.
Memulai kariernya sebagai sutradara film-2 pendek dan televisi, Spielberg memperoleh “big break”-nya ketika dia mengarahkan film televisi dengan anggaran hanya $450,000 saja,
1) Duel (1971).
Dalam soal kreativitas, kita sering tercengang bagaimana seorang artis justru menghasilkan kreativitas terbaiknya ketika dirinya sedang dalam keadaan kepepet. Dengan anggaran cuma $450,000, Spielberg hanya mampu meng-cast satu aktor untuk pemeran utama -- inipun hanya aktor televisi saja, satu sedan tua, dan satu truk tanker tua. Setting produksinya juga murah: jalan berdebu di padang gurun California. Costume designer dan make-up artist, hampir tidak diperlukan sama sekali -- pemeran utama tidak perlu didandani keringatan dan berdebu, dengan setting yang ada dia sudah ‘mblegadus’ sendiri :-) Dengan anggaran minim ini, Spielberg justru memiliki kebebasan menampilkan kemampuannya menyusun tension dan suspense dari perjalanan antar kota yang mula-2 nampak biasa-2 saja menjadi road rage (perseteruan jalan raya) yang mencekam yang membuat penonton duduk di pinggir kursinya!
Pertama kali nonton film ini di televisi, tengah malam -- sekitar pukul 11.30 malam, yang semestinya hanya beberapa menit saja di depan TV sebelum pergi tidur, penulis akhirnya baru beranjak dari tempat duduk sekitar pukul 1 pagi :-) Baru di akhir film, ketika kredit film ditampilkan, penulis menemukan bahwa sutradaranya adalah Steven Spielberg -- oooooh, makanya :-) Selidik punya selidik, saking populernya film televisi ini, film ini akhirnya dikeluarkan/diputar di gedung-2 bioskop, dengan suntingan film diperpanjang menjadi 90 menit. Ada berapa banyak film televisi yang diputar di gedung-2 bioskop? Sama sekali tidak banyak (tidak ada). This is classic!
Kalau dengan anggaran kecil Spielberg mampu menghasilkan film sehebat ini, bayangkan dengan anggaran besar?! Benar sekali, dengan anggaran besar (20 kalinya) dia menghasilkan:
2) Jaws (1975).
Tidak banyak sutradara yang mampu menyamai Hitchcock ketika dia menghasilkan Psycho (1960). But, this is it! Bernasib sama seperti Psycho dalam Academy Awards, Jaws masuk nominasi Film Terbaik bersama dengan One Flew Over the Cuckoo's Nest, Stanley Kubrick's Barry Lyndon, Dog Day Afternoon, dan Robert Altman's Nashville; tetapi Spielberg sendiri ‘kecolongan’ menjadi satu-2nya sutradara dari film-2 yang masuk nominasi Film Terbaik yang tidak menerima nominasi Sutradara Terbaik -- Psycho terbalik, filmnya tidak masuk nominasi Film Terbaik, tetapi Hitchcock menerima Sutradara Terbaik. Tahun 1976 adalah tahun Oscar yang berat. Kita menyadari betapa sulitnya film thriller adventure tentang ikan hiu pemangsa manusia bisa mengalahkan film dengan “tema besar”, “tema penting” seperti One Flew Over the Cuckoo's Nest. Tetapi paling tidak John Williams berhasil mengantongi Musical Sore Terbaik untuk dua not bass legendarisnya:
E, F ... ... E, F ... ... E, F, E, F, E, F, ...
-- komposer Bernard Herrmann bahkan ‘kecolongan’ terus sepanjang kariernya bersama Hitchcock; tidak ada satupun musical scorenya dari film-2 Hitchcock yang menerima nominasi Musical Score Terbaik: Vertigo (1958), North by Northwest (1959), Psycho (1960) ... padahal semuanya klasik. Oh, how disgraceful :-(
Usaha Spielberg mencari nominasi ganda, Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, berjalan terus sampai akhirnya dia menghasilkan:
3) Raiders of the Lost Ark (1981)
Selama ini belum pernah ada seorang ahli purbakala menjadi hero dalam film thriller adventure. But, once again, this is it! Tahukah anda bahwa produser George Lucas mula-2 memilih Tom Selleck untuk memainkan Indiana Jones, tetapi dia menolak karena dia sedang sibuk dengan serial TV-nya, Magnum, P.I.? Spielberg kemudian memaksa Lucas untuk memilih Harrison Ford ... and the rest is history! Magnum, P.I. over Indiana Jones? Tom Selleck pasti nyesel banget atas keputusan bodoh tersebut :-)
Raiders of the Lost Ark berhasil memperoleh nominasi ganda: Film Terbaik -- bersama dengan Chariots of Fire, Atlantic City, On Golden Pond, dan Warren Beatty's Reds; dan Sutradara Terbaik -- bersama dengan sutradara-2 dari film-2 tersebut. Alangkah indahnya seandainya anggota Academy memilih film yang tidak membosankan sebagai Film Terbaik? Tetapi lagi-2 anggota Academy memilih film dengan “tema besar”, “tema penting” Chariots of Fire sebagai Film Terbaik. Spielberg juga “terlewati” untuk memberi jalan pada Warren Beatty.
Tahun berikutnya Spielberg berhasil lagi memperoleh nominasi ganda, Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, untuk filmnya E.T. The Extra-Terrestrial. Tetapi tahun 1983 adalah tahun Oscar yang berat -- bagaimana mungkin film thriller adventure tentang extra-terrestrial bisa mengalahkan film dengan “tema besar”, “tema penting” Gandhi? Lagi-2 Spielberg gagal memenangkan penghargaan tertinggi.
Sampai akhirnya pada tahun 1987 Spielberg menerima penghargaan dari Academy yang dinamakan Irving G. Thalberg Memorial Award, penghargaan yang sama yang diterima Hitchcock di akhir kariernya pada tahun 1968. Seakan-2 melihat premonition -- dirinya bernasib sama seperti Hitchcock, pada tahun 1993 Spielberg memutuskan “ganti haluan” dan menghasilkan Schindler's List -- film dengan “tema besar”, “tema penting”, seperti yang diinginkan anggota Academy. Tetapi sejak itu Spielberg kehilangan mojo/magic power-nya dalam film-2 thriller adventure-nya.
Sebagai fans anda lebih suka Spielberg sebagai pemenang Oscar atau Spielberg sebagai Master of Thriller Adventure?
Friday, 8 November 2013
The Deer Hunter, Apocalypse Now, Platoon, Full Metal Jacket
Quadruple Vietnam Wars!
Empat film berikut ini selain terbaik di genre-nya juga mewakili hampir semua dampak negatif yang timbul akibat peperangan. Impact-nya semakin membekas kalau film-2 ini kita sandingkan dan kita kontraskan dengan apa yang ada dalam Konvensi Jenewa (konvensi yang mengatur perang). Membuat kita sadar betapa ironisnya, betapa mustahil dan sia-2nya, usaha untuk mendefinisikan aturan perang tersebut. Perang pada dasarnya terjadi karena segala upaya yang beraturan tidak berhasil menyelesaikan konflik -- kok sekarang malah perangnya sendiri yang ingin dibuat beraturan, mana mungkin?! :-)
Satirically, empat film perang berikut ini dengan sangat mengena menyampaikan pesan anti-perangnya.
1) The Deer Hunter (1978)
Film arahan sutradara tak ternama, Michael Cimino, ini tidak tergesa-2 masuk ke dalam scene action, tetapi lebih menitikberatkan pada bagaimana perang secara total mengubah (baca, merusak/menghancurkan) kehidupan empat sekawan: Mike (Robert De Niro), Nick (Christopher Walken), Steven (John Savage), dan Stan (John Cazale), yang tinggal di sebuah kota kecil di selatan kota Pittsburgh, AS. Hampir separuh film bersetting di kota tempat tinggal mereka -- menceritakan kehidupan rutin dan kegiatan sehari-2 mereka sebagai pekerja pabrik baja: pulang kerja, pergi ke pub/bar untuk minum, melepas lelah, dan bersosialisasi, menghadiri pesta perkawinan kerabat, dan pergi berburu rusa; penulis script memberi banyak waktu untuk menampilkan masing-2 karakter, kekuatan dan kelemahannya.
Setengah jalan, film tiba-2 berubah arah, meloncat masuk ke dalam scene action -- perang di belantara Vietnam, menimbulkan kontras yang drastis, kesan yang mengena betapa “misplaced” (salah tempat)-nya empat sekawan dari kota yang tenang dan damai di AS tersebut di belantara Vietnam yang “anything but” -- bahaya mengancam di mana-2 dan kematian mengintai di segala waktu. Dari empat sekawan tersebut, ada yang survive, ada yang tewas, ada yang kuat mental, ada yang trauma, ... atau apapun di antaranya.
Arahan Cimino dengan efek slow-burning ini meninggalkan kesan yang mendalam di akhir film. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik (Walken -- siapa yang tidak ingat scene Russian roulette Walken?!); dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Terbaik (De Niro), Aktres Pendukung Terbaik (Meryl Streep -- film pertama Streep dengan peran penting), dan Script Original Terbaik.
2) Apocalypse Now (1979)
Jangan mengira hanya prajurit wajib militer saja yang bisa “edan” gara-2 perang (seperti dalam The Deer Hunter), prajurit profesional-pun tidak luput dari dampak negatif tersebut. Film arahan Francis Ford Coppola ini adalah film anti-perang yang dengan berani menampilkan horor perang: perang menciptakan “monster”!
Kolonel baret hijau, Walter Kurtz (Marlon Brando), adalah prajurit teladan yang memperoleh banyak penghargaan atas prestasinya di perang Vietnam. Suatu saat dia menghilang/desersi (melepaskan diri dari komando atasannya) dan melaksanakan misinya sendiri, bersama prajurit-2 yang lain yang juga desersi, membasmi Viet Cong (dan sekaligus yang lainnya!). Komando atasannya memutuskan bahwa Kurtz sudah menjadi gila dan harus dihentikan. Kapten Benjamin Willard (Martin Sheen), belum sembuh dari trauma perangnya, ditunjuk untuk melacak Kurtz dan membasminya. Pesan komando atasannya jelas dan gamblang: “Terminate with extreme prejudice!”
Horor perang yang ditampilkan dalam film ini, yang pada saat pertama kali dikeluarkan terkesan fiktif, dengan berjalannya waktu ternyata sama sekali tidak fiktif -- faktanya, AS sampai sekarang masih sibuk melacak dan membasmi “monster”-2 perang yang notabene hasil ciptaannya sendiri. Pesan moral dengan universal truth ini dengan meyakinkan memasukkan Apocalypse Now dalam jajaran klasik.
Mungkin karena setahun sebelumnya Academy Awards sudah menghadiahkan Film Terbaik ke film dengan tema yang sama, film ini hanya berhasil menerima nominasi Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Script Adaptasi Terbaik.
3) Platoon (1986)
Orang-2 muda yang naif, yang belum pernah pergi (atau mengalami) perang, sering mempunyai imajinasi patriotisme yang muluk tentang perang -- mungkin seraya membayangkan pepatah masyhur: “Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country.” Inilah imajinasi keliru mahasiswa drop-out, Chris Taylor (Charlie Sheen, anaknya Martin Sheen), dalam film arahan Oliver Stone ini. Idealisme (baca, kenaifan) Chris segera menemui “batu”-nya di medan pertempuran di Vietnam -- apa yang dia lihat sama sekali tidak cocok dengan apa yang ada di dalam peraturan ... let alone Geneva Conventions. Sementara dia berjuang untuk survive, dia akhirnya menyadari bahwa dia menghadapi tidak hanya perang melawan Viet Cong, tetapi juga perang melawan rekan-2 prajurit sepeletonnya sendiri.
Sama seperti Coppola, Stone juga dengan berani menampilkan horor perang. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik; dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik (Tom Berenger dan Willem Dafoe), dan Script Original Terbaik.
4) Full Metal Jacket (1987)
Kalau Coppola menampilkan “monster” perang, film arahan Stanley Kubrick ini menampilkan bagaimana “monster” perang tersebut diciptakan. Bagian pertama film ini betul-2 monumental: menampilkan bagaimana rekrut baru yang naif dan hijau, digojlok -- bastardised and to a certain extent ... brainwashed! (arahan Kubrick di sini betul-2 memukau), untuk dipersiapkan terjun ke medan pertempuran di Vietnam. Setelah bagian pertama yang berat -- bikin hati penonton miris dan jantung deg-2an, bagian kedua (scene action-nya) menjadi terasa ringan :-) Ternyata Kubrick tidak hanya mempersiapkan karakter-2 dalam film ini saja sebelum mereka terjun ke medan pertempuran, Kubrick juga mempersiapkan penonton sebelum kita melihat scene action-nya. Tidakkah ini adalah arahan yang pandai?!
