Showing posts with label 1930s. Show all posts
Showing posts with label 1930s. Show all posts

Tuesday, 23 September 2014

Modern Times

Modern Times ★★★★★

The Pursuit of Happiness: Perjalanan suka-duka manusia mengarungi samudra kehidupan untuk mencapai kebahagiaan ...

Tahun Keluar: 1936
Negara Asal: USA
Sutradara: Charles Chaplin
Cast: Charles Chaplin, Paulette Goddard

Komedi slapstick -- komedi yang melibatkan kegiatan fisik yang berlebihan yang melampaui batas-2 common sense, konon sudah berusia ratusan tahun. Moliere (tahun 1600-an), salah satu dari Master of Comedy terbaik dalam kesusastraan Barat, sering melibatkan slapstick dalam karya-2nya. Penulis masih ingat, betapa menyenangkannya menghabiskan sore hari sepulang dari sekolah membaca cerpen-2 karya Moliere, terbitan Pustaka Jaya (apakah penerbit Pustaka Jaya masih berdiri sampai sekarang?): tertawa terpingkal-2 karena lucunya minta ampun, terkejut senang karena  kecolongan plot-2 yang gerakannya tak terduga, dan di akhir cerita menerima wisdom/kebijaksanaan  tanpa merasa digurui. Bahkan Greta Garbo-pun, yang jarang sekali tertawa dalam film-2nya, akhirnya tertawa juga membaca salah satu dari karya-2 Moliere dalam Queen Christina (1933). Lebih lama lagi, William Shakespeare (tahun 1500-an), walaupun seorang dramatist, ketika menulis komedi juga memasukkan slapstick di dalamnya, misalnya The Comedy of Errors. Vaudeville, teater-2 hiburan di AS pada akhir abad ke 19, juga banyak menampilkan slapstick. Trend ini berlanjut terus sampai ke era film-2 bisu, dan kemudian era keemasan film-2 hitam-putih yang menghasilkan serangkaian Masters of Comedy, a.l., selain Chaplin sendiri, Laurel and Hardy, the Marx Brothers, dan the Three Stooges. Kalau Laurel and Hardy terkenal dengan gaya “tit-for-tat”-nya (saling membalas di antara keduanya), dan the Marx Brothers dan the Three Stooges dengan gaya vaudeville-nya, Chaplin memisahkan dirinya dari kerumunan tersebut dengan tiga elemen persuasi dari filsuf Aristoteles, yaitu: ethos (idealisme), logos (pemikiran), dan terutama pathos (perasaan). Dibalik semua jungkir-balik kegiatan fisik yang menimbulkan tawa, script dari Chaplin mengandung idealisme, pemikiran, dan terutama perasaan, yang secara keseluruhan membangkitkan empati dari penonton. Sekelas dengan karya-2 Moliere. Gaya persuasi ini terbukti sangat efektif, very powerful.


Di tengah resesi ekonomi yang parah, di antara ribuan pencari kerja yang nekad dan putus asa, beruntung sekali Little Tramp (Chaplin) berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik industri perangkat keras. Di sini tugasnya, dari pagi sampai petang, adalah berdiri di depan conveyor-belt -- yang bergerak semakin lama semakin cepat -- mengencangkan baut-2 hasil-2 produksi yang lewat di depannya. Bosnya mengawasi terus jalannya produksi tersebut melalui layar-2 monitor raksasa yang ditempatkan di segala sudut ruangan, bahkan di dalam toilet sekalipun. Ketika istirahat makan siang, bosnya datang ke tempat pekerja mendampingi seorang inventor yang menciptakan “feeding machine” (mesin pemberi makan) untuk mendemonstrasikan bagaimana mesin tersebut dapat meningkatkan produktivitas kerja dengan meniadakan istirahat makan siang karena mesin ini dapat memberi makan pekerja sementara mereka berdiri di depan conveyor-belt melakukan tugasnya :-)  Siapa lagi yang kena tunjuk sebagai obyek ujicoba kalau bukan Little Tramp! :-) Pertama kali menyaksikan adegan ini, penulis tidak bisa tidur semalaman karena teringat terus dengan adegan yang kocak ini. Mendekati petang hari, conveyor-belt bergerak semakin cepat, Little Tramp akhirnya mengalami nervous breakdown, menimbulkan kekacauan di dalam pabrik: masuk ke dalam mesin mengejar baut-2 yang luput dia kencangkan, mengejar sekretaris bos yang roknya ada kancing-2nya yang bentuknya mirip seperti baut-2 :-), masuk ke ruang generator mengacau generator sampai nyaris meletus. Dia akhirnya diamankan dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Keluar dari rumah sakit jiwa, Little Tramp pulih kesehatannya, tetapi dia sekarang menganggur. Pas ketika ada demonstrasi buruh, pas ketika dia membawa bendera merah yang jatuh dari truk angkutan, dia disalah-sangka sebagai pemimpin komunis, ditangkap oleh polisi, dan tanpa banyak cingcong dijebloskan ke penjara. Di penjara, dia mengkonsumsi kokain, yang dia sangka garam, yang disembunyikan oleh tahanan yang lain. “High” akibat kokain tersebut, dia menjadi berani dan ketika dia menemui beberapa tahanan menyandera kepala dan sipir penjara, dia melumpuhkan mereka sampai pingsan. Menerima pujian dari kepala penjara, dia kecewa ketika dibebaskan dari penjara sebagai penghargaan atas keberaniaannya itu. Bagaimana di luar penjara dia mesti menghidupi dirinya, sementara di dalam penjara dia sudah terjamin mendapat makan tiga kali sehari dan tempat tidur yang empuk dan hangat. Keluar dari penjara, Little Tramp memperoleh kembali martabatnya, tetapi dia sekarang menganggur lagi. Susah lagi ...

Sementara itu di sudut yang lain di kota tersebut, The Gamin (Paulette Goddard), seorang anak jalanan, juga sedang susah dan kebingungan setelah ayahnya tewas tertembak meninggalkan dirinya yatim piatu. Mencuri sepotong roti, dia melarikan diri dari kejaran polisi dan bertabrakan dengan Little Tramp yang juga sedang keluyuran di jalanan. Berusaha melindungi gadis tersebut, Little Tramp mengaku dirinyalah yang mencuri roti tersebut -- toh dia juga ingin kembali ke penjara. Tercengang melihat sikap tersebut, gadis tersebut bersyukur di dunia yang kejam ini ternyata masih ada orang yang baik terhadap dirinya. Tetapi sedemikian mudahkah Little Tramp mendapatkan apa yang dia inginkan? Tentu saja tidak, karena hidup ini penuh dengan antagoni: ketika ingin bebas, malah dipenjara; ketika ingin dipenjara, malah dibebaskan. Tetapi sejak peristiwa itu nasib mempertemukan Little Tramp dan The Gamin, dan mereka berjuang bersama mengarungi samudra kehidupan untuk mencari kebahagiaan yang ilusif tersebut. Berhasilkah mereka mencapainya? Tentu saja tidak, tetapi tetaplah tersenyum  ... yang dua dasawarsa kemudian diberi judul “Smile”, dan diberi lirik, dan dinyanyikan pertama kali oleh Nat King Cole:

Smile though your heart is aching
Smile even though it's breaking
When there are clouds in the sky, you'll get by
If you smile through your fear and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You'll see the sun come shining through for you

Light up your face with gladness
Hide every trace of sadness
Although a tear may be ever so near
That's the time you must keep on trying
Smile, what's the use of crying?
You'll find that life is still worthwhile
If you just smile


Modern Times dibuat ketika AS berada dalam masa Great Depression -- resesi ekonomi parah yang melanda hampir seluruh dunia yang berlangsung dari akhir dekade 1920 sampai akhir Perang Dunia ke  2. Dilihat dari dekat, film ini adalah kritik sosial Chaplin tentang industri modern yang lebih  mementingkan produksi daripada manusia; dari jauh, film ini adalah pemikiran Chaplin bahwa tidak ada satu ideologi-pun yang bisa bekerja sendirian, atau lebih superior daripada yang lain, untuk membantu manusia mencapai kebahagiaan atau kesejahteraan. Tidak peduli ideologi tersebut menyangkut bentuk pemerintah yang bagaimana atau sistem ekonomi yang bagaimana, manusia terlalu rumit/kompleks untuk dimasukkan ke dalam satu ideologi saja: tidak ada usaha susah, ada usaha terus timbul eksploitasi; tidak ada pekerjaan susah, ada pekerjaan terus mogok kerja -- karena merasa dieksploitasi. Seakan-2 hidup ini bagaikan pendulum yang selalu tarik-ulur dari kiri, ke kanan, ke kiri lagi, ke kanan lagi, demikian seterusnya, tidak pernah berhenti pada titik equilibrium yang stabil. Dengan tema yang universal ini  tidak mengherankan karya Chaplin ini masih terus langgeng sampai saat ini.

