Showing posts with label Ingrid Bergman. Show all posts
Showing posts with label Ingrid Bergman. Show all posts

Wednesday, 19 October 2011

Notorious

Resensi Film: Notorious (****/4)

Tahun Keluar: 1946
Negara Asal: USA
Sutradara: Alfred Hitchcock
Cast: Cary Grant, Ingrid Bergman, Claude Rains, Leopoldine Konstantin

Plot: Seorang wanita -- anak seorang agen Nazi yang tertangkap -- mendapat tawaran untuk memata-2i teman-2 ayahnya yang sekarang beroperasi di Rio de Janeiro. Sampai seberapa jauh dia mesti memasukkan dirnya ke dalam lingkungan mereka? (IMDb)

Dimulai sebagai proyek dari David O. Selznick, Notorious memegang logo RKO dan menampilkan Alfred Hitchcock sebagai produser, untuk pertama kalinya dalam kariernya, ketika keluar pada bulan Agustus 1946. Mengapa Selznick menjual proyek ini ke RKO? Konon karena Selznick mengalami kesulitan memahami MacGuffin yang ada dalam film ini, yaitu bijih uranium yang disembunyikan di dalam botol anggur (saat itu belum banyak diketahui bahwa uranium digunakan dalam pembuatan bom atom). Penjualan tersebut menguntungkan semua pihak: Selznick, RKO, dan ... Hitchcock -- walaupun dia tidak menerima uang dari transaksi tersebut, dia memperoleh kebebasan keluar dari pengawasan Selznick; dia juga memperoleh kesempatan menjadi produser, sebuah langkah penting dalam kariernya: "mengawasi segala sesuatu, dari penyusunan script sampai ke post-production", juga kesempatan bagi dirinya untuk menunjukkan kemampuannya, tidak hanya sebagai sutradara tetapi juga sebagai eksekutif.

Hitchcock pernah berkata:
Cerita dalam Notorious adalah cerita konflik antara cinta dan tugas. Cary Grant tugasnya, ironisnya, adalah mendorong Ingrid Bergman masuk ke dalam pelukan Claude Rains. Tidak mengherankan Grant menjadi gundah di sepanjang film. Sedang Rains justru karakter yang menarik simpati, karena kepercayaannya dikhianati dan cintanya terhadap Bergman mungkin lebih tulus daripada cinta Grant. Semua elemen dari drama psikologis terjalin rapi dalam cerita espionase.

Mendapatkan inspirasinya dari cerita pendek dengan judul "The Song of the Dragon" karya John Taintor Foote yang terbit dalam surat kabar Saturday Evening Post pada bulan November 1921, Hitchcock mula-2 mempunyai ide bahwa agen rahasia wanita yang ada akan mirip seperti Mata Hari -- "cerita tentang wanita yang 'dijual' untuk kepentingan politik ke dalam perbudakan seksual", dan satu judul yang menyimpulkan seluruh cerita tersebut adalah "notorious" (tercemar). Meskipun cerita pendek tersebut adalah titik awal dari inspirasi Hitchcock, cerita selanjutnya adalah 100% Hitchcock. Dalam biografinya disebutkan Notorious adalah usaha pertama Hitchcock -- pada usia 46 tahun -- menggunakan bakatnya untuk menyusun kisah cinta yang serius. Juga disebutkan Notorious adalah film pertama Hitchcock yang sempurna, yang dipenuhi emosi, struktur, dan arti.

Cerita dimulai dengan Alicia Huberman (Ingrid Bergman) keluar dari ruang pengadilan setelah ayahnya (seorang keturunan Jerman) ditemukan bersalah telah mengkhianati negara. Untuk melupakan hal tersebut Huberman menghabiskan waktu minum-2 dengan teman-2nya. Di pesta tersebut dia berkenalan dengan seorang pria bernama Devlin (Cary Grant), yang ternyata seorang agen CIA. Devlin mengetahui masa lalu Huberman yang suka gonta-ganti pasangan; dan Huberman curiga Devlin menginginkan sesuatu dari dirinya, khususnya yang berkaitan dengan ayahnya. Devlin menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu -- tanpa mengetahui detil keseluruhannya -- boss-nya menawarkan tugas kepada Huberman untuk memata-2i teman-2 ayahnya yang sekarang beroperasi di Rio de Janeiro. Dari penyadapan yang mereka lakukan, mereka mengetahui bahwa Huberman mempunyai perbedaan pendapat dengan ayahnya. Selain itu, Devlin menjanjikan bahwa jika dia bersedia membantu, dia dapat membantu meringankan hukuman ayahnya. Huberman setuju, dan mereka terbang ke Rio. Dalam penerbangan tersebut, Devlin memberitahu Huberman bahwa ayahnya telah meninggal dunia pagi itu karena bunuh diri.

Nuansa manipulasi dan ketidakpercayaan antara Huberman dan Devlin menjadi tema utama dalam film ini.

Cary Grant & Ingrid Bergman
Setiba di Rio, Huberman dan Devlin jatuh cinta. Ketika boss-nya menjelaskan detil keseluruhan dari tugas tersebut, Devlin menjadi gundah, karena implikasi dari tugas tersebut mengharuskan Huberman mendekati salah satu dari teman-2 ayahnya, Alex Sebastian (Claude Rains), yang ternyata mempunyai masa lalu dengannya. Devlin menyampaikan detil tugas tersebut ke Huberman dan membiarkan dia mengambil keputusan sendiri (sikap dinginnya ini dapat diartikan sebagai ketidakpercayaan Devlin terhadap cinta Huberman, atau ungkapan frustrasinya atas apa yang diminta boss-nya dari Huberman). Huberman bertanya ke Devlin, apakah dia sebaiknya menerima tugas tersebut atau tidak. Tidak bersedia mengungkapkan isi hatinya, Devlin menjawab dengan sinis bahwa mempertimbangkan masa lalunya sangatlah mudah bagi Huberman untuk menjalankan tugas tersebut. Melihat sikap Devlin yang dingin dan tidak peduli, Huberman menerima tugas tersebut.

Dengan setup yang sederhana, Huberman bertemu dengan Sebastian -- dan segera setelah itu mereka menjadi pasangan. Sebastian curiga terhadap Devlin, yang selalu muncul di mana saja mereka berada, tetapi Huberman dengan cepat menyangkal bahwa dia adalah pacar lama. Sebastian bertanya, kalau memang betul Devlin tidak mempunyai arti apa-2 lagi, bersediakah dia mengawininya? Sekali lagi, Devlin menjadi gundah, tetapi sikapnya yang tidak mempercayai cinta Huberman, atau ungkapan frustrasinya atas apa yang diminta boss-nya dari Huberman membuat Devlin pura-2 tidak peduli terhadap Huberman. Sekali lagi, melihat sikap Devlin yang dingin dan tidak peduli, Huberman menerima lamaran Sebastian tersebut. Setelah menikah, Huberman melaporkan ke Devlin bahwa satu-2nya tempat di rumah Sebastian yang dia tidak dapat masuk adalah wine cellar (ruang penyimpanan anggur), dan hanya Sebastian yang mempunyai kunci ke ruang tersebut. Devlin menyarankan Huberman untuk meminta kepada suaminya untuk mengadakan pesta ... dan considered dia diundang, sehingga dia dapat datang dan menyelinap masuk ke ruang tersebut.

Suasana film berubah total dengan pesta tersebut. Romans dan rasa frustrasi antara Huberman dan Devlin sirna dan diganti dengan suspense ... total suspense! Pertama, Huberman harus mencuri kunci dari Sebastian. Kedua, ketika pesta berlangsung, mereka harus menyelinap masuk ke wine cellar. Suspense meningkat ketika para tamu meminum champagne lebih cepat dari yang diharapkan, yang berarti Sebastian harus pergi ke wine cellar untuk mengambil botol-2 anggur lagi. Devlin menyelinap masuk ke ruang tersebut dan secara tidak sengaja menjatuhkan satu botol anggur, yang ternyata tidak berisi anggur, tetapi pasir berwarna hitam. Dia mengambl sebagian pasir tersebut dan secepatnya membersihkan pecahan botol tersebut. Sebelum mereka sempat kembali ke ruang pesta, Sebastian melihat mereka ... Devlin secepatnya mencium Huberman, pura-2 sedang affair dengannya. Sebastian terkejut, tetapi Devlin langsung minta maaf dan mengundurkan diri. Sebastian terkejut lagi ketika dia menemukan kunci ke wine cellar hilang dari gantungan kuncinya. Sebastian mulai mencurigai Huberman dan Devlin. Keesokan harinya, kunci yang hilang tersebut tiba-2 muncul kembali di gantungan kuncinya. Ketika Sebastian memeriksa wine cellar, dia menemukan pecahan botol yang disembunyikan di bawah rak anggur ... bukti yang cukup yang menunjukkan bahwa Huberman dan Devlin adalah mata-2 musuh.

Khawatir teman-2 Nazinya akan membunuhnya jika mereka mengetahui hal tersebut, ibu Sebastian (Leopoldine Konstantin) menyarankan untuk melenyapkan Huberman secara pelan-2, yaitu dengan meracuninya. Segera setelah itu Huberman mulai sakit-2an, dan ketika dia akhirnya tidak dapat lagi menemui Devlin, Devlin menjadi curiga. Devlin akhirnya datang ke rumah Sebastian dan menemukan Huberman terbaring sakit di tempat tidurnya. Huberman mengatakan bahwa dia telah diracun dan terlalu lemah untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Devlin akhirnya mengakui cintanya terhadap Huberman dan membawanya keluar dari kamarnya. Ketika mereka turun dari tangga, Sebastian mencegat mereka -- tetapi karena teman-2 Nazinya menyaksikan apa yang sedang terjadi, Sebastian tidak dapat mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi. Devlin dan Huberman akhirnya berhasil meninggalkan rumah Sebastian, meninggalkan Sebastian di tangan teman-2nya yang curiga dengan situasi yang baru saja terjadi.

Notorious adalah kisah cinta yang serius dan gelap, yang terjalin rapi dalam konteks espionase, dengan Grant dan Bergman sebagai mata-2 yang mungkin paling glamorous dalam sejarah perfilman -- kharisma dan chemistry di antara mereka menjamin 'ledakan' di box office setara dengan ledakan bom atom. Satu tema yang meliputi Notorious adalah kepercayaan, yaitu kepercayaan yang tidak diberikan atau kepercayaan yang diberikan terlalu mudah. Hitchcock dan penulis script Ben Hecht menempatkan romans dalam konteks espionase, dimana eksploitasi kepercayaan menjadi ciri utama dalam tugas mereka. Devlin membutuhkan waktu lama untuk memberikan kepercayaan tersebut, sedang Sebastian sebaliknya memberikannya dengan terlalu mudah -- dan dia akhirnya harus membayar dengan harga yang mahal. Cerita menunjukkan kebutuhan wanita untuk dipercaya dan dicintai, dan pria untuk membuka dirinya terhadap cinta.

Notorious adalah satu dari film-2 Hitchcock yang memiliki visual yang indah -- dengan shot-2 kamera yang diletakkan pada posisi yang strategis. Dalam scene awal, ketika Huberman terbangun setelah semalaman mabuk, kita melihat Devlin berdiri di pintu kamar tidurnya, terbalik 180 derajat, dengan kamera diletakkan pada POV (point of view) Huberman. Dua scene paling terkenal dalam film ini adalah: 1) Scene ciuman antara Huberman dan Devlin, dimana Hitchcock berhasil mengelabui aturan sensor yang melarang ciuman yang lebih dari tiga detik, yaitu dengan membuat Huberman dan Devlin berciuman secara berhenti-2, tetapi kontinyu selama 2,5 menit -- membuat scene ini lebih erotis daripada satu ciuman yang lebih dari tiga detik, 2) Scene pesta di rumah Sebastian, dimana kamera diletakkan di atas katrol, mengambil gambar dari lantai atas, kemudian secara perlahan-2 zoom-in ke lantai bawah, dan melanjutkan close-up ekstem ke tangan Huberman yang memegang kunci. Tidak disangsikan lagi, Notorious adalah film yang di-choreograph dengan indah.

Notorious juga ditandai dengan cast yang gemilang. Cary Grant, superstar romantik komedi, menampilkan kemampuan aktingnya yang lain dari biasanya dengan memainkan peran gelapnya di sini -- setelah peran gelapnya di thriller psikologis, Suspicion (1941). Grant memerankan Devlin, hero yang tidak simpatik, dingin dan manipulatif -- menjebak wanita yang dia cintai ke dalam pelukan pria lain. Claude Rains, aktor karakter berpengalaman, memainkan peran Sebastian dan mentransformasi peran tersebut ke dalam villain Hitchcock yang klasik: simpatik, multi-dimensional, dan in some ways ... terhormat seperti seorang protagonist. Sedang Leopoldine Konstantin, aktres veteran dari Jerman, memainkan peran ibu Sebastian dan menyediakan keberadaan yang mengancam dalam rumah tangga Sebastian yang membuat dirinya sebagai salah satu dari villain-2 Hitchcock yang paling gelap -- membuat Sebastian nampak semakin simpatik. Karakterisasi untuk cast pendukung yang lain juga menyediakan detil yang menarik, misalnya ketika Huberman pertama kali datang ke rumah Sebastian, dia disambut dengan agen-2 Nazi sementara musik klasik dari Schumann dan Chopin melantun merdu -- walaupun jahat, mereka mempunyai selera artistik yang tinggi :-) Grant dan Bergman mempunyai chemistry yang luar biasa -- scene romans mereka, pada jamannya, dapat dianggap sangat berani dan seksi. Tetapi pujian jatuh ke Rains, penampilannya yang penuh penghayatan berhasil memanusiakan karakternya -- memberinya gambaran yang komplit: multi-dimensional, riel dan kompleks.

Secara pribadi, tiga scene yang paling menghantui dari film ini adalah:
3) Ketika Huberman mengetahui bahwa dirinya diracun, tetapi terlalu lemah untuk melawan ketika dia dibawa ke tempat tidurnya.
2) Ketika Devlin membawa Huberman keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga, dan akhirnya meninggalkan rumah Sebastian. Siapa bilang Hitchcock tidak romantis? Scene ini betul-2 romantis.
1) Ketika Sebastian dengan perasaan takut berjalan masuk ke rumahnya, sementara teman-2 Nazinya menunggu di pintu rumahnya, dan kemudian menutup pintu tersebut.

Notorious tampil pertama kali di Radio City Music Hall, New York pada bulan Agustus 1946 dan langsung menjadi hit di kalangan awam dan kritikus film; sekarang, Notorious tetap bertahan di posisi atas sebagai hit untuk penonton baru. Hitchcock gembira menerima resensi positif dari para kritikus film tersebut, tetapi satu resensi yang membuat dia especially gembira adalah resensi dari kritikus film favoritnya, yaitu anak perempuannya sendiri, Patricia. Di antara semua film ayahnya, Notorious adalah film favoritnya. Dalam biografi ayahnya, Patricia mengatakan:
What a perfect film!
The more I see Notorious, the more I like it.

Pada tahun 2006, Notorious terpilih masuk dalam United States National Film Registry sebagai film yang "culturally, historically, or aesthetically significant."

Menerima nominasi Academy Award untuk:
  • Best Actor in a Supporting Role (Claude Rains)
  • Best Writing, Original Screenplay (Ben Hecht)

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Notorious dapat anda temukan di eBay.com

Sunday, 2 October 2011

Spellbound

Resensi Film: Spellbound (***/4)

Tahun Keluar: 1945
Negara Asal: USA
Sutradara: Alfred Hitchcock
Cast: Ingrid Bergman, Gregory Peck, Michael Chekhov, Leo G. Carroll

Plot: Seorang psikiater berusaha mengembalikan ingatan seorang pasien amnesia yang dicurigai melakukan pembunuhan (IMDb).

Alfred Hitchcock pernah berkata:
Spellbound adalah cerita kejar-2an yang dibungkus dalam pseudo-psychoanalysis. Ceritanya kompleks dan saya menemukan penjelasan menuju akhir film cukup membingungkan.

Hmmm ... kalau Hitchcock sendiri terkesan kurang antusias dengan Spellbound, ini terjadi karena alasan-2 yang dapat dimengerti.

Setelah meminjamkan Hitchcock ke produser-2 yang lain, kali ini David O. Selznick menginginkan dia mengerjakan proyek barunya, yaitu adaptasi dari novel thriller psikologis berjudul The House of Dr. Edwardes karya Francis Beeding. Selznick "menyodorkan" proyek ini ke Hitchcock. Saat itu Selznick baru saja menjalani terapi psychoanalysis dengan seorang psikiater bernama Dr. May E. Romm dan sangat puas dengan hasilnya -- sedemikian puasnya sampai-2 dia mengangkat psikiater tersebut sebagai anggota crew (sebagai konsultan atau penasehat ahli). Kembali bekerja di bawah Selznick -- manajer mikro yang menginginkan segala sesuatunya sesuai dengan caranya -- mempunyai arti Hitchcock sedikit banyak kehilangan kebebasan artistiknya sebagai sutradara. Namun demikian, kompensasi dari "pengorbanan" tersebut adalah Hitchcock memperoleh bintang ternama, Ingrid Bergman, yang saat itu juga berada di bawah kontrak Selznick.

Spellbound adalah salah satu dari beberapa film Hitchcock yang pamornya turun dengan berjalannya waktu. Ini disebabkan karena ceritanya bertumpu pada ide dream analysis (analisis mimpi) yang pada saat film ini dibuat sangat populer, tetapi sekarang tidak diakui keefektifannya. Akibatnya, penonton masa kini merasa plot psychoanalysis yang ada kurang substansinya dan lemah kredibilitasnya -- amnesia dapat disembuhkan dengan analisis mimpi? mimpi dapat dianalisis? roda adalah simbol dari pistol? tujuh clubs memberi angka 21? dan angka 21 adalah simbol dari klub 21 di New York??? Penulis script ternama Ben Hecht tidak dapat menolong film ini dari kelemahan-2 tersebut, sedemikian rupa sampai film ini terasa lebih sebagai parodi daripada cerita yang riel. Namun demikian, Spellbound bukanlah film yang tidak memiliki elemen-2 menarik dalam aspek-2 yang lain -- Hitchcock adalah seorang profesional yang mampu mengesampingkan urusan pribadinya dengan Selznick demi kesuksesan film ini.

Gregory Peck & Ingrid Bergman
Cerita dimulai di rumah sakit jiwa, Green Manors, dimana Dr. Petersen (Ingrid Bergman) bekerja. Menurut Dr. Fleurot (John Emery), Petersen tidak akan pernah menjadi psikiater yang baik, yang betul-2 memahami jiwa manusia, sebelum dia mengenal cinta. Seraya memeluk Petersen dan mengharap ketertarikannya berbalas, Fleurot berkata: tidaklah cukup memahami jiwa manusia dari text-book saja. Sayangnya Peterson tidak tertarik terhadap Fleurot. Sementara itu direktur RS yang ada, Dr. Murchison (Leo G. Carroll), setelah mengalami gangguan mental, terpaksa mengundurkan diri dari posisinya dan digantikan oleh Dr. Edwardes (Gregory Peck). Ketika Edwardes tiba di Green Manors, banyak yang tidak menyangka kalau dia ternyata masih muda. Dalam waktu sekejap, Petersen jatuh cinta dengan Edwardes yang rupawan, demikian juga sebaliknya.

Beberapa saat kemudian, Petersen mulai mencium keganjilan dalam diri Edwardes -- dia dengan mudah menjadi kalap karena hal-2 yang sederhana. Dalam satu kesempatan, ketika mereka berada di ruang operasi, Edwardes menjadi kalap dan pingsan. Petersen diam-2 menemukan, dengan membandingkan tanda tangannya dan tanda tangan Edwardes dalam text-booknya, bahwa dia ternyata bukan Edwardes yang sesungguhnya. Petersen bertanya: siapa dirinya? Dia mengatakan bahwa dia mengalami amnesia dan tidak ingat siapa dirinya atau bagaimana dan mengapa dia mengambil identitas Edwardes. Dia menerka-2 -- ada kemungkinan dia telah membunuh Edwardes dan mengambil identitasnya. Dia kemudian menunjukkan kotak rokok dengan inisial "JB" -- ada kemungkinan dia adalah JB, tetapi tidak ingat singkatan apa JB itu. Pada saat yang bersamaan, sekretaris Edwardes yang sesungguhnya datang ke Green Manors untuk mencari bossnya. Dia menunjukkan foto bossnya ... kontan saja seluruh staf di Green Manors terkejut karena dokter yang mengaku Edwardes ternyata bukan Edwardes yang sesungguhnya. Polisi kemudian turun tangan dan mengejar JB untuk dimintai keterangan tentang keberadaan Edwardes yang sesungguhnya.

Sebelum polisi sempat menangkapnya, JB melarikan diri ke New York. Petersen, sudah terlanjur cinta padanya, menyusul JB dan berusaha membantunya dengan menelusuri kembali masa lalunya. Pelarian mereka membawa mereka ke Dr. Brulov (Michael Chekhov), bekas dosen Petersen. Sesampai di sana, Petersen minta tolong kepada Brulov untuk menangani kasus amnesia JB. Dari mimpi yang menghantui JB, Brulov dan Petersen menganalisis mimpi tersebut dan berhasil memperoleh clue tentang lokasi dimana JB bertemu dengan Edwardes. Petersen kemudian mengantar JB ke lokasi tersebut dan merekonstruksi kejadian yang sama untuk membangkitkan kembali ingatannya. Ketika mereka melakukan rekonstruksi tersebut, terungkap bahwa JB pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya saudara kandungnya. Sejak peristiwa itu JB menderita guilt complex -- yaitu, situasi kejiwaan dimana dia mempersalahkan dirinya atas kejadian yang bukan kesalahannya. Terungkap pula, kecelakaan yang sama juga menimpa Edwardes. Mereka kemudian melaporkan hal tersebut ke polisi. Beberapa saat kemudian polisi mengkonfirmasi bahwa mereka menemukan jasad Edwardes di tempat yang mereka sebutkan, tetapi Edwardes ternyata tidak tewas karena kecelakaan, tetapi karena tembakan. JB, sekarang ingat namanya adalah John Ballantyne, menjadi tertuduh dan ditahan polisi.

Tidak dapat lagi menolong Ballantyne, Petersen kembali ke Green Manors dengan putus asa. Ketika Dr. Murchison menyambutnya, Murchison tanpa disengaja mengatakan bahwa dia pernah mengenal Edwardes. Petersen terkejut karena Murchison sebelumnya mengatakan bahwa dia tidak pernah mengenal Edwardes. Petersen kemudian menganalisis mimpi Ballantyne sekali lagi. Kali ini dia menyimpulkan bahwa Murchison-lah orang bertopeng dalam mimpi Ballantyne yang menghardik Edwardes. Ketika Petersen mengkonfrontasi Murchison tentang hal tersebut, Murchison akhirnya mengaku bahwa dialah yang membunuh Edwardes ... dia kemudian menodongkan pistolnya ke Petersen.

Bagian paling menarik dari Spellbound adalah sequence mimpi bergaya ekspresionis yang mengesankan, yang didesain oleh pelukis surealis ternama, Salvador Dalí -- sayangnya tidak diarahkan oleh Hitchcock, tetapi oleh William Cameron Menzies, sutradara film science fiction klasik Things To Come (1936). Namun demikian, sequence mimpi tersebut tetap memiliki sentuhan Hitchcock, misalnya kartu tujuh clubs yang berukuran jumbo -- sebuah trik kamera yang membuat kartu tersebut dapat dibaca oleh penonton dan menambah kualitas keanehan dari mimpi tersebut. Sequence mimpi ini adalah titik artistik tertinggi dalam film ini.

Selain itu, tema orang tidak bersalah menjadi tertuduh adalah tema favorit Hitchcock, dimana pemeran utama wanita harus mengungkap misteri yang ada untuk menyelamatkan pemeran utama pria -- membuat cerita menjadi menarik dan penuh suspense. Hitchcock juga mengambil shot-2 dari sudut-2 yang berani, misalnya ketika JB melihat calon korbannya dari gelas susu yang dia minum, dan ketika Murchison menodongkan pistolnya ke Petersen, sebelum akhirnya mengarahkannya ke dirinya sendiri (untuk membuat efek yang mulus, Hitchcock menggunakan model, sehingga gerakannya dapat berbalik dengan mulus). Sentuhan Hitchcock tampil di sana sini, misalnya ketika Ballantyne akhirnya teringat kembali tentang kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya saudara kandungnya, dan ketika Ballantyne dan Petersen berciuman untuk pertama kalinya.

Ingrid Bergman dan Gregory Peck memiliki chemistry yang baik -- Bergman tampil mengesankan, dia memberi kehangatan yang pas pada cerita yang ada, dan transformasinya dari psikiater yang dingin ke kekasih yang hangat cukup meyakinkan; sedang Peck tampil rada kaku, mungkin karena karakternya yang menghabiskan sebagian besar waktunya menggaruk-2 kepala seraya berusaha mengingat siapa dirinya, kemudian pingsan. Sedang Michael Chekhov berhasil mencuri centre stage dengan penampilan no-nonsense-nya sebagai Dr. Brulov. Sentuhan jenius yang lain dalam film ini adalah musical score dari Miklós Rózsa yang catchy, yang mengiringi naik turunnya ketegangan dalam film ini secara pas (memenangkan satu-2nya Oscar untuk film ini)

Ketika pertama kali dikeluarkan, Spellbound meraih popularitas yang tinggi di antara penonton dan para kritikus film.

Memenangkan Academy Award untuk:
  • Best Music, Scoring of a Dramatic or Comedy Picture (Miklós Rózsa)

Menerima nominasi Academy Award untuk:
  • Best Actor in a Supporting Role (Michael Chekhov)
  • Best Cinematography, Black-and-White (George Barnes)
  • Best Director (Alfred Hitchcock)
  • Best Effects, Special Effects (Jack Cosgrove)
  • Best Picture (Selznick International Pictures)

Cerita (***)
Screenplay (***)
Karakter (***)
Akting (***1/2)

Keseluruhan: ***/4

Spellbound dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 5 October 2010

Autumn Sonata

Movie Review: Autumn Sonata (Höstsonaten) (***1/2 out of 4 stars)

Year of Release: 1978
Country of Origin: France, West Germany, Sweden
Director: Ingmar Bergman
Cast: Ingrid Bergman, Liv Ullmann, Lena Nyman, Halvar Björk

Plot outline: A world famous pianist Charlotte visits her daughters she's neglected for years (IMDb).

The story (***1/2)
How the story unfolds (***1/2 The movie takes the form of a sonata itself, with the resounding central movement filled with sound and fury worthy of Beethoven, as Charlotte and her daughter Eva spend a long night releasing their pride and prejudice, their bitterness and regret. By morning, their fury quenched, each has arrived at a degree of tolerance, and at a recognition of the common bonds that tie one to the other.)
The characters (***1/2)
The dialogue (***1/2)
The acting (***1/2)

Bergman once said, “We go away from our parents in youth and then we gradually come back to them; and in that moment, we have grown up.” Autumn Sonata is the consummate illustration of that thought.

Overall rating ***1/2 out of 4 stars

Friday, 14 August 2009

The Bells of St. Mary's

Movie Review: The Bells of St. Mary's

Year of Release: 1945
Country of Origin: USA
Director: Leo McCarey
Cast: Bing Crosby, Ingrid Bergman

Plot outline: A liberal priest tries to soften the strict nun running St. Mary's school (IMDb).

The Bells of St. Mary's is sentimental hokum shrewdly put together where songs are sung, heartstrings are tugged and everyone walks away feeling good about these caring church people. Not that viewers will care. Bing Crosby is young, unfailingly pleasant, and has a booming deep voice, which he uses on several occasions: "Adeste Fidelis," "In the Land of Beginning Again," and the uplifting "Aren't You Glad You're You." Ingrid Bergman is lovely and nice, exactly as her audiences wish to see her. The performances by the two stars are seamless. The kids are ridiculously well-behaved, save for the bully kid with few speaking lines, and a brief appearance by a mean-spirited schoolgirl who is actually jealous of sad-sack Patsy. In short, the movie is a family movie made to warm the hearts of its viewers. The good news is that it does so with such skill that even the occasional cold-hearted critic that takes a swipe at it has to admit that it is a pretty good movie at that. Leo McCarey's aunt was the nun who was the inspiration for Sister Benedict, and the one that inspired Bergman when she met with her to research her role. (BK)

My judgement: *** out of 4 stars

Sunday, 5 July 2009

Indiscreet

Movie Review: Indiscreet

Year of Release: 1958
Country of Origin: UK
Director: Stanley Donen
Cast: Cary Grant, Ingrid Bergman

Plot outline: A tycoon pretends to be married while courting a beautiful actress (IMDb).

Based on Norman Krasna's successful play, "Kind Sir" (with Krasna here supplying his own script adaptation), Indiscreet takes over an hour to move from a hearts-and-flowers romantic piffle to a comedy, with far more subdued results considering the cast and crew involved. The script fills Indiscreet with those fake society matrons and old-world politicians and businessmen that only exist in the movies, but then fails to capitalize on the stereotypes, making Indiscreet a seemingly endless ordeal of pointless blather. Matching the inert script every step of the way, director Stanley Donen plants his camera firmly at a mid-two-shot, and lets the actors recite their lines; it's an exceedingly boring visual design, with an emphasis on close-ups to maximize the film's star power. As for those stars, it's obvious that Grant and Bergman, so memorably paired twelve years before in one of Hitchcock's masterpieces, Notorious!, have a certain chemistry together. But very little in the leaden script allows them to strike sparks together. Bergman, a tad stolid in her take on a world-famous actress, seems in good spirits, which isn't surprising when you consider Indiscreet was a big boost in her campaign to return to the good graces of the American public after the Rossellini scandal. Grant, looking drawn and tired in his early scenes, is tightly controlled as Philip, offering an obvious surface performance that no doubt met the requirements of what audiences expected from "a Cary Grant performance," but which offers little in the way of energy or nuance. A criminally slow start focusing on the patently phony romance (watch both of them literally sigh at each other in one scene) with a less-than-inspired denouement (and with too few genuine chuckles), add up to a whole lot of nothing in Indiscreet, a vapid, boring trifle overmatched by the underutilized skills of its stars. (PM)

My judgement: ** out of 4 stars

Monday, 2 March 2009

For Whom the Bell Tolls

Movie Review: For Whom the Bell Tolls

Year of Release: 1943
Country of Origin: USA
Director: Sam Wood
Cast: Gary Cooper, Ingrid Bergman, Akim Tamiroff, Arturo de Córdova, Vladimir Sokoloff

Plot outline: A U.S. mercenary, Robert Jordan, and an army of peasants fight for Spanish Republic in the 1930s civil war (IMDb).

With such fidelity to the original that practically nothing was left out except all of the unmentionable language and the more intimate romantic scenes, Ernest Hemingway's wonderful novel of the Spanish civil war, "For Whom the Bell Tolls," is brought to the screen in all its richness of color and character. In spite of its almost interminable and physically exhausting length - it takes two hours and fifty minutes to cover less than four days in a group of people's lives - and in spite of some basic detruncations of the novel's two leading characters, the movie vibrates throughout with vitality and is topped off with a climax that's a whiz. The emphasis is primarily upon the conflict within the band of loyalist Spanish guerrillas to whom Robert Jordan goes for aid in his perilous mission to blow up an enemy bridge. And the study of character among those Spaniards, the definition of the braves and the cowards, is the matter of absorbing interest for at least two-thirds of the movie. The rest is the tingling action-business of the calculated blowing of the bridge, which is as tense and vivid melodrama as anyone could normally stand. In their fidelity to the novel, the script and the direction were overzealous, if anything, and lingered too long over matters which might have been profitably compressed. The script caught the flavor and the spirit of the novel handsomely, and the direction gained an intimacy with the characters through constant close-ups which is well-nigh unique. The quality of their work is flawless. However, the superb characterizations are the outstanding merit of the movie. Gary Cooper as Robert Jordan and Ingrid Bergman as Maria are fine, though limited in their opportunities. Bergman is perhaps a shade too gay. But Katina Paxinou as Pilar, the rugged Spanish woman who is the tower of strength, is a marvel of tenderness and violence, the Spanish peasant character in fluid mass. And Akim Tamiroff as Pablo is a masterpiece of dark and devious moods, as fine an expression of animal treachery and human pride as has ever been put on the screen. Likewise, Vladimir Sokoloff as Anselmo, the aged man of iron; Joseph Calleia as El Sordo, the invincible; Mikhail Rasumny as Rafael, the gypsy clown; Fortunio Bonanova as Fernando, the realist, and many more perform excellently. (NYT)

My judgement: *** out of 4 stars

Friday, 27 February 2009

The Inn of Sixth Happiness

Movie Review: The Inn of Sixth Happiness

Year of Release: 1958
Country of Origin: USA
Director: Mark Robson
Cast: Ingrid Bergman, Curd Jürgens, Robert Donat

Plot outline: A true story of Gladys Aylward, a tenacious British maid, who became a missionary in China during the tumultuous years leading up to World War II (IMDb).

Ingrid Bergman's capacity to convey a sense of supreme sincerity with little more to work with in the way of a character than a simple and wholesome facade is touchingly demonstrated in this movie. In it, the lovely Bergman, grown a bit matronly and plump, plays an English housemaid who goes to China in the Nineteen Thirties. Through patience, enterprise and sincerity, she is able to win her way into the confidence of the superstitious natives and of the haughty mandarin, who initially puts a variety of sutble obstacles in her way. The script, adapted from the biography of Gladys Aylward entitled "The Small Woman", unfortunately provided no clarification as to what makes the heroine tick. The justification of her achievements is revealed by no other displays than those of Bergman's mellow beauty, friendly manner and melting charm. Her not-so-small woman is most appealing, but she is still just a sturdy facade. Curd Jürgens is remarkedly gracious as the Chinese army officer and Robert Donat is refined and regal as the aged mandarin. Athene Seyler gives a warm and wry performance as the missionary, and Ronald Squire and Moultrie Kelsall are "veddy propah" as old China hands. The settings and outdoor scenery are fine, giving a striking illusion of China, even though filmed in Wales. They provide a real and rugged background for the long trek of the kids, which is the most credible, moving and memorable adventure in the movie. (NYT)

My judgement: **1/2 out of 4 stars

Tuesday, 29 July 2008

Casablanca

Movie Review: Casablanca

Year of Release: 1942
Country of Origin: USA
Director: Michael Curtiz
Cast: Humphrey Bogart, Ingrid Bergman, Paul Henreid, Claude Rains

Plot outline: Set in unoccupied Casablanca in western Morocco during the early days of World War II, an American expatriate meets a former lover, with unforeseen complications (IMDb).

The 1940s is the golden years of Hollywood and Casablanca is certainly the pinnacle of it and most likely of all time. What make this movie so great and timeless - it still captivates the audience even after more than six decades? I can see at least five elements that contribute to its greatness and timelessness: the story, the setting, the script, the characters and the performances. The story is multi-layered, people are always captivated by the story of hope and despair, which is perfectly set in exotic Casablanca and beautifully narrated at the beginning of the movie:

With the coming of the Second World War, many eyes in imprisoned Europe turned hopefully, or desperately, toward the freedom of the Americas. Lisbon became the great embarkation point. But, not everybody could get to Lisbon directly, and so a tortuous, roundabout refugee trail sprang up - Paris to Marseilles ... across the Mediterranean to Oran ... then by train, or auto, or foot across the rim of Africa, to Casablanca in French Morocco. Here, the fortunate ones through money, or influence, or luck, might obtain exit visas and scurry to Lisbon; and from Lisbon, to the New World. But the others wait in Casablanca ... and wait ... and wait ... and wait.

But not only that, Casablanca is also the story of love and sorrow, which is brilliantly performed by Humphrey Bogart as resilient, yet hurt and tough, yet sentimental Rick Blaine. The characters are also multi-layered, they real - not black and white, as mentioned before, Rick Blaine or Claude Rains as corrupt, yet independent Captain Renault, which is brilliantly performed and perfectly scripted in witty dialogue throughout the movie:

Rick: How can you close me up? On what grounds?
Captain Renault: I'm shocked, shocked to find that gambling is going on in here!
Croupier [a croupier hands Renault a pile of money]: Your winnings, sir!
Captain Renault [sotto voce]: Oh, thank you very much.
Captain Renault [aloud]: Everybody out at once!

And who can forget the chemistry between Humphrey Bogart and Ingrid Bergman as Ilsa Lund? It's magic! Or Dooley Wilson with his classic songs: "As Time Goes By", "It Had to Be You" and "Knock On Wood". Or the legendary scene of "The Battle of the Anthems" when the German officers take over Rick's place and sing "Die Wacht am Rhein" and Paul Henreid as Victor Laszlo then goes to the orchestra leader and asks him to lead "La Marseillaise". It's mesmerizing! I found not even a thousand words can fully describe the greatness of this movie, from start to finish. It wins three Oscars and gets five nominations. It's one of my personal favourites.

My judgement: **** out of 4 stars

Sunday, 6 April 2008

Murder on the Orient Express

Movie Review: Murder on the Orient Express

Year of Release: 1974
Country of Origin: UK
Director: Sidney Lumet
Cast: Albert Finney, Lauren Bacall, Martin Balsam, Ingrid Bergman, Jacqueline Bisset, Sean Connery, John Gielgud, Anthony Perkins, Vanessa Redgrave, Michael York

Plot outline: In 1935, when his train is stopped by deep snow, detective Hercule Poirot is called on to solve a murder occurred in his car the night before (IMDb).

If you like Agatha Christie's murder mystery, this movie is a must-see. Faithful to the plot of the book, this big screen adaptation of Christie's Murder on the Orient Express grips me as firmly as the book does. As a character-centered, dialogue-driven movie, this star-studded ensemble cast delivers delicious old-time eccentric personalities in a confined space. Albert Finney gives an impeccable performance as the little man with the moustache, Hercule Poirot. But, it is Ingrid Bergman who snatches the Oscar for Best Supporting Actress. Also not to be missed are the costumes and the cinematography.

My judgement: **1/2 out of 4 stars

Friday, 14 September 2007

Dr. Jekyll and Mr. Hyde

Movie Review: Dr. Jekyll and Mr. Hyde

Year of Release: 1931
Country of Origin: USA
Director: Rouben Mamoulian
Cast: Fredric March, Miriam Hopkins, Rose Hobart

Plot outline: Dr. Jekyll faces horrible consequences when he lets his dark side run wild with a potion that changes him into the animalistic Mr. Hyde (IMDb).



Year of Release: 1941
Country of Origin: USA
Director: Victor Fleming
Cast: Spencer Tracy, Ingrid Bergman, Lana Turner

Plot outline: Dr. Jekyll allows his dark side to run wild when he drinks a potion that turns him into the evil Mr. Hyde (IMDb).



I don't know how many times this story has been made into films, at least more than a dozen times. The original story "Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde" is created by well-known Scottish writer Robert Louis Stevenson (1850-1894); his other famous work includes: "Kidnapped" and "Treasure Island". The book is by far more complete and thorough than the films. The story sets in London in Victorian era (the time when Industrial Revolution reached its height) about a young respectable doctor named Dr. Henry Jekyll who believes the duality of man's nature: a constant struggle between good and evil. In order to prove his theory, he carries out research and develops a formula that can separate and isolate each of the qualities. He tests the formula on himself and he successfuly releases his evil side that transforms him into a wicked monster ... Mr. Edward Hyde. He then lives a double life as Dr. Jekyll who's a paragon of virtue and Mr. Hyde who's nothing but a murderous monster. Soon his evil side takes over his control of his whole self ... he then stays more and more often as Mr. Hyde. This Robert Louis Stevenson's classic was published at the same era as Sigmund Freud's theories of unconscious mind.

Among all the films about this story, there are two that I consider the best. Number 1 is "Dr. Jekyll and Mr. Hyde" which was released in 1931. The screenplay is superb (it received an Academy Award nomination for Best Writing) and the acting of Fredric March as Dr. Jekyll is as outstanding as his as Mr. Hyde (he won Best Actor in a Leading Role). Number 2 is the remake with the same title which was released in 1941. Spencer Tracy acts superbly as Dr. Jekyll, but he's not considered frightening enough as Mr. Hyde; while Ingrid Bergman plays wonderfully against type. However, the cinematography is superior than its predecessor ... it's always eerily beautiful to see the streets of London at foggy gothic nights in black and white (it received an Academy Award nomination for Best Cinematography).

My judgement:
***1/2 out of 4 stars for "Dr. Jekyll and Mr. Hyde" (1931).
*** out of 4 stars for "Dr. Jekyll and Mr. Hyde" (1941).