Madrid, Spain
United Kingdom, Lulu, "Boom Bang-a-Bang"
Showing posts with label 1960s. Show all posts
Showing posts with label 1960s. Show all posts
Sunday, 22 March 2015
Saturday, 21 March 2015
Friday, 20 March 2015
1967 Eurovision Winner ★★★★★
Vienna, Austria
United Kingdom, Sandie Shaw, "Puppet on a String"
Thursday, 19 March 2015
1966 Eurovision Winner ★★★★★
Luxembourg, Luxembourg
Austria, Udo Jürgens, "Merci, Chérie"
The Umbrellas of Cherbourg
The Umbrellas of Cherbourg
(Les parapluies de Cherbourg) ★★★★☆
Sederhana tetapi indah mutlak ...
Tahun Keluar: 1964
Negara Asal: Perancis
Sutradara: Jacques Demy
Script Original: Jacques Demy
Musik: Jacques Demy, Michel Legrand
Cast: Catherine Deneuve, Nino Castelnuovo, Anne Vernon, Marc Michel, Ellen Farner
Anda tidak menyukai film musical? Anda merasa musik memperlambat jalan cerita dan liriknya tidak seperti dialog yang biasanya? Jika jawaban anda “ya” untuk kedua pertanyaan ini, maka film kecil dari Perancis ini bakal mengubah persepsi anda tentang film musical.
Musik dan liriknya diaransir secara recitative -- mirip seperti ritme dan intonasi orang yang berbicara, karya Jacques Demy ini berhasil menjadi masterpiece yang tidak terduga. Ringan, musiknya tidak terasa berat di telinga, tetapi indah, dan plot ceritanya padat dan bergerak cepat.
Ceritanya sesungguhnya sangat sederhana dan sangat umum (“love story” yang tidak perlu diceritakan lagi), namun demikian Jacques Demy tetap berhasil dengan rapi menyimpan dan menampilkan “puncak” atau “kejutan” di akhir cerita; mengetahui penonton mengharapkan “Hollywood ending”, dan ketika akhir ceritanya ternyata sangat realistis, penonton justru terkejut atau tidak menyangka ... :-) Brilliant! Resolusinya sudah ada di depan mata, tetapi Demy tetap berhasil membuat penonton menunggu dalam suspense di akhir film.
Efeknya, hanya berdurasi 91 menit saja, penonton seakan-2 tidak menginginkan film ini berakhir. Dengan setting produksi yang indah bagaikan dalam dunia khayal (mirip seperti setting produksi dalam The Grand Budapest Hotel), casting yang betul-2 pas dengan karakterisasinya -- not to mention cantik dan ganteng bagaikan dalam dongeng (Catherine Deneuve ! ... 91 menit memandangnya terasa seperti cuma 5 menit saja), tetapi diimbangi dengan cerita yang rapi, padat, dan realistis -- membuat penonton simpati dan ikut terhanyut dalam masalah pelik yang dihadapi pasangan belia ini (padahal kita tahu persis masalah apa sich yang sedemikian peliknya yang dihadapi remaja berusia 16 tahun?! :-) ), The Umbrellas of Cherbourg adalah masterpiece yang lahir dari kesederhanaan dan kecintaan penciptanya terhadap musical.
Pemenang Palme d'Or dalam Festival Film Cannes pada tahun 1964, The Umbrellas of Cherbourg berhasil mengantongi 4 nominasi Oscar (Script Original dan 3 kategori musik) pada tahun 1966 -- tahun yang berat karena saat itu ada The Sound of Music yang musical dan Doctor Zhivago yang musiknya dari Maurice Jarre notabene tidak mungkin terkalahkan. Tetapi kategori Original Song semestinya jatuh ke lagu tema dalam film ini yang berjudul “Je ne pourrai jamais vivre sans toi ” (“I Will Wait for You”) ... very, very beautiful.
Catherine Deneuve mengingatkan penulis pada Grace Kelly. Beruntung sekali dia tidak kawin dengan pangeran, sehingga dia tetap bisa berkarya dalam perfilman sampai saat ini. And she still is beautiful ...