Sama seperti film-2 Kubrick yang lain, anggota Academy Awards membutuhkan waktu yang lama untuk mengapresiasi karya Kubrick ini. Film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik.
The Deer Hunter, Apocalypse Now, Platoon, Full Metal Jacket dapat anda temukan di eBay.com
Empat film berikut ini selain terbaik di genre-nya juga mewakili hampir semua dampak negatif yang timbul akibat peperangan. Impact-nya semakin membekas kalau film-2 ini kita sandingkan dan kita kontraskan dengan apa yang ada dalam Konvensi Jenewa (konvensi yang mengatur perang). Membuat kita sadar betapa ironisnya, betapa mustahil dan sia-2nya, usaha untuk mendefinisikan aturan perang tersebut. Perang pada dasarnya terjadi karena segala upaya yang beraturan tidak berhasil menyelesaikan konflik -- kok sekarang malah perangnya sendiri yang ingin dibuat beraturan, mana mungkin?! :-)
Satirically, empat film perang berikut ini dengan sangat mengena menyampaikan pesan anti-perangnya.
1) The Deer Hunter (1978)
Film arahan sutradara tak ternama, Michael Cimino, ini tidak tergesa-2 masuk ke dalam scene action, tetapi lebih menitikberatkan pada bagaimana perang secara total mengubah (baca, merusak/menghancurkan) kehidupan empat sekawan: Mike (Robert De Niro), Nick (Christopher Walken), Steven (John Savage), dan Stan (John Cazale), yang tinggal di sebuah kota kecil di selatan kota Pittsburgh, AS. Hampir separuh film bersetting di kota tempat tinggal mereka -- menceritakan kehidupan rutin dan kegiatan sehari-2 mereka sebagai pekerja pabrik baja: pulang kerja, pergi ke pub/bar untuk minum, melepas lelah, dan bersosialisasi, menghadiri pesta perkawinan kerabat, dan pergi berburu rusa; penulis script memberi banyak waktu untuk menampilkan masing-2 karakter, kekuatan dan kelemahannya.
Setengah jalan, film tiba-2 berubah arah, meloncat masuk ke dalam scene action -- perang di belantara Vietnam, menimbulkan kontras yang drastis, kesan yang mengena betapa “misplaced” (salah tempat)-nya empat sekawan dari kota yang tenang dan damai di AS tersebut di belantara Vietnam yang “anything but” -- bahaya mengancam di mana-2 dan kematian mengintai di segala waktu. Dari empat sekawan tersebut, ada yang survive, ada yang tewas, ada yang kuat mental, ada yang trauma, ... atau apapun di antaranya.
Arahan Cimino dengan efek slow-burning ini meninggalkan kesan yang mendalam di akhir film. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik (Walken -- siapa yang tidak ingat scene Russian roulette Walken?!); dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Terbaik (De Niro), Aktres Pendukung Terbaik (Meryl Streep -- film pertama Streep dengan peran penting), dan Script Original Terbaik.
2) Apocalypse Now (1979)
Jangan mengira hanya prajurit wajib militer saja yang bisa “edan” gara-2 perang (seperti dalam The Deer Hunter), prajurit profesional-pun tidak luput dari dampak negatif tersebut. Film arahan Francis Ford Coppola ini adalah film anti-perang yang dengan berani menampilkan horor perang: perang menciptakan “monster”!
Kolonel baret hijau, Walter Kurtz (Marlon Brando), adalah prajurit teladan yang memperoleh banyak penghargaan atas prestasinya di perang Vietnam. Suatu saat dia menghilang/desersi (melepaskan diri dari komando atasannya) dan melaksanakan misinya sendiri, bersama prajurit-2 yang lain yang juga desersi, membasmi Viet Cong (dan sekaligus yang lainnya!). Komando atasannya memutuskan bahwa Kurtz sudah menjadi gila dan harus dihentikan. Kapten Benjamin Willard (Martin Sheen), belum sembuh dari trauma perangnya, ditunjuk untuk melacak Kurtz dan membasminya. Pesan komando atasannya jelas dan gamblang: “Terminate with extreme prejudice!”
Horor perang yang ditampilkan dalam film ini, yang pada saat pertama kali dikeluarkan terkesan fiktif, dengan berjalannya waktu ternyata sama sekali tidak fiktif -- faktanya, AS sampai sekarang masih sibuk melacak dan membasmi “monster”-2 perang yang notabene hasil ciptaannya sendiri. Pesan moral dengan universal truth ini dengan meyakinkan memasukkan Apocalypse Now dalam jajaran klasik.
Mungkin karena setahun sebelumnya Academy Awards sudah menghadiahkan Film Terbaik ke film dengan tema yang sama, film ini hanya berhasil menerima nominasi Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Script Adaptasi Terbaik.
3) Platoon (1986)
Orang-2 muda yang naif, yang belum pernah pergi (atau mengalami) perang, sering mempunyai imajinasi patriotisme yang muluk tentang perang -- mungkin seraya membayangkan pepatah masyhur: “Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country.” Inilah imajinasi keliru mahasiswa drop-out, Chris Taylor (Charlie Sheen, anaknya Martin Sheen), dalam film arahan Oliver Stone ini. Idealisme (baca, kenaifan) Chris segera menemui “batu”-nya di medan pertempuran di Vietnam -- apa yang dia lihat sama sekali tidak cocok dengan apa yang ada di dalam peraturan ... let alone Geneva Conventions. Sementara dia berjuang untuk survive, dia akhirnya menyadari bahwa dia menghadapi tidak hanya perang melawan Viet Cong, tetapi juga perang melawan rekan-2 prajurit sepeletonnya sendiri.
Sama seperti Coppola, Stone juga dengan berani menampilkan horor perang. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik; dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik (Tom Berenger dan Willem Dafoe), dan Script Original Terbaik.
4) Full Metal Jacket (1987)
Kalau Coppola menampilkan “monster” perang, film arahan Stanley Kubrick ini menampilkan bagaimana “monster” perang tersebut diciptakan. Bagian pertama film ini betul-2 monumental: menampilkan bagaimana rekrut baru yang naif dan hijau, digojlok -- bastardised and to a certain extent ... brainwashed! (arahan Kubrick di sini betul-2 memukau), untuk dipersiapkan terjun ke medan pertempuran di Vietnam. Setelah bagian pertama yang berat -- bikin hati penonton miris dan jantung deg-2an, bagian kedua (scene action-nya) menjadi terasa ringan :-) Ternyata Kubrick tidak hanya mempersiapkan karakter-2 dalam film ini saja sebelum mereka terjun ke medan pertempuran, Kubrick juga mempersiapkan penonton sebelum kita melihat scene action-nya. Tidakkah ini adalah arahan yang pandai?!
Sama seperti film-2 Kubrick yang lain, anggota Academy Awards membutuhkan waktu yang lama untuk mengapresiasi karya Kubrick ini. Film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik.
Monday, 21 October 2013
His Girl Friday, Adam's Rib, Dirty Rotten Scoundrels, The War of the Roses
Quadruple The Battle of the Sexes!
Elemen paling penting dalam sebuah film adalah konflik. Dan tidak ada konflik yang lebih natural daripada konflik antara pria dan wanita -- sebelum Dr. John Gray menulis buku larisnya yang berjudul “Men Are from Mars, Women Are from Venus,” penulis lagu George Gershwin dan Ira Gershwin sudah menuangkan konflik tersebut dalam lirik lagunya yang kira-2 seperti ini:
“You say either, I say eyether,
you say neither, I say nyther;
You like potayto, I like potahto,
you like tomayto, I like tomahto;”
membuat The Battle of the Sexes tema yang sering diangkat menjadi film. Campuran antara satire dan komedi, ditandai dengan script yang ketat dan dialog yang tajam, empat film berikut ini dijamin membangkitkan tawa, sekaligus self-criticism, kepada penonton.
1) His Girl Friday (1940)
Mengetahui bekas istrinya, Hildy Johnson (Rosalind Russell), akan menikah lagi dan meninggalkan kariernya sebagai reporter jagoan, Walter Burns (Cary Grant) -- yang masih mencintainya -- dengan segala cara berusaha menyabotase rencana tersebut dengan mengiming-2i dia untuk melakukan reportase terakhir tentang berita besar eksekusi Earl Williams (John Qualen).
Dengan dialog yang tajam, tetapi lucu, dan super cepat (subtitle sebaiknya di-“on”-kan!), His Girl Friday adalah screwball comedy dengan kecepatan tinggi. Karakter-2nya nampak karikaturis, namun demikian memang itulah yang diinginkan penulis cerita film ini. Di bawah arahan Howard Hawk, seluruh cast menyadari hal tersebut dan menampilkan akting yang hard, brittle, strained to the breaking point, bahkan lebih dari titik zenith tersebut -- mereka seakan-2 menunggu kamera berhenti merekam sehingga mereka bisa jatuh pingsan ke lantai karena kecapekan.
Film klasik yang tetap “menggigit” walaupun sudah lebih dari 70 tahun sejak release perdananya.
2) Adam's Rib (1949)
Seorang istri membuntuti suaminya dan menemukan dia menyeleweng dengan wanita lain. Dalam keadaan emosional sang istri menembakkan pistolnya ke arah mereka -- salah satu dari pelurunya mengenai bahu suaminya. Sang istri ditangkap dan dijatuhi tuduhan usaha pembunuhan. Adam Bonner (Spencer Tracy), asisten jaksa wilayah, memperoleh tugas menjadi jaksa penuntut dalam kasus tersebut. Mendengar suaminya menjadi jaksa penuntut, Amanda Bonner (Katharine Hepburn), seorang advokat, yang bersimpati pada sang istri, mendatangi sang istri dan menawarkan jasanya sebagai pembela. Dimulai dari ruang pengadilan, perseteruan antara Adam dan “rusuknya” ini merembet masuk ke dalam rumah tangga mereka. Di jaman dimana keseteraan hak dan tanggung-jawab antara pria dan wanita masih belum lazim, sementara Adam bersikap prosedural dan “textbookish”, Amanda menggunakan metode unconventional untuk membangkitkan simpati juri (semuanya pria) dengan mengajak mereka membayangkan seandainya situasinya terbalik.
Dengan judul yang catchy dan bermakna ganda ini, sebagian penonton mungkin menemukan plot ini rada irritating, terutama karena berhubungan dengan tema women's lib -- ketika film keluar pada tahun 1949, tema ini terasa berlebihan; sekarang, terasa ketinggalan jaman. Tetapi faktanya, peristiwa seperti dalam plot ini memang terjadi pada jamannya, dan untuk sebagian tempat di dunia masih terjadi sampai sekarang.
Dikenang sebagai salah satu dari film-2 Tracy-Hepburn yang paling memorable, script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Terbaik.
3) Dirty Rotten Scoundrels (1988)
Empat dasawarsa kemudian jaman berubah, emansipasi menjadi norma standard dalam masyarakat modern. Namun demikian, sebagian prejudice -- terutama reverse-prejudice -- terhadap masing-2 gender masih bertahan. Didukung pemilihan casting yang tepat, pada titik lemah inilah penulis cerita film ini berhasil dengan cerdik memperdaya penonton.
Penipu kelas kakap, Lawrence Jamieson (Michael Caine), melakukan operasinya di pantai wisata “Beaumont-sur-Mer” di French Riviera. Namun demikian, Lawrence mempunyai etika yang tinggi: dia tidak pernah menipu wanita baik-2; mangsanya hanya wanita yang kaya-raya, manja, dan korup -- misalnya, IMHO, wanita seperti Paris Hilton :-) Karena dia adalah pria yang berbudaya, metode penipuannya halus dan sopan. Caine memainkan perannya dengan smooth dan meyakinkan -- membuat penonton langsung bersimpati dengannya :-) Suatu hari, datang penipu kelas teri/kampungan, Freddy Benson (Steve Martin), ke tempat yang sama untuk mencari mangsa. Walaupun kelasnya berbeda, Lawrence merasa terancam dengan kehadiran Freddy. Tidak berhasil mengusir Freddy, mereka akhirnya mengadakan kontes untuk menentukan siapa yang boleh tinggal di tempat tersebut. Kontesnya adalah mengeruk $50,000 dari Janet Colgate (Glenne Headly), yang konon menurut bellboy hotel adalah pewaris perusahaan multi-nasional sabun dan pasta gigi Colgate di AS. Siapa yang duluan mengeruk $50,000, dia yang menang -- yang kalah harus pergi dari tempat tersebut. And the contest begins.
