Showing posts with label Y: Silent. Show all posts
Showing posts with label Y: Silent. Show all posts

Tuesday, 23 September 2014

Modern Times

Modern Times ★★★★★

The Pursuit of Happiness: Perjalanan suka-duka manusia mengarungi samudra kehidupan untuk mencapai kebahagiaan ...

Tahun Keluar: 1936
Negara Asal: USA
Sutradara: Charles Chaplin
Cast: Charles Chaplin, Paulette Goddard

Komedi slapstick -- komedi yang melibatkan kegiatan fisik yang berlebihan yang melampaui batas-2 common sense, konon sudah berusia ratusan tahun. Moliere (tahun 1600-an), salah satu dari Master of Comedy terbaik dalam kesusastraan Barat, sering melibatkan slapstick dalam karya-2nya. Penulis masih ingat, betapa menyenangkannya menghabiskan sore hari sepulang dari sekolah membaca cerpen-2 karya Moliere, terbitan Pustaka Jaya (apakah penerbit Pustaka Jaya masih berdiri sampai sekarang?): tertawa terpingkal-2 karena lucunya minta ampun, terkejut senang karena  kecolongan plot-2 yang gerakannya tak terduga, dan di akhir cerita menerima wisdom/kebijaksanaan  tanpa merasa digurui. Bahkan Greta Garbo-pun, yang jarang sekali tertawa dalam film-2nya, akhirnya tertawa juga membaca salah satu dari karya-2 Moliere dalam Queen Christina (1933). Lebih lama lagi, William Shakespeare (tahun 1500-an), walaupun seorang dramatist, ketika menulis komedi juga memasukkan slapstick di dalamnya, misalnya The Comedy of Errors. Vaudeville, teater-2 hiburan di AS pada akhir abad ke 19, juga banyak menampilkan slapstick. Trend ini berlanjut terus sampai ke era film-2 bisu, dan kemudian era keemasan film-2 hitam-putih yang menghasilkan serangkaian Masters of Comedy, a.l., selain Chaplin sendiri, Laurel and Hardy, the Marx Brothers, dan the Three Stooges. Kalau Laurel and Hardy terkenal dengan gaya “tit-for-tat”-nya (saling membalas di antara keduanya), dan the Marx Brothers dan the Three Stooges dengan gaya vaudeville-nya, Chaplin memisahkan dirinya dari kerumunan tersebut dengan tiga elemen persuasi dari filsuf Aristoteles, yaitu: ethos (idealisme), logos (pemikiran), dan terutama pathos (perasaan). Dibalik semua jungkir-balik kegiatan fisik yang menimbulkan tawa, script dari Chaplin mengandung idealisme, pemikiran, dan terutama perasaan, yang secara keseluruhan membangkitkan empati dari penonton. Sekelas dengan karya-2 Moliere. Gaya persuasi ini terbukti sangat efektif, very powerful.