The Umbrellas of Cherbourg dapat anda temukan di eBay.com
(Les parapluies de Cherbourg) ★★★★☆
Sederhana tetapi indah mutlak ...
Tahun Keluar: 1964
Negara Asal: Perancis
Sutradara: Jacques Demy
Script Original: Jacques Demy
Musik: Jacques Demy, Michel Legrand
Cast: Catherine Deneuve, Nino Castelnuovo, Anne Vernon, Marc Michel, Ellen Farner
Anda tidak menyukai film musical? Anda merasa musik memperlambat jalan cerita dan liriknya tidak seperti dialog yang biasanya? Jika jawaban anda “ya” untuk kedua pertanyaan ini, maka film kecil dari Perancis ini bakal mengubah persepsi anda tentang film musical.
Musik dan liriknya diaransir secara recitative -- mirip seperti ritme dan intonasi orang yang berbicara, karya Jacques Demy ini berhasil menjadi masterpiece yang tidak terduga. Ringan, musiknya tidak terasa berat di telinga, tetapi indah, dan plot ceritanya padat dan bergerak cepat.
Ceritanya sesungguhnya sangat sederhana dan sangat umum (“love story” yang tidak perlu diceritakan lagi), namun demikian Jacques Demy tetap berhasil dengan rapi menyimpan dan menampilkan “puncak” atau “kejutan” di akhir cerita; mengetahui penonton mengharapkan “Hollywood ending”, dan ketika akhir ceritanya ternyata sangat realistis, penonton justru terkejut atau tidak menyangka ... :-) Brilliant! Resolusinya sudah ada di depan mata, tetapi Demy tetap berhasil membuat penonton menunggu dalam suspense di akhir film.
Efeknya, hanya berdurasi 91 menit saja, penonton seakan-2 tidak menginginkan film ini berakhir. Dengan setting produksi yang indah bagaikan dalam dunia khayal (mirip seperti setting produksi dalam The Grand Budapest Hotel), casting yang betul-2 pas dengan karakterisasinya -- not to mention cantik dan ganteng bagaikan dalam dongeng (Catherine Deneuve ! ... 91 menit memandangnya terasa seperti cuma 5 menit saja), tetapi diimbangi dengan cerita yang rapi, padat, dan realistis -- membuat penonton simpati dan ikut terhanyut dalam masalah pelik yang dihadapi pasangan belia ini (padahal kita tahu persis masalah apa sich yang sedemikian peliknya yang dihadapi remaja berusia 16 tahun?! :-) ), The Umbrellas of Cherbourg adalah masterpiece yang lahir dari kesederhanaan dan kecintaan penciptanya terhadap musical.
Pemenang Palme d'Or dalam Festival Film Cannes pada tahun 1964, The Umbrellas of Cherbourg berhasil mengantongi 4 nominasi Oscar (Script Original dan 3 kategori musik) pada tahun 1966 -- tahun yang berat karena saat itu ada The Sound of Music yang musical dan Doctor Zhivago yang musiknya dari Maurice Jarre notabene tidak mungkin terkalahkan. Tetapi kategori Original Song semestinya jatuh ke lagu tema dalam film ini yang berjudul “Je ne pourrai jamais vivre sans toi ” (“I Will Wait for You”) ... very, very beautiful.
Catherine Deneuve mengingatkan penulis pada Grace Kelly. Beruntung sekali dia tidak kawin dengan pangeran, sehingga dia tetap bisa berkarya dalam perfilman sampai saat ini. And she still is beautiful ...
Wednesday, 18 March 2015
1965 Eurovision Winner ★★★★★
Naples, Italy
Luxembourg, France Gall, "Poupée de cire, poupée de son"
Tuesday, 17 March 2015
1964 Eurovision Winner ★★★★★
Copenhagen, Denmark
Italy, Gigliola Cinquetti, "Non ho l'età"
Monday, 16 March 2015
1963 Eurovision Winner
London, United Kingdom
Denmark, Grethe and Jørgen Ingmann, "Dansevise"
Sunday, 15 March 2015
1962 Eurovision Winner ★★★★★
Luxembourg, Luxembourg
France, Isabelle Aubret, "Un premier amour"
Friday, 13 March 2015
1961 Eurovision Winner
Cannes, France
Luxembourg, Jean-Claude Pascal, "Nous les amoureux"
Thursday, 12 March 2015
1960 Eurovision Winner
London, United Kingdom
France, Jacqueline Boyer, "Tom Pillibi"
Saturday, 16 August 2014
My Fair Lady
My Fair Lady ★★★★★
Social Mobility:
Mencapai cita-2 yang anda tidak tahu anda mampu meraihnya ...
