Showing posts with label Alfred Hitchcock. Show all posts
Showing posts with label Alfred Hitchcock. Show all posts

Friday, 16 August 2013

Sabotage, The Trouble with Harry, Topaz

Triple Hitchcock's Classics!


Bagaimana anda merayakan ulang tahun Alfred Hitchcock?
Nonton film-2nya? Tentu saja!

Pada kesempatan kali ini penulis ingin memberi introduction kepada tiga film Hitchcock yang tidak terlalu sering ditonton, atau dibahas. Tiga film berikut ini memang tidak sepopuler Rear Window, Vertigo, North by Northwest, atau Psycho, tetapi kalau anda penggemar Hitchcock anda dapat dengan mudah menemukan semua “trademark” Hitchcock di dalamnya: suspense, thriller, komedi, dan ... “Hitchcock Blondes” -- dalam tiga film berikut ini para pemeran utama wanitanya tidak berambut pirang, namun demikian mempunyai kualitas “Hitchcock Blondes”, yaitu: sexy, smart, sophisticated, sekaligus icy, strong, and fearless (eksterior yang kalem, interior yang membara).

1) Sabotage (1936)

Bersama dengan The Man Who Knew Too Much (1934) dan The 39 Steps (1935), Sabotage adalah film yang memindahkan Hitchcock dari studio lokal di Inggris ke Hollywood. Walaupun Hitchcock saat itu merasa dirinya masih amatir, film Sabotage menunjukkan keahlian penyutradaraannya sudah professional, matang.

Seorang pemilik bioskop, Verloc, ternyata adalah seorang anggota grup teroris yang merencanakan serangkaian serangan di kota London. Polisi mencium gelagat ini, maka membuntuti gerak-geriknya. Sang pemilik bioskop hidup bersama istri dan adik laki-2 istrinya yang masih di bawah umur, Stevie -- keduanya tidak mengetahui secret life Verloc. Pada hari H yang sudah ditentukan untuk meledakkan time-bomb di stasiun kereta api Piccadilly Circus di bawah tanah (London Underground), mengetahui polisi sudah membuntuti gerak-geriknya, Verloc menyuruh Stevie membawa dan meletakkan bungkusan reel film (berisi bom waktu) di tempat yang ditentukan. Dalam perjalanan, Stevie ternyata mampir dulu di tempat orang jualan obat :-) , kemudian terhalang iring-2an parade di jalan ... dasar anak kecil, Stevie malah senang nonton parade tersebut. Tik, tok, tik, tok, tik, tok, ... waktu berjalan terus mendekati jam dimana bom tersebut bakal meledak. Akankah Hitchcock mengorbankan/mematikan anak kecil dalam filmnya??? Bagaimana reaksi Mrs. Verloc ketika mengetahui bahwa suaminya ternyata seorang teroris?

Suspense, suspense, suspense.

2) The Trouble with Harry (1955)

Ketika film ini dibuat Hitchcock sudah berada di puncak ketenarannya di Hollywood. Entah ada angin apa, Hitchcock tiba-2 memutuskan membuat film komedi! Yes, comedy! :-) Tetapi tidak berarti tanpa suspense dan thriller.

Suatu siang yang cerah di sebuah desa di negara bagian Vermont, AS, seorang pemburu sedang berburu kelinci di hutan belukar di dekat tempat tinggalnya; seorang anak kecil sedang bermain tembak-2an dengan senjata plastiknya; seorang wanita muda baru saja melempar botol susu ke bekas suaminya karena tidak mau diajak damai; dan seorang wanita setengah baya baru saja memukul seorang pria dengan sepatu bootnya gara-2 dia keluar dari hutan belukar secara tiba-2. Beberapa saat kemudian satu per satu menemukan pria tersebut (Harry) terkapar mati di tengah hutan belukar. Dan semuanya merasa bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut. Dan masing-2 berusaha menutupi kejahatan tersebut :-) Benarkah mereka semua bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut? Berhasilkah mereka menutupi kejahatan tersebut? Akankah Hitchcock membiarkan kejahatan tersebut menang?

Edmund Gwenn, Mildred Natwick, dan Mildred Dunnock memberikan performance yang hangat, sehangat udara Vermont di musim panas dengan pemandangan yang super indah. Film ini adalah film pertama Shirley MacLaine -- siapa yang nyangka dia bertahan terus main film sampai saat ini. Juga film pertama untuk John Forsythe, yang kariernya ternyata lebih banyak di televisi -- siapa yang nyangka dia menjadi terkenal sebagai suara dari Charles Townsend dalam serial TV “Charlie's Angels” dan multi-billionaire Blake Carrington dalam soap opera TV “Dynasty”.

Kocak, kocak, kocak.

3) Topaz (1969)

Banyak penggemar Hitchcock yang menilai bahwa menuju akhir kariernya karya-2 Hitchcock tidak sebagus karya-2 awalnya. Ya, pasti berbeda, karena waktunya berbeda. Namun demikian, Hitchcock tetap Hitchcock -- dasarnya tetap sama.

Bersetting krisis missile Cuba pada tahun 1962, CIA (John Forsythe tampil lagi) menggunakan agen Perancis, Andre Devereaux, untuk mengintai sepak terjang Sovyet di Cuba. Tetapi ada masalah, karena ada jaringan mata-2 Sovyet di kalangan pejabat tinggi Perancis, namanya Topaz. Siapa pemimpin Topaz? Bersediakan Andre Devereaux mengorbankan kariernya, kekasihnya, dan bahkan keluarganya, untuk AS?

Dengan running time sepanjang 143 menit, Topaz sama sekali tidak kalah dengan spy thriller The Day of the Jackal yang dibuat empat tahun kemudian. Membawa penonton dari Copenhagen, ke Washington, ke Paris, ke New York, ke Havana, dan kembali lagi ke Paris ... wow, what an adventure! Topaz membangkitkan nostalgia penonton terhadap siapa lagi kalau bukan North by Northwest. Frederick Stafford, walaupun sama sekali bukan Cary Grant, membangkitkan nostalgia penonton terhadap ... Cary Grant :-)

Thriller, thriller, thriller.


Sabotage,  The Trouble with Harry, Topaz dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 17 November 2011

The Paradine Case

Resensi Film: The Paradine Case (**1/2/4)

Tahun Keluar: 1947
Negara Asal: USA
Sutradara: Alfred Hitchcock
Cast: Gregory Peck, Alida Valli, Ann Todd, Charles Laughton, Charles Coburn, Ethel Barrymore, Louis Jourdan

Plot: Seorang pengacara jatuh cinta dengan seorang wanita terdakwa pembunuhan yang dia wakili dalam sidang di pengadilan (IMDb).

The Paradine Case adalah film terakhir Alfred Hitchcock di bawah produser David O. Selznick -- konon dikatakan bahwa saat itu Hitchcock sudah sangat jenuh dengan kontrak kerja tersebut. Dalam wawancaranya dengan François Truffaut, Hitchcock mengatakan: dia dan istrinya, Alma Reville, menulis draft pertama dari script sebelum memanggil penulis teater James Bridie untuk menghaluskannya; tetapi Selznick tidak puas dengan hasilnya -- setiap hari dia memeriksa hasil shooting, menulis ulang scene-2 tersebut, dan mengirim scene-2 baru ke set untuk di-shot ulang. Kenyataannya, sebelum campur tangan Selznick yang intrusif tersebut, script film ini sudah mengalami penulisan ulang berkali-2 karena harus memenuhi persyaratan sensor Motion Picture Production Code (MPPC)/Hays Code. Awalnya, kantor sensor Hays memperingatkan bahwa script tersebut tidak akan lolos sensor karena pemeran utamanya, Nyonya Paradine, adalah orang yang bersalah atas pembunuhan, perselingkuhan, perjury (bohong di dalam sidang di pengadilan), dan bunuh diri. Kantor sensor Hays juga keberatan terhadap peran hakim yang digambarkan sebagai orang sadis yang senang menjatuhi hukuman mati. Setelah melalui penulisan ulang berkali-2, script akhirnya berhasil lolos sensor.

Mula-2, Hitchcock menginginkan Laurence Olivier sebagai pemeran utama pria, Anthony Keane, dan Greta Garbo sebagai pemeran utama wanita, Nyonya Paradine. Olivier menolak tawaran tersebut karena dia sedang sibuk dengan filmnya, Hamlet (1948), dan Garbo menolak karena dia sudah memutuskan untuk berhenti dari akting. Aktor-2 lain yang juga dipertimbangkan termasuk Ronald Colman, Joseph Cotten dan James Mason untuk peran Anthony Keane; Ingrid Bergman dan Hedy Lamarr untuk peran Nyonya Paradine; Claude Rains untuk peran hakim Lord Thomas; dan Robert Newton untuk peran Andre Latour, kekasih gelap Nyonya Paradine. Akhirnya, Hitchcock memilih Gregory Peck, yang saat itu sedang naik daun, untuk peran Anthony Keane; dan Selznick memilih Alida Valli (dari Itali) dan Louis Jordan (dari Perancis), yang saat itu dipertimbangkan sebagai potensi yang menjanjikan, untuk peran Nyonya Paradine dan Andre Latour.