Di tengah resesi ekonomi yang parah, di antara ribuan pencari kerja yang nekad dan putus asa, beruntung sekali Little Tramp (Chaplin) berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik industri perangkat keras. Di sini tugasnya, dari pagi sampai petang, adalah berdiri di depan conveyor-belt -- yang bergerak semakin lama semakin cepat -- mengencangkan baut-2 hasil-2 produksi yang lewat di depannya. Bosnya mengawasi terus jalannya produksi tersebut melalui layar-2 monitor raksasa yang ditempatkan di segala sudut ruangan, bahkan di dalam toilet sekalipun. Ketika istirahat makan siang, bosnya datang ke tempat pekerja mendampingi seorang inventor yang menciptakan “feeding machine” (mesin pemberi makan) untuk mendemonstrasikan bagaimana mesin tersebut dapat meningkatkan produktivitas kerja dengan meniadakan istirahat makan siang karena mesin ini dapat memberi makan pekerja sementara mereka berdiri di depan conveyor-belt melakukan tugasnya :-)  Siapa lagi yang kena tunjuk sebagai obyek ujicoba kalau bukan Little Tramp! :-) Pertama kali menyaksikan adegan ini, penulis tidak bisa tidur semalaman karena teringat terus dengan adegan yang kocak ini. Mendekati petang hari, conveyor-belt bergerak semakin cepat, Little Tramp akhirnya mengalami nervous breakdown, menimbulkan kekacauan di dalam pabrik: masuk ke dalam mesin mengejar baut-2 yang luput dia kencangkan, mengejar sekretaris bos yang roknya ada kancing-2nya yang bentuknya mirip seperti baut-2 :-), masuk ke ruang generator mengacau generator sampai nyaris meletus. Dia akhirnya diamankan dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Keluar dari rumah sakit jiwa, Little Tramp pulih kesehatannya, tetapi dia sekarang menganggur. Pas ketika ada demonstrasi buruh, pas ketika dia membawa bendera merah yang jatuh dari truk angkutan, dia disalah-sangka sebagai pemimpin komunis, ditangkap oleh polisi, dan tanpa banyak cingcong dijebloskan ke penjara. Di penjara, dia mengkonsumsi kokain, yang dia sangka garam, yang disembunyikan oleh tahanan yang lain. “High” akibat kokain tersebut, dia menjadi berani dan ketika dia menemui beberapa tahanan menyandera kepala dan sipir penjara, dia melumpuhkan mereka sampai pingsan. Menerima pujian dari kepala penjara, dia kecewa ketika dibebaskan dari penjara sebagai penghargaan atas keberaniaannya itu. Bagaimana di luar penjara dia mesti menghidupi dirinya, sementara di dalam penjara dia sudah terjamin mendapat makan tiga kali sehari dan tempat tidur yang empuk dan hangat. Keluar dari penjara, Little Tramp memperoleh kembali martabatnya, tetapi dia sekarang menganggur lagi. Susah lagi ...

Sementara itu di sudut yang lain di kota tersebut, The Gamin (Paulette Goddard), seorang anak jalanan, juga sedang susah dan kebingungan setelah ayahnya tewas tertembak meninggalkan dirinya yatim piatu. Mencuri sepotong roti, dia melarikan diri dari kejaran polisi dan bertabrakan dengan Little Tramp yang juga sedang keluyuran di jalanan. Berusaha melindungi gadis tersebut, Little Tramp mengaku dirinyalah yang mencuri roti tersebut -- toh dia juga ingin kembali ke penjara. Tercengang melihat sikap tersebut, gadis tersebut bersyukur di dunia yang kejam ini ternyata masih ada orang yang baik terhadap dirinya. Tetapi sedemikian mudahkah Little Tramp mendapatkan apa yang dia inginkan? Tentu saja tidak, karena hidup ini penuh dengan antagoni: ketika ingin bebas, malah dipenjara; ketika ingin dipenjara, malah dibebaskan. Tetapi sejak peristiwa itu nasib mempertemukan Little Tramp dan The Gamin, dan mereka berjuang bersama mengarungi samudra kehidupan untuk mencari kebahagiaan yang ilusif tersebut. Berhasilkah mereka mencapainya? Tentu saja tidak, tetapi tetaplah tersenyum  ... yang dua dasawarsa kemudian diberi judul “Smile”, dan diberi lirik, dan dinyanyikan pertama kali oleh Nat King Cole:

Smile though your heart is aching
Smile even though it's breaking
When there are clouds in the sky, you'll get by
If you smile through your fear and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You'll see the sun come shining through for you

Light up your face with gladness
Hide every trace of sadness
Although a tear may be ever so near
That's the time you must keep on trying
Smile, what's the use of crying?
You'll find that life is still worthwhile
If you just smile