“Bravo, Eliza! ”
~ Sambungan review dari Pygmalion (1938)
Tahun Keluar: 1964
Negara Asal: USA
Sutradara: George Cukor
Cast: Audrey Hepburn, Rex Harrison, Stanley Holloway, Wilfrid Hyde-White, Gladys Cooper, Jeremy Brett, Theodore Bikel
Jaman sudah berubah. Kerajaan dengan otoritas mutlak hampir semuanya sudah punah. Republik dengan demokrasinya menggantikan sistem kuno tersebut untuk memastikan distribusi kesempatan ekonomi untuk seluruh rakyat. Namun demikian, cita-2 luhur Social Mobility yang diimpikan tersebut masih sering menjadi ilusi saja.
“Seandainya aku lahir di keluarga mampu, aku akan bisa sekolah sampai universitas dan menjadi pakar yang hebat ... ”
“Seandainya aku punya kesempatan belajar main piano, aku akan bisa menjadi pianis yang hebat ... ”
Miris membayangkan ada berapa banyak bakat terpendam yang hangus begitu saja gara-2 tidak ada kesempatan untuk mengembangkannya. Mungkin inilah alasannya mengapa cerita drama, kritik sosial, karya George Bernard Shaw ini masih terus langgeng, relevan sampai saat ini, dan mampu menarik minat penonton baru: “Seandainya aku punya kesempatan ini, aku akan bisa begini,” “seandainya aku punya kesempatan itu, aku akan bisa begitu,” et cetera, dan lain sebagainya. Mencapai cita-2 yang anda tidak tahu anda mampu meraihnya.
Versatilitas karya Shaw ini tidak dapat dipungkiri karena tulisan Shaw sendiri yang sangat baik; sedemikian baiknya sehingga segala macam adaptasi yang dihasilkan selanjutnya: musical, film, atau film musical, semuanya tidak dapat meninggalkan dialog-2 aslinya. Maka tidak mengherankan kalau hanya Shaw saja (atau Shaw dan timnya) yang pernah memenangkan penghargaan script terbaik untuk cerita ini; penulis-2 lain yang mengadaptasi cerita ini tidak pernah memenangkan penghargaan script adaptasi terbaik -- karena mereka tinggal menjiplak saja dialog-2 yang sudah ada.
Adaptasi dari musical (teater musical) ke film musical selalu menempatkan sutradara pada dua pilihan: 1) membuat filmnya seperti teater musical dengan menempatkan kamera-2 di sekitarnya -- misalnya, West Side Story (1961), atau yang diproduksi akhir-2 ini Les Misérables (2012); dimana semua dialognya adalah libretto, atau 2) membuat filmnya seperti film biasa dengan memasukkan musik di dalamnya. Pilihan pertama sesungguhnya tidak masuk akal. Mengapa? Karena tujuan utama mengadaptasi musical ke film musical adalah untuk menarik minat penonton film -- yang mayoritas tidak menyukai musical, untuk melihat versi filmnya. Tetapi kalau filmnya terlalu mirip dengan musicalnya -- dengan libretto segala (that goddamn libretto! :-) ), terus untuk apa mengadaptasinya ke film? Penonton film tetap tidak akan menyukainya. Sebaliknya, penonton teater tidak akan tertarik melihat film tersebut karena mereka sudah menyukai musicalnya. Mungkin karena inilah film-2 musical seperti West Side Story atau Les Misérables, walaupun menerima pujian dari kritikus-2 film ternama (sebagian besar dari mereka adalah penggemar musical), tidak pernah betul-2 menjadi favorit di kalangan penggemar film. Pilihan kedua adalah pilihan yang lebih masuk akal, tetapi memerlukan kinerja yang lebih tactful, considerate, atau pengertian.