Film yang membekas di sanubari.

Klasik.



Modern Times dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 25 July 2014

Pygmalion

Pygmalion ★★★★★

Social Mobility: From rags to riches ...

Menuju masyarakat yang égalitaire: Yang lemah bisa menjadi kuat, yang miskin bisa menjadi kaya, yang bawah bisa menjadi atas ...

Walk? Not bloody likely. I'm going in a taxi!

Tahun Keluar: 1938
Negara Asal: Inggris
Sutradara: Anthony Asquith, Leslie Howard
Cast: Leslie Howard, Wendy Hiller, Wilfrid Lawson, Marie Lohr, Scott Sunderland

Cerita drama pemenang Nobel Kesusastraan tahun 1925, karya penulis dan kritikus sosial asal Irlandia, George Bernard Shaw, ini tidak pernah lapuk ditelan pergantian jaman. Selama manusia masih terus berjuang (bertengkar, berselisih paham, atau 'eker-2an') mencapai masyarakat yang adil dan makmur, cerita Pygmalion ini akan terus terasa relevan. Sedemikian baiknya tulisan Shaw ini sehingga ceritanya dapat dengan versatile tertransformasi secara mulus dari medium aslinya, teater, ke medium-2 yang lain, a.l.: film -- Pygmalion (1938), teater musik -- My Fair Lady (1956), atau mungkin yang paling terkenal, film musik -- My Fair Lady (1964).

Sebagai orang Irlandia -- yang republik (rakyat jelata), yang tinggal di Inggris -- yang  monarki/kerajaan (didominasi oleh kelompok aristokrat), tidaklah sulit bagi Shaw untuk melihat bahwa di negeri adopsinya ini superioritas adalah garis keturunan atau hasil warisan, bukan hasil usaha sendiri. Superiority was inherited, not earned. Namun demikian, pengamatan sosial yang tajam ini tidak terjadi unik di Inggris saja, tetapi juga di negara-2 yang lain, misalnya: seorang anak menikmati status atau privilege orangtuanya, melulu karena garis keturunan atau hasil warisan, bukan karena usahanya sendiri. Sebagai seorang socialist-republican, Shaw mengidolakan masyarakat dengan Social Mobility yang tinggi, artinya masyarakat dimana rakyatnya mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan taraf kehidupannya, tidak peduli dari mana asal-usul atau latar belakangnya, atau bahkan apa jenis kelaminnya. Dengan kata lain, masyarakat yang égalitaire -- masyarakat yang tidak berkelas; tidak ada dikotomi kelas kuat - kelas lemah, kelas kaya - kelas miskin, kelas atas - kelas bawah, atau kelas pria - kelas wanita. Dengan tema yang universal ini tidak mengherankan karya Shaw ini masih terus relevan sampai saat ini.

Suatu saat di suatu malam yang hujan deras, di daerah gedung-2 opera di Covent Garden, London, seorang wanita penjual bunga, Eliza Doolittle (Wendy Hiller), menjadi subyek polemik antara seorang guru besar Phonetics, Professor Higgins (Leslie Howard), dan seorang ahli Phonetics yang lain, Colonel Pickering (Scott Sunderland). Tanpa menghiraukan kehadiran dan perasaan Eliza, Professor Higgins berdalil bahwa gaya berbicara seseorang sangat menentukan prospek orang tersebut dalam masyarakat: gaya berbicara selokan akan menempatkan pembicaranya di selokan juga, atau sebaliknya. Pandai tetapi tinggi hati, Professor Higgins tidak dapat menahan keinginannya untuk memamerkan kehebatannya sebagai ahli Phonetics: dia bertaruh kepada Colonel Pickering bahwa dia mampu mengajar Eliza berbicara seperti wanita dari kelas atas, sedemikian rupa sehingga dia bisa bekerja di toko bunga atau bahkan disangka sebagai wanita berdarah biru di pesta dansa di Buckingham Palace.


Mendengar pembicaraan mereka tentang dirinya, Eliza diam-2 tertarik mencoba dalil tersebut. Keesokan harinya, Eliza datang tanpa diundang ke rumah Professor Higgins dan memintanya mengajarinya berbicara seperti wanita dari kelas atas. Tidak menyangka dalilnya ditanggapi secara serius, Professor Higgins mentah-2 menolak permintaan tersebut dan mengolok-2 keinginan Eliza tersebut. Tetapi Eliza bersikeras dan mendesak terus. Tidak setuju dengan sikap Professor Higgins terhadap Eliza, Colonel Pickering akhirnya turun tangan, mengingatkan Professor Higgins bahwa dia memang bertaruh seperti itu, dan dia bersedia menerima taruhan tersebut -- taruhannya: dia akan mengganti seluruh biaya belajar Eliza kalau Professor Higgins berhasil membuktikan dalilnya. Tidak bisa mundur dari tantangan tersebut,  Professor Higgins setuju.

Maka dimulailah proses belajar-mengajar 24 jam sehari, 7 hari seminggu, antara Professor Higgins dan Eliza. Kalau Professor Higgins akan mengajari Eliza berbicara dengan baik, Eliza akan berusaha mengajari dia empati dan kerendahan hati.


Cerita berpusat pada pertemuan dua ego raksasa: yang satu milik guru besar Phonetics, Professor Higgins, yang lainnya milik wanita penjual bunga, Eliza Doolittle. Tidak perlu disangsikan lagi “kebesaran” ego Professor Higgins: snobbish, chauvinist, misogynist, sexist ... yang semuanya artinya sama :-) : merasa dirinya paling wahid. Namun demikian, “ketegaran” ego Eliza-lah yang berhasil menahan serangan sarkasme dan prejudice dari Professor Higgins yang berusaha menjatuhkan harga dirinya.

Professor Higgins: “You know, it's almost irresistible. She's so deliciously low. So horribly dirty.

Demikian juga dengan pemicu plot dalam cerita ini: Eliza-lah yang menggerakkan plot dalam cerita ini -- Eliza-lah yang berinisiatif datang ke rumah Professor Higgins dan memintanya mengajarinya. Shaw dengan cermat menulis dialog-2 tajam yang menampilkan betapa kelirunya prejudice Professor Higgins terhadap Eliza, bahwa orang dari kelas bawah itu tidak punya harga diri, tidak punya ambisi, tidak mengerti ekonomi, terlebih lagi wanita ... tidak punya otak. Well, Eliza tanpa tedeng aling-2 melawan semua prejudice tersebut, misalnya:

Eliza Doolittle: “I know what lessons cost as well as you do, and I'm ready to pay.

Namun demikian, Shaw tidak melupakan sisi humor dalam dialog-2 yang serius tersebut, misalnya:

Professor Higgins: “How much do you propose to pay me for the lessons?
Eliza Doolittle: “Oh, I know what's right. A lady friend of mine gets French lessons for eighteen pence an hour from a real French gentleman. Well, you wouldn't have the face to ask me the same for teaching me my own language as you would for French; so I won't give more than a shilling. Take it or leave it.

1 - 0 untuk Eliza! :-)

Dan masih ada banyak dialog-2 tajam yang lain -- serius sekaligus lucu dan menggelitik, yang akhirnya melampaui batas-2 taruhan awalnya:

Benarkah gaya berbicara adalah satu-2nya tanda yang mencerminkan status seseorang? Bagaimana kalau  topik atau subyek pembicaraannya nyaris nihil?

Eliza Doolittle: “The rain in Spain stays mainly in the plain. In Hertford, Hereford and Hampshire, hurricanes hardly ever happen.

atau tetap sama seperti semula:

Eliza Doolittle: “My aunt died of influenza. So they said. But it's my belief they done the old woman in.
Mrs. Higgins: “Done her in?
Eliza Doolittle: “Yes, Lord love you! Why should she die of influenza? She come through diphtheria right enough the year before. I saw her with my own eyes. Fairly blue with it, she was. They all thought she was dead; but my father he kept ladling gin down her throat til she came to so sudden that she bit the bowl off the spoon.

Bagaimana dengan sikap atau tingkah-laku? Bukankah hal ini juga tanda yang mencerminkan status seseorang?

