Showing posts with label X: Non-English. Show all posts
Showing posts with label X: Non-English. Show all posts

Thursday, 19 March 2015

The Umbrellas of Cherbourg

The Umbrellas of Cherbourg
(Les parapluies de Cherbourg) ★★★★☆


Sederhana tetapi indah mutlak ...

Tahun Keluar: 1964
Negara Asal: Perancis
Sutradara: Jacques Demy
Script Original: Jacques Demy
Musik: Jacques Demy, Michel Legrand
Cast: Catherine Deneuve, Nino Castelnuovo, Anne Vernon, Marc Michel, Ellen Farner

Anda tidak menyukai film musical? Anda merasa musik memperlambat jalan cerita dan liriknya tidak seperti dialog yang biasanya? Jika jawaban anda “ya” untuk kedua pertanyaan ini, maka film kecil dari Perancis ini bakal mengubah persepsi anda tentang film musical.

Musik dan liriknya diaransir secara recitative -- mirip seperti ritme dan intonasi orang yang berbicara, karya Jacques Demy ini berhasil menjadi masterpiece yang tidak terduga. Ringan, musiknya tidak terasa berat di telinga, tetapi indah, dan plot ceritanya padat dan bergerak cepat.

Ceritanya sesungguhnya sangat sederhana dan sangat umum (“love story” yang tidak perlu diceritakan lagi), namun demikian Jacques Demy tetap berhasil dengan rapi menyimpan dan menampilkan “puncak” atau  “kejutan” di akhir cerita; mengetahui penonton mengharapkan “Hollywood ending”, dan ketika akhir ceritanya ternyata sangat realistis, penonton justru terkejut atau tidak menyangka ... :-) Brilliant! Resolusinya sudah ada di depan mata, tetapi Demy tetap berhasil membuat penonton menunggu dalam suspense di akhir film.

Efeknya, hanya berdurasi 91 menit saja, penonton seakan-2 tidak menginginkan film ini berakhir. Dengan setting produksi yang indah bagaikan dalam dunia khayal (mirip seperti setting produksi dalam The Grand Budapest Hotel), casting yang betul-2 pas dengan karakterisasinya -- not to mention cantik dan ganteng bagaikan dalam dongeng (Catherine Deneuve ! ... 91 menit memandangnya terasa seperti cuma 5 menit saja), tetapi diimbangi dengan cerita yang rapi, padat, dan realistis -- membuat penonton simpati dan ikut terhanyut dalam masalah pelik yang dihadapi pasangan belia ini (padahal kita tahu persis masalah apa sich yang sedemikian peliknya yang dihadapi remaja berusia 16 tahun?! :-) ), The Umbrellas of Cherbourg adalah masterpiece yang lahir dari kesederhanaan dan kecintaan penciptanya terhadap musical.


Pemenang Palme d'Or dalam Festival Film Cannes pada tahun 1964, The Umbrellas of Cherbourg berhasil mengantongi 4 nominasi Oscar (Script Original dan 3 kategori musik) pada tahun 1966 -- tahun yang berat karena saat itu ada The Sound of Music yang musical dan Doctor Zhivago yang musiknya dari Maurice Jarre notabene tidak mungkin terkalahkan. Tetapi kategori Original Song semestinya jatuh ke lagu tema dalam film ini yang berjudul “Je ne pourrai jamais vivre sans toi ” (“I Will Wait for You”) ... very, very beautiful.

Catherine Deneuve mengingatkan penulis pada Grace Kelly. Beruntung sekali dia tidak kawin dengan pangeran, sehingga dia tetap bisa berkarya dalam perfilman sampai saat ini. And she still is beautiful ...



The Umbrellas of Cherbourg dapat anda temukan di eBay.com

Sunday, 8 February 2015

Leviathan

OSCAR WATCH 2015

LEVIATHAN (Левиафан) (8.5/10)

Negara Asal: Rusia
Sutradara: Andrey Zvyagintsev
Script Original: Andrey Zvyagintsev, Oleg Negin
Cast: Aleksey Serebryakov, Roman Madyanov, Vladimir Vdovichenkov, Elena Lyadova, Sergey Pokhodaev
Sinematografi: Mikhail Krichman


Kalau anda menyukai Ingmar Bergman's The Seventh Seal (1957), anda akan menyukai film ini. Mengetengahkan topik yang serius, berat, dan tidak populer, tidak mengherankan kalau tidak ada filmmaker di Hollywood yang berani mengadaptasi cerita Ayub ke dalam film, apalagi menyesuaikan isinya (the moral of the story) dengan kehidupan nyata jaman sekarang -- Hollywood beraninya cuma mengangkat cerita-2 yang “menarik”, yang mengandung adventure atau action, yang umumnya dikemas dalam period drama sehingga nyaris tidak ada korelasinya dengan kehidupan nyata sehari-2. Sebagai contoh, cerita Musa (filmnya baru main, penontonnya sudah nungguin Musa membelah Laut Merah -- populer sekali cerita Musa ini), cerita Nuh (penonton nungguin air bah), cerita Sodom dan Gomorah (penonton nungguin penghancuran dua kota ini), cerita Samson dan Delilah (ada action-nya, ada romance-nya, klop sudah), atau yang santer digosipkan bakal diproduksi, cerita Yunus (yang ini bahkan filmnya belum dibuat, penontonnya sudah nungguin Yunus ditelan ikan paus :-) ). Maka, tidak ada filmmaker di Hollywood yang berani menyentuh cerita Ayub. Siapa yang ingin nonton film tentang orang yang nasibnya malang? Well, I do!

Beruntung sekali ada filmmaker Rusia. Mempertimbangkan literatur Rusia yang sarat dengan nuansa tragedi yang siap menerkam lakon-2nya, tidak mengherankan kalau filmmaker Andrey Zvyagintsev dengan such finesse (skillful handling) menampilkan cerita tragedi Ayub ini tanpa perlu embel-2 pemanis atau sentimentalisme untuk menutupi rasa pahitnya -- suatu keahlian yang hampir mustahil muncul dari filmmaker Hollywood.


Bersetting di sebuah kota kecil di pinggir laut di bagian utara Rusia, film mengikuti perjalanan lakon utamanya, Kolya (Aleksey Serebryakov), seorang nelayan tua yang sederhana dan temperamental, ketika dia bermasalah dengan Vadim (Roman Madyanov), walikota kota tersebut, yang ingin menggusurnya dari propertinya yang terletak di pinggir pantai. Dibantu oleh teman lamanya, Dmitri (Vladimir Vdovichenko), yang sekarang menjadi pengacara di Moscow, Kolya berusaha melawan penggusuran tersebut melalui pengadilan -- tidak mengetahui pengadilan di kota tersebut sudah dibeli oleh sang walikota. Sementara itu Kolya juga menghadapi masalah pribadi yang lain: istri mudanya, Lilya (Elena Lyadova -- she is beautiful), tidak happy, dan anak remajanya, Roma (Sergey Pokhodaev), tidak cocok dengan ibu tirinya. Dmitri mula-2 berusaha melawan korupsi yang terjadi melalui jalur hukum -- tetapi ternyata seluruh aparat hukum di kota tersebut juga sudah dibeli oleh sang walikota. Sejak itu Kolya dirundung serangkaian “nasib malang” sampai akhirnya dia kehilangan semuanya: teman-2nya, istrinya, anaknya, rumahnya, dan akhirnya kebebasannya.

Pertama kali menonton film ini penulis tidak menangkap subteks yang ditampilkan -- penulis bahkan merasa marah dan muak melihat situasi yang terjadi: Menggunakan ayat-2 Kitab Suci untuk men-justify “nasib malang” yang notabene berasal dari manusia sendiri? Walikota yang tingkah-lakunya seperti Godfather mafia. Polisi yang korup. Istri yang tidak setia (atau khilaf ya?). Teman-2 yang menikam dari belakang. Dan yang paling mengecewakan, Uskup Gereja yang sikapnya tidak kalah buruknya daripada sang walikota (I want to smash his face! :-( ). Film ini betul-2 mengusik sense of justice: Where is justice? Atau seperti yang ditanyakan Kolya: “Where is the merciful God? ”

Kedua kalinya menonton, yes, I got it! Pertanyaan penulis di atas tiba-2 berubah menjadi pernyataan: Menggunakan ayat-2 Kitab Suci untuk men-justify “nasib malang” yang notabene berasal dari manusia sendiri. Ayat-2 tersebut bukanlah tentang Sang Pencipta yang menghukum manusia, tetapi manusia yang mendatangkan kesengsaraan untuk sesamanya. Shot-2 landscape tanpa gerak dan tanpa suara dari Zvyagintsev dan sinematografer Mikhail Krichman, berlatar belakang alam Rusia yang indah dan megah, seakan-2 menggambarkan ketidak-bertindakan dan ketidak-bersuaraan Sang Pencipta yang maha besar menyaksikan tragedi yang terjadi.

“Where is the merciful God? ”

Silence, silence, silence.

Karena yang bisa menjawab adalah manusia.

Excellent film.

A Russian epic!