Sutradara George Cukor -- karya-2nya yang lain a.l. Holiday (1938), The Women (1939), The Philadelphia Story (1940), Gaslight (1944), Adam's Rib (1949) -- berhasil memadukan dialog-2 dari karya aslinya dan musik & lirik dari Frederick Loewe dan Alan Jay Lerner dengan porsi yang seimbang dan timing yang pas; sedemikian rupa sehingga penonton tidak dapat memutuskan apakah mereka lebih senang melihat para pemainnya berbicara atau menyanyi. Dalam film ini, bagian-2 yang cocok disampaikan melalui dialog, disampaikan melalui dialog; bagian-2 yang cocok disampaikan melalui musik, disampaikan melalui musik. Musik & lirik dari Loewe dan Lerner berhasil mengimbangi dialog-2 tajam (serius sekaligus lucu dan menggelitik) dari Shaw: musiknya indah dan memorable, liriknya menarik -- sebagian romantis, sebagian kocak, sebagian tidak masuk akal, dan sebagian filosofis. Penilain penulis, hanya mereka yang betul-2 buta musik saja yang tidak menyukai film musical ini. Pendekatan Cukor ini kemudian diadopsi oleh Robert Wise, yang sebelumnya menggarap West Side Story, untuk The Sound of Music yang keluar tahun berikutnya yang juga meraih sukses gemilang.
Selain berhasil melestarikan dialog-2 dalam karya aslinya, Cukor juga berhasil melindungi inti ceritanya dari “serangan” Hollywood untuk meromantisir hubungan antara protagonist wanitanya, Eliza Doolittle, dan antagonis prianya, Professor Higgins. Studio Warner Bros. tidak dapat disangkal ingin “menggaris-bawahi” potensi romance antara kedua pemeran utama ini. Beruntung sekali Cukor berhasil menyenangkan kedua-belah pihak: membuat penonton terbuai dengan potensi romance yang tersirat, tetapi tetap menjaga akhir cerita yang terbuka:
Sebelum penonton mengetahui reaksi Eliza -- melempar lagi sandal tersebut ke Professor Higgins atau tidak, Cukor cepat-2 menggelapkan filmnya ... Fade Out, The End, tamat, meninggalkan penonton penasaran dan bertanya-2: Siapa yang akhirnya mengalah? Bagaimana nasib Eliza selanjutnya?
Satu berita paling terkenal dari produksi film ini adalah perseteruan sengit antara Jack Warner, pemilik studio Warner Bros., dan anggota cast musical terhadap pilihannya atas Audrey Hepburn daripada Julie Andrews yang saat itu sudah memerankan Eliza dalam teater musical-nya. Tidak mempedulikan protes tersebut, Warner memilih Hepburn karena dia mempunyai daya tarik box office yang lebih besar -- dan seandainya dia menolak, Warner konon siap menawarkan peran ini ke Elizabeth Taylor. Mengetahui kehadirannya tidak diinginkan (baca: kemampuan vocalnya diragukan), Hepburn mengajukan syarat kepada Warner bahwa dia hanya akan menerima peran ini kalau dia diperbolehkan menyanyi sendiri. Warner menerima syarat tersebut. Di akhir produksi, tanpa sepengetahuan Hepburn, Warner memanggil Marni Nixon, penyanyi soprano yang sering men-dub suara aktres-2 dalam film-2 musical -- a.l. suara Deborah Kerr dalam The King and I (1956), suara Natalie Wood dalam West Side Story (1961), dan mengganti praktis semua suara Hepburn dalam nyanyian dengan suara Nixon. Ketika Hepburn akhirnya mengetahui hal ini, Hepburn kecewa berat, tetapi tidak bisa apa-2.
