Showing posts with label David Lean. Show all posts
Showing posts with label David Lean. Show all posts

Wednesday, 27 June 2012

The Bridge on the River Kwai

Resensi Film: The Bridge on the River Kwai (9.0/10)

Tahun Keluar: 1957
Negara Asal: UK, USA
Sutradara: David Lean
Cast: William Holden, Alec Guinness, Jack Hawkins, Sessue Hayakawa

Plot: Setelah melalui standoff yang alot dengan komandan kamp tawanan perang Jepang, seorang kolonel Inggris akhirnya bersedia memimpin pasukannya untuk membangun jembatan untuk penangkapnya -- tidak mengetahui komando atasannya mempunyai rencana untuk menghancurkan jembatan tersebut (IMDb).

The Bridge on the River Kwai adalah salah satu dari sedikit saja film-2 perang yang meninggalkan kesan khusus dalam memori penulis. Salah satu penyebabnya adalah David Lean. Well, bukan gara-2 David Lean orangnya; tetapi gara-2 David Lean kepandaiannya, yaitu kepandaiannya dalam menampilkan kepribadian sebuah karakter, sedemikian rupa sehingga penonton dapat melihat keunikannya -- kekuatannya, juga kelemahannya; kehebatannya, juga ke-"aneh"-annya. Lean khususnya pandai menangani karakter-2 yang kita nilai sebagai "eksentrik" -- yang kalau kita teliti lebih lanjut, bukan eksentrik dalam arti clinically insane, tetapi lebih karena idealismenya atau integritasnya. Mungkin kalau di Indonesia ada pejabat yang tidak suka korupsi, teman-2nya akan menjulukinya sebagai orang "eksentrik" -- padahal yang dimaksud sebagai "eksentrik" di sini adalah orang yang idealis atau punya integritas. Lean selalu berhasil menampilkan paradoks yang menarik ini: orang eksentrik ternyata adalah orang idealis.

Walaupun William Holden memperoleh first billing (gara-2 alasan pemasaran, yaitu bintang utamanya harus aktor Amerika), bintang sesungguhnya dalam film ini adalah Alec Guinness, aktor Inggris, yang memerankan sebagai Colonel Nicholson. Tertangkap sebagai tawanan perang Jepang dan dimasukkan kamp romusha (kerja paksa) di hutan belantara terpencil di Burma, Nicholson tidak pernah lupa perannya sebagai pemimpin dari pasukannya. Dia selalu mengingatkan bawahannya bahwa walaupun mereka adalah tawanan perang Jepang, mereka tidak berada di bawah perintah Jepang, tetapi tetap berada di bawah perintahnya. Demikianlah aturan Konvensi Jenewa dan aturan ini dipegang teguh oleh Nicholson. Maka ketika komandan kamp romusha, Colonel Saito (Sessue Hayakawa), memerintahkan para perwira Inggris untuk bekerja berdampingan dengan bawahannya, maksudnya sama-2 menjadi kuli dan komando dipegang oleh para perwira Jepang, Nicholson menolak mentah-2 perintah tersebut seraya menunjukkan aturan dalam buku kecil Konvensi Jenewa tersebut :-) Kontan saja perlawanan Nicholson ini ditanggapi secara frontal oleh Saito yang sama-2 keras kepalanya! Tidak mau mundur sedikitpun, Nicholson dihadapkan ke grup tembak yang siap memberondongkan senjata otomatisnya. Tetap tidak mau menyerah, Nicholson dijemur di bawah terik matahari sampai teler, kemudian dimasukkan ke dalam "oven" (gubuk kecil terbuat dari seng) sampai berhari-2. Scene pasukannya menyaksikan komandannya dihukum di dalam "oven", kemudian mereka menyanyi "For He's a Jolly Good Fellow" untuk memberi semangat betul-2 mengharukan. Sementara itu, para perwira Jepang mengambil alih kepemimpinan atas pasukan Nicholson dan memerintahkan mereka untuk membangun jembatan rel kereta api yang bakal menghubungkan Bangkok dan Rangoon. Tetapi spirit/morale mereka sangat rendah -- mereka kerja ogah-2an, tidak terkoordinir, banyak yang sakit, banyak yang cedera -- dan semakin mereka ditekan, semakin mereka gak karu-2an. Akhirnya, proyek pembangunan jembatan tersebut tidak berhasil mencapai target. Saito menyadari kalau dia sampai gagal menyelesaikan proyek tersebut, dia harus "mengundurkan diri", maksudnya seppuku atau bunuh diri. Di lain pihak, tidak berhasil "mematahkan" Nicholson, jiwa atau raganya, dengan ancaman, hukuman, intimidasi, dan lain sebagainya, Saito kemudian mencoba dengan suap atau sogok ... ternyata tidak berhasil juga! :-) Akhirnya, Saito menyerah ... ya, Nicholson boleh memimpin pasukannya dan para perwira Inggris boleh melakukan fungsinya sebagai pemimpin. Scene Nicholson keluar dari kantor Saito seraya berjalan terseok-2 setelah entah berapa hari berada di dalam "oven" dan disambut dengan gegap gempita oleh pasukannya betul-2 membangkitkan perasaan euphoria setinggi langit (padahal penulis bukan orang Inggris dan tidak mempunyai patriotisme terhadap Inggris) ... dan sekali lagi mereka menyanyikan "For He's a Jolly Good Fellow." Untuk penulis, scene ini adalah scene kemenangan idealisme! Dan David Lean tidak stop short di sini saja, karena dalam scene berikutnya Lean menampilkan Saito duduk menangis histeris sendirian di dalam kamarnya. Dan dari euphoria atas kemenangan Nicholson, perasaan langsung berubah menjadi simpati terhadap Saito. The Bridge on the River Kwai tercatat dalam sejarah perfilman sebagai salah satu dari sedikit saja film-2 perang yang menggambarkan Jepang secara obyektif atau berimbang.

Melihat spirit/morale pasukannya yang sangat rendah dan mengetahui tidak ada kemungkinan untuk melarikan diri (kemungkinannya 1 dalam 100), Nicholson memutuskan untuk bekerja secara kooperatif dengan penangkapnya. Dia bahkan memutuskan untuk membangun jembatan tersebut secara serius dan sungguh-2. Keputusan ini mengherankan para perwiranya: "Mengapa membangun jembatan secara serius dan sungguh-2?", "Tidakkah lebih baik membangun yang jelek-2 saja, khan Jepang itu musuh?" -- point yang valid dan masuk akal. Tetapi kemudian keluar "keeksentrikan" Nicholson :-) ... dia menjawab, kira-2 begini: "Perang ini bakal selesai, entah kapan ... tetapi bakal selesai, tetapi tempat ini akan ada di sini selamanya. Mengapa tidak membangun jembatan dengan kualitas yang tinggi, yang bisa bertahan sampai puluhan tahun? Dan jembatan ini akan dikenang selamanya sebagai hasil karya pasukan Inggris yang bekerja tidak sebagai budak, tetapi sebagai orang yang mempunyai kebebasan." Mendengar jawaban ini, para perwiranya melongo ... (penulis juga melongo :-)). Satu perwiranya yang insinyur kemudian mengatakan dia menemukan pohon yang kayunya mirip seperti kayu yang digunakan untuk London Bridge di London, dan jembatan tersebut usianya sudah 600 tahun! Nicholson menjawab dengan senyum simpul, "Kalau begitu, mengapa tidak membangun jembatan yang usianya bisa selama itu?!" Sejak itu, spirit/morale pasukannya sedikit demi sedikit naik, mereka happy, Jepang-nya juga happy, kondisi kamp lebih friendly, pihak Inggris boleh mengatur sendiri kamp-nya. Scene-2 dalam babak kedua ini betul-2 uplifting ... "larger than life".

Tetapi David Lean tidak selamanya terbuai dalam idealisme, karena realisme, suka atau tidak suka, datang tanpa permisi. William Holden yang memerankan sebagai Commodore Shears adalah representasi dari realisme. Tanpa mengungkapkan semua plot agar tidak merusak selera mereka yang belum nonton film ini, penulis menilai bahwa babak pertama (standoff antara Nicholson dan Saito) dan babak kedua (Nicholson dan pasukannya membangun jembatan) adalah bagian terbaik dalam film ini. Babak ketiga, Shears dan komando Inggris menyusun rencana untuk menghancurkan jembatan tersebut, terasa "istirahat" atau "tarik nafas" ... dimana studio Columbia memasukkan elemen-2 "pemanis" khas Hollywood, misalnya Shears berpacaran dengan seorang prajurit wanita, dll. Beruntungnya, babak keempat atau terakhir, Shears dan komando Inggris semakin mendekati jembatan tersebut, temponya naik lagi. Dan diakhiri dengan klimaks yang mencekam, ketika Nicholson harus berhadapan dengan realitas, dan realitas yang bakal menghancurkan idealismenya.

"What have I done? What have I done?" demikianlah teriak Nicholson.

Pertanyaan Nicholson ini meninggalkan perasaan bimbang (unsettled) dalam hati penulis.

The Bridge on the River Kwai menerima 8 nominasi Oscar dan memenangkan 7 darinya:
  • Film Terbaik
  • Sutradara Terbaik (David Lean)
  • Script Adaptasi Terbaik (penulis bukunya adalah penulis yang sama dari "Planet of the Apes")
  • Aktor Terbaik (Alec Guinness)
  • Aktor Pendukung Terbaik (Sessue Hayakawa -- sayang dia "dilompati" oleh aktor Amerika)
  • Editing Terbaik
  • Cinematografi Terbaik
  • Musical Score Terbaik

Last, but not least, musical score ... ya, musical score film ini adalah salah satu dari musical score-2 paling terkenal dalam sejarah perfilman. Walaupun anda mungkin belum pernah menonton film ini, saya jamin anda sudah pernah mendengar musical score-nya. Mengiringi pasukan Nicholson berjalan masuk ke kamp romusha, sequence pembuka film ini juga menjadi salah satu dari sequence-2 pembuka paling terkenal dalam sejarah perfilman.

Dalam waktu sepuluh tahun kemudian, David Lean mengulangi lagi kesuksesannya dalam menangani karakter-2 yang "eksentrik" dalam dua film klasiknya, Lawrence of Arabia (1962) dan Doctor Zhivago (1965).

* 9.0/10

The Bridge on the River Kwai dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 10 April 2012

Great Expectations

Resensi Film: Great Expectations (8.5/10)

Tahun Keluar: 1946
Negara Asal: UK
Sutradara: David Lean
Cast: John Mills, Valerie Hobson, Bernard Miles, Francis L. Sullivan, Anthony Wager, Jean Simmons

Plot: Seorang anak laki-2 yatim piatu menerima bantuan keuangan dari seorang anonimus untuk dididik menjadi pria terhormat (gentleman) dengan masa depan cemerlang (great expectations) (IMDb).

Film arahan sutradara David Lean ini adalah adaptasi bebas dari novel klasik dengan judul yang sama karya Charles Dickens. Mereka yang sudah membaca novelnya akan menemukan beberapa perbedaan antara novel dan filmnya. Selain perbedaan beberapa karakter, script adaptasi film ini juga menghilangkan ambiguity di akhir cerita -- konon dengan maksud memuaskan tuntutan sentimental penonton (sementara mereka yang mengenal novelnya justru ambiguous dengan akhir cerita tersebut). Anyway, David Lean dkk. telah melakukan adaptasi dengan sangat baik -- sebaik mungkin yang dapat dilakukan oleh tim penulis script dari "memampatkan" 59 bab dalam novelnya menjadi hanya 3 babak saja dalam filmnya, dan tetap berhasil menjaga esensi dari cerita yang ada. Tidak ada penulis lain, selain Shakespeare tentunya, yang dapat menandingi Charles Dickens dalam menciptakan karakter-2 dengan nama yang aneh, dan karakterisasi yang aneh pula, sedemikian rupa sehingga melekat dalam ingatan pembaca. Walaupun Pip (John Mills/Anthony Wager -- Pip kecil) adalah tokoh utama dalam cerita ini, Pip hanyalah hero yang pasif, yang terseret menjadi "saksi" dalam rentetan peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Miss Havisham (Martita Hunt) adalah kekuatan utama dalam film ini: seorang wanita yang patah hati, yang memelihara patah hatinya dengan "mengabadikan" momen tersebut dan mendidik anak angkatnya, Estella (Valerie Hobson/Jean Simmons -- Estella kecil), dengan meracuni pikirannya untuk mematahkan setiap hati pria yang jatuh cinta dengannya. Walaupun sudah diperingatkan oleh temannya, Pip tidak dapat menolong dirinya, dia tetap saja jatuh cinta terhadap Estella. Mr. Magwitch (Finlay Currie) adalah kekuatan utama yang lain dalam film ini: seorang kriminal/buronan yang satu-2nya cara untuk menebus keburukan hidupnya adalah dengan menjadikan orang lain orang terhormat, yang mempunyai nasib berbeda dari dirinya, yang mempunyai masa depan cemerlang. David Lean selalu menggunakan visual yang dramatis untuk menciptakan atmosfir yang sepadan dengan cerita yang ada. Scene di kuburan ketika Mr. Magwitch mencengkeram Pip dari luar frame kamera entah sudah berapa kali diimitasi oleh film-2 horor yang lain. Dan satu scene yang menjadi trademark dari film ini: rumah megah yang gelap dan terlantar dengan penghuninya yang gila, jelas-2 mempengaruhi sutradara Billy Wilder dalam filmnya Sunset Boulevard yang dia buat 4 tahun kemudian. Sedikit kekecewaan dari penulis dari film ini adalah casting untuk Pip dewasa dan Estella dewasa. John Mills dan Valerie Hobson (ketika film ini dibuat berusia 38 tahun dan 29 tahun) terlalu tua memerankan Pip dan Estella yang berusia 20 tahunan dalam ceritanya. Untungnya, Anthony Wager sebagai Pip kecil dan Jean Simmons sebagai Estella kecil jauh lebih pas castingnya. Anyway ...

Cerita tentang revenge dan redemption yang dikemas dalam setting horor ini menjadikan film arahan David Lean ini klasik seketika.

* 8.5/10

Great Expectations dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 26 May 2011

Doctor Zhivago

Resensi Film: Doctor Zhivago (****/4)

Tahun Keluar: 1965
Negara Asal: USA, Italy
Sutradara: David Lean
Cast: Omar Sharif, Julie Christie, Geraldine Chaplin, Rod Steiger, Alec Guinness, Tom Courtenay

Plot: Terbelah cintanya antara istrinya dan wanita yang menjadi inspirasi dalam dirinya, dokter/penulis puisi Yuri Zhivago harus melalui kecamuk lahir dan batin sementara Revolusi Bolshevik menyapu bersih seluruh Rusia (IMDb).

Diambil dari novel dengan judul yang sama karya Boris Pasternak, adaptasi dalam film ini menitikberatkan pada aspek romans dari cerita yang ada. Doctor Zhivago meraih ketenaran di seluruh dunia dengan sangat cepat, tetapi baru diputar di negara asal ceritanya, Rusia, setelah Uni Soviet jatuh. Untuk sebagian besar anggota cast dan crew, film ini adalah film yang meluncurkan karier mereka: Omar Sharif sebagai Dr. Zhivago yang berhati halus, Julie Christie sebagai Lara yang cantik dan enigmatic (tidak mudah dipahami), Geraldine Chaplin sebagai Tonya yang berhati hangat, Rod Steiger sebagai
Komarovsky yang korup dan jahat, Tom Courtenay sebagai Pasha yang membara dan revolusioner, Maurice Jarre dengan musik balalaikanya yang menghantui seluruh film dari awal sampai akhir, dekorasi seni dan set yang memukau, desain kostum yang memikat, setting lokasi yang indah dan cinematography yang spektakuler. Sutradara David Lean, dengan semua elemen tersebut dan perspektifnya yang penuh simpati, mencampur seluruhnya menjadi karya seni yang betul-2 indah ... karya seni yang betul-2 puitis! Inilah kehebatan arahan David Lean -- seluruh film dari awal sampai akhir.

Ada banyak scene yang mengesankan yang melekat dalam ingatan, misalnya: scene pertempuran, scene pengungsian massal, scene baris-berbaris melalui daerah-2 kosong yang dilanda badai salju, scene Dr. Zhivago dan keluarganya naik kereta api melalui pegunungan Ural, dan tentu saja ... scene Dr. Zhivago dan Lara naik kereta salju, dan scene puri terbengkalai di Varykino yang diselimuti salju. Penulis belum pernah berkunjung ke Rusia dan hanya menonton dari dalam ruangan yang hangat, tetapi anehnya bisa merasakan dinginnya sampai ke tulang ... tidak ada film yang menggambarkan detil musim dingin seakurat film ini.

Dan karakter yang paling mengesankan yang melekat dalam ingatan tentu saja adalah ... Lara! Lara adalah salah satu dari karakter-2 film yang paling mengesankan. Dia cantik dan enigmatic (tidak mudah dipahami); nampak lemah dari luar, tetapi sesungguhnya memiliki kekuatan di dalam. Betul-2 tersihir oleh kecantikannya yang misterius, penulis bisa memaafkan Dr. Zhivago yang berselingkuh dengan dirinya.

Doctor Zhivago menerima 10 nominasi Oscar dan memenangkan 5 kategori, yaitu: Best Writing, Best Original Music, Best Cinematography, Best Art and Set Decoration, dan Best Costume Design. Sayang sekali film ini dikeluarkan pada tahun yang sama dengan The Sound of Music, akibatnya mereka harus berkompetisi dalam Academy Awards pada tahun 1966. Walaupun tidak memenangkan Best Picture, Doctor Zhivago adalah film yang dibuat dengan sempurna dan inilah yang membuat film ini menjadi klasik (tidak pernah kuno karena perubahan jaman).

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (***1/2)
 
Keseluruhan: ****/4

Doctor Zhivago dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 21 April 2010

Summertime

Movie Review: Summertime

Year of Release: 1955
Country of Origin: UK, USA
Director: David Lean
Cast: Katharine Hepburn, Rossano Brazzi

Plot outline: A schoolteacher is surprised to find love on a Venetian vacation (IMDb).

David Lean secured his place in movie history with such grand epics as Lawrence of Arabia and Doctor Zhivago, and his earlier, much more modest Brief Encounter. Nestled in between is a gem of a romantic drama, Summertime. The story of how a visit to Venice touches one woman's life, it's an intimate and sensitive portrait which Lean later declared to be his favourite movie, starring his favourite actress. Hepburn plays Jane Hudson, a confident and eager tourist on a long-awaited trip to Venice, who goes in search of a "wonderful, mystical, magical, miracle!" and incessantly captures every moment on camera. But being alone in such a romantic setting soon takes its toll as Jane finds herself surrounded by couples and begins to yearn for some passion of her own. Rossano Brazzi is Renato de Rossi, the smooth antiques dealer who sweeps the nervous Jane off her feet with all the amorous flourishes of your typical Italian lover. Initially shocked by his frank sexuality, Jane soon succumbs to Renato, who over the course of the movie makes her realise that Venice is a real place with real faults and complexities, not just the idealistic setting for her daydreams. Hepburn made a career out of playing vibrant heroines with a vulnerable side and it's her portrayal of Jane's insecurity and loneliness that give the movie its substance. Based on Arthur Laurents' play The Time of the Cuckoo, the movie is thinly plotted to give Hepburn the space to act and Lean - shooting entirely on location for the first time - the space to capture images of Venice. Summertime proved to be a critical and commercial triumph for Lean. Its success enabled Lean to leave British cinema to garner more lucrative projects in Hollywood. The sophisticated visual and contextual foundations for those later epics are evident throughout Summertime in its blend of expansive scenery mixed with subtle and often wordless interactions. Lean would cultivate other exotic stories featuring additional isolated outsiders in his later work, but with Summertime the acclaimed British filmmaker crafted a touching evocation of loneliness and an emotional realism rarely evident in similar melodramas of the period. (LB, GC)

My judgement: *** out of 4 stars

Friday, 25 December 2009

In Which We Serve

Movie Review: In Which We Serve

Year of Release: 1942
Country of Origin: UK
Directors: Noel Coward, David Lean
Cast: Noel Coward, John Mills, Bernard Miles, Celia Johnson, Joyce Carey

Plot outline: This "story of a ship," the British destroyer HMS Torrin, is told in flash backs by survivors as they cling to a life raft (IMDb).

Although dated, Noel Coward's patriotic war movie captures the mood of Britain in 1942. Coward starts off with a narrative voice intoning the message: "This is the story of a ship." Luckily, it's not. It's the story of the men who served on her and the women who stayed behind. Coward has to prove that he is officer material and not some theatre johnnie with a talent to amuse. He tends to be severe, even when giving the crew a morale-boosting pep talk, and his relationship with the lady wife (Celia Johnson, in her first screen role) is textbook no-touchy-no-feely. He takes his role extremely seriously and, as a result, accumulates considerable respect. Although blatantly propagandist, the movie has good old-fashioned qualities. Coward was nervous of directing, since his experience had been entirely in the theatre, and so asked John Mills if he knew of anyone who might give him a hand. Mills suggested "the best editor in the country." He was hired. His name was David Lean. (AWM)

My judgement: **1/2 out of 4 stars

Tuesday, 29 September 2009

Lawrence of Arabia

Movie Review: Lawrence of Arabia

Year of Release: 1962
Country of Origin: UK
Director: David Lean
Cast: Peter O'Toole, Alec Guinness, Anthony Quinn, Jack Hawkins, Omar Sharif

Plot outline: Epic rumination on a flamboyant and controversial British military figure, T.E. Lawrence, and his conflicted loyalties during wartime service (IMDb).

Mr. Dryden: “If you give them artillery, you’ve made them independent.
Gen. Allenby: “Then I can’t give them artillery.
Col. Brighton: “It’s your decision.
Gen. Allenby: “No. I’ve got orders, thank God. Not like that poor devil; he‘s riding the whirlwind.
Mr. Dryden: “Let’s hope we’re not.

Set in the trackless expanses of the Middle East in World War I, the movie shows T. E. Lawrence’s attempt to make a nation of the Arabs, something quite different from the continued exploitation intended by the British crown. He is posted to spy on King Feisal and report back to HQ, but he is a two-edged sword who ends up identifying more with the Arabs than his British countrymen.

Lawrence of Arabia is a movie which celebrates the silence and emptiness of the vast Arabian desert. It was produced in a time when only the best would do. Clearly, David Lean only used the finest snippets to make his epic. The vast shots across the shimmering desert showing a miniscule rider approaching, the glorious sunsets, the Arab encampments, the battles, all combine to make this movie a must-see masterpiece. The story is both epic and personal, the performances are all first rate, the dialog is excellent, and the cinematography is legendary ... in short, it’s very hard to find any fault with David Lean’s creation. It also does a masterful job of character development: we learn that Lawrence is quite an uncommon man, right from the first few frames. Meant to be seen in 70mm, Lawrence of Arabia will undoubtedly lose some of its majesty on even the best high definition television. This is a larger-than-life production meant to be seen on a larger-than-life screen. With the exception of a few shots of the sun which burned through the stock when they tried to actually shoot it, everything in the movie is real. In an age where CGI has become routine as a way to cut costs, the difference between thousands of actual, human extras versus thousands of computer-generated extras is astounding. It is a pity that epics such as this may never be made again due to Hollywood’s obsession with formula movies. Lawrence of Arabia is a modern classic that has to be seen to be believed. (GC, FML)

My judgement: **** out of 4 stars

Monday, 23 March 2009

Brief Encounter

Movie Review: Brief Encounter

Year of Release: 1945
Country of Origin: UK
Director: David Lean
Cast: Celia Johnson, Trevor Howard, Stanley Holloway, Joyce Carey, Cyril Raymond

Plot outline: Meeting a stranger in a railway station, a woman is tempted to cheat on her husband (IMDb).

Being no more than an expansion of one of Noel Coward's one-act plays, Brief Encounter is an intimate drama, limited in every respect to the brief and extremely poignant romance of a married woman and a married man. And virtually all of the action takes place in a railway waiting-room and in the small English town adjacent thereto, where the couple make their fleeting rendezvous. That's all there is to the story - a quite ordinary middle-class wife, contentedly married and the mother of two children, meets a similarly settled doctor one day while on a weekly shopping visit to a town near that in which she lives. The casual and innocent acquaintance, renewed on successive weeks, suddenly ripens into a deep affection by which both are shaken and shocked. For a brief spell they spin in the bewilderment of conventions and their own emotional ties. Then they part, the doctor to go away and the wife to return to her home. There are obvious flaws in the story. The desperate affection of the two develops a great deal more rapidly than the circumstances would seem to justify. And the cheerful obtuseness of the lady's husband is more accommodating than one would expect. But the whole thing has been presented in such a delicate and affecting way - and with such complete naturalness in characterization and fidelity to middle-class detail - that those slight discrepancies in logic may be easily allowed. Under David Lean's fluid direction, Celia Johnson gives a consuming performance as the emotionally shaken lady in the case. Unprettified by make-up and quite plainly and consistently dressed, she is naturally and honestly disturbing with her wistful voice and large, sad saucer-eyes. And Trevor Howard, who has none of the aspects of a cut-out movie star, makes a thoroughly credible partner. Excellent, too, as characters in a flat, middle-class milieu are Stanley Holloway, Joyce Carey, Cyril Raymond and Everley Gregg. (NYT)

My judgement: **** out of 4 stars

Saturday, 23 August 2008

Blithe Spirit

Movie Review: Blithe Spirit

Year of Release: 1945
Country of Origin: UK
Director: David Lean
Cast: Rex Harrison, Constance Cummings, Kay Hammond, Margaret Rutherford

Plot outline: Seeking material for his new book about psychics, author Charles Condomine and his second wife Ruth invite a medium to their home to perform a séance. During the séance, Charles' first wife Elvira accidentally returns from beyond the grave ... and she has a purpose: to possess Charles forever! (IMDb)

Based on Noel Coward's play of the same title, even though I don't like this movie as much as other David Lean's masterpieces, it is good fun for the whole family. Never has a movie about death been so funny. It is original, spunky and entertaining. While Rex Harrison and Constance Cummings take the roles of the normals, Kay Hammond as the blithe spirit of the first wife Elvira and especially Margaret Rutherford as the eccentric Madame Arcati take every advantage of their characters' unusual behaviour to demonstrate their acting ability. Unfortunately, Ms. Rutherford's performance was overlooked at the Oscars. She is by all means the star of the movie. It was also incorporated some of the most sophisticated special effects yet seen in a movie (it won an Oscar for Best Special Effects). I particularly like the ending ... it's a good surprise and well within the theme of the movie.

My judgement: **1/2 out of 4 stars

Sunday, 20 April 2008

Oliver Twist

Movie Review: Oliver Twist

Year of Release: 1948
Country of Origin: UK
Director: David Lean
Cast: Robert Newton, Alex Guinness, Kay Walsh, Francis L. Sullivan, John Howard Davies

Plot outline: Based on the Charles Dickens novel, Oliver Twist is about an orphan boy who runs away from a workhouse and meets a pickpocket on the streets of London (IMDb).

After all these years and dozens of remakes, David Lean's Oliver Twist is still considered by many to be the definitive screen adaptation of the story. In most parts of the movie, he perfectly preserves the spirit of the story. Oliver Twist is actually a simple story, but it is the characters and the setting that make it interesting. The characters are eerily memorable - Bill Sikes, Fagin, Nancy, Mr. Bumble, Artful Dodger, etc. - brilliantly performed by talented cast, even the dog - the bull terrier named Bull's Eye - perfectly fits into its role. The setting, the depiction of London is surreally imaginative, this is accentuated by the good-looking black and white cinematography - cold and yet passionate, repulsive and yet attractive, with despair and hope live side by side. Just as Dickens with his masterful writing successfully delivers this melodramatic story, Mr. Lean with his masterful filmmaking successfully depicts the true spirit of the story.

My judgement: ***1/2 out of 4 stars