Dipenuhi dengan situation comedy dengan timing yang pas dan slapstick comedy, Caine dan Martin menampilkan chemistry yang luar biasa dinamisnya sebagai duet -- membuat penonton terpusat perhatiannya kepada mereka, sampai-2 tidak terpikir yang lainnya :-) Kocak dari awal sampai akhir, Michael Caine menerima nominasi Golden Globe untuk Aktor Terbaik - Comedy/Musical (dikalahkan oleh Tom Hanks dalam Big (1988) -- tahun yang bagus untuk film-2 drama komedi).
4) The War of the Roses (1989)
Termasuk salah satu dari screen couples yang paling memorable, Danny DeVito mengemban tanggung-jawab yang besar sebagai sutradara film ini, mempertemukan kembali untuk ketiga dan terakhir kalinya Michael Douglas dan Kathleen Turner, setelah sukses besar mereka dalam Romancing the Stone (1984) dan The Jewel of the Nile (1985). Chemistry positif/cinta antara mereka berdua dalam dua film tersebut tertransformasi dengan sangat baik menjadi chemistry negatif/benci dalam black comedy tentang perceraian ini -- membuat penonton langsung percaya dengan situasi mereka.
Oliver Rose (Douglas) dan Barbara Rose (Turner) adalah pasangan suami-istri dengan dua anak. Awalnya perkawinan mereka nampak perfect, dengan Oliver bekerja sebagai pengacara dan Barbara tinggal di rumah mengurus rumah tangga. Dengan berjalannya waktu, Oliver semakin menanjak kariernya, sedang Barbara semakin restless (tidak puas) dan mulai menyimpan resentment, bitterness (tidak suka) terhadap Oliver. Suatu hari ketika Oliver terkena serangan jantung, Barbara mula-2 terkejut dan concern, tetapi kemudian merasa relief (lega) terhadap kemungkinan Oliver jatuh mati! :-) Tetapi karena Oliver tidak jadi mati, Barbara akhirnya minta cerai, dan Oliver setuju. Perseteruan merebak ketika Barbara menuntut pembagian harta yang Oliver tidak bersedia memberikannya. Dan perseteruan meningkat terus, terus, dan terus, dan tetap tidak ada yang mau mengalah ... sampai titik darah penghabisan. Akhir yang memorable dari duet Douglas-Turner.
Filmya menerima nominasi Golden Globe untuk Film Terbaik - Comedy/Musical; Michael Douglas dan Kathleen Turner masing-2 menerima nominasi Golden Globe untuk Aktor dan Aktres Terbaik - Comedy/Musical.
His Girl Friday, Adam's Rib, Dirty Rotten Scoundrels, The War of the Roses dapat anda temukan di eBay.com
Elemen paling penting dalam sebuah film adalah konflik. Dan tidak ada konflik yang lebih natural daripada konflik antara pria dan wanita -- sebelum Dr. John Gray menulis buku larisnya yang berjudul “Men Are from Mars, Women Are from Venus,” penulis lagu George Gershwin dan Ira Gershwin sudah menuangkan konflik tersebut dalam lirik lagunya yang kira-2 seperti ini:
“You say either, I say eyether,
you say neither, I say nyther;
You like potayto, I like potahto,
you like tomayto, I like tomahto;”
membuat The Battle of the Sexes tema yang sering diangkat menjadi film. Campuran antara satire dan komedi, ditandai dengan script yang ketat dan dialog yang tajam, empat film berikut ini dijamin membangkitkan tawa, sekaligus self-criticism, kepada penonton.
1) His Girl Friday (1940)
Mengetahui bekas istrinya, Hildy Johnson (Rosalind Russell), akan menikah lagi dan meninggalkan kariernya sebagai reporter jagoan, Walter Burns (Cary Grant) -- yang masih mencintainya -- dengan segala cara berusaha menyabotase rencana tersebut dengan mengiming-2i dia untuk melakukan reportase terakhir tentang berita besar eksekusi Earl Williams (John Qualen).
Dengan dialog yang tajam, tetapi lucu, dan super cepat (subtitle sebaiknya di-“on”-kan!), His Girl Friday adalah screwball comedy dengan kecepatan tinggi. Karakter-2nya nampak karikaturis, namun demikian memang itulah yang diinginkan penulis cerita film ini. Di bawah arahan Howard Hawk, seluruh cast menyadari hal tersebut dan menampilkan akting yang hard, brittle, strained to the breaking point, bahkan lebih dari titik zenith tersebut -- mereka seakan-2 menunggu kamera berhenti merekam sehingga mereka bisa jatuh pingsan ke lantai karena kecapekan.
Film klasik yang tetap “menggigit” walaupun sudah lebih dari 70 tahun sejak release perdananya.
2) Adam's Rib (1949)
Seorang istri membuntuti suaminya dan menemukan dia menyeleweng dengan wanita lain. Dalam keadaan emosional sang istri menembakkan pistolnya ke arah mereka -- salah satu dari pelurunya mengenai bahu suaminya. Sang istri ditangkap dan dijatuhi tuduhan usaha pembunuhan. Adam Bonner (Spencer Tracy), asisten jaksa wilayah, memperoleh tugas menjadi jaksa penuntut dalam kasus tersebut. Mendengar suaminya menjadi jaksa penuntut, Amanda Bonner (Katharine Hepburn), seorang advokat, yang bersimpati pada sang istri, mendatangi sang istri dan menawarkan jasanya sebagai pembela. Dimulai dari ruang pengadilan, perseteruan antara Adam dan “rusuknya” ini merembet masuk ke dalam rumah tangga mereka. Di jaman dimana keseteraan hak dan tanggung-jawab antara pria dan wanita masih belum lazim, sementara Adam bersikap prosedural dan “textbookish”, Amanda menggunakan metode unconventional untuk membangkitkan simpati juri (semuanya pria) dengan mengajak mereka membayangkan seandainya situasinya terbalik.
Dengan judul yang catchy dan bermakna ganda ini, sebagian penonton mungkin menemukan plot ini rada irritating, terutama karena berhubungan dengan tema women's lib -- ketika film keluar pada tahun 1949, tema ini terasa berlebihan; sekarang, terasa ketinggalan jaman. Tetapi faktanya, peristiwa seperti dalam plot ini memang terjadi pada jamannya, dan untuk sebagian tempat di dunia masih terjadi sampai sekarang.
Dikenang sebagai salah satu dari film-2 Tracy-Hepburn yang paling memorable, script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Terbaik.
3) Dirty Rotten Scoundrels (1988)
Empat dasawarsa kemudian jaman berubah, emansipasi menjadi norma standard dalam masyarakat modern. Namun demikian, sebagian prejudice -- terutama reverse-prejudice -- terhadap masing-2 gender masih bertahan. Didukung pemilihan casting yang tepat, pada titik lemah inilah penulis cerita film ini berhasil dengan cerdik memperdaya penonton.
Penipu kelas kakap, Lawrence Jamieson (Michael Caine), melakukan operasinya di pantai wisata “Beaumont-sur-Mer” di French Riviera. Namun demikian, Lawrence mempunyai etika yang tinggi: dia tidak pernah menipu wanita baik-2; mangsanya hanya wanita yang kaya-raya, manja, dan korup -- misalnya, IMHO, wanita seperti Paris Hilton :-) Karena dia adalah pria yang berbudaya, metode penipuannya halus dan sopan. Caine memainkan perannya dengan smooth dan meyakinkan -- membuat penonton langsung bersimpati dengannya :-) Suatu hari, datang penipu kelas teri/kampungan, Freddy Benson (Steve Martin), ke tempat yang sama untuk mencari mangsa. Walaupun kelasnya berbeda, Lawrence merasa terancam dengan kehadiran Freddy. Tidak berhasil mengusir Freddy, mereka akhirnya mengadakan kontes untuk menentukan siapa yang boleh tinggal di tempat tersebut. Kontesnya adalah mengeruk $50,000 dari Janet Colgate (Glenne Headly), yang konon menurut bellboy hotel adalah pewaris perusahaan multi-nasional sabun dan pasta gigi Colgate di AS. Siapa yang duluan mengeruk $50,000, dia yang menang -- yang kalah harus pergi dari tempat tersebut. And the contest begins.
Dipenuhi dengan situation comedy dengan timing yang pas dan slapstick comedy, Caine dan Martin menampilkan chemistry yang luar biasa dinamisnya sebagai duet -- membuat penonton terpusat perhatiannya kepada mereka, sampai-2 tidak terpikir yang lainnya :-) Kocak dari awal sampai akhir, Michael Caine menerima nominasi Golden Globe untuk Aktor Terbaik - Comedy/Musical (dikalahkan oleh Tom Hanks dalam Big (1988) -- tahun yang bagus untuk film-2 drama komedi).
4) The War of the Roses (1989)
Termasuk salah satu dari screen couples yang paling memorable, Danny DeVito mengemban tanggung-jawab yang besar sebagai sutradara film ini, mempertemukan kembali untuk ketiga dan terakhir kalinya Michael Douglas dan Kathleen Turner, setelah sukses besar mereka dalam Romancing the Stone (1984) dan The Jewel of the Nile (1985). Chemistry positif/cinta antara mereka berdua dalam dua film tersebut tertransformasi dengan sangat baik menjadi chemistry negatif/benci dalam black comedy tentang perceraian ini -- membuat penonton langsung percaya dengan situasi mereka.
Oliver Rose (Douglas) dan Barbara Rose (Turner) adalah pasangan suami-istri dengan dua anak. Awalnya perkawinan mereka nampak perfect, dengan Oliver bekerja sebagai pengacara dan Barbara tinggal di rumah mengurus rumah tangga. Dengan berjalannya waktu, Oliver semakin menanjak kariernya, sedang Barbara semakin restless (tidak puas) dan mulai menyimpan resentment, bitterness (tidak suka) terhadap Oliver. Suatu hari ketika Oliver terkena serangan jantung, Barbara mula-2 terkejut dan concern, tetapi kemudian merasa relief (lega) terhadap kemungkinan Oliver jatuh mati! :-) Tetapi karena Oliver tidak jadi mati, Barbara akhirnya minta cerai, dan Oliver setuju. Perseteruan merebak ketika Barbara menuntut pembagian harta yang Oliver tidak bersedia memberikannya. Dan perseteruan meningkat terus, terus, dan terus, dan tetap tidak ada yang mau mengalah ... sampai titik darah penghabisan. Akhir yang memorable dari duet Douglas-Turner.
Filmya menerima nominasi Golden Globe untuk Film Terbaik - Comedy/Musical; Michael Douglas dan Kathleen Turner masing-2 menerima nominasi Golden Globe untuk Aktor dan Aktres Terbaik - Comedy/Musical.
Penulis :
Harlani Salim
at
13:25
Kategori:
1940s,
1980s,
Cary Grant,
Katharine Hepburn,
Spencer Tracy
Friday, 20 September 2013
Going My Way, From Here to Eternity, Moonstruck
Triple Singers Turned Into Actors!

Hampir semua penyanyi pernah tampil dalam film, mencoba menjadi aktor, tetapi tidak banyak yang berhasil. Akting ternyata tidak segampang yang kita bayangkan. 3 “Singers Turned Into Actors” berikut ini penulis pilih karena masing-2 pernah memenangkan Oscar untuk peran Non-Singing dan lebih dari 1 kali menerima nominasi Oscar juga untuk peran Non-Singing. Singkat kata, penyanyi dengan peran tidak menyanyi. Dengan demikian, Barbra Streisand tidak penulis tampilkan kali ini karena walaupun dia pernah memenangkan Oscar, perannya adalah peran menyanyi: Funny Girl (1968). Barbra Streisand bisa menyanyi dengan sangat baik dan meyakinkan? ... well, of course! :-)
1) Going My Way (1944)
Bing Crosby.