Perasaan animosity terhadap Hepburn dari anggota cast musical (sebagian besar dari mereka adalah anggota AMPAS) ternyata terbawa sampai ke Academy Awards. My Fair Lady menerima 12 nominasi Oscar, memenangkan 8 Oscar, dan semua peran aktingnya menerima nominasi Oscar, kecuali Hepburn! Rex Harrison memenangkan Aktor Terbaik. Stanley Holloway menerima nominasi Aktor Pendukung Terbaik. Gladys Cooper menerima nominasi Aktres Pendukung Terbaik (padahal dia bukan anggota cast musical). Hepburn ... NOL! Dia terkena “single out”, diskriminasi, seakan-2 ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak termasuk dalam anggota cast film ini. Deborah Kerr tidak mengalami diskriminasi dalam The King and I, suaranya juga di-dub, dan dia bukan anggota cast musical. Natalie Wood juga tidak mengalami diskriminasi dalam West Side Story, suaranya juga di-dub, dan dia juga bukan anggota cast musical. Mengapa hanya Hepburn yang terkena “single out”? Menilai secara fair, walaupun Hepburn tidak menyanyi sendiri, dia tetap berakting sendiri ... :-) Seperti disebutkan di atas, My Fair Lady mempunyai bagian akting & dialog dan bagian musik & lirik dengan porsi yang seimbang. Hepburn tidak dapat disangkal melakukan banyak akting. Sebagai contoh, scene ketika Eliza meledak terhadap professor Higgins sekembali mereka dari Embassy Ball:
Dialog dari Shaw ini tidak main-2 -- untuk mengucapkannya dengan meyakinkan memerlukan penjiwaan yang tinggi. Atau, scene ketika Eliza kembali ke jalanan dimana dia dulu berjualan bunga dan kecewa menemukan teman-2nya tidak mengenali dirinya lagi. Hepburn juga perlu menguasai transisi dari aksen Cockney (rakyat jelata) ke aksen Queen (aristokrat); dan Hepburn melakukannya dengan tanpa cela, passionate, dan percaya diri. Tidak cukup menerima diskriminasi tersebut, Hepburn harus menerima tamparan terakhir dari Academy Awards dengan Julie Andrews menerima Aktres Terbaik untuk Mary Poppins (1964), seakan-2 ingin menunjukkan bahwa Andrews-lah yang berhak memerankan Eliza dalam film ini. Dan Hepburn harus tetap tersenyum sepanjang acara Oscar tersebut :-) Betapa ironisnya, film Hepburn yang paling dikenang oleh penonton adalah film yang paling mendatangkan kenangan buruk untuk dirinya.
Di akhir hari, when the dust settles, setelah semuanya reda, pertanyaan terhadap keputusan Warner tersebut tetap tertinggal: Apakah keputusannya memilih Hepburn tersebut tepat? Dengan segala diskriminasi yang dialami Hepburn, sumbutkah hasilnya? Is it worth it? Jawabannya, YA ... dengan huruf besar! Dua scene, khususnya, yang membuat segala animosity tersebut sumbut hasilnya adalah:
1) Scene pacuan kuda; betul-2 scene yang fresh/original dan menyegarkan setelah penonton capek menyaksikan scene-2 latihan berbicara yang menjenuhkan. Admiration, surprise, suspense, dan comedy ... semuanya bertemu menjadi satu. Dan siapa yang tidak ingat gaun yang membalut rapat Eliza dan suspense menuju akhir pacuan kuda ketika Eliza akhirnya tidak mampu menyembunyikan karakter aslinya dan meledak menjadi comedy yang mengejutkan:
Lagi-2, dialog ini tidak main-2 -- untuk mengucapkannya memerlukan penjiwaan yang tinggi. Tidak berhenti sampai di sini saja, Eliza tampil lebih mengejutkan lagi dalam:
2) Scene Embassy Ball; ketika Eliza dengan gaun pestanya turun dari tangga ... wow, tidak hanya memukau, tetapi sekaligus mengharukan. Vocal Hepburn tiba-2 berubah menjadi husky (seperti orang yang kehabisan suara) dan raut wajahnya berubah menjadi sendu/melankolis. Ketika Professor Higgins beranjak pergi meninggalkan ruangan sementara Eliza berdiri dengan tenang menunggunya di belakang dan Higgins kemudian menyadari kesalahan tersebut dan langsung berbalik menjemput Eliza ... ha, 1 - 0 untuk Eliza! :-)
Tidak mengherankan produser Jack Warner mati-2an menginginkan Hepburn memainkan peran Eliza.
