Showing posts with label 1990s. Show all posts
Showing posts with label 1990s. Show all posts

Tuesday, 21 April 2015

1999 Eurovision Winner

Jerusalem, Israel
Sweden, Charlotte Nilsson, "Take Me to Your Heaven"

Eurovision dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 20 April 2015

1998 Eurovision Winner ★★★★★

Birmingham, United Kingdom
Israel, Dana International, "Diva" (דיווה)

Eurovision dapat anda temukan di eBay.com

Sunday, 19 April 2015

1997 Eurovision Winner

Dublin, Ireland
United Kingdom, Katrina and the Waves, "Love Shine a Light"

Eurovision dapat anda temukan di eBay.com

Saturday, 18 April 2015

1996 Eurovision Winner

Oslo, Norway
Ireland, Eimear Quinn, "The Voice"

Eurovision dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 17 April 2015

1995 Eurovision Winner

Dublin, Ireland
Norway, Secret Garden, "Nocturne"

Eurovision dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 16 April 2015

1994 Eurovision Winner

Dublin, Ireland
Ireland, Paul Harrington and Charlie McGettigan, "Rock 'n' Roll Kids"

Eurovision dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 15 April 2015

1993 Eurovision Winner ★★★★★

Millstreet, Ireland
Ireland, Niamh Kavanagh, "In Your Eyes"

Eurovision dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 14 April 2015

1992 Eurovision Winner ★★★★★

Malmö, Sweden
Ireland, Linda Martin, "Why Me"

Eurovision dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 13 April 2015

1991 Eurovision Winner

Rome, Italy
Sweden, Carola, "Fångad av en stormvind"

Eurovision dapat anda temukan di eBay.com

Sunday, 12 April 2015

1990 Eurovision Winner

Zagreb, Yugoslavia
Italy, Toto Cutugno, "Insieme: 1992"

Eurovision dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 2 December 2013

The Picture of Dorian Gray, Death Becomes Her

Double Vanity!


Siapa bilang hanya wanita saja yang concern terhadap penampilannya atau khawatir menjadi tua, pria juga. Caranya saja yang berbeda: wanita dengan melakukan bedah plastik -- agar nampak awet muda, pria dengan menemukan istri muda -- bukti bahwa dia awet muda. Gitu kali ya? :-) Vanity! Filsuf ternama Friedrich Nietzsche pernah mengatakan “Vanity is the fear of appearing original.” Coba kita lihat dalam dua film berikut ini: film pertama adalah drama horor dan film kedua adalah black comedy.

1) The Picture of Dorian Gray (1945).

Adaptasi dari novel klasik dengan judul yang sama karya sastrawan Irlandia, Oscar Wilde, The Picture of Dorian Gray menceritakan kehidupan hedonistik kalangan atas di London pada abad ke 19 yang dikemas dengan gaya Gothic, dalam tema Faustian (a pact with the Devil/persekutuan dengan roh jahat) yang kental. Muda, kaya, tampan, dan naive, Dorian Gray (Hurd Hatfield), 22 tahun, mendengarkan nasehat dari Lord Henry Wotton (George Sanders) bahwa hidup hanya berguna jika kita memperoleh kesenangan darinya, dan untuk Dorian usia muda dan ketampanannya akan mendatangkan segala sesuatu yang dia inginkan dalam hidupnya. Terkesan dengan nasehat tersebut, di depan lukisan potretnya, Dorian mengucapkan keinginannya: “Semoga potretnya, bukan dirinya, yang menjadi tua!” -- tidak menyadari di dekat lukisan potretnya berdiri sebuah patung kucing purbakala dari Mesir yang konon mempunyai kemampuan mengabulkan keinginan. Uuuuuuu ... dan mulailah drama Gothic horor ini -- I love it! :-) Dorian mula-2 tidak menyadari kalau keinginannya terkabul, sampai suatu saat ketika dia dengan teganya memutus hubungan asmara dengan tunangannya, Sibyl Vane (Angela Lansbury), untuk mengejar gaya hidup hedonistik dia menemukan “perubahan” dalam lukisan potret dirinya. Terkejut, Dorian menyembunyikan lukisan potret tersebut ke dalam gudang. Dorian tidak pernah menjadi tua dan gaya hidup hedonistiknya semakin menjadi-2. Dan script dengan sabar menyimpan horor puncaknya sampai ke akhir film.

Dengan kontras hitam-putih yang tajam, film ini memenangkan Oscar untuk Sinematografi B/W Terbaik. Angela Lansbury, walaupun tampil hanya singkat saja, penampilannya mengesankan -- dia menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik. Tetapi masterpiece dalam film ini adalah lukisan potret Dorian Dray yang tampil di akhir film karya pelukis macabre Ivan Albright, sekarang disimpan di Art Institute of Chicago. Film ini pernah di-remake pada tahun 2009 dengan judul Dorian Gray, tetapi penulis punya keinginan Francis F. Coppola me-remake drama Gothic horor ini seperti dia membuat Dracula (1992). Hmmm ... nengok kiri, nengok kanan, moga-2 ada patung kucing purbakala dari Mesir yang mendengarkan keinginan ini :-)

Bersama dengan Mary Shelley's Frankenstein dan Bram Stoker's Dracula, Oscar Wilde's Dorian Gray menduduki Top 3 novel Gothic horor terbaik sampai saat ini.

2) Death Becomes Her (1992).

Bertema sama dengan cerita di atas, eternal youth, black comedy ini menceritakan perseteruan antara dua wanita dalam memperebutkan cinta seorang pria dengan menjaga kecantikan/penampilan fisiknya seprima mungkin. Di awal cerita, Helen Sharp (Goldie Hawn), seorang penulis, bertunangan dengan Dr. Ernest Menville (Bruce Willis), seorang ahli bedah plastik. Tetapi segera setelah Ernest bertemu dengan Madeline Ashton (Meryl Streep), seorang aktres, Ernest meninggalkan Helen dan mengawini Madeline. Shocked, depressed, dan kegemukan karena tidak bisa berhenti makan, Helen menghabiskan waktu bertahun-2 di rumah sakit jiwa sambil memelihara dendam kesumat terhadap Madeline. Waktu berjalan, Madeline memasuki usia setengah baya, kariernya meredup, bagian-2 tubuhnya yang dulu sedemikian dibanggakan sekarang cuma mengikuti gravitasi bumi :-) , Ernest juga mulai beruban dan buyuten, kariernya juga merosot menjadi juru rias mayat :-) ... perkawinan mereka hambar dan masing-2 saling mengabaikan yang lainnya. Setelah lebih dari 14 tahun tidak mendengar kabar tentang Helen, Madeline terkejut ketika tiba-2 ada kabar bahwa Helen mengadakan pesta peluncuran perdana bukunya yang berjudul “Forever Young”. Lebih terkejut lagi ketika Madeline bertemu dengan Helen dan melihat Helen tampil begitu muda -- seakan-2 tidak menjadi tua seharipun sejak mereka bertemu terakhir kalinya 14 tahun yang lalu! Merasa tersaingi dan terpojok, Madeline menerima rekomendasi beauty salon-nya untuk mengunjungi Lisle von Rhuman (Isabella Rossellini) yang misterius. Ramuan ajaib yang Madeline dapatkan dari dukun maut ini ternyata betul-2 ajaib dan bahkan lebih ajaib daripada yang dia (baca, penonton) bayangkan. Lebih seru lagi, Helen ternyata juga mendapatkan ramuan yang sama dari dukun yang sama. Siapa yang menang? Penonton tentu saja.

Dengan empat bintang layar perak yang berkharisma dan special effects yang mempesona, black comedy arahan Robert Zemeckis (Back to the Future, Forrest Gump, Contact, Cast Away) ini selain berhasil memenangkan Oscar untuk Visual Effects Terbaik, juga berhasil mengundang tawa -- sekaligus refleksi, karena dengan lantang menciptakan definisi baru untuk eternal youth/eternal beauty, seraya mengolok siapa saja yang terobsesi dengan penampilan fisiknya. Sama seperti The Picture of Dorian Gray, penulis terkesan dengan scene terakhir dalam film ini.

The Picture of Dorian Gray, Death Becomes Her dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 11 October 2013

The Best Man, Primary Colors, Election

Triple Presidential Elections!


Pemilihan presiden sering diangkat menjadi tema dalam film, terutama pemilihan presiden AS. By now, walaupun hampir semua orang mengetahui bahwa proses pemilihan tersebut berada jauh dari sempurna, dengan script yang baik dan akting yang meyakinkan filmnya masih akan mampu membuat penonton tersenyum getir menyaksikan segala ketidak-etisan yang terjadi. The Ides of March (2011) hampir penulis masukkan dalam trio film berikut ini, karena temanya mirip dengan dua film sebelumnya, tetapi penulis tiba-2 teringat dengan film kecil “cabe rawit” tentang pemilihan “presiden” yang lain -- sama sekali tidak kalah pentingnya dan tidak kalah intensitasnya, yaitu pemilihan ketua OSIS di SMA! :-)

1) The Best Man (1964)

Adaptasi dari teater dengan judul yang sama karya Gore Vidal, dibintangi oleh Henry Fonda dan Cliff Robertson, The Best Man adalah satire politik tentang pemilihan primary -- pemilihan kandidat sebuah partai politik, sebelum pemilihan umum. Fonda memerankan William Russell, konon mewakili figur intelektual Adlai Stevenson; dan Robertson memerankan Joe Cantwell, konon mewakili figur populis John F. Kennedy. Masing-2 saling berseberangan dan berambisi mewakili partainya menuju pemilihan umum. Masing-2 saling berebut dukungan dari senior partai, Lee Tracy, yang memerankan bekas presiden AS, Art Hockstader, konon mewakili figur pragmatis bekas presiden AS, Harry Truman. Hockstader menyukai Russell, tetapi khawatir dengan prinsip idealismenya; sebaliknya tidak menyukai Cantwell, tetapi kagum dengan ketegaran dan kesediaannya melakukan apa saja untuk mencapai tujuan. Sementara persaingan sengit semakin memuncak, serangan “ad hominem” (“to the person”) di antara mereka mulai merebak -- skandal pribadi dari masa lalu digali, ditemukan, bahkan kalau perlu dilebih-2kan, dan digunakan untuk menghancurkan kredibilitas kandidat. Dengan situasi hancur-2an tersebut, bagaimana pemilih, dhi. pemilih dalam partai tersebut, mesti memilih siapa yang bakal menjadi kandidat dari partai?

Didukung pengarahan dari Franklin J. Schaffner yang no non-sense, karya-2 selanjutnya termasuk Planet of the Apes (1968), Patton (1970), dan Papillon (1973), Henry Fonda, Cliff Robertson, dan Lee Tracy masing-2 memberikan akting yang luar biasa -- yang menonton saja merasakan betapa capeknya kampanye seperti itu, apalagi yang nglakoni :-) Lee Tracy menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik.

2) Primary Colors (1998)

Tiga dasawarsa selanjutnya taktik kampanye ternyata tidak berubah sama sekali, bahkan lebih sengit! Adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya jurnalis Joe Klein, dibintangi oleh all-star cast John Travolta, Emma Thompson, Billy Bob Thornton, Kathy Bates, dan Larry Hagman, Primary Colors adalah satire politik tentang (konon) pemilihan primary partai Demokrat pada tahun 1992 -- saat itu Joe Klein mengikuti kampanye primary Bill Clinton untuk majalah Newsweek. Cerita disampaikan dari kacamata sang jurnalis, yang diwakili oleh karakter Henry Burton (Adrian Lester), seorang political idealist yang muda, pandai, dan berkulit hitam, yang direkrut menjadi manajer kampanye -- hmmm, siapa yang nyangka satu dasawarsa kemudian seorang political idealist yang muda, pandai, dan berkulit hitam berhasil menjadi presiden AS. Seluruh film menjadi eye-opening experience bagi Burton yang masuk “hijau” di awal film dan keluar “abu-2” di akhir film :-) Betapa mudahnya kita terkecoh dengan so called “kharisma” seorang politikus. Betapa naifnya kita menganggap bahwa apa yang terlihat di luar sama dengan apa yang betul-2 ada di dalam. Betapa lugunya kita sebagai masyarakat awam, tidak menyadari betapa mujarabnya strategi seorang “spin doctor” :-)

Didukung script yang rapi, tajam, dan menampilkan realitas dengan dosis yang pas, dan pengarahan dari Mike Nichols yang simpatik -- karya-2 sebelumnya termasuk Who's Afraid of Virginia Woolf? (1966), The Graduate (1967), Catch-22 (1970), Silkwood (1983), dan Working Girl (1988), seluruh cast berhasil tampil endearing, dicintai penonton -- Travolta yang konon mewakili Clinton: tidak peduli apapun kekurangannya, orang tetap cinta padanya; Thompson yang konon mewakili Hillary: keras, ambisius, nevertheless partner yang sepadan dengan suaminya; Thornton sebagai political strategist yang ganas tetapi diperlukan; dan Bates sebagai “bumper” yang nampak tegar tetapi akhirnya mengalami breakdown. Script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik dan Kathy Bates menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik.

3) Election (1999)

Orang-2 ambisius di dunia politik tersebut banyak yang memulai perjalanan (atau petualangan)-nya dari sekolah atau univeritas. Dalam film ini, adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Tom Perrotta, dari sekolah. Jangan dikira karena settingnya di sekolah kemudian intensitasnya berkurang :-) Untuk anak sekolah, pemilihan ketua OSIS adalah ajang berpolitik yang prestisius. Film dengan setting SMA dan mayoritas cast remaja ini betul-2 kejutan -- dan kejutan yang positif! Tetapi setelah melihat siapa yang menulis dan mengarahkan film ini, kita menjadi tidak heran lagi: Alexander Payne -- karya-2 selanjutnya termasuk About Schmidt (2002), Sideways (2009), dan The Descendants (2011).

Dengan gaya komedi fatalistic-nya, Payne menampilkan seorang guru Civic yang idealist, Jim McAllister (Matthew Broderick), yang berusaha mendidik siswanya menjadi pelaku demokrasi yang bertanggung-jawab. Di antara semua siswa yang indifferent (EGP ... nggak care lah :-)), ada satu yang sangat care :-), bahkan ambisius menjadi pemimpin, namanya Tracy Flick (Reese Witherspoon). Sementara Flick sibuk mempersiapkan diri untuk pemilihan ketua OSIS, McAllister terlibat dalam urusan pribadi yang akhirnya mempengaruhi judgement-nya sebagai guru. Dengan script yang rapi dan tajam, dan dibumbui dengan komedi fatalistic, semua sub-plot yang ada terjalin koheren menuju akhir yang bittersweet.

Lulus dari film-2 remaja sebelumnya, Witherspoon -- saat itu berusia 23 tahun -- dengan meyakinkan menampilkan versatilitas aktingnya; tidak mengherankan enam tahum kemudian dia berhasil menggondol Oscar untuk Aktres Terbaik dalam Walk the Line (2006). Script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik.

The Best Man, Primary Colors, Election dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 5 September 2013

The Cassandra Crossing, Outbreak, Contagion

Triple Outbreaks!


Epidemi atau wabah penyakit sering tidak masuk dalam daftar yang kita paling takutkan terjadi dalam hidup ini. Subconsciously kita menaruh kepercayaan bahwa teknologi kedokteran jaman sekarang mampu menanggulangi segala macam penyakit yang ada. Kenyataannya tidak seperti itu, karena penyakit senantiasa berubah karena virus juga senantiasa berubah/bermutasi. Antara penyakit baru dan ditemukannya obat untuk mengalahkannya ternyata selalu “kejar-2an”.

Coba bayangkan seandainya virus HIV bermutasi menjadi airborne sehingga penularannya menjadi seperti influenza?! Dan obatnya belum ada. Seluruh dunia pasti panik. Dan skenario seperti ini yang sering diangkat masuk ke dalam film.

1) The Cassandra Crossing (1976)

Dibuat pada era film malapetaka, film dengan all-star cast ini -- mulai dari Sophia Loren, Richard Harris, Burt Lancaster, Martin Sheen, Lee Strasberg, Ava Gardner, sampai bintang sepakbola AS saat itu O. J. Simpson -- bersetting di Eropa dan memadukan antara drama, romance, dan malapetaka wabah penyakit.

Dimulai dengan tiga “teroris” (imho, “aktivis”) memasuki instalasi fiktif International Health Organization di Jenewa, Swiss (parodinya WHO???) untuk menghancurkan lab milik AS yang diduga menyimpan berbagai bibit penyakit untuk riset senjata biologis. Dua tertembak, satu lolos, dan lab-nya berantakan ... sudah tahu lab-nya menyimpan banyak bibit penyakit, satpamnya trigger happy nembak kesana, nembak kemari :-) ... hasilnya, satu yang lolos terinfeksi salah satu bibit penyakit yang ada. Dia melarikan diri ke stasiun kereta api dan menyelinap masuk kereta api tujuan Stockholm, Swedia.

Sementara obat untuk mengalahkan bibit penyakit ini belum ditemukan, kereta api ini tidak boleh berhenti di semua stasiun kereta api antara Jenewa dan Stockholm -- tidak ada satu negarapun antara Swiss dan Swedia yang bersedia menerima kereta api ini. Drama kehidupan berlangsung terus di dalam kereta api bernasib buruk ini sementara mereka tidak menyadari akhir yang mengerikan menunggu di Cassandra Crossing.

Superb thriller. Sukses di pasar internasional, tetapi tidak di AS, karena penonton AS tidak suka film yang menggambarkan negaranya sebagai “bad guy” :-)

2) Outbreak (1995)

Sementara wabah penyakit Ebola yang mengerikan merebak di benua Afrika, Hollywood memanfaatkan momentum ini dengan memproduksi Outbreak yang dibintangi oleh Dustin Hoffman, Rene Russo, dan Morgan Freeman. Dalam film ini mulai ditampilkan bagaimana politik di balik penemuan penyakit baru dan pembuatan obatnya. Lagi-2 AS selalu ingin menjadi yang pertama -- dan kalau bisa, satu-2nya -- yang mempunyai obatnya. Tetapi dalam film ini korbannya adalah warga negara AS sendiri (hmmm, seakan-2 wabah penyakit itu tidak bisa loncat ke negara lain? :-)) dan obatnya belum ditemukan.

Dihadapkan pada wabah penyakit yang bakal memusnahkan seluruh negara (koreksi, seluruh dunia), militer terpaksa turun tangan. Dan kita tahu sendiri apa yang bakal terjadi kalau militer ikut turun tangan ... :-)

Sukses di pasar AS, walaupun imho endingnya rada silly.

3) Contagion (2011)

Empat puluh tahun selepas era film malapetaka, filmmakers jaman sekarang tidak takut memasukan elemen scientific yang dapat dipertanggung-jawabkan. Film garapan Steven Soderbergh dengan all-star cast ini -- Marion Cotillard, Matt Damon, Laurence Fishburne, Jude Law, dan Kate Winslet -- tidak hanya sekedar thriller yang menghibur tetapi juga pesan/informasi lingkungan hidup yang penting.

Diilhami oleh flu babi yang beberapa tahun sebelumnya menjadi wabah di seluruh dunia, film ini secara komplit menampilkan semua segi ketika sebuah wabah penyakit muncul: dari segi politik, komersial, dan sosial. Contagion dengan sangat baik menunjukkan tidak ada lagi wabah penyakit yang terbatas hanya di satu negara saja, semua wabah selalu menyebar ke seluruh dunia, karena itu sangat diperlukan kerjasama internasional untuk menyelesaikan masalah bersama ini.

Scene akhir film ini sangat bagus.

Ketika teknologi kedokteran akhirnya berhasil menanggulangi wabah penyakit tersebut, kita semua lega. Tetapi, sadarkah kita bahwa kita sendiri yang sesungguhnya sering menjadi catalyst utama dari wabah penyakit itu?

An excellent film.


The Cassandra Crossing, Outbreak, Contagion dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 23 August 2013

The Private Life of Henry VIII, Elizabeth, The Young Victoria, The Queen

Quadruple British Royals!


Amerika sudah melepaskan diri dari Inggris sejak tahun 1776, namun demikian rakyat Amerika terbukti sampai sekarang masih menyimpan fascination (ketertarikan/kekaguman) terhadap tradisi kuno di negeri nenek moyangnya tersebut, salah satu di antaranya adalah Keluarga Kerajaan.

Film-2 tentang Keluarga Kerajaan sering tidak luput masuk dalam daftar nominasi Film Terbaik Oscar. Mereka yang memerankan British Royals juga sering tidak luput masuk dalam daftar nominasi Aktor atau Aktres Terbaik. Maka tidak mengherankan kalau ada banyak pengamat film yang berpendapat bahwa film-2 tentang Keluarga Kerajaan adalah “winning formula” dalam festival film Oscar. It's been proven, again and again.

Pada kesempatan kali ini penulis ingin memberi introduction kepada 4 film tentang Keluarga Kerajaan, dipilih karena significance dari filmnya dan subyek dari filmnya. Untuk subyek dari film, penulis memilih empat yang paling populer dalam sejarah (paling populer difilmkan), yaitu: Henry VIII, Elizabeth I, Victoria, dan Elizabeth II.

1) The Private Life of Henry VIII (1933)

Sampai saat ini tidak ada aktor yang mampu menandingi akting Charles Laughton sebagai Raja Henry VIII. Mempunyai reputasi buruk sebagai raja dengan enam istri (dua di antaranya dia pancung) dan dua wanita simpanan, Laughton berhasil dengan sangat meyakinkan “menghidupkan” Henry VIII menurut interpretasinya sendiri: mad (edan), rude (kasar), tetapi bukannya tanpa alasan! Ini penting. In fact, alasan tersebut sangat penting, sehingga walaupun edan dan kasar, Laughton berhasil memberi sisi manusiawi (kekocakan) terhadap karakter tersebut dan menarik simpati penonton. Betulkah tingkah laku Raja Henry VIII seperti itu? Tidak ada yang tahu. Tetapi akting Laughton sungguh mengesankan. Film ini masuk nominasi Film Terbaik Oscar dan Charles Laughton memenangkan Aktor Terbaik.

2) Elizabeth (1998)

Di antara empat subyek di atas, cerita seputar Ratu Elizabeth I adalah yang paling banyak difilmkan. Mengapa? Mungkin karena ceritanya paling menarik (baca, paling banyak mengandung konflik). Terpilih sebagai penerus ayahnya, Henry VIII, setelah adik laki-2 satu-2nya mati muda dan kakak perempuannya juga mati muda, Elizabeth I mewarisi kerajaan dengan seabreg masalah: mulai dari upaya pembunuhan terus-2an dari Gereja Katolik di Roma, persekongkolan politik terus-2an dari dalam kerajaan untuk menjatuhkan dirinya, sampai pemilihan jodoh yang selalu berakhir dengan patah hati. Film garapan sutradara kelahiran India, Shekhar Kapur, ini berhasil dengan sangat baik menampilkan semua konflik tersebut, menampilkan transisi Elizabeth I dari lemah pada awalnya sampai formidable (kuat dan disegani oleh musuh-2nya) pada akhirnya, dan menjaga tempo yang tinggi dari awal sampai akhir film. Film ini dan Cate Blanchett masuk nominasi Film Terbaik dan Aktres Terbaik Oscar, dan “unfairly” dikalahkan oleh sesama film dengan setting Inggris kuno, Shakespeare in Love. Judi Dench yang memerankan peran yang sama, Elizabeth I, dalam Shakespeare in Love berhasil menggondol Aktres Pendukung Terbaik. Sayang sekali Shekhar Kapur tidak berhasil mengulangi greget film ini dalam sequelnya, Elizabeth, The Golden Age (2007).

Catatan: Perlu ditengok 2 film dari Bette Davis tentang Ratu Elizabeth I yang berjudul: The Private Lives of Elizabeth and Essex (1939) dan The Virgin Queen (1955). 2 film ini menceritakan masa kejayaan Elizabeth I.

3) The Young Victoria (2009)

Lebih dari 200 tahun kemudian, Victoria tidak lagi mengalami ujian seberat Elizabeth I. Saat itu kepala kerajaan sudah tidak lagi memerintah secara langsung, dengan demikian membebaskan dia dari tugas-2 pelik memerintah. Berbeda dengan para pendahulunya, Victoria terkenal dengan kelembutan dan keharmonisan rumah tangganya. Ketika Albert, suaminya, meninggal dunia, di usia 42 tahun, dia memutuskan berkabung sampai akhir hayatnya di usia 82 tahun. Selain sebagai wanita pertama yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih, Victoria dikenang rakyatnya dengan cintanya yang seumur hidup terhadap suaminya. Emily Blunt memberi sweetness kepada peran Victoria muda. Film yang dengan setting yang indah ini memenangkan Best Costume Design Oscar, dan menerima nominasi untuk Best Art Direction, dan Best Makeup.

Catatan: Perlu ditengok film dari Judi Dench memerankan Ratu Victoria dalam Her Majesty Mrs. Brown (1997) yang berkisah tentang pembantu rumah tangga istana yang jatuh cinta dengan dia ketika dia menjanda.

4) The Queen (2006)

Adalah suatu keberanian dari penulis dan sutradara film ini membuat film ini sementara Ratu Elizabeth II masih hidup. Dan masalah yang dihadapi, walaupun tidak seberat masalah Henry VIII atau Elizabeth I, tetapi sensitif dengan berpotensi mendatangkan complaint. Masalah sensitif tersebut adalah Diana. Bekas anggota kerajaan (setelah perceraiannya dari Pangeran Charles), tetapi rakyat Inggris tetap menganggap Diana sebagai (calon) Ratu mereka. Ketika Diana meninggal dunia, rakyat Inggris menuntut pemerintah dan keluarga kerajaan memberi Diana upacara kematian seperti selayaknya seorang Ratu. Bagaimana Ratu yang sesungguhnya mesti bersikap terhadap tuntutan rakyatnya tersebut? Konon Ratu Elizabeth II menyukai film ini dan mengundang Helen Mirren untuk datang makan malam di istana Buckingham. Film ini masuk nominasi Film Terbaik Oscar dan Helen Mirren memenangkan Aktres Terbaik.


The Private Life of Henry VIII, Elizabeth, The Young Victoria, The Queen dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 2 August 2013

Airport, The Bullet Train, Speed

Triple Bombs!


Bom di pesawat.
Bom di kereta api.
Bom di bis.

Kita tidak memerlukan teroris betulan untuk menciptakan skenario tragedi yang mengerikan -- cukup panggil filmmakers saja :-) Sebelum era terorism merebak dalam satu dasawarsa terakhir ini, filmmakers sudah mengisi imajinasi kita dengan berbagai skenario tragedi yang mengerikan.

Airport (1970) menandai dimulainya genre film yang memadukan antara drama dan petualangan yang bersetting malapetaka (alami atau buatan manusia). Tidak tanggung-2, film pertama genre film malapetaka ini menempatkan bom di dalam pesawat. Kalau kita melayang 30.000 feet di atas daratan, kita tidak ingin menemui masalah sekecil apapun, apalagi bom. Dengan all star cast mulai dari Burt Lancaster, Dean Martin, Jacqueline Bisset, George Kennedy, sampai Maureen Stapleton, dan screenplay yang rapi dan ketat, Airport adalah film hiburan yang tidak hanya menghandalkan action, tetapi juga isi.

Kalau filmmaker di Hollywood menempatkan bom di dalam pesawat, betapa pasnya filmmaker di Jepang menyamai skenario tersebut dengan menempatkan bom di dalam kendaraan magnet kebanggaan mereka, Shinkansen -- The Bullet Train (Shinkansen Daibakuha) (1975). Awas, kalau kecepatan jatuh di bawah 50 mph, bom bakal meledak. Film garapan Jepang ini terasa out-dated, kekurangan elemen thriller dan suspense, sehingga cocok untuk di-remake, oleh Hollywood (!), mungkin dengan menggabungkan cast internasional -- some Japanese stars, some American stars, and some European stars, karena penumpang Shinkansen juga internasional.

Sekitar dua dekade kemudian, mengapa tidak memindah skenario di atas ke setting yang berbeda -- bis kota di tengah kepadatan lalu lintas di Los Angeles, Speed (1994). Dengan thriller dan suspense tempo tinggi, tidak seperti Airport yang memberi kesempatan kepada semua anggota cast untuk bersinar, Speed menggantungkan hampir semua daya tarik ke chemistry antara Keanu Reeves dan Sandra Bullock. Saking nemennya sampai Bullock dimasukkan terus sampai scene klimaks/akhir dimana Reeves akhirnya berhadapan dengan nemesisnya, Dennis Hopper. Tidakkah lebih baik kalau mereka berdua saja yang berhadapan satu sama lain (Bullock gak perlu diikutkan)?! Only to get the two share a kiss while onlookers watch, oooh :-) ... hmmm, bloody Hollywood ending! :-)


Airport, The Bullet Train, Speed dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 16 April 2013

Shanghai Triad

Resensi Film: Shanghai Triad (Yao a yao yao dao waipo qiao) (7.8/10)


Tahun Keluar: 1995
Negara Asal: France, China
Sutradara: Zhang Yimou
Cast: Gong Li, Li Baotian, Wang Xiaoxiao

Jangan membandingkan film gangster beranggaran kecil ini dengan film gangster beranggaran besar seperti The Godfather (1972), Scarface (1983), atau Goodfellas (1990). Dibandingkan film-2 tersebut, film ini ceritanya memang sederhana dan penyampaiannya tidak hard-hitting -- sutradara Zhang Yimou tidak menampilkan scene-2 kekerasan secara grafis, sebagian darinya disampaikan dari POV (point of view) protagonis film ini yang masih di bawah umur, dengan demikian membiarkan penonton menggunakan imajinasinya sendiri -- dan cara ini sudah cukup untuk mencapai efek yang dia inginkan, yaitu pesan utamanya tetap tersampaikan secara efektif di akhir film.

Shuisheng (Wang Xiaoxiao) adalah anak petani miskin yang dikirim ibunya ke kota untuk bekerja dengan pamannya yang konon adalah orang “sukses”. Tidak pernah menjelaskan apa pekerjaannya, pamannya memberi Shuisheng pekerjaan sebagai pelayan seorang penyanyi cabaret/nightclub yang ketus dan bermulut tajam, namanya Jingbao (Gong Li). Kontan saja Shuisheng tidak menyukai majikannya. Sampai suatu saat, ketika majikannya sedang vulnerable, majikannya mengatakan bahwa dia sesungguhnya berasal dari latar belakang yang sama seperti Shuisheng, yaitu anak petani miskin yang pergi ke kota untuk menjadi orang sukses. Sejak itu Shuisheng mulai dapat berempati terhadap majikannya: sikapnya yang judes tersebut ternyata adalah ungkapan frustrasinya terhadap nasibnya sendiri -- wanita simpanan seorang boss mafia, orang “sukses” (?), dan mulailah terjalin persahabatan antara mereka berdua. Pikirannya terbelah antara cita-2 yang muluk dan kenyataan yang sebaliknya, Jingbao sedikit demi sedikit terseret ke titik nadir paling bawah ... sementara Shuisheng, yang masih di bawah umur, tidak berdaya melindunginya dan hanya bisa menyaksikan saja.

Tidak setuju dengan pendapat Roger Ebert yang menilai Wang Xiaoxiao (protagonis film ini) sebagai titik lemah dari film ini, penulis justru menilai pemilihan Wang, anak laki-2 yang sama sekali tidak 'polished' dan tidak 'cute', sangat cocok dengan peran yang dia mainkan: a country bumpkin! Namun demikian penulis memahami pendapat tersebut karena di Hollywood produser hanya memilih anak-2 yang 'cute' (lucu dan menggemaskan) saja -- bahkan overly cute :-), misalnya: Jonathan Lipnicki dalam Jerry Maguire (1996), Dakota Fanning dalam I am Sam (2001), atau Abigail Breslin dalam Little Miss Sunshine (2006), untuk “memeras” simpati penonton. Tetapi untuk penulis, hal ini justru kurang realistis, apalagi kalau perannya tidak memerlukan kualitas tersebut, karena itu penulis sama sekali tidak melihat Wang sebagai titik lemah dari film ini. Gong Li membuktikan dirinya tidak hanya rupawan saja, tetapi juga aktres yang berbobot, menampilkan variasi personality mulai dari penyanyi cabaret yang mempesona, majikan yang menjengkelkan, wanita simpanan yang tidak bahagia, sampai ke dirinya sendiri yang masih terpendam di dalam. Sayang sekali, Gong Li sampai saat ini belum pernah diperhitungkan di Academy Awards. Semoga dia masih mempunyai kesempatan membuat film-2 yang berbobot.

Memperhitungkan anggaran pembuatan film ini yang termasuk kecil, two thumbs up untuk Zhang Yimou yang berhasil dengan sangat baik menampilkan romantika, dan sekaligus dekadensi, kota Shanghai pra-revolusi, yang saat itu dijuluki sebagai “Paris of the East”, melalui sinematografi, desain produksi, desain kostum, dan arahan seni yang memukau. Dikemas sebagai film gangster, Shanghai Triad adalah film tentang mimpi muluk yang harus berakhir dengan tragedi (judul aslinya dalam bahasa Mandarin lebih mencerminkan isi ceritanya daripada judul dalam bahasa Inggrisnya).

* 7.8/10





Shanghai Triad dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 19 December 2012

The World Is Not Enough

Resensi Film: The World Is Not Enough (7.5/10)


Tahun Keluar: 1999
Negara Asal: UK
Sutradara: Michael Apted
Cast: Pierce Brosnan, Sophie Marceau, Robert Carlyle, Denise Richards

Plot: James Bond menelusuri jejak pembunuhan milyarder Sir Robert King oleh teroris Renard dari Inggris, ke Azerbaijan, dan akhirnya ke Turki, dan menemukan konspirasi anak perempuan King, Elektra, untuk menaikkan harga minyak bumi dengan meledakkan senjata nuklir di perairan Istambul (IMDb).

Judulnya diambil dari motto berbahasa Latin keluarga Bond dalam novel "On Her Majesty's Secret Service" -- "Orbis non sufficit", film ini menandai era baru dari sisi casting-nya, yaitu Desmond Llewelyn yang dirinya sudah identik dengan karakter Q sejak From Russia with Love (1963) tampil untuk terakhir kalinya dalam film ini, dan di sini dia memperkenalkan penggantinya, dipanggil dengan sebutan "R": the laconic, actor/comedian, John Cleese! Pengganti yang betul-2 pas/tepat, namun sayang -- seribu kali sayang -- Cleese sendiri sudah ketuaan untuk memerankan Q. Akibatnya, Cleese hanya sempat tampil sekali saja sebagai Q, yaitu dalam film Bond berikutnya, Die Another Day (2002). Oh, poor Cleese :-(

Bersetting di Azerbaijan dan Turki yang steamy dan eksotik, film ini dikenang sebagai film Bond dengan pre-title sequence yang paling panjang, yaitu sekitar 14 menit, yang diakhiri dengan kejar-2an speedboat di sungai Thames, melalui segala macam bangunan landmark di pusat kota London. Dari segi plot, film ini mulai memasukkan M, tidak hanya sebagai atasan Bond saja, tetapi juga sebagai lakon yang terlibat dalam plot utamanya -- dalam film ini, M diculik oleh Elektra (Sophie Marceau) sebagai balas dendam atas apa yang terjadi di masa lalu. Hmmm ... sejak GoldenEye (1995) (baca: sejak keruntuhan USSR), karena perang dingin/musuh sudah tidak ada lagi, balas dendam menjadi tema yang sering digunakan.

Dari segi script, film ini patut diacungi jempol karena memberi Marceau peran yang significant/berarti -- dia tampil hampir sebanyak Brosnan tampil, memberi karakternya peran yang pivotal/penting, setara dengan karakter Bond. Biasanya Bond girl hanya kebagian peran dekoratif saja (kehadirannya hanya ornamental/kosmetik saja), tetapi dalam film ini Marceau memperoleh peran yang setara dengan peran Bond. Salut! Sayangnya, Denise Richards, Bond girl yang lain, me-reprise peran Lois Chiles sebagai Dr. Holly Goodhead dalam Moonraker (1979), tetap saja kebagian peran dekoratif sebagai Dr. Christmas Jones -- oh, what a name! :-) Sayangnya lagi, Richards tidak dapat menyembunyikan "body language"-nya yang kentara sekali menunjukkan bahwa dia tidak tertarik dengan peran ini :-) Akibatnya, tidak ada chemistry antara dia dan Brosnan -- padahal chemistry tersebut penting sekali antara Bond girl dan Bond.

Mungkin sebagai cara khas Bond mengucapkan "good bye" (maybe, hopefully, untuk sementara) kepada mobil BMW, film ini juga dikenang dengan adegan mobil BMW Z8 Bond dihancurkan dengan mesin gergaji raksasa pemotong pohon :-)

* 7.5/10




The World Is Not Enough dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 12 December 2012

Tomorrow Never Dies

Resensi Film: Tomorrow Never Dies (7.5/10)


Tahun Keluar: 1997
Negara Asal: UK
Sutradara: Roger Spottiswoode
Cast: Pierce Brosnan, Jonathan Pryce, Michelle Yeoh, Teri Hatcher, Götz Otto

Plot: James Bond mengusut insiden bersenjata di Laut China Selatan yang menenggelamkan kapal perang Inggris, Devonshire, dan menjatuhkan pesawat perang China, J-7, dan menemukan konspirasi Elliot Carver, seorang raja media, untuk memprovokasi perang antara Inggris dan China untuk kepentingan pribadinya (IMDb).

Selama ini walaupun para musuh James Bond digambarkan sebagai orang-2 yang megalomaniac dan dapat dinilai sebagai satire untuk mereka yang gila kekayaan atau kekuasaan, film Bond sendiri tidak pernah dinilai sebagai film satire. Tetapi ketika karakternya secara jelas merupakan satire untuk raja media Rupert Murdoch, penonton justru tidak percaya :-) "Mosok seh, ada raja media seperti itu? " Ternyata iya :-) Delapan tahun kemudian, eeeh ... terbongkar skandal "phone-hacking" yang melibatkan salah satu tabloid milik Rupert Murdoch*). Walaupun plotnya tidak sama dengan plot film ini, skandal tersebut menunjukkan bagaimana media menggunakan cara-2 yang tidak etis, taktik kotor, bahkan manipulasi, dalam mengumpulkan berita. Mempertimbangkan revelasi ini, Tomorrow Never Dies adalah film Bond yang paling satiris.

*) skandal "phone-hacking" = http://en.wikipedia.org/wiki/News_of_the_World

Diputar pertama kali bersamaan dengan mega-blockbuster Titanic (1997), film ini disutradarai oleh Roger Spottiswoode, setelah Martin Campbell menolak mengarahkan dua film Bond secara berturut-2 -- Campbell berhasil ditarik kembali mengarahkan film Bond pada tahun 2006, yaitu Casino Royale.

Bersetting di Hamburg dan Bangkok (untuk Saigon -- hmmm, entah kenapa film ini masih menggunakan nama Saigon, padahal kota ini sudah dikenal dengan nama Ho Chi Minh City sejak tahun 1976), film ini menampilkan cast pendukung yang lumayan vibrant (vigorous/energetic dan animated/alive), terutama dengan kehadiran Michelle Yeoh, aktres Hong Kong kelahiran Malaysia, sebagai Bond girl yang mandiri, agile/swift (tangkas, baca: bisa kungfu), dan tentu saja tidak memerlukan perlindungan Bond :-) Pierce Brosnan tampil prima -- tidak kemudaan, juga tidak ketuaan, sebagai Bond. Jonathan Pryce, aktor Inggris yang terkenal dengan versatilitasnya, tampil meyakinkan sebagai psychopathic Elliot Carver. Götz Otto, aktor Jerman yang bertinggi-badan 198 cm, tampil sangar sebagai henchman Carver, mengingatkan penonton pada karakter Jaws dalam The Spy Who Loved Me (1977). Vincent Schiavelli, yang dikenal penonton sebagai hantu di kereta api dalam film Ghost (1990), tampil mengesankan dalam peran minornya selama dua menit sebagai pembunuh bayaran, Dr. Kaufman. Sayangnya, Teri Hatcher, kebagian peran yang unsympathetic sebagai Bond girl yang pathetic (ngenes): bekas pacarnya Bond dan sekarang jadi trophy wife/istri pajangannya Carver (dan kemudian ditemukan tewas dibunuh oleh suaminya sendiri) -- oooh, it's pathetic! :-( -- menjadikan dirinya Bond girl terburuk ketiga setelah Mary Goodnight dalam The Man with the Golden Gun (1974) dan Bibi Dahl dalam For Your Eyes Only (1981).

Selain faktor positif dan negatif di atas, film ini juga berusaha mengkapitalisasi kesuksesan penampilan BMW dalam film sebelumnya, yaitu dengan menampilan tiga scene dimana mesin ini menjadi bintang atau pusat perhatian penonton, yaitu: 1) scene kejar-2an antara sepeda motor BMW yang dikendarai Bond/Wai Lin dan mobil-2/helikopter yang dikendarai orang-2 suruhan Carver, 2) scene mobil BMW Bond "dikerjai" oleh orang-2 suruhan Carver, dan 3) diteruskan dengan scene mobil yang sama dikendarai dengan remote control melawan serangan bertubi-2 dari mereka. Wow ... a car with ATTITUDE! :-) -- penggemar BMW pasti bangga menyaksikan scene-2 tersebut :-) Tidak dapat dipungkiri, scene-2 tersebut memorable dalam ingatan penonton.

* 7.5/10




Tomorrow Never Dies dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 6 December 2012

GoldenEye

Resensi Film: GoldenEye (7.7/10)


Tahun Keluar: 1995
Negara Asal: UK
Sutradara: Martin Campbell
Cast: Pierce Brosnan, Sean Bean, Judi Dench, Izabella Scorupco, Famke Janssen

Plot: James Bond dikirim ke St. Petersburg, Rusia untuk menyelidiki serangan terhadap pusat kontrol senjata nuklir antariksa di Severnaya, dan menemukan bekas agen MI6, Alec Trevelyan, berada di balik konspirasi ini untuk membalas dendam terhadap Inggris atas kematian orangtuanya dengan menghancurkan London (IMDb).

Setelah enam tahun "mati suri" gara-2 persengketaan hukum antara pihak produser dan pihak distributor, penggemar series James Bond di seluruh dunia betul-2 menantikan tibanya film ini. Menggantikan ayahnya secara penuh untuk pertama kalinya, produser Barbara Broccoli berhasil dengan sangat baik memenuhi harapan penonton tersebut. Tidak seperti film-2 Bond pada dasawarsa sebelumnya yang terasa serba tanggung -- ogah-2an melepas jaman asalnya, tetapi tidak terang-2an memasuki jamannya, GoldenEye adalah film Bond yang berani dan percaya diri dalam merangkul jamannya.

Dibuka dengan scene spektakuler Bond melakukan bungee jumping dari tebing sebuah bendungan yang curam, GoldenEye menyuntikkan empat pendatang baru yang merupakan "darah segar", yaitu:

1) Pierce Brosnan.
Much-anticipated/much-awaited, sudah diantisipasi/sudah ditunggu-2 memainkan peran James Bond sejak kemunculannya sebagai karakter ilusif, Remington Steele, dalam serial TV populer dengan judul yang sama, Pierce Brosnan tidak mengalami hambatan yang berarti untuk diterima sebagai Bond yang baru. Penggemar Remington Steele di seluruh dunia dengan tangan terbuka menyambut kedatangan Brosnan sebagai Bond. No problem at all!

2) Judi Dench.
Kalau kedatangan Brosnan sudah diantipasi, kedatangan Judi Dench adalah kejutan besar -- kejutan besar yang menyegarkan! Selain sebagai aktres kawakan yang penampilannya selalu dinantikan, pemilihan Dench sebagai M terasa betul-2 cocok dan pantas dengan jamannya. Pemilihan ini konon diilhami oleh kejadian nyata di Inggris saat itu, yaitu Stella Rimington terpilih sebagai wanita pertama sebagai kepala organisasi counter-intelligence domestik Inggris, MI5.