Film seluruhnya di-shot di set di Culver City, California. Selznick mengeluarkan banyak biaya: set untuk ruang pengadilan adalah duplikat dari ruang pengadilan di Old Bailey, London, dibangun dengan biaya $80,000; dan tidak seperti biasanya, set-2nya dibangun dengan menggunakan langit-2 untuk memungkinkan sudut pengambilan gambar yang rendah. Film selesai dengan menghabiskan total biaya $4,258,000 -- hampir semahal Gone with the Wind (1939). Sayangnya, The Paradine Case tidak berhasil mencapai sukses di box office -- penerimaan dari seluruh dunia bahkan tidak mencapai setengah dari total biaya tersebut.

Alida Valli
Berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Robert Smythe Hichens, The Paradine Case membawa Alfred Hitchcock kembali ke daerah yang dia kenal dengan baik: bersetting di London dan berurusan dengan cerita tentang pembunuhan. Maddalena Anna Paradine (Alida Valli) adalah wanita muda yang cantik, enigmatik (eksotik/misterius) dan sekaligus mempunyai "masa lalu". Nyonya Paradine ditangkap dan didakwa telah membunuh suaminya, seorang pensiunan militer, Colonel Paradine. Nyonya Paradine mencari nasehat dari teman keluarga, Sir Simon (Charles Coburn), yang merekomendasi temannya, pengacara Anthony Keane (Gregory Peck), untuk mewakilinya dalam sidang di pengadilan. Keane menerima kasus ini dan walaupun dia telah menikah dan bahagia dengan istrinya, Gay (Ann Todd), dia langsung terpesona dengan klien barunya yang eksotik dan misterius ini. Keane yakin Nyonya Paradine tidak bersalah, karena dia merasa bahwa wanita terhormat seperti Nyonya Paradine tidaklah mungkin melakukan pembunuhan. Nuansa ambiguity (ketidakjelasan) apakah Nyonya Paradine adalah seorang istri yang setia dan berbakti atau seorang femme fatale yang jahat dan penuh perhitungan menjadi tema utama dalam film ini.

Gregory Peck & Ann Todd
Sementara Keane mendalami kasus tersebut, istrinya Gay yang sabar dan murah hati mulai mencium ketertarikan suaminya terhadap kliennya tersebut. Gay mengungkapkan perasaan gundahnya kepada suaminya dan suaminya menawarkan diri untuk mengundurkan diri dari kasus tersebut. Di luar dugaan, Gay meminta suaminya untuk tetap mewakili Nyonya Paradine dan memberi pembelaan yang terbaik yang dapat membebaskannya. Gay menjelaskan, keputusan bersalah diikuti dengan hukuman mati untuk Nyonya Paradine akan berarti dia akan kehilangan suaminya secara emosional untuk selamanya; maka, satu-2nya cara agar dia bisa mendapatkan kembali cinta suaminya adalah jika dia mendukung suaminya untuk memberi pembelaan yang terbaik yang dapat membebaskannya.

Louis Jordan
Tetap yakin kliennya tidak bersalah, Keane mulai memfokuskan pembelaannya terhadap pembantu Colonel Paradine yang misterius, Andre Latour (Louis Jourdan). Nyonya Paradine meminta Keane untuk tidak menyudutkan pembantu tersebut. Secara sadar atau tidak sadar, Keane melihat Latour sebagai "kambing hitam" yang dapat dikorbankan untuk membebaskan kliennya, tetapi strategi ini ternyata menghantam balik pembelaannya. Keane menyudutkan Latour di dalam sidang di pengadilan dengan menunjukkan ketidakkonsistenan pernyataan-2nya. Nyonya Paradine marah karena Keane mengingkari janjinya bahwa dia tidak akan menyudutkan pembantu tersebut. Hari berikutnya, ketika sidang berlanjut, pengadilan menerima kabar bahwa Latour telah bunuh diri. Nyonya Paradine kontan saja tidak dapat menahan diri lagi -- duduk di dalam kursi saksinya, dia akhirnya mengakui bahwa Latour adalah kekasih gelapnya dan dia telah membunuh suaminya agar bisa bersama dengan Latour. Keane terkejut, secara fisik, emosional dan intelektual. Mengetahui tidak ada lagi yang dapat dia lakukan untuk menyelamatkan kliennya, Keane dengan terbata-2 mengakui betapa buruknya dia telah menangani kasus tersebut. Dia meninggalkan ruang pengadilan dan pulang ke rumah temannya, Sir Simon. Keane yakin kegagalan ini adalah akhir dari kariernya, tetapi istrinya Gay menyusulnya ke rumah Sir Simon dan membangkitkan kembali harapannya untuk masa depan.

Akhir yang datar dari film yang secara keseluruhan kurang memuaskan.

Sering dikategorikan sebagai satu dari film-2 Hitchcock yang kurang berkualitas, The Paradine Case sesungguhnya mempunyai cerita yang menarik: seorang pengacara yang terjebak dalam emosinya ketika membela kliennya -- tema populer yang telah digunakan berkali-2 dari jaman film bisu sampai jaman sekarang. Dan cinta segitiga antara Peck, Valli (yang motivasi sesungguhnya disimpan terus sampai akhir film) dan Todd dapat dipercaya dan kompleks -- dengan masing-2 mempunyai agenda sendiri-2. Namun sayang, tidak didukung oleh cast yang cocok dan script yang efektif.

Hitchcock pernah berkata:
Pertama, saya melihat Gregory Peck kurang meyakinkan sebagai pengacara Inggris. Kedua, saya tidak mengerti bagaimana pembunuhan dilakukan -- ada banyak orang lalu-lalang dari satu kamar ke kamar yang lain, naik-turun dari tangga. Saya tidak sepenuhnya mengerti geografi dari rumah tersebut atau bagaimana Nyonya Paradine dapat melakukan pembunuhan tersebut.

Ketika sidang dimulai, yaitu sekitar separoh jalan dari film, anda dapat melihat mengapa Hitchcock meragukan penampilan Peck sebagai pengacara Inggris. Bukan karena aksen Peck yang kurang Inggris, tetapi karena jaksa penuntut Sir Joseph (Leo G. Carroll) dan hakim Lord Thomas (Charles Laughton) mengikuti prosedur persidangan Inggris, sedang pembela terdakwa (Peck) bertingkah laku seperti Perry Mason :-) Dia membutuhkan peringatan berkali-2 dari hakim untuk mengikuti prosedur persidangan yang berlaku, seakan-2 dia bukan pengacara Inggris :-) Selain itu, Peck yang terkenal dengan aktingnya yang tidak terlalu menonjolkan emosi atau perasaan (akting yang membuatnya menjadi bintang), kurang berhasil menampilkan efek yang pas untuk perannya sebagai pria yang mengalami pergumulan batin antara cintanya terhadap istrinya dan ketertarikannya terhadap kliennya. Valli memainkan peran paling sulit di sini, karena dia harus menarik simpati Peck dan sekaligus menjaga jarak secara emosional darinya. Sayangnya, Valli, walaupun tampil exquisite, tidak mempunyai kharisma seperti Garbo yang mampu memikat lawan mainnya (dan penonton) dengan pandangannya, dengan perkataannya, dan dengan tingkah lakunya. Beruntungnya, Todd tampil sangat baik dan memberi kedalaman dan sensitivitas ke perannya yang mungkin hanya peran istri menderita yang membosankan. Dia menolak menderita secara diam-2, dia mengungkapan perasaan gundahnya kepada suaminya dan menghadapi masalah yang ada secara fair dan terbuka. Jaman sekarang, penonton cynic mungkin menganggap sikap Todd tersebut tidak masuk akal, tetapi untuk jamannya sikap seperti ini sangat mungkin terjadi.

Ketidakefektifan script terlihat dari banyaknya karakter yang kurang berperan dalam cerita yang ada, misalnya Charles Laughton dan Ethel Barrymore, yang memainkan peran hakim dan istrinya -- film tetap dapat berjalan dengan baik dengan hakim tampil dalam scene-2 persidangan saja. Tetapi ironisnya, justru Ethel Barrymore-lah yang menerima nominasi Academy Award :-) Kemudian ada sequence panjang dimana Keane mengunjungi rumah Paradine di luar kota yang tidak melayani tujuan apapun -- dia bertanya kesana kemari, berusaha mengorek informasi dari Latour, tetapi akhirnya tidak menghasilkan apa-2. Selain itu, dialog-2nya terasa circular (berputar di antara mereka sendiri), khususnya di antara para pemeran pria (Peck, Coburn, Laughton), dan sebagian besar dari dialog-2 tersebut meleset dari realitas yang ada. Anehnya, hanya para pemeran wanitanya (Valli, Todd, Tetzel) yang mengenali realitas tersebut dari awal. Para prianya berargumen dan "bermain" (mengorbankan satu sama lain untuk maksudnya sendiri), meleset sepenuhnya dari kebenaran yang ada. Entah disengaja atau tidak, rada lucu kalau dipikirkan ... mungkinkah ini adalah sense of humour dari Hitchcock???