Disamping kehebatan dialog dan musik, My Fair Lady adalah kehebatan visual. Cukor tidak menyia-nyiakan desain produksi dan desain kostum garapan fotografer Cecil Beaton. Bersama dengan ciematographer Harry Stradling, Cukor juga berhasil memasukkan kekayaan dan detil visual ke dalam filmnya, mulai dari stylization scene pacuan kuda sampai ke segala pernik peralatan aneh yang ada dalam ruang laboratorium Professor Higgins :-)
Pujian khusus perlu diberikan kepada Cecil Beaton: desain kostumnya dengan tepat menggambarkan desain gaun dari jamannya; yang saat itu desainnya mirip seperti yang dikatakan Coco Chanel -- seperti korden atau dekorasi kue tart :-) Menarik melihat perbedaan antara gaun yang dikenakan Eliza dalam scene pacuan kuda, yang notabene pilihan Colonel Pickering -- dia memilih desain Inggris, dan gaun yang dikenakan Eliza dalam scene Embassy Ball, yang notabene pilihan Professor Higgins -- dia memilih desain Perancis. Gaun yang dikenakan Eliza dalam scene Embassy Ball ini ternyata mirip seperti desain Coco Chanel: simple yet elegant. Dengan kata lain, modern. Dengan gaun modern ini (bahkan sampai saat ini!) Hepburn tampil stand-out di antara wanita-2 lain yang mengenakan gaun dari jamannya. Yes, long live Coco Chanel :-)
All in all, My Fair Lady adalah film dengan dialog yang tajam, musik yang indah, dan visual yang menakjubkan. Betul-2 komplit.
2 - 0 untuk Eliza! :-)
Klasik.
My Fair Lady dapat anda temukan di eBay.com
Social Mobility:
Mencapai cita-2 yang anda tidak tahu anda mampu meraihnya ...
“Bravo, Eliza! ”
~ Sambungan review dari Pygmalion (1938)
Tahun Keluar: 1964Negara Asal: USA
Sutradara: George Cukor
Cast: Audrey Hepburn, Rex Harrison, Stanley Holloway, Wilfrid Hyde-White, Gladys Cooper, Jeremy Brett, Theodore Bikel
Jaman sudah berubah. Kerajaan dengan otoritas mutlak hampir semuanya sudah punah. Republik dengan demokrasinya menggantikan sistem kuno tersebut untuk memastikan distribusi kesempatan ekonomi untuk seluruh rakyat. Namun demikian, cita-2 luhur Social Mobility yang diimpikan tersebut masih sering menjadi ilusi saja.
“Seandainya aku lahir di keluarga mampu, aku akan bisa sekolah sampai universitas dan menjadi pakar yang hebat ... ”
“Seandainya aku punya kesempatan belajar main piano, aku akan bisa menjadi pianis yang hebat ... ”
Miris membayangkan ada berapa banyak bakat terpendam yang hangus begitu saja gara-2 tidak ada kesempatan untuk mengembangkannya. Mungkin inilah alasannya mengapa cerita drama, kritik sosial, karya George Bernard Shaw ini masih terus langgeng, relevan sampai saat ini, dan mampu menarik minat penonton baru: “Seandainya aku punya kesempatan ini, aku akan bisa begini,” “seandainya aku punya kesempatan itu, aku akan bisa begitu,” et cetera, dan lain sebagainya. Mencapai cita-2 yang anda tidak tahu anda mampu meraihnya.
Versatilitas karya Shaw ini tidak dapat dipungkiri karena tulisan Shaw sendiri yang sangat baik; sedemikian baiknya sehingga segala macam adaptasi yang dihasilkan selanjutnya: musical, film, atau film musical, semuanya tidak dapat meninggalkan dialog-2 aslinya. Maka tidak mengherankan kalau hanya Shaw saja (atau Shaw dan timnya) yang pernah memenangkan penghargaan script terbaik untuk cerita ini; penulis-2 lain yang mengadaptasi cerita ini tidak pernah memenangkan penghargaan script adaptasi terbaik -- karena mereka tinggal menjiplak saja dialog-2 yang sudah ada.
