Cannes, France
Netherlands, Teddy Scholten, "Een beetje"
Showing posts with label 1950s. Show all posts
Showing posts with label 1950s. Show all posts
Wednesday, 11 March 2015
Tuesday, 10 March 2015
1958 Eurovision Winner
Hilversum, Netherlands
France, André Claveau, "Dors, mon amour"
Monday, 9 March 2015
1957 Eurovision Winner
Frankfurt, Germany
Netherlands, Corry Brokken, "Net als toen"
Sunday, 8 March 2015
Saturday, 24 May 2014
The Seventh Seal
The Seventh Seal ★★★★★
Silence ... kebisuan ...
“Faith is a torment. It is like loving someone who is out there in the darkness but never appears, no matter how loudly you call.”
Tahun Keluar: 1957
Negara Asal: Sweden
Sutradara: Ingmar Bergman
Cast: Max von Sydow, Bengt Ekerot, Gunnar Björnstrand, Nils Poppe, Bibi Andersson
Seandainya film ini keluar saat ini, jaman dimana religious revival (baca: zealotry) (fanatisme atau persaingan keagamaan) merebak luas, besar kemungkinan film ini akan dinilai kontroversial atau bahkan dilarang-putar di banyak tempat. Menunjukkan bahwa tema film ini masih terus relevan sampai saat ini. Untungnya (atau sebaliknya, sayangnya), tidak banyak penonton yang tahu tentang film klasik ini. Seluruh pendidikan agama yang penulis terima sejak kecil bertujuan menjadikan penulis beriman “teguh” atau “kuat”, artinya yakin 100%, tidak ada keraguan sedikitpun, tidak goyah sama sekali, ... pasrah bongkokan. Semua hasil yang tidak seperti ini akan dinilai sebagai kegagalan. Penulis bisa membayangkan seandainya penulis dulu mengatakan: “faith is a torment, it is like loving someone who is out there in the darkness but never appears, no matter how loudly you call,” kepada guru agama di sekolah, penulis pasti akan kena tegur, kena hardik, atau bahkan kena maki sebagai umat yang tidak beriman -- karena itu penulis mending diam saja :-) Kira-2 demikian juga pendidikan agama yang diterima Ingmar Bergman, apalagi sebagai anak dari seorang pendeta Lutheran. Hampir semua film drama Bergman berkisar pada ketidakpuasannya dengan cara Tuhan memilih menampilkan (dhi, tidak menampilkan) dirinya pada manusia. Pencarian spiritual ini menjadi pusat dari film-2 Bergman di puncak kariernya. The Seventh Seal mengawali periode ini, dimana dia bertanya, lagi dan lagi, mengapa Tuhan seakan-2 absen dari dunia. Di awal 1960-an, dia mengarahkan trilogi yang mengeksplorasi tema keimanan dan keraguan: Through a Glass Darkly (1961), Winter Light (1962), dan The Silence (1963).
Antonius Block (Max von Sydow), seorang prajurit, pulang dari perang salib di Yerusalem, menemukan negerinya merana dan rakyatnya sekarat gara-2 serangan wabah penyakit pes. Tidak lama kemudian, malaikat kematian (Bengt Ekerot) datang untuk menjemputnya.
Sebelum sang malaikat sempat merenggut nyawanya, Block -- mengetahui dari gambar-2 dinding di gereja bahwa sang malaikat gemar bermain catur, mengajukan tawaran kepada sang malaikat untuk bermain catur. Perjanjiannya: selama dia menang, dia boleh terus hidup. Sang malaikat setuju. Sambil mereka bermain catur, Block mulai bertanya-2 tentang Tuhan, dan sang malaikat tentang dirinya.
Suatu saat, ketika Block pergi mengaku dosa ke seorang imam di sebuah gereja kecil, dia menumpahkan segala kegelisahan hatinya:
Tidak bisa menanggapi kegelisahan Block, imam tersebut kemudian menoleh ke arahnya dan Block terkejut menemukan dia adalah malaikat kematian yang selama ini membuntutinya. Di saat lain, ketika Block bertemu dengan seorang wanita pesakitan yang dituduh berselingkuh dengan setan (maksudnya, tukang sihir) yang sedang menunggu hukuman matinya, dia bertanya pada wanita tersebut:
Akhirnya, ketika Block ter-skakmat oleh sang malaikat, dia bertanya lagi untuk terakhir kalinya, dan sang malaikat memberikan jawaban yang sama juga untuk terakhir kalinya, tetapi kali ini terdengar begitu mengejutkan:
Bergman dengan percaya diri mengakhiri film ini tidak dengan pernyataan atau klimaks, tetapi dengan gambar parade kematian -- sama aslinya seperti gambar malaikat kematian yang mengawali film ini; seperti sebuah film bisu -- suasana bisu yang menyelimuti film ini justru berkorelasi kuat dengan jawaban-2 atas pertanyaan-2 Block yang selama ini dia cari: silence, kebisuan ...
Didukung sinematografi hitam-putih kontras tajam yang menghantui dan desain produksi & dekorasi set yang detil tentang Eropa di abad pertengahan, kekuatan film ini terletak pada directness/kelugasan Bergman menyampaikan tema yang ingin dia sampaikan. Walaupun Bergman tidak menyediakan resolusi di akhir film, dia menawarkan rekonsiliasi di tengah film, yang menurut penulis adalah scene paling indah dari film ini, yaitu ketika pemain sirkus Jof (Nils Poppe), istrinya Mia (Bibi Andersson), dan anak laki-2nya Mikael berbagi makan malam sebaskom strawberry dan semangkok susu dengan Block, pembantunya Jöns (Gunnar Björnstrand), dan seorang gadis bisu. Untuk pertama kalinya dalam film ini Block terlihat bahagia. Sambil menikmati santapan sederhana tersebut Block mengatakan:
Mungkinkah ini adalah rekonsiliasi atas pencarian spiritual Block (Bergman) tersebut?
Klasik.
The Seventh Seal dapat anda temukan di eBay.com
Silence ... kebisuan ...
“Faith is a torment. It is like loving someone who is out there in the darkness but never appears, no matter how loudly you call.”
Tahun Keluar: 1957
Negara Asal: Sweden
Sutradara: Ingmar Bergman
Cast: Max von Sydow, Bengt Ekerot, Gunnar Björnstrand, Nils Poppe, Bibi Andersson
Seandainya film ini keluar saat ini, jaman dimana religious revival (baca: zealotry) (fanatisme atau persaingan keagamaan) merebak luas, besar kemungkinan film ini akan dinilai kontroversial atau bahkan dilarang-putar di banyak tempat. Menunjukkan bahwa tema film ini masih terus relevan sampai saat ini. Untungnya (atau sebaliknya, sayangnya), tidak banyak penonton yang tahu tentang film klasik ini. Seluruh pendidikan agama yang penulis terima sejak kecil bertujuan menjadikan penulis beriman “teguh” atau “kuat”, artinya yakin 100%, tidak ada keraguan sedikitpun, tidak goyah sama sekali, ... pasrah bongkokan. Semua hasil yang tidak seperti ini akan dinilai sebagai kegagalan. Penulis bisa membayangkan seandainya penulis dulu mengatakan: “faith is a torment, it is like loving someone who is out there in the darkness but never appears, no matter how loudly you call,” kepada guru agama di sekolah, penulis pasti akan kena tegur, kena hardik, atau bahkan kena maki sebagai umat yang tidak beriman -- karena itu penulis mending diam saja :-) Kira-2 demikian juga pendidikan agama yang diterima Ingmar Bergman, apalagi sebagai anak dari seorang pendeta Lutheran. Hampir semua film drama Bergman berkisar pada ketidakpuasannya dengan cara Tuhan memilih menampilkan (dhi, tidak menampilkan) dirinya pada manusia. Pencarian spiritual ini menjadi pusat dari film-2 Bergman di puncak kariernya. The Seventh Seal mengawali periode ini, dimana dia bertanya, lagi dan lagi, mengapa Tuhan seakan-2 absen dari dunia. Di awal 1960-an, dia mengarahkan trilogi yang mengeksplorasi tema keimanan dan keraguan: Through a Glass Darkly (1961), Winter Light (1962), dan The Silence (1963).
Antonius Block (Max von Sydow), seorang prajurit, pulang dari perang salib di Yerusalem, menemukan negerinya merana dan rakyatnya sekarat gara-2 serangan wabah penyakit pes. Tidak lama kemudian, malaikat kematian (Bengt Ekerot) datang untuk menjemputnya.
Antonius Block: “Who are you?”
Death: “I am Death.”
Antonius Block: “Have you come for me?”
Death: “I have long walked by your side.”
Antonius Block: “So I have noticed.”
Death: “Are you ready?”
Antonius Block: “My body is ready, but I am not.”
Sebelum sang malaikat sempat merenggut nyawanya, Block -- mengetahui dari gambar-2 dinding di gereja bahwa sang malaikat gemar bermain catur, mengajukan tawaran kepada sang malaikat untuk bermain catur. Perjanjiannya: selama dia menang, dia boleh terus hidup. Sang malaikat setuju. Sambil mereka bermain catur, Block mulai bertanya-2 tentang Tuhan, dan sang malaikat tentang dirinya.
Suatu saat, ketika Block pergi mengaku dosa ke seorang imam di sebuah gereja kecil, dia menumpahkan segala kegelisahan hatinya:
“My indifference has shut me out. I live in a world of ghosts, a prisoner of dreams. I want God to put out his hand, show his face, speak to me. I cry out to him in the dark but there is no one there.”
Tidak bisa menanggapi kegelisahan Block, imam tersebut kemudian menoleh ke arahnya dan Block terkejut menemukan dia adalah malaikat kematian yang selama ini membuntutinya. Di saat lain, ketika Block bertemu dengan seorang wanita pesakitan yang dituduh berselingkuh dengan setan (maksudnya, tukang sihir) yang sedang menunggu hukuman matinya, dia bertanya pada wanita tersebut:
Antonius Block: “Have you met the devil? I want to meet him too.”
Witch: “Why do you want to do that?”
Antonius Block: “I want to ask him about God. He must know. He, if anyone.”
Witch: “Look in my eyes. The priest could see him there, and the soldiers -- they would not touch me.”
Antonius Block: “I see nothing but terror.”
Akhirnya, ketika Block ter-skakmat oleh sang malaikat, dia bertanya lagi untuk terakhir kalinya, dan sang malaikat memberikan jawaban yang sama juga untuk terakhir kalinya, tetapi kali ini terdengar begitu mengejutkan:
Death: “When next we meet, the hour will strike for you and your friends.”
Antonius Block: “And will you reveal your secrets?”
Death: “I have no secrets.”
Antonius Block: “So do you know nothing?”
Death: “I AM UNKNOWING.”
Bergman dengan percaya diri mengakhiri film ini tidak dengan pernyataan atau klimaks, tetapi dengan gambar parade kematian -- sama aslinya seperti gambar malaikat kematian yang mengawali film ini; seperti sebuah film bisu -- suasana bisu yang menyelimuti film ini justru berkorelasi kuat dengan jawaban-2 atas pertanyaan-2 Block yang selama ini dia cari: silence, kebisuan ...
Didukung sinematografi hitam-putih kontras tajam yang menghantui dan desain produksi & dekorasi set yang detil tentang Eropa di abad pertengahan, kekuatan film ini terletak pada directness/kelugasan Bergman menyampaikan tema yang ingin dia sampaikan. Walaupun Bergman tidak menyediakan resolusi di akhir film, dia menawarkan rekonsiliasi di tengah film, yang menurut penulis adalah scene paling indah dari film ini, yaitu ketika pemain sirkus Jof (Nils Poppe), istrinya Mia (Bibi Andersson), dan anak laki-2nya Mikael berbagi makan malam sebaskom strawberry dan semangkok susu dengan Block, pembantunya Jöns (Gunnar Björnstrand), dan seorang gadis bisu. Untuk pertama kalinya dalam film ini Block terlihat bahagia. Sambil menikmati santapan sederhana tersebut Block mengatakan:
“I shall remember this moment: the silence, the twilight, the bowl of strawberries, the bowl of milk. Your faces in the evening light. Mikael asleep, Jof with his lyre. I shall try to remember our talk. I shall carry this memory carefully in my hands as if it were a bowl brimful of fresh milk. It will be a sign to me, and a great sufficiency.”
Mungkinkah ini adalah rekonsiliasi atas pencarian spiritual Block (Bergman) tersebut?
Klasik.
Tuesday, 22 April 2014
Witness for the Prosecution
Witness for the Prosecution ★★★★★
Witness for the Prosecution dapat anda temukan di eBay.com
Sempurna: Cerita, arahan, script, dialog, karakter, dan akting.
Tahun Keluar: 1957
Negara Asal: USA
Sutradara: Billy Wilder
Cast: Tyrone Power, Marlene Dietrich, Charles Laughton, Elsa Lanchester
Film ini adalah film Billy Wilder yang
menyejajarkan dirinya dengan Alfred Hitchcock -- tepat pada dekade dimana
Hitchcock juga berada pada puncak prestasinya: Strangers on a Train (1951),
Rear Window (1954), Vertigo (1958), North by Northwest (1959). Cerita karya Ratu Misteri Pembunuhan, Agatha Christie, ini
adalah medium yang ideal untuk menampilkan semua elemen Hithcockian: a fish out
of the water -- karakter utama yang bingung dan panik gara-2 terperosok ke
dalam situasi yang dia tidak mengerti, karakter-2 pendukung yang menarik dan
penuh intrik, misteri, witticism/humor, twist/unforeseen development -- faktor yang
luput dari pengamatan kita, dan tentu saja suspense.
Seorang veteran prajurit PD2, Leonard Vole (Tyrone
Power), ditangkap polisi dengan tuduhan membunuh Mrs. Emily French (Norma
Varden), seorang janda kaya berusia setengah baya yang menyimpan afeksi
terhadap Vole sedemikian dalamnya sampai-2 memasukkan dia sebagai pewaris utama
harta kekayaannya. Walapun tidak ada bukti yang konkret, semua circumstantial
evidence mengarah ke dirinya sebagai pembunuh. Baru saja sembuh dari sakit parahnya,
Sir Wilfrid Robarts (Charles Laughton),
seorang Q.C./pengacara terkemuka di London, mula-2 menolak menangani
kasus Vole ini, tetapi kemudian berubah pikiran (baca, merasa tertantang) --
melawan semua nasehat dan larangan dari perawat pribadinya, Miss Plimsoll (Elsa
Lanchester), setelah bertemu dengan istri Vole, Christine (Marlene Dietrich), seorang
wanita Jerman yang bernasib malang, tetapi “kaku”/“keras” dan tidak mau dikasihani. Maka disusunlah pembelaan
untuk Vole melawan semua circumstantial evidence yang mengarah ke dirinya.
Mengetahui aturan hukum bahwa istri tidak boleh menjadi saksi untuk suaminya,
Robarts terkejut ketika jaksa penuntut memanggil Christine sebagai saksi dan
membongkar masa lalu Christine yang ternyata sudah kawin dengan pria Jerman
ketika dia dulu tinggal di Jerman; membuat perkawinannya dengan Vole tidak sah,
membuat mereka bukanlah suami-istri, dengan demikian Christine harus menjawab
semua pertanyaan jaksa tentang Vole. Robarts semakin terkejut ketika Christine
justru memberi kesaksian yang memberatkan Vole! Biasanya seperti ikan hiu
yang memangsa buruannya, Robarts kali ini merasa sebaliknya: seperti buruan, dan
betul-2 pusing (baca, tertantang) berhadapan dengan wanita Jerman yang dia tidak
mengerti “manuver”-nya ini :-)
Adaptasi dari teater dengan judul yang sama,
Witness for the Prosecution adalah film yang tidak pernah membosankan ditonton
berulang-2, atau direview berulang-2. Walaupun Tyrone Power menempati first-billing,
star performance film ini terletak pada Marlene Dietrich, Charles Laughton, dan
dinamika antara Laughton dan Elsa Lanchester, yang dalam kehidupan nyata adalah
istrinya. Dietrich, satu dari sedikit aktres dari era film bisu yang sukses
bertahan melalui transformasi ke era baru film bersuara -- satu angkatan dengan
Greta Garbo dan Gloria Swanson, yang tampil dalam film klasik Wilder yang lain,
Sunset Boulevard (1950), berhasil dengan sangat baik memanfaatkan gaya
theatrical-nya yang khas, yang untuk ukuran film bersuara memang terasa “over the top”, tetapi di sini justru menguatkan
karakter Jermannya yang “asing”, “kaku”, dan “keras” untuk ukuran Anglo-Saxon, yang
sengaja ditonjolkan Wilder untuk membawa penonton melalui “roller-coaster”
perasaan: mula-2 membangkitkan antipati penonton terhadapnya, kemudian pertanyaan/misteri,
dan akhirnya simpati. Peran dan penampilan Dietrich betul-2 central dan pivotal
-- hanya akting yang luar biasa yang mampu mengubah opini penonton dari
antipati ke simpati. Christine Vole/Christine Helm dalam film ini adalah reprise
dari Norma Desmond dalam Sunset Boulevard. Laughton,
pemain watak dengan penampilan-2 iconic seperti Henry VIII dalam The Private
Life of Henry VIII (1933), Inspector Javert dalam Les Misérables (1935), dan Quasimodo dalam
The Hunchback of Notre Dame (1939), kebagian semua
dialog terbaik dalam scriptnya dan membawakannya dengan mudah dan meyakinkan.
Peran dan penampilan Laughton, sambil dia mondar-mandir kesana-kemari di
seluruh film pusing memikirkan kasusnya, betul-2 mengasyikkan untuk ditonton. Lanchester,
pemain watak juga yang mungkin diingat penonton sebagai Mary Shelley dalam The
Bride of Frankenstein (1935), menyediakan momen-2 lucu dan menyegarkan. Last,
but not least, cast pendukung yang lain: John Williams, reguler dalam film-2 Hitchcock,
sebagai asisten Robarts; Henry Daniell, pemain watak juga, sebagai penasehat
hukum Vole; dan Norma Varden, reguler dalam film-2 period drama, sebagai janda
kaya yang naif, semuanya tampil mengesankan.
Diadaptasi dari drama teater, scriptnya mempunyai
dialog-2 yang tajam dan berhasil dengan sangat
baik menyimpan twist dengan rapi. Jika ada kelemahannya, kelemahannya
adalah scriptnya tidak dapat secara penuh lepas dari asal-usulnya, dan dari
waktu ke waktu memang terasa talky
(terlalu banyak pembicaraannya). Tetapi karena para pemainnya sangat ahli dalam
berbicara, penonton justru terhibur mendengarkannya.
Mengkombinasikan semua ini adalah arahan Wilder
yang kreatif. Kemampuannya mengkombinasikan antara drama dan komedi tanpa
mengurangi bobot masing-2 adalah kekuatan utama film ini. Seandainya dimainkan
melulu sebagai drama, filmnya akan menjadi kering dan membosankan. Seandainya
dimainkan melulu sebagai komedi, filmnya akan menjadi parodi dan tidak
berbobot. Tetapi dimainkan sebagai kombinasi antara drama dan komedi, filmnya
menjadi betul-2 mengesankan.
Klasik.
Thursday, 20 March 2014
Sabrina
Sabrina ★★★★☆
Ketika Cinderella berfilsafat ...
Tahun Keluar: 1954
Negara Asal: USA
Sutradara: Billy Wilder
Cast: Humphrey Bogart, Audrey Hepburn, William Holden
Di bawah arahan Billy Wilder (Double Indemnity, The Lost Weekend, Sunset Boulevard, Stalag 17, Witness for the Prosecution), yang juga ikut menggarap script adaptasi dari teaternya, Sabrina adalah kisah Cinderella modern yang berhasil dengan sangat baik menggabungkan antara elemen-2 klasik fairy-tale dengan elemen-2 modern realitas dari jamannya -- menjadikan film ini drama romantic comedy yang pas untuk mereka yang sudah dewasa atau tua sekalipun atau bahkan mereka yang tidak menyukai romantic comedy.
Sabrina (Audrey Hepburn) adalah anak pengemudi keluarga industriawan Larrabee, Thomas (John Williams), yang berasal dari Inggris yang pindah ke Amerika Serikat “satu paket” dengan mobil Rolls-Royce ketika keluarga tersebut mengimpor mobil tersebut. Lahir dan besar di kompleks perumahan Larrabee, Sabrina mengenal dengan sangat baik dua anak laki-2 keluarga tersebut, Linus (Humphrey Bogart) yang serius dan workaholic, dan David (William Holden) yang sebaliknya -- senang pesta, gonta-ganti pasangan, dan baginya setiap hari adalah hari Minggu; khususnya David yang usianya sebaya yang ketika kecil sering bermain bersama. Witing tresno jalaran soko kulino, Sabrina menyimpan “crush” terhadap David yang obviously terlalu sibuk dengan ego dan urusannya sendiri untuk menyadari hal tersebut. Ayah Sabrina, bahagia dan puas dengan status dan posisinya (juga notabene berasal dari generasi yang berbeda dan masyarakat yang berbeda pula), tidak merestui sikap Sabrina karena menurutnya setiap orang sudah mempunyai tempat sendiri-2 dan Sabrina sebaiknya tidak menciptakan “riak” yang bisa mengganggu tatanan yang sudah harmonis tersebut. Karena alasan ini, ayahnya mengirim Sabrina ke Paris, pertama untuk belajar masak, kedua untuk melupakan David. Sekembalinya dari Paris, Sabrina memang berubah -- berubah menjadi lebih modis, lebih percaya diri, tetapi tetap menyimpan “crush” terhadap David. Kali ini Sabrina berhasil “sweep David off his feet”, membuat dia mabuk kepayang, sampai lupa bahwa dia sudah bertunangan dengan wanita dari keluarga yang merupakan partner bisnis keluarganya. Melihat situasi berbahaya ini, Linus berusaha menyabotase usaha David mendekati Sabrina, sekaligus mengalihkan perhatian Sabrina dari David ke dirinya.
Berhasilkah Linus memisahkan Sabrina dari David?
Tetapi hati-2, cinta bukanlah permainan yang dapat dengan gampang disetir, karena jalannya bisa mengarah ke mana saja, termasuk ke penyetirnya sendiri :-)
Didukung cast utama yang masing-2 adalah bintang ternama pada jamannya, plus telah mengantongi piala Oscar ketika film ini dibuat, kharisma mereka bertiga berhasil mengatasi halangan usia yang ada, sedemikian rupa sehingga karakter-2 yang mereka mainkan tetap believable. Holden berusia 11 tahun lebih tua dari Hepburn, sedang Bogart 30 tahun lebih tua darinya -- 4 tahun lebih tua dari Williams yang memerankan ayah Sabrina :-) Penampilan Williams khususnya, aktor Inggris yang “sangat Inggris” -- yang selalu tampil meyakinkan dalam film-2 Alfred Hitchcock, memberi “jangkar” yang kuat terhadap tema masyarakat berkelas yang menjadi contentious issue (pusat argumen) dalam film ini.
Berhasilkah cinta mengalahkan, mendobrak tatanan masyarakat yang menurut ayah Sabrina sudah harmonis dan sebaiknya jangan diganggu tersebut?
Sinematografi hitam-putih kontras tajam dari Charles Lang membumbui kisah Cinderella modern ini dengan nuansa “noir” yang membangkitkan perasaan “doom” -- sesuatu yang buruk bakalan terjadi, sama seperti dalam film-2 Wilder yang lain. Kostum-2 elegan yang dikenakan Hepburn, gaun pesta warna hitam (black cocktail dress) khususnya, hasil kolaborasi antara Edith Head -- yang mendandani hampir semua leading ladies dalam film-2 Hitchcock, dan Hubert de Givenchy, berhasil bersinar terang melampaui batasan warna hitam-putih filmnya. Last, but not least, soundtrack lagu-2 pengiring, La vie en rose karya Louiguy dan Edith Piaf khususnya, yang dinyanyikan sendiri oleh Hepburn dengan suaranya yang “shaky” (without dubbing, thank goodness!), melengkapi film ini dengan melodi yang manis dan melankolis.
What a perfect combination.
Sabrina dapat anda temukan di eBay.com
Ketika Cinderella berfilsafat ...
Tahun Keluar: 1954
Negara Asal: USA
Sutradara: Billy Wilder
Cast: Humphrey Bogart, Audrey Hepburn, William Holden
Di bawah arahan Billy Wilder (Double Indemnity, The Lost Weekend, Sunset Boulevard, Stalag 17, Witness for the Prosecution), yang juga ikut menggarap script adaptasi dari teaternya, Sabrina adalah kisah Cinderella modern yang berhasil dengan sangat baik menggabungkan antara elemen-2 klasik fairy-tale dengan elemen-2 modern realitas dari jamannya -- menjadikan film ini drama romantic comedy yang pas untuk mereka yang sudah dewasa atau tua sekalipun atau bahkan mereka yang tidak menyukai romantic comedy.
Sabrina (Audrey Hepburn) adalah anak pengemudi keluarga industriawan Larrabee, Thomas (John Williams), yang berasal dari Inggris yang pindah ke Amerika Serikat “satu paket” dengan mobil Rolls-Royce ketika keluarga tersebut mengimpor mobil tersebut. Lahir dan besar di kompleks perumahan Larrabee, Sabrina mengenal dengan sangat baik dua anak laki-2 keluarga tersebut, Linus (Humphrey Bogart) yang serius dan workaholic, dan David (William Holden) yang sebaliknya -- senang pesta, gonta-ganti pasangan, dan baginya setiap hari adalah hari Minggu; khususnya David yang usianya sebaya yang ketika kecil sering bermain bersama. Witing tresno jalaran soko kulino, Sabrina menyimpan “crush” terhadap David yang obviously terlalu sibuk dengan ego dan urusannya sendiri untuk menyadari hal tersebut. Ayah Sabrina, bahagia dan puas dengan status dan posisinya (juga notabene berasal dari generasi yang berbeda dan masyarakat yang berbeda pula), tidak merestui sikap Sabrina karena menurutnya setiap orang sudah mempunyai tempat sendiri-2 dan Sabrina sebaiknya tidak menciptakan “riak” yang bisa mengganggu tatanan yang sudah harmonis tersebut. Karena alasan ini, ayahnya mengirim Sabrina ke Paris, pertama untuk belajar masak, kedua untuk melupakan David. Sekembalinya dari Paris, Sabrina memang berubah -- berubah menjadi lebih modis, lebih percaya diri, tetapi tetap menyimpan “crush” terhadap David. Kali ini Sabrina berhasil “sweep David off his feet”, membuat dia mabuk kepayang, sampai lupa bahwa dia sudah bertunangan dengan wanita dari keluarga yang merupakan partner bisnis keluarganya. Melihat situasi berbahaya ini, Linus berusaha menyabotase usaha David mendekati Sabrina, sekaligus mengalihkan perhatian Sabrina dari David ke dirinya.
Berhasilkah Linus memisahkan Sabrina dari David?
Tetapi hati-2, cinta bukanlah permainan yang dapat dengan gampang disetir, karena jalannya bisa mengarah ke mana saja, termasuk ke penyetirnya sendiri :-)
Didukung cast utama yang masing-2 adalah bintang ternama pada jamannya, plus telah mengantongi piala Oscar ketika film ini dibuat, kharisma mereka bertiga berhasil mengatasi halangan usia yang ada, sedemikian rupa sehingga karakter-2 yang mereka mainkan tetap believable. Holden berusia 11 tahun lebih tua dari Hepburn, sedang Bogart 30 tahun lebih tua darinya -- 4 tahun lebih tua dari Williams yang memerankan ayah Sabrina :-) Penampilan Williams khususnya, aktor Inggris yang “sangat Inggris” -- yang selalu tampil meyakinkan dalam film-2 Alfred Hitchcock, memberi “jangkar” yang kuat terhadap tema masyarakat berkelas yang menjadi contentious issue (pusat argumen) dalam film ini.
Berhasilkah cinta mengalahkan, mendobrak tatanan masyarakat yang menurut ayah Sabrina sudah harmonis dan sebaiknya jangan diganggu tersebut?
Sinematografi hitam-putih kontras tajam dari Charles Lang membumbui kisah Cinderella modern ini dengan nuansa “noir” yang membangkitkan perasaan “doom” -- sesuatu yang buruk bakalan terjadi, sama seperti dalam film-2 Wilder yang lain. Kostum-2 elegan yang dikenakan Hepburn, gaun pesta warna hitam (black cocktail dress) khususnya, hasil kolaborasi antara Edith Head -- yang mendandani hampir semua leading ladies dalam film-2 Hitchcock, dan Hubert de Givenchy, berhasil bersinar terang melampaui batasan warna hitam-putih filmnya. Last, but not least, soundtrack lagu-2 pengiring, La vie en rose karya Louiguy dan Edith Piaf khususnya, yang dinyanyikan sendiri oleh Hepburn dengan suaranya yang “shaky” (without dubbing, thank goodness!), melengkapi film ini dengan melodi yang manis dan melankolis.
What a perfect combination.
Friday, 20 September 2013
Going My Way, From Here to Eternity, Moonstruck
Triple Singers Turned Into Actors!

Hampir semua penyanyi pernah tampil dalam film, mencoba menjadi aktor, tetapi tidak banyak yang berhasil. Akting ternyata tidak segampang yang kita bayangkan. 3 “Singers Turned Into Actors” berikut ini penulis pilih karena masing-2 pernah memenangkan Oscar untuk peran Non-Singing dan lebih dari 1 kali menerima nominasi Oscar juga untuk peran Non-Singing. Singkat kata, penyanyi dengan peran tidak menyanyi. Dengan demikian, Barbra Streisand tidak penulis tampilkan kali ini karena walaupun dia pernah memenangkan Oscar, perannya adalah peran menyanyi: Funny Girl (1968). Barbra Streisand bisa menyanyi dengan sangat baik dan meyakinkan? ... well, of course! :-)
1) Going My Way (1944)
Bing Crosby.
Film garapan Leo McCarey ini adalah film sederhana tentang orang-2 yang sederhana dalam setting cerita yang sederhana pula. Father O'Malley (Bing Crosby), seorang pastor muda, dikirim ke paroki St. Dominic’s di New York City untuk menjadi asisten dari Father Fitzgibbon (Barry Fitzgerald), pastor paroki yang sudah tua. Berbeda dari gaya pastor paroki yang kaku dan kolot, Father O'Malley lebih fleksibel dan terbuka terhadap perubahan. Tidak menyukai gaya Father O'Malley, Father Fitzgibbon melaporkan dirinya ke pemimpin gereja untuk mengeluarkannya dari parokinya. Tetapi pemimpin gereja memberitahu Father Fitzgibbon bahwa Father O'Malley dikirim ke parokinya bukan untuk menjadi asistennya, tetapi untuk menggantikannya. Father O'Malley menghadapi berbagai masalah paroki dengan pendekatan humanisme yang hangat dan bersahabat (karena memang itulah gayanya, “his way”, “going his way”): mulai dari umat yang kehilangan rumahnya, wanita muda yang melarikan diri dari rumah orangtuanya, gerombolan anak muda yang sering berurusan dengan polisi, bekas pacar O'Malley yang sekarang menjadi penyanyi opera ternama, dan sekarang ditambah dengan Father Fitzgibbon yang distressed dan melarikan diri dari parokinya :-) Mampukah O'Malley menyelesaikan misinya di St. Dominic’s? Script dengan rapi menjalin semua sub-plot yang ada menuju akhir yang bittersweet, just like life itself.
Film pemenang Film Terbaik Oscar 1945 ini adalah film sederhana yang indah dan mengesankan.
2) From Here to Eternity (1953)
Frank Sinatra.
Cerita saga tentang “trials and tribulations”, masalah dan ujian, dari tiga prajurit, Sergeant Milton Warden (Burt Lancaster), Private Robert E. Lee Prewitt (Montgomery Clift), dan Private Angelo Maggio (Frank Sinatra), menjelang serangan Jepang ke Pearl Harbour di Hawaii. Diingat penonton dengan scene klasik Burt Lancaster dan Deborah Kerr berciuman di pantai Oahu, Hawaii, sementara ombak lautan Pasifik menerpa mereka, cerita saga dari novel dengan judul yang sama karya James Jones ini mempunyai detil cerita dan karakterisasi yang sangat baik -- dan berkat script yang jeli detil tersebut tidak hilang dalam proses adaptasi. Didukung oleh akting yang mumpuni dari cast utamanya, Frank Sinatra dan Donna Reed berhasil mencuri perhatian para film critic dan masing-2 menggondol Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik.
Film pemenang Film Terbaik Oscar 1954, bertahan klasik sampai saat ini.
3) Moonstruck (1987)
Cher.
Despite kenyentrikan dirinya, Cher adalah aktres yang mumpuni. Empat tahun sebelumnya, dia tampil bersama Meryl Streep dalam Silkwood (1983) dan mampu mengimbangi akting Streep -- dia menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik. Dalam film ini, bersetting dalam keluarga imigran Itali di New York City, Cher sekali lagi membuktikan dirinya memang bisa akting.
Dibesarkan dalam tradisi Itali, Loretta Castorini (Cher) baru saja menjanda gara-2 suaminya mati ditabrak bis. Percaya bahwa nasib buruk tersebut terjadi gara-2 perkawinannya tidak direstui orangtuanya dan tidak dilakukan di gereja, kali ini setelah dia menemukan calon suami baru, Johnny, seorang imigran Itali juga, dia memastikan bahwa dia mematuhi semua tradisi Itali agar perkawinan tersebut lancar. Loretta sesungguhnya tidak cinta dengan Johnny, tetapi karena orangtuanya suka dengannya, Loretta bersedia kawin dengannya. Lebih komplet lagi, Johnny ternyata adalah pria yang juga mematuhi tradisi Itali. It seems like a perfect match! :-) Ketika Johnny pulang ke Sicilia untuk minta restu ibunya, Loretta bertemu dengan adik Johnny, Ronny (Nicolas Cage), yang sifat dan sikapnya kebalikan dari saudaranya. And they fell in love ... dan komplikasi timbul.
Cerita dengan setting keluarga Itali memberi nuansa baru dan menyegarkan, karena tidak seperti biasanya (keluarga Anglo), mereka tidak sungkan-2 ceplas-ceplos ngomong sesuatu yang termasuk “politically incorrect”. Hasilnya, dialog-2 yang tajam, tanpa tedeng aling-2, very funny! Melihat keluarga dalam film ini bagaikan berkaca melihat keluarga sendiri :-) Good or embarassing, it's my family. 15 tahun kemudian, Nia Vardalos, me-reprise cerita yang mirip dalam My Big Fat Greek Wedding (2002) -- kali ini bersetting dalam keluarga imigran Yunani.
Menerima nominasi Film Terbaik Oscar 1988, Cher dan Olympia Dukakis masing-2 menggondol Oscar untuk Aktres Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik. Sayang sekali Cher tidak tampil lebih banyak dalam film-2 drama.
Going My Way, From Here to Eternity, Moonstruck dapat anda temukan di eBay.com

Hampir semua penyanyi pernah tampil dalam film, mencoba menjadi aktor, tetapi tidak banyak yang berhasil. Akting ternyata tidak segampang yang kita bayangkan. 3 “Singers Turned Into Actors” berikut ini penulis pilih karena masing-2 pernah memenangkan Oscar untuk peran Non-Singing dan lebih dari 1 kali menerima nominasi Oscar juga untuk peran Non-Singing. Singkat kata, penyanyi dengan peran tidak menyanyi. Dengan demikian, Barbra Streisand tidak penulis tampilkan kali ini karena walaupun dia pernah memenangkan Oscar, perannya adalah peran menyanyi: Funny Girl (1968). Barbra Streisand bisa menyanyi dengan sangat baik dan meyakinkan? ... well, of course! :-)
1) Going My Way (1944)
Bing Crosby.
Film garapan Leo McCarey ini adalah film sederhana tentang orang-2 yang sederhana dalam setting cerita yang sederhana pula. Father O'Malley (Bing Crosby), seorang pastor muda, dikirim ke paroki St. Dominic’s di New York City untuk menjadi asisten dari Father Fitzgibbon (Barry Fitzgerald), pastor paroki yang sudah tua. Berbeda dari gaya pastor paroki yang kaku dan kolot, Father O'Malley lebih fleksibel dan terbuka terhadap perubahan. Tidak menyukai gaya Father O'Malley, Father Fitzgibbon melaporkan dirinya ke pemimpin gereja untuk mengeluarkannya dari parokinya. Tetapi pemimpin gereja memberitahu Father Fitzgibbon bahwa Father O'Malley dikirim ke parokinya bukan untuk menjadi asistennya, tetapi untuk menggantikannya. Father O'Malley menghadapi berbagai masalah paroki dengan pendekatan humanisme yang hangat dan bersahabat (karena memang itulah gayanya, “his way”, “going his way”): mulai dari umat yang kehilangan rumahnya, wanita muda yang melarikan diri dari rumah orangtuanya, gerombolan anak muda yang sering berurusan dengan polisi, bekas pacar O'Malley yang sekarang menjadi penyanyi opera ternama, dan sekarang ditambah dengan Father Fitzgibbon yang distressed dan melarikan diri dari parokinya :-) Mampukah O'Malley menyelesaikan misinya di St. Dominic’s? Script dengan rapi menjalin semua sub-plot yang ada menuju akhir yang bittersweet, just like life itself.
Film pemenang Film Terbaik Oscar 1945 ini adalah film sederhana yang indah dan mengesankan.
2) From Here to Eternity (1953)
Frank Sinatra.
Cerita saga tentang “trials and tribulations”, masalah dan ujian, dari tiga prajurit, Sergeant Milton Warden (Burt Lancaster), Private Robert E. Lee Prewitt (Montgomery Clift), dan Private Angelo Maggio (Frank Sinatra), menjelang serangan Jepang ke Pearl Harbour di Hawaii. Diingat penonton dengan scene klasik Burt Lancaster dan Deborah Kerr berciuman di pantai Oahu, Hawaii, sementara ombak lautan Pasifik menerpa mereka, cerita saga dari novel dengan judul yang sama karya James Jones ini mempunyai detil cerita dan karakterisasi yang sangat baik -- dan berkat script yang jeli detil tersebut tidak hilang dalam proses adaptasi. Didukung oleh akting yang mumpuni dari cast utamanya, Frank Sinatra dan Donna Reed berhasil mencuri perhatian para film critic dan masing-2 menggondol Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik.
Film pemenang Film Terbaik Oscar 1954, bertahan klasik sampai saat ini.
3) Moonstruck (1987)
Cher.
Despite kenyentrikan dirinya, Cher adalah aktres yang mumpuni. Empat tahun sebelumnya, dia tampil bersama Meryl Streep dalam Silkwood (1983) dan mampu mengimbangi akting Streep -- dia menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik. Dalam film ini, bersetting dalam keluarga imigran Itali di New York City, Cher sekali lagi membuktikan dirinya memang bisa akting.
Dibesarkan dalam tradisi Itali, Loretta Castorini (Cher) baru saja menjanda gara-2 suaminya mati ditabrak bis. Percaya bahwa nasib buruk tersebut terjadi gara-2 perkawinannya tidak direstui orangtuanya dan tidak dilakukan di gereja, kali ini setelah dia menemukan calon suami baru, Johnny, seorang imigran Itali juga, dia memastikan bahwa dia mematuhi semua tradisi Itali agar perkawinan tersebut lancar. Loretta sesungguhnya tidak cinta dengan Johnny, tetapi karena orangtuanya suka dengannya, Loretta bersedia kawin dengannya. Lebih komplet lagi, Johnny ternyata adalah pria yang juga mematuhi tradisi Itali. It seems like a perfect match! :-) Ketika Johnny pulang ke Sicilia untuk minta restu ibunya, Loretta bertemu dengan adik Johnny, Ronny (Nicolas Cage), yang sifat dan sikapnya kebalikan dari saudaranya. And they fell in love ... dan komplikasi timbul.
Cerita dengan setting keluarga Itali memberi nuansa baru dan menyegarkan, karena tidak seperti biasanya (keluarga Anglo), mereka tidak sungkan-2 ceplas-ceplos ngomong sesuatu yang termasuk “politically incorrect”. Hasilnya, dialog-2 yang tajam, tanpa tedeng aling-2, very funny! Melihat keluarga dalam film ini bagaikan berkaca melihat keluarga sendiri :-) Good or embarassing, it's my family. 15 tahun kemudian, Nia Vardalos, me-reprise cerita yang mirip dalam My Big Fat Greek Wedding (2002) -- kali ini bersetting dalam keluarga imigran Yunani.
Menerima nominasi Film Terbaik Oscar 1988, Cher dan Olympia Dukakis masing-2 menggondol Oscar untuk Aktres Terbaik dan Aktres Pendukung Terbaik. Sayang sekali Cher tidak tampil lebih banyak dalam film-2 drama.
Friday, 16 August 2013
Sabotage, The Trouble with Harry, Topaz
Triple Hitchcock's Classics!
Bagaimana anda merayakan ulang tahun Alfred Hitchcock?
Nonton film-2nya? Tentu saja!
Pada kesempatan kali ini penulis ingin memberi introduction kepada tiga film Hitchcock yang tidak terlalu sering ditonton, atau dibahas. Tiga film berikut ini memang tidak sepopuler Rear Window, Vertigo, North by Northwest, atau Psycho, tetapi kalau anda penggemar Hitchcock anda dapat dengan mudah menemukan semua “trademark” Hitchcock di dalamnya: suspense, thriller, komedi, dan ... “Hitchcock Blondes” -- dalam tiga film berikut ini para pemeran utama wanitanya tidak berambut pirang, namun demikian mempunyai kualitas “Hitchcock Blondes”, yaitu: sexy, smart, sophisticated, sekaligus icy, strong, and fearless (eksterior yang kalem, interior yang membara).
1) Sabotage (1936)
Bersama dengan The Man Who Knew Too Much (1934) dan The 39 Steps (1935), Sabotage adalah film yang memindahkan Hitchcock dari studio lokal di Inggris ke Hollywood. Walaupun Hitchcock saat itu merasa dirinya masih amatir, film Sabotage menunjukkan keahlian penyutradaraannya sudah professional, matang.
Seorang pemilik bioskop, Verloc, ternyata adalah seorang anggota grup teroris yang merencanakan serangkaian serangan di kota London. Polisi mencium gelagat ini, maka membuntuti gerak-geriknya. Sang pemilik bioskop hidup bersama istri dan adik laki-2 istrinya yang masih di bawah umur, Stevie -- keduanya tidak mengetahui secret life Verloc. Pada hari H yang sudah ditentukan untuk meledakkan time-bomb di stasiun kereta api Piccadilly Circus di bawah tanah (London Underground), mengetahui polisi sudah membuntuti gerak-geriknya, Verloc menyuruh Stevie membawa dan meletakkan bungkusan reel film (berisi bom waktu) di tempat yang ditentukan. Dalam perjalanan, Stevie ternyata mampir dulu di tempat orang jualan obat :-) , kemudian terhalang iring-2an parade di jalan ... dasar anak kecil, Stevie malah senang nonton parade tersebut. Tik, tok, tik, tok, tik, tok, ... waktu berjalan terus mendekati jam dimana bom tersebut bakal meledak. Akankah Hitchcock mengorbankan/mematikan anak kecil dalam filmnya??? Bagaimana reaksi Mrs. Verloc ketika mengetahui bahwa suaminya ternyata seorang teroris?
Suspense, suspense, suspense.
2) The Trouble with Harry (1955)
Ketika film ini dibuat Hitchcock sudah berada di puncak ketenarannya di Hollywood. Entah ada angin apa, Hitchcock tiba-2 memutuskan membuat film komedi! Yes, comedy! :-) Tetapi tidak berarti tanpa suspense dan thriller.
Suatu siang yang cerah di sebuah desa di negara bagian Vermont, AS, seorang pemburu sedang berburu kelinci di hutan belukar di dekat tempat tinggalnya; seorang anak kecil sedang bermain tembak-2an dengan senjata plastiknya; seorang wanita muda baru saja melempar botol susu ke bekas suaminya karena tidak mau diajak damai; dan seorang wanita setengah baya baru saja memukul seorang pria dengan sepatu bootnya gara-2 dia keluar dari hutan belukar secara tiba-2. Beberapa saat kemudian satu per satu menemukan pria tersebut (Harry) terkapar mati di tengah hutan belukar. Dan semuanya merasa bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut. Dan masing-2 berusaha menutupi kejahatan tersebut :-) Benarkah mereka semua bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut? Berhasilkah mereka menutupi kejahatan tersebut? Akankah Hitchcock membiarkan kejahatan tersebut menang?
Edmund Gwenn, Mildred Natwick, dan Mildred Dunnock memberikan performance yang hangat, sehangat udara Vermont di musim panas dengan pemandangan yang super indah. Film ini adalah film pertama Shirley MacLaine -- siapa yang nyangka dia bertahan terus main film sampai saat ini. Juga film pertama untuk John Forsythe, yang kariernya ternyata lebih banyak di televisi -- siapa yang nyangka dia menjadi terkenal sebagai suara dari Charles Townsend dalam serial TV “Charlie's Angels” dan multi-billionaire Blake Carrington dalam soap opera TV “Dynasty”.
Kocak, kocak, kocak.
3) Topaz (1969)
Banyak penggemar Hitchcock yang menilai bahwa menuju akhir kariernya karya-2 Hitchcock tidak sebagus karya-2 awalnya. Ya, pasti berbeda, karena waktunya berbeda. Namun demikian, Hitchcock tetap Hitchcock -- dasarnya tetap sama.
Bersetting krisis missile Cuba pada tahun 1962, CIA (John Forsythe tampil lagi) menggunakan agen Perancis, Andre Devereaux, untuk mengintai sepak terjang Sovyet di Cuba. Tetapi ada masalah, karena ada jaringan mata-2 Sovyet di kalangan pejabat tinggi Perancis, namanya Topaz. Siapa pemimpin Topaz? Bersediakan Andre Devereaux mengorbankan kariernya, kekasihnya, dan bahkan keluarganya, untuk AS?
Dengan running time sepanjang 143 menit, Topaz sama sekali tidak kalah dengan spy thriller The Day of the Jackal yang dibuat empat tahun kemudian. Membawa penonton dari Copenhagen, ke Washington, ke Paris, ke New York, ke Havana, dan kembali lagi ke Paris ... wow, what an adventure! Topaz membangkitkan nostalgia penonton terhadap siapa lagi kalau bukan North by Northwest. Frederick Stafford, walaupun sama sekali bukan Cary Grant, membangkitkan nostalgia penonton terhadap ... Cary Grant :-)
Thriller, thriller, thriller.
Sabotage, The Trouble with Harry, Topaz dapat anda temukan di eBay.com
Bagaimana anda merayakan ulang tahun Alfred Hitchcock?
Nonton film-2nya? Tentu saja!
Pada kesempatan kali ini penulis ingin memberi introduction kepada tiga film Hitchcock yang tidak terlalu sering ditonton, atau dibahas. Tiga film berikut ini memang tidak sepopuler Rear Window, Vertigo, North by Northwest, atau Psycho, tetapi kalau anda penggemar Hitchcock anda dapat dengan mudah menemukan semua “trademark” Hitchcock di dalamnya: suspense, thriller, komedi, dan ... “Hitchcock Blondes” -- dalam tiga film berikut ini para pemeran utama wanitanya tidak berambut pirang, namun demikian mempunyai kualitas “Hitchcock Blondes”, yaitu: sexy, smart, sophisticated, sekaligus icy, strong, and fearless (eksterior yang kalem, interior yang membara).
1) Sabotage (1936)
Bersama dengan The Man Who Knew Too Much (1934) dan The 39 Steps (1935), Sabotage adalah film yang memindahkan Hitchcock dari studio lokal di Inggris ke Hollywood. Walaupun Hitchcock saat itu merasa dirinya masih amatir, film Sabotage menunjukkan keahlian penyutradaraannya sudah professional, matang.
Seorang pemilik bioskop, Verloc, ternyata adalah seorang anggota grup teroris yang merencanakan serangkaian serangan di kota London. Polisi mencium gelagat ini, maka membuntuti gerak-geriknya. Sang pemilik bioskop hidup bersama istri dan adik laki-2 istrinya yang masih di bawah umur, Stevie -- keduanya tidak mengetahui secret life Verloc. Pada hari H yang sudah ditentukan untuk meledakkan time-bomb di stasiun kereta api Piccadilly Circus di bawah tanah (London Underground), mengetahui polisi sudah membuntuti gerak-geriknya, Verloc menyuruh Stevie membawa dan meletakkan bungkusan reel film (berisi bom waktu) di tempat yang ditentukan. Dalam perjalanan, Stevie ternyata mampir dulu di tempat orang jualan obat :-) , kemudian terhalang iring-2an parade di jalan ... dasar anak kecil, Stevie malah senang nonton parade tersebut. Tik, tok, tik, tok, tik, tok, ... waktu berjalan terus mendekati jam dimana bom tersebut bakal meledak. Akankah Hitchcock mengorbankan/mematikan anak kecil dalam filmnya??? Bagaimana reaksi Mrs. Verloc ketika mengetahui bahwa suaminya ternyata seorang teroris?
Suspense, suspense, suspense.
2) The Trouble with Harry (1955)
Ketika film ini dibuat Hitchcock sudah berada di puncak ketenarannya di Hollywood. Entah ada angin apa, Hitchcock tiba-2 memutuskan membuat film komedi! Yes, comedy! :-) Tetapi tidak berarti tanpa suspense dan thriller.
Suatu siang yang cerah di sebuah desa di negara bagian Vermont, AS, seorang pemburu sedang berburu kelinci di hutan belukar di dekat tempat tinggalnya; seorang anak kecil sedang bermain tembak-2an dengan senjata plastiknya; seorang wanita muda baru saja melempar botol susu ke bekas suaminya karena tidak mau diajak damai; dan seorang wanita setengah baya baru saja memukul seorang pria dengan sepatu bootnya gara-2 dia keluar dari hutan belukar secara tiba-2. Beberapa saat kemudian satu per satu menemukan pria tersebut (Harry) terkapar mati di tengah hutan belukar. Dan semuanya merasa bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut. Dan masing-2 berusaha menutupi kejahatan tersebut :-) Benarkah mereka semua bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut? Berhasilkah mereka menutupi kejahatan tersebut? Akankah Hitchcock membiarkan kejahatan tersebut menang?
Edmund Gwenn, Mildred Natwick, dan Mildred Dunnock memberikan performance yang hangat, sehangat udara Vermont di musim panas dengan pemandangan yang super indah. Film ini adalah film pertama Shirley MacLaine -- siapa yang nyangka dia bertahan terus main film sampai saat ini. Juga film pertama untuk John Forsythe, yang kariernya ternyata lebih banyak di televisi -- siapa yang nyangka dia menjadi terkenal sebagai suara dari Charles Townsend dalam serial TV “Charlie's Angels” dan multi-billionaire Blake Carrington dalam soap opera TV “Dynasty”.
Kocak, kocak, kocak.
3) Topaz (1969)
Banyak penggemar Hitchcock yang menilai bahwa menuju akhir kariernya karya-2 Hitchcock tidak sebagus karya-2 awalnya. Ya, pasti berbeda, karena waktunya berbeda. Namun demikian, Hitchcock tetap Hitchcock -- dasarnya tetap sama.
Bersetting krisis missile Cuba pada tahun 1962, CIA (John Forsythe tampil lagi) menggunakan agen Perancis, Andre Devereaux, untuk mengintai sepak terjang Sovyet di Cuba. Tetapi ada masalah, karena ada jaringan mata-2 Sovyet di kalangan pejabat tinggi Perancis, namanya Topaz. Siapa pemimpin Topaz? Bersediakan Andre Devereaux mengorbankan kariernya, kekasihnya, dan bahkan keluarganya, untuk AS?
Dengan running time sepanjang 143 menit, Topaz sama sekali tidak kalah dengan spy thriller The Day of the Jackal yang dibuat empat tahun kemudian. Membawa penonton dari Copenhagen, ke Washington, ke Paris, ke New York, ke Havana, dan kembali lagi ke Paris ... wow, what an adventure! Topaz membangkitkan nostalgia penonton terhadap siapa lagi kalau bukan North by Northwest. Frederick Stafford, walaupun sama sekali bukan Cary Grant, membangkitkan nostalgia penonton terhadap ... Cary Grant :-)
Thriller, thriller, thriller.
Monday, 22 July 2013
Pillow Talk
Resensi Film: Pillow Talk (7.7/10)
Tahun Keluar: 1959
Negara Asal: USA
Sutradara: Michael Gordon
Cast: Rock Hudson, Doris Day, Tony Randall, Thelma Ritter
Walaupun cuma romcom (romantic comedy) dan para film critic saat itu memperkirakan film ini bakal dengan cepat masuk kotak ketinggalan jaman, Doris Day dan Rock Hudson ternyata tetap mampu menarik minat penonton baru dari generasi masa depan untuk menonton film ini. Memang betul, topiknya sendiri sudah ketinggalan jaman, tetapi chemistry antara Day dan Hudson tetap segar dan mempesona sedemikian rupa sehingga topik yang ketinggalan jaman tersebut justru terasa delightful, greatly pleasing and entertaining :-)
Dalam komedi salah identitas ini, kocak sekali menyaksikan Day mempertahankan kegadisannya -- bagaikan benteng terakhir yang perlu dipertahankan :-), mengingatkan kita bahwa once upon a time, di suatu waktu di masa lalu, orang Barat itu luar biasa santunnya dan cewek Barat itu juga sangat care menjaga kegadisannya. Saat itu National Legion of Decency dan Motion Picture Production Code memegang keputusan terakhir apakah suatu film boleh dibuat dan diputar di AS atau tidak, so jangan main-2 atau meremehkan mereka -- jadi ingat dialog dalam film Hitchcock (2012) ketika official dari biro sensor menghardik Hitchcock tanpa tedeng aling-2 karena dia dianggap 'cengengesan':
Shurlock: “Is there any improper suggestion of nudity in this, uh, murder in the shower scene?”
Hitchcock: “She won't be nude, she'll be wearing a shower cap.” :-)
Saat itu Day konon sudah menikah sebanyak tiga kali, entah bagaimana caranya dia menjaga image-nya di publik sebagai “virgin”? Mungkin karena saat itu belum ada social media seperti Twitter atau Facebook, sehingga image-nya yang virginal tidak pernah luntur. Belum lagi tentang Hudson ... :-)
Duet Doris Day dan Rock Hudson adalah salah satu dari sedikit on-screen couple made-in-Hollywood yang paling memorable dan pesona mereka di dalam layar perak terbukti tidak pernah lapuk dengan berjalannya waktu.
* 7.7/10
Pillow Talk dapat anda temukan di eBay.com

Tahun Keluar: 1959
Negara Asal: USA
Sutradara: Michael Gordon
Cast: Rock Hudson, Doris Day, Tony Randall, Thelma Ritter
Walaupun cuma romcom (romantic comedy) dan para film critic saat itu memperkirakan film ini bakal dengan cepat masuk kotak ketinggalan jaman, Doris Day dan Rock Hudson ternyata tetap mampu menarik minat penonton baru dari generasi masa depan untuk menonton film ini. Memang betul, topiknya sendiri sudah ketinggalan jaman, tetapi chemistry antara Day dan Hudson tetap segar dan mempesona sedemikian rupa sehingga topik yang ketinggalan jaman tersebut justru terasa delightful, greatly pleasing and entertaining :-)
Dalam komedi salah identitas ini, kocak sekali menyaksikan Day mempertahankan kegadisannya -- bagaikan benteng terakhir yang perlu dipertahankan :-), mengingatkan kita bahwa once upon a time, di suatu waktu di masa lalu, orang Barat itu luar biasa santunnya dan cewek Barat itu juga sangat care menjaga kegadisannya. Saat itu National Legion of Decency dan Motion Picture Production Code memegang keputusan terakhir apakah suatu film boleh dibuat dan diputar di AS atau tidak, so jangan main-2 atau meremehkan mereka -- jadi ingat dialog dalam film Hitchcock (2012) ketika official dari biro sensor menghardik Hitchcock tanpa tedeng aling-2 karena dia dianggap 'cengengesan':
Shurlock: “Is there any improper suggestion of nudity in this, uh, murder in the shower scene?”
Hitchcock: “She won't be nude, she'll be wearing a shower cap.” :-)
Saat itu Day konon sudah menikah sebanyak tiga kali, entah bagaimana caranya dia menjaga image-nya di publik sebagai “virgin”? Mungkin karena saat itu belum ada social media seperti Twitter atau Facebook, sehingga image-nya yang virginal tidak pernah luntur. Belum lagi tentang Hudson ... :-)
Duet Doris Day dan Rock Hudson adalah salah satu dari sedikit on-screen couple made-in-Hollywood yang paling memorable dan pesona mereka di dalam layar perak terbukti tidak pernah lapuk dengan berjalannya waktu.
* 7.7/10
Pillow Talk dapat anda temukan di eBay.com
Thursday, 6 September 2012
The King and I
Resensi Film: The King and I (7.8/10)
Tahun Keluar: 1956
Negara Asal: USA
Sutradara: Walter Lang
Cast: Deborah Kerr, Yul Brynner, Rita Moreno
Plot: Pada tahun 1862 Anna Leonowens datang ke Kerajaan Siam (sekarang Thailand) untuk menjadi guru privat anak-2 Raja Mongkut (IMDb).
Berdasarkan kisah nyata dari Anna Leonowens, The King and I adalah adaptasi dari teater musical dengan judul yang sama karya duet penulis musik dan lirik Richard Rogers dan Oscar Hammerstein II -- yang in fact merupakan adaptasi dari film Anna and The King of Siam (1946) yang dibintangi oleh Irene Dunne, Rex Harrison, dan Linda Darnell. Script-nya lumayan patuh dengan cerita aslinya, walaupun di beberapa bagian diubah menjadi lebih lembut/gentle, misalnya: karakter Louis (anak laki-2 Anna) dan karakter Tuptim (istri muda Raja Mongkut) survive dalam versi musical ini. Production design yang mahal berhasil menampilkan cinematography layar lebar berwarna yang glorious, costume yang indah, dan setting yang kaya. Namun demikian, dari segi cerita penulis lebih menyukai film pendahulunya yang script-nya lebih padat dan berisi, yang dalam versi musical ini terpaksa disederhanakan untuk mengakomodasi musik dan lirik tersebut. Namun demikian, (again) :-) musik dan lirik dari Rogers dan Hammerstein dan koreografi yang indah yang mendampingi setiap alunan melodi tersebut berhasil 'nempuhi' kekurangan tersebut -- misalnya, dua lagunya yang paling terkenal, yaitu: "Getting To Know You" dan "Shall We Dance."
Pada tahun 1862 Anna Leonowens (Deborah Kerr), seorang janda, datang ke Kerajaan Siam (sekarang Thailand) untuk menjadi guru privat anak-2 Raja Mongkut (Yul Brynner). Sang Raja adalah seorang poligamis dan istri-2nya memberinya lusinan anak -- dan semuanya di bawah usia 12 tahun! :-) Istri terbarunya, hadiah dari Burma, adalah Tuptim (Rita Moreno); tetapi Tuptim terlanjur jatuh cinta dengan pria yang membawanya ke Siam, Lun Tha (Carlos Rivas). Walaupun 180 derajat berbeda dalam budaya, Anna dan sang Raja mempunyai kemiripan yang sangat dekat, yaitu keduanya sama-2 keras kepala (!) :-) Setelah melalui omong-2, "tarik-ulur", yang alot di segala hal (termasuk Kitab Suci dan Nabi Musa), Anna berhasil memperoleh respect/hormat dari sang Raja. Selanjutnya, peran Anna meningkat tidak hanya sebagai guru privat untuk anak-2 (dan istri-2) nya, tetapi sebagai penasehat dekat sang Raja -- khususnya dalam urusan dengan luar negeri. Dalam satu kesempatan, Anna diberi tugas untuk meng-impress delegasi dari Inggris yang konon berencana menguasai Siam kalau mereka menemukan sang Raja adalah seorang barbar. Dalam bagian ini, kita menemukan sequence-2 paling menarik dari film musical ini, yaitu: 1) Raja Mongkut menjadi cemburu melihat asisten duta besar Inggris, Sir Edward Ramsay (Geoffrey Toone), berdansa dengan Anna sebelum pesta dimulai; apalagi setelah mengetahui pria tersebut pernah melamar Anna -- tanpa tedeng aling-2 sang Raja membentak dengan marah sambil menuding: "Dancing, after dinner!!! " :-) 2) Play-within-a-play dimana Tuptim membawakan cerita "Uncle Tom's Cabin" karya Harriet Beecher Stowe dengan tari-2an bergaya Siam -- yang merupakan kritik terhadap sang Raja untuk melepaskan dirinya dari perbudakan. 3) Setelah pesta selesai, dansa antara Anna dan sang Raja diiringi dengan lagu "Shall We Dance."
Kerr (menyanyinya di-dubbing oleh Marni Nixon) tampil mempesona, tetapi Brynner berhasil mencuri perhatian penonton dengan penampilannya yang ilusif dan pembawaannya yang unik. Brynner mencukur bersih kepalanya untuk perannya sebagai Raja Mongkut -- penonton di seluruh dunia selamanya mengenal Brynner dengan penampilan ilusif ini. Dalam sepanjang kariernya Brynner tampil lebih dari 4000 kali dalam teater musical cerita ini. In the process, Brynner memenangkan Oscar untuk Aktor Terbaik dalam film ini.
* 7.8/10
The King and I dapat anda temukan di eBay.com
Wednesday, 27 June 2012
The Bridge on the River Kwai
Resensi Film: The Bridge on the River Kwai (9.0/10)
Tahun Keluar: 1957
Negara Asal: UK, USA
Sutradara: David Lean
Cast: William Holden, Alec Guinness, Jack Hawkins, Sessue Hayakawa
Plot: Setelah melalui standoff yang alot dengan komandan kamp tawanan perang Jepang, seorang kolonel Inggris akhirnya bersedia memimpin pasukannya untuk membangun jembatan untuk penangkapnya -- tidak mengetahui komando atasannya mempunyai rencana untuk menghancurkan jembatan tersebut (IMDb).
The Bridge on the River Kwai adalah salah satu dari sedikit saja film-2 perang yang meninggalkan kesan khusus dalam memori penulis. Salah satu penyebabnya adalah David Lean. Well, bukan gara-2 David Lean orangnya; tetapi gara-2 David Lean kepandaiannya, yaitu kepandaiannya dalam menampilkan kepribadian sebuah karakter, sedemikian rupa sehingga penonton dapat melihat keunikannya -- kekuatannya, juga kelemahannya; kehebatannya, juga ke-"aneh"-annya. Lean khususnya pandai menangani karakter-2 yang kita nilai sebagai "eksentrik" -- yang kalau kita teliti lebih lanjut, bukan eksentrik dalam arti clinically insane, tetapi lebih karena idealismenya atau integritasnya. Mungkin kalau di Indonesia ada pejabat yang tidak suka korupsi, teman-2nya akan menjulukinya sebagai orang "eksentrik" -- padahal yang dimaksud sebagai "eksentrik" di sini adalah orang yang idealis atau punya integritas. Lean selalu berhasil menampilkan paradoks yang menarik ini: orang eksentrik ternyata adalah orang idealis.
Walaupun William Holden memperoleh first billing (gara-2 alasan pemasaran, yaitu bintang utamanya harus aktor Amerika), bintang sesungguhnya dalam film ini adalah Alec Guinness, aktor Inggris, yang memerankan sebagai Colonel Nicholson. Tertangkap sebagai tawanan perang Jepang dan dimasukkan kamp romusha (kerja paksa) di hutan belantara terpencil di Burma, Nicholson tidak pernah lupa perannya sebagai pemimpin dari pasukannya. Dia selalu mengingatkan bawahannya bahwa walaupun mereka adalah tawanan perang Jepang, mereka tidak berada di bawah perintah Jepang, tetapi tetap berada di bawah perintahnya. Demikianlah aturan Konvensi Jenewa dan aturan ini dipegang teguh oleh Nicholson. Maka ketika komandan kamp romusha, Colonel Saito (Sessue Hayakawa), memerintahkan para perwira Inggris untuk bekerja berdampingan dengan bawahannya, maksudnya sama-2 menjadi kuli dan komando dipegang oleh para perwira Jepang, Nicholson menolak mentah-2 perintah tersebut seraya menunjukkan aturan dalam buku kecil Konvensi Jenewa tersebut :-) Kontan saja perlawanan Nicholson ini ditanggapi secara frontal oleh Saito yang sama-2 keras kepalanya! Tidak mau mundur sedikitpun, Nicholson dihadapkan ke grup tembak yang siap memberondongkan senjata otomatisnya. Tetap tidak mau menyerah, Nicholson dijemur di bawah terik matahari sampai teler, kemudian dimasukkan ke dalam "oven" (gubuk kecil terbuat dari seng) sampai berhari-2. Scene pasukannya menyaksikan komandannya dihukum di dalam "oven", kemudian mereka menyanyi "For He's a Jolly Good Fellow" untuk memberi semangat betul-2 mengharukan. Sementara itu, para perwira Jepang mengambil alih kepemimpinan atas pasukan Nicholson dan memerintahkan mereka untuk membangun jembatan rel kereta api yang bakal menghubungkan Bangkok dan Rangoon. Tetapi spirit/morale mereka sangat rendah -- mereka kerja ogah-2an, tidak terkoordinir, banyak yang sakit, banyak yang cedera -- dan semakin mereka ditekan, semakin mereka gak karu-2an. Akhirnya, proyek pembangunan jembatan tersebut tidak berhasil mencapai target. Saito menyadari kalau dia sampai gagal menyelesaikan proyek tersebut, dia harus "mengundurkan diri", maksudnya seppuku atau bunuh diri. Di lain pihak, tidak berhasil "mematahkan" Nicholson, jiwa atau raganya, dengan ancaman, hukuman, intimidasi, dan lain sebagainya, Saito kemudian mencoba dengan suap atau sogok ... ternyata tidak berhasil juga! :-) Akhirnya, Saito menyerah ... ya, Nicholson boleh memimpin pasukannya dan para perwira Inggris boleh melakukan fungsinya sebagai pemimpin. Scene Nicholson keluar dari kantor Saito seraya berjalan terseok-2 setelah entah berapa hari berada di dalam "oven" dan disambut dengan gegap gempita oleh pasukannya betul-2 membangkitkan perasaan euphoria setinggi langit (padahal penulis bukan orang Inggris dan tidak mempunyai patriotisme terhadap Inggris) ... dan sekali lagi mereka menyanyikan "For He's a Jolly Good Fellow." Untuk penulis, scene ini adalah scene kemenangan idealisme! Dan David Lean tidak stop short di sini saja, karena dalam scene berikutnya Lean menampilkan Saito duduk menangis histeris sendirian di dalam kamarnya. Dan dari euphoria atas kemenangan Nicholson, perasaan langsung berubah menjadi simpati terhadap Saito. The Bridge on the River Kwai tercatat dalam sejarah perfilman sebagai salah satu dari sedikit saja film-2 perang yang menggambarkan Jepang secara obyektif atau berimbang.
Melihat spirit/morale pasukannya yang sangat rendah dan mengetahui tidak ada kemungkinan untuk melarikan diri (kemungkinannya 1 dalam 100), Nicholson memutuskan untuk bekerja secara kooperatif dengan penangkapnya. Dia bahkan memutuskan untuk membangun jembatan tersebut secara serius dan sungguh-2. Keputusan ini mengherankan para perwiranya: "Mengapa membangun jembatan secara serius dan sungguh-2?", "Tidakkah lebih baik membangun yang jelek-2 saja, khan Jepang itu musuh?" -- point yang valid dan masuk akal. Tetapi kemudian keluar "keeksentrikan" Nicholson :-) ... dia menjawab, kira-2 begini: "Perang ini bakal selesai, entah kapan ... tetapi bakal selesai, tetapi tempat ini akan ada di sini selamanya. Mengapa tidak membangun jembatan dengan kualitas yang tinggi, yang bisa bertahan sampai puluhan tahun? Dan jembatan ini akan dikenang selamanya sebagai hasil karya pasukan Inggris yang bekerja tidak sebagai budak, tetapi sebagai orang yang mempunyai kebebasan." Mendengar jawaban ini, para perwiranya melongo ... (penulis juga melongo :-)). Satu perwiranya yang insinyur kemudian mengatakan dia menemukan pohon yang kayunya mirip seperti kayu yang digunakan untuk London Bridge di London, dan jembatan tersebut usianya sudah 600 tahun! Nicholson menjawab dengan senyum simpul, "Kalau begitu, mengapa tidak membangun jembatan yang usianya bisa selama itu?!" Sejak itu, spirit/morale pasukannya sedikit demi sedikit naik, mereka happy, Jepang-nya juga happy, kondisi kamp lebih friendly, pihak Inggris boleh mengatur sendiri kamp-nya. Scene-2 dalam babak kedua ini betul-2 uplifting ... "larger than life".
Tetapi David Lean tidak selamanya terbuai dalam idealisme, karena realisme, suka atau tidak suka, datang tanpa permisi. William Holden yang memerankan sebagai Commodore Shears adalah representasi dari realisme. Tanpa mengungkapkan semua plot agar tidak merusak selera mereka yang belum nonton film ini, penulis menilai bahwa babak pertama (standoff antara Nicholson dan Saito) dan babak kedua (Nicholson dan pasukannya membangun jembatan) adalah bagian terbaik dalam film ini. Babak ketiga, Shears dan komando Inggris menyusun rencana untuk menghancurkan jembatan tersebut, terasa "istirahat" atau "tarik nafas" ... dimana studio Columbia memasukkan elemen-2 "pemanis" khas Hollywood, misalnya Shears berpacaran dengan seorang prajurit wanita, dll. Beruntungnya, babak keempat atau terakhir, Shears dan komando Inggris semakin mendekati jembatan tersebut, temponya naik lagi. Dan diakhiri dengan klimaks yang mencekam, ketika Nicholson harus berhadapan dengan realitas, dan realitas yang bakal menghancurkan idealismenya.
"What have I done? What have I done?" demikianlah teriak Nicholson.
Pertanyaan Nicholson ini meninggalkan perasaan bimbang (unsettled) dalam hati penulis.
The Bridge on the River Kwai menerima 8 nominasi Oscar dan memenangkan 7 darinya:
- Film Terbaik
- Sutradara Terbaik (David Lean)
- Script Adaptasi Terbaik (penulis bukunya adalah penulis yang sama dari "Planet of the Apes")
- Aktor Terbaik (Alec Guinness)
- Aktor Pendukung Terbaik (Sessue Hayakawa -- sayang dia "dilompati" oleh aktor Amerika)
- Editing Terbaik
- Cinematografi Terbaik
- Musical Score Terbaik
Last, but not least, musical score ... ya, musical score film ini adalah salah satu dari musical score-2 paling terkenal dalam sejarah perfilman. Walaupun anda mungkin belum pernah menonton film ini, saya jamin anda sudah pernah mendengar musical score-nya. Mengiringi pasukan Nicholson berjalan masuk ke kamp romusha, sequence pembuka film ini juga menjadi salah satu dari sequence-2 pembuka paling terkenal dalam sejarah perfilman.
Dalam waktu sepuluh tahun kemudian, David Lean mengulangi lagi kesuksesannya dalam menangani karakter-2 yang "eksentrik" dalam dua film klasiknya, Lawrence of Arabia (1962) dan Doctor Zhivago (1965).
* 9.0/10
Friday, 15 June 2012
High Society
Resensi Film: High Society (7.8/10)
Tahun Keluar: 1956
Negara Asal: USA
Sutradara: Charles Walters
Cast: Bing Crosby, Grace Kelly, Frank Sinatra
Plot: Remake dari The Philadelphia Story (1940) -- ketika reporter majalah gosip muncul sehari sebelum hari perkawinan (kedua)-nya, Tracy Samantha Lord terpaksa menjalani "crash course" tentang masa lalu dengan bekas suaminya, ketidakharmonisan hubungan dengan ayahnya, dan ... menemukan siapa dirinya, the truth about herself! -- tetapi digarap dengan memasukkan musik dan lirik (IMDb).
Melihat rating High Society di IMDb, penulis termasuk salah satu dari sedikit film critic yang memberi review positif untuk film ini. Mengapa? Berganti setting dari Philadephia ke Newport, Rhode Island, High Society mempunyai detil plot dan karakter-2 yang sama dengan film pendahulunya -- sebagian dari dialognya, walaupun tidak sama persis, verbatim, juga sama dengan dialog dalam film pendahulunya. Satu perbedaan critical di antara keduanya adalah High Society menggantikan sebagian (besar) dialog yang tajam dan sarkastik dari Donald Ogden Stewart dengan sembilan musik dan lirik yang top-notch dari Cole Porter -- membuat High Society menjadi film yang energetic dan entertaining. Memang betul, gara-2 penggantian tersebut High Society menjadi kekurangan satire yang tajam, sarkasme yang lucu, dan karakterisasi yang kompleks (tiga hal yang membuat The Philadelphia Story unggul), tetapi ... untuk penulis, musik dan lirik dari Cole Porter berhasil dengan sangat baik 'make up' (bahasa Jawa-nya, 'nempuhi') kekurangan-2 tersebut. Ini adalah alasan atau excuse dari penulis :-)
Betul, penulis dapat membuktikan mengapa High Society patut menerima review positif. High Society memiliki 4 elemen yang menarik:
1) Romans; lebih romantik, tetapi tidak pernah sentimental atau berlebihan.
2) Dialog; walaupun kekurangan "pukulan telak" (seperti telah dijelaskan di atas), tetapi tetap menarik. Sebagai contoh: dialog paling menarik, without a doubt, adalah antara Tracy Samantha Lord (Grace Kelly) dan Macaulay "Mike" Connor (Frank Sinatra) ketika mereka berkendara di seputar Newport: mula-2 bercanda, tetapi kemudian berubah menjadi sarkastik tentang topik kekayaan, orang kaya, dan perbedaan kelas sosial. Aha ! ... ini yang penulis tunggu-2, yang terasa kurang digali di film pendahulunya. Dalam beberapa scene sebelumnya, dialog antara Mike dan rekan fotografer-nya, Elizabeth Imbrie (Celeste Holm), ketika mereka 'ngrasani' habis-2an orang kaya juga witty (orisinil, tajam, dan sekaligus humorous) dan tentu saja dengan dosis prejudice yang cukup tinggi. Dialog witty tersebut kemudian diakhiri dengan mereka berduet menyanyikan lagu yang juga witty, liriknya satiris dan menggelitik, "Who Wants to be a Millionaire?" -- siapa yang nyangka lebih dari 40 tahun kemudian ada acara Game Show di TV yang memperoleh namanya dari judul lagu tersebut?! Dan mereka yang menghayati lirik lagu tersebut pasti tidak akan ikut acara permainan berhadiah tersebut :-)
3) Superstar cast; penyanyi bersuara bass-baritone, sekaligus aktor, Bing Crosby berperan sebagai bekas suami Tracy, C.K. Dexter Haven, screen goddess Grace Kelly sebagai Tracy, dan penyanyi swing, juga sekaligus aktor, Frank Sinatra sebagai reporter, Mike -- ketiganya mempunyai chemistry yang klop! Well, saat itu Crosby sesungguhnya sudah agak "has been", maksudnya ketenarannya sudah mulai turun; Sinatra sedang memerlukan publisitas baru setelah beberapa tahun absen dari menyanyi; tetapi Kelly sedang berada di puncak popularitasnya. Tetapi sekarang, melihat film ini sebagai film klasik, ketiganya adalah superstar pada jamannya. Semuanya, termasuk Kelly, mendapat kesempatan untuk menyanyi, dan wow ... mereka tampil prima dan mempesona. Cast pendukung, Louis Calhern berperan sebagai Uncle Willie tampil komik sebagai sasaran konspirasi Tracy, Lydia Reed sebagai adik Tracy tampil cheeky untuk mengimbangi sarkasme kakaknya, dan terutama Celeste Holm sebagai Elizabeth Imbrie menjadi sidekick yang berhasil mengimbangi kharisma para pemeran utamanya. Dan satu lagi ... penyanyi jazz legendaris, Louis Armstrong (!), tampil sebagai dirinya sendiri.
4) Musik dan lirik yang super indah dari Cole Porter (seperti telah disebutkan di atas); musiknya melantunkan melodi yang lembut dan intim, yang menitikberatkan pada lirik dan gaya yang cantik. Armstrong membuka film dengan lagu berirama calypso "High Society" yang ringan dan mudah, liriknya menceritakan latar belakang cerita yang bakal disampaikan. Sinatra dan Holm berduet menyanyikan "Who Wants to be a Millionaire?" yang satiris dan menggelitik. Crosby dan Kelly berduet menyanyikan "True Love" yang romantik dan timeless. Crosby dan Armstrong berduet menyanyikan "Now You Has Jazz" yang smooth dan energetic, yang merupakan puncak performance dalam film ini (this is a must-see-performance!) Crosby dan Sinatra berduet menyanyikan "Well, Did You Evah?" yang catchy dan classy. Crosby dan Sinatra masing-2 tampil mempesona membawakan lagu-2 solonya: "I Love You, Samantha" (Crosby) -- instrumental dari Armstrong betul-2 romantic dan dreamy, "You're Sensational" dan lagu berirama rumba "Mind If I Make Love To You" (Sinatra). Hasil akhirnya, High Society adalah salah satu dari musical-2 terbesar produksi studio MGM. Tidak seperti musical-2 jaman sekarang yang sering-2 merupakan sekedar usaha untuk menjual soundtracks, High Society tidak hanya mempunyai bunyi dan suara, tetapi juga mempunyai hati dan jiwa!
Soundtracks selengkapnya dari High Society adalah sebagai berikut:
Performance dalam film ini memberi hidup dan vitalitas kepada karakter-2nya, dan musiknya membuat film ini tidak pernah kehilangan pesonanya.
Dari segi akting, walaupun Crosby yang berperan sebagai C.K. Dexter Haven tidak sebaik Cary Grant dalam film pendahulunya, Crosby berhasil menampilkan karakter yang simpatik, yang membuat penonton secara instinctive menyukai dirinya -- penonton ingin dia "menjinakkan" Tracy (ingat "The Taming of the Shrew"-nya Shakespeare?) dan "menjatuhkan Tracy dari pedestal-nya" (to knock the goddess off her pedestal) :-) Sedang Sinatra, lebih daripada James Stewart dalam film pendahulunya, menambahkan kualitas masculinity untuk perannya sebagai Macaulay Connor. Dan tidak dapat dipungkiri, the real scene-stealer dalam film ini adalah Kelly! Kelly, yang karier aktingnya pendek tetapi spektakuler, menunjukkan bagaimana pesona dirinya dapat menaklukkan hati penonton di seluruh dunia. Walaupun interpretasi Kelly terhadap karakter Tracy Samantha Lord tidak dapat mengalahkan interpretasi Katharine Hepburn terhadap karakter tersebut, Kelly nonetheless berhasil memerankan Tracy dengan meyakinkan (tampil lovely, sekaligus icy). High Society adalah film terakhir Kelly sebelum dia menikah dengan Pangeran Rainier dari Monaco dan mengundurkan diri dari dunia perfilman.
Dari segi arahan, sutradara Charles Walters menjaga semuanya "low-key". Dan dengan musik dan lirik yang super indah dan para aktor/penyanyi yang super prima, mereke justru tampil bersinar dan cemerlang, sedemikian rupa sehingga tidak ada sesuatupun yang terasa kurang. Well done.
Untuk penulis, nonton High Society adalah seperti minum susu coklat panas di malam yang dingin.
Ketika filmnya berakhir, tiba-2 hati menjadi sedih, karena tidak ingin berpisah ... please, don't end ...
* 7.8/10
High Society dapat anda temukan di eBay.com
Tahun Keluar: 1956Negara Asal: USA
Sutradara: Charles Walters
Cast: Bing Crosby, Grace Kelly, Frank Sinatra
Plot: Remake dari The Philadelphia Story (1940) -- ketika reporter majalah gosip muncul sehari sebelum hari perkawinan (kedua)-nya, Tracy Samantha Lord terpaksa menjalani "crash course" tentang masa lalu dengan bekas suaminya, ketidakharmonisan hubungan dengan ayahnya, dan ... menemukan siapa dirinya, the truth about herself! -- tetapi digarap dengan memasukkan musik dan lirik (IMDb).
Melihat rating High Society di IMDb, penulis termasuk salah satu dari sedikit film critic yang memberi review positif untuk film ini. Mengapa? Berganti setting dari Philadephia ke Newport, Rhode Island, High Society mempunyai detil plot dan karakter-2 yang sama dengan film pendahulunya -- sebagian dari dialognya, walaupun tidak sama persis, verbatim, juga sama dengan dialog dalam film pendahulunya. Satu perbedaan critical di antara keduanya adalah High Society menggantikan sebagian (besar) dialog yang tajam dan sarkastik dari Donald Ogden Stewart dengan sembilan musik dan lirik yang top-notch dari Cole Porter -- membuat High Society menjadi film yang energetic dan entertaining. Memang betul, gara-2 penggantian tersebut High Society menjadi kekurangan satire yang tajam, sarkasme yang lucu, dan karakterisasi yang kompleks (tiga hal yang membuat The Philadelphia Story unggul), tetapi ... untuk penulis, musik dan lirik dari Cole Porter berhasil dengan sangat baik 'make up' (bahasa Jawa-nya, 'nempuhi') kekurangan-2 tersebut. Ini adalah alasan atau excuse dari penulis :-)
Betul, penulis dapat membuktikan mengapa High Society patut menerima review positif. High Society memiliki 4 elemen yang menarik:
1) Romans; lebih romantik, tetapi tidak pernah sentimental atau berlebihan.
2) Dialog; walaupun kekurangan "pukulan telak" (seperti telah dijelaskan di atas), tetapi tetap menarik. Sebagai contoh: dialog paling menarik, without a doubt, adalah antara Tracy Samantha Lord (Grace Kelly) dan Macaulay "Mike" Connor (Frank Sinatra) ketika mereka berkendara di seputar Newport: mula-2 bercanda, tetapi kemudian berubah menjadi sarkastik tentang topik kekayaan, orang kaya, dan perbedaan kelas sosial. Aha ! ... ini yang penulis tunggu-2, yang terasa kurang digali di film pendahulunya. Dalam beberapa scene sebelumnya, dialog antara Mike dan rekan fotografer-nya, Elizabeth Imbrie (Celeste Holm), ketika mereka 'ngrasani' habis-2an orang kaya juga witty (orisinil, tajam, dan sekaligus humorous) dan tentu saja dengan dosis prejudice yang cukup tinggi. Dialog witty tersebut kemudian diakhiri dengan mereka berduet menyanyikan lagu yang juga witty, liriknya satiris dan menggelitik, "Who Wants to be a Millionaire?" -- siapa yang nyangka lebih dari 40 tahun kemudian ada acara Game Show di TV yang memperoleh namanya dari judul lagu tersebut?! Dan mereka yang menghayati lirik lagu tersebut pasti tidak akan ikut acara permainan berhadiah tersebut :-)
3) Superstar cast; penyanyi bersuara bass-baritone, sekaligus aktor, Bing Crosby berperan sebagai bekas suami Tracy, C.K. Dexter Haven, screen goddess Grace Kelly sebagai Tracy, dan penyanyi swing, juga sekaligus aktor, Frank Sinatra sebagai reporter, Mike -- ketiganya mempunyai chemistry yang klop! Well, saat itu Crosby sesungguhnya sudah agak "has been", maksudnya ketenarannya sudah mulai turun; Sinatra sedang memerlukan publisitas baru setelah beberapa tahun absen dari menyanyi; tetapi Kelly sedang berada di puncak popularitasnya. Tetapi sekarang, melihat film ini sebagai film klasik, ketiganya adalah superstar pada jamannya. Semuanya, termasuk Kelly, mendapat kesempatan untuk menyanyi, dan wow ... mereka tampil prima dan mempesona. Cast pendukung, Louis Calhern berperan sebagai Uncle Willie tampil komik sebagai sasaran konspirasi Tracy, Lydia Reed sebagai adik Tracy tampil cheeky untuk mengimbangi sarkasme kakaknya, dan terutama Celeste Holm sebagai Elizabeth Imbrie menjadi sidekick yang berhasil mengimbangi kharisma para pemeran utamanya. Dan satu lagi ... penyanyi jazz legendaris, Louis Armstrong (!), tampil sebagai dirinya sendiri.
4) Musik dan lirik yang super indah dari Cole Porter (seperti telah disebutkan di atas); musiknya melantunkan melodi yang lembut dan intim, yang menitikberatkan pada lirik dan gaya yang cantik. Armstrong membuka film dengan lagu berirama calypso "High Society" yang ringan dan mudah, liriknya menceritakan latar belakang cerita yang bakal disampaikan. Sinatra dan Holm berduet menyanyikan "Who Wants to be a Millionaire?" yang satiris dan menggelitik. Crosby dan Kelly berduet menyanyikan "True Love" yang romantik dan timeless. Crosby dan Armstrong berduet menyanyikan "Now You Has Jazz" yang smooth dan energetic, yang merupakan puncak performance dalam film ini (this is a must-see-performance!) Crosby dan Sinatra berduet menyanyikan "Well, Did You Evah?" yang catchy dan classy. Crosby dan Sinatra masing-2 tampil mempesona membawakan lagu-2 solonya: "I Love You, Samantha" (Crosby) -- instrumental dari Armstrong betul-2 romantic dan dreamy, "You're Sensational" dan lagu berirama rumba "Mind If I Make Love To You" (Sinatra). Hasil akhirnya, High Society adalah salah satu dari musical-2 terbesar produksi studio MGM. Tidak seperti musical-2 jaman sekarang yang sering-2 merupakan sekedar usaha untuk menjual soundtracks, High Society tidak hanya mempunyai bunyi dan suara, tetapi juga mempunyai hati dan jiwa!
Soundtracks selengkapnya dari High Society adalah sebagai berikut:
- "High Society" (calypso) - Louis Armstrong
- "Little One" - Bing Crosby
- "Who Wants to be a Millionaire?" - Frank Sinatra & Celeste Holm
- "True Love" - Bing Crosby & Grace Kelly
- "You're Sensational" - Frank Sinatra
- "I Love You, Samantha" - Bing Crosby
- "Now You Has Jazz" - Bing Crosby & Louis Armstrong
- "Well, Did You Evah?" - Bing Crosby & Frank Sinatra
- "Mind If I Make Love To You" (rumba) - Frank Sinatra
Performance dalam film ini memberi hidup dan vitalitas kepada karakter-2nya, dan musiknya membuat film ini tidak pernah kehilangan pesonanya.
Dari segi akting, walaupun Crosby yang berperan sebagai C.K. Dexter Haven tidak sebaik Cary Grant dalam film pendahulunya, Crosby berhasil menampilkan karakter yang simpatik, yang membuat penonton secara instinctive menyukai dirinya -- penonton ingin dia "menjinakkan" Tracy (ingat "The Taming of the Shrew"-nya Shakespeare?) dan "menjatuhkan Tracy dari pedestal-nya" (to knock the goddess off her pedestal) :-) Sedang Sinatra, lebih daripada James Stewart dalam film pendahulunya, menambahkan kualitas masculinity untuk perannya sebagai Macaulay Connor. Dan tidak dapat dipungkiri, the real scene-stealer dalam film ini adalah Kelly! Kelly, yang karier aktingnya pendek tetapi spektakuler, menunjukkan bagaimana pesona dirinya dapat menaklukkan hati penonton di seluruh dunia. Walaupun interpretasi Kelly terhadap karakter Tracy Samantha Lord tidak dapat mengalahkan interpretasi Katharine Hepburn terhadap karakter tersebut, Kelly nonetheless berhasil memerankan Tracy dengan meyakinkan (tampil lovely, sekaligus icy). High Society adalah film terakhir Kelly sebelum dia menikah dengan Pangeran Rainier dari Monaco dan mengundurkan diri dari dunia perfilman.
Dari segi arahan, sutradara Charles Walters menjaga semuanya "low-key". Dan dengan musik dan lirik yang super indah dan para aktor/penyanyi yang super prima, mereke justru tampil bersinar dan cemerlang, sedemikian rupa sehingga tidak ada sesuatupun yang terasa kurang. Well done.
Untuk penulis, nonton High Society adalah seperti minum susu coklat panas di malam yang dingin.
Ketika filmnya berakhir, tiba-2 hati menjadi sedih, karena tidak ingin berpisah ... please, don't end ...
* 7.8/10
Thursday, 5 April 2012
Ballad of a Soldier
Resensi Film: Ballad of a Soldier (Ballada o soldate) (9.5/10)
Negara Asal: Soviet Union
Sutradara: Grigoriy Chukhray
Cast: Vladimir Ivashov, Zhanna Prokhorenko, Antonina Maksimova
Plot: Seorang prajurit muda, setelah melakukan tindakan heroik di medan pertempuran, memperoleh penghargaan cuti untuk pulang ke kampung halamannya sehingga dia bisa bertemu dengan ibunya dan memperbaiki atap rumahnya. Tetapi perjalanan pulang tersebut ternyata tidak mudah: dia bertemu dengan berbagai macam "halangan", sementara waktu cutinya semakin habis dan dia sendiri belum sampai ke rumahnya (IMDb).
Bersetting pada Perang Dunia ke 2 dan bertokoh seorang prajurit muda, Ballad of a Soldier bukanlah film perang, tetapi film yang bercerita tentang tiga macam cinta: eros (romans), storge (komitmen), dan agape (pengorbanan). Cinta romans antara pasangan muda, terjadi ketika tokoh utamanya, Alyosha (Vladimir Ivashov), bertemu dengan Shura (Zhanna Prokhorenko); cinta komitmen antara pasangan suami-istri; dan cinta pengorbanan ibu untuk anaknya. Penulis kagum dengan script dalam film ini, yang walaupun ceritanya sederhana, tetapi cara menyampaikannya memikat hati -- efeknya seperti menjadi anak kecil lagi yang dengan penuh antisipasi mendengarkan dongeng. Dengan script yang tanpa pretensi menyembunyikan kesederhanaan ceritanya, Ivashov yang saat itu berusia 20 tahun dan Prokhorenko, 19 tahun, memainkan perannya juga tanpa pretensi, betul-2 dengan dosis realitas yang pas. Tetapi pujian tertinggi mesti ditujukan ke sutradara Grigoriy Chukhray yang arahannya sedemikian poetic-nya -- efeknya seperti mimpi (dreamlike): pernahkah anda bermimpi anda harus pergi ke suatu tempat, tetapi tidak peduli apapun yang anda lakukan anda tidak pernah sampai ke tempat tersebut? Efeknya seperti ini. Literatur Rusia memang sarat dan terkenal dengan nuansa tragedi yang siap menerkam anda; dan arahan dari Chukhray dalam film ini persis sama menghasilkan efek seperti ini. Ada banyak adegan yang menghasilkan efek seperti ini: Alyosha ketinggalan kereta ketika dia mesti menunggu Vasya (prajurit invalid yang mengira istrinya sudah meninggalkan dirinya); Alyosha ketinggalan kereta lagi ketika dia mesti mengambilkan air untuk Shura; Alyosha kehilangan waktu lagi karena dia mesti menyampaikan pesan untuk keluarga Pavlov (prajurit yang dia temui dalam perjalanan pulang); Alyosha terburu-2 berpisah dengan Shura, dan dia lupa memberitahukan alamatnya ke Shura ... oh my god; jembatan keretanya hancur kena bom, padahal rumahnya hanya 10 km saja dari sana ... penulis sampai berteriak dalam hati, "Alyosha cepet pulang, lari, lari, lari ... run, Alyosha, run, run!!! ", tetapi dia tertahan di sana karena mesti membantu para penumpang yang lain ... oh my god! Tetapi adegan paling membekas adalah ketika Alyosha betul-2 sampai ke rumahnya, tetapi ibunya sedang bekerja di ladang, padahal waktu cutinya sudah habis dan dia mesti segera kembali ke markasnya. Arahan dari Chukhray ketika ibu dan anak akhirnya bertemu betul-2 luar biasa! Chukhray berhasil "menghentikan waktu" -- waktu seakan-2 berhenti, waktu yang hanya sekejap itu seakan-2 seperti eternity ... antara sekejap dan selamanya melebur menjadi satu.
Ballad of a Soldier adalah salah satu dari karya terbaik perfilman Rusia.
* 9.5/10
Thursday, 3 November 2011
Gentlemen Prefer Blondes
Resensi Film: Gentlemen Prefer Blondes (***/4)
Tahun Keluar: 1953
Negara Asal: USA
Sutradara: Howard Hawks
Cast: Jane Russell, Marilyn Monroe, Charles Coburn, Elliott Reid, Tommy Noonan
Plot: Dua penyanyi panggung pergi ke Paris sambil dibuntuti oleh seorang detektif swasta, seorang bandot tua dan sepasukan fans (IMDb).
Gentlemen Prefer Blondes adalah drama komedi musical yang secara khusus dikemas untuk dua bintang utamanya, Jane Russell dan Marilyn Monroe. Sutradara seperti Billy Wilder mungkin dapat memberi film ini lebih banyak kedalaman, tetapi Howard Hawks dengan temponya yang tinggi membuat film ini lebih enak ditonton walaupun substansinya terasa kurang -- ceritanya setipis kertas dan kekurangan emosi riel. Tiga dari lima karakter utamanya terasa karikaturis, namun demikian kekurangan tersebut justru membuat mereka menarik. Juga kejutan yang menyenangkan ketika Henry Spofford III yang misterius ternyata adalah anak kecil dengan wajah tanpa ekspresi. Walaupun Russell menempati urutan pertama dalam anggota cast-nya, film ini adalah filmnya Monroe dan dia betul-2 bersinar. Russell mengucapkan dialog-2 sarkastik yang mengundang tawa, tetapi Monroe-lah yang melontarkan dialog-2 terbaiknya yang cespleng, misalnya:
Esmond Sr.: Have you got the nerve to tell me you don't want to marry my son for his money?
Lorelei Lee: It's true.
Esmond Sr.: Then what do you want to marry him for?
Lorelei Lee: I want to marry him for YOUR money.
atau
Lorelei Lee: Don't you know that a man being rich is like a girl being pretty? You wouldn't marry a girl just because she's pretty, but my goodness, doesn't it help?
... :-) Dan penampilan panggung Monroe, misalnya ketika dia menyayikan "Diamonds Are a Girl’s Best Friend", betul-2 menobatkan dirinya sebagai simbol seks yang iconic. Tetapi pujian tertinggi mesti ditujukan kepada Howard Hawks yang berhasil membuat semua elemen dalam film ini bergerak dengan tempo yang tinggi dari awal sampai akhir.
Cerita (***)
Screenplay (***)
Karakter (***)
Akting (***)
Keseluruhan: ***/4
Subscribe to:
Posts (Atom)