Modern Times dibuat ketika AS berada dalam masa Great Depression -- resesi ekonomi parah yang melanda hampir seluruh dunia yang berlangsung dari akhir dekade 1920 sampai akhir Perang Dunia ke  2. Dilihat dari dekat, film ini adalah kritik sosial Chaplin tentang industri modern yang lebih  mementingkan produksi daripada manusia; dari jauh, film ini adalah pemikiran Chaplin bahwa tidak ada satu ideologi-pun yang bisa bekerja sendirian, atau lebih superior daripada yang lain, untuk membantu manusia mencapai kebahagiaan atau kesejahteraan. Tidak peduli ideologi tersebut menyangkut bentuk pemerintah yang bagaimana atau sistem ekonomi yang bagaimana, manusia terlalu rumit/kompleks untuk dimasukkan ke dalam satu ideologi saja: tidak ada usaha susah, ada usaha terus timbul eksploitasi; tidak ada pekerjaan susah, ada pekerjaan terus mogok kerja -- karena merasa dieksploitasi. Seakan-2 hidup ini bagaikan pendulum yang selalu tarik-ulur dari kiri, ke kanan, ke kiri lagi, ke kanan lagi, demikian seterusnya, tidak pernah berhenti pada titik equilibrium yang stabil. Dengan tema yang universal ini  tidak mengherankan karya Chaplin ini masih terus langgeng sampai saat ini.

Film yang membekas di sanubari.

Klasik.



Modern Times dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 27 March 2012

Metropolis

Resensi Film: Metropolis (bisu) (9.0/10)

Tahun Keluar: 1927
Negara Asal: Germany
Sutradara: Fritz Lang
Cast: Brigitte Helm, Alfred Abel, Gustav Fröhlich

Plot: Di masa yang akan datang, sebuah kota metropolis terancam hancur ketika penguasanya yang fascist menggunakan scientist yang gila untuk mematahkan perjuangan kaum buruh yang menuntut perbaikan nasib (IMDb).

Jika anda pernah melihat Metropolis keluaran pra tahun 2010, bahkan jika tertulis "restoration" sekalipun, anda belum melihat Metropolis secara lengkap. Pada tahun 2008, copy dari film original dari Fritz Lang ini ditemukan di sebuah museum di Argentina. Setelah melalui proses restorasi yang lama dan njlimet, hasil restorasinya ditampilkan di layar lebar di Berlin dan Frankfurt pada tanggal 12 Februari 2010. Inkarnasi yang baru ini, hasil kerja keras dari sebuah konsorsium di Jerman, mempunyai panjang dua jam penuh dan memanfaatkan setiap frame yang tersedia dari versi aslinya, dari sumber-2 yang terbaik. Direstorasi secara digital -- dibersihkan dari segala macam distorsi gambar dan suara, dan diberikan copy baru untuk soundtrack-nya, versi terbaru dari Metropolis ini tetap tidak seutuh versi aslinya yang mempunyai panjang 135 menit, tetapi adalah versi yang paling utuh, paling mendekati versi aslinya.

Melihat film ini adalah pengalaman yang surreal, time-bending (waktu seakan-2 berputar balik) -- mengunjungi masa lalu dan melihat bagaimana orang dari masa lalu berprediksi tentang masa depan. Dan yang paling mengejutkan, dan sekaligus mengerikan, adalah betapa cocoknya prediksi tersebut (!) Sebuah masterpiece dalam art-direction, film ini sejak tampil untuk pertama kalinya telah mempengaruhi visi orang tentang masa depan: gedung-2 pencakar langit yang megah dan berwibawa, dan sekaligus dingin dan berjarak. Di Metropolis, kelas atas menghuni permukaan kota; sedang kelas bawah, yang hidup bagaikan kaum budak, menghuni bawah tanah. Brigitte Helm memainkan perannya sebagai Maria yang memimpin kaum buruh, tetapi dia tidak berdaya di bawah penguasa yang fascist. Sebaliknya, replika robot Maria dikirim ke bawah tanah untuk men-diskredit-kan diriya, tanpa menyadari scientist yang menciptakan robot tersebut ternyata mempunyai agenda terselubung. Hasilnya, kekacauan total! Sejak tampil untuk pertama kalinya di Berlin 85 tahun yang lalu, visi dari film ini terbuka terhadap berbagai macam interpretasi: sebagian penonton melihat film ini sebagai peringatan terhadap tirani fascist, sebagian yang lain terhadap bahaya komunisme, sebagian yang lain lagi terhadap bahaya kapitalisme yang tidak terkontrol. Tidak peduli apa interpretasi anda, cara terbaik menikmati film ini adalah dengan melihat film ini sebagai film produk dari jamannya, yaitu sebuah jaman yang penuh dengan kekhawatiran.

* 9.0/10

Metropolis dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 7 November 2011

The Cabinet of Dr. Caligari

Resensi Film: The Cabinet of Dr. Caligari (Das Cabinet des Dr. Caligari) (****/4)

Tahun Keluar: 1920
Negara Asal: Germany
Sutradara: Robert Wiene
Cast: Werner Krauss, Conrad Veidt, Friedrich Feher, Lil Dagover

Plot: Seorang pemuda mencurigai seorang pemain sirkus dan partner-nya sebagai pelaku dalam serangkaian pembunuhan di desa kecil Holstenwall di Jerman (IMDb).

The Cabinet of Dr. Caligari adalah salah satu dari film-2 bisu yang paling terkenal. Film ini meraih posisinya dalam sejarah perfilman karena penggunaan gaya ekspresionis Jerman-nya yang kuat, penuturan ceritanya yang ber-flashback, dan akhir ceritanya yang ber-twist. Dengan berjalannya waktu, formula ini -- terutama penuturan cerita melalui flashback dan akhir cerita yang mengandung twist -- ternyata masih sering digunakan oleh para filmmaker jaman sekarang. Salah satu dari film-2 modern yang paling berhasil dalam menggunakan formula ini adalah The Sixth Sense (1999) dari M. Night Shyamalan. Saat ini, The Cabinet of Dr. Caligari tersedia dalam format fully-restored dengan dua pilihan soundtrack (tradisional atau modern -- yang terdengar lebih menakutkan), inter-title dengan huruf-2 bergaya ekspresionis, dan kualitas gambar yang lumayan tajam. Film ini terbaik anda tonton tanpa mengetahui plot keseluruhannya. Faktanya, anda tidak ingin mengetahui plotnya ... dan akhir film dapat anda artikan dengan banyak cara, bersiap-2lah ketika itu terjadi.

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

The Cabinet of Dr. Caligari dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 22 March 2011

Modern Times

Resensi Film: Modern Times (bisu) (****/4)

Tahun Keluar: 1936
Negara Asal: USA
Sutradara: Charlie Chaplin
Cast: Charlie Chaplin, Paulette Goddard

Plot: Charlie Chaplin berjuang untuk hidup di dalam masyarakat industrial modern dengan bantuan seorang wanita miskin (IMDb).

Modern Times adalah film bisu terakhir dari Charlie Chaplin -- catatan: walaupun bisu, Chaplin menggunakan efek-2 suara, bunyi dan musik di seluruh film. Film satire tentang jaman industri ini menampilkan potret masyarakat industrial modern, dengan segala pro dan kontra-nya, dengan sangat tepat. Walaupun dibuat 75 tahun yang lalu, topik industrialisasi tetap up-to-date sampai masa kini -- membuat film ini tidak terasa ketinggalan jaman. Ditambah dengan kualitas digitally-remastered DVD yang jernih dan jelas, kualitas gambar dan suara dari film ini betul-2 sangat baik. Script yang ada memberi kesempatan yang luas pada Chaplin untuk jungkir-balik melakukan rutin komedinya, misalnya: sebagai pekerja pabrik di ban berjalan, sebagai target percobaan untuk mesin pemberi makan, sebagai pasien di rumah sakit jiwa dan sebagai tertuduh anggota partai komunis. Script juga menyediakan gambaran yang detil tentang masyarakat
industrial modern dengan segala pro dan kontra-nya. Selain memproduksi, menyutradarai, menulis dan membintangi film ini, Chaplin juga menciptakan lagu temanya yang berjudul "Smile" -- dinyanyikan di akhir film dengan scene Chaplin dan wanita miskin tersebut berjalan berduaan menuju masa depan yang tidak menentu. Modern Times adalah film satire yang lucu, tetapi serius ... all in all, betul-2 jenius.

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

 
Keseluruhan: ****/4


Modern Times dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 22 December 2008

The Gold Rush

Movie Review: The Gold Rush (silent)

Year of Release: 1925
Country of Origin: USA
Director: Charlie Chaplin
Cast: Charlie Chaplin, Mack Swain, Tom Murray, Georgia Hale

Plot outline: Little Tramp goes the Klondike in search of gold and finds it and more (IMDb).

He may be called "The Lone Prospector" in this movie, but the character played by Chaplin is the same wistful, resourceful Little Tramp that had been entertaining the world since 1914. The story is told with a background of the Klondike. It is as much a dramatic story as a comedy. Chaplin takes strange situations and stirs up tears and smiles. He accomplishes this with art and simplicity, and in his more boisterous moments he engineers incidents that provoke shrieks of laughter. You find yourself stirred by the story, gripped by its swing and filled with compassion for the pathetic little hero. Chaplin obtains the maximum effect out of every scene, e.g.: 1) When he stands with his back to the audience, watching the throng in a Klondike dancing hall, garbed, in his ridiculous loose trousers, his little derby, his big shoes and his cane. He is lonely, and with a bunch of the shoulders and a gesture of his left hand he tells more than many a player can do with his eyes and mouth ... he is thinking of the girl Georgia, the dancing hall queen, who is not even conscious of the presence of the little man who adores her. 2) When he entertains the girls by jabbing two forks in two rolls, performing a captivating little "dance" with the pastries. The Gold Rush was the longest and most elaborately produced of Chaplin's silent comedies. (HE, NYT)

My judgement: ***1/2 out of 4 stars

Sunday, 14 December 2008

City Lights

Movie Review: City Lights (silent)

Year of Release: 1931
Country of Origin: USA
Director: Charlie Chaplin
Cast: Charlie Chaplin, Virginia Cherrill, Florence Lee, Harry Myers

Plot outline: Little Tramp struggles to help a blind flower girl he has fallen in love with (IMDb).

Charlie Chaplin was deep into production of his silent City Lights when Hollywood was overwhelmed by the talkie revolution. After months of anguished contemplation, Chaplin decided to finish the movie as it began - in silence, save for a musical score and an occasional sound effect. At the gala Hollywood premiere, Chaplin's special guests were Albert Einstein and his wife Elsa. Chaplin wrote in his autobiography that he knew the movie would be a success after watching Einstein's reactions. Cast as the Little Tramp, Chaplin makes the acquaintance of a blind flower girl (Virginia Cherrill), who through a series of coincidences has gotten the impression that the shabby tramp is a millionaire. A second storyline begins when the tramp rescues a genuine millionaire (Harry Myers) from committing suicide. When drunk, the millionaire expansively treats the tramp as a friend and equal; when sober, he doesn't even recognize him. The two plots come together when the tramp attempts to raise enough money for the blind girl to have an eye operation. Highlights include an extended boxing sequence pitting scrawny Chaplin against muscle-bound Hank Mann, and the poignant final scene in which the now-sighted flower girl sees her impoverished benefactor for the first time. The ending is widely acclaimed as one of cinema's most touching moments. (HE)

My judgement: ***1/2 out of 4 stars