Adaptasi dari musical (teater musical) ke film musical selalu menempatkan sutradara pada dua pilihan: 1) membuat filmnya seperti teater musical dengan menempatkan kamera-2 di sekitarnya -- misalnya, West Side Story (1961), atau yang diproduksi akhir-2 ini Les Misérables (2012); dimana semua dialognya adalah libretto, atau 2) membuat filmnya seperti film biasa dengan memasukkan musik di dalamnya. Pilihan pertama sesungguhnya tidak masuk akal. Mengapa? Karena tujuan utama mengadaptasi musical ke film musical adalah untuk menarik minat penonton film -- yang mayoritas tidak menyukai musical, untuk melihat versi filmnya. Tetapi kalau filmnya terlalu mirip dengan musicalnya -- dengan libretto segala (that goddamn libretto! :-) ), terus untuk apa mengadaptasinya ke film? Penonton film tetap tidak akan menyukainya. Sebaliknya, penonton teater tidak akan tertarik melihat film tersebut karena mereka sudah menyukai musicalnya. Mungkin karena inilah film-2 musical seperti West Side Story atau Les Misérables, walaupun menerima pujian dari kritikus-2 film ternama (sebagian besar dari mereka adalah penggemar musical), tidak pernah betul-2 menjadi favorit di kalangan penggemar film. Pilihan kedua adalah pilihan yang lebih masuk akal, tetapi memerlukan kinerja yang lebih tactful, considerate, atau pengertian.
Sutradara George Cukor -- karya-2nya yang lain a.l. Holiday (1938), The Women (1939), The Philadelphia Story (1940), Gaslight (1944), Adam's Rib (1949) -- berhasil memadukan dialog-2 dari karya aslinya dan musik & lirik dari Frederick Loewe dan Alan Jay Lerner dengan porsi yang seimbang dan timing yang pas; sedemikian rupa sehingga penonton tidak dapat memutuskan apakah mereka lebih senang melihat para pemainnya berbicara atau menyanyi. Dalam film ini, bagian-2 yang cocok disampaikan melalui dialog, disampaikan melalui dialog; bagian-2 yang cocok disampaikan melalui musik, disampaikan melalui musik. Musik & lirik dari Loewe dan Lerner berhasil mengimbangi dialog-2 tajam (serius sekaligus lucu dan menggelitik) dari Shaw: musiknya indah dan memorable, liriknya menarik -- sebagian romantis, sebagian kocak, sebagian tidak masuk akal, dan sebagian filosofis. Penilain penulis, hanya mereka yang betul-2 buta musik saja yang tidak menyukai film musical ini. Pendekatan Cukor ini kemudian diadopsi oleh Robert Wise, yang sebelumnya menggarap West Side Story, untuk The Sound of Music yang keluar tahun berikutnya yang juga meraih sukses gemilang.
Selain berhasil melestarikan dialog-2 dalam karya aslinya, Cukor juga berhasil melindungi inti ceritanya dari “serangan” Hollywood untuk meromantisir hubungan antara protagonist wanitanya, Eliza Doolittle, dan antagonis prianya, Professor Higgins. Studio Warner Bros. tidak dapat disangkal ingin “menggaris-bawahi” potensi romance antara kedua pemeran utama ini. Beruntung sekali Cukor berhasil menyenangkan kedua-belah pihak: membuat penonton terbuai dengan potensi romance yang tersirat, tetapi tetap menjaga akhir cerita yang terbuka:
Professor Higgins: “Eliza? Where the devil are my slippers? ”
Sebelum penonton mengetahui reaksi Eliza -- melempar lagi sandal tersebut ke Professor Higgins atau tidak, Cukor cepat-2 menggelapkan filmnya ... Fade Out, The End, tamat, meninggalkan penonton penasaran dan bertanya-2: Siapa yang akhirnya mengalah? Bagaimana nasib Eliza selanjutnya?