Namun demikian, The Paradine Case tetap memiliki ciri-2 film Hitchcock, yaitu: gerakan kamera yang inovatif, pengambilan gambar yang menarik, tema romans yang hangat, cinta segitiga yang kabur, pergumulan cinta dan benci di antara karakter-2 utamanya -- pria yang egois, wanita yang manipulatif, bencana yang akan datang, ... dan karakter-2 wanita yang inquisitive -- jelas sekali, Hitchcock menemukan wanita-2 seperti ini menarik, karena mereka banyak muncul dalam film-2nya selanjutnya, misalnya Patricia Hitchcock dalam Strangers on a Train (1951) dan Barbara Bel Geddes dalam Vertigo (1958). Untuk scene-2 di ruang pengadilan, Hitchcock menggunakan teknik baru, yaitu menggunakan empat kamera yang bekerja secara simultan, dengan masing-2 kamera mengarah ke masing-2 aktor. Setup ini, termasuk shot dari crane yang dikoreografi secara detil, memungkinkan Hitchcock men-shoot sampai sepanjang 10 menit, sesuatu yang dia gunakan secara optimal dalam dua film berikutnya, Rope (1948) dan Under Capricorn (1949).

The Paradine Case bukan film yang sempurna, tetapi memiliki ciri-2 film Hitchcock yang menarik. Setelah film ini Hitchcock menjadi sutradara independen, mempunyai kontrol lebih besar terhadap kariernya sementara dekade 1950 mendekati.

Menerima nominasi Academy Award untuk:
  • Best Actress in a Supporting Role (Ethel Barrymore)

Cerita (***)
Screenplay (**1/2)
Karakter (**1/2)
Akting (**1/2)

Keseluruhan: **1/2/4

The Paradine Case dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 19 October 2011

Notorious

Resensi Film: Notorious (****/4)

Tahun Keluar: 1946
Negara Asal: USA
Sutradara: Alfred Hitchcock
Cast: Cary Grant, Ingrid Bergman, Claude Rains, Leopoldine Konstantin

Plot: Seorang wanita -- anak seorang agen Nazi yang tertangkap -- mendapat tawaran untuk memata-2i teman-2 ayahnya yang sekarang beroperasi di Rio de Janeiro. Sampai seberapa jauh dia mesti memasukkan dirnya ke dalam lingkungan mereka? (IMDb)

Dimulai sebagai proyek dari David O. Selznick, Notorious memegang logo RKO dan menampilkan Alfred Hitchcock sebagai produser, untuk pertama kalinya dalam kariernya, ketika keluar pada bulan Agustus 1946. Mengapa Selznick menjual proyek ini ke RKO? Konon karena Selznick mengalami kesulitan memahami MacGuffin yang ada dalam film ini, yaitu bijih uranium yang disembunyikan di dalam botol anggur (saat itu belum banyak diketahui bahwa uranium digunakan dalam pembuatan bom atom). Penjualan tersebut menguntungkan semua pihak: Selznick, RKO, dan ... Hitchcock -- walaupun dia tidak menerima uang dari transaksi tersebut, dia memperoleh kebebasan keluar dari pengawasan Selznick; dia juga memperoleh kesempatan menjadi produser, sebuah langkah penting dalam kariernya: "mengawasi segala sesuatu, dari penyusunan script sampai ke post-production", juga kesempatan bagi dirinya untuk menunjukkan kemampuannya, tidak hanya sebagai sutradara tetapi juga sebagai eksekutif.

Hitchcock pernah berkata:
Cerita dalam Notorious adalah cerita konflik antara cinta dan tugas. Cary Grant tugasnya, ironisnya, adalah mendorong Ingrid Bergman masuk ke dalam pelukan Claude Rains. Tidak mengherankan Grant menjadi gundah di sepanjang film. Sedang Rains justru karakter yang menarik simpati, karena kepercayaannya dikhianati dan cintanya terhadap Bergman mungkin lebih tulus daripada cinta Grant. Semua elemen dari drama psikologis terjalin rapi dalam cerita espionase.

Mendapatkan inspirasinya dari cerita pendek dengan judul "The Song of the Dragon" karya John Taintor Foote yang terbit dalam surat kabar Saturday Evening Post pada bulan November 1921, Hitchcock mula-2 mempunyai ide bahwa agen rahasia wanita yang ada akan mirip seperti Mata Hari -- "cerita tentang wanita yang 'dijual' untuk kepentingan politik ke dalam perbudakan seksual", dan satu judul yang menyimpulkan seluruh cerita tersebut adalah "notorious" (tercemar). Meskipun cerita pendek tersebut adalah titik awal dari inspirasi Hitchcock, cerita selanjutnya adalah 100% Hitchcock. Dalam biografinya disebutkan Notorious adalah usaha pertama Hitchcock -- pada usia 46 tahun -- menggunakan bakatnya untuk menyusun kisah cinta yang serius. Juga disebutkan Notorious adalah film pertama Hitchcock yang sempurna, yang dipenuhi emosi, struktur, dan arti.

Cerita dimulai dengan Alicia Huberman (Ingrid Bergman) keluar dari ruang pengadilan setelah ayahnya (seorang keturunan Jerman) ditemukan bersalah telah mengkhianati negara. Untuk melupakan hal tersebut Huberman menghabiskan waktu minum-2 dengan teman-2nya. Di pesta tersebut dia berkenalan dengan seorang pria bernama Devlin (Cary Grant), yang ternyata seorang agen CIA. Devlin mengetahui masa lalu Huberman yang suka gonta-ganti pasangan; dan Huberman curiga Devlin menginginkan sesuatu dari dirinya, khususnya yang berkaitan dengan ayahnya. Devlin menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu -- tanpa mengetahui detil keseluruhannya -- boss-nya menawarkan tugas kepada Huberman untuk memata-2i teman-2 ayahnya yang sekarang beroperasi di Rio de Janeiro. Dari penyadapan yang mereka lakukan, mereka mengetahui bahwa Huberman mempunyai perbedaan pendapat dengan ayahnya. Selain itu, Devlin menjanjikan bahwa jika dia bersedia membantu, dia dapat membantu meringankan hukuman ayahnya. Huberman setuju, dan mereka terbang ke Rio. Dalam penerbangan tersebut, Devlin memberitahu Huberman bahwa ayahnya telah meninggal dunia pagi itu karena bunuh diri.

Nuansa manipulasi dan ketidakpercayaan antara Huberman dan Devlin menjadi tema utama dalam film ini.

Cary Grant & Ingrid Bergman
Setiba di Rio, Huberman dan Devlin jatuh cinta. Ketika boss-nya menjelaskan detil keseluruhan dari tugas tersebut, Devlin menjadi gundah, karena implikasi dari tugas tersebut mengharuskan Huberman mendekati salah satu dari teman-2 ayahnya, Alex Sebastian (Claude Rains), yang ternyata mempunyai masa lalu dengannya. Devlin menyampaikan detil tugas tersebut ke Huberman dan membiarkan dia mengambil keputusan sendiri (sikap dinginnya ini dapat diartikan sebagai ketidakpercayaan Devlin terhadap cinta Huberman, atau ungkapan frustrasinya atas apa yang diminta boss-nya dari Huberman). Huberman bertanya ke Devlin, apakah dia sebaiknya menerima tugas tersebut atau tidak. Tidak bersedia mengungkapkan isi hatinya, Devlin menjawab dengan sinis bahwa mempertimbangkan masa lalunya sangatlah mudah bagi Huberman untuk menjalankan tugas tersebut. Melihat sikap Devlin yang dingin dan tidak peduli, Huberman menerima tugas tersebut.