Film garapan Leo McCarey ini adalah film sederhana tentang orang-2 yang sederhana dalam setting cerita yang sederhana pula. Father O'Malley (Bing Crosby), seorang pastor muda, dikirim ke paroki St. Dominic’s di New York City untuk menjadi asisten dari Father Fitzgibbon (Barry Fitzgerald), pastor paroki yang sudah tua. Berbeda dari gaya pastor paroki yang kaku dan kolot, Father O'Malley lebih fleksibel dan terbuka terhadap perubahan. Tidak menyukai gaya Father O'Malley, Father Fitzgibbon melaporkan dirinya ke pemimpin gereja untuk mengeluarkannya dari parokinya. Tetapi pemimpin gereja memberitahu Father Fitzgibbon bahwa Father O'Malley dikirim ke parokinya bukan untuk menjadi asistennya, tetapi untuk menggantikannya. Father O'Malley menghadapi berbagai masalah paroki dengan pendekatan humanisme yang hangat dan bersahabat (karena memang itulah gayanya, “his way”, “going his way”): mulai dari umat yang kehilangan rumahnya, wanita muda yang melarikan diri dari rumah orangtuanya, gerombolan anak muda yang sering berurusan dengan polisi, bekas pacar O'Malley yang sekarang menjadi penyanyi opera ternama, dan sekarang ditambah dengan Father Fitzgibbon yang distressed dan melarikan diri dari parokinya :-) Mampukah O'Malley menyelesaikan misinya di St. Dominic’s? Script dengan rapi menjalin semua sub-plot yang ada menuju akhir yang bittersweet, just like life itself.
Film pemenang Film Terbaik Oscar 1945 ini adalah film sederhana yang indah dan mengesankan.
2) From Here to Eternity (1953)
Frank Sinatra.
Cerita saga tentang “trials and tribulations”, masalah dan ujian, dari tiga prajurit, Sergeant Milton Warden (Burt Lancaster), Private Robert E. Lee Prewitt (Montgomery Clift), dan Private Angelo Maggio (Frank Sinatra), menjelang serangan Jepang ke Pearl Harbour di Hawaii. Diingat penonton dengan scene klasik Burt Lancaster dan Deborah Kerr berciuman di pantai Oahu, Hawaii, sementara ombak lautan Pasifik menerpa mereka, cerita saga dari novel dengan judul yang sama karya James Jones ini mempunyai detil cerita dan karakterisasi yang sangat baik -- dan berkat script yang jeli detil tersebut tidak hilang dalam proses adaptasi. Didukung oleh akting yang mumpuni dari cast utamanya, Frank Sinatra dan Donna Reed berhasil mencuri perhatian para film critic dan masing-2 menggondol Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik.
Film pemenang Film Terbaik Oscar 1954, bertahan klasik sampai saat ini.
3) Moonstruck (1987)
Cher.
Despite kenyentrikan dirinya, Cher adalah aktres yang mumpuni. Empat tahun sebelumnya, dia tampil bersama Meryl Streep dalam Silkwood (1983) dan mampu mengimbangi akting Streep -- dia menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik. Dalam film ini, bersetting dalam keluarga imigran Itali di New York City, Cher sekali lagi membuktikan dirinya memang bisa akting.
Dibesarkan dalam tradisi Itali, Loretta Castorini (Cher) baru saja menjanda gara-2 suaminya mati ditabrak bis. Percaya bahwa nasib buruk tersebut terjadi gara-2 perkawinannya tidak direstui orangtuanya dan tidak dilakukan di gereja, kali ini setelah dia menemukan calon suami baru, Johnny, seorang imigran Itali juga, dia memastikan bahwa dia mematuhi semua tradisi Itali agar perkawinan tersebut lancar. Loretta sesungguhnya tidak cinta dengan Johnny, tetapi karena orangtuanya suka dengannya, Loretta bersedia kawin dengannya. Lebih komplet lagi, Johnny ternyata adalah pria yang juga mematuhi tradisi Itali. It seems like a perfect match! :-) Ketika Johnny pulang ke Sicilia untuk minta restu ibunya, Loretta bertemu dengan adik Johnny, Ronny (Nicolas Cage), yang sifat dan sikapnya kebalikan dari saudaranya. And they fell in love ... dan komplikasi timbul.
Cerita dengan setting keluarga Itali memberi nuansa baru dan menyegarkan, karena tidak seperti biasanya (keluarga Anglo), mereka tidak sungkan-2 ceplas-ceplos ngomong sesuatu yang termasuk “politically incorrect”. Hasilnya, dialog-2 yang tajam, tanpa tedeng aling-2, very funny! Melihat keluarga dalam film ini bagaikan berkaca melihat keluarga sendiri :-) Good or embarassing, it's my family. 15 tahun kemudian, Nia Vardalos, me-reprise cerita yang mirip dalam My Big Fat Greek Wedding (2002) -- kali ini bersetting dalam keluarga imigran Yunani.
Menerima nominasi Film Terbaik Oscar 1988, Cher dan Olympia Dukakis masing-2 menggondol Oscar untuk Aktres Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik. Sayang sekali Cher tidak tampil lebih banyak dalam film-2 drama.
Going My Way, From Here to Eternity, Moonstruck dapat anda temukan di eBay.com

Hampir semua penyanyi pernah tampil dalam film, mencoba menjadi aktor, tetapi tidak banyak yang berhasil. Akting ternyata tidak segampang yang kita bayangkan. 3 “Singers Turned Into Actors” berikut ini penulis pilih karena masing-2 pernah memenangkan Oscar untuk peran Non-Singing dan lebih dari 1 kali menerima nominasi Oscar juga untuk peran Non-Singing. Singkat kata, penyanyi dengan peran tidak menyanyi. Dengan demikian, Barbra Streisand tidak penulis tampilkan kali ini karena walaupun dia pernah memenangkan Oscar, perannya adalah peran menyanyi: Funny Girl (1968). Barbra Streisand bisa menyanyi dengan sangat baik dan meyakinkan? ... well, of course! :-)
1) Going My Way (1944)
Bing Crosby.
Film garapan Leo McCarey ini adalah film sederhana tentang orang-2 yang sederhana dalam setting cerita yang sederhana pula. Father O'Malley (Bing Crosby), seorang pastor muda, dikirim ke paroki St. Dominic’s di New York City untuk menjadi asisten dari Father Fitzgibbon (Barry Fitzgerald), pastor paroki yang sudah tua. Berbeda dari gaya pastor paroki yang kaku dan kolot, Father O'Malley lebih fleksibel dan terbuka terhadap perubahan. Tidak menyukai gaya Father O'Malley, Father Fitzgibbon melaporkan dirinya ke pemimpin gereja untuk mengeluarkannya dari parokinya. Tetapi pemimpin gereja memberitahu Father Fitzgibbon bahwa Father O'Malley dikirim ke parokinya bukan untuk menjadi asistennya, tetapi untuk menggantikannya. Father O'Malley menghadapi berbagai masalah paroki dengan pendekatan humanisme yang hangat dan bersahabat (karena memang itulah gayanya, “his way”, “going his way”): mulai dari umat yang kehilangan rumahnya, wanita muda yang melarikan diri dari rumah orangtuanya, gerombolan anak muda yang sering berurusan dengan polisi, bekas pacar O'Malley yang sekarang menjadi penyanyi opera ternama, dan sekarang ditambah dengan Father Fitzgibbon yang distressed dan melarikan diri dari parokinya :-) Mampukah O'Malley menyelesaikan misinya di St. Dominic’s? Script dengan rapi menjalin semua sub-plot yang ada menuju akhir yang bittersweet, just like life itself.
Film pemenang Film Terbaik Oscar 1945 ini adalah film sederhana yang indah dan mengesankan.
2) From Here to Eternity (1953)
Frank Sinatra.
Cerita saga tentang “trials and tribulations”, masalah dan ujian, dari tiga prajurit, Sergeant Milton Warden (Burt Lancaster), Private Robert E. Lee Prewitt (Montgomery Clift), dan Private Angelo Maggio (Frank Sinatra), menjelang serangan Jepang ke Pearl Harbour di Hawaii. Diingat penonton dengan scene klasik Burt Lancaster dan Deborah Kerr berciuman di pantai Oahu, Hawaii, sementara ombak lautan Pasifik menerpa mereka, cerita saga dari novel dengan judul yang sama karya James Jones ini mempunyai detil cerita dan karakterisasi yang sangat baik -- dan berkat script yang jeli detil tersebut tidak hilang dalam proses adaptasi. Didukung oleh akting yang mumpuni dari cast utamanya, Frank Sinatra dan Donna Reed berhasil mencuri perhatian para film critic dan masing-2 menggondol Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik.
Film pemenang Film Terbaik Oscar 1954, bertahan klasik sampai saat ini.
3) Moonstruck (1987)
Cher.
Despite kenyentrikan dirinya, Cher adalah aktres yang mumpuni. Empat tahun sebelumnya, dia tampil bersama Meryl Streep dalam Silkwood (1983) dan mampu mengimbangi akting Streep -- dia menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik. Dalam film ini, bersetting dalam keluarga imigran Itali di New York City, Cher sekali lagi membuktikan dirinya memang bisa akting.
Dibesarkan dalam tradisi Itali, Loretta Castorini (Cher) baru saja menjanda gara-2 suaminya mati ditabrak bis. Percaya bahwa nasib buruk tersebut terjadi gara-2 perkawinannya tidak direstui orangtuanya dan tidak dilakukan di gereja, kali ini setelah dia menemukan calon suami baru, Johnny, seorang imigran Itali juga, dia memastikan bahwa dia mematuhi semua tradisi Itali agar perkawinan tersebut lancar. Loretta sesungguhnya tidak cinta dengan Johnny, tetapi karena orangtuanya suka dengannya, Loretta bersedia kawin dengannya. Lebih komplet lagi, Johnny ternyata adalah pria yang juga mematuhi tradisi Itali. It seems like a perfect match! :-) Ketika Johnny pulang ke Sicilia untuk minta restu ibunya, Loretta bertemu dengan adik Johnny, Ronny (Nicolas Cage), yang sifat dan sikapnya kebalikan dari saudaranya. And they fell in love ... dan komplikasi timbul.
Cerita dengan setting keluarga Itali memberi nuansa baru dan menyegarkan, karena tidak seperti biasanya (keluarga Anglo), mereka tidak sungkan-2 ceplas-ceplos ngomong sesuatu yang termasuk “politically incorrect”. Hasilnya, dialog-2 yang tajam, tanpa tedeng aling-2, very funny! Melihat keluarga dalam film ini bagaikan berkaca melihat keluarga sendiri :-) Good or embarassing, it's my family. 15 tahun kemudian, Nia Vardalos, me-reprise cerita yang mirip dalam My Big Fat Greek Wedding (2002) -- kali ini bersetting dalam keluarga imigran Yunani.
Menerima nominasi Film Terbaik Oscar 1988, Cher dan Olympia Dukakis masing-2 menggondol Oscar untuk Aktres Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik. Sayang sekali Cher tidak tampil lebih banyak dalam film-2 drama.
Friday, 6 September 2013
Deliverance, Frantic, The Impossible
Triple Holidays Turned Into Nightmare!
Siapa yang nyangka bahwa nasib buruk bisa datang ketika kita sedang liburan? Memangnya, siapa sih yang bertujuan mencelakai orang yang sedang liburan? Orang yang predisposisi setiap harinya waspada-pun, ketika liburan dia akan bersikap rileks dan tidak cepat menaruh kecurigaan terhadap hal-2 yang nampak sepele.
Tetapi menurut tiga film berikut ini nasib buruk ternyata bisa datang di waktu yang kita paling tidak waspada tersebut.
1) Deliverance (1972)
Empat sekawan, Lewis (Burt Reynolds), Ed (Jon Voight), Bobby (Ned Beatty), dan Drew (Ronny Cox), memutuskan pergi berakhir pekan dengan ber-canoe di sebuah sungai di belantara terpencil di negara bagian Georgia sebelah utara. Lewis dan Ed sudah berpengalaman, sedang Bobby dan Drew adalah “newbies” -- baru pertama kali ini pergi ke belantara. Sesampai di tempat tujuan mereka bertemu dengan penduduk lokal yang uncivilized dan nampak hasil inbreeding (perkawinan terlalu dekat antara keluarga). Lewis dan Ed meyakinkan Bobby dan Drew bahwa mereka tidak apa-2. Tetapi Bobby dan Drew khawatir dan mempunyai firasat buruk. Entah apa.
Di akhir film, salah satu dari empat sekawan tersebut tewas dan yang lainnya bersumpah tidak bercerita tentang pengalaman tersebut kepada siapapun seumur hidup mereka. Nightmare ini sebaiknya dikubur saja -- karena kalau diceritakan, memangnya siapa sih yang mau percaya?
Film arahan John Boorman dengan rating 94% di Rotten Tomatoes ini betul-2 original dan berhasil dengan sangat baik membangkitkan “primal fear” dalam diri kita. Classic.
Hati-2 kalau pergi camping/canoe ke daerah terpencil :-)
2) Frantic (1988)
Lima tahun sebelum memerankan dokter yang kehilangan istrinya akibat pembunuhan, Harrison Ford sudah memerankan dokter yang juga kehilangan istrinya! :-) Tetapi kali ini bukan akibat pembunuhan, tetapi hilang begitu saja. Just vanished, without a trace!
Sambil mengunjungi konferensi kedokteran, suami-istri Dr. & Mrs. Walker siap berbulan madu kedua di kota paling romantis di dunia, Paris. Tiba di Paris pagi hari, masih jet-lagged, mereka langsung check-in ke hotel. Sementara istrinya mulai membongkar bagasi mereka, sang suami pergi mandi. Di saat paling kritis dalam film ini sutradara Roman Polanski dengan sangat pandai menempatkan kamera dari sisi suami yang sedang mandi, dengan suara air mengalir deras memekakkan telinga suami (penonton) -- dia (penonton) sayup-2 mendengar telpon berdering dan istrinya mengucapkan sesuatu. Kemudian kamera bergerak perlahan-2 menuju sudut pintu kamar mandi mengikuti gerakan terakhir istrinya. Sang suami menyelesaikan mandinya, mencukur jenggotnya, memesan makan pagi, membaca koran, dan ... ketiduran. Bangun kesiangan, istrinya ternyata belum kembali juga ke kamar. Kemana gerangan istrinya? Hilang, tanpa jejak.
Tidak bisa lagi bekerja di AS, Polanski menyelesaikan seluruh film ini di Perancis. Dari segi thriller film ini sama sekali tidak kalah dengan The Fugitive (1993). Dari segi akting, Ford sebagai suami yang desperate membongkar teka-teki yang misterius ini, juga tidak kalah dengan aktingnya dalam The Fugitive. Musik dari Ennio Morricone, walaupun beliau berasal dari Itali, terdengar begitu melankolis Perancis-nya, menghantui dari awal sampai akhir film, dengan menyertakan alat musik akordion. Memperoleh rating tinggi dari para film critic, tetapi gagal di box-office AS, satu-2nya kekurangan film ini adalah tidak bersetting di AS dan saat itu (bahkan sampai saat ini) Polanski masih di-“persona non grata” oleh publik AS.
Hati-2 kalau ngambil bagasi :-)
3) The Impossible (2012)
Berdasarkan kisah nyata tentang keluarga Spanyol yang sedang liburan di Thailand ketika tsunami tanggal 26 Desember 2004 menghantam hotel di mana mereka menginap di pantai Khao Lak, Thailand. Film ini tidak hanya menampilkan nasib buruk yang bisa datang sewaktu-2, bagaikan pencuri di malam hari, tetapi juga mukjizat yang bisa terjadi darinya. Musibah seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, mengapa terjadinya pas ketika mereka berlibur di sana? Mukjizatnya, sementara hampir semua orang kehilangan anggota keluarganya, keluarga ini seluruh anggotanya berhasil lolos dari maut. It's impossible!
Sayang sekali film produksi Spanyol ini cepat-2 memutuskan meng-“inggris”-kan film ini dengan meng-cast Naomi Watts dan Ewan McGregor sebagai keluarga Inggris yang sedang berlibur ke Thailand. Padahal ada banyak aktor dan aktres Spanyol yang mampu memainkan peran ini dengan sangat baik juga. Mungkin karena alasan distribusi -- mungkin takut jangkauan distribusinya tidak seluas kalau filmnya dibuat dalam bahasa Inggris. But anyway, it's an inspiring and uplifting film.
Selama liburan kita hanya bisa berdoa saja moga-2 tidak ada musibah.
Deliverance, Frantic, The Impossible dapat anda temukan di eBay.com
Siapa yang nyangka bahwa nasib buruk bisa datang ketika kita sedang liburan? Memangnya, siapa sih yang bertujuan mencelakai orang yang sedang liburan? Orang yang predisposisi setiap harinya waspada-pun, ketika liburan dia akan bersikap rileks dan tidak cepat menaruh kecurigaan terhadap hal-2 yang nampak sepele.
Tetapi menurut tiga film berikut ini nasib buruk ternyata bisa datang di waktu yang kita paling tidak waspada tersebut.
1) Deliverance (1972)
Empat sekawan, Lewis (Burt Reynolds), Ed (Jon Voight), Bobby (Ned Beatty), dan Drew (Ronny Cox), memutuskan pergi berakhir pekan dengan ber-canoe di sebuah sungai di belantara terpencil di negara bagian Georgia sebelah utara. Lewis dan Ed sudah berpengalaman, sedang Bobby dan Drew adalah “newbies” -- baru pertama kali ini pergi ke belantara. Sesampai di tempat tujuan mereka bertemu dengan penduduk lokal yang uncivilized dan nampak hasil inbreeding (perkawinan terlalu dekat antara keluarga). Lewis dan Ed meyakinkan Bobby dan Drew bahwa mereka tidak apa-2. Tetapi Bobby dan Drew khawatir dan mempunyai firasat buruk. Entah apa.
Di akhir film, salah satu dari empat sekawan tersebut tewas dan yang lainnya bersumpah tidak bercerita tentang pengalaman tersebut kepada siapapun seumur hidup mereka. Nightmare ini sebaiknya dikubur saja -- karena kalau diceritakan, memangnya siapa sih yang mau percaya?
Film arahan John Boorman dengan rating 94% di Rotten Tomatoes ini betul-2 original dan berhasil dengan sangat baik membangkitkan “primal fear” dalam diri kita. Classic.
Hati-2 kalau pergi camping/canoe ke daerah terpencil :-)
2) Frantic (1988)
Lima tahun sebelum memerankan dokter yang kehilangan istrinya akibat pembunuhan, Harrison Ford sudah memerankan dokter yang juga kehilangan istrinya! :-) Tetapi kali ini bukan akibat pembunuhan, tetapi hilang begitu saja. Just vanished, without a trace!
Sambil mengunjungi konferensi kedokteran, suami-istri Dr. & Mrs. Walker siap berbulan madu kedua di kota paling romantis di dunia, Paris. Tiba di Paris pagi hari, masih jet-lagged, mereka langsung check-in ke hotel. Sementara istrinya mulai membongkar bagasi mereka, sang suami pergi mandi. Di saat paling kritis dalam film ini sutradara Roman Polanski dengan sangat pandai menempatkan kamera dari sisi suami yang sedang mandi, dengan suara air mengalir deras memekakkan telinga suami (penonton) -- dia (penonton) sayup-2 mendengar telpon berdering dan istrinya mengucapkan sesuatu. Kemudian kamera bergerak perlahan-2 menuju sudut pintu kamar mandi mengikuti gerakan terakhir istrinya. Sang suami menyelesaikan mandinya, mencukur jenggotnya, memesan makan pagi, membaca koran, dan ... ketiduran. Bangun kesiangan, istrinya ternyata belum kembali juga ke kamar. Kemana gerangan istrinya? Hilang, tanpa jejak.
Tidak bisa lagi bekerja di AS, Polanski menyelesaikan seluruh film ini di Perancis. Dari segi thriller film ini sama sekali tidak kalah dengan The Fugitive (1993). Dari segi akting, Ford sebagai suami yang desperate membongkar teka-teki yang misterius ini, juga tidak kalah dengan aktingnya dalam The Fugitive. Musik dari Ennio Morricone, walaupun beliau berasal dari Itali, terdengar begitu melankolis Perancis-nya, menghantui dari awal sampai akhir film, dengan menyertakan alat musik akordion. Memperoleh rating tinggi dari para film critic, tetapi gagal di box-office AS, satu-2nya kekurangan film ini adalah tidak bersetting di AS dan saat itu (bahkan sampai saat ini) Polanski masih di-“persona non grata” oleh publik AS.
Hati-2 kalau ngambil bagasi :-)
3) The Impossible (2012)
Berdasarkan kisah nyata tentang keluarga Spanyol yang sedang liburan di Thailand ketika tsunami tanggal 26 Desember 2004 menghantam hotel di mana mereka menginap di pantai Khao Lak, Thailand. Film ini tidak hanya menampilkan nasib buruk yang bisa datang sewaktu-2, bagaikan pencuri di malam hari, tetapi juga mukjizat yang bisa terjadi darinya. Musibah seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, mengapa terjadinya pas ketika mereka berlibur di sana? Mukjizatnya, sementara hampir semua orang kehilangan anggota keluarganya, keluarga ini seluruh anggotanya berhasil lolos dari maut. It's impossible!
Sayang sekali film produksi Spanyol ini cepat-2 memutuskan meng-“inggris”-kan film ini dengan meng-cast Naomi Watts dan Ewan McGregor sebagai keluarga Inggris yang sedang berlibur ke Thailand. Padahal ada banyak aktor dan aktres Spanyol yang mampu memainkan peran ini dengan sangat baik juga. Mungkin karena alasan distribusi -- mungkin takut jangkauan distribusinya tidak seluas kalau filmnya dibuat dalam bahasa Inggris. But anyway, it's an inspiring and uplifting film.
Selama liburan kita hanya bisa berdoa saja moga-2 tidak ada musibah.
Saturday, 10 August 2013
The China Syndrome, Silkwood, Erin Brockovich
Triple Environmental Pollution!
Tiga perusahaan penghasil energi menyembunyikan fakta buruk dari mata publik.
Sering luput dari concern kita bahwa produksi (dan konsumsi) energi sering dibarengi dengan produksi limbah yang mencemari lingkungan -- dan karena kita hidup di dalamnya, limbah tersebut juga mencemari kesehatan kita. Sadar atau tidak, kita sering tidak ingin memikirkan hal tersebut -- mungkin karena subconsciously kita mempunyai harapan bahwa planet kita mampu dengan sendirinya membersihkan segala kotoran tersebut. So, tidak mengherankan kalau topik pencemaran lingkungan bukan topik yang hot untuk difilmkan -- film-2nya sering terasa kering karena mengandung banyak jargon atau terminologi hukum dan teknis.
The China Syndrome (1979)
Tiga tahun setelah All the President's Men yang membongkar skandal riel Watergate, dalam film fiksi ini Jane Fonda berperan sebagai investigative journalist, Kimberly Wells, yang membongkar kelalaian prosedur keamanan di perusahaan pembangkit listrik bertenaga nuklir di Los Angeles. Coincidently, dua minggu sebelum film ini diputar, reaktor nuklir di negara bagian Pennsylvania mengalami kecelakaan yang sama seperti cerita dalam film ini. Setelah itu kita menyaksikan dua kecelakaan nuklir yang lain dengan skala yang sama, yaitu di Chernobyl, USSR, dan baru-2 ini di Fukushima, Jepang. So, walaupun fiktif film ini mempunyai dasar yang ilmiah. Peran Fonda dalam film ini terasa sama persis seperti dalam kehidupan nyatanya sebagai seorang social activist. Tetapi Jack Lemmon-lah yang aktingnya menciptakan realisme dari film “near miss” ini.
Silkwood (1983)
Lagi-2 perusahaan yang berhubungan dengan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Berdasarkan kisah nyata, perusahaan ini berusaha meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya. Hmmm, ada berapa banyak ya perusahaan yang meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya?? Dan di perusahaan ini resikonya tidak main-2: pencemaran radioaktif terhadap karyawannya. Dan mereka yang mengetahuinya justru menutup-nutupinya. Akhirnya karyawan sendiri yang harus turun tangan menyelidiki dan memperkarakan bosnya. Dan berakibat fatal! Selepas dari Sophie's Choice (1982), Meryl Streep dengan sangat meyakinkan memainkan perannya sebagai buruh pekerja.
Erin Brockovich (2000)
Berdasarkan kisah nyata juga, perusahaan penghasil gas alam di California ini sudah lama mencemari air tanah di daerah sekitarnya dan menutup-nutupi fakta yang mendatangkan bencana kesehatan terhadap penduduk di daerah tersebut ... sampai seorang wanita pengangguran yang sedang magang di kantor pengacara Edward Masry datang. Untuk tema yang maha penting ini, walaupun penampilan Julia Roberts tidak terlalu berbeda dari penampilan sepuluh tahun sebelumnya dalam Pretty Woman (she only looks older and a little bit wiser here :-)), Roberts berhasil menggondol piala Oscar untuk Aktres Terbaik.
The China Syndrome, Silkwood, Erin Brockovich dapat anda temukan di eBay.com
Tiga perusahaan penghasil energi menyembunyikan fakta buruk dari mata publik.
Sering luput dari concern kita bahwa produksi (dan konsumsi) energi sering dibarengi dengan produksi limbah yang mencemari lingkungan -- dan karena kita hidup di dalamnya, limbah tersebut juga mencemari kesehatan kita. Sadar atau tidak, kita sering tidak ingin memikirkan hal tersebut -- mungkin karena subconsciously kita mempunyai harapan bahwa planet kita mampu dengan sendirinya membersihkan segala kotoran tersebut. So, tidak mengherankan kalau topik pencemaran lingkungan bukan topik yang hot untuk difilmkan -- film-2nya sering terasa kering karena mengandung banyak jargon atau terminologi hukum dan teknis.
The China Syndrome (1979)
Tiga tahun setelah All the President's Men yang membongkar skandal riel Watergate, dalam film fiksi ini Jane Fonda berperan sebagai investigative journalist, Kimberly Wells, yang membongkar kelalaian prosedur keamanan di perusahaan pembangkit listrik bertenaga nuklir di Los Angeles. Coincidently, dua minggu sebelum film ini diputar, reaktor nuklir di negara bagian Pennsylvania mengalami kecelakaan yang sama seperti cerita dalam film ini. Setelah itu kita menyaksikan dua kecelakaan nuklir yang lain dengan skala yang sama, yaitu di Chernobyl, USSR, dan baru-2 ini di Fukushima, Jepang. So, walaupun fiktif film ini mempunyai dasar yang ilmiah. Peran Fonda dalam film ini terasa sama persis seperti dalam kehidupan nyatanya sebagai seorang social activist. Tetapi Jack Lemmon-lah yang aktingnya menciptakan realisme dari film “near miss” ini.
Silkwood (1983)
Lagi-2 perusahaan yang berhubungan dengan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Berdasarkan kisah nyata, perusahaan ini berusaha meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya. Hmmm, ada berapa banyak ya perusahaan yang meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya?? Dan di perusahaan ini resikonya tidak main-2: pencemaran radioaktif terhadap karyawannya. Dan mereka yang mengetahuinya justru menutup-nutupinya. Akhirnya karyawan sendiri yang harus turun tangan menyelidiki dan memperkarakan bosnya. Dan berakibat fatal! Selepas dari Sophie's Choice (1982), Meryl Streep dengan sangat meyakinkan memainkan perannya sebagai buruh pekerja.
Erin Brockovich (2000)
Berdasarkan kisah nyata juga, perusahaan penghasil gas alam di California ini sudah lama mencemari air tanah di daerah sekitarnya dan menutup-nutupi fakta yang mendatangkan bencana kesehatan terhadap penduduk di daerah tersebut ... sampai seorang wanita pengangguran yang sedang magang di kantor pengacara Edward Masry datang. Untuk tema yang maha penting ini, walaupun penampilan Julia Roberts tidak terlalu berbeda dari penampilan sepuluh tahun sebelumnya dalam Pretty Woman (she only looks older and a little bit wiser here :-)), Roberts berhasil menggondol piala Oscar untuk Aktres Terbaik.
Thursday, 29 November 2012
Licence to Kill
Resensi Film: Licence to Kill (7.5/10)
Tahun Keluar: 1989
Negara Asal: UK
Sutradara: John Glen
Cast: Timothy Dalton, Carey Lowell, Robert Davi, Talisa Soto, Anthony Zerbe
Plot: James Bond mengundurkan diri dari MI6 untuk membalas dendam terhadap boss narkotika, Franz Sanchez, yang telah menghancurkan hidup teman akrabnya, agen CIA/DEA Felix Leiter (IMDb).
Selain persengketaan hukum antara pihak produser dan pihak distributor, yang untuk sementara (6 tahun) menghentikan produksi series ini, Licence to Kill menandai dimulainya era baru atau berakhirnya era lama. Landmark era yang dimaksud adalah: 1) Berakhirnya perang dingin antara Barat dan Timur (tembok Berlin runtuh pada tanggal 9 November 1989), 2) Dimulainya realism sebagai penyeimbang (dan di masa yang akan datang -- pesaing atau bahkan pengganti) dari escapism yang selama ini menjadi trademark film-2 Bond.
Dari sisi casting film ini juga menandai berakhirnya era lama, yaitu: film Bond terakhir untuk sutradara John Glen, yang menduduki rekor sebagai sutradara yang paling banyak mengarahkan film-2 Bond -- 5 kali sejak For Your Eyes Only (1981); terakhir untuk Robert Brown yang memerankan M -- sejak Octopussy (1983); terakhir untuk Caroline Bliss yang kariernya sangat singkat sebagai (forgettable) Miss Moneypenny; terakhir untuk penulis script Richard Maibaum -- sejak Dr. No (1962); terakhir untuk title designer Maurice Binder -- juga sejak Dr. No, yang title sequence-nya masih terus menjadi inspirasi bagi title designer-2 yang lain yang menciptakan title sequence untuk film-2 Bond berikutnya; dan terakhir untuk produser Albert R. Broccoli (!)
Melanjutkan gaya realistik dan sisi gelap Bond dari film sebelumnya, Licence to Kill adalah film Bond yang "lebih maju dari jamannya". Saat itu walaupun generasi muda atau penonton baru tidak peduli lagi dengan gaya charming Roger Moore, mereka ternyata belum siap ketika betul-2 disuguhi dengan realisme dosis tinggi (untuk ukuran saat itu). MPAA (Motion Picture Association of America) dan BBFC (British Board of Film Classification), yaitu organisasi-2 rating di AS dan Inggris, bahkan melancarkan protes terhadap kekerasan dalam film ini yang dinilai "realistic" dan "excessive" -- padahal sudah sejak akhir tahun 1960-an mereka tidak pernah lagi memerintahkan studio untuk memotong bagian-2 film yang dinilai improper (tidak pantas). Sebagai penggemar (dan pengamat) film-2 Bond sejak awal, penulis juga kaget ketika pertama kali menyaksikan film ini. Dalam sejarahnya, belum pernah ada kejahatan pemerkosaan menimpa salah satu dari karakter-2 dalam film-2 Bond. Selama ini, kejahatannya selalu bersifat grandiose -- kejahatan berskala besar yang mempunyai style atau "kelas", misalnya menghancurkan supply bahan makanan dunia dengan biological warfare, atau menghancurkan populasi dunia dan menciptakan populasi baru dengan super ras, atau yang lainnya -- dan eksekusinya juga selalu memperhitungkan style atau "kelas". Itulah karakteristik dasar dari film Bond ... selalu memperhitungkan style atau "kelas". Walaupun ditampilkan secara implisit (mungkin setelah di-cut setelah protes dari MPAA dan BBFC), scene Della (Priscilla Barnes), istri Felix Leiter (David Hedison), ditangkap rame-2 oleh sekelompok mafia narkotika dan penonton dapat melihat teror dalam sinar matanya dan ekspresi wajahnya; scene ini tetap terasa potent/strong dan terasa begitu un-Bond! Scene Felix Leiter disiksa dan diumpankan ke ikan hiu juga begitu blak-2an/grafik. Dua scene ini mungkin lebih cocok ada dalam film Death Wish (1974)-nya Charles Bronson daripada dalam filmnya Bond :-)
Sisi positifnya, Dalton berhasil menjaga kualitas multi-dimensi dalam karakter Bond-nya: tidak hanya rileks dan suave saja (seperti Bond-nya Connery dan Moore), tetapi juga personal dan emosional. Robert Davi sangat pas memainkan peran boss narkotika, Franz Sanchez -- "loyalty is more important than money." Carey Lowell berhasil "mengencerkan" un-Bond-ness dalam film ini sebagai Bond girl, Pam Bouvier. Tetapi Wayne Newton-lah yang berhasil mengingatkan penonton bahwa film ini adalah filmnya Bond :-) Penyanyi panggung yang terkenal dengan panggilan "Mr. Las Vegas" ini, walaupun kehadirannya dalam film ini terasa out of place, penampilannya lucu, konyol, dan ... memorable (!) sebagai Professor Joe Butcher :-)
Secara keseluruhan, film ini terasa mismatch antara elemen-2 baru dan elemen-2 lama; nevertheless, tidak buruk sebagai hiburan thriller.
* 7.5/10
Licence to Kill dapat anda temukan di eBay.com
Tahun Keluar: 1989
Negara Asal: UK
Sutradara: John Glen
Cast: Timothy Dalton, Carey Lowell, Robert Davi, Talisa Soto, Anthony Zerbe
Plot: James Bond mengundurkan diri dari MI6 untuk membalas dendam terhadap boss narkotika, Franz Sanchez, yang telah menghancurkan hidup teman akrabnya, agen CIA/DEA Felix Leiter (IMDb).
Selain persengketaan hukum antara pihak produser dan pihak distributor, yang untuk sementara (6 tahun) menghentikan produksi series ini, Licence to Kill menandai dimulainya era baru atau berakhirnya era lama. Landmark era yang dimaksud adalah: 1) Berakhirnya perang dingin antara Barat dan Timur (tembok Berlin runtuh pada tanggal 9 November 1989), 2) Dimulainya realism sebagai penyeimbang (dan di masa yang akan datang -- pesaing atau bahkan pengganti) dari escapism yang selama ini menjadi trademark film-2 Bond.
Dari sisi casting film ini juga menandai berakhirnya era lama, yaitu: film Bond terakhir untuk sutradara John Glen, yang menduduki rekor sebagai sutradara yang paling banyak mengarahkan film-2 Bond -- 5 kali sejak For Your Eyes Only (1981); terakhir untuk Robert Brown yang memerankan M -- sejak Octopussy (1983); terakhir untuk Caroline Bliss yang kariernya sangat singkat sebagai (forgettable) Miss Moneypenny; terakhir untuk penulis script Richard Maibaum -- sejak Dr. No (1962); terakhir untuk title designer Maurice Binder -- juga sejak Dr. No, yang title sequence-nya masih terus menjadi inspirasi bagi title designer-2 yang lain yang menciptakan title sequence untuk film-2 Bond berikutnya; dan terakhir untuk produser Albert R. Broccoli (!)
Melanjutkan gaya realistik dan sisi gelap Bond dari film sebelumnya, Licence to Kill adalah film Bond yang "lebih maju dari jamannya". Saat itu walaupun generasi muda atau penonton baru tidak peduli lagi dengan gaya charming Roger Moore, mereka ternyata belum siap ketika betul-2 disuguhi dengan realisme dosis tinggi (untuk ukuran saat itu). MPAA (Motion Picture Association of America) dan BBFC (British Board of Film Classification), yaitu organisasi-2 rating di AS dan Inggris, bahkan melancarkan protes terhadap kekerasan dalam film ini yang dinilai "realistic" dan "excessive" -- padahal sudah sejak akhir tahun 1960-an mereka tidak pernah lagi memerintahkan studio untuk memotong bagian-2 film yang dinilai improper (tidak pantas). Sebagai penggemar (dan pengamat) film-2 Bond sejak awal, penulis juga kaget ketika pertama kali menyaksikan film ini. Dalam sejarahnya, belum pernah ada kejahatan pemerkosaan menimpa salah satu dari karakter-2 dalam film-2 Bond. Selama ini, kejahatannya selalu bersifat grandiose -- kejahatan berskala besar yang mempunyai style atau "kelas", misalnya menghancurkan supply bahan makanan dunia dengan biological warfare, atau menghancurkan populasi dunia dan menciptakan populasi baru dengan super ras, atau yang lainnya -- dan eksekusinya juga selalu memperhitungkan style atau "kelas". Itulah karakteristik dasar dari film Bond ... selalu memperhitungkan style atau "kelas". Walaupun ditampilkan secara implisit (mungkin setelah di-cut setelah protes dari MPAA dan BBFC), scene Della (Priscilla Barnes), istri Felix Leiter (David Hedison), ditangkap rame-2 oleh sekelompok mafia narkotika dan penonton dapat melihat teror dalam sinar matanya dan ekspresi wajahnya; scene ini tetap terasa potent/strong dan terasa begitu un-Bond! Scene Felix Leiter disiksa dan diumpankan ke ikan hiu juga begitu blak-2an/grafik. Dua scene ini mungkin lebih cocok ada dalam film Death Wish (1974)-nya Charles Bronson daripada dalam filmnya Bond :-)
Sisi positifnya, Dalton berhasil menjaga kualitas multi-dimensi dalam karakter Bond-nya: tidak hanya rileks dan suave saja (seperti Bond-nya Connery dan Moore), tetapi juga personal dan emosional. Robert Davi sangat pas memainkan peran boss narkotika, Franz Sanchez -- "loyalty is more important than money." Carey Lowell berhasil "mengencerkan" un-Bond-ness dalam film ini sebagai Bond girl, Pam Bouvier. Tetapi Wayne Newton-lah yang berhasil mengingatkan penonton bahwa film ini adalah filmnya Bond :-) Penyanyi panggung yang terkenal dengan panggilan "Mr. Las Vegas" ini, walaupun kehadirannya dalam film ini terasa out of place, penampilannya lucu, konyol, dan ... memorable (!) sebagai Professor Joe Butcher :-)
Secara keseluruhan, film ini terasa mismatch antara elemen-2 baru dan elemen-2 lama; nevertheless, tidak buruk sebagai hiburan thriller.
* 7.5/10
Licence to Kill dapat anda temukan di eBay.com
Thursday, 22 November 2012
The Living Daylights
Resensi Film: The Living Daylights (7.5/10)
Tahun Keluar: 1987
Negara Asal: UK
Sutradara: John Glen
Cast: Timothy Dalton, Maryam d'Abo, Jeroen Krabbé, Joe Don Baker, John Rhys-Davies
Plot: James Bond dikirim ke Bratislava untuk membantu jenderal Rusia, Georgi Koskov, membelot ke Barat, tidak menyadari ini semua adalah konspirasi Koskov untuk mengadu domba antara Rusia dan sekutu untuk kepentingan pribadinya (IMDb).
Dalam karirnya yang singkat sebagai James Bond, Timothy Dalton mungkin mengalami nasib yang sama seperti George Lazenby -- penonton tidak sayang, karena mereka tidak kenal. Putting my feelings aside, sama seperti Roger Moore yang tidak terbebani oleh peninggalan/legacy dari pendahulunya, dalam film ini Timothy Dalton juga tampil percaya diri dan siap me-redefine karakter Bond sesuai dengan interpretasinya -- seorang aktor memang harus berani mengaplikasikan interpretasinya sendiri. Salut. Kurang menyukai gaya rileks dan humor Moore, Dalton memasukkan kualitas multi-dimensi dalam karakter agen rahasia ini, a.l.: alert/vigilant (waspada), agile/swift (tangkas), vicious/savage (kejam) -- kalau situasi menuntutnya demikian, misalnya terhadap Whitaker (Joe Don Baker), tetapi juga sensitive/sensible (pengertian) -- misalnya terhadap Kara Milovy (Maryam d'Abo). Selama shooting Dalton bahkan melakukan sebagian besar stunt-nya sendiri. Hasilnya, Bond-nya Dalton terasa lebih dekat ke realism daripada escapism -- sisi gelapnya Bond mulai nampak (penonton yang terbiasa dengan Bond-nya Moore merasa Dalton kurang charming). Tetapi jaman sudah berubah, generasi muda/penonton baru saat itu tidak peduli lagi dengan gaya charming Moore, he got his time and his time had passed.
Bersetting di Inggris dan Austria (untuk Bratislava, Cekoslovakia) dan Maroko (untuk Afghanistan), film ini adalah film Bond terakhir yang judulnya diambil dari novel Ian Fleming, sampai pada tahun 2006 ketika Bond kembali dalam Casino Royale. Dari sisi produksi, setelah memasukkan Michael G. Wilson, anak tirinya, sebagai asisten produser dalam The Spy Who Loved Me (1977), Albert R. Broccoli mulai memasukkan calon penggantinya yang lain, Barbara Broccoli, anak perempuannya, sebagai asisten produser -- keduanya bakal mewarisi "kerajaan" Bond sepeninggal ayahnya. Dari sisi casting, ada beberapa anggota baru datang dan anggota lama pergi dalam film ini:
1) Tidak mudah "mengisi sepatu" Lois Maxwell, Caroline Bliss tampil membosankan dan forgettable (absolutely forgettable!) sebagai Miss Moneypenny. Bliss sedikitpun tidak mendekati pesona Maxwell.
2) Tampil setia sebagai kepala KGB, General Gogol, sejak From Russia with Love (1963), Walter Gotell mengundurkan diri dalam film ini. Sebagai tanda terima kasih terhadap dirinya, perannya tidak digantikan oleh siapapun, tetapi script-nya yang diubah, yaitu Gogol seakan-2 dipindah-tugaskan ke misi diplomatik dan posisinya digantikan oleh Pushkin (John Rhys-Davies). Gotell tampil singkat di akhir film menyalami Milovy (d'Abo). Keluarga Broccoli, walaupun terkenal pelit, terkenal menghargai kesetiaan :-)
3) Setelah ikut membidani kelahiran musik tema Bond dan menciptakan musik untuk 11 film Bond, John Barry mengundurkan diri setelah produksi film ini selesai. Bahkan sampai sekarang musiknya masih terus menjadi inspirasi bagi komposer-2 musik yang lain yang menciptakan musik untuk film-2 Bond berikutnya. Sebagai tanda terima kasih terhadap dirinya, Barry melakukan cameo appearance sebagai konduktor orkestra dalam film ini. Lagi-2 keluarga Broccoli menghargai kesetiaan karyawan atau partner bisnisnya.
4) Setelah terakhir muncul dalam On Her Majesty's Secret Service (1969) dan digantikan oleh Lotus Esprit dengan penampilan yang memorable dalam The Spy Who Loved Me (1977), Aston Martin akhirnya muncul kembali dalam film ini, yaitu Aston Martin V8 Vantage. Despite penampilan banyak mobil yang lainnya, hasil poll menunjukkan Aston Martin berada di ranking teratas Top Bond's Vehicles.
Dari sisi cerita, plotnya mengkombinasikan antara plot dari From Russia with Love (1963) dan plot dari Octopussy (1983). Maryam d'Abo tampil meyakinkan sebagai cewek Rusia, Kara Milovy (aksennya dan perangainya), tetapi kurang meyakinkan sebagai cellist/pemain cello :-) Joe Don Baker juga tampil meyakinkan sebagai self-styled general, alias madman, Brad Whitaker. Sayangnya, Jeroen Krabbé dan John Rhys-Davies sama sekali tidak meyakinkan sebagai jenderal Rusia, Koskov dan Pushkin -- they look so American :-) Karena karakter d'Abo adalah pemain cello, film ini sempat menampilkan scene-2 dimana musik klasik dimainkan, a.l. musik dari Borodin, Dvorak, Mozart, dan Tchaikovsky.
All in all, it's not bad at all.
* 7.5/10
The Living Daylights dapat anda temukan di eBay.com
Tahun Keluar: 1987
Negara Asal: UK
Sutradara: John Glen
Cast: Timothy Dalton, Maryam d'Abo, Jeroen Krabbé, Joe Don Baker, John Rhys-Davies
Plot: James Bond dikirim ke Bratislava untuk membantu jenderal Rusia, Georgi Koskov, membelot ke Barat, tidak menyadari ini semua adalah konspirasi Koskov untuk mengadu domba antara Rusia dan sekutu untuk kepentingan pribadinya (IMDb).
Dalam karirnya yang singkat sebagai James Bond, Timothy Dalton mungkin mengalami nasib yang sama seperti George Lazenby -- penonton tidak sayang, karena mereka tidak kenal. Putting my feelings aside, sama seperti Roger Moore yang tidak terbebani oleh peninggalan/legacy dari pendahulunya, dalam film ini Timothy Dalton juga tampil percaya diri dan siap me-redefine karakter Bond sesuai dengan interpretasinya -- seorang aktor memang harus berani mengaplikasikan interpretasinya sendiri. Salut. Kurang menyukai gaya rileks dan humor Moore, Dalton memasukkan kualitas multi-dimensi dalam karakter agen rahasia ini, a.l.: alert/vigilant (waspada), agile/swift (tangkas), vicious/savage (kejam) -- kalau situasi menuntutnya demikian, misalnya terhadap Whitaker (Joe Don Baker), tetapi juga sensitive/sensible (pengertian) -- misalnya terhadap Kara Milovy (Maryam d'Abo). Selama shooting Dalton bahkan melakukan sebagian besar stunt-nya sendiri. Hasilnya, Bond-nya Dalton terasa lebih dekat ke realism daripada escapism -- sisi gelapnya Bond mulai nampak (penonton yang terbiasa dengan Bond-nya Moore merasa Dalton kurang charming). Tetapi jaman sudah berubah, generasi muda/penonton baru saat itu tidak peduli lagi dengan gaya charming Moore, he got his time and his time had passed.
Bersetting di Inggris dan Austria (untuk Bratislava, Cekoslovakia) dan Maroko (untuk Afghanistan), film ini adalah film Bond terakhir yang judulnya diambil dari novel Ian Fleming, sampai pada tahun 2006 ketika Bond kembali dalam Casino Royale. Dari sisi produksi, setelah memasukkan Michael G. Wilson, anak tirinya, sebagai asisten produser dalam The Spy Who Loved Me (1977), Albert R. Broccoli mulai memasukkan calon penggantinya yang lain, Barbara Broccoli, anak perempuannya, sebagai asisten produser -- keduanya bakal mewarisi "kerajaan" Bond sepeninggal ayahnya. Dari sisi casting, ada beberapa anggota baru datang dan anggota lama pergi dalam film ini:
1) Tidak mudah "mengisi sepatu" Lois Maxwell, Caroline Bliss tampil membosankan dan forgettable (absolutely forgettable!) sebagai Miss Moneypenny. Bliss sedikitpun tidak mendekati pesona Maxwell.
2) Tampil setia sebagai kepala KGB, General Gogol, sejak From Russia with Love (1963), Walter Gotell mengundurkan diri dalam film ini. Sebagai tanda terima kasih terhadap dirinya, perannya tidak digantikan oleh siapapun, tetapi script-nya yang diubah, yaitu Gogol seakan-2 dipindah-tugaskan ke misi diplomatik dan posisinya digantikan oleh Pushkin (John Rhys-Davies). Gotell tampil singkat di akhir film menyalami Milovy (d'Abo). Keluarga Broccoli, walaupun terkenal pelit, terkenal menghargai kesetiaan :-)
3) Setelah ikut membidani kelahiran musik tema Bond dan menciptakan musik untuk 11 film Bond, John Barry mengundurkan diri setelah produksi film ini selesai. Bahkan sampai sekarang musiknya masih terus menjadi inspirasi bagi komposer-2 musik yang lain yang menciptakan musik untuk film-2 Bond berikutnya. Sebagai tanda terima kasih terhadap dirinya, Barry melakukan cameo appearance sebagai konduktor orkestra dalam film ini. Lagi-2 keluarga Broccoli menghargai kesetiaan karyawan atau partner bisnisnya.
4) Setelah terakhir muncul dalam On Her Majesty's Secret Service (1969) dan digantikan oleh Lotus Esprit dengan penampilan yang memorable dalam The Spy Who Loved Me (1977), Aston Martin akhirnya muncul kembali dalam film ini, yaitu Aston Martin V8 Vantage. Despite penampilan banyak mobil yang lainnya, hasil poll menunjukkan Aston Martin berada di ranking teratas Top Bond's Vehicles.
Dari sisi cerita, plotnya mengkombinasikan antara plot dari From Russia with Love (1963) dan plot dari Octopussy (1983). Maryam d'Abo tampil meyakinkan sebagai cewek Rusia, Kara Milovy (aksennya dan perangainya), tetapi kurang meyakinkan sebagai cellist/pemain cello :-) Joe Don Baker juga tampil meyakinkan sebagai self-styled general, alias madman, Brad Whitaker. Sayangnya, Jeroen Krabbé dan John Rhys-Davies sama sekali tidak meyakinkan sebagai jenderal Rusia, Koskov dan Pushkin -- they look so American :-) Karena karakter d'Abo adalah pemain cello, film ini sempat menampilkan scene-2 dimana musik klasik dimainkan, a.l. musik dari Borodin, Dvorak, Mozart, dan Tchaikovsky.
All in all, it's not bad at all.
* 7.5/10
The Living Daylights dapat anda temukan di eBay.com
Thursday, 15 November 2012
A View to a Kill
Resensi Film: A View to a Kill (7.0/10)
Tahun Keluar: 1985
Negara Asal: UK
Sutradara: John Glen
Cast: Roger Moore, Christopher Walken, Tanya Roberts, Grace Jones
Plot: James Bond mengusut pembajakan microchip militer dari Paris ke San Francisco, dan menemukan rencana Max Zorin untuk menghancurkan Silicon Valley untuk merebut monopoli pasar microchip dunia (IMDb).
Sama seperti Sean Connery dalam film Bond terakhirnya, Roger Moore mengakhiri kariernya sebagai James Bond dengan nada yang rendah.
Pertama-2, walaupun hanya terpaut dua tahun dari film Bond sebelumnya, Moore tampak jauh lebih tua dalam film ini -- make-up tidak mampu lagi menyembunyikan usia sesungguhnya, yaitu 57 tahun ketika film ini dibuat. Entah "eyebrow job" apa yang dilakukan terhadap alis Moore, alisnya kelihatan alarmingly bushy! :-) -- seperti semak belukar dengan cabang-2 yang tebal dan mencongat! :-) -- betul-2 menarik perhatian penonton (baca: mengganggu perhatian penonton). Moore yang biasanya senang memainkan/menaik-turunkan alisnya, dalam film ini dia tidak pernah menggerakkan alisnya, seakan-2 takut kalau alisnya copot :-) Beruntungnya, as the movie progresses, alisnya sedikit demi sedikit kembali seperti normal. Ada kemungkinan scene-2 awal tersebut justru di-shooting di akhir produksi. Secara keseluruhan, Moore juga nampak tidak fit fisiknya dan menurun ke-suave-annya. Ketika mengetahui bahwa ibunya Tanya Roberts lebih muda dari dirinya, Moore menjadi tidak comfortable -- dan ini sedikit banyak terwujud dalam layar. Pada tahun 2007, dalam sebuah wawancara, Moore bercanda dengan ringan, "I was only about four hundred years too old for the part." :-)
Selain Moore yang tampak tua dalam film ini, Lois Maxwell bahkan sudah kadaluarsa sejak beberapa film Bond sebelumnya :-) Usianya sudah gak pantes lagi memerankan Miss Moneypenny yang fungsinya menggoda dan mengharapkan Bond. Dear Lois Maxwell, 14 kali muncul sebagai Miss Moneypenny (!) ... kehadirannya, walaupun minor, dengan dialog-2 yang witty dan segar selalu ditunggu oleh penonton. Film ini adalah film terakhir Maxwell sebagai Miss Moneypenny.
Dari segi cerita, sesungguhnya tidak buruk, tetapi terasa tidak cocok dengan gaya Moore selama ini -- yang menekankan pada sisi hiburan dan humor. Dengan kata lain, ceritanya sesungguhnya cocok dengan jamannya, tetapi tidak cocok dengan gaya Moore. Dengan demikian, gaya Moore sudah tidak cocok lagi dengan jamannya. Christopher Walken tampil sadistis (madman/lunatic/maniac), seperti Joker-nya Batman, menciptakan atmosfir realisme yang mengejutkan, in a way ... mengerikan, untuk penonton yang sudah dibiasakan dengan Bond-nya Moore. Walken sama sekali tidak buruk, tetapi terasa mismatch dengan gaya Moore -- menunjukkan bahwa Moore sudah waktunya untuk diganti.
Satu kekurangan yang lain dalam film ini adalah Grace Jones. Jones mempunyai potensi besar menjadi henchwoman yang well-cast, seperti Lotte Lenya sebagai Rosa Klebb dalam From Russia with Love (1963) atau Ilse Steppat sebagai Irma Bunt dalam On Her Majesty's Secret Service (1969). Tetapi sayang sekali, karakternya berada di middle ground terus, sampai akhirnya runtuh/collapse menuju akhir film -- seperti Richard Kiel sebagai Jaws dalam Moonraker (1979).
Agak mengecewakan sebagai film perpisahan Moore, jika anda penggemar Bond, anda tidak akan keberatan menonton film terakhir Moore ini.
* 7.0/10
A View to a Kill dapat anda temukan di eBay.com
Tahun Keluar: 1985
Negara Asal: UK
Sutradara: John Glen
Cast: Roger Moore, Christopher Walken, Tanya Roberts, Grace Jones
Plot: James Bond mengusut pembajakan microchip militer dari Paris ke San Francisco, dan menemukan rencana Max Zorin untuk menghancurkan Silicon Valley untuk merebut monopoli pasar microchip dunia (IMDb).
Sama seperti Sean Connery dalam film Bond terakhirnya, Roger Moore mengakhiri kariernya sebagai James Bond dengan nada yang rendah.
Pertama-2, walaupun hanya terpaut dua tahun dari film Bond sebelumnya, Moore tampak jauh lebih tua dalam film ini -- make-up tidak mampu lagi menyembunyikan usia sesungguhnya, yaitu 57 tahun ketika film ini dibuat. Entah "eyebrow job" apa yang dilakukan terhadap alis Moore, alisnya kelihatan alarmingly bushy! :-) -- seperti semak belukar dengan cabang-2 yang tebal dan mencongat! :-) -- betul-2 menarik perhatian penonton (baca: mengganggu perhatian penonton). Moore yang biasanya senang memainkan/menaik-turunkan alisnya, dalam film ini dia tidak pernah menggerakkan alisnya, seakan-2 takut kalau alisnya copot :-) Beruntungnya, as the movie progresses, alisnya sedikit demi sedikit kembali seperti normal. Ada kemungkinan scene-2 awal tersebut justru di-shooting di akhir produksi. Secara keseluruhan, Moore juga nampak tidak fit fisiknya dan menurun ke-suave-annya. Ketika mengetahui bahwa ibunya Tanya Roberts lebih muda dari dirinya, Moore menjadi tidak comfortable -- dan ini sedikit banyak terwujud dalam layar. Pada tahun 2007, dalam sebuah wawancara, Moore bercanda dengan ringan, "I was only about four hundred years too old for the part." :-)
Selain Moore yang tampak tua dalam film ini, Lois Maxwell bahkan sudah kadaluarsa sejak beberapa film Bond sebelumnya :-) Usianya sudah gak pantes lagi memerankan Miss Moneypenny yang fungsinya menggoda dan mengharapkan Bond. Dear Lois Maxwell, 14 kali muncul sebagai Miss Moneypenny (!) ... kehadirannya, walaupun minor, dengan dialog-2 yang witty dan segar selalu ditunggu oleh penonton. Film ini adalah film terakhir Maxwell sebagai Miss Moneypenny.
Dari segi cerita, sesungguhnya tidak buruk, tetapi terasa tidak cocok dengan gaya Moore selama ini -- yang menekankan pada sisi hiburan dan humor. Dengan kata lain, ceritanya sesungguhnya cocok dengan jamannya, tetapi tidak cocok dengan gaya Moore. Dengan demikian, gaya Moore sudah tidak cocok lagi dengan jamannya. Christopher Walken tampil sadistis (madman/lunatic/maniac), seperti Joker-nya Batman, menciptakan atmosfir realisme yang mengejutkan, in a way ... mengerikan, untuk penonton yang sudah dibiasakan dengan Bond-nya Moore. Walken sama sekali tidak buruk, tetapi terasa mismatch dengan gaya Moore -- menunjukkan bahwa Moore sudah waktunya untuk diganti.
Satu kekurangan yang lain dalam film ini adalah Grace Jones. Jones mempunyai potensi besar menjadi henchwoman yang well-cast, seperti Lotte Lenya sebagai Rosa Klebb dalam From Russia with Love (1963) atau Ilse Steppat sebagai Irma Bunt dalam On Her Majesty's Secret Service (1969). Tetapi sayang sekali, karakternya berada di middle ground terus, sampai akhirnya runtuh/collapse menuju akhir film -- seperti Richard Kiel sebagai Jaws dalam Moonraker (1979).
Agak mengecewakan sebagai film perpisahan Moore, jika anda penggemar Bond, anda tidak akan keberatan menonton film terakhir Moore ini.
* 7.0/10
A View to a Kill dapat anda temukan di eBay.com
Saturday, 10 November 2012
Octopussy
Resensi Film: Octopussy (7.5/10)
Tahun Keluar: 1983
Negara Asal: UK
Sutradara: John Glen
Cast: Roger Moore, Maud Adams, Louis Jourdan, Kabir Bedi, Steven Berkoff
Plot: James Bond mengusut kematian agen 009 dan menemukan konspirasi antara seorang pangeran Afghanistan di pengasingan dan seorang jenderal Rusia renegade/pemberontak
untuk memaksa perlucutan senjata nuklir di Eropa Barat dengan meledakkan bom nuklir di markas militer AS di Berlin Barat (IMDb).
Film-2 James Bond memang terkenal dengan dialog-2 yang bersifat double entendre, yaitu bermakna ganda, ambiguous -- maknanya tidak dapat diketahui dari konteksnya. Double entendre ini digunakan sebagai disguise/samaran yang ditujukan untuk penonton dewasa karena makna yang lain dari makna ganda tersebut mayoritas adalah seksual, misalnya nama Pussy Galore dalam Goldfinger (1964). Dibandingkan dengan era Sean Connery, film-2 Bond selama era Roger Moore mengandung lebih banyak double entendre.
Pertama-2, mungkin karena jamannya sudah tidak cocok lagi (dua dasawarsa setelah Goldfinger!), jangankan penonton, bintang yang memerankan judul/karakter ini, Maud Adams, diapun merasa tidak comfortable dengan judul yang ada: Octopussy ... ???! :-) John Barry, yang sudah bertahun-2 menggarap musik untuk film-2 Bond, juga kebingungan ketika mesti menciptakan lagu tema yang mesti menyebutkan "Octopussy" dalam liriknya -- akhirnya, penulis lirik ternama Tim Rice menemukan solusinya, yaitu: jangan menyebutkan nama tersebut dalam liriknya :-) Lagu tema "All Time High", dinyanyikan oleh Rita Coolidge, walaupun sama sekali tidak buruk, mesti menerima konsekuensinya, yaitu gagal mencapai hit dan saat ini duduk di urutan paling buncit Top Bond Songs.
Selain judul yang bersifat "banana skin" (very likely to cause embarrassing problems), penonton tidak menyukai tiga hal dalam film ini, yaitu: 1) Sound effect teriakan Tarzan ketika Bond berayun dari satu pohon ke pohon yang lain, meloloskan diri dari kejaran Kamal Khan (Louis Jourdan); 2) Bond bersembunyi di dalam kostum gorila ketika dia bersembunyi dari henchman Khan, Gobinda (Kabir Bedi); 3) Bond mengenakan kostum badut ketika dia menyelinap masuk ke dalam sirkus Octopussy untuk melumpuhkan bom nuklir yang dipasang oleh Orlov (Steven Berkoff). Namun demikian, ini lagi-2 mungkin adalah humor à la Moore yang tidak sungkan-2 menurunkan standard ke-sophisticated-an Bond-nya dan trademark Moore yang menyadari bahwa film-2nya tidak hanya ditonton oleh orang dewasa tetapi juga oleh anak-2 dan remaja.
Namun demikian, despite kritik/kekurangan di atas, Octopussy adalah film yang imajinatif, menarik, dan didukung oleh cast yang mumpuni:
1) Louis Jourdan
Berbeda dari musuh-2 Bond sebelumnya yang tampil dingin dan psychopath, bintang Perancis dari era 1940-an ini tampil tidak kalah suave-nya seperti Bond -- kalem dan berbudaya, dengan dialog-2 tongue in cheek (with insincere or ironical intent) yang menyamai Bond. Sebagai contoh, dalam sebuah scene setelah beberapa kali gagal mencelakai Bond:
Kamal Khan: "You seem to have this nasty habit of surviving."
James Bond: "You know what they say about the fittest."
2) Kabir Bedi
Aktor India dengan perawakan yang gagah dan penampilan yang berwibawa ini mempunyai pandangan mata yang tajam dan menusuk, membuat karakternya, Gobinda, sebagai salah satu dari henchman-2 yang paling disegani.
3) Maud Adams
Satu-2nya aktres yang tampil dua kali sebagai Bond girl -- penampilan sebelumnya dalam The Man with the Golden Gun (1974); atau tiga kali (!) kalau penampilannya sebagai ekstra dalam film Bond berikutnya, A View to a Kill (1985), ikut dihitung; Adams tampil mempesona sebagai title role Octopussy dalam gaun-2 tradisional India/sari-nya -- menjadikan dirinya Bond girl terbaik kedua dari era Roger Moore setelah Barbara Bach dalam The Spy Who Loved Me (1977).
4) Bersetting mayoritas di India, film ini menampilkan geografi dan budaya India secara ekstensif, mulai dari gedung-2 bersejarah -- aerial view dari Taj Mahal di Agra, Monsoon Palace, Lake Palace, dan Shiv Niwas Palace di Udaipur, tradisi lokal, transportasi lokal (bajaj!), pakaian lokal, sampai faunanya (gajah, ular kobra, dan singa Bengali!).
Hasil akhirnya, Octopussy adalah mixed bag of romance and thriller.
* 7.5/10
Octopussy dapat anda temukan di eBay.com
Subscribe to:
Posts (Atom)