3) Samantha Bond.
Setelah terasa cemplang sepeninggal Lois Maxwell, Samantha Bond berhasil dengan sangat baik "mengisi sepatu"-nya. Dia menyadari sepenuhnya posisi perannya, menampilkan Miss Moneypenny yang modern: chic (stylish/elegant), sassy (lively/spirited), percaya diri, dan sekaligus GSOH (good sense of humour); dan tanpa tedeng aling-2 menggoda Bond (walaupun sepenuhnya mengetahui hasilnya bakal sia-2 :-)) sedemikian rupa sampai kita tidak tahu lagi siapa yang mesti kita "kasihani": dia atau Bond? :-)

4) BMW.
Setelah lebih dari tiga dasawarsa dikuasai oleh Aston Martin dan Lotus, kemunculan BMW adalah "darah segar" yang sudah ditunggu-2 oleh penggemar BMW di seluruh dunia -- yang jumlahnya lebih banyak daripada penggemar Aston Martin atau Lotus. Sama seperti pengendaranya, BMW tidak mengalami hambatan yang berarti untuk diterima sebagai mobil Bond yang baru.

Selain empat "darah segar" di atas, film dengan latar belakang keruntuhan USSR ini mempunyai cast pendukung yang patut diacungi-jempol, yaitu:

1) Sean Bean.
Masih segar dalam ingatan penonton sebagai musuh Harrison Ford dalam Patriot Games (1992), Sean Bean tampil meyakinkan sebagai bekas agen MI6 yang sakit hati dan menyimpan dendam. Hmmm, mirip seperti perannya dalam Patriot Games :-)

2) Izabella Scorupco.
Aktres/model berdarah Polandia ini mengetahui betul apa yang diharapkan penonton dari Bond girl modern, yaitu: tidak memerlukan perlindungan Bond (tidak seperti Bond girl dalam eranya Roger Moore, Scorupco mungkin mbatin "ha ... sorry aja ya" :-)); dan if necessary, tidak sungkan-2 nge-boss-i Bond :-)

3) Famke Janssen.
Aktres berdarah Belanda ini berhasil menyediakan sidekick nyleneh sebagai henchwoman yang sadistis -- karakternya sesungguhnya rada cartoonish, tetapi anyway berhasil menyediakan humor gelap.

4) Alan Cumming.
Dengan wajah yang "nerdy", Alan Cumming tampil meyakinkan sebagai computer hacker yang tidak peduli dengan implikasi dari tindakannya, selain memberi boost dan kepuasaan terhadap egonya. Oh, penampilan yang pas sekali, so typical computer hacker.

Bersetting di St. Petersburg, Rusia dan Puerto Rico (untuk Cuba), GoldenEye berhasil mengkombinasi seluruh elemen-2 dalam pakem James Bond dalam gabungan yang seamless (mulus/koheren) dan menarik. Scene-2 actionnya terasa riel -- tidak parodis seperti dalam era Sean Connery atau Roger Moore, teknologinya modern, tetapi semuanya tetap berada dalam batas-2 pakemnya. Last, but not least, lagu tema dengan judul yang sama, diciptakan oleh Bono dan dinyanyikan oleh Tina Turner, mengingatkan penonton pada penyanyi legendaris lagu-2 tema Bond, Shirley Bassey.

Secara keseluruhan, GoldenEye adalah film yang berhasil memodernisasi series James Bond secara total.

* 7.7/10




GoldenEye dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 2 November 2011

Bram Stoker's Dracula

Resensi Film: Bram Stoker's Dracula (***1/2/4)

Tahun Keluar: 1992
Negara Asal: USA
Sutradara: Francis Ford Coppola
Cast: Gary Oldman, Winona Ryder, Anthony Hopkins, Keanu Reeves

Plot: Mengingatkan pada almarhumah istrinya, Count Dracula menyekap Jonathan Harker di Transylvania dan pergi ke London untuk mendekati tunangannya, Mina Murray -- menimbulkan kekacauan misterius di sepanjang petualangannya (IMDb).

Bram Stoker adalah penulis yang menciptakan karakter Count Dracula -- dia mendapatkan inspirasinya dari jenderal perang Romania dari abad ke 15 yang bernama Prince Vlad III the Impaler. Rakyat Romania mempunyai legenda sendiri tentang pangeran ini, tetapi Bram Stoker-lah yang menciptakan karakter ini dan mengangkatnya menjadi sensasi internasional. Setelah itu muncul cerita-2, dan konsekuensinya film-2, derivatif tentang vampire yang tidak selalu conform dengan cerita aslinya. Film ini adalah salah satu dari sebagian kecil dari film-2 derivatif tersebut yang conform dengan cerita aslinya -- mungkin karena alasan ini, judul filmnya tidak hanya Dracula, tetapi Bram Stoker's Dracula. Jika anda mengenal cerita Dracula dari penulis aslinya, anda semestinya dapat menikmati film ini dengan lebih baik.

Dekat dengan plot dari cerita aslinya, sutradara Francis Ford Coppola menitikberatkan film ini pada kisah asmara antara Count Dracula dan almarhumah istrinya yang melampaui batas jaman, melampaui hidup dan mati. Fokus ini mengecewakan sebagian besar peggemar film horor yang lebih menghargai elemen shock daripada elemen-2 hati, pikiran, dan emosi. Arahan Coppola terasa sangat kuat, bahkan terlalu kuat. Art Direction-Set Decoration terlihat sangat indah, bahkan terlalu indah. Cinematography, Costume Design, Makeup, dan Sound Effects betul-2 first class. Tetapi penampilan dari dua karakter utamanya-lah, Gary Oldman sebagai Count Dracula dan Anthony Hopkins sebagai Professor Abraham Van Helsing, yang betul-2 "menghidupkan" film ini. Oldman dan Hopkins berhasil menjadi protagonist dan antagonist yang seimbang. Sayang sekali, anggota cast yang lain, khususnya Keanu Reeves, tidak mampu menandingi akting kuat dari dua aktor berpengalaman tersebut. Secara keseluruhan, Bram Stoker's Dracula adalah film yang sangat menarik, bahkan terlalu menarik atau berlebihan, akibat dari nilai produksinya yang mahal. Nevertheless, I enjoyed it.

Cerita (****)
Screenplay (***1/2)
Karakter (***1/2)
Akting (***)

Keseluruhan: ***1/2/4

Bram Stoker's Dracula dapat anda temukan di eBay.com