Dengan setup yang sederhana, Huberman bertemu dengan Sebastian -- dan segera setelah itu mereka menjadi pasangan. Sebastian curiga terhadap Devlin, yang selalu muncul di mana saja mereka berada, tetapi Huberman dengan cepat menyangkal bahwa dia adalah pacar lama. Sebastian bertanya, kalau memang betul Devlin tidak mempunyai arti apa-2 lagi, bersediakah dia mengawininya? Sekali lagi, Devlin menjadi gundah, tetapi sikapnya yang tidak mempercayai cinta Huberman, atau ungkapan frustrasinya atas apa yang diminta boss-nya dari Huberman membuat Devlin pura-2 tidak peduli terhadap Huberman. Sekali lagi, melihat sikap Devlin yang dingin dan tidak peduli, Huberman menerima lamaran Sebastian tersebut. Setelah menikah, Huberman melaporkan ke Devlin bahwa satu-2nya tempat di rumah Sebastian yang dia tidak dapat masuk adalah wine cellar (ruang penyimpanan anggur), dan hanya Sebastian yang mempunyai kunci ke ruang tersebut. Devlin menyarankan Huberman untuk meminta kepada suaminya untuk mengadakan pesta ... dan considered dia diundang, sehingga dia dapat datang dan menyelinap masuk ke ruang tersebut.

Suasana film berubah total dengan pesta tersebut. Romans dan rasa frustrasi antara Huberman dan Devlin sirna dan diganti dengan suspense ... total suspense! Pertama, Huberman harus mencuri kunci dari Sebastian. Kedua, ketika pesta berlangsung, mereka harus menyelinap masuk ke wine cellar. Suspense meningkat ketika para tamu meminum champagne lebih cepat dari yang diharapkan, yang berarti Sebastian harus pergi ke wine cellar untuk mengambil botol-2 anggur lagi. Devlin menyelinap masuk ke ruang tersebut dan secara tidak sengaja menjatuhkan satu botol anggur, yang ternyata tidak berisi anggur, tetapi pasir berwarna hitam. Dia mengambl sebagian pasir tersebut dan secepatnya membersihkan pecahan botol tersebut. Sebelum mereka sempat kembali ke ruang pesta, Sebastian melihat mereka ... Devlin secepatnya mencium Huberman, pura-2 sedang affair dengannya. Sebastian terkejut, tetapi Devlin langsung minta maaf dan mengundurkan diri. Sebastian terkejut lagi ketika dia menemukan kunci ke wine cellar hilang dari gantungan kuncinya. Sebastian mulai mencurigai Huberman dan Devlin. Keesokan harinya, kunci yang hilang tersebut tiba-2 muncul kembali di gantungan kuncinya. Ketika Sebastian memeriksa wine cellar, dia menemukan pecahan botol yang disembunyikan di bawah rak anggur ... bukti yang cukup yang menunjukkan bahwa Huberman dan Devlin adalah mata-2 musuh.

Khawatir teman-2 Nazinya akan membunuhnya jika mereka mengetahui hal tersebut, ibu Sebastian (Leopoldine Konstantin) menyarankan untuk melenyapkan Huberman secara pelan-2, yaitu dengan meracuninya. Segera setelah itu Huberman mulai sakit-2an, dan ketika dia akhirnya tidak dapat lagi menemui Devlin, Devlin menjadi curiga. Devlin akhirnya datang ke rumah Sebastian dan menemukan Huberman terbaring sakit di tempat tidurnya. Huberman mengatakan bahwa dia telah diracun dan terlalu lemah untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Devlin akhirnya mengakui cintanya terhadap Huberman dan membawanya keluar dari kamarnya. Ketika mereka turun dari tangga, Sebastian mencegat mereka -- tetapi karena teman-2 Nazinya menyaksikan apa yang sedang terjadi, Sebastian tidak dapat mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi. Devlin dan Huberman akhirnya berhasil meninggalkan rumah Sebastian, meninggalkan Sebastian di tangan teman-2nya yang curiga dengan situasi yang baru saja terjadi.

Notorious adalah kisah cinta yang serius dan gelap, yang terjalin rapi dalam konteks espionase, dengan Grant dan Bergman sebagai mata-2 yang mungkin paling glamorous dalam sejarah perfilman -- kharisma dan chemistry di antara mereka menjamin 'ledakan' di box office setara dengan ledakan bom atom. Satu tema yang meliputi Notorious adalah kepercayaan, yaitu kepercayaan yang tidak diberikan atau kepercayaan yang diberikan terlalu mudah. Hitchcock dan penulis script Ben Hecht menempatkan romans dalam konteks espionase, dimana eksploitasi kepercayaan menjadi ciri utama dalam tugas mereka. Devlin membutuhkan waktu lama untuk memberikan kepercayaan tersebut, sedang Sebastian sebaliknya memberikannya dengan terlalu mudah -- dan dia akhirnya harus membayar dengan harga yang mahal. Cerita menunjukkan kebutuhan wanita untuk dipercaya dan dicintai, dan pria untuk membuka dirinya terhadap cinta.

Notorious adalah satu dari film-2 Hitchcock yang memiliki visual yang indah -- dengan shot-2 kamera yang diletakkan pada posisi yang strategis. Dalam scene awal, ketika Huberman terbangun setelah semalaman mabuk, kita melihat Devlin berdiri di pintu kamar tidurnya, terbalik 180 derajat, dengan kamera diletakkan pada POV (point of view) Huberman. Dua scene paling terkenal dalam film ini adalah: 1) Scene ciuman antara Huberman dan Devlin, dimana Hitchcock berhasil mengelabui aturan sensor yang melarang ciuman yang lebih dari tiga detik, yaitu dengan membuat Huberman dan Devlin berciuman secara berhenti-2, tetapi kontinyu selama 2,5 menit -- membuat scene ini lebih erotis daripada satu ciuman yang lebih dari tiga detik, 2) Scene pesta di rumah Sebastian, dimana kamera diletakkan di atas katrol, mengambil gambar dari lantai atas, kemudian secara perlahan-2 zoom-in ke lantai bawah, dan melanjutkan close-up ekstem ke tangan Huberman yang memegang kunci. Tidak disangsikan lagi, Notorious adalah film yang di-choreograph dengan indah.

Notorious juga ditandai dengan cast yang gemilang. Cary Grant, superstar romantik komedi, menampilkan kemampuan aktingnya yang lain dari biasanya dengan memainkan peran gelapnya di sini -- setelah peran gelapnya di thriller psikologis, Suspicion (1941). Grant memerankan Devlin, hero yang tidak simpatik, dingin dan manipulatif -- menjebak wanita yang dia cintai ke dalam pelukan pria lain. Claude Rains, aktor karakter berpengalaman, memainkan peran Sebastian dan mentransformasi peran tersebut ke dalam villain Hitchcock yang klasik: simpatik, multi-dimensional, dan in some ways ... terhormat seperti seorang protagonist. Sedang Leopoldine Konstantin, aktres veteran dari Jerman, memainkan peran ibu Sebastian dan menyediakan keberadaan yang mengancam dalam rumah tangga Sebastian yang membuat dirinya sebagai salah satu dari villain-2 Hitchcock yang paling gelap -- membuat Sebastian nampak semakin simpatik. Karakterisasi untuk cast pendukung yang lain juga menyediakan detil yang menarik, misalnya ketika Huberman pertama kali datang ke rumah Sebastian, dia disambut dengan agen-2 Nazi sementara musik klasik dari Schumann dan Chopin melantun merdu -- walaupun jahat, mereka mempunyai selera artistik yang tinggi :-) Grant dan Bergman mempunyai chemistry yang luar biasa -- scene romans mereka, pada jamannya, dapat dianggap sangat berani dan seksi. Tetapi pujian jatuh ke Rains, penampilannya yang penuh penghayatan berhasil memanusiakan karakternya -- memberinya gambaran yang komplit: multi-dimensional, riel dan kompleks.

Secara pribadi, tiga scene yang paling menghantui dari film ini adalah:
3) Ketika Huberman mengetahui bahwa dirinya diracun, tetapi terlalu lemah untuk melawan ketika dia dibawa ke tempat tidurnya.
2) Ketika Devlin membawa Huberman keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga, dan akhirnya meninggalkan rumah Sebastian. Siapa bilang Hitchcock tidak romantis? Scene ini betul-2 romantis.
1) Ketika Sebastian dengan perasaan takut berjalan masuk ke rumahnya, sementara teman-2 Nazinya menunggu di pintu rumahnya, dan kemudian menutup pintu tersebut.

Notorious tampil pertama kali di Radio City Music Hall, New York pada bulan Agustus 1946 dan langsung menjadi hit di kalangan awam dan kritikus film; sekarang, Notorious tetap bertahan di posisi atas sebagai hit untuk penonton baru. Hitchcock gembira menerima resensi positif dari para kritikus film tersebut, tetapi satu resensi yang membuat dia especially gembira adalah resensi dari kritikus film favoritnya, yaitu anak perempuannya sendiri, Patricia. Di antara semua film ayahnya, Notorious adalah film favoritnya. Dalam biografi ayahnya, Patricia mengatakan:
What a perfect film!
The more I see Notorious, the more I like it.

Pada tahun 2006, Notorious terpilih masuk dalam United States National Film Registry sebagai film yang "culturally, historically, or aesthetically significant."

Menerima nominasi Academy Award untuk:
  • Best Actor in a Supporting Role (Claude Rains)
  • Best Writing, Original Screenplay (Ben Hecht)

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Notorious dapat anda temukan di eBay.com

Sunday, 2 October 2011

Spellbound

Resensi Film: Spellbound (***/4)

Tahun Keluar: 1945
Negara Asal: USA
Sutradara: Alfred Hitchcock
Cast: Ingrid Bergman, Gregory Peck, Michael Chekhov, Leo G. Carroll

Plot: Seorang psikiater berusaha mengembalikan ingatan seorang pasien amnesia yang dicurigai melakukan pembunuhan (IMDb).

Alfred Hitchcock pernah berkata:
Spellbound adalah cerita kejar-2an yang dibungkus dalam pseudo-psychoanalysis. Ceritanya kompleks dan saya menemukan penjelasan menuju akhir film cukup membingungkan.

Hmmm ... kalau Hitchcock sendiri terkesan kurang antusias dengan Spellbound, ini terjadi karena alasan-2 yang dapat dimengerti.

Setelah meminjamkan Hitchcock ke produser-2 yang lain, kali ini David O. Selznick menginginkan dia mengerjakan proyek barunya, yaitu adaptasi dari novel thriller psikologis berjudul The House of Dr. Edwardes karya Francis Beeding. Selznick "menyodorkan" proyek ini ke Hitchcock. Saat itu Selznick baru saja menjalani terapi psychoanalysis dengan seorang psikiater bernama Dr. May E. Romm dan sangat puas dengan hasilnya -- sedemikian puasnya sampai-2 dia mengangkat psikiater tersebut sebagai anggota crew (sebagai konsultan atau penasehat ahli). Kembali bekerja di bawah Selznick -- manajer mikro yang menginginkan segala sesuatunya sesuai dengan caranya -- mempunyai arti Hitchcock sedikit banyak kehilangan kebebasan artistiknya sebagai sutradara. Namun demikian, kompensasi dari "pengorbanan" tersebut adalah Hitchcock memperoleh bintang ternama, Ingrid Bergman, yang saat itu juga berada di bawah kontrak Selznick.

Spellbound adalah salah satu dari beberapa film Hitchcock yang pamornya turun dengan berjalannya waktu. Ini disebabkan karena ceritanya bertumpu pada ide dream analysis (analisis mimpi) yang pada saat film ini dibuat sangat populer, tetapi sekarang tidak diakui keefektifannya. Akibatnya, penonton masa kini merasa plot psychoanalysis yang ada kurang substansinya dan lemah kredibilitasnya -- amnesia dapat disembuhkan dengan analisis mimpi? mimpi dapat dianalisis? roda adalah simbol dari pistol? tujuh clubs memberi angka 21? dan angka 21 adalah simbol dari klub 21 di New York??? Penulis script ternama Ben Hecht tidak dapat menolong film ini dari kelemahan-2 tersebut, sedemikian rupa sampai film ini terasa lebih sebagai parodi daripada cerita yang riel. Namun demikian, Spellbound bukanlah film yang tidak memiliki elemen-2 menarik dalam aspek-2 yang lain -- Hitchcock adalah seorang profesional yang mampu mengesampingkan urusan pribadinya dengan Selznick demi kesuksesan film ini.

Gregory Peck & Ingrid Bergman
Cerita dimulai di rumah sakit jiwa, Green Manors, dimana Dr. Petersen (Ingrid Bergman) bekerja. Menurut Dr. Fleurot (John Emery), Petersen tidak akan pernah menjadi psikiater yang baik, yang betul-2 memahami jiwa manusia, sebelum dia mengenal cinta. Seraya memeluk Petersen dan mengharap ketertarikannya berbalas, Fleurot berkata: tidaklah cukup memahami jiwa manusia dari text-book saja. Sayangnya Peterson tidak tertarik terhadap Fleurot. Sementara itu direktur RS yang ada, Dr. Murchison (Leo G. Carroll), setelah mengalami gangguan mental, terpaksa mengundurkan diri dari posisinya dan digantikan oleh Dr. Edwardes (Gregory Peck). Ketika Edwardes tiba di Green Manors, banyak yang tidak menyangka kalau dia ternyata masih muda. Dalam waktu sekejap, Petersen jatuh cinta dengan Edwardes yang rupawan, demikian juga sebaliknya.

Beberapa saat kemudian, Petersen mulai mencium keganjilan dalam diri Edwardes -- dia dengan mudah menjadi kalap karena hal-2 yang sederhana. Dalam satu kesempatan, ketika mereka berada di ruang operasi, Edwardes menjadi kalap dan pingsan. Petersen diam-2 menemukan, dengan membandingkan tanda tangannya dan tanda tangan Edwardes dalam text-booknya, bahwa dia ternyata bukan Edwardes yang sesungguhnya. Petersen bertanya: siapa dirinya? Dia mengatakan bahwa dia mengalami amnesia dan tidak ingat siapa dirinya atau bagaimana dan mengapa dia mengambil identitas Edwardes. Dia menerka-2 -- ada kemungkinan dia telah membunuh Edwardes dan mengambil identitasnya. Dia kemudian menunjukkan kotak rokok dengan inisial "JB" -- ada kemungkinan dia adalah JB, tetapi tidak ingat singkatan apa JB itu. Pada saat yang bersamaan, sekretaris Edwardes yang sesungguhnya datang ke Green Manors untuk mencari bossnya. Dia menunjukkan foto bossnya ... kontan saja seluruh staf di Green Manors terkejut karena dokter yang mengaku Edwardes ternyata bukan Edwardes yang sesungguhnya. Polisi kemudian turun tangan dan mengejar JB untuk dimintai keterangan tentang keberadaan Edwardes yang sesungguhnya.

Sebelum polisi sempat menangkapnya, JB melarikan diri ke New York. Petersen, sudah terlanjur cinta padanya, menyusul JB dan berusaha membantunya dengan menelusuri kembali masa lalunya. Pelarian mereka membawa mereka ke Dr. Brulov (Michael Chekhov), bekas dosen Petersen. Sesampai di sana, Petersen minta tolong kepada Brulov untuk menangani kasus amnesia JB. Dari mimpi yang menghantui JB, Brulov dan Petersen menganalisis mimpi tersebut dan berhasil memperoleh clue tentang lokasi dimana JB bertemu dengan Edwardes. Petersen kemudian mengantar JB ke lokasi tersebut dan merekonstruksi kejadian yang sama untuk membangkitkan kembali ingatannya. Ketika mereka melakukan rekonstruksi tersebut, terungkap bahwa JB pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya saudara kandungnya. Sejak peristiwa itu JB menderita guilt complex -- yaitu, situasi kejiwaan dimana dia mempersalahkan dirinya atas kejadian yang bukan kesalahannya. Terungkap pula, kecelakaan yang sama juga menimpa Edwardes. Mereka kemudian melaporkan hal tersebut ke polisi. Beberapa saat kemudian polisi mengkonfirmasi bahwa mereka menemukan jasad Edwardes di tempat yang mereka sebutkan, tetapi Edwardes ternyata tidak tewas karena kecelakaan, tetapi karena tembakan. JB, sekarang ingat namanya adalah John Ballantyne, menjadi tertuduh dan ditahan polisi.

Tidak dapat lagi menolong Ballantyne, Petersen kembali ke Green Manors dengan putus asa. Ketika Dr. Murchison menyambutnya, Murchison tanpa disengaja mengatakan bahwa dia pernah mengenal Edwardes. Petersen terkejut karena Murchison sebelumnya mengatakan bahwa dia tidak pernah mengenal Edwardes. Petersen kemudian menganalisis mimpi Ballantyne sekali lagi. Kali ini dia menyimpulkan bahwa Murchison-lah orang bertopeng dalam mimpi Ballantyne yang menghardik Edwardes. Ketika Petersen mengkonfrontasi Murchison tentang hal tersebut, Murchison akhirnya mengaku bahwa dialah yang membunuh Edwardes ... dia kemudian menodongkan pistolnya ke Petersen.

Bagian paling menarik dari Spellbound adalah sequence mimpi bergaya ekspresionis yang mengesankan, yang didesain oleh pelukis surealis ternama, Salvador Dalí -- sayangnya tidak diarahkan oleh Hitchcock, tetapi oleh William Cameron Menzies, sutradara film science fiction klasik Things To Come (1936). Namun demikian, sequence mimpi tersebut tetap memiliki sentuhan Hitchcock, misalnya kartu tujuh clubs yang berukuran jumbo -- sebuah trik kamera yang membuat kartu tersebut dapat dibaca oleh penonton dan menambah kualitas keanehan dari mimpi tersebut. Sequence mimpi ini adalah titik artistik tertinggi dalam film ini.

Selain itu, tema orang tidak bersalah menjadi tertuduh adalah tema favorit Hitchcock, dimana pemeran utama wanita harus mengungkap misteri yang ada untuk menyelamatkan pemeran utama pria -- membuat cerita menjadi menarik dan penuh suspense. Hitchcock juga mengambil shot-2 dari sudut-2 yang berani, misalnya ketika JB melihat calon korbannya dari gelas susu yang dia minum, dan ketika Murchison menodongkan pistolnya ke Petersen, sebelum akhirnya mengarahkannya ke dirinya sendiri (untuk membuat efek yang mulus, Hitchcock menggunakan model, sehingga gerakannya dapat berbalik dengan mulus). Sentuhan Hitchcock tampil di sana sini, misalnya ketika Ballantyne akhirnya teringat kembali tentang kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya saudara kandungnya, dan ketika Ballantyne dan Petersen berciuman untuk pertama kalinya.

Ingrid Bergman dan Gregory Peck memiliki chemistry yang baik -- Bergman tampil mengesankan, dia memberi kehangatan yang pas pada cerita yang ada, dan transformasinya dari psikiater yang dingin ke kekasih yang hangat cukup meyakinkan; sedang Peck tampil rada kaku, mungkin karena karakternya yang menghabiskan sebagian besar waktunya menggaruk-2 kepala seraya berusaha mengingat siapa dirinya, kemudian pingsan. Sedang Michael Chekhov berhasil mencuri centre stage dengan penampilan no-nonsense-nya sebagai Dr. Brulov. Sentuhan jenius yang lain dalam film ini adalah musical score dari Miklós Rózsa yang catchy, yang mengiringi naik turunnya ketegangan dalam film ini secara pas (memenangkan satu-2nya Oscar untuk film ini)

Ketika pertama kali dikeluarkan, Spellbound meraih popularitas yang tinggi di antara penonton dan para kritikus film.

Memenangkan Academy Award untuk:
  • Best Music, Scoring of a Dramatic or Comedy Picture (Miklós Rózsa)

Menerima nominasi Academy Award untuk:
  • Best Actor in a Supporting Role (Michael Chekhov)
  • Best Cinematography, Black-and-White (George Barnes)
  • Best Director (Alfred Hitchcock)
  • Best Effects, Special Effects (Jack Cosgrove)
  • Best Picture (Selznick International Pictures)

Cerita (***)
Screenplay (***)
Karakter (***)
Akting (***1/2)

Keseluruhan: ***/4

Spellbound dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 21 September 2011

Lifeboat

Resensi Film: Lifeboat (****/4)

Tahun Keluar: 1944
Negara Asal: USA
Sutradara: Alfred Hitchcock
Cast: Tallulah Bankhead, William Bendix, Walter Slezak, Mary Anderson, John Hodiak, Henry Hull, Heather Angel, Hume Cronyn, Canada Lee

Plot: Setelah kapal-2 perang mereka saling menenggelamkan di lautan Atlantik, sekelompok survivor dari pihak sekutu terapung di sebuah kapal penyelamat bersama dengan satu survivor dari pihak Jerman (IMDb).

Dibuat ketika Perang Dunia ke 2 sedang berkecamuk, sama seperti Foreign Correspondent (1940) dan Saboteur (1942), Lifeboat adalah film propaganda perang. Mengapa Alfred Hitchcock tertarik membuat film ini? Dia pernah berkata:
Kami *) ingin menunjukkan bahwa pada saat itu ada dua kekuatan besar yang saling berhadapan: demokrasi dan Nazi, dan sementara pihak sekutu tidak bersatu dan tidak terorganisir, pihak Jerman seluruhnya secara jelas menuju ke arah yang sama.
*) Hitchcock dan penulis script, Jo Swerling

Adaptasi dari novel pendek karya pemenang Nobel untuk sastra, John Steinbeck, Hitchcock dan Swerling menulis ulang cerita aslinya, sedemikian rupa sehingga pesan tersebut tercermin dalam filmnya. Hasilnya, karakter-2 dari pihak sekutu -- Connie, Kovac, Sparks, Ritt, Gus, Alice, Joe, dan Nyonya Higley -- nampak lemah dan kurang pandai (mereka sering bertengkar sendiri di antaranya), sedang karakter dari pihak Jerman -- Willy -- nampak kuat dan lebih pandai (walaupun sendirian, dia diam-2 menyusun rencana dan menjaga kekuatan fisiknya). Ketika film ini dikeluarkan, penonton dan para kritikus film tidak menyukainya karena mereka menilai film ini pro-Nazi (gara-2 penggambaran karakter Willy yang simpatik). Seandainya pesan tersebut disampaikan beberapa tahun sebelumnya, metafora ini mungkin dapat diterima dengan baik oleh penonton, tetapi tidak pada saat itu. Akibatnya, studio 20th Century Fox terpaksa membatasi publisitas film ini ke tingkat minimum, dengan demikian mengurangi kesuksesan film ini di box-office. John Steinbeck, yang saat itu dianggap sebagai penulis radikal dengan karya-2nya seperti "The Grapes of Wrath" dan "In Dubious Battle", juga terpaksa menjauhkan diri dari film ini (meminta namanya tidak disebutkan dalam film ini) -- dan novel pendeknya tidak pernah diterbitkan. Akibatnya, Lifeboat menjadi karya Hitchcock yang paling terlupakan.

Bersetting di sebuah kapal penyelamat yang kecil, Lifeboat dimulai segera setelah kapal-2 perang sekutu dan Jerman saling menenggelamkan di lautan Atlantik, dengan Tallulah Bankhead, sebagai penulis dan fotografer Constance "Connie" Porter, duduk sendirian di dalam kapal penyelamat sementara puing-2 dari kapal-2 tersebut berserakan di laut. Beberapa saat kemudian, beberapa survivor dari kapal perang sekutu bergabung dengan Connie dalam kapal penyelamat -- secara berurutan mereka adalah Kovak (John Hodiak), Sparks (Hume Cronyn), Ritt (Henry Hull), Gus (William Bendix), Alice (Mary Anderson), Joe (Canada Lee), Nyonya Higley (Heather Angel), dan bayinya -- yang sudah mati ketika dinaikkan ke dalam kapal penyelamat. Survivor terakhir yang bergabung dalam kapal penyelamat adalah Willy (Walter Slezak), yang mengaku sebagai crew kapal perang Jerman dan tidak bisa berbahasa Inggris. Kedatangan Willy menimbulkan perdebatan sengit di antara mereka, dengan Kovak menginginkan Willy dilempar saja ke laut dan dibiarkan tenggelam. Tetapi kepala dingin akhirnya menang, dengan Connie, Sparks, dan Ritt berargumen bahwa Willy adalah tahanan perang, maka dia sepatutnya diperlakukan sebagai tahanan perang. Sementara itu, Nyonya Higley, yang menjadi lupa ingatan gara-2 kematian bayinya, mesti dijerat dengan tali agar tidak melukai dirinya sendiri. Tetapi segera setelah para penumpang yang lain tertidur, dia menceburkan dirinya ke laut dan tenggelam.

Tallulah Bankhead & John Hodiak
Cerita kemudian bergulir mengikuti perjalanan para penumpang yang lain. Ritt, seorang businessman, menempatkan dirinya sebagai pemimpin: membagi tugas di antara para penumpang dan mengatur jatah makan dan minum; tetapi dia kekurangan keahlian dalam berlayar, sehingga mesti bergantung pada yang lain untuk mencapai keputusan untuk menuju Bermuda. Ketika mereka berdebat tentang arah mata angin, Willy ketahuan bahwa dia adalah kapten kapal perang Jerman, bukan sekedar crew seperti yang dia claim sebelumnya. Willy mengatakan arah yang mereka pilih salah, tetapi tidak ada seorangpun yang percaya padanya. Ketegangan di antara para penumpang meningkat ketika Alice, yang merawat luka di kaki Gus, mengatakan bahwa luka tersebut telah berubah menjadi gangren dan kaki Gus perlu diamputasi. Willy mengatakan bahwa dia adalah dokter dan menawarkan jasanya untuk mengamputasi kaki Gus. Setelah melalui perang urat syaraf antara Gus dan para penumpang yang lain, Gus akhirnya bersedia kakinya diamputasi. Operasi tersebut membutuhkan kerja sama dari seluruh penumpang, meninggalkan Sparks sendirian di kendali kapal di tengah lautan yang berbadai.

Walter Slezak
Beberapa hari kemudian, ketegangan di antara para penumpang memuncak ketika Willy ketahuan menyembunyikan kompas. Situasi berubah menjadi semakin buruk ketika badai menerjang dan menghanyutkan jatah makan dan minum mereka -- pada saat inilah Willy ketahuan bahwa dia bisa berbahasa Inggris. Kovac mengambil alih kepemimpinan dari Ritt, tetapi Willy menyepelekan otoritasnya. Setelah serangan badai tersebut dan sedemikian lama mengarah ke arah yang salah, kesempatan mereka mencapai Bermuda menjadi semakin tipis. Dengan jatah makan dan minum yang hampir tidak ada, mereka akhirnya setuju dengan Willy untuk mengarahkan kapal penyelamat ke kapal supply Jerman. Sekarang bebas berbicara dalam bahasa Inggris, Willy mulai memanipulasi para penumpang yang lain: mengamati dan tersenyum ketika mereka bertengkar sendiri di antaranya. Sementara para penumpang yang lain teler kecapekan di bawah terik matahari, Willy dengan tenangnya mendayung terus kapal penyelamat tersebut. Hanya Gus, yang setengah berhalusinasi dan terlalu lemah membangunkan para penumpang yang lain, menangkap basah Willy minum dari botol berisi air. Willy mendorong Gus jatuh ke laut dan membiarkan dirinya tenggelam.

Ketika para penumpang yang lain bangun dari tidurnya dan menemukan Gus hilang, mereka akhirnya mengetahui bahwa Willy telah membunuh Gus. Willy kemudian juga mengaku dengan tenang dan dingin bahwa dia menyembunyikan tablet makanan dan vitamin untuk menjaga kekuatan fisiknya. Melihat ketenangan dan kedinginan Willy berbicara, para penumpang yang lain akhirnya meledak kemarahannya dan menggeroyok Willy -- melemparnya ke laut dan memukulinya dengan sepatu boot Gus untuk mencegahnya masuk kembali ke dalam kapal penyelamat. Beberapa saat kemudian, kapal penyelamat tersebut akhirnya dilihat oleh kapal supply Jerman. Tetapi sebelum mereka sempat diambil, kapal supply Jerman tersebut diserang dan ditenggelamkan oleh kapal sekutu yang berada di dekat perairan itu. Ketika menunggu kapal sekutu tiba, sepasang tangan menggapai masuk ke dalam kapal penyelamat mereka ... seorang pelaut Jerman dari kapal supply Jerman yang tenggelam tersebut. Segera setelah dia masuk ke dalam kapal penyelamat, dia menodongkan pistol ke arah mereka -- tetapi berhasil dilumpuhkan oleh Joe. Film berakhir dengan para penumpang berdebat sengit lagi apakah pelaut Jerman itu sebaiknya dilempar saja ke laut atau dibiarkan tinggal di dalam kapal penyelamat mereka??? :-)

Selama kariernya Hitchcock senang menempatkan dirinya dalam tantangan-2 teknis yang pelik, dan dengan menerima tantangan-2 tersebut dia memperluaskan batas-2 tentang apa yang dapat dilakukan dalam film. Lifeboat adalah hasil dari salah satu dari tantangan-2 tersebut dan mungkin karyanya yang paling berani. Dengan perencanaan dan storyboarding yang ekstensif, seluruh film dishot di dalam studio yang kecil, yang terdiri dari tangki berisi air dan kapal penyelamat. Kenyataan bahwa film ini mampu bertahan sampai saat ini adalah bukti dari inovasi dan keahlian teknisnya. Lifeboat adalah film pertama Hitchcock yang menggunakan konsep setting terbatas -- yang lainnya adalah Rope (1948), Dial M for Murder (1954), dan Rear Window (1954). Lifeboat juga merupakan karya Hitchcock yang unik karena tidak menggunakan musical score selama film berlangsung, kecuali pada pembuka dan penutup film saja. Dengan berjalannya waktu, para kritikus film saat ini mengapresiasi Lifeboat sebagai salah satu dari karya terbaik Hitchcock -- dan menempatkan film ini sebagai film yang wajib ditonton oleh mereka yang ingin menjadi sutradara.

Menghadapi tanggapan-2 negatif yang menilai film ini pro-Nazi (gara-2 penggambaran karakter Willy yang simpatik), Hitchcock menjelaskan:
Saya selalu menghargai karakter musuh; karena itu saya menyusunnya ke dalam karakter yang patut untuk dihormati, sedemikian rupa sehingga karakter hero menjadi lebih dihargai ketika dia mengalahkannya.
Bintang utama Bankhead turun tangan membela Hitchcock dengan mengatakan:
Hitchcock ingin menyampaikan pesan penting. Dia ingin mengatakan bahwa anda tidak dapat mempercayai musuh ... dalam Lifeboat, anda dapat dengan jelas melihat bahwa anda tidak dapat mempercayai Nazi, tidak peduli seberapa manis dia nampak.
Kritik yang lain adalah tentang karakter kulit hitam Joe yang terkesan stereotypical. Kritikan ini ada benarnya, karena dibandingkan dengan karakter-2 yang lain, karakter Joe kurang mendapat tempat dan bagian dalam cerita yang ada.

Dengan script yang rapi dan ketat, dialog-2 yang tajam (dibumbui dengan humor-2 gelap gaya Hitchcock), arahan yang imajinatif, dan penampilan dari seluruh anggota cast yang mengesankan, Lifeboat adalah studi tingkah laku manusia yang outstanding yang melampaui batas-2 tujuan awalnya (propaganda): mereka mula-2 bersikap positif, kooperatif, dan optimis, tetapi kemudian sedikit demi sedikit jatuh ke dalam keputusasaan, kehausan, dan frustrasi; latar belakang masing-2 karakter diperiksa; perbedaan ras, agama, gender, status sosial, dan kebangsaan muncul ke permukaan. Apa yang kita saksikan adalah mikrokosmos dari sekumpulan manusia yang menarik, sekaligus mengkhawatirkan, dimana kasih sayang timbul dan kebencian tumbuh, dimana hasil akhirnya jauh dari pasti. Juga ditampilkan, kesederhanaan dari kejahatan, tema favorit Hitchcock: pelaut Jerman yang tenang dan simpatik ternyata adalah orang jahat yang mampu membunuh sesamanya semudah dia membunuh serangga; tetapi ketika situasi dibalik, ketika dia dikeroyok rame-2, cara mereka yang brutal juga sama-2 mengerikannya.

Menerima nominasi Academy Award untuk:
  • Best Cinematography, Black-and-White (Glen MacWilliams)
  • Best Director (Alfred Hitchcock)
  • Best Writing, Original Story (John Steinbeck)

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Lifeboat dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 8 September 2011

Shadow of a Doubt

Resensi Film: Shadow of a Doubt (****/4)

Tahun Keluar: 1943
Negara Asal: USA
Sutradara: Alfred Hitchcock
Cast: Teresa Wright, Joseph Cotten, Macdonald Carey, Patricia Collinge, Henry Travers

Plot: Seorang wanita muda menemukan bahwa paman tercintanya ternyata adalah seorang pembunuh berantai (IMDb).

Alfred Hitchcock pernah berkata:
Pada dasarnya, orang jahat tidak seluruhnya hitam, dan orang baik tidak seluruhnya putih -- ada abu-2 dimana-2.

Di luar dugaan mayoritas penggemar Hitchcock, menurut biografinya, Shadow of a Doubt adalah film favorit Hitchcock -- melebihi film-2nya yang lain, yang lebih terkenal secara popularitas dan lebih sukses secara komersial, misalnya Strangers on a Train (1951), Rear Window (1954), North by Northwest (1959), atau Psycho (1960) -- untuk alasan-2 yang dapat dimengerti ...

Apa alasan-2 tersebut?

Cerita thriller psikologis tentang konflik antara baik dan buruk, antara terang dan gelap ini dimulai dengan Charlie Oakley (Joseph Cotten) berbaring di tempat tidur di sebuah flat di New Jersey, memikirkan langkah selanjutnya setelah membunuh tiga janda kaya dan merampok kekayaannya. Untuk menghilangkan jejak, Charlie memutuskan pergi ke California, mengunjungi kakak perempuan dan keluarganya. Sementara itu di seberang benua di sebelah barat, seorang wanita muda, Charlotte 'Charlie' Newton (Teresa Wright), juga berbaring di tempat tidur di rumahnya di Santa Rosa, memikirkan betapa membosankan hidup orangtua dan keluarganya ... setiap hari selalu sama ... tidak ada kejadian menarik, tidak ada perubahan apapun. Charlie tiba-2 teringat pada paman tercintanya, Charlie -- dimana dia mendapatkan namanya, yang tinggal di seberang benua di sebelah timur. Ketika Charlie akan mengirim telegram ke pamannya, dia mendapat kabar bahwa pamannya akan datang ke Santa Rosa. Begitu terkesima dengan coincidence ini, Charlie yakin bahwa pamannya adalah orang yang bakal "menyelamatkan" keluarganya (dari rutinitas yang membosankan).

Joseph Cotten & Teresa Wright
Sehari setelah Charlie menyambut kedatangan pamannya, dua pria muncul di rumahnya mengaku sebagai jurnalis Jack Graham (Macdonald Carey) dan fotografer Fred Saunders (Wallace Ford) yang sedang melakukan survey tentang "average American family". Berusaha mewawancarai seluruh anggota keluarga, paman Charlie menolak mentah-2 ambil bagian dalam survey tersebut. Beberapa saat kemudian, salah satu dari dua pria tersebut mengajak Charlie keluar dan memberitahu Charlie identitas dan maksud dia sesungguhnya, yaitu dia adalah detektif yang sedang mengintai paman Charlie, yang merupakan salah satu dari dua tersangka yang dicurigai sebagai pembunuh berantai -- yang mendapat julukan "Merry Widow Murderer", dengan modus operandi menggaet janda kaya untuk kemudian dibunuh dan dirampok kekayaannya. Marah karena merasa dikelabui dan kaget mendengar berita tersebut, Charlie mula-2 menolak mempertimbangkan kemungkinan pamannya adalah pembunuh berantai, tetapi tidak dapat melepaskan kecurigaan terhadap tingkah-laku aneh pamannya. Charlie kemudian mengkonfirmasi kecurigaan tersebut setelah melihat inisial nama pada cincin yang diberikan pamannya kepadanya ternyata sama dengan inisial nama dari korban terakhir dari pembunuh berantai tersebut.

Kegundahan hati Charlie akhirnya diketahui pamannya ketika pada suatu malam Charlie menghardik pamannya ketika dia dengan sangat emosional mengungkapkan kebenciannya terhadap wanita-2 janda yang kaya-raya, dengan menyebut mereka sebagai "binatang gemuk yang pantas untuk disembelih". Tanpa diketahui orangtua Charlie, pamannya mengkonfrontasi Charlie dan mengakui bahwa memang betul dirinya adalah pembunuh berantai yang sedang dicari oleh polisi. Pamannya memohon pada Charlie untuk tutup mulut. Charlie setuju, tetapi pamannya harus pergi dari rumahnya, untuk menghindari skandal yang dapat menghancurkan keluarganya, khususnya ibunya, yang sangat mencintai adik laki-2nya.

Beberapa hari kemudian, datang berita yang mengatakan bahwa orang lain yang juga dicurigai sebagai pembunuh berantai mati terbunuh ketika melarikan diri dari kejaran polisi dan orang tersebut dinyatakan sebagai pembunuh berantai tersebut. Mendengar berita tersebut, paman Charlie tersenyum lega dan memutuskan untuk tinggal lebih lama di rumah Charlie ... tetapi dia kemudian menyadari bahwa Charlie masih mengetahui rahasianya. Segera setelahnya, Charlie mengalami serangkaian "kecelakaan": jatuh terjerembab di atas tangga, terkunci di dalam garasi dengan mesin mobil menyala dan menyemburkan asap beracun ... dan cincin yang diberikan pamannya kepadanya tiba-2 hilang! Yakin ini semua adalah perbuatan pamannya, Charlie menggeledah kamar pamannya dan berhasil menemukan cincin tersebut -- cincin yang membuktikan bahwa pamannya adalah pembunuh berantai! Charlie bermaksud menggunakan cincin tersebut untuk mengusir pamannya. Tetapi sebelum Charlie sempat melaksanakan niat tersebut, pamannya langsung pamit pada kakak perempuannya, dengan alasan bahwa dia harus pergi ke kota lain untuk urusan bisnis. Keesokan harinya, Charlie sekeluarga pergi mengantar paman Charlie ke stasiun kereta api -- Charlie dan dua adiknya mengantar sampai ke dalam gerbong. Ketika kereta akan berangkat, dua adiknya turun dari kereta; tetapi ketika Charlie akan turun, paman Charlie menghalangi Charlie ... dan ketika kereta mulai bergerak dan bergerak lebih cepat, paman Charlie menyeret Charlie ke pinggir pintu kereta ...

Shadow of a Doubt dikategorikan sebagai film Hitchcock pertama yang "betul-2 Amerika" -- Rebecca (1940) bersetting di Inggris, Foreign Correspondent (1940) bersetting di Eropa, Mr. and Mrs. Smith (1941) tidak secara khusus menunjukkan keamerikaannya, Suspicion (1941) kembali bersetiing di Inggris, Saboteur (1942) walaupun secara jelas bersetting di Amerika, Hitchcock terasa hanya "mengamati" Amerika saja. Dalam Shadow of a Doubt, Hitchcock terasa betul-2 "at home" dengan Amerika -- negeri barunya, dan ini tercermin dari dosis realisme dalam film ini: ceritanya terjadi pada "average American family" (keluarga middle-class) dan settingnya berada di "average American city" (Santa Rosa). Dosis realisme yang tinggi ini adalah medium favorit Hitchcock untuk menyampaikan topik favoritnya, yaitu: kejahatan dapat terjadi di mana saja, termasuk di tempat yang paling kita kenal, misalnya rumah; kejahatan dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk oleh orang yang paling kita anggap baik ...

Shadow of a Doubt ditandai dengan kebebasan kreativitas Hitchcock sebagai sutradara. Dengan produser yang tidak bossy (Jack H. Skirball), Hitchcock berhasil mengumpulkan crew dan cast yang secara optimal dapat bekerja sama dengan dirinya. Thornton Wilder, novelis pemenang penghargaan Pulitzer, menulis script untuk film ini. Alma Reville, istri Hitchcock -- sekaligus partner kerja Hitchcock yang paling memahami visinya, membantu "menghaluskan" script tersebut. Khusus untuk dialog anak-2, Hitchcock memasukkan Sally Benson, yang terkenal dengan karyanya yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama, Meet Me in St. Louis (1944). Selama shooting, untuk scene antara Teresa Wright dan Macdonald Carey, Hitchcock meminta Patricia Collinge, yang memainkan peran Emma Newton (ibu Charlie, kakak perempuan paman Charlie), menulis dialog romans untuk mereka. Collinge adalah penulis cerita pendek untuk majalah The New Yorker dan majalah The New York Times Book Review. Hasilnya adalah script yang terkonstruksi dengan sangat baik.

Dengan dosis realisme yang tinggi tersebut, Shadow of a Doubt juga ditandai dengan pemilihan cast yang tidak glamorous, namun demikian mereka adalah pemain-2 yang sangat mumpuni. Teresa Wright, walaupun jauh dari apa yang dikenal dengan sebutan "Hitchcock's woman" -- glamorous, dingin dan pirang, berhasil memainkan perannya dengan penghayatan yang dalam. Joseph Cotten, walaupun tidak mempunyai kharisma sebesar Cary Grant, berhasil menangkap esensi pribadi ganda dari peran yang dia mainkan: hangat dan sekaligus mengancam. Patricia Collinge berhasil meyakinkan penonton sebagai istri dan ibu rumah tangga, yang saking terbenamnya dalam rutinitas rumah tangga, sama sekali tidak melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan adik laki-2nya (karakternya konon diciptakan berdasarkan ibunya Hitchcock). Sedang Henry Travers dan Hume Cronyn berhasil menyediakan peran pendukung yang kocak à la Hitchcock dengan humor-2 gelap mereka. Kalau cast dengan nama besar sering mempunyai ego yang besar, sehingga mereka sering bersaing di antara mereka sendiri, hal tersebut tidak terjadi selama shooting film ini. Teresa Wright pernah berkata, dialog romans antara dirinya dan Carey mula-2 lebih intens daripada yang kita lihat dalam hasil akhir film ini; tetapi dia mengusulkan pada Hitchcock untuk mengurangi intensitas tersebut agar plot cerita tetap terpusat pada plot utama, dan Hitchcock setuju. Patricia Hitchcock, anak perempuan Hitchcock, juga ambil bagian selama shooting, yaitu sebagai pelatih dialog untuk Edna May Wonacott (adik perempuan Charlie), yang menyediakan peran pendukung yang meyakinkan sebagai anak perempuan à la Hitchcock -- brainy dan intelligent, yang dari sejak awal tidak percaya dengan pamannya ... :-) Dengan set yang menyenangkan, sebagian besar dari mereka setelah shooting selesai tetap menjadi teman keluarga Hitchcock.

Mempertimbangkan semua faktor di atas, Shadow of a Doubt adalah quintessential Hitchcock! Semua elemen yang membuat sebuah film Hitchcock betul-2 Hitchcock ada di dalamnya: kreativitasnya, ceritanya, dan settingnya. Kekuatan terbesar film ini mungkin terletak pada suspense yang terjadi ketika bahaya yang ada akhirnya terwujud ketika film hampir berakhir. Dapat dimengerti mengapa Shadow of a Doubt adalah film favorit Hitchcock.

Menerima nominasi Academy Award untuk:
  • Best Writing, Original Story (Gordon McDonell)

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Shadow of a Doubt dapat anda temukan di eBay.com