Satu berita paling terkenal dari produksi film ini adalah perseteruan sengit antara Jack Warner, pemilik studio Warner Bros., dan anggota cast musical terhadap pilihannya atas Audrey Hepburn daripada Julie Andrews yang saat itu sudah memerankan Eliza dalam teater musical-nya. Tidak mempedulikan protes tersebut, Warner memilih Hepburn karena dia mempunyai daya tarik box office yang lebih besar -- dan seandainya dia menolak, Warner konon siap menawarkan peran ini ke Elizabeth Taylor. Mengetahui kehadirannya tidak diinginkan (baca: kemampuan vocalnya diragukan), Hepburn mengajukan syarat kepada Warner bahwa dia hanya akan menerima peran ini kalau dia diperbolehkan menyanyi sendiri. Warner menerima syarat tersebut. Di akhir produksi, tanpa sepengetahuan Hepburn, Warner memanggil Marni Nixon, penyanyi soprano yang sering men-dub suara aktres-2 dalam film-2 musical -- a.l. suara Deborah Kerr dalam The King and I (1956), suara Natalie Wood dalam West Side Story (1961), dan mengganti praktis semua suara Hepburn dalam nyanyian dengan suara Nixon. Ketika Hepburn akhirnya mengetahui hal ini, Hepburn kecewa berat, tetapi tidak bisa apa-2.
Perasaan animosity terhadap Hepburn dari anggota cast musical (sebagian besar dari mereka adalah anggota AMPAS) ternyata terbawa sampai ke Academy Awards. My Fair Lady menerima 12 nominasi Oscar, memenangkan 8 Oscar, dan semua peran aktingnya menerima nominasi Oscar, kecuali Hepburn! Rex Harrison memenangkan Aktor Terbaik. Stanley Holloway menerima nominasi Aktor Pendukung Terbaik. Gladys Cooper menerima nominasi Aktres Pendukung Terbaik (padahal dia bukan anggota cast musical). Hepburn ... NOL! Dia terkena “single out”, diskriminasi, seakan-2 ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak termasuk dalam anggota cast film ini. Deborah Kerr tidak mengalami diskriminasi dalam The King and I, suaranya juga di-dub, dan dia bukan anggota cast musical. Natalie Wood juga tidak mengalami diskriminasi dalam West Side Story, suaranya juga di-dub, dan dia juga bukan anggota cast musical. Mengapa hanya Hepburn yang terkena “single out”? Menilai secara fair, walaupun Hepburn tidak menyanyi sendiri, dia tetap berakting sendiri ... :-) Seperti disebutkan di atas, My Fair Lady mempunyai bagian akting & dialog dan bagian musik & lirik dengan porsi yang seimbang. Hepburn tidak dapat disangkal melakukan banyak akting. Sebagai contoh, scene ketika Eliza meledak terhadap professor Higgins sekembali mereka dari Embassy Ball:
Eliza Doolittle: “I sold flowers. I didn't sell myself. Now you've made a lady of me, I'm not fit to sell anything else.”
Dialog dari Shaw ini tidak main-2 -- untuk mengucapkannya dengan meyakinkan memerlukan penjiwaan yang tinggi. Atau, scene ketika Eliza kembali ke jalanan dimana dia dulu berjualan bunga dan kecewa menemukan teman-2nya tidak mengenali dirinya lagi. Hepburn juga perlu menguasai transisi dari aksen Cockney (rakyat jelata) ke aksen Queen (aristokrat); dan Hepburn melakukannya dengan tanpa cela, passionate, dan percaya diri. Tidak cukup menerima diskriminasi tersebut, Hepburn harus menerima tamparan terakhir dari Academy Awards dengan Julie Andrews menerima Aktres Terbaik untuk Mary Poppins (1964), seakan-2 ingin menunjukkan bahwa Andrews-lah yang berhak memerankan Eliza dalam film ini. Dan Hepburn harus tetap tersenyum sepanjang acara Oscar tersebut :-) Betapa ironisnya, film Hepburn yang paling dikenang oleh penonