Showing posts with label 1940s. Show all posts
Showing posts with label 1940s. Show all posts

Monday, 9 June 2014

The Third Man

The Third Man ★★★★★

Expressionism ...

Di antara reruntuhan kota Wina setelah PD2: karakter kelabu, bayang-2, sudut-2 gambar yang miring

Tahun Keluar: 1949
Negara Asal: Inggris
Sutradara: Carol Reed
Cast: Joseph Cotten, Alida Valli, Orson Welles, Trevor Howard, Bernard Lee

Harry Lime: “Don't be so gloomy. After all it's not that awful. Like the fella says, in Italy for 30 years under the Borgias they had warfare, terror, murder, and bloodshed, but they produced Michelangelo, Leonardo da Vinci, and the Renaissance. In Switzerland they had brotherly love - they had 500 years of democracy and peace, and what did that produce? The cuckoo clock.” :-)

Film noir terbaik dan paling terkenal, The Third Man adalah karya sinematik yang dengan mudah meraih pengakuan internasional sebagai karya masterpiece dan klasik. Semua elemen dalam film ini seakan-2 datang pada saat yang sama seperti sebuah “happy accident” :-) Mulai dari musik sitar yang menggelitik petikan Anton Karas sampai dengan sinematografi hitam-putih kontras tajam yang membuat penonton kehilangan orientasi garapan Robert Krasker,  dan belum mempertimbangkan script, akting, dan pengarahannya, film ini adalah Tour de Force dari sinema Inggris. Tetapi mungkin yang paling mendefinisikan film ini adalah setting lokasinya (dan waktunya):  kota Wina, Austria, tahun 1948. Seluruhnya di-shot di antara reruntuhan kota Wina, kota yang saat itu hancur berantakan akibat Perang Dunia ke 2 -- baik secara fisik (kotanya) maupun mental (penduduknya), setiap orang di kota ini mempunyai karakter kelabu atau moralitas yang dipertanyakan, membuat situasi ini setting yang sempurna untuk film noir.

Penulis fiksi Holly Martins (Joseph Cotten) tiba di Wina atas undangan teman karibnya, Harry Lime (Orson Welles), tetapi menemukan Lime masuk liang kubur gara-2 tewas tertabrak mobil beberapa hari sebelumnya. Bertemu dengan dua teman Lime, “Baron” Kurtz (Ernst Deutsch) dan Popescu (Siegfried Breuer), dia mulai bertanya-2 tentang kecelakaan yang merenggut nyawa temannya. Tetapi penjelasan mereka ternyata berbeda dengan informasi yang dia peroleh dari pihak lain. Kekasih Lime, Anna Schmidt (Alida Valli), sama tidak tahunya seperti dia, tetapi tidak ingin berbicara banyak tentang mendiang kekasihnya. Sampai akhirnya Martins menyadari bahwa dua polisi militer Inggris, Major Calloway (Trevor Howard) dan Sergeant Paine (Bernard Lee), juga tertarik dengan kasus Lime. Dari mereka dia memperoleh informasi bahwa Lime terlibat dalam pencurian antibiotika (penicillin) dan selanjutnya perdagangan gelap antibiotika palsu (cairannya diencerkan agar volumenya menjadi banyak). Saat itu antibiotika adalah produk yang masih baru, langka, dan sangat diperlukan. Korban antibiotika palsu tersebut selain orang dewasa, terbanyak adalah anak-2.

Benarkah Lime tewas gara-2 tertabrak mobil?
Kalau tidak, dimana dia? Siapa yang dikubur tempo hari?
Bagaimana Martins harus bersikap terhadap teman karibnya tersebut?

Optimisme naif Martins yang notabene orang Amerika justru menekankan pesimisme dan fatalisme orang-2 Eropa yang dia temui, menyuarakan mood yang bertolak-belakang antara dua sisi dari lautan Atlantik pada waktu film ini dikeluarkan. Kamera arahan Carol Reed dengan sangat mengesankan menangkap karakter schizophrenic kota Wina: kelihatan menarik dan romantis di siang hari, tetapi berubah menjadi kelam dan mengancam di malam hari. Sangat jarang dalam sinema lokasi sedemikian terintergrasinya masuk ke dalam filmnya. Penggunaan cahaya dan bayang-2 yang cerdas, dengan sudut-2 pengambilan gambar yang miring, menciptakan ilusi dunia mafia yang gelap, seperti dalam mimpi buruk yang kabur.

The Third Man mempunyai banyak scene yang memorable, tetapi tiga yang paling memorable adalah: 1) entrance iconic untuk Orson Welles sebagai Harry Lime, yang baru terjadi hampir di tengah film (diawali dengan seekor kucing mengendus kaki majikannya), 2) Roda bergerak Ferris, dimana Welles “mengkuliahi” Cotten tentang Swiss dan jam cuckoo-nya :-), dan 3) kejar-2an antara Welles dan polisi militer seantero Wina di saluran pembuangan limbah di bawah kota tersebut.

Klasik.



The Third Man dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 4 April 2014

Double Indemnity

Double Indemnity ★★★★☆

Femme fatale: Bahaya yang terlalu manis untuk dilewatkan begitu saja ...

Tahun Keluar: 1944
Negara Asal: USA
Sutradara: Billy Wilder
Cast: Fred MacMurray, Barbara Stanwyck, Edward G. Robinson

Mirip seperti Alfred Hitchcock, Billy Wilder menyukai suspense: menunggu, mengantisipasi sesuatu yang kita mengetahui bakal terjadi. Untuk sutradara: Patience is a virtue. Untuk penonton: Good things come to those who wait.

Walter Neff (Fred MacMurray), seorang salesman asuransi, mendatangi rumah client-nya, Mr. Dietrichson, untuk mengingatkan bahwa asuransi mobilnya hampir kadaluarsa dan perlu diperbarui. Sesampainya di sana, Mr. Dietrichson ternyata tidak ada di rumah; yang ada adalah Mrs. Dietrichson, Phyllis (Barbara Stanwyck) -- jauh lebih muda dari suaminya, alluring/menarik, dan tanpa tedeng aling-2 menunjukkan ketertarikan terhadap Walter. Bujangan dan adventurous, Walter menerima godaan Phyllis tersebut dengan senang hati. Di tengah pembicaraan yang flirtatious/menggoda, Phyllis tiba-2 bertanya apakah mungkin dia membeli asuransi jiwa untuk suaminya tanpa sepengetahuan suaminya -- agar uang tanggungannya tidak jatuh ke anak tirinya. Mencium maksud buruk di balik pertanyaan tersebut, Walter langsung mengundurkan diri dan permisi pulang. Namun demikian, Walter tidak dapat melupakan Phyllis, dan ketika Phyllis membuntutinya ke apartemennya dan memaksakan dirinya kepadanya, Walter tidak dapat lagi menahan nafsunya. Well, well, well ... :-) Maka langsung digodoklah rencana Phyllis tersebut;  pertama-2, mengelabui Mr. Dietrichson untuk menandatangani polis asuransi jiwa tanpa dia sendiri menyadarinya. Mengetahui seluk-beluk produk yang dia tawarkan, Walter memberitahu Phyllis bahwa polis asuransi jiwa tersebut mempunyai pasal “double indemnity” untuk kecelakaan-2 yang terjadi dalam perjalanan dengan kereta api, artinya jika suaminya meninggal dunia akibat kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dengan kereta api, uang tanggungan yang dibayarkan akan double/ganda. Pas ketika suaminya patah kaki dan tidak bisa mengendarai mobil, sehingga harus menggunakan kereta api, mereka menyusun konspirasi untuk memastikan Mr. Dietrichson ini mengalami kecelakaan selama perjalanan dengan kereta api. Konspirasi tersebut praktis berjalan dengan mulus. Barton Keyes (Edward G. Robinson), atasan Walter, mula-2 percaya bahwa kejadian tersebut adalah kecelakaan, tetapi CEO perusahaan menduga bunuh diri. Kesangsian tersebut membuat Barton memeriksa lagi polis asuransi jiwa Mr. Dietrichson dan menemukan kejanggalan: Mengapa Mr. Dietrichson tidak mengajukan claim untuk patah kakinya? Apakah mungkin dia tidak tahu kalau dia berhak mengajukan claim untuk patah kakinya? Atau bahkan, apakah  mungkin dia tidak tahu kalau dia mempunyai polis asuransi jiwa???

Plot selanjutnya tidak perlu diteruskan lagi, karena penonton mengetahui nasib Walter selanjutnya bakalan seperti kereta api yang remnya blong dan bakalan nabrak stop terakhir di stasiun terakhir :-)


Fred MacMurray (mengingatkan penulis betapa mirip wajah Pierce Brosnan dengan bintang layar perak jaman keemasan Hollywood ini) tampil meyakinkan sebagai pria yang walaupun sudah matang dan berpengalaman di dunianya, tetapi tetap saja foolish/bodoh ketika berhadapan dengan wanita yang jelas-2 bakal menghancurkan hidupnya. Seakan-2 ingin mencemooh gender-nya sendiri: pria memang seperti ini, “bodoh”! Tetapi Barbara Stanwyck-lah yang menjadi bintang dalam film ini -- femme fatale yang mengetahui persis kelemahan lawan jenisnya dan memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin. Di saat-2 tertentu penampilannya bernuansa sehingga penontonpun terkecoh: mungkin dia betulan istri yang terabaikan sehingga patut dikasihani (?), mungkin dia betulan cinta terhadap Walter (?) Tetapi di saat-2 yang lain penampilannya begitu gamblang: Black Widow -- laba-2 hitam yang memangsa pasangannya setelah selesai bercinta (!) :-) Edward G. Robinson, yang saat itu sudah ter-typecast sebagai  “tough guy” gara-2 penampilannya yang meyakinkan dalam film-2 mafia/gangster, a.l. Little Caesar (1931), Smart Money (1931) -- bersama James Cagney, atau Kid Galahad (1937) -- bersama Bette Davis dan Humphrey Bogart, berhasil menampilkan wajah lain dari typecast tersebut sebagai figur ayah yang membimbing anak asuhnya, tetapi akhirnya harus menyaksikan kejatuhan anak asuhnya ini dengan perasaan campur-aduk antara tidak percaya dan kecewa. Dialog terakhir film ini menyimpulkan dengan tepat perasaannya:
“Walter, you're all washed up.”
Sama seperti dalam film-2 Wilder yang lain, sinematografi hitam-putih kontras tajam dari John F. Seitz berhasil dengan sangat baik menampilkan suasana “noir” yang menciptakan perasaan “doom” dari cerita yang hanya dapat berakhir dengan kehancuran ini.



Double Indemnity dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 2 December 2013

The Picture of Dorian Gray, Death Becomes Her

Double Vanity!


Siapa bilang hanya wanita saja yang concern terhadap penampilannya atau khawatir menjadi tua, pria juga. Caranya saja yang berbeda: wanita dengan melakukan bedah plastik -- agar nampak awet muda, pria dengan menemukan istri muda -- bukti bahwa dia awet muda. Gitu kali ya? :-) Vanity! Filsuf ternama Friedrich Nietzsche pernah mengatakan “Vanity is the fear of appearing original.” Coba kita lihat dalam dua film berikut ini: film pertama adalah drama horor dan film kedua adalah black comedy.

1) The Picture of Dorian Gray (1945).

Adaptasi dari novel klasik dengan judul yang sama karya sastrawan Irlandia, Oscar Wilde, The Picture of Dorian Gray menceritakan kehidupan hedonistik kalangan atas di London pada abad ke 19 yang dikemas dengan gaya Gothic, dalam tema Faustian (a pact with the Devil/persekutuan dengan roh jahat) yang kental. Muda, kaya, tampan, dan naive, Dorian Gray (Hurd Hatfield), 22 tahun, mendengarkan nasehat dari Lord Henry Wotton (George Sanders) bahwa hidup hanya berguna jika kita memperoleh kesenangan darinya, dan untuk Dorian usia muda dan ketampanannya akan mendatangkan segala sesuatu yang dia inginkan dalam hidupnya. Terkesan dengan nasehat tersebut, di depan lukisan potretnya, Dorian mengucapkan keinginannya: “Semoga potretnya, bukan dirinya, yang menjadi tua!” -- tidak menyadari di dekat lukisan potretnya berdiri sebuah patung kucing purbakala dari Mesir yang konon mempunyai kemampuan mengabulkan keinginan. Uuuuuuu ... dan mulailah drama Gothic horor ini -- I love it! :-) Dorian mula-2 tidak menyadari kalau keinginannya terkabul, sampai suatu saat ketika dia dengan teganya memutus hubungan asmara dengan tunangannya, Sibyl Vane (Angela Lansbury), untuk mengejar gaya hidup hedonistik dia menemukan “perubahan” dalam lukisan potret dirinya. Terkejut, Dorian menyembunyikan lukisan potret tersebut ke dalam gudang. Dorian tidak pernah menjadi tua dan gaya hidup hedonistiknya semakin menjadi-2. Dan script dengan sabar menyimpan horor puncaknya sampai ke akhir film.

Dengan kontras hitam-putih yang tajam, film ini memenangkan Oscar untuk Sinematografi B/W Terbaik. Angela Lansbury, walaupun tampil hanya singkat saja, penampilannya mengesankan -- dia menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik. Tetapi masterpiece dalam film ini adalah lukisan potret Dorian Dray yang tampil di akhir film karya pelukis macabre Ivan Albright, sekarang disimpan di Art Institute of Chicago. Film ini pernah di-remake pada tahun 2009 dengan judul Dorian Gray, tetapi penulis punya keinginan Francis F. Coppola me-remake drama Gothic horor ini seperti dia membuat Dracula (1992). Hmmm ... nengok kiri, nengok kanan, moga-2 ada patung kucing purbakala dari Mesir yang mendengarkan keinginan ini :-)

Bersama dengan Mary Shelley's Frankenstein dan Bram Stoker's Dracula, Oscar Wilde's Dorian Gray menduduki Top 3 novel Gothic horor terbaik sampai saat ini.

2) Death Becomes Her (1992).

Bertema sama dengan cerita di atas, eternal youth, black comedy ini menceritakan perseteruan antara dua wanita dalam memperebutkan cinta seorang pria dengan menjaga kecantikan/penampilan fisiknya seprima mungkin. Di awal cerita, Helen Sharp (Goldie Hawn), seorang penulis, bertunangan dengan Dr. Ernest Menville (Bruce Willis), seorang ahli bedah plastik. Tetapi segera setelah Ernest bertemu dengan Madeline Ashton (Meryl Streep), seorang aktres, Ernest meninggalkan Helen dan mengawini Madeline. Shocked, depressed, dan kegemukan karena tidak bisa berhenti makan, Helen menghabiskan waktu bertahun-2 di rumah sakit jiwa sambil memelihara dendam kesumat terhadap Madeline. Waktu berjalan, Madeline memasuki usia setengah baya, kariernya meredup, bagian-2 tubuhnya yang dulu sedemikian dibanggakan sekarang cuma mengikuti gravitasi bumi :-) , Ernest juga mulai beruban dan buyuten, kariernya juga merosot menjadi juru rias mayat :-) ... perkawinan mereka hambar dan masing-2 saling mengabaikan yang lainnya. Setelah lebih dari 14 tahun tidak mendengar kabar tentang Helen, Madeline terkejut ketika tiba-2 ada kabar bahwa Helen mengadakan pesta peluncuran perdana bukunya yang berjudul “Forever Young”. Lebih terkejut lagi ketika Madeline bertemu dengan Helen dan melihat Helen tampil begitu muda -- seakan-2 tidak menjadi tua seharipun sejak mereka bertemu terakhir kalinya 14 tahun yang lalu! Merasa tersaingi dan terpojok, Madeline menerima rekomendasi beauty salon-nya untuk mengunjungi Lisle von Rhuman (Isabella Rossellini) yang misterius. Ramuan ajaib yang Madeline dapatkan dari dukun maut ini ternyata betul-2 ajaib dan bahkan lebih ajaib daripada yang dia (baca, penonton) bayangkan. Lebih seru lagi, Helen ternyata juga mendapatkan ramuan yang sama dari dukun yang sama. Siapa yang menang? Penonton tentu saja.

Dengan empat bintang layar perak yang berkharisma dan special effects yang mempesona, black comedy arahan Robert Zemeckis (Back to the Future, Forrest Gump, Contact, Cast Away) ini selain berhasil memenangkan Oscar untuk Visual Effects Terbaik, juga berhasil mengundang tawa -- sekaligus refleksi, karena dengan lantang menciptakan definisi baru untuk eternal youth/eternal beauty, seraya mengolok siapa saja yang terobsesi dengan penampilan fisiknya. Sama seperti The Picture of Dorian Gray, penulis terkesan dengan scene terakhir dalam film ini.

The Picture of Dorian Gray, Death Becomes Her dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 21 October 2013

His Girl Friday, Adam's Rib, Dirty Rotten Scoundrels, The War of the Roses

Quadruple The Battle of the Sexes!


Elemen paling penting dalam sebuah film adalah konflik. Dan tidak ada konflik yang lebih natural daripada konflik antara pria dan wanita -- sebelum Dr. John Gray menulis buku larisnya yang berjudul “Men Are from Mars, Women Are from Venus,” penulis lagu George Gershwin dan Ira Gershwin sudah menuangkan konflik tersebut dalam lirik lagunya yang kira-2 seperti ini:

“You say either, I say eyether,
 you say neither, I say nyther;
 You like potayto, I like potahto,
 you like tomayto, I like tomahto;”

membuat The Battle of the Sexes tema yang sering diangkat menjadi film. Campuran antara satire dan komedi, ditandai dengan script yang ketat dan dialog yang tajam, empat film berikut ini dijamin membangkitkan tawa, sekaligus self-criticism, kepada penonton.

1) His Girl Friday (1940)

Mengetahui bekas istrinya, Hildy Johnson (Rosalind Russell), akan menikah lagi dan meninggalkan kariernya sebagai reporter jagoan, Walter Burns (Cary Grant) -- yang masih mencintainya -- dengan segala cara berusaha menyabotase rencana tersebut dengan mengiming-2i dia untuk melakukan reportase terakhir tentang berita besar eksekusi Earl Williams (John Qualen).

Dengan dialog yang tajam, tetapi lucu, dan super cepat (subtitle sebaiknya di-“on”-kan!), His Girl Friday adalah screwball comedy dengan kecepatan tinggi. Karakter-2nya nampak karikaturis, namun demikian memang itulah yang diinginkan penulis cerita film ini. Di bawah arahan Howard Hawk, seluruh cast menyadari hal tersebut dan menampilkan akting yang hard, brittle, strained to the breaking point, bahkan lebih dari titik zenith tersebut -- mereka seakan-2 menunggu kamera berhenti merekam sehingga mereka bisa jatuh pingsan ke lantai karena kecapekan.

Film klasik yang tetap “menggigit” walaupun sudah lebih dari 70 tahun sejak release perdananya.

2) Adam's Rib (1949)

Seorang istri membuntuti suaminya dan menemukan dia menyeleweng dengan wanita lain. Dalam keadaan emosional sang istri menembakkan pistolnya ke arah mereka -- salah satu dari pelurunya mengenai bahu suaminya. Sang istri ditangkap dan dijatuhi tuduhan usaha pembunuhan. Adam Bonner (Spencer Tracy), asisten jaksa wilayah, memperoleh tugas menjadi jaksa penuntut dalam kasus tersebut. Mendengar suaminya menjadi jaksa penuntut, Amanda Bonner (Katharine Hepburn), seorang advokat, yang bersimpati pada sang istri, mendatangi sang istri dan menawarkan jasanya sebagai pembela. Dimulai dari ruang pengadilan, perseteruan antara Adam dan “rusuknya” ini  merembet masuk ke dalam rumah tangga mereka. Di jaman dimana keseteraan hak dan tanggung-jawab antara pria dan wanita masih belum lazim, sementara Adam bersikap prosedural dan “textbookish”, Amanda menggunakan metode unconventional untuk membangkitkan simpati juri (semuanya pria) dengan mengajak mereka membayangkan seandainya situasinya terbalik.

Dengan judul yang catchy dan bermakna ganda ini, sebagian penonton mungkin menemukan plot ini rada irritating, terutama karena berhubungan dengan tema women's lib -- ketika film keluar pada tahun 1949, tema ini terasa berlebihan; sekarang, terasa ketinggalan jaman. Tetapi faktanya, peristiwa seperti dalam plot ini memang terjadi pada jamannya, dan untuk sebagian tempat di dunia masih terjadi sampai sekarang.

Dikenang sebagai salah satu dari  film-2 Tracy-Hepburn yang paling memorable, script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Terbaik.

3) Dirty Rotten Scoundrels (1988)

Empat dasawarsa kemudian jaman berubah, emansipasi menjadi norma standard dalam masyarakat modern. Namun demikian, sebagian prejudice -- terutama reverse-prejudice -- terhadap masing-2 gender masih bertahan. Didukung pemilihan casting yang tepat, pada titik lemah inilah penulis cerita film ini berhasil dengan cerdik memperdaya penonton.

Penipu kelas kakap, Lawrence Jamieson (Michael Caine), melakukan operasinya di pantai wisata “Beaumont-sur-Mer” di French Riviera. Namun demikian, Lawrence mempunyai etika yang tinggi: dia tidak pernah menipu wanita baik-2; mangsanya hanya wanita yang kaya-raya, manja, dan korup -- misalnya, IMHO, wanita seperti Paris Hilton :-) Karena dia adalah pria yang berbudaya, metode penipuannya halus dan sopan. Caine memainkan perannya dengan smooth dan meyakinkan -- membuat penonton langsung bersimpati dengannya :-) Suatu hari, datang penipu kelas teri/kampungan, Freddy Benson (Steve Martin), ke tempat yang sama untuk mencari mangsa. Walaupun kelasnya berbeda, Lawrence merasa terancam dengan kehadiran Freddy. Tidak berhasil mengusir Freddy, mereka akhirnya mengadakan kontes untuk menentukan siapa yang boleh tinggal di tempat tersebut. Kontesnya adalah mengeruk $50,000 dari Janet Colgate (Glenne Headly), yang konon menurut bellboy hotel adalah pewaris perusahaan multi-nasional sabun dan pasta gigi Colgate di AS. Siapa yang duluan mengeruk $50,000, dia yang menang -- yang kalah harus pergi dari tempat tersebut. And the contest begins.

Dipenuhi dengan situation comedy dengan timing yang pas dan slapstick comedy, Caine dan Martin menampilkan chemistry yang luar biasa dinamisnya sebagai duet -- membuat penonton terpusat perhatiannya kepada mereka, sampai-2 tidak terpikir yang lainnya :-) Kocak dari awal sampai akhir, Michael Caine menerima nominasi Golden Globe untuk Aktor Terbaik - Comedy/Musical (dikalahkan oleh Tom Hanks dalam Big (1988) -- tahun yang bagus untuk film-2 drama komedi).

4) The War of the Roses (1989)

Termasuk salah satu dari screen couples yang paling memorable, Danny DeVito mengemban tanggung-jawab yang besar sebagai sutradara film ini, mempertemukan kembali untuk ketiga dan terakhir kalinya Michael Douglas dan Kathleen Turner, setelah sukses besar mereka dalam Romancing the Stone (1984) dan The Jewel of the Nile (1985). Chemistry positif/cinta antara mereka berdua dalam dua film tersebut tertransformasi dengan sangat baik menjadi chemistry negatif/benci dalam black comedy tentang perceraian ini -- membuat penonton langsung percaya dengan situasi mereka.

Oliver Rose (Douglas) dan Barbara Rose (Turner) adalah pasangan suami-istri dengan dua anak. Awalnya perkawinan mereka nampak perfect, dengan Oliver bekerja sebagai pengacara dan Barbara tinggal di rumah mengurus rumah tangga. Dengan berjalannya waktu, Oliver semakin menanjak kariernya, sedang Barbara semakin restless (tidak puas) dan mulai menyimpan resentment, bitterness (tidak suka) terhadap Oliver. Suatu hari ketika Oliver terkena serangan jantung, Barbara mula-2 terkejut dan concern, tetapi kemudian merasa relief (lega) terhadap kemungkinan Oliver jatuh mati! :-) Tetapi karena Oliver tidak jadi mati, Barbara akhirnya minta cerai, dan Oliver setuju. Perseteruan merebak ketika Barbara menuntut pembagian harta yang Oliver tidak bersedia memberikannya. Dan perseteruan meningkat terus, terus, dan terus, dan tetap tidak ada yang mau mengalah ... sampai titik darah penghabisan. Akhir yang memorable dari duet Douglas-Turner.

Filmya menerima nominasi Golden Globe untuk Film Terbaik - Comedy/Musical; Michael Douglas dan Kathleen Turner masing-2 menerima nominasi Golden Globe untuk Aktor dan Aktres Terbaik - Comedy/Musical.

His Girl Friday, Adam's Rib, Dirty Rotten Scoundrels, The War of the Roses dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 20 September 2013

Going My Way, From Here to Eternity, Moonstruck

Triple Singers Turned Into Actors!



Hampir semua penyanyi pernah tampil dalam film, mencoba menjadi aktor, tetapi tidak banyak yang berhasil. Akting ternyata tidak segampang yang kita bayangkan. 3 “Singers Turned Into Actors” berikut ini penulis pilih karena masing-2 pernah memenangkan Oscar untuk peran Non-Singing dan lebih dari 1 kali menerima nominasi Oscar juga untuk peran Non-Singing. Singkat kata, penyanyi dengan peran tidak menyanyi. Dengan demikian, Barbra Streisand tidak penulis tampilkan kali ini karena walaupun dia pernah memenangkan Oscar, perannya adalah peran menyanyi: Funny Girl (1968). Barbra Streisand bisa menyanyi dengan sangat baik dan meyakinkan? ... well, of course! :-)

1) Going My Way (1944)

Bing Crosby.

Film garapan Leo McCarey ini adalah film sederhana tentang orang-2 yang sederhana dalam setting cerita yang sederhana pula. Father O'Malley (Bing Crosby), seorang pastor muda, dikirim ke paroki St. Dominic’s di New York City untuk menjadi asisten dari Father Fitzgibbon (Barry Fitzgerald), pastor paroki yang sudah tua. Berbeda dari gaya pastor paroki yang kaku dan kolot, Father O'Malley lebih fleksibel dan terbuka terhadap perubahan. Tidak menyukai gaya Father O'Malley, Father Fitzgibbon melaporkan dirinya ke pemimpin gereja untuk mengeluarkannya dari parokinya. Tetapi pemimpin gereja memberitahu Father Fitzgibbon bahwa Father O'Malley dikirim ke parokinya bukan untuk menjadi asistennya, tetapi untuk menggantikannya. Father O'Malley menghadapi berbagai masalah paroki dengan pendekatan humanisme yang hangat dan bersahabat (karena memang itulah gayanya, “his way”, “going his way”): mulai dari umat yang kehilangan rumahnya, wanita muda yang melarikan diri dari rumah orangtuanya, gerombolan anak muda yang sering berurusan dengan polisi, bekas pacar O'Malley yang sekarang menjadi penyanyi opera ternama, dan sekarang ditambah dengan Father Fitzgibbon yang distressed dan melarikan diri dari parokinya :-) Mampukah O'Malley menyelesaikan misinya di St. Dominic’s? Script dengan rapi menjalin semua sub-plot yang ada menuju akhir yang bittersweet, just like life itself.

Film pemenang Film Terbaik Oscar 1945 ini adalah film sederhana yang indah dan mengesankan.

2) From Here to Eternity (1953)

Frank Sinatra.

Cerita saga tentang “trials and tribulations”, masalah dan ujian, dari tiga prajurit, Sergeant Milton Warden (Burt Lancaster), Private Robert E. Lee Prewitt (Montgomery Clift), dan Private Angelo Maggio (Frank Sinatra), menjelang serangan Jepang ke Pearl Harbour di Hawaii. Diingat penonton dengan scene klasik Burt Lancaster dan Deborah Kerr berciuman di pantai Oahu, Hawaii, sementara ombak lautan Pasifik menerpa mereka, cerita saga dari novel dengan judul yang sama karya James Jones ini mempunyai detil cerita dan karakterisasi yang sangat baik -- dan berkat script yang jeli detil tersebut tidak hilang dalam proses adaptasi. Didukung oleh akting yang mumpuni dari cast utamanya, Frank Sinatra dan Donna Reed berhasil mencuri perhatian para film critic dan masing-2 menggondol Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik.

Film pemenang Film Terbaik Oscar 1954, bertahan klasik sampai saat ini.

3) Moonstruck (1987)

Cher.

Despite kenyentrikan dirinya, Cher adalah aktres yang mumpuni. Empat tahun sebelumnya, dia tampil bersama Meryl Streep dalam Silkwood (1983) dan mampu mengimbangi akting Streep -- dia menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik. Dalam film ini, bersetting dalam keluarga imigran Itali di New York City, Cher sekali lagi membuktikan dirinya memang bisa akting.

Dibesarkan dalam tradisi Itali, Loretta Castorini (Cher) baru saja menjanda gara-2 suaminya mati ditabrak bis. Percaya bahwa nasib buruk tersebut terjadi gara-2 perkawinannya tidak direstui orangtuanya dan tidak dilakukan di gereja, kali ini setelah dia menemukan calon suami baru, Johnny, seorang imigran Itali juga, dia memastikan bahwa dia mematuhi semua tradisi Itali agar perkawinan tersebut lancar. Loretta sesungguhnya tidak cinta dengan Johnny, tetapi karena orangtuanya suka dengannya, Loretta bersedia kawin dengannya. Lebih komplet lagi, Johnny ternyata adalah pria yang juga mematuhi tradisi Itali. It seems like a perfect match! :-) Ketika Johnny pulang ke Sicilia untuk minta restu ibunya, Loretta bertemu dengan adik Johnny, Ronny (Nicolas Cage), yang sifat dan sikapnya kebalikan dari saudaranya. And they fell in love ... dan komplikasi timbul.

Cerita dengan setting keluarga Itali memberi nuansa baru dan menyegarkan, karena tidak seperti biasanya (keluarga Anglo), mereka tidak sungkan-2 ceplas-ceplos ngomong sesuatu yang termasuk “politically incorrect”. Hasilnya, dialog-2 yang tajam, tanpa tedeng aling-2, very funny! Melihat keluarga dalam film ini bagaikan berkaca melihat keluarga sendiri :-) Good or embarassing, it's my family. 15 tahun kemudian, Nia Vardalos, me-reprise cerita yang mirip dalam My Big Fat Greek Wedding (2002) -- kali ini bersetting dalam keluarga imigran Yunani.

Menerima nominasi Film Terbaik Oscar 1988, Cher dan Olympia Dukakis masing-2 menggondol Oscar untuk Aktres Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik. Sayang sekali Cher tidak tampil lebih banyak dalam film-2 drama.


Going My Way, From Here to Eternity, Moonstruck dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 25 March 2013

The Shop Around the Corner

Sekelumit tentang: The Shop Around the Corner (1940)

Tahun Keluar: 1940
Negara Asal: USA
Sutradara: Ernst Lubitsch
Cast: Margaret Sullavan, James Stewart, Frank Morgan, Joseph Schildkraut

 
Romantic comedy, atau sering disingkat dengan “romcom”, adalah genre film yang populer -- disukai antar gender, dan kadang-2 antar generasi (yang sudah setengah bayapun bisa memahami dan menikmati). Walaupun tidak terkenal sebagai genre film dengan tema yang berat/serius, dari waktu ke waktu kita menemukan film romcom yang “di atas rata-2,” karena selain menampilkan romans dan komedi, script-nya ternyata menyisipkan topik yang lumayan penting. The Shop Around the Corner (1940) adalah salah satu di antaranya. Alfred Kralik (James Stewart) dan Klara Novak (Margaret Sullavan) adalah rekan sekerja. Masing-2 tidak cocok dengan yang lainnya, dan masing-2 mempunyai kawan pena yang merupakan jodoh impian. Yang tidak mereka ketahui adalah masing-2 adalah kawan pena dari yang lainnya tersebut :-) Sampai suatu saat salah satu di antara mereka menemukan fakta tersebut!

Tidakkah kita masih sering berjuang untuk menjadi yang terbaik dari diri kita sendiri? Bukankah kita juga benci kalau kita tidak berhasil menjadi yang terbaik dari diri kita sendiri?

How do you think Tom Hanks and Meg Ryan in You've Got Mail (1998) measure up against James Stewart and Margaret Sullavan in this film?





The Shop Around the Corner dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 24 August 2012

How Green Was My Valley

Resensi Film: How Green Was My Valley (8.5/10)

Tahun Keluar: 1941
Negara Asal: USA
Sutradara: John Ford
Cast: Walter Pidgeon, Maureen O'Hara, Anna Lee, Donald Crisp, Roddy McDowall

Plot: Perjalanan hidup keluarga Morgan pada akhir abad ke 19 ketika perubahan socio-economic menyapu bersih kota kecil tempat mereka tinggal di daerah pertambangan batubara di lembah Wales selatan (IMDb).

Cerita dimulai ketika Huw Morgan (Roddy McDowall) meninggalkan kota kelahirannya seraya mengenang kembali peristiwa-2 berkesan yang terjadi ketika dia tumbuh dan besar di kota tersebut. Flashback dimulai dengan pemandangan pertambangan batubara yang berkembang, lembah Wales selatan yang hijau, kota yang makmur, dan keluarga yang rukun dan bahagia. Tetapi kemudian masa-2 sulit datang ... ekonomi memburuk, pengangguran merebak, jumlah pencari kerja meningkat, dan perusahaan menurunkan gaji mereka. Komunitas mulai terfragmentasi (satu kelompok melawan kelompok yang lain) dan keluarga mulai terdisintegrasi (anak melawan orangtuanya). Lembah Wales selatan perlahan-2 berubah menjadi gelap dan kumuh. Di tengah kesulitan yang datang bertubi-2 ini keluarga Morgan berjuang mati-2an untuk mempertahankan keutuhan keluarga. Akhirnya, walaupun mereka kalah melawan perubahan socio-economic yang terjadi, mereka tidak pernah kehilangan harga diri mereka. Setelah semua orang yang Huw kenal meninggal dunia atau meninggalkan kota tersebut, dia kemudian memutuskan untuk meninggalkan kota kelahirannya juga. Kenangan Huw tersebut juga meliputi kisah asmara antara saudara perempuannya, Angharad (Maureen O'Hara), dan pendeta berkharisma, Mr. Gruffydd (Walter Pidgeon).

Walaupun tidak seefektif karya sebelumnya, The Grapes of Wrath (1940), adaptasi John Ford dari novel dengan judul yang sama karya Richard Llewellyn ini adalah potret budaya dan sejarah yang sangat baik tentang bagaimana efek dari kesulitan ekonomi yang parah dapat secara penuh merubah struktur komunitas dan keluarga pada akhir abad ke 19. Menonton film ini membuat penulis teringat masa kecil diri sendiri -- kakek, nenek, ayah, ibu, saudara-2, semuanya tinggal di bawah satu atap; sama sekali tidak kaya, tetapi makanan selalu tersedia secara cukup ... rukun dan damai. Tetapi kemudian masa-2 sulit datang: komunitas mulai terfragmentasi -- jurang antara yang kaya dan yang miskin mulai meruak, dan keluarga mulai terdisintegrasi -- yang tua meninggal dunia dan yang muda meninggalkan kota kelahirannya untuk mencari penghidupan yang lebih baik di tempat asing. Sekarang, tidak ada lagi sanak keluarga yang tersisa di kota tersebut, semuanya terpencar di empat penjuru dunia. Menyaksikan Huw mengenang kembali masa kecilnya membuat mata penulis berkaca-2 ... oh, betapa miripnya perjalanan hidup keluarga Morgan ini dengan perjalanan hidup keluarga penulis -- pada tingkat pribadi, film ini betul-2 mengena.

How Green Was My Valley secara mengejutkan memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, mengalahkan film-2 favorit yang lain pada saat itu, a.l. The Maltese Falcon (1941), Sergeant York (1941), Suspicion (1941), dan film yang sudah bertahan dalam daftar majalah Sight & Sound sebagai Number 1 Greatest Film of All Time selama 50 tahun, Citizen Kane (1941) !!! John Ford memperoleh Oscar-nya yang ketiga untuk Sutradara Terbaik -- dan fim ini tentu saja adalah salah satu dari karya-2 terbaiknya. Pada tahun 1990, film ini terpilih masuk dalam klasifikasi "culturally, historically, or aesthetically significant" dalam United States National Film Registry.

* 8.5/10

How Green Was My Valley dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 9 August 2012

The Grapes of Wrath

Resensi Film: The Grapes of Wrath (9.0/10)

Tahun Keluar: 1940
Negara Asal: USA
Sutradara: John Ford
Cast: Henry Fonda, Jane Darwell, John Carradine

Plot: Pada jaman Great Depression*), setelah tergusur dari daerah pertaniannya, keluarga Joad terpaksa melanglang benua dari Oklahoma yang gersang**) ke "tanah terjanji" California yang hijau untuk mencari penghidupan yang layak (IMDb).

*) Great Depression: Resesi ekonomi global yang dimulai dengan peristiwa Black Tuesday, yaitu jatuhnya harga-2 saham di AS pada tanggal 29 Oktober 1929, dan berlangsung sampai setelah Perang Dunia ke 2 selesai. Periode resesi ini tercatat dalam sejarah sebagai resesi ekonomi paling parah, paling panjang, dan paling luas pada abad ke 20.

**) Pada dekade 1930-an terjadi fenomena alam, badai debu, yang menyapu bersih topsoil dari daerah-2 pertanian di Oklahoma, AS, meninggalkan tanah di lapisan bawahnya kering dan tandus.

Setelah bebas bersyarat dari penjara, Tom Joad (Henry Fonda) pulang ke rumahnya di daerah pertanian di Oklahoma. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang gelandangan yang bernama Jim Casy (John Carradine). Setelah berkenalan, Jim ternyata adalah pendeta yang dulu membaptis Tom, tetapi Jim sekarang telah kehilangan "panggilannya". Tom kemudian mengajak Jim pulang ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, mereka menemukan rumahnya kosong dan semuanya telah ditinggalkan. Di sana mereka bertemu dengan tetangganya, Muley Graves (John Qualen), yang sedang bersembunyi dari kejaran polisi. Muley kemudian bercerita apa yang telah terjadi dengan keluarganya, dengan keluarga Joad, dan dengan keluarga-2 yang lain di daerah pertanian tersebut. Mengikuti petunjuk Muley, Tom akhirnya menemukan keluarganya di rumah pamannya. Keluarganya bahagia melihat Tom kembali dan menjelaskan bahwa mereka telah memutuskan untuk pergi ke California untuk mencari pekerjaan, karena daerah pertanian mereka telah diambil-alih oleh bank. Keesokan harinya, seluruh anggota keluarga Joad meninggalkan Oklahoma, bersama dengan Jim yang memutuskan pergi bersama mereka. Mereka menjejal semua barang essential mereka ke dalam sebuah sedan kecil yang telah diubah bentuknya menjadi "truk" untuk melakukan perjalanan panjang dari Oklahoma ke "tanah terjanji" California -- dan dimulailah cerita yang sesungguhnya ...

Adaptasi dari novel dengan judul yang sama, pemenang penghargaan sastra Pulitzer, karya John Steinbeck, The Grapes of Wrath dengan sangat inspiratif menunjukkan bagaimana kekuatan human spirit dapat bertahan dan mengalahkan deraan penderitaan dan kesengsaraan. Meskipun bersetting di Midwestern, AS, ketika jaman Great Depression, ceritanya mengandung pesan yang bersifat global/universal tentang humanity/kemanusiaan, sehingga penonton dapat dengan mudah mengapresiasi ceritanya dan bersimpati dengan karakter-2 yang ada. Ada banyak orang, tidak peduli ras atau kepercayaannya, dengan satu cara atau yang lainnya, pernah mengalami economic dislocation -- terpaksa menjadi migran/pindah tempat karena alasan ekonomi. Penggambaran yang grafik dari sutradara John Ford terhadap penderitaan dan perjuangan yang dialami keluarga Joad terasa riel dan memukul. Dalam perjalanan panjang yang menentukan masa depan mereka tersebut, keluarga Joad berhadapan dengan berbagai masalah yang mungkin terjadi, mulai dari anggota keluarga yang meninggal dunia karena usia tua sampai "truk" tidak-layak-kendara yang selalu mogok. Mereka bertemu dengan orang-2 yang mengaku telah sampai di California, tetapi tidak memperoleh pekerjaan, karena pekerjaan yang tersedia tidak sebanyak yang mereka bayangkan. Mereka juga mengalami perlakuan prejudice, diejek, dan diolok dengan julukan "Okies" ***) Setelah mereka sampai di California, ternyata "not all that glitters is gold" (sebuah pepatah, "tidak semua yang gemerlap adalah emas" ) ... dan penderitaan sama sekali tidak berkurang, malah bertambah (!) Mereka mesti berjuang untuk survive/mempertahankan hidup, bekerja untuk upah yang sama sekali tidak cukup untuk makan.

***) "Okies": Migran miskin/gelandangan dari Oklahoma.

Henry Fonda menerima nominasi Oscar-nya yang pertama untuk perannya sebagai Tom Joad, orang baik yang "terdampar" sebagai buronan gara-2 situasi. Fonda betul-2 menjiwai dalam perannya. Jane Darwell berhasil mencuri simpati penonton dan memenangkan Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik untuk perannya sebagai Ma Joad, tokoh matriarch/ibu yang menyampaikan dialog-2 penting dalam film ini. Darwell dengan sempurna menangkap esensi dari karakter yang dia mainkan. Anggota cast yang lainnya juga sangat baik dan meyakinkan dalam peran mereka masing-2. John Ford memperoleh Oscar-nya yang kedua untuk Sutradara Terbaik -- dan fim ini tentu saja adalah salah satu dari karya-2 terbaiknya.

Meskipun film ini menampilkan banyak penderitaan dan kesengsaraan, ceritanya uplifting, membangkitkan semangat, ditandai dengan compassion (simpati/pengertian) dan tenderness (kehangatan). Penulis secara personal begitu tergerak dan uplifted ketika Ma Joad berkata-2 berikut ini sebelum film berakhir:

Rich fellas come up an' they die,
an' their kids ain't no good an' they die out.
But we keep a' comin'. We're the people that live.
They can't wipe us out; they can't lick us.
We'll go on forever, Pa, 'cause we're the people!

Berasal dari AS yang kapitalis, adalah sesuatu yang luar biasa cerita bernuansa sosialis ini berhasil dipublikasikan dan diadaptasi ke film. Mengundang kontroversi ketika pertama kali dikeluarkan, The Grapes of Wrath berhasil bertahan dalam jajaran film-2 klasik. Pada tahun 1989, film ini terpilih sebagai salah satu dari 25 film pertama yang terpilih masuk dalam klasifikasi "culturally, historically, or aesthetically significant" dalam United States National Film Registry.

Kalau anda pernah merasakan penderitaan dan kesengsaraan sebagai migran, misalnya terpaksa pindah dari kota kecil tempat kelahiran anda yang tenang dan damai ke ibu kota yang hiruk-pikuk, memekakkan, dan bikin stress, sampai-2 anda mengumpat, "sekejam-2nya ibu tiri, masih lebih kejam ibu kota," maka ... this is it! This is the movie for you!

9.0/10

The Grapes of Wrath dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 13 June 2012

The Philadelphia Story

Resensi Film: The Philadelphia Story (9.0/10)

Tahun Keluar: 1940
Negara Asal: USA
Sutradara: George Cukor
Cast: Cary Grant, Katharine Hepburn, James Stewart

Plot: Ketika reporter majalah gosip muncul sehari sebelum hari perkawinan (kedua)-nya, Tracy Samantha Lord terpaksa menjalani "crash course" tentang masa lalu dengan bekas suaminya, ketidakharmonisan hubungan dengan ayahnya, dan ... menemukan siapa dirinya, the truth about herself! (IMDb)

Adaptasi dari teater Broadway dengan judul yang sama karya Philip Barry, film ini adalah film yang menjadi inspirasi bagi film musical High Society (1956). Sebelum membicarakan film remake yang merupakan sukses komersial tersebut, penulis ingin menampilkan beberapa point menarik dari film aslinya yang membuatnya pantas terpilih masuk dalam klasifikasi "culturally, historically, or aesthetically significant" dalam United States National Film Registry pada tahun 1995.

Siapa lagi yang paling cocok membawakan film dengan pesan sosial dan feminis yang penting pada jamannya selain Katharine Hepburn?! Bahkan seandainya Hepburn tidak akting-pun, dia dapat membawakan perannya dengan menyakinkan, karena Tracy Samantha Lord sedikit banyak cocok dengan kepribadiannya. Apa inti cerita dalam film ini? Ada dua tema pokok yang mendasari ceritanya. Pertama, ada era dimana moral sangat dijunjung tinggi, dan pada saat yang sama standard ganda - dalam kasus ini, antara pria dan wanita - juga tumbuh subur. Bukankah ini sesuatu yang universal, sesuatu yang kita kenal?! Dikotomi ini menimbulkan potensi konflik yang hebat. Melihat dari kacamata modern (apakah kita sudah modern?), terasa janggal melihat Tracy Samantha perlu/harus membela diri -- menjelaskan mengapa dia tidak menyukai ayahnya yang berselingkuh dengan wanita lain. Lebih janggal lagi melihat ibunya -- yang notabene adalah pihak yang disakiti atau dirugikan, memohon kepada Tracy untuk tidak bersikap terlalu keras terhadap ayahnya, seakan-2 memaklumi tindakan philandering suaminya, dan to a certain extent ... menyalahkan dirinya sendiri (:-() Dan yang paling janggal adalah melihat ayahnya yang bersikap apologetic terhadap perselingkuhan tersebut -- menjelaskannya sebagai tindakan normal seorang pria yang menolak menjadi tua (quote dari dialog dalam film: "A reluctance to grow old."). Menyaksikan adegan ini, penulis setuju: ya, memang betul, ada era dimana moral sangat dijunjung tinggi, tetapi bigotry juga tumbuh subur. Tidak salah kalau Tracy "going nuts" gara-2 ini ... :-) Dan Hepburn membawakan perannya dengan meyakinkan, flawless: tajam, sarkastik, tetapi sesuai dengan jamannya. Tema kedua yang berjalan paralel mendasari cerita dalam film ini adalah prejudice. Walaupun Tracy adalah heroine dalam film ini, dia bukan heroine yang tanpa kelemahan, karena dia terlalu cepat menghakimi orang (prejudice) -- sebagai wanita yang pandai dan independen, dia sering terlalu cepat "melangkah". Sebanyak apapun dukungan penonton untuk Tracy, dia terlalu cepat menghakimi ayahnya (yang philanderer), bekas suaminya (yang alkoholik), dan reporter majalah gosip (yang berasal dari kelas sosial lebih rendah). Tetapi Tracy tidak sendirian dalam hal ini, karena sang reporter (James Stewart) dan fotografer-nya (Ruth Hussey) juga mempunyai prejudice terhadap orang kaya: "Oh, orang kaya itu modelnya pasti seperti bla, bla, bla ..." :-) Dari sini muncul satu tema suplemen yang menambah kekompleksan ceritanya, yaitu tentang kelas-2 sosial, bagaimana satu kelas sosial memandang kelas sosial yang lain, apakah orang yang "naik kelas" kemudian berubah menjadi seperti orang dari kelas tujuan atau tetap seperti orang dari kelas asalnya. Di sinilah letak keindahan cerita dari Philip Barry dan keunggulan script dari Donald Ogden Stewart ini: kompleks, riel, dan tajam. Walaupun menerima first billing, Cary Grant kurang bersinar dalam perannya sebagai bekas suami Tracy, C.K. Dexter Haven, kecuali dengan namanya yang nyentrik tersebut. Walaupun Grant memperoleh bagiannya dalam dialog yang tajam dan sarkastik, pembawaannya terkesan straightforward. Dan mungkin efek yang tidak disangka, justru Stewart sebagai reporter, Macaulay Connor, dan Hussey sebagai fotografer, Elizabeth Imbrie, yang berhasil bersinar dan mencuri sebagian perhatian penonton dari Hepburn. Stewart berhasil mencuri tempat Grant tersebut, dan sekaligus mencuri Oscar untuk Aktor Terbaik, dengan pembawaannya yang komik dan Hussey berhasil menyabet nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik dengan pembawaannya yang pragmatis. Sutradara George Cukor (24 tahun kemudian mengarahkan film dengan kekompleksan psyche yang sama, My Fair Lady), sangat teliti dalam menempatkan kamera pada saat-2 yang tepat untuk menangkap ekspresi wajah karakter-2nya, meng-accentuate point-2 penting dalam scriptnya.

Walaupun situasi sosial sudah sangat berubah dari ketika film ini dibuat, The Philadelphia Story tetap merupakan timeless comedy dan kita tetap dapat menarik banyak pelajaran dari film ini.

* 9.0/10


The Philadelphia Story dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 17 April 2012

Gilda

Resensi Film: Gilda (8.5/10)

Tahun Keluar: 1946
Negara Asal: USA
Sutradara: Charles Vidor
Cast: Rita Hayworth, Glenn Ford, George Macready

Plot: Seorang boss casino high-class yang beroperasi secara illegal menemukan orang kepercayaannya mempunyai masa lalu dengan istri barunya (IMDb).

Bersetting di Buenos Aires, Argentina, sekitar Perang Dunia ke 2, Gilda adalah film noir yang dikemas sebagai detective story, tetapi sesungguhnya adalah love story. Johnny Farrell (Glenn Ford) adalah penjudi "profesional" yang suatu malam diselamatkan oleh seorang tidak dikenal ketika dia dirampok di pinggir jalan, seraya diberitahu bahwa ada casino high-class yang beroperasi secara illegal, tetapi diperingatkan tidak mempraktekkan "keahliannya" tersebut di casino itu. Mengabaikan peringatan tersebut, Johnny pergi ke casino itu, curang di meja blackjack, kemudian ditangkap dan diserahkan ke pemilik casino yang ternyata adalah orang yang sama yang menolongnya tempo hari, Ballin Mundson (George Macready). Merasa bangga berhasil mencuranginya, Johnny menawarkan diri untuk bekerja di casino itu dan secara cepat memperoleh kepercayaan dari boss-nya. Suatu hari, sepulang dari perjalanan bisnis, boss-nya memperkenalkan Johnny kepada istri barunya, Gilda (Rita Hayworth) ... ternyata Johnny dan Gilda adalah eks pasangan. Mula-2 tidak mengetahuinya, Mundson akhirnya mencium masa lalu tersebut dari sikap "benci" mereka setiap kali mereka bertemu. Anehnya, Mundson menugaskan Johnny untuk menjaga/mengawasi Gilda. Sementara hubungan "love-hate" antara Johnny dan Gilda memanas, urusan bisnis Mundson dengan organisasi kartel dari Jerman menemui jalan buntu. Menambah complicated situasi, polisi rahasia Argentina membututi Johnny untuk memperoleh informasi tentang organisasi kartel tersebut.

Okay, penulis dapat menilai film ini dari dua sisi. Pertama, cerita. Dari sisi cerita, kurang valid. Relasi antara Johnny dan boss-nya tidak pernah masuk akal -- apakah mungkin seorang boss merekrut orang yang mencuri darinya menjadi manajer untuk usahanya? bukankah dia semestinya sudah mempunyai manajer untuk usahanya tersebut? Mundson mengawini Gilda, yang ternyata adalah eks-nya Johnny -- ini adalah big coincidence yang terasa dibuat-2 ... only happens in the movies :-) Kemudian, Mundson menugaskan Johnny untuk "menjaga" atau "mengawasi" Gilda -- ini betul-2 laughable :-) ... seakan-2 hanyalah pretext saja (alasan saja) untuk melayani tujuan yang lain, yaitu melihat hubungan "love-hate" antara Johnny dan Gilda. Dan ... ya memang betul, THAT IS IT! Film ini walaupun bernuansa film noir/detective story, sesungguhnya adalah love story. Ada banyak "lubang" dalam ceritanya, terutama menuju akhir film, tetapi penulis tidak ingin membuka semua plot agar tidak merusak keinginan mereka yang belum pernah menonton film ini.

Kedua, produksi. Dari sisi produksi, kalau kita menerima film ini adalah film love story (tepatnya, femme fatale), sehingga segala sesuatu yang terjadi antara Johnny dan Gilda terasa make sense, betul-2 fantastik! Dibuat ketika Hollywood berada di bawah pengawasan MPPC (Motion Picture Production Code), yaitu badan yang melakukan moral censorship terhadap film-2 Hollywood dari tahun 1930 sampai tahun 1968, penulis betul-2 kagum melihat bagaimana sutradara Charles Vidor dan tim penulis script-nya berhasil memenuhi semua tuntutan MPPC dan tetap berhasil menyampaikan esensi dari cerita yang ada. Johnny dan Gilda bagaikan kutub utara dan kutub selatan yang berseberangan dan sekaligus saling tertarik. Hubungan "love-hate" tersebut dicerminkan dalam scene-2 yang highly sexual dan sensual, dan diisi dengan dialog-2 yang ... (oh my god) deliciously spiteful! :-) Penonton tahu, tinggal tunggu waktu saja sebelum mereka melampiaskan cintanya, sehebat mereka melampiaskan bencinya. Tetapi beruntung sekali ada MPPC :-) ... sehingga pelampiasan tersebut hanya terjadi sekali saja, dan itupun hanya 3 detik saja :-) Ada pepatah yang mengatakan: less is more, dan ini berlaku di sini. Walaupun Glenn Ford tampil hampir dalam setiap scene, Rita Hayworth adalah "jiwa" dalam film ini. Sementara Ford terasa kaku (ekspresi wajahnya jarang berubah sepanjang film), Hayworth betul-2 femme fatale yang believable -- ekspresi wajahnya komplit: dari gembira, kaget, kesal, sinis, manja, marah, sexy, frustrasi, sampai segalanya yang lain. Dia menyanyi (di-dubbed), menari, dan menggoda dengan passionate. Jack Cole adalah orang yang berjasa meng-koreografi Hayworth ketika dia menyanyi dan menari "Put the Blame on Mame" dan "Amado Mio". Sedang Charles Vidor betul-2 mengetahui dimana dia mesti meletakkan kamera untuk menangkap sisi terbaik Hayworth. Scene-2 dimana Hayworth mengibaskan rambutnya dari luar kamera masuk ke dalam kamera, entah sudah berapa kali diimitasi oleh filmmaker-2 yang lain. Penampilan Hayworth juga dibantu oleh kostum-2 elegan dan sexy dari Jean Louis. Dan secara keseluruhan, filmnya menerima cinematografi hitam-putih yang kaya dan indah dari Rudolph Mate.

Walaupun dari sisi cerita kurang valid, penulis lebih condong mengapresiasi film ini dari sisi produksinya, terutama bagaimana filmmaker pada jamannya berhasil melewati "halangan" dari MPPC.

* 8.5/10

Gilda dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 10 April 2012

Great Expectations

Resensi Film: Great Expectations (8.5/10)

Tahun Keluar: 1946
Negara Asal: UK
Sutradara: David Lean
Cast: John Mills, Valerie Hobson, Bernard Miles, Francis L. Sullivan, Anthony Wager, Jean Simmons

Plot: Seorang anak laki-2 yatim piatu menerima bantuan keuangan dari seorang anonimus untuk dididik menjadi pria terhormat (gentleman) dengan masa depan cemerlang (great expectations) (IMDb).

Film arahan sutradara David Lean ini adalah adaptasi bebas dari novel klasik dengan judul yang sama karya Charles Dickens. Mereka yang sudah membaca novelnya akan menemukan beberapa perbedaan antara novel dan filmnya. Selain perbedaan beberapa karakter, script adaptasi film ini juga menghilangkan ambiguity di akhir cerita -- konon dengan maksud memuaskan tuntutan sentimental penonton (sementara mereka yang mengenal novelnya justru ambiguous dengan akhir cerita tersebut). Anyway, David Lean dkk. telah melakukan adaptasi dengan sangat baik -- sebaik mungkin yang dapat dilakukan oleh tim penulis script dari "memampatkan" 59 bab dalam novelnya menjadi hanya 3 babak saja dalam filmnya, dan tetap berhasil menjaga esensi dari cerita yang ada. Tidak ada penulis lain, selain Shakespeare tentunya, yang dapat menandingi Charles Dickens dalam menciptakan karakter-2 dengan nama yang aneh, dan karakterisasi yang aneh pula, sedemikian rupa sehingga melekat dalam ingatan pembaca. Walaupun Pip (John Mills/Anthony Wager -- Pip kecil) adalah tokoh utama dalam cerita ini, Pip hanyalah hero yang pasif, yang terseret menjadi "saksi" dalam rentetan peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Miss Havisham (Martita Hunt) adalah kekuatan utama dalam film ini: seorang wanita yang patah hati, yang memelihara patah hatinya dengan "mengabadikan" momen tersebut dan mendidik anak angkatnya, Estella (Valerie Hobson/Jean Simmons -- Estella kecil), dengan meracuni pikirannya untuk mematahkan setiap hati pria yang jatuh cinta dengannya. Walaupun sudah diperingatkan oleh temannya, Pip tidak dapat menolong dirinya, dia tetap saja jatuh cinta terhadap Estella. Mr. Magwitch (Finlay Currie) adalah kekuatan utama yang lain dalam film ini: seorang kriminal/buronan yang satu-2nya cara untuk menebus keburukan hidupnya adalah dengan menjadikan orang lain orang terhormat, yang mempunyai nasib berbeda dari dirinya, yang mempunyai masa depan cemerlang. David Lean selalu menggunakan visual yang dramatis untuk menciptakan atmosfir yang sepadan dengan cerita yang ada. Scene di kuburan ketika Mr. Magwitch mencengkeram Pip dari luar frame kamera entah sudah berapa kali diimitasi oleh film-2 horor yang lain. Dan satu scene yang menjadi trademark dari film ini: rumah megah yang gelap dan terlantar dengan penghuninya yang gila, jelas-2 mempengaruhi sutradara Billy Wilder dalam filmnya Sunset Boulevard yang dia buat 4 tahun kemudian. Sedikit kekecewaan dari penulis dari film ini adalah casting untuk Pip dewasa dan Estella dewasa. John Mills dan Valerie Hobson (ketika film ini dibuat berusia 38 tahun dan 29 tahun) terlalu tua memerankan Pip dan Estella yang berusia 20 tahunan dalam ceritanya. Untungnya, Anthony Wager sebagai Pip kecil dan Jean Simmons sebagai Estella kecil jauh lebih pas castingnya. Anyway ...

Cerita tentang revenge dan redemption yang dikemas dalam setting horor ini menjadikan film arahan David Lean ini klasik seketika.

* 8.5/10

Great Expectations dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 25 November 2011

Bicycle Thieves

Resensi Film: Bicycle Thieves (Ladri di biciclette) (****/4)

Tahun Keluar: 1948
Negara Asal: Italy
Sutradara: Vittorio De Sica
Cast: Lamberto Maggiorani, Enzo Staiola

Plot: Di Roma, Itali, setelah Perang Dunia ke 2, seorang pria harus menemukan kembali sepedanya yang hilang dicuri, karena tanpa sepeda tersebut dia tidak dapat melakukan pekerjaannya (IMDb).

Berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Luigi Bartolini, film klasik arahan Vittorio De Sica ini adalah studi yang sangat berani tentang kemiskinan. Bicycle Thieves dipengaruhi oleh gaya neorealism Itali -- gaya realism baru yang dipopulerkan oleh Roberto Rossellini, bersetting di kelas pekerja/bawah, di-shooting di lokasi (bukan studio), menggunakan cast orang biasa (bukan aktor), dan berkutat tentang tema kesulitan ekonomi dan perubahan moral yang ditimbulkannya setelah Perang Dunia ke 2 selesai. Gaya realism baru ini lebih menampilkan elemen-2 dari kehidupan nyata, daripada dari imajinasi belaka. Bersetting di Roma, Itali yang miskin setelah Perang Dunia ke 2, pria miskin Antonio (Lamberto Maggiorani), didampingi oleh anak laki-2nya Bruno (Enzo Staiola), harus menemukan kembali sepedanya yang hilang dicuri, karena tanpa sepeda tersebut dia tidak dapat melakukan pekerjaannya. Untuk meningkatkan realism, peran-2 tersebut dimainkan oleh orang-2 biasa (bukan aktor): Maggiorani adalah pekerja pabrik dan Staiola adalah anak laki-2 biasa yang karena situasi ekonominya nampak lebih dewasa dari usianya. Mereka berdua berhasil menampilkan kemanusiaan mereka di tengah-2 kemiskinan yang kronis yang menggilas mereka tanpa tedeng aling-2: dari pria yang berpengharapan di pagi hari ke pria yang putus asa di malam hari. Judul filmnya sendiri baru memukul benak penonton menjelang akhir film ketika Antonio, setelah gagal menemukan sepedanya, akhirnya berusaha mencuri sepeda orang lain (menjadi seperti orang yang telah menyusahkan dirinya). Ketika film selesai, Antonio menyadari bahwa dia secara moral tidak lebih superior daripada orang yang telah mencuri sepedanya. What a powerful ending! Ketika film ini dibuat, tidak ada film di Hollywood yang berani mempunyai pesan akhir seperti ini, karena pasti dilarang oleh Motion Picture Production Code (MPPC)/Hays Code.

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Bicycle Thieves dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 24 November 2011

Mr. Skeffington

Resensi Film: Mr. Skeffington

Tahun Keluar: 1944
Negara Asal: USA
Sutradara: Vincent Sherman
Cast: Bette Davis, Claude Rains, Walter Abel

Plot: Fanny Trellis, socialite cantik yang materialistis, mengawini Job Skeffington, pengusaha Yahudi yang mencintainya secara tulus, untuk tujuan convenience ("kemudahan") -- dan membutuhkan waktu yang lama dan nasib buruk yang berentetan untuk menyadarkan Fanny atas keegoisan dirinya tersebut (IMDb).

Berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Elizabeth von Arnim, Mr. Skeffington adalah melodrama yang bertumpu pada kekuatan akting dari dua pemeran utamanya: Bette Davis sebagai Fanny Trellis yang self-centered, egois dan Claude Rains sebagai Job Skeffington yang sabar dan pemaaf. Pesan ceritanya sesungguhnya bagus, walaupun temanya sudah umum. Karakterisasi Trellis sebagai ego-sentris terasa unbelievable, tetapi tertolong dengan adanya sub-plot antara dia dan adik kesayangannya, Trippy (Richard Waring) -- namun demikian, Davis membawakan perannya dengan penuh keyakinan sehingga penonton menjadi yakin. Transformasi Davis menjadi "old lady" di akhir film betul-2 mengejutkan, sekaligus mengharukan. Karakterisasi Skeffington sebagai suami yang tidak pernah putus harapan terhadap istrinya juga terasa unbelievable, tetapi tertolong dengan adanya sub-plot antara dia dan sekretarisnya -- namun demikian, Rains membawakan perannya dengan penuh kehangatan sehingga penonton menjadi percaya. Betul-2 peran yang pas untuk Davis, sama seperti gaun yang dia kenakan untuk menggoda semua pria yang dia inginkan, Mr. Skeffington merupakan kemenangan untuk penampilan Davis. Davis dan Rains menerima nominasi Oscar untuk penampilan dalam film ini.

Cerita (***)
Screenplay (***)
Karakter (***)
Akting (****)

Keseluruhan: ***/4

Mr. Skeffington dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 23 November 2011

Now, Voyager

Resensi Film: Now, Voyager (**1/2/4)

Tahun Keluar: 1942
Negara Asal: USA
Sutradara: Irving Rapper
Cast: Bette Davis, Paul Henreid, Claude Rains, Gladys Cooper

Plot: Charlotte Vale, seorang perawan tua, mengalami gangguan mental gara-2 tekanan batin dari ibunya yang menguasai hidupnya. Setelah menjalani perawatan, dia pergi berpesiar dan berkenalan dengan seorang pria yang menyadarkan dirinya untuk menjadi wanita yang utuh dan independen (IMDb).

Berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Olive Higgins Prouty, inti ceritanya sesungguhnya berbobot, tetapi ... my oh my, film ini dipenuhi dengan cliché dan sentimentalitas -- seperti opera sabun. Namun demikian, transformasi Bette Davis dari wanita terkungkung menjadi wanita independen betul-2 luar biasa. Penampilan Gladys Cooper sebagai ibu yang menguasai juga sangat menyakinkan, walaupun rada berlebihan. Mereka berdua pantas menerima nominasi Oscar untuk penampilan dalam film ini. Claude Rains, seperti biasanya, memainkan perannya (sebagai Dr. Jaquith) dengan sangat baik, tetapi Paul Henreid tampil rada kaku (sebagai Jerry) dan karakternya (subplot antara dia dan anak perempuannya) terasa tidak masuk akal. Dialog-2nya terasa corny, pretentious -- muluk, tetapi tidak berarti :-) -- misalnya, dialog antara Dr. Jaquith dan Charlotte (Dr. Jaquith mengutip salah satu baris dari puisi Walt Whitman: "Now, Voyager, sail thou forth, to seek and find," atau dialog antara Charlotte dan Jerry:
Oh Jerry, don't let's ask for the moon. We have the stars.
What?! :-)

Kalau bukan gara-2 Bette Davis dan Gladys Cooper, film ini akan terlupakan dengan bergantinya jaman.

Maaf, penulis mesti tidak setuju dengan rating film ini di IMDb :-)

Cerita (**1/2)
Screenplay (**1/2)
Karakter (***)
Akting (***)

Keseluruhan: **1/2/4

Now, Voyager dapat anda temukan di eBay.com