Bagaimana dengan uang? Bagaimana dengan orang yang berbicara, bersikap/bertingkah-laku seperti orang dari kelas atas, tetapi tidak punya uang? (dalam cerita ini: keluarga Eynsford-Hill yang dijuluki sebagai “social climber” :-) ) Atau sebaliknya, orang yang berbicara, bersikap seperti orang dari kelas bawah, tetapi ternyata punya uang? (dalam cerita ini: ayah Eliza yang tiba-2 menjadi kaya gara-2 mewarisi kekayaan seorang jutawan Amerika yang tidak percaya dengan sistem di Inggris). Sejak itu, walaupun gaya bicara dan sikapnya sama seperti semula, ayah Eliza langsung naik kelas menjadi “gentleman” :-)

Untuk Eliza sendiri (wanita pada jamannya), setelah dia berhasil menjadi “lady”, so what ... ??! Ke-“lady”-annya tersebut bisa digunakan untuk apa? Ternyata hanya bisa digunakan untuk kawin. Yang menurut kelas atas hal ini adalah hal yang membanggakan, tetapi untuk Eliza hal ini justru tragis dan memalukan.

Eliza Doolittle: “I sold flowers! I didn't sell myself! Now you've made a lady of me, I'm not fit to sell anything else.

Yes, 2 - 0 untuk Eliza! :-)


Kritik sosial yang dilempar Shaw, solusi yang ditawarkan Professor Higgins, ternyata membuka “can or worms” -- membongkar masalah-2 yang lain yang lebih pelik. Dan inilah open-ending, akhir yang terbuka, yang meninggalkan penonton bertanya-2: Bagaimana nasib Eliza selanjutnya?

Sayangnya, di luar dunia teater dan sastra, karya George Bernard Shaw ini kurang mendapat penghargaan untuk pengaruhnya terhadap class-consciousness -- perjuangan menuju masyarakat yang lebih adil, masyarakat yang tidak berkelas, dan khususnya terhadap feminisme -- perjuangan menuju masyarakat dengan kesetaraan gender.

Klasik.



Pygmalion dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 5 May 2014

The Women

The Women ★★★★*

Feminisme modern: Kritik terhadap gender sendiri

Satir yang menggigit, tajam, witty, ... b i t c h y, ... f u n n y !

Tahun Keluar: 1939
Negara Asal: USA
Sutradara: George Cukor
Cast: Norma Shearer, Joan Crawford, Rosalind Russell, Joan Fontaine

Tahun 1939 konon adalah “vintage” terbaik dalam sejarah Academy Awards, dimana pada tahun tersebut Hollywood menghasilkan film-2 handal yang di kemudian hari menjadi klasik, di antaranya: Mr. Smith Goes to Washington, Gone with the Wind, The Wizard of Oz, Ninotchka, Stagecoach, The Huncback of Notre Dame,  Wuthering Heights, The Roaring Twenties, Goodbye Mr. Chips, Love Affair. Dengan kompetisi seketat ini, bukan salah siapapun kalau film ini “keloncatan” dalam nominasi Oscar -- sama sekali bukan karena film ini kalah kualitas dari segi apapun. Kalau anda menyukai Ninotchka -- satir tentang Cold War, anda akan menyukai The Women -- satir dari wanita tentang gendernya sendiri. Adaptasi dari teater dengan judul yang sama karya Clare Boothe Luce -- bercerita tentang intrik dan kehidupan manja para istri dari pria berduit di Manhattan, New York, dan wanita-2 yang lain yang mereka temui, penulis anekdot ternama saat itu, Anita Loos, perlu “mempermak” scriptnya sedemikian rupa sehingga film ini lolos sensor dari Motion Picture Production Code (MPPC)/Hays Code, tetapi tetap menjaga satir tajam yang ada di dalamnya. Hasilnya, insinuasi yang menggigit, tajam, witty sekaligus bitchy, tetapi lucu sekaligus menghibur.

Secepat api menyulut sumbu petasan, cerita dimulai dengan tempo tinggi dari salon kecantikan Sydney's di Park Avenue, dengan gosip bahwa Stephen Haines -- suami dari Mary Haines (Norma Shearer), seorang ibu rumah-tangga yang ceria dan bahagia, cinta terhadap suaminya, dan ibu dari Little Mary, menjalin hubungan asmara dengan Crystal Allen (Joan Crawford), seorang penjaga counter parfum di toserba Black's di distrik yang sama. Si penyebar gosip adalah Olga, si manicurist, yang berondongan celotehannya selalu menemani kunjungan setiap client yang duduk di depannya -- oooh, bayangkan :-) Si penerima gosip adalah Sylvia Fowler (Rosalind Russell), sepupu Mary, yang ternyata 10x lebih gossipy daripada Olga :-) Merasa kurang pantas (baca: kurang kejam!) kalau dia yang memberitahu Mary tentang gosip tersebut, Sylvia menyarankan Mary untuk pergi ke Sydney's untuk memperbarui warna kutek kukunya -- Jungle Red, seperti miliknya, dengan Olga, si manicurist. Terkejut mendengar gosip tersebut dan terlebih lagi malu menyadari semua temannya sudah mengetahuinya, ibunya -- yang juga client Olga, cepat-2 datang mengunjunginya dan memberi nasehat kepadanya: pertama, jangan mengkonfrontasi suaminya, alias pura-2 ndak tahu dan percaya bahwa affair tersebut akan berlalu dengan sendirinya; kedua, jangan minta nasehat pada teman-2nya, karena mereka hanya akan memperkeruh masalah. Tidak dapat menerima nasehat ibunya yang terasa tidak cocok dengan generasinya, Mary mula-2 mematuhi nasehat tersebut, tetapi akhirnya termakan oleh emosi juga ketika Sylvia memberi kabar bahwa Crystal mulai mendekati anaknya, Little Mary. Maka meletuslah hostility terbuka antara Mary dan Crystal, dan kehadiran majalah gosip semakin mempersulit Mary mencapai rekonsiliasi dengan suaminya. Berhasilkan Mary menyelamatkan perkawinannya?

Tetapi plot utama ini tidak berjalan sendirian, ada subplot-2 yang lain yang berjalan mendampinginya: Sylvia yang  mencintai suaminya hanya karena uangnya; Crystal yang melulu gold digger; Peggy (Joan Fontaine) yang penghasilannya lebih besar dari suaminya yang menimbulkan ketidakharmonisan dalam perkawinannya; Countess De Lave (Mary Bolland) yang perannya justru terbalik, ternyata dialah yang mengeluarkan uang untuk suami “piaraan”-nya :-); dan Miriam (Paulette Goddard) yang menjadi pihak ketiga. Juga tampil tersirat efek perceraian terhadap anak dan to a greater extent tema universal Pride & Prejudice. Scriptnya berhasil dengan rapi dan efektif menjalin semua subplot yang ada menuju resolusi akhir yang nilainya lebih besar daripada jumlah masing-2 subplot. Dikombinasikan dengan dialog-2 yang menggigit, tajam, witty sekaligus bitchy, dan pemilihan cast yang tepat, yang semuanya sweet dan adorable, bahkan untuk mereka yang paling bitchy sekalipun, misalnya Crawford! :-), hasilnya adalah satir yang menghibur karena menggabungkan keseriusan dengan kekonyolan, komentar sosial dengan komedi, dan kritik dengan kehangatan dengan dosis yang pas.

Juga patut diacungi jempol adalah arahan George Cukor -- sutradara pria yang mempunyai sensitivitas tinggi terhadap tema-2 feminin: Little Women (1933), The Philadelphia Story (1940), Gaslight (1944), Adam's Rib (1949), My Fair Lady (1964), yang juga rapi dan efektif. Dari awal, dengan montage lucu dan mengena anggota cast utama yang tanpa tedeng aling-2 mengasosiasikan peran-2 mereka dengan karakter-2 binatang yang sepadan: Mary (Shearer): rusa -- tidak berprasangka buruk; Crystal (Crawford): macan tutul -- senang berburu dan memangsa; Sylvia (Russell): kucing hitam -- meongannya mendatangkan keributan, Countess De Lave (Bolland): monyet -- ndak punya malu; Miriam (Goddard): rubah -- licik dan licin; Peggy (Fontaine): domba -- kurang tegas; ibunya Mary (Lucile Watson): burung hantu -- bijaksana; Edith (Phyllis Povah): sapi -- senang ngikut; anaknya Mary, Little Mary (Virginia Weidler): anak rusa -- seperti ibunya; dan Lucy (Marjorie Main): kuda -- sak karepe dewe, Cukor dengan cepat menentukan “warna” film ini, menjaganya dengan baik di seluruh film, dan tidak mengecewakan penonton sampai film berakhir. Arahan lain yang mengagumkan adalah kecakapan Cukor menjaga karakter-2 yang ada -- yang jumlahnya banyak, sesuai dengan urutan prioritas dalam scriptnya, tampil dalam layar yang saat itu hanya berukuran/berasio 4:3 saja. Gerakan terkoreografi dari anggota cast -- entah berapa lama mereka berlatih, sedemikian rupa sehingga semuanya masuk dalam layar yang notebene berukuran kecil (bandingkan dengan saat ini yang berasio 16:9), dan kerapian/ketelitian Cukor menempatkan kamera, betul-2 patut diacungi jempol. Last, but not least, walaupun mula-2 Cukor tidak menyukai sequence fashion show yang berlangsung sekitar 6 menit di awal babak kedua film ini -- menurutnya menghentikan alur cerita yang sedang berjalan, sekarang sequence ini justru menjadi bagian unik karena menjadi bagian yang standout berwarna/Technicolor dari seluruh film yang hitam-putih. Memang betul terasa menghentikan alur cerita, tetapi setelah berondongan celotehan yang bagaikan mitraliur, bagian ini justru memberi kesempatan penonton untuk “beristirahat” sejenak.

Dengan total jumlah 130 peran, semuanya wanita, bahkan para binatang yang tampil -- paling tidak 2 anjing dan 1 kuda, juga berjenis kelamin perempuan, saat itu Cukor pasti adalah pria yang paling bahagia di seluruh dunia :-)

Film ini sudah di-remake paling tidak 3 kali: The Opposite Sex (1956), Women in New York (1977), dan The Women (2008), tetapi tidak satupun yang berhasil mendekati script dari Anita Loos dan arahan emas dari George Cukor ini.

Klasik.



The Women dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 23 August 2013

The Private Life of Henry VIII, Elizabeth, The Young Victoria, The Queen

Quadruple British Royals!


Amerika sudah melepaskan diri dari Inggris sejak tahun 1776, namun demikian rakyat Amerika terbukti sampai sekarang masih menyimpan fascination (ketertarikan/kekaguman) terhadap tradisi kuno di negeri nenek moyangnya tersebut, salah satu di antaranya adalah Keluarga Kerajaan.

Film-2 tentang Keluarga Kerajaan sering tidak luput masuk dalam daftar nominasi Film Terbaik Oscar. Mereka yang memerankan British Royals juga sering tidak luput masuk dalam daftar nominasi Aktor atau Aktres Terbaik. Maka tidak mengherankan kalau ada banyak pengamat film yang berpendapat bahwa film-2 tentang Keluarga Kerajaan adalah “winning formula” dalam festival film Oscar. It's been proven, again and again.

Pada kesempatan kali ini penulis ingin memberi introduction kepada 4 film tentang Keluarga Kerajaan, dipilih karena significance dari filmnya dan subyek dari filmnya. Untuk subyek dari film, penulis memilih empat yang paling populer dalam sejarah (paling populer difilmkan), yaitu: Henry VIII, Elizabeth I, Victoria, dan Elizabeth II.

1) The Private Life of Henry VIII (1933)

Sampai saat ini tidak ada aktor yang mampu menandingi akting Charles Laughton sebagai Raja Henry VIII. Mempunyai reputasi buruk sebagai raja dengan enam istri (dua di antaranya dia pancung) dan dua wanita simpanan, Laughton berhasil dengan sangat meyakinkan “menghidupkan” Henry VIII menurut interpretasinya sendiri: mad (edan), rude (kasar), tetapi bukannya tanpa alasan! Ini penting. In fact, alasan tersebut sangat penting, sehingga walaupun edan dan kasar, Laughton berhasil memberi sisi manusiawi (kekocakan) terhadap karakter tersebut dan menarik simpati penonton. Betulkah tingkah laku Raja Henry VIII seperti itu? Tidak ada yang tahu. Tetapi akting Laughton sungguh mengesankan. Film ini masuk nominasi Film Terbaik Oscar dan Charles Laughton memenangkan Aktor Terbaik.

2) Elizabeth (1998)

Di antara empat subyek di atas, cerita seputar Ratu Elizabeth I adalah yang paling banyak difilmkan. Mengapa? Mungkin karena ceritanya paling menarik (baca, paling banyak mengandung konflik). Terpilih sebagai penerus ayahnya, Henry VIII, setelah adik laki-2 satu-2nya mati muda dan kakak perempuannya juga mati muda, Elizabeth I mewarisi kerajaan dengan seabreg masalah: mulai dari upaya pembunuhan terus-2an dari Gereja Katolik di Roma, persekongkolan politik terus-2an dari dalam kerajaan untuk menjatuhkan dirinya, sampai pemilihan jodoh yang selalu berakhir dengan patah hati. Film garapan sutradara kelahiran India, Shekhar Kapur, ini berhasil dengan sangat baik menampilkan semua konflik tersebut, menampilkan transisi Elizabeth I dari lemah pada awalnya sampai formidable (kuat dan disegani oleh musuh-2nya) pada akhirnya, dan menjaga tempo yang tinggi dari awal sampai akhir film. Film ini dan Cate Blanchett masuk nominasi Film Terbaik dan Aktres Terbaik Oscar, dan “unfairly” dikalahkan oleh sesama film dengan setting Inggris kuno, Shakespeare in Love. Judi Dench yang memerankan peran yang sama, Elizabeth I, dalam Shakespeare in Love berhasil menggondol Aktres Pendukung Terbaik. Sayang sekali Shekhar Kapur tidak berhasil mengulangi greget film ini dalam sequelnya, Elizabeth, The Golden Age (2007).

Catatan: Perlu ditengok 2 film dari Bette Davis tentang Ratu Elizabeth I yang berjudul: The Private Lives of Elizabeth and Essex (1939) dan The Virgin Queen (1955). 2 film ini menceritakan masa kejayaan Elizabeth I.

3) The Young Victoria (2009)

Lebih dari 200 tahun kemudian, Victoria tidak lagi mengalami ujian seberat Elizabeth I. Saat itu kepala kerajaan sudah tidak lagi memerintah secara langsung, dengan demikian membebaskan dia dari tugas-2 pelik memerintah. Berbeda dengan para pendahulunya, Victoria terkenal dengan kelembutan dan keharmonisan rumah tangganya. Ketika Albert, suaminya, meninggal dunia, di usia 42 tahun, dia memutuskan berkabung sampai akhir hayatnya di usia 82 tahun. Selain sebagai wanita pertama yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih, Victoria dikenang rakyatnya dengan cintanya yang seumur hidup terhadap suaminya. Emily Blunt memberi sweetness kepada peran Victoria muda. Film yang dengan setting yang indah ini memenangkan Best Costume Design Oscar, dan menerima nominasi untuk Best Art Direction, dan Best Makeup.

Catatan: Perlu ditengok film dari Judi Dench memerankan Ratu Victoria dalam Her Majesty Mrs. Brown (1997) yang berkisah tentang pembantu rumah tangga istana yang jatuh cinta dengan dia ketika dia menjanda.

4) The Queen (2006)

Adalah suatu keberanian dari penulis dan sutradara film ini membuat film ini sementara Ratu Elizabeth II masih hidup. Dan masalah yang dihadapi, walaupun tidak seberat masalah Henry VIII atau Elizabeth I, tetapi sensitif dengan berpotensi mendatangkan complaint. Masalah sensitif tersebut adalah Diana. Bekas anggota kerajaan (setelah perceraiannya dari Pangeran Charles), tetapi rakyat Inggris tetap menganggap Diana sebagai (calon) Ratu mereka. Ketika Diana meninggal dunia, rakyat Inggris menuntut pemerintah dan keluarga kerajaan memberi Diana upacara kematian seperti selayaknya seorang Ratu. Bagaimana Ratu yang sesungguhnya mesti bersikap terhadap tuntutan rakyatnya tersebut? Konon Ratu Elizabeth II menyukai film ini dan mengundang Helen Mirren untuk datang makan malam di istana Buckingham. Film ini masuk nominasi Film Terbaik Oscar dan Helen Mirren memenangkan Aktres Terbaik.


The Private Life of Henry VIII, Elizabeth, The Young Victoria, The Queen dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 16 August 2013

Sabotage, The Trouble with Harry, Topaz

Triple Hitchcock's Classics!