Nominasi Oscar 2015:
  • Film Berbahasa Asing (Bukan Inggris) Terbaik



Leviathan dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 16 December 2014

Ida

OSCAR WATCH 2015

IDA (7.8/10)


Negara Asal: Polandia
Sutradara: Pawel Pawlikowski
Script Original: Pawel Pawlikowski, Rebecca Lenkiewicz
Cast: Agata Kulesza, Agata Trzebuchowska, Dawid Ogrodnik
Sinematografi: Lukasz Zal, Ryszard Lenczewski

Momen menjelang kaul kekal sering menjadi plot yang menggerakkan awal cerita, a.l.: Viridiana (1961), film berbahasa Spanyol, pemenang Palme d'Or  di Cannes tahun 1961, atau yang lebih populer, The Sound of Music (1965), pemenang Film Terbaik di Oscars tahun 1966. Tema biara bukanlah tempat untuk melarikan diri atau bersembunyi dari apapun yang menakutkan dalam hidup ini menciptakan medium yang subur bagi karakter utama untuk menerima tantangan dan berkembang -- dan konsekuensinya, menarik bagi penonton untuk menyaksikannya. Karakter utama tersebut harus pergi keluar dari biara, menghadapi apapun yang dia perlu hadapi, sebelum dia membuat keputusan terakhir.

Bersetting pada dasawarsa 1960-an, Anna (Agata Trzebuchowska), seorang calon biarawati -- juga yatim piatu yang besar di biara, diberitahu oleh biarawati kepala bahwa sebelum dia dapat mengambil kaul kekal dia harus mengunjungi bibinya, Wanda (Agata Kulesza), yang merupakan satu-2nya familinya yang masih hidup. Tidak mengetahui dia memiliki seorang bibi, Anna menuruti perintah tersebut dan pergi menemui bibinya. Bibinya ternyata adalah seorang bekas Jaksa Wilayah yang dulunya mempunyai posisi penting di Polandia. Tanpa basa-basi, bibinya yang bermata gelap dan berkulit gading ini memberitahu Anna bahwa Anna bukan Katolik; nama Anna sesungguhnya adalah Ida Lebenstein, seorang Yahudi, dan orangtuanya diduga terbunuh pada masa pendudukan Jerman. Anna memutuskan ingin menemukan kuburan orangtuanya. Anna dan bibinya kemudian melakukan perjalanan menelusuri tempat-2 dimana orangtuanya pernah tinggal dan menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi saat itu. Di tengah perjalanan Anna bertemu dengan seorang pemuda, saxophonist, Lis (Dawid Ogrodnik).


Karya dari sutradara dan penulis asal Polandia, Pawel Pawlikowski, ini adalah potret mini negaranya pada dasawarsa 1960-an: di balik tirai besi, dingin dan kelabu, dan trauma holocaust masih tersimpan hangat dalam memori. Film secara keseluruhan di-shot dengan warna B&W/hitam-putih, kontras lembut, menciptakan nuansa melankoli yang diinginkan. Namun demikian, nuansa melankoli tersebut tidak sampai menguasai seluruh film, karena tiga karakter utama yang ada mempunyai karakterisasi yang multi-dimensional: Anna yang polos dan pendiam tetapi menggerakkan plot cerita, Wanda yang wajahnya berkarakter kuat, tetapi di baliknya ternyata rapuh, dan Lis yang ganteng dan mencerminkan masa depan yang lebih cemerlang; dan dinamika hubungan di antara mereka yang menarik.

Sepanjang film penonton merasa kasihan terhadap Anna -- yatim piatu, orangtuanya korban holocaust, Yahudi tetapi Katolik, tetapi di akhir film penonton akhirnya menyadari bahwa bukan Anna-lah yang perlu dikasihani, karena dia ternyata mempunyai “inner strength” yang lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Seakan-2 Pawlikowski ingin mengatakan bahwa tidak peduli seberapa pahit kenangan masa lalu yang menghantui Polandia, Polandia terus bergerak maju menyongsong masa depan.

Film berdurasi hanya 80 menit ini bisa menjadi “kecil-2 cabe rawit” dalam nominasi Film Berbahasa Asing (Bukan Inggris) Terbaik dalam Oscars 2015 y.a.d.; bahkan mungkin mengalahkan film yang sudah memenangkan Palme d'Or  di Cannes tahun ini, yang skala produksinya jauh lebih besar, Winter Sleep. Sinematografi B&W juga patut diacungi jempol, tetapi karena film ini adalah film kecil, besar kemungkinan aspek sinematografi-nya luput dari perhatian juri.

Prediksi Oscar 2015:
  • Nominasi Film Berbahasa Asing (Bukan Inggris) Terbaik



Ida dapat anda temukan di eBay.com

Saturday, 24 May 2014

The Seventh Seal

The Seventh Seal ★★★★★

Silence ... kebisuan ...

“Faith is a torment. It is like loving someone who is out there in the darkness but never appears, no matter how loudly you call.”


Tahun Keluar: 1957
Negara Asal: Sweden
Sutradara: Ingmar Bergman
Cast: Max von Sydow, Bengt Ekerot, Gunnar Björnstrand, Nils Poppe, Bibi Andersson

Seandainya film ini keluar saat ini, jaman dimana religious revival (baca: zealotry) (fanatisme atau persaingan keagamaan) merebak luas, besar kemungkinan film ini akan dinilai kontroversial atau bahkan dilarang-putar di banyak tempat. Menunjukkan bahwa tema film ini masih terus relevan sampai saat ini. Untungnya (atau sebaliknya, sayangnya), tidak banyak penonton yang tahu tentang film klasik ini. Seluruh pendidikan agama yang penulis terima sejak kecil bertujuan menjadikan penulis beriman “teguh” atau “kuat”, artinya yakin 100%, tidak ada keraguan sedikitpun, tidak goyah sama sekali, ... pasrah bongkokan. Semua hasil yang tidak seperti ini akan dinilai sebagai kegagalan. Penulis bisa membayangkan seandainya penulis dulu mengatakan: “faith is a torment, it is like loving someone who is out there in the darkness but never appears, no matter how loudly you call,” kepada guru agama di sekolah, penulis pasti akan kena tegur, kena hardik, atau bahkan kena maki sebagai umat yang tidak beriman -- karena itu penulis mending diam saja :-) Kira-2 demikian juga pendidikan agama yang diterima Ingmar Bergman, apalagi sebagai anak dari seorang pendeta Lutheran. Hampir semua film drama Bergman berkisar pada ketidakpuasannya dengan cara Tuhan memilih menampilkan (dhi, tidak menampilkan) dirinya pada manusia. Pencarian spiritual ini menjadi pusat dari film-2 Bergman di puncak kariernya. The Seventh Seal mengawali periode ini, dimana dia bertanya, lagi dan lagi, mengapa Tuhan seakan-2 absen dari dunia. Di awal 1960-an, dia mengarahkan trilogi yang mengeksplorasi tema keimanan dan keraguan: Through a Glass Darkly (1961), Winter Light (1962), dan The Silence (1963).

Antonius Block (Max von Sydow), seorang prajurit, pulang dari perang salib di Yerusalem, menemukan negerinya merana dan rakyatnya sekarat gara-2 serangan wabah penyakit pes. Tidak lama kemudian, malaikat kematian (Bengt Ekerot) datang untuk menjemputnya.

Antonius Block: “Who are you?”
Death: “I am Death.”
Antonius Block: “Have you come for me?”
Death: “I have long walked by your side.”
Antonius Block: “So I have noticed.”
Death: “Are you ready?”
Antonius Block: “My body is ready, but I am not.”


Sebelum sang malaikat sempat merenggut nyawanya, Block -- mengetahui dari gambar-2 dinding di gereja bahwa sang malaikat gemar bermain catur, mengajukan tawaran kepada sang malaikat untuk bermain catur. Perjanjiannya: selama dia menang, dia boleh terus hidup. Sang malaikat setuju. Sambil mereka bermain catur, Block mulai bertanya-2 tentang Tuhan, dan sang malaikat tentang dirinya.

Suatu saat, ketika Block pergi mengaku dosa ke seorang imam di sebuah gereja kecil, dia menumpahkan segala kegelisahan hatinya:

“My indifference has shut me out. I live in a world of ghosts, a prisoner of dreams. I want God to put out his hand, show his face, speak to me. I cry out to him in the dark but there is no one there.”

Tidak bisa menanggapi kegelisahan Block, imam tersebut kemudian menoleh ke arahnya dan Block terkejut menemukan dia adalah malaikat kematian yang selama ini membuntutinya. Di saat lain, ketika Block bertemu dengan seorang wanita pesakitan yang dituduh berselingkuh dengan setan (maksudnya, tukang sihir) yang sedang menunggu hukuman matinya, dia bertanya pada wanita tersebut:

Antonius Block: “Have you met the devil? I want to meet him too.”
Witch: “Why do you want to do that?”
Antonius Block: “I want to ask him about God. He must know. He, if anyone.”
Witch: “Look in my eyes. The priest could see him there, and the soldiers -- they would not touch me.”
Antonius Block: “I see nothing but terror.”

Akhirnya, ketika Block ter-skakmat oleh sang malaikat, dia bertanya lagi untuk terakhir kalinya, dan sang malaikat memberikan jawaban yang sama juga untuk terakhir kalinya, tetapi kali ini terdengar begitu mengejutkan:

Death: “When next we meet, the hour will strike for you and your friends.”
Antonius Block: “And will you reveal your secrets?”
Death: “I have no secrets.”
Antonius Block: “So do you know nothing?”
Death: “I AM UNKNOWING.”


Bergman dengan percaya diri mengakhiri film ini tidak dengan pernyataan atau klimaks, tetapi dengan gambar parade kematian -- sama aslinya seperti gambar malaikat kematian yang mengawali film ini; seperti sebuah film bisu -- suasana bisu yang menyelimuti film ini justru berkorelasi kuat dengan jawaban-2 atas pertanyaan-2 Block yang selama ini dia cari: silence, kebisuan ...

Didukung sinematografi hitam-putih kontras tajam yang menghantui dan desain produksi & dekorasi set yang detil tentang Eropa di abad pertengahan, kekuatan film ini terletak pada directness/kelugasan Bergman menyampaikan tema yang ingin dia sampaikan. Walaupun Bergman tidak menyediakan resolusi di akhir film, dia menawarkan rekonsiliasi di tengah film, yang menurut penulis adalah scene paling indah dari film ini, yaitu ketika pemain sirkus Jof (Nils Poppe), istrinya Mia (Bibi Andersson), dan anak laki-2nya Mikael berbagi makan malam sebaskom strawberry dan semangkok susu dengan Block, pembantunya Jöns (Gunnar Björnstrand), dan seorang gadis bisu. Untuk pertama kalinya dalam film ini Block terlihat bahagia. Sambil menikmati santapan sederhana tersebut Block mengatakan:

“I shall remember this moment: the silence, the twilight, the bowl of strawberries, the bowl of milk. Your faces in the evening light. Mikael asleep, Jof with his lyre. I shall try to remember our talk. I shall carry this memory carefully in my hands as if it were a bowl brimful of fresh milk. It will be a sign to me, and a great sufficiency.”

Mungkinkah ini adalah rekonsiliasi atas pencarian spiritual Block (Bergman) tersebut?

Klasik.




The Seventh Seal dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 19 February 2014

The Great Beauty

2014 Oscar Watch

The Great Beauty (La Grande Bellezza) (8.0/10)


Negara Asal: Italia
Sutradara: Paolo Sorrentino
Script: Paolo Sorrentino, Umberto Contarello
Cast: Toni Servillo, Carlo Verdone, Sabrina Ferilli, Carlo Buccirosso

La Grande Bellezza: Homage to La Dolce Vita (1960)

Sama sekali tidak mengurangi apresiasi terhadap 9 film yang masuk nominasi Film Terbaik dalam Oscars 2014, penulis akhirnya menemukan satu film yang spesial, unik -- berbeda dari yang lainnya, bahkan yang pernah ada sebelumnya -- which I truly enjoy; apalagi setelah hampir saja tidak memahami isinya, tetapi kemudian ... “Eureka! I got it!”

Jep Gambardella (Toni Servillo), setelah sukses menulis satu novel ketika dia muda, menghabiskan sisa hidupnya menjadi sosialita dan kolumnis di sebuah majalah pop-culture. Jep mengingatkan kita pada Marcello muda (Marcello Mastroianni), jurnalis di sebuah majalah gosip, dalam La Dolce Vita. Sekarang, baru saja merayakan ulangtahunnya ke 65, Jep dapat kita anggap sebagai kelanjutan dari Marcello yang dulu muda tersebut. Kecuali usianya yang bertambah tua, Jep (Marcello) selama ini tidak berubah: tetap menyukai “sweet life” (“la dolce vita”) -- segala kenikmatan fisik dan materi yang dapat dia peroleh (pesta, makan, minum, dansa, dlsb-nya, bahkan apartemen mewah di seberang monumen Colosseum :-)), seraya tetap mencari cinta dan kebahagiaan di segala sudut kota Roma. Tetapi ulangtahunnya kali ini, entah kenapa, meninggalkan perasaan kosong dalam dirinya. Tetapi tidak sampai dia bertemu dengan seorang pria, yang ternyata adalah suami dari bekas kekasihnya (kekasihnya ini meninggalkan Jep), yang memberi kabar bahwa istrinya baru saja meninggal dunia dan menyampaikan pesan bahwa istrinya selama ini tidak pernah berhenti mencintai Jep, Jep mulai merenung dan memeriksa batinnya. Jep seakan-2 terjaga: betapa anehnya, sesuatu yang telah lampau ternyata masih mampu membuat dirinya menangis tersedu-sedan, sementara yang lain yang baru saja lewat malah meninggalkan perasaan kosong dalam dirinya. Mengapa demikian? Dan mulailah sutradara Paolo Sorrentino, melalui visuals dari kameranya,  membawa kita masuk ke dalam perjalanan Jep memeriksa batinnya.

Dalam film ini Sorrentino menggunakan teknik Pure Cinema -- “vision & movement” -- untuk menyampaikan cerita yang ada. Walaupun mempunyai dialog, ceritanya tidak terlalu disampaikan melalui dialog-2nya, tetapi lebih banyak melalui “vision & movement” dari kameranya. Pesan penulis, walaupun anda mengikuti dialog yang disampaikan (membaca teks terjemahan di bagian bawah layar), beware, be very careful, hati-2 ... ceritanya justru terletak dalam visuals yang tampil di layar -- so, don't take your eyes off the screen. Kalau dalam La Dolce Vita Otello Martelli menggunakan sinematografi hitam-putih kontras tajam, dalam film ini Luca Bigazzi menggunakan sinematografi warna-2 hangat kontras tajam yang menghasilkan efek yang sama: memperkuat, mempertajam, meningkatkan intensitas visuals yang tampil. Dipadukan dengan gerakan kamera tracking dan panning slow-motion, Sorrentino seakan-2 mengajak penonton untuk menikmati keindahan visuals yang tampil (sekaligus, with all its “ugliness”).

Setiap adegan adalah kejutan, setiap karakter adalah contoh riel/hidup dari pesan yang ingin disampaikan: beauty, ugliness, young, old, spiritual, material, mortality, dan immortality. Sebagian penonton mungkin menilai film ini abstrak atau imajiner, tetapi untuk penulis sama sekali tidak -- it's so real! :-)  Wanita kerdil yang menjadi penerbit majalah pop-culture (daripada menulis karya sastra, Jep menyia-2kan bakatnya dengan menulis gosip), klinik Botox yang dokternya memberi injeksi Botox mirip seperti imam memberi komuni (kecantikan lahiriah menjadi seperti agama; kemudian ada biarawati muda yang ikut minta injeksi Botox :-), bukan di wajahnya, tetapi di tangannya :-) ), biarawati tua berusia 104 tahun yang dipanggil “Santa” yang setiap saat bisa jatuh mati -- wajahnya mirip seperti mummy dari museum ... omg, this is so funny :-) (manusia tidak mungkin bisa lepas dari mortality), dan yang lainnya -- sementara gedung-2 kuno/bersejarah tetap berdiri megah dan indah di latar belakang (hanya benda mati saja yang bisa berharap immortality). Begitu lugas dan gamblang. Karena setiap adegan adalah kejutan, masa putar sepanjang 142 menit sama sekali tidak terasa lama. Dan kalau anda tetap duduk di kursi anda ketika credit film berjalan di akhir film, anda akan melihat bagaimana sinematografi di akhir film berubah dari warna-2 hangat kontras tajam menjadi warna-2 natural yang lembut. Jep menemukan The Great Beauty yang sesungguhnya.

Walaupun Toni Servillo menempati first billing (dan dia tampil hampir di setiap scene dalam film ini), kota Roma adalah jiwa dari film ini.

The Great Beauty is Italian cinema at its best!

La Dolce Vita (1960) menerima 4 nominasi Oscar, yaitu: Sutradara Terbaik (Federico Fellini), Script Original Terbaik, Art Direction & Set Decoration B&W Terbaik, dan Costume Design B&W Terbaik (memenangkan Oscar). Anehnya, justru tidak masuk nominasi Film Berbahasa Asing (Bukan-Inggris) Terbaik. Menurut kabar terakhir, Oscars 2014 ini bakal menjadi tahunnya The Great Beauty. Jika benar, maka setelah lebih dari 50 tahun Academy Awards akhirnya memberi homage/tribute kepada La Dolce Vita.

Personally, I truly enjoy this movie ...

Two thumbs up.

Nominasi Oscar 2014:
  • Film Berbahasa Asing (Bukan-Inggris) Terbaik


The Great Beauty dapat anda temukan di eBay.com

Saturday, 4 January 2014

Blue is the Warmest Colour

2014 Oscar Watch

Blue is the Warmest Colour (La Vie d'Adèle – Chapitres 1 & 2/The Life of Adèle – Chapters 1 & 2) (8.0/10)


Sutradara: Abdellatif Kechiche
Script: Abdellatif Kechiche, Ghalia Lacroix
Cast: Adèle Exarchopoulos, Léa Seydoux

Human beings are sexual beings.
Seksualitas adalah bagian dari humanitas.
Mungkin karena itu, semua agama menempatkan moralitas seksual dalam bagian penting dalam ajarannya dan isinya strict (eksak dan terbatas); membuat seksualitas menjadi subyek yang tidak mudah didekati: paling tabu untuk dibicarakan, apalagi dieksplorasi. Kalau akhirnya dibicarakan, subyek seksualitas biasanya jatuh dalam 3 kemungkinan: 1) Boring (membosankan) -- disampaikan secara scientific, misalnya dalam pelajaran Biologi; 2) Funny (lucu) -- disampaikan secara komedi, misalnya dalam American Pie (1999); atau 3) Uneasy/Uncomfortable (bikin sungkan) -- disampaikan secara apa adanya. Blue is the Warmest Colour jatuh dalam kategori terakhir.

Film adaptasi dari novel bergambar dengan judul yang sama karya penulis Perancis, Julie Maroh, garapan sutradara kelahiran Tunisia, Abdellatif Kechiche, ini walaupun ceritanya berkisar antara 2 wanita: Adèle (Adèle Exarchopoulos) dan Emma (Léa Seydoux), film ini tidak sekedar menampilkan seksualitas antara keduanya, tetapi lebih merupakan perjalanan Adèle menemukan seksualitasnya -- “coming of age”, perjalanan Adèle dari remaja menjadi dewasa . Di samping menampilkan adegan-2 seks yang eksplisit, menarik melihat Kechiche -- dengan rapture/antusiasme yang sama -- menampilkan scene-2 dialog tentang seni, sastra, musik, filsafat (Adèle berpendapat begini, Emma berpendapat begitu; Adèle menyukai musik ini, Emma menyukai musik itu), scene-2 makan & minum (Adèle menyukai makanan ini, sedang Emma menyukai makanan itu -- satu scene menarik, yaitu ketika Emma mengajari Adèle mengapresiasi oyster), dan scene-2 keragaman etnik & budaya di tempat tinggal mereka (Arabic dan African); seakan-2 Kechiche mengeksplorasi seluruh panca-indera yang ada: penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, dan perasaan. Hasilnya, adegan-2 seks yang ada tidak stand-alone berdiri sendirian dalam konteks yang sempit, tetapi menjadi bagian dari konteks yang lebih luas, eksplorasi yang lebih luas, terhadap kelima indera yang ada. Selain itu scriptnya juga menampilkan seaneh apapun seksualitas mereka menurut standard yang dianut mayoritas, hubungan mereka ternyata mencakup aspek-2 yang sama seperti hubungan pasangan “straight”: cinta, cemburu, komitmen, pengorbanan, kejujuran, loyalitas, dlsb.

Kechiche rada berlebihan menampilkan sensualitas Adèle dengan menempatkan kamera extreme close-up di wajahnya hampir di seluruh film -- seakan-2 penonton tidak bisa mengapresiasi sensualitas Adèle. I got it! :-) Di banyak bagian, Kechiche juga rada carried-away (lupa diri) sehingga scene-2nya terlalu panjang, sehingga plotnya bergerak pelan. Namun demikian, di akhir film, I guess, kekurangan-2 tersebut dapat diabaikan.

Dengan ketiganya -- Kechiche, Exarchopoulos, Seydoux -- bersama-2 memenangkan Palme d’Or dalam Cannes Film Festival tahun 2013 yang lalu, film berbahasa Perancis ini dijagokan meramaikan nominasi Oscar untuk Film Berbahasa Asing Terbaik tahun ini. Namun sayang sekali film ini terpaksa tersingkir dari Oscar 2014 gara-2 tidak memenuhi persyaratan deadline -- Academy Awards mempunyai persyaratan semua film berbahasa asing yang ingin mengikuti kompetisi Film Berbahasa Asing Terbaik harus dikeluarkan di negara asalnya paling lambat tanggal 30 September tahun sebelumya -- film ini dikeluarkan di Perancis tanggal 9 Oktober 2013 (padahal sudah di-wanti-2). A rule is a rule :-( Lucunya, film ini boleh mengikuti kompetisi untuk kategori-2 yang lain, mis. Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Akting Terbaik, dlsb. -- yang mempunyai persyaratan deadline yang berbeda. Mempertimbangkan ketatnya persaingan yang ada dalam kategori-2 di atas, prediksi terakhir mengatakan kecil kemungkinan film ini akan masuk nominasi untuk kategori-2 utama tersebut.

Melihat akhir film yang open-ending (berbeda dari novelnya), ada kemungkinan di tahun-2 yang akan datang bakal ada sequel-nya.

Prediksi Nominasi Oscar 2014:
  • INELIGIBLE (tidak memenuhi persyaratan deadline)

Prediksi Nominasi Oscar 2015:
  • Film Berbahasa Asing (Bukan-Inggris) Terbaik


Blue is the Warmest Colour dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 1 January 2014

The Hunt

2014 Oscar Watch

The Hunt (Jagten) (8.0/10)


Negara Asal: Denmark
Sutradara: Thomas Vinterberg
Script: Tobias Lindholm, Thomas Vinterberg
Cast: Mads Mikkelsen, Thomas Bo Larsen, Annika Wedderkopp

Di Hollywood Mads Mikkelsen sering ter-typecast sebagai villain -- gara-2 penampilannya yang cool sebagai Le Chiffre dalam Casino Royale (2006), dan sekarang lebih-2 lagi ... sebagai Hannibal Lecter dalam serial TV terbaru, “Hannibal”. Di negaranya, Mikkelsen adalah aktor serba bisa. Setelah penampilannya dalam costume/period drama A Royal Affair (2012) yang masuk nominasi Oscar untuk Film Berbahasa Asing Terbaik tahun lalu, Mikkelsen memperoleh kesempatan lagi tampil dalam film dengan tema yang lebih penting yang besar kemungkinan akan meramaikan nominasi Oscar lagi untuk Film Berbahasa Asing Terbaik tahun ini.

Tinggal di sebuah kota kecil dimana semua warganya saling mengenal satu sama lain, Lucas (Mikkelsen) baru saja kehilangan pekerjaannya sebagai guru -- gara-2 sekolahnya ditutup, dan sekarang bekerja sebagai pengasuh anak di sebuah fasilitas penitipan anak. Agak pendiam tetapi berhati baik dan hangat, teman-2nya care terhadap dirinya yang hidup sendirian setelah bercerai dari istrinya dan berpisah dari anak laki-2nya. Tetapi semuanya itu berubah ketika pada suatu hari -- gara-2 marah karena hal yang lain -- salah satu anak asuhnya, Klara (Annika Wedderkopp), yang juga anak dari teman akrabnya, Theo (Thomas Bo Larsen), bercerita kepada kepala fasilitas bagaimana Lucas mempertontonkan bagian privatnya ke dirinya. Dalam film ini tidak ada pertanyaan “is-he-or-isn't-he”, karena penonton mengetahui bahwa cerita tersebut tidak benar -- peristiwa tersebut tidak berasal dari Lucas, tetapi dari kakak laki-2 Klara yang menginjak remaja. Kaget mendengar cerita tersebut, investigasi langsung dilakukan: child psychologist dipanggil, para orang-tua murid juga dipanggil. Diberikan daftar symptoms/tanda-2 dari korban pelecehan seksual -- segala sesuatu dari mimpi buruk sampai uring-2an, para orang-tua murid yang lain jadi yakin bahwa Lucas juga melakukan perbuatan tidak senonoh yang sama terhadap anak mereka. Seandainya script film ini tidak serius, film ini bisa menjadi satire tentang orang-tua yang over-protective terhadap anaknya: kalau anaknya bilang peristiwa tersebut tidak terjadi, ini malah dianggap anaknya sedang “in denial”. Situasi bergulir dari buruk menjadi semakin buruk ketika pihak kepolisian menolak menangkap Lucas gara-2 bukti yang tidak cukup -- situasi ini bukannya membersihkan namanya, tetapi malah membuat dirinya semakin dibenci oleh masyarakat.

Bagaimana, sampai kapan, atau pernahkah Lucas terbebas dari fitnah tersebut?

Dalam film ini Mikkelsen memperoleh kesempatan menampilkan versatilitas aktingnya. Dengan ekspresi wajah dan suara yang terkontrol dengan subtle/tidak kentara, Mikkelsen dengan sangat baik menampilkan potret bernuansa, gelegak dalam hati, seorang yang dipaksa merasa bersalah dari tindakan yang tidak pernah dia lakukan. Aktingnya ini berhasil mengantarnya ke Aktor Terbaik di Festival Film Cannes tahun 2012 yang lalu.

Prediksi Nominasi Oscar 2014:
  • Film Berbahasa Asing (Bukan-Inggris) Terbaik





The Hunt dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 2 August 2013

Airport, The Bullet Train, Speed

Triple Bombs!


Bom di pesawat.
Bom di kereta api.
Bom di bis.

Kita tidak memerlukan teroris betulan untuk menciptakan skenario tragedi yang mengerikan -- cukup panggil filmmakers saja :-) Sebelum era terorism merebak dalam satu dasawarsa terakhir ini, filmmakers sudah mengisi imajinasi kita dengan berbagai skenario tragedi yang mengerikan.

Airport (1970) menandai dimulainya genre film yang memadukan antara drama dan petualangan yang bersetting malapetaka (alami atau buatan manusia). Tidak tanggung-2, film pertama genre film malapetaka ini menempatkan bom di dalam pesawat. Kalau kita melayang 30.000 feet di atas daratan, kita tidak ingin menemui masalah sekecil apapun, apalagi bom. Dengan all star cast mulai dari Burt Lancaster, Dean Martin, Jacqueline Bisset, George Kennedy, sampai Maureen Stapleton, dan screenplay yang rapi dan ketat, Airport adalah film hiburan yang tidak hanya menghandalkan action, tetapi juga isi.

Kalau filmmaker di Hollywood menempatkan bom di dalam pesawat, betapa pasnya filmmaker di Jepang menyamai skenario tersebut dengan menempatkan bom di dalam kendaraan magnet kebanggaan mereka, Shinkansen -- The Bullet Train (Shinkansen Daibakuha) (1975). Awas, kalau kecepatan jatuh di bawah 50 mph, bom bakal meledak. Film garapan Jepang ini terasa out-dated, kekurangan elemen thriller dan suspense, sehingga cocok untuk di-remake, oleh Hollywood (!), mungkin dengan menggabungkan cast internasional -- some Japanese stars, some American stars, and some European stars, karena penumpang Shinkansen juga internasional.

Sekitar dua dekade kemudian, mengapa tidak memindah skenario di atas ke setting yang berbeda -- bis kota di tengah kepadatan lalu lintas di Los Angeles, Speed (1994). Dengan thriller dan suspense tempo tinggi, tidak seperti Airport yang memberi kesempatan kepada semua anggota cast untuk bersinar, Speed menggantungkan hampir semua daya tarik ke chemistry antara Keanu Reeves dan Sandra Bullock. Saking nemennya sampai Bullock dimasukkan terus sampai scene klimaks/akhir dimana Reeves akhirnya berhadapan dengan nemesisnya, Dennis Hopper. Tidakkah lebih baik kalau mereka berdua saja yang berhadapan satu sama lain (Bullock gak perlu diikutkan)?! Only to get the two share a kiss while onlookers watch, oooh :-) ... hmmm, bloody Hollywood ending! :-)


Airport, The Bullet Train, Speed dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 16 April 2013

Shanghai Triad

Resensi Film: Shanghai Triad (Yao a yao yao dao waipo qiao) (7.8/10)


Tahun Keluar: 1995
Negara Asal: France, China
Sutradara: Zhang Yimou
Cast: Gong Li, Li Baotian, Wang Xiaoxiao

Jangan membandingkan film gangster beranggaran kecil ini dengan film gangster beranggaran besar seperti The Godfather (1972), Scarface (1983), atau Goodfellas (1990). Dibandingkan film-2 tersebut, film ini ceritanya memang sederhana dan penyampaiannya tidak hard-hitting -- sutradara Zhang Yimou tidak menampilkan scene-2 kekerasan secara grafis, sebagian darinya disampaikan dari POV (point of view) protagonis film ini yang masih di bawah umur, dengan demikian membiarkan penonton menggunakan imajinasinya sendiri -- dan cara ini sudah cukup untuk mencapai efek yang dia inginkan, yaitu pesan utamanya tetap tersampaikan secara efektif di akhir film.

Shuisheng (Wang Xiaoxiao) adalah anak petani miskin yang dikirim ibunya ke kota untuk bekerja dengan pamannya yang konon adalah orang “sukses”. Tidak pernah menjelaskan apa pekerjaannya, pamannya memberi Shuisheng pekerjaan sebagai pelayan seorang penyanyi cabaret/nightclub yang ketus dan bermulut tajam, namanya Jingbao (Gong Li). Kontan saja Shuisheng tidak menyukai majikannya. Sampai suatu saat, ketika majikannya sedang vulnerable, majikannya mengatakan bahwa dia sesungguhnya berasal dari latar belakang yang sama seperti Shuisheng, yaitu anak petani miskin yang pergi ke kota untuk menjadi orang sukses. Sejak itu Shuisheng mulai dapat berempati terhadap majikannya: sikapnya yang judes tersebut ternyata adalah ungkapan frustrasinya terhadap nasibnya sendiri -- wanita simpanan seorang boss mafia, orang “sukses” (?), dan mulailah terjalin persahabatan antara mereka berdua. Pikirannya terbelah antara cita-2 yang muluk dan kenyataan yang sebaliknya, Jingbao sedikit demi sedikit terseret ke titik nadir paling bawah ... sementara Shuisheng, yang masih di bawah umur, tidak berdaya melindunginya dan hanya bisa menyaksikan saja.

Tidak setuju dengan pendapat Roger Ebert yang menilai Wang Xiaoxiao (protagonis film ini) sebagai titik lemah dari film ini, penulis justru menilai pemilihan Wang, anak laki-2 yang sama sekali tidak 'polished' dan tidak 'cute', sangat cocok dengan peran yang dia mainkan: a country bumpkin! Namun demikian penulis memahami pendapat tersebut karena di Hollywood produser hanya memilih anak-2 yang 'cute' (lucu dan menggemaskan) saja -- bahkan overly cute :-), misalnya: Jonathan Lipnicki dalam Jerry Maguire (1996), Dakota Fanning dalam I am Sam (2001), atau Abigail Breslin dalam Little Miss Sunshine (2006), untuk “memeras” simpati penonton. Tetapi untuk penulis, hal ini justru kurang realistis, apalagi kalau perannya tidak memerlukan kualitas tersebut, karena itu penulis sama sekali tidak melihat Wang sebagai titik lemah dari film ini. Gong Li membuktikan dirinya tidak hanya rupawan saja, tetapi juga aktres yang berbobot, menampilkan variasi personality mulai dari penyanyi cabaret yang mempesona, majikan yang menjengkelkan, wanita simpanan yang tidak bahagia, sampai ke dirinya sendiri yang masih terpendam di dalam. Sayang sekali, Gong Li sampai saat ini belum pernah diperhitungkan di Academy Awards. Semoga dia masih mempunyai kesempatan membuat film-2 yang berbobot.

Memperhitungkan anggaran pembuatan film ini yang termasuk kecil, two thumbs up untuk Zhang Yimou yang berhasil dengan sangat baik menampilkan romantika, dan sekaligus dekadensi, kota Shanghai pra-revolusi, yang saat itu dijuluki sebagai “Paris of the East”, melalui sinematografi, desain produksi, desain kostum, dan arahan seni yang memukau. Dikemas sebagai film gangster, Shanghai Triad adalah film tentang mimpi muluk yang harus berakhir dengan tragedi (judul aslinya dalam bahasa Mandarin lebih mencerminkan isi ceritanya daripada judul dalam bahasa Inggrisnya).

* 7.8/10





Shanghai Triad dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 6 March 2013

Incendies

Resensi Film: Incendies (8.5/10)




Tahun Keluar: 2010
Negara Asal: Canada
Sutradara: Denis Villeneuve
Cast: Lubna Azabal, Mélissa Désormeaux-Poulin, Maxim Gaudette, Rémy Girard

Incendies menerima nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik dalam Oscar pada tahun 2011. Adaptasi dari teater dengan judul “Scorched” karya Wajdi Mouawad, film ini bersetting di sebuah negara kecil di Timur Tengah dan berbahasa Perancis dan Arab. Incendies dimulai dengan suasana berkabung dimana dua anak kembar, Jeanne dan Simon Marwan, mendengarkan notaris Jean Lebel membacakan isi surat wasiat ibunya yang baru saja meninggal dunia. Selain tentang pembagian harta kekayaan, surat wasiat tersebut ternyata berisi perintah-2 penting dan “aneh” untuk mereka, yaitu: 1) mereka dilarang mengubur dirinya dengan tata-cara yang layak, tetapi justru sebaliknya -- jasadnya harus tertelungkup menghadap ke tanah, agar wajahnya tidak menengadah menghadap ke dunia, sebagai tanda dari ketidaksukaannya terhadap hidup yang dia alami, mereka juga dilarang menulis namanya di batu nisan, 2) untuk Jeanne (Mélissa Désormeaux-Poulin), dia harus pergi ke negara asalnya untuk mencari ayah mereka dan memberikan surat darinya kepadanya, dan 3) untuk Simon (Maxim Gaudette), dia juga harus pergi ke negara asalnya untuk mencari saudara laki-2 mereka dan memberikan surat darinya kepadanya. Setelah mereka melaksanakan semuanya, Jean (Rémy Girard) akan memberikan surat terakhir darinya untuk mereka. Kontan saja mereka kaget bukan kepalang karena ibunya, Nawal Marwan (Lubna Azabal), selama hidupnya tidak pernah bercerita tentang ayah mereka, juga tidak pernah bercerita kalau mereka mempunyai saudara laki-2. Mengapa baru sekarang mengungkapkannya? Apa gerangan arti semua ini? Akhirnya dengan bantuan sarana dan dukungan moral dari Jean, bekas majikan ibunya yang baik hati dan sekaligus orang kepercayaan ibunya, mereka berdua pergi ke negara asalnya. Dan cerita yang sesungguhnya dimulai ...

Walaupun tidak disebutkan di negara mana cerita terjadi, negara yang dimaksud adalah Lebanon. Tanpa sentimentalitas yang berlebihan, Incendies menampilkan horor dari perang sipil -- konflik antar golongan yang diwarnai dengan politik dan agama -- yang terjadi di Lebanon dan tragedi yang menimpa Nawal Marwan sebagai akibat darinya. Namun demikian, ceritanya tidak melulu tentang itu saja, karena “undercurrent” atau sub-cerita yang sesungguhnya adalah tentang forgiveness. Dengan “jigsawing” atau teknik penyampaian cerita yang disusun bagaikan teka-teki, suspense terjaga ketat dari awal sampai akhir film, dan revelation (penemuan) yang ditemukan Jeanne dan Simon tentang ibunya betul-2 menciptakan intense emotion, alias blew my mind.

Sejak The Barbarian Invasions (Les invasions barbares) memenangkan Film Berbahasa Asing Terbaik dalam Oscar pada tahun 2004, Canada -- tepatnya propinsi yang berbahasa Perancis, Quebec -- menjadi penyumbang reguler nominasi untuk kategori ini. Sebagai propinsi yang menerima banyak imigran, film-2 yang dihasilkan mencerminkan keanekaragaman cerita dari para imigrannya: ada Water (2005) yang bersetting di India tentang seorang janda yang terpasung hidupnya gara-2 tatanan sosial yang berlaku saat itu, ada Monsieur Lazhar (2011) yang bersetting di Montreal tentang seorang guru dari Aljazair, dan ada War Witch (2012) yang bersetting di Congo tentang seorang tentara anak-2, korban perang sipil di negeri tersebut. Kalau Ben Affleck mengatakan “Thank you, Canada” untuk filmnya Argo, penulis mengatakan “Bravo, Canada” untuk film-2 yang dihasilkan.

* 8.5/10




Incendies dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 7 August 2012

A Separation

Resensi Film: A Separation (Jodaeiye Nader az Simin, "The Separation of Nader from Simin") (9.0/10)

Tahun Keluar: 2011
Negara Asal: Iran
Sutradara: Asghar Farhadi
Cast: Peyman Moadi, Leila Hatami, Sareh Bayat, Shahab Hosseini, Sarina Farhadi

Plot: Sepasang suami-istri dihadapkan pada pilihan yang sulit antara pindah ke negara lain demi masa depan anaknya atau tetap tinggal di Iran untuk merawat orangtuanya yang menderita Alzheimer atau penyakit pikun (IMDb).

Wow, this is it!

Inilah film pemenang Best Foreign Language Film dalam Oscar tahun 2012 yang baru lalu.

Pertama, tidak seperti kategori Best Picture (Film Terbaik) yang sering dipenuhi oleh "politik" dari Academy Awards, misalnya: filmnya harus sesuai dengan "tema" pada tahunnya, filmnya harus mempunyai appeal/daya tarik untuk penonton mainstream, atau yang lainnya, kategori Best Foreign Language Film -- karena bebas dari "politik" seperti itu (at least, until now) -- hasilnya justru lebih obyektif (!) Walaupun kategori Best Picture mempunyai prestige lebih tinggi, sejak satu dasawarsa terakhir ini kategori Best Foreign Language Film menerima perhatian dan sambutan yang sangat hangat terutama dari para penggemar serius film.

Kedua, di tengah banjir teknologi perfilman yang membuat penonton sering lupa terhadap apa sesungguhnya "backbone"/"tulang-punggung" dari sebuah film, adalah angin yang menyegarkan menemukan film yang berhasil dengan spot-on/mengena menunjukkan bahwa film yang bagus tidak harus menggunakan teknologi yang mahal, tetapi cukup dengan akting yang baik, script yang baik, dan arahan yang baik. Penulis sama sekali tidak anti terhadap penggunaan teknologi dalam perfilman, tetapi "backbone" dari sebuah film tetap saja akting, script, dan arahan -- The Big Three: good actor/actress, good script, good director ... always! Film dari Asghar Farhadi ini adalah film dengan The Big Three!

Nader (Peyman Moadi) dan Simin (Leila Hatami) bertengkar karena Simin telah mengambil keputusan untuk pindah ke negara lain demi masa depan anak perempuannya, Termeh (Sarina Farhadi), sedang Nader tidak dapat meninggalkan Iran karena dia mesti merawat ayahnya yang jompo yang menderita Alzheimer atau penyakit pikun. Pengajuan cerai mereka ditolak oleh pengadilan, karena alasannya dinilai tidak kuat. Nevertheless, Simin memutuskan pisah ranjang dan kembali ke rumah orangtuanya. Termeh yang berusia 11 tahun memilih tinggal bersama ayahnya. Sebelum pergi, Simin memanggil pembantu rumah tangga, Razieh (Sareh Bayat), seorang ibu yang relijius, untuk membantu rumah tangga suami dan anaknya. Masalah baru timbul ketika Razieh kewalahan menangani urusan rumah tangga Nader, terutama merawat ayahnya yang menderita Alzheimer. Masalah berubah menjadi pelik ketika Nader dengan emosi yang tinggi memecat Razieh gara-2 pada suatu hari dia pulang ke rumah dan menemukan Razieh tidak ada di rumah dan ayahnya terjatuh pingsan dari tempat tidurnya sambil salah satu tangannya terikat di tempat tidur. Okay, penulis harus/sengaja berhenti di sini, karena cerita selanjutnya harus anda saksikan sendiri :-)

Walaupun secara sepintas ceritanya terkesan umum, isinya ternyata kompleks secara sosial, psikologi, dan moralitas. Script-nya, menerima nominasi Best Original Script dalam Oscar 2012, tidak hanya berhasil membedah isyu-2 kompleks dalam masyarakat Iran saat ini tentang kedudukan pria dan wanita, anak-2 dan orangtua, keadilan dan agama, tetapi juga berhasil mengangkat pertanyaan-2 kompleks yang bersifat global/universal tentang tanggung-jawab, kejujuran, dan betapa tipisnya batas antara harga diri/pegang prinsip dan egois -- tidak mengherankan anggota Academy Awards dapat dengan cepat dan mudah mengapresiasi film berbahasa Persia ini. Arahan dari Asghar Farhadi dengan penempatan kamera di tempat-2 yang sesuai dengan alur ceritanya, misalnya: mengikuti gerakan Nader ketika dia sedang panik, mengambil scene dari kaca spion ketika Nader memperhatikan anaknya berdebat dengan seorang pelayan pompa bensin, atau extreme close-up pada wajah Nader ketika anaknya meng-konfrontasi mengapa dia berbohong, sinematografi dari Mahmoud Kalari yang intim dan personal, dan akting dari kelima pemeran utamanya yang natural/realistis berhasil memberikan kedalaman terhadap karakterisasi mereka. Meskipun film ini mempunyai durasi 123 menit, penyuntingan yang efektif berhasil menjaga tempo yang tinggi dari awal sampai akhir. Nuansa natural/realistis film ini diperkuat dengan storytelling (gaya bercerita) yang tidak mengenal awal dan akhir, maksudnya awal film bukanlah awal cerita (karena ceritanya sudah dimulai sebelum film dimulai) dan akhir film bukanlah akhir cerita (karena ceritanya berlanjut terus setelah film diakhiri) -- seperti realita dalam kehidupan; selama waktu berjalan terus, kehidupan berjalan terus.

All in all, A Separation adalah film yang akan membekas dalam hati dan pikiran anda.

9.0/10

A Separation dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 25 July 2012

Headhunters

Resensi Film: Headhunters (Hodejegerne) (7.8/10)

Tahun Keluar: 2011
Negara Asal: Norway, Germany
Sutradara: Morten Tyldum
Cast: Aksel Hennie, Nikolaj Coster-Waldau, Synnøve Macody Lund

Plot: Seorang headhunter*) dengan Napoleon-complex**) mempunyai kehidupan ganda sebagai pencuri benda-2 seni berharga untuk membiayai gaya hidupnya yang mewah untuk meng-impress istrinya (IMDb).

*) agen HR untuk top executive untuk perusahaan-2 besar
**) perasaan minder gara-2 tubuh yang pendek :-)

Jangan heran kalau beberapa tahun lagi Hollywood me-remake film ini. Roger Brown (Aksel Hennie) adalah seorang headhunter yang sukses. Namun demikian, dia mempunyai Napoleon-complex gara-2 tubuhnya yang pendek (168 cm – ini pendek untuk ukuran pria Norwegia :-)). Dia merasa perlu agar istrinya yang cantik dan tinggi, Diana (Synnøve Macody Lund), pemilik art gallery di Oslo, tidak meninggalkannya, dia meng-impress istrinya dengan gaya hidup yang mewah – padahal istrinya hanya menginginkan anak darinya. Penghasilan dari headhunter yang sukses tampaknya tidak cukup membiayai gaya hidup tersebut. Maka, dia mempunyai pekerjaan sambilan sebagai pencuri benda-2 seni berharga. Dalam melakukan kejahatan ini, Roger dibantu oleh seorang pegawai perusahaan security/alarm, Ove (Eivind Sander), yang akan mematikan alarm di TKP ketika dia beraksi. Selama ini dia selalu berhasil mencuri dan lolos, karena pemiliknya sering-2 bahkan tidak menyadari kalau barangnya telah dicuri (ditukar dengan yang palsu); atau kalau akhirnya menyadari, ini terjadi jauh setelah jejak pencurian tersebut hilang. Suatu hari istrinya memberitahu dia bahwa dia mempunyai client yang bernama Clas Greve (Nikolaj Coster-Waldau) yang menyimpan lukisan karya pelukis terkenal Rubens. Harganya dapat mencapai ratusan juta dollar! Kontan saja mata Roger berkunang-2 ... :-) Maka, dipersiapkanlah segala sesuatunya untuk mencuri lukisan tersebut. Pada hari H-nya, ketika Roger menyelinap masuk ke dalam rumah Clas, dia tidak hanya menemukan lukisan berharga tersebut, tetapi juga sesuatu yang menjungkir-balikkan hidupnya. Segera setelah itu segala sesuatunya berubah menjadi sinister dan serius. Clas yang dulunya juga "headhunter" dalam arti yang lain, yaitu anggota special force, ternyata mempunyai "permainan"-nya sendiri. Roger tidak menyangka dia menggigit mangsa yang lebih besar daripada yang bisa dia telan.

Melihat posternya, mempertimbangkan judulnya, penulis menyangka film ini adalah film tentang pembunuh bayaran, ternyata bukan. Walaupun alasan Roger menjadi pencuri cukup menggelikan (yet manusiawi), plotnya lumayan believable -- penulis sendiri sering berpikir, betapa mudahnya seorang pegawai perusahaan security/alarm, kalau dia memang mau, berkomplot atau ber-kongkalikong dengan seorang pencuri untuk melicinkan jalan baginya ketika dia beraksi. Semakin canggih, semakin computerized sistem keamanan sebuah rumah, semakin mudah membobolnya :-) Film ini mempunyai script yang ketat dan sutradara Morten Tyldum menyampaikannya dengan tempo yang tinggi. Sebelum penonton sempat menebak ke arah mana cerita kira-2 bergulir, plotnya bergerak ke arah yang tidak kita sangka. Script-nya mengkombinasikan antara elemen thriller, surprise, dan satu elemen lagi yang membuat film ini “berbeda”, yaitu komedi -- tepatnya, komedi tingkah laku manusia sebagai makhluk yang rasional, sekaligus irrasional :-) Hasilnya, penulis setuju dengan pendapat Roger Ebert, tidak seperti film-2 thriller yang lain yang sering-2 cuma mengandalkan energi kinetik saja: stunt (akrobatik), special effects, dan gerakan kamera yang eratik (uuuh, pusing melihatnya), perasaan tegang yang muncul di sini berasal dari plot yang terjadi. Tidak seperti film-2 thriller Hollywood yang sering-2 ‘kebacut’ (berlebihan) dalam “memelintir” plot, misalnya karakter-2 yang ketemon melakukan double-crossing, film ini membuat kita tidak putus asa karena di tengah situasi dimana kita tidak tahu siapa atau apa yang bisa dipercaya, paling tidak ada satu karakter yang bisa dipercaya :-) Dan alangkah indahnya bahwa satu karakter tersebut adalah istri yang cantik dan tinggi :-) Aneh bin ajaib, kebetulan atau disengaja (?), Hennie wajahnya mirip seperti Christopher Walken, Coster-Waldau mirip seperti Aaron Eckhart, dan Lund mirip seperti foto model Christie Brinkley – membuat film ini dalam sekejap mempunyai daya tarik international. Maka, kalau betul Hollywood nanti me-remake film ini, Tom Cruise yang tubuhnya pendek mungkin cocok memerankan Roger, Aaron Eckhart definitely cocok menjadi Clas, sedang Charlize Theron yang berambut pirang dan bertinggi badan mendekati 180 cm semestinya cocok menjadi Diana. Let’s wait and see ...

7.8/10

Headhunters dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 20 April 2012

The Motorcycle Diaries

Resensi Film: The Motorcycle Diaries (Diarios de motocicleta) (8.5/10)

Tahun Keluar: 2004
Negara Asal: Argentina, USA, Chile, Peru, Brazil, UK, Germany, France
Sutradara: Walter Salles
Cast: Gael García Bernal, Rodrigo de la Serna

Plot: Catatan perjalanan Ernesto 'Che' Guevara dan temannya, Alberto Granado, ketika mereka berpetualang mengelilingi benua Amerika Latin (IMDb).

Penulis mula-2 tidak mengetahui siapa Ernesto 'Che' Guevara ini, selain mengenalnya dari potret atau gambar wajahnya di banyak T-shirt yang dikenakan oleh anak-2 muda di negara-2 Barat. Baru setelah itu, penulis mengetahui bahwa 'Che' Guevara adalah tokoh revolusi di benua Amerika Latin, khususnya berperan dalam revolusi di Cuba. Oooh, ... makanya, 'Che' Guevara adalah idola anak-2 muda, simbol dari "hero" atau "pemberontak" -- pemberontakan terhadap sistem yang ada, pemberontakan terhadap orangtua mereka, pemberontakan terhadap segala sesuatu yang mengekang atau membatasi dirinya. 'Che' Guevara adalah anak muda, seorang idealis, dan sebagai anak muda yang menginjak dewasa, dia mempunyai panggilan untuk berperan dalam hidup ini -- dia mempunyai ide bagaimana dia dapat menyumbangkan pikiran dan tenaganya untuk memperbaiki hidup dirinya dan hidup sesamanya.

Berbeda dari sebagian film critic yang tidak menyukai film ini (di antaranya adalah Roger Ebert) karena film ini tidak menceritakan sisi politik dari 'Che', penulis justru sebaliknya -- menyukai film ini justru karena film ini tidak menceritakan sisi politik dari 'Che'. Mirip seperti cerita Chanel sebelum dia memasuki masa kejayaannya dalam film Coco avant Chanel (2009), adaptasi dari catatan perjalanan yang ditulis oleh 'Che' ini menceritakan 'Che' ketika dia muda belia -- berusia 23 tahun, satu semester sebelum dia lulus menjadi dokter, totally non-political, yang sama seperti anak-2 muda yang lain, hanya bertujuan untuk mencari kesenangan dan petualangan ketika dia dan temannya, Alberto -- juga seorang dokter muda, memutuskan untuk mengelilingi benua Amerika Latin dengan sebuah sepeda motor tua. Berasal dari keluarga kaya, 'Che' sama sekali tidak menyangka perjalanan tersebut bakal mengubah dirinya.

Aktor Meksiko, Gael García Bernal, dengan penampilannya yang dreamy memainkan perannya sebagai 'Che' dengan penuh kharisma: perasa, poetic, sensitive, dan kadang-2 foolish karena usianya yang masih muda sehingga kurang berpengalaman dalam "seni" menjalani hidup. Sedang aktor Argentina, Rodrigo de la Serna, dengan sangat baik melengkapi penampilan Bernal tersebut sebagai teman perjalanan yang lebih tua dan lebih berpengalaman. Istilahnya, keduanya saling melengkapi satu sama lain. Sejak awal penulis sudah waswas apakah sepeda motor tua tersebut, yang dijuluki La Poderosa (The Mighty One), mampu membawa mereka dari rumah mereka di Argentina ke 8,000 kilometer mengelilingi benua Amerika Latin? Dalam perjalanan tersebut, La Poderosa yang tua dan setia ini pernah kecebur masuk ke dalam sungai, pernah tergelincir di jalan bersalju, pernah nabrak sapi, ... sampai akhirnya menemui ajalnya di Chile. Sementara itu, 'Che' pernah jatuh cinta dengan seorang cewek, pernah hampir dikeroyok orang sekampung gara-2 "main mata" dengan istri orang (beruntung dia berhasil meloloskan diri), sedang Alberto yang lebih berpengalaman justru jarang mendapatkan cewek karena cewek lebih menyukai 'Che' yang dreamy. Dengan kematian La Poderosa, rute dan tempo perjalanan mereka berubah total! Tidak dapat bergerak secara bebas dan cepat lagi, ditambah dengan masalah kehabisan uang, mau tidak mau mereka harus meneruskan perjalanan secara primitive, yaitu hitchhike (cari tumpangan gratis dari penduduk lokal), atau kalau gak ketemu tumpangan ya jalan kaki (!), dan cari teman baru agar dapat makan gratis :-) Persahabatan antara 'Che' dan Alberto mengalami ujian berat: mereka berbeda pendapat, mereka bertengkar, tetapi persahabatan tidak pernah putus. Pertemuan dengan penduduk lokal di setiap tempat yang mereka singgahi ternyata adalah eye-opening experience (pengalaman yang membuka mata) untuk 'Che' dan Alberto: di suatu tempat di pegunungan Andes mereka bertemu dengan seorang petani yang kehilangan tanahnya karena perlakuan tidak adil dari pemerintah setempat; di tempat yang lain di tengah padang gurun Atacama mereka bertemu dengan sepasang suami-istri yang terlunta-2 setelah diusir dari rumahnya karena mereka adalah komunis; di tempat yang lain lagi mereka menyaksikan bagaimana perusahaan pertambangan mengeksploitasi para buruh tambang. Eye-opening experience ini diakhiri dengan mereka mengunjungi leper colony (kompleks penderita kusta) di daerah Amazon, Peru, dimana mereka dapat menyumbangkan keahlian mereka sebagai dokter. Setelah menyelesaikan perjalanan mereka di tujuan akhir di Caracas, Venezuela, 'Che' adalah orang yang berbeda dari orang yang dia kenal sebelum dia melakukan perjalanan tersebut.

Sutradara Brazil, Walter Salles, dengan sangat baik menghidupkan kembali perjalanan 'Che' dan Alberto tersebut -- melibatkan lebih dari 30 lokasi di Amerika Latin, menggunakan rute yang sama seperti yang dilalui oleh 'Che' dan Alberto, menampilkan kontras dari masing-2 lokasi tersebut, dan menggunakan aktor-2 non-professional untuk orang-2 yang ditemui dalam perjalanan tersebut. Dibantu dengan penempatan kamera yang membuat penonton seakan-2 "ikut" atau "masuk" dalam perjalanan tersebut, cinematography yang menangkap keindahan alam Amerika Latin, dan musical score yang menyiratkan budaya benua ini, film ini mempunyai nilai authenticity yang tinggi yang sangat mengesankan. Selain cerita tentang persahabatan -- penampilan Bernal dan de la Serna berhasil mencerminkan kedalaman persahabatan tersebut, film ini juga cerita tentang menemukan jati diri.

Keabsenan politik dalam film ini justru mencerminkan authenticity dari kepingan sejarah tentang tokoh revolusioner abad ke 20 yang mungkin paling illusive ini -- membuat penonton semakin ingin tahu: "So, ... terus bagaimana perjalanan 'Che' sampai akhirnya dia terlibat langsung dalam revolusi?"

Film ini adalah film untuk anak muda dan mereka yang berjiwa muda.

* 8.5/10

The Motorcycle Diaries dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 12 April 2012

Coco avant Chanel

Resensi Film: Coco avant Chanel (Coco Before Chanel) (8.5/10)

Tahun Keluar: 2009
Negara Asal: France, Belgium
Sutradara: Anne Fontaine
Cast: Audrey Tautou, Benoît Poelvoorde, Alessandro Nivola, Marie Gillain

Plot: Biopic perancang busana Gabrielle 'Coco' Chanel sebelum dia memasuki masa kejayaannya (IMDb).

Kali ini penulis betul-2 tidak setuju dengan pendapat Margaret dan David yang memberi rating 3 dan 2.5 untuk film ini -- What? David!!! I thought I could trust your opinion :-) Penulis juga tidak setuju dengan pendapat-2 yang mengatakan topik Coco SEBELUM Chanel tidak menarik, tidak penting, atau tidak perlu, dengan alasan topik Coco SELAMA Chanel-lah yang lebih menarik, lebih penting, dan lebih perlu. Mengapa? Sebagian pengagum Coco Chanel ingin menyaksikan cerita yang spektakuler tentang dirinya -- seorang heroine yang melakukan heroism-nya dengan "big bang" (seperti Superman atau Spiderman menyelamatkan dunia dari orang jahat), tetapi justru inilah yang dihindari oleh sutradara Anne Fontaine. Sama dengan penulis, justru di sinilah letak keindahan film ini. Tidak ada yang glamourous atau spektakuler dari masa lalu Chanel (Audrey Tautou), seorang anak yatim yang setelah ibunya meninggal dunia, ayahnya menelantarkan dia dan saudaranya, Adrienne (Marie Gillain), di rumah yatim piatu. Dengan setting seperti Dickensian ini, Anne Fontaine tidak terpancing masuk ke dalam sentimentalisme. Nuansa film secara keseluruhan bahkan terkesan un-sentimental. Dalam hal ini penulis kagum bagaimana script yang ditulis oleh Fontaine sendiri (dkk.) telah menampilkan bakat kreativitas Chanel sejak dari awal film, tetapi bakat ini seakan-2 "melayang" tidak ada yang mempedulikan (termasuk penonton dan Chanel sendiri!). Secara halus/tanpa terasa, Fontaine sedikit demi sedikit meng-accentuate bakat ini, kemudian menjadi prominent secara tiba-2 ketika keadaan memaksa -- dan anehnya, penonton terpana, padahal penonton sudah mengetahui bakat tersebut sejak dari awal film. Scriptnya tidak pernah berusaha "menahan" atau "menyembunyikan" bakat Chanel ini dengan tujuan sebagai kejutan atau "big bang" yang memuaskan sentimen penonton.

Tumbuh dewasa praktis sendirian (bersama saudaranya), Chanel mempunyai ambisi untuk menjadi wanita terhormat dan mandiri. Dengan latar belakang sebagai yatim piatu, cita-2 tersebut bukanlah cita-2 yang mudah dicapai. Bekerja sebagai tukang jahit di siang hari dan penyanyi cafe di malam hari (dia mendapat julukan 'Coco' karena setiap malam dia menyanyikan lagu populer berjudul "Coco" - dari kata Perancis "cocotte" yang berarti wanita simpanan), Chanel tidak pernah putus asa mencari kesempatan untuk mencapai cita-2 tersebut. Tidak jauh dari isi lagu yang dia nyanyikan, dia menjadi wanita simpanan seorang pria terhormat, Étienne Balsan (Benoît Poelvoorde), dengan harapan suatu saat dia bakal dikawini secara resmi -- dia tahu bahwa harapan ini adalah harapan kosong. Balsan sedikit banyak mencerminkan sosok ayah yang tidak pernah hadir dalam hidup Chanel. Belum sepenuhnya lepas dari Balsan, Chanel menjadi wanita simpanan pria terhormat yang lain, Arthur 'Boy' Capel (Alessandro Nivola), yang usianya sepadan dengan dirinya, yang dia ternyata betul-2 mencintainya ... juga dengan harapan suatu saat dia bakal dikawini secara resmi -- dia lagi-2 tahu bahwa harapan ini adalah harapan kosong. Kematian Capel secara tiba-2 akhirnya menyadarkan Chanel bahwa dia tidak bisa bergantung pada orang lain. Kehormatan dan kemandirian yang dia idam-2kan hanya dapat dijamin kalau dia bergantung pada diri sendiri -- dan untuk Chanel, ini artinya melakukan apa yang dia lakukan dengan baik, yaitu menjahit, merancang busana!

Penulis kagum dengan scene-2 dimana Fontaine sedikit demi sedikit meng-accentuate bakat Chanel ini, mulai dari ketika Chanel tampil "blend-in" (nampak sama seperti) wanita-2 di sekitarnya, kemudian sedikit demi sedikit tampil "out-of-place" (nampak berbeda dari) wanita-2 di sekitarnya, karena dia mengenakan gaun rancangannya sendiri yang berbeda dari gaun pada jaman itu -- gaun rancangan Chanel pada dasarnya mencerminkan sifat atau cita-2 mandiri Chanel: sederhana, tidak menyusahkan wanita ketika mengenakannya, tetapi tetap elegan atau bahkan lebih elegan! Penulis particularly terkesan dengan scene terakhir, yaitu montage parade busana, sementara Chanel duduk termenung sendirian di anak tangga, sambil sekali-2 sinar matanya memancarkan rasa puas dan bahagia. Frame terakhir ketika film berubah warnanya menjadi hitam-putih dan wajah Audrey Tautou tampil mirip seperti wajah Chanel yang sesungguhnya betul-2 poignant, profoundly moving, touching. Bagaimana tidak, parade busana tersebut terjadi pada awal tahun 1900-an, tetapi rancangannya bagaikan rancangan dari tahun ini -- hati penulis langsung miris melihat ini.

Audrey Tautou memainkan perannya dengan sangat baik. Benoît Poelvoorde memainkan peran tidak simpatiknya juga dengan sangat baik (penonton percaya Chanel kecantol dengan pria seperti ini). Sayangnya, Alessandro Nivola rada mis-cast sebagai gentleman Inggris (penonton rada gak percaya Chanel betul-2 mencintai pria seperti ini :-)). Cinematography dari Christophe Beaucarne sangat indah. Musical score dari Alexandre Desplat menghanyutkan. Dan Costume Design dari Catherine Leterrier tentu saja elegan.

Pernahkah anda menyadari, kadang-2 apa yang anda lakukan dengan sangat baik justru anda kecilkan atau abaikan. Sekecil apapun bakat anda, pedulikan ... ada 'chanel' dalam diri setiap orang.

Salah satu rancangan Chanel yang paling terkenal adalah The Little Black Dress, gaun satu potong berwarna hitam, mengenakannya sangat mudah, tetapi super elegan. Muncul pada tahun 1920-an dan terus populer bahkan sampai saat ini. Rancangan ini menjadi immortal ketika dikenakan oleh Audrey Hepburn dalam filmnya, Breakfast at Tiffany's (1961).

* 8.5/10

Coco avant Chanel dapat anda temukan di eBay.com