Bagaimana anda merayakan ulang tahun Alfred Hitchcock?
Nonton film-2nya? Tentu saja!

Pada kesempatan kali ini penulis ingin memberi introduction kepada tiga film Hitchcock yang tidak terlalu sering ditonton, atau dibahas. Tiga film berikut ini memang tidak sepopuler Rear Window, Vertigo, North by Northwest, atau Psycho, tetapi kalau anda penggemar Hitchcock anda dapat dengan mudah menemukan semua “trademark” Hitchcock di dalamnya: suspense, thriller, komedi, dan ... “Hitchcock Blondes” -- dalam tiga film berikut ini para pemeran utama wanitanya tidak berambut pirang, namun demikian mempunyai kualitas “Hitchcock Blondes”, yaitu: sexy, smart, sophisticated, sekaligus icy, strong, and fearless (eksterior yang kalem, interior yang membara).

1) Sabotage (1936)

Bersama dengan The Man Who Knew Too Much (1934) dan The 39 Steps (1935), Sabotage adalah film yang memindahkan Hitchcock dari studio lokal di Inggris ke Hollywood. Walaupun Hitchcock saat itu merasa dirinya masih amatir, film Sabotage menunjukkan keahlian penyutradaraannya sudah professional, matang.

Seorang pemilik bioskop, Verloc, ternyata adalah seorang anggota grup teroris yang merencanakan serangkaian serangan di kota London. Polisi mencium gelagat ini, maka membuntuti gerak-geriknya. Sang pemilik bioskop hidup bersama istri dan adik laki-2 istrinya yang masih di bawah umur, Stevie -- keduanya tidak mengetahui secret life Verloc. Pada hari H yang sudah ditentukan untuk meledakkan time-bomb di stasiun kereta api Piccadilly Circus di bawah tanah (London Underground), mengetahui polisi sudah membuntuti gerak-geriknya, Verloc menyuruh Stevie membawa dan meletakkan bungkusan reel film (berisi bom waktu) di tempat yang ditentukan. Dalam perjalanan, Stevie ternyata mampir dulu di tempat orang jualan obat :-) , kemudian terhalang iring-2an parade di jalan ... dasar anak kecil, Stevie malah senang nonton parade tersebut. Tik, tok, tik, tok, tik, tok, ... waktu berjalan terus mendekati jam dimana bom tersebut bakal meledak. Akankah Hitchcock mengorbankan/mematikan anak kecil dalam filmnya??? Bagaimana reaksi Mrs. Verloc ketika mengetahui bahwa suaminya ternyata seorang teroris?

Suspense, suspense, suspense.

2) The Trouble with Harry (1955)

Ketika film ini dibuat Hitchcock sudah berada di puncak ketenarannya di Hollywood. Entah ada angin apa, Hitchcock tiba-2 memutuskan membuat film komedi! Yes, comedy! :-) Tetapi tidak berarti tanpa suspense dan thriller.

Suatu siang yang cerah di sebuah desa di negara bagian Vermont, AS, seorang pemburu sedang berburu kelinci di hutan belukar di dekat tempat tinggalnya; seorang anak kecil sedang bermain tembak-2an dengan senjata plastiknya; seorang wanita muda baru saja melempar botol susu ke bekas suaminya karena tidak mau diajak damai; dan seorang wanita setengah baya baru saja memukul seorang pria dengan sepatu bootnya gara-2 dia keluar dari hutan belukar secara tiba-2. Beberapa saat kemudian satu per satu menemukan pria tersebut (Harry) terkapar mati di tengah hutan belukar. Dan semuanya merasa bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut. Dan masing-2 berusaha menutupi kejahatan tersebut :-) Benarkah mereka semua bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut? Berhasilkah mereka menutupi kejahatan tersebut? Akankah Hitchcock membiarkan kejahatan tersebut menang?

Edmund Gwenn, Mildred Natwick, dan Mildred Dunnock memberikan performance yang hangat, sehangat udara Vermont di musim panas dengan pemandangan yang super indah. Film ini adalah film pertama Shirley MacLaine -- siapa yang nyangka dia bertahan terus main film sampai saat ini. Juga film pertama untuk John Forsythe, yang kariernya ternyata lebih banyak di televisi -- siapa yang nyangka dia menjadi terkenal sebagai suara dari Charles Townsend dalam serial TV “Charlie's Angels” dan multi-billionaire Blake Carrington dalam soap opera TV “Dynasty”.

Kocak, kocak, kocak.

3) Topaz (1969)

Banyak penggemar Hitchcock yang menilai bahwa menuju akhir kariernya karya-2 Hitchcock tidak sebagus karya-2 awalnya. Ya, pasti berbeda, karena waktunya berbeda. Namun demikian, Hitchcock tetap Hitchcock -- dasarnya tetap sama.

Bersetting krisis missile Cuba pada tahun 1962, CIA (John Forsythe tampil lagi) menggunakan agen Perancis, Andre Devereaux, untuk mengintai sepak terjang Sovyet di Cuba. Tetapi ada masalah, karena ada jaringan mata-2 Sovyet di kalangan pejabat tinggi Perancis, namanya Topaz. Siapa pemimpin Topaz? Bersediakan Andre Devereaux mengorbankan kariernya, kekasihnya, dan bahkan keluarganya, untuk AS?

Dengan running time sepanjang 143 menit, Topaz sama sekali tidak kalah dengan spy thriller The Day of the Jackal yang dibuat empat tahun kemudian. Membawa penonton dari Copenhagen, ke Washington, ke Paris, ke New York, ke Havana, dan kembali lagi ke Paris ... wow, what an adventure! Topaz membangkitkan nostalgia penonton terhadap siapa lagi kalau bukan North by Northwest. Frederick Stafford, walaupun sama sekali bukan Cary Grant, membangkitkan nostalgia penonton terhadap ... Cary Grant :-)

Thriller, thriller, thriller.


Sabotage,  The Trouble with Harry, Topaz dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 13 September 2012

Top Hat

Resensi Film: Top Hat (8.2/10)

Tahun Keluar: 1935
Negara Asal: USA
Sutradara: Mark Sandrich
Cast: Fred Astaire, Ginger Rogers, Edward Everett Horton, Helen Broderick

Plot: Jerry Travers, seorang entertainer/tap dancer, bersama Horace Hardwick, produsernya, datang ke London untuk mengadakan pertunjukan. Di kamar hotel Jerry mendemonstrasikan langkah-2 barunya dalam tap dancing kepada Horace, tidak menyadari hentakan kakinya membangunkan Dale Tremont, seorang fotomodel, yang sedang tidur di kamar di bawah kamarnya. Kontan saja Dale menelpon manajer hotel dan complain tentang gangguan tersebut. Ketika Horace turun ke bawah untuk menemui manajer hotel, Dale naik ke atas untuk mengkonfrontasi Jerry. Ketika Dale masuk ke kamarnya, Jerry jatuh cinta dengan Dale pada pandangan pertama. Sementara Jerry berusaha menaklukkan hati Dale, komplikasi muncul ketika Dale menyangka Jerry adalah Horace -- suami teman akrabnya, Madge (IMDb).

Meskipun plot yang timbul dari salah identitas ini cepat menjadi tipis, scriptnya efisien -- maksudnya, menyediakan dialog yang pandai dan lucu, dan membangkitkan tawa. Dengan kata lain, justru baik untuk film sejenis ini karena kalau plotnya tebal justru akan mengambil perhatian dari dua atraksi utamanya yang membuat film ini nikmat dan menakjubkan untuk ditonton, yaitu Fred Astaire dan Ginger Rogers (!) Para pakar dansa setuju, tap dancing dari Astaire dan Rogers mempunyai teknik yang kompleks dan choreography yang indah. Astaire sendiri menunjukkan betapa versatile dan creative-nya dirinya -- sebagai contoh: dia sering menggunakan prop (barang-2 yang terletak di sekitarnya) dalam rutin dansanya, misalnya tepukan tangan di meja, sepakan kaki di dinding, pasangan dansa dengan vas bunga atau tongkat, dll. Dan yang membuat rutin dansa tersebut bahkan menakjubkan adalah mereka membuatnya kelihatan mudah dan alami. Mereka dengan sempurna "in tune" dalam setiap sequence dansanya -- betul-2 mengambil nafas anda (!) :-) Selain itu, musical scores dari Irving Berlin betul-2 memikat hati: "Isn't This a Lovely Day (to Be Caught in the Rain)?", "Top Hat, White Tie and Tails", dan siapa yang tidak ingat "Cheek to Cheek" yang klasik. Anggota cast yang lain juga tampil mempesona: Edward Everett Horton meyakinkan sebagai Horace, suami yang penakut tetapi "licin" :-), Helen Broderick tampil cool sebagai Madge, istri yang pasrah terhadap "kelicinan" suaminya :-), sedang Eric Blore mengesankan sebagai Bates, pembantu yang eksentrik, dan Erik Rhodes tampil theatrical sebagai Alberto Beddini, fashion designer Itali yang dramatis. Masing-2 memperoleh kesempatan untuk bersinar. Dan perhatikan wanita muda di toko bunga ... dia adalah Lucille Ball (!), ya betul, the future Queen of Comedy.

Bersetting di London dan Venice, tetapi sama sekali tidak mirip seperti London dan Venice :-), Top Hat mempunyai production design yang megah dan mewah -- secara keseluruhan, set decorationnya menggunakan gaya Art Deco. Tiga sequence dansa paling berkesan untuk penulis adalah: 1) Di awal film, Astaire tap dancing, tidak menyadari hentakan kakinya membangunkan Rogers yang sedang tidur di kamar di bawah kamarnya -- kamera bergerak ke bawah, melewati lantai antara kamar Astaire dan kamar Rogers. Beberapa saat kemudian, Astaire menaburkan pasir di lantai kamarnya, melanjutkan tap dancing di atas pasir, seraya me-'ninabobo'-kan Rogers. 2) Diiringi lagu "Top Hat, White Tie and Tails", Astaire berdansa solo dengan tongkatnya, diakhiri dengan Astaire "menembak" satu per satu penari background-nya dengan tongkat tersebut. 3) Diiringi lagu "Cheek to Cheek", Astaire men-serenade Rogers dengan rutin dansa paling kompleks dan paling indah.

Top Hat dengan mudah adalah film terbaik dari sepuluh film Astaire dan Rogers. Pada tahun 1990, film ini terpilih masuk dalam klasifikasi "culturally, historically, or aesthetically significant" dalam United States National Film Registry.

* 8.2/10

Top Hat dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 3 May 2012

A Tale of Two Cities

Resensi Film: A Tale of Two Cities (8.5/10)

Tahun Keluar: 1935
Negara Asal: USA
Sutradara: Jack Conway
Cast: Ronald Colman, Elizabeth Allan, Edna May Oliver, Reginald Owen, Basil Rathbone

Plot: Kisah cinta dua pria terhadap seorang wanita sementara revolusi menyapu bersih seluruh Perancis (IMDb).

Novel klasik karya Charles Dickens ini adalah salah satu dari novel-2 favorit penulis ketika kecil. Bagaimana tidak, kalimat pertama dalam paragraf pertama sedemikian mengesankannya:

"It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity, it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way -- in short, the period was so far like the present period ..."

Ya, betul sekali, Mr. Dickens ... it's like present time, it's like now (!), itulah perasaan penulis ketika membacanya untuk pertama kali dan setiap kali mengenangnya. Ceritanya tidak pernah lekang oleh panas, tidak pernah lapuk oleh hujan, selalu relevan, bahkan sampai saat ini. Di bawah pengawasan David O. Selznick -- satu-2nya produser (setelah Irving Thalberg) dalam sejarah Hollywood yang "care"  tidak hanya terhadap box-office saja tetapi juga terhadap kualitas atau mutu dari film-2nya, cerita klasik ini berhasil diadaptasi ke layar lebar sangat dekat dengan cerita aslinya. A Tale of Two Cities mempunyai cast yang unggul, khususnya Ronald Colman, sebagai pemeran utama Sydney Carton; juga aktor-2 yang lain yang memainkan peran-2 pendukung, termasuk Basil Rathbone sebagai Marquis St. Evrémonde -- aristokrat yang angkuh dan jahat, Henry B. Walthall sebagai Dr. Manette -- ayah Lucie, orang tidak bersalah yang menjadi korban kesewenang-2an aristokrat, Edna May Oliver sebagai Miss Pross -- pengasuh Lucie, pembantu yang setia, dan Blanche Yurka, yang hampir saja "mencuri" centre-stage, sebagai Madame Defarge -- juga korban kesewenang-2an aristokrat, heroine dan sekaligus arch villainess! Walaupun nampak sebagai kisah cinta, Dickens menciptakan karakter-2 yang menyampaikan pesan-2 yang jauh lebih dalam dari sekedar kisah cinta. Sydney Carton, pria yang mempunyai posisi dan profesi terhormat, tetapi somehow dia tidak menemukan kebahagiaan, tidak menemukan "arti" dalam hidupnya. Dia menghabiskan waktu dan pikirannya antara minum dan ruang pengadilan. Sampai akhirnya dia bertemu Lucie, wanita yang memberinya "arti", tetapi secepat itu pula dia mengetahui bahwa dia tidak dapat memilikinya. Dr. Manette, korban kesewenang-2an yang berhasil berdamai dengan masa lalunya. Madame Defarge, juga korban kesewenang-2an, sebaliknya, tidak pernah sirna nafsu balas dendamnya -- memimpin revolusi di kampung halamannya, menggalang persatuan dan membangkitkan amarah rakyat terhadap aristokrat; dengan sinar matanya yang tajam dan senyumnya yang sinis, dia tidak pernah absen menjatuhi hukuman mati sambil dia duduk merajut di pengadilan kangguru, the Reign of Terror. Kebenciannya terhadap seluruh keturunan Evrémonde, tidak peduli bersalah atau tidak, telah mengkonsumsi dirinya dan mengubah dirinya menjadi monster. Peran-2 pendukung yang lain, dan jumlahnya banyak, dimainkan dengan sangat baik dan mesti anda tonton sendiri untuk mengapresiasinya. Bahkan bagian-2 kecil ini juga unik, berkarakter, so colourful; betul-2 salut untuk casting yang tepat. Anda jarang menemukan perhatian sedetil ini jaman sekarang, unfortunately. Cinematography dan editing dilakukan dengan sangat baik dan menjadikan film ini enak ditonton. Arahan dari Jack Conway juga dilakukan dengan sangat baik, khususnya scene penyerbuan Bastille dan menuju akhir film, scene hukuman mati massal dengan Madame Guillotine -- menimbulkan perasaan eerie (strange and frightening). Scene paling berkesan untuk penulis adalah menuju akhir film ketika Sydney Carton berusaha menghibur seorang seamstress (penjahit wanita) yang ikut-2 dijatuhi hukuman mati hanya gara-2 dia berteman dengan seorang aristokrat. Sambil ketakutan, si seamstress bertanya ke Sydney: "Mengapa aku harus mati?" "Apa gunanya?"

Sydney Carton mengetahui alasan untuk dirinya ...

Scene terakhir, kamera bergerak mengarah ke langit, sementara Carton mengucapkan kalimat terakhirnya,  betul-2 a knock-out! Di akhir film, penulis hanya dapat bergumam, "Wow ..."

A Tale of Two Cities adalah film yang dapat ditonton untuk seluruh keluarga. Ceritanya simple bagi anak-2 untuk memahaminya, tetapi sekaligus compelling bagi orang dewasa untuk menemukan makna yang lebih dalam darinya. Sedikit ganjalan, film ini dikeluarkan pada musim liburan Natal pada tahun 1935 sehingga musical scores-nya disesuaikan dengan festivity yang ada saat itu, padahal tanpa bantuan festivity ini cerita klasik dari Dickens ini akan tetap mampu menjadi klasik.

* 8.5/10

A Tale of Two Cities dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 3 April 2012

You Can't Take It with You

Resensi Film: You Can't Take It with You (8.0/10)

Tahun Keluar: 1938
Negara Asal: USA
Sutradara: Frank Capra
Cast: Jean Arthur, Lionel Barrymore, James Stewart, Edward Arnold

Plot: Seorang pria dari keluarga konservatif jatuh cinta dengan seorang wanita dari keluarga bohemian. Ketika dua keluarga yang berbeda bagaikan bumi dan langit ini bertemu, gaya hidup dan pandangan hidup bertabrakan secara frontal (IMDb).

Adaptasi dari teater pemenang penghargaan Pulitzer karya George S. Kaufman dan Moss Hart ini menunjukkan bagaimana tulisan yang baik dapat mengubah cerita yang biasa dan sederhana menjadi cerita yang menarik dan mempunyai kedalaman. Sama seperti film-2 arahan Frank Capra yang lainnya, You Can't Take It with You mengajak anda untuk mempertanyakan: Apa sich yang paling penting dalam hidup ini? Kalau kita meninggal dunia, kita tidak dapat membawa apa yang kita miliki di dunia ini bersama kita ... you can't take it with you! Hero dalam film ini adalah Martin Vanderhof (Lionel Barrymore). Orang bilang dia eksentrik, karena dia meninggalkan pekerjaannya yang mapan untuk hidup sesuai dengan panggilannya, yaitu melakukan apa yang membuat dia bahagia. Sama seperti dalam film-2 Capra yang lainnya, hero yang kecil dan lemah ini dihadapkan pada anti-hero yang besar dan kuat, Anthony P. Kirby (Edward Arnold), seorang industriawan dengan kekuasaan yang menjangkau mulai dari rumahnya sampai ke Gedung Putih. Tetapi Vanderhof tidak gentar sama sekali terhadap Kirby, karena dia sudah memegang "kunci" kehidupannya. Ketika cucunya, Alice (Jean Arthur), memberitahu bahwa dia jatuh cinta dengan Kirby Junior (James Stewart), dua keluarga yang berbeda bagaikan bumi dan langit ini bertemu ... kontan saja gaya hidup dan pandangan hidup bertabrakan secara frontal. Segala macam pertanyaan sederhana, and yet philosophical, keluar dari sarangnya: uang versus kebahagiaan, uang adalah segalanya, uang bukan segalanya. Apakah anda bersedia mengorbankan jati diri dan kebahagiaan anda demi menjadi "normal" -- "normal" itu apa; eksentrik -- "eksentrik" itu apa. Script-nya dengan pandai menghibur penonton dengan pertanyaan-2 tersebut. Empat tokoh utama dalam film ini memperoleh character development yang matang dan multi-faceted, sehingga mereka tampil believable dan riel. Lionel Barrymore tampil meyakinkan sebagai eksentrik yang normal (atau normal yang eksentrik?), dan Edward Arnold dengan sangat baik mengimbangi penampilan Barrymore tersebut. Jean Arthur dan James Stewart tampil believable sebagai pasangan muda yang terhimpit dalam situasi "gila" tersebut, padahal satu-2nya hal yang mereka pedulikan adalah cinta mereka. Sayangnya, tokoh-2 pendukung yang lainnya tidak memperoleh treatment yang sama, sehingga mereka nampak karikaturis atau parodis -- sehingga membuat film secara keseluruhan terkesan trying too hard to get the message across. Namun demikian, film ini adalah film drama komedi yang langka (menerima Oscar untuk Film Terbaik pada tahun 1939) yang akan membekas dalam ingatan anda jauh setelah anda selesai menontonnya.

Would you sacrifice your own happiness to become "normal"?

* 8.0/10

You Can't Take It with You dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 24 October 2011

Goodbye, Mr. Chips

Resensi Film: Goodbye, Mr. Chips (****/4)

Tahun Keluar: 1939
Negara Asal: UK
Sutradara: Sam Wood
Cast: Robert Donat, Greer Garson

Plot: Seorang bekas guru dan kepala sekolah mengenang kembali karier dan kehidupannya selama lebih dari lima dasawarsa (IMDb).

Mr. Chips berpesan kepada murid-2nya:
I do remember you ... as you are now. In my mind, you remain boys.

Lambat dan sentimental, adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya James Hilton ini -- penulis yang sama dari "Lost Horizon" -- akan terasa antik untuk generasi jaman sekarang. Tetapi, penonton yang sabar akan menemukan film ini sebagai studi karakter yang sangat baik. Robert Donat dapat memainkan karakter yang flamboyan, seperti dalam The 39 Steps (1935) di bawah arahan Alfred Hitchcock, tetapi dia juga dapat memainkan karakter yang sifatnya 180 derajat terbalik, Mr. Chips. Meskipun hampir di seluruh film Donat harus mengenakan makeup yang berat untuk tampil tua, dia berhasil menangkap personalitas Mr. Chips dengan sempurna -- dan untuk ini dia memperoleh Oscar untuk Aktor Terbaik. Tahun 1939 adalah salah satu dari tahun-2 keemasan Hollywood, dan kompetisi Oscar untuk Aktor Terbaik termasuk Clark Gable dalam Gone with the Wind, Laurence Olivier dalam Wuthering Heights, dan James Stewart dalam Mr. Smith Goes to Washington. Kompetisi yang berat ... dan kemenangan Donat, yang menerima nominasi setahun sebelumnya untuk perannya dalam The Citadel (1938), adalah di luar dugaan para penebak Oscar. Greer Garson, yang memainkan debut-nya sebagai Katherine, kekasih Mr. Chips, berhasil bersinar tetapi tanpa mengambil alih perhatian penonton dari pemeran utama. Romans antara Chips dan dirinya betul-2 menyenangkan untuk ditonton. Chips begitu kikuk, dan dia begitu terhibur dengan tingkah laku tersebut. Donat dan Garson menampilkan chemistry yang hebat di antara keduanya.

Mr. Chips berkata kepada Katherine:
Up here, there's no time, no growing old, nothing lost.
Transformasi Donat dari pria yang tidak percaya diri ketika dia single ke pria yang percaya diri setelah dia bertemu dengan istrinya betul-2 mulus dan meyakinkan. Dan Garson betul-2 pantas menjadi wanita yang membangkitkan kepercayaan diri tersebut. Untuk penampilannya ini Garson menerima nominasi Oscar untuk Aktres Terbaik -- dalam waktu enam tahun berikutnya, dia menerima lima kali nominasi untuk Aktres Terbaik dan memenangkan satu kali untuk perannya dalam Mrs. Miniver (1942).

Salah satu aspek yang indah dari film ini adalah pandangan perkawinannya yang ideal: film ini menunjukkan bagaimana sebuah perkawinan dapat menjadi ideal, yaitu dua orang yang menjadi lebih baik ketika mereka bersatu daripada ketika mereka hidup sendiri-2. Kalau anda merasa depressed menyaksikan super-hero yang kehebatannya eksplisit, seperti yang sering ditampilkan dalam film-2 modern, film ini justru menampilkan sebaliknya, yaitu orang biasa yang kehebatannya implisit, yaitu kesederhanaan! Goodbye, Mr. Chips menerima enam nominasi Oscar yang lain, termasuk Fim Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Screenplay Terbaik.

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Goodbye, Mr. Chips dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 17 October 2011

Gunga Din

Resensi Film: Gunga Din (***/4)

Tahun Keluar: 1939
Negara Asal: USA
Sutradara: George Stevens
Cast: Cary Grant, Victor McLaglen, Douglas Fairbanks Jr., Sam Jaffe, Joan Fontaine

Plot: Tiga prajurit Inggris dan seorang tukang angkut air berusaha menghentikan segerombolan penjahat yang bertujuan mengacau keamanan India (IMDb).

Anda penggemar Indiana Jones? Well, jangan pernah mengira bahwa Indiana Jones adalah film pertama dalam genre-nya. Berdasarkan puisi terkenal dengan judul yang sama karya Rudyard Kipling, Gunga Din adalah film petualangan yang dapat dinikmati oleh seluruh keluarga -- tua dan muda, yang dipenuhi dengan setting yang eksotik, karakter-2 yang eksentrik, petualangan yang menarik, dan action yang mendebarkan hati. Menonton film ini anda akan heran memikirkan bagaimana mereka membuat film ini ketika teknologi special effects belum secanggih seperti sekarang. Film dimulai dengan sequence pembuka seperti film-2 lama yang lain, tetapi ditutup dengan sequence action dengan skala besar yang tetap terasa mendebarkan hati bahkan sampai sekarang. Tiga tokoh utama, Cary Grant, Victor McLaglen, dan Douglas Fairbanks Jr. sangat menghibur untuk ditonton; tetapi Sam Jaffe yang memainkan peran sebagai Gunga Din, si tukang angkut air, berhasil menarik simpati dan perhatian penonton. Ada beberapa kelemahan dalam film ini, yaitu musical score-nya di beberapa tempat terasa overpowering (mengalahkan filmnya) -- senyap mungkin akan lebih cocok melayani atmosfir yang ada, dan script-nya di bagian tengah terasa terlalu panjang. Seandainya Howard Hawks yang mengarahkan film ini (dia mula-2 terpilih mengarahkan film ini, sebelum akhirnya dibatalkan), mungkinkah dia akan membuat kesalahan yang sama? Sejak dikeluarkan pada tahun 1939, Gunga Din telah menjadi inspirasi bagi film-2 petualangan yang lainnya -- misalnya, scene-2 dari film Indiana Jones kedua, Indiana Jones and the Temple of Doom (1984), banyak yang diambil dari film ini, termasuk karakter pemimpin gerombolan penjahat yang ada.

Cerita (***)
Screenplay (***1/2)
Karakter (***)
Akting (***)

Keseluruhan: ***/4

Gunga Din dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 12 October 2011

Lost Horizon

Resensi Film: Lost Horizon (***1/2/4)

Tahun Keluar: 1937
Negara Asal: USA
Sutradara: Frank Capra
Cast: Ronald Colman, Jane Wyatt, Edward Everett Horton, John Howard, Thomas Mitchell

Plot: Sekelompok survivor dari pesawat yang jatuh di pegunungan Himalaya menemukan daerah terisolasi yang nampak bagaikan utopia yang bernama Shangri-La (IMDb).

Arahan sutradara Frank Capra yang menyukai tema idealisme dalam film-2nya, Lost Horizon adalah adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya James Hilton -- Hilton memperoleh inspirasinya ketika dia melakukan perjalanan ke Himalaya, daerah yang saat itu belum banyak dikenal orang. Lost Horizon adalah campuran yang aneh dan menghantui dari drama, fantasi dan romans, dengan setting yang surealistik/futuristik dan latar belakang yang mengesankan. Cerita dalam Lost Horizon menyajikan utopia ('surga') yang bernama Shangri-La kepada lima survivor, termasuk seorang kriminal, yang dihadapkan pada kesempatan untuk memperbaiki hidupnya; seorang sekarat, yang dihadapkan pada kesempatan untuk hidup lebih lama; seorang palaeontologist, yang dihadapkan pada kesempatan untuk mempelajari kehidupan -- yang jauh lebih menarik daripada fosil yang dia simpan di dalam kopernya; dan, last but not least, seorang pacifist (Ronald Colman), yang dihadapkan pada kesempatan untuk mewujudkan cita-2nya -- yang pembicaraanya dengan High Lama (Sam Jaffe) membangkitkan firasatnya:

Did you ever go to a totally strange place and feel certain you'd been there before?

Jika anda menemukan utopia seperti itu, apa yang akan anda lakukan?

Subteks dari Lost Horizon sesungguhnya bukan utopia itu sendiri, tetapi semacam Noah's Ark yang berfungsi menyimpan kehidupan sebagai cadangan/'new renaissance' ketika kehidupan di dunia akhirnya hancur karena keserakahan manusia. Plot ini kemudian dipinjam oleh penulis sci-fi Isaac Asimov dalam serial ceritanya, "Foundation". Ini adalah tema yang serius, yang masih relevan sampai saat ini -- membuat penonton berpikir tentang perang, perdamaian, dan arti dari kehidupan.

Ronald Colman berhasil membawa seluruh film dari awal sampai akhir, sedang Jane Wyatt berhasil menyediakan sensualitas dengan dosis yang pas untuk utopia yang bernama Shangri-La ini. Meskipun terasa lambat, Lost Horizon adalah visi cinematic yang mengesankan dan berhasil menyampaikan pesannya.

Beberapa tahun setelah dikeluarkan, Lost Horizon kehilangan popularitasnya karena Shangri-La dianggap berkonotasi komunis (juga dianggap pro-China, yang ironisnya berarti ... pro-Tibet). Sebagai reaksi atas kritik-2 tersebut, scene-2 penting terpaksa dipotong dan sebagian dari mereka tidak pernah ditemukan lagi sehingga tidak dapat dikembalikan ketika film di-restorasi. Sebagai gantinya, foto-2 set disisipkan untuk menggantikan scene-2 yang hilang tersebut sementara audio tetap berjalan.

Cerita (****)
Screenplay (***1/2)
Karakter (***)
Akting (***)

Keseluruhan: ***1/2/4

Lost Horizon dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 11 October 2011

The Good Earth

Resensi Film: The Good Earth (****/4)

Tahun Keluar: 1937
Negara Asal: USA
Sutradara: Sidney Franklin
Cast: Paul Muni, Luise Rainer, Walter Connolly

Plot: Kisah perjalanan hidup Wang Lung -- dari miskin ke kaya, dari ceroboh ke bijaksana -- sampai dia menemukan esensi dari seluruh hidupnya tersebut, The Good Earth (IMDb).

Adaptasi yang setia dari novel dengan judul yang sama, pemenang penghargaan Pulitzer dan Nobel untuk Sastra, karya Pearl S. Buck, MGM mengerahkan cast terbaik mereka. Pearl Buck mula-2 menginginkan seluruh cast-nya adalah Chinese, atau paling tidak ... Chinese-American. Produser Irving Thalberg mempunyai visi yang sama, tetapi dia akhirnya harus menerima kenyataan bahwa penonton Amerika saat itu belum siap dengan casting seperti itu. Untuk pemeran utama pria, Wang Lung, MGM memilih Paul Muni yang saat itu adalah bintang besar Hollywood -- dia baru saja memenangkan Oscar untuk Aktor Terbaik dalam The Story of Louis Pasteur (1936). Untuk pemeran utama wanita, O-Lan -- istri Wang Lung, MGM mula-2 memilih aktres Chinese-American, Anna May Wong; tetapi karena aturan sensor MPPC (Motion Picture Production Code) melarang karakter yang dimainkan aktor kulit putih mempunyai karakter pasangan yang dimainkan aktor bukan kulit putih, casting akhirnya jatuh ke Luise Rainer yang saat itu juga bintang besar Hollywood -- dia baru saja memenangkan Oscar untuk Aktres Terbaik dalam The Great Ziegfeld (1936). Untuk pemeran-2 pendukung, sebagian dimainkan oleh aktor-2 kulit putih -- yang kemudian dimake-up sehingga nampak Chinese dengan menggunakan teknik make-up yang diciptakan oleh Jack Dawn, sebagian yang lain dimainkan oleh aktor-2 Chinese-American.

The Good Earth adalah film yang sempurna di segala segi. Ceritanya orisinil, menarik, dan sekaligus menyentuh, tetapi tidak sampai terjerumus ke dalam sentimentalisme. Arahannya efektif dalam mentransformasikan cerita dari bentuk tulisan ke bentuk visual. Setting produksinya riel, membuat penonton merasa seakan-2 berada di China. Special effect-nya mengesankan untuk ukuran saat itu (pra-Computer Generated Graphics), misalnya scene ketika hama wereng menyerang, penonton merasa seakan-2 hama wereng betulan menyerang set yang ada. Pengambilan gambar dan penyuntingan filmnya efektif dalam menampilkan visi sutradara ke dalam film. Musical score-nya dengan pas mengiringi cerita yang ada dan menjaga tempo tersebut dari awal sampai akhir. Akhirnya, last but not least, penampilan dari seluruh anggota cast-nya: Paul Muni adalah pilihan yang tepat untuk Wang Lung, dengan gerakan tubuhnya dan ekspresi wajahnya. Sebagian kiritikus film menilai penampilannya rada berlebihan, tetapi body language tersebut justru menambah kedalaman aktingnya dan kenikmatan penonton dalam menyaksikannya. Cast pendukung Walter Connolly, Charley Grapewin, dan yang lainnya memainkan masing-2 perannya dengan sangat baik. Tetapi "jiwa" dari film ini adalah Luise Rainer yang memainkan perannya sebagai O-Lan, yang nampak lemah dan tidak berdaya dari luar, tetapi menyimpan kekuatan dan kebijaksanaan di dalam, dengan nuansa wanita Chinese yang sangat pas, tanpa terjerumus ke dalam cliché. Sangatlah pantas Rainer memenangkan Oscar lagi untuk Aktres Terbaik untuk penampilannya dalam film ini.

Ketika film ini dibuat, film ini adalah film paling mahal yang diproduksi oleh MGM setelah Ben-Hur (1925) -- membutuhkan sekitar tiga juta dollar AS, jumlah yang sangat besar untuk ukuran saat itu. Tidak ada bagian atau biaya yang dikurangi, semuanya dilaksanakan: 1500 extra untuk scene kerusuhan, 200 hektar dari San Fernando Valley di California (sekarang adalah bagian dari metropolitan Los Angeles) diubah menjadi mirip seperti pedesaan di China, dan 18 ton material untuk setting produksi didatangkan dari China. The Good Earth adalah film yang menarik untuk segala umur dan semua orang yang menganggap dirinya film buff. Betul-2 klasik!

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

The Good Earth dapat anda temukan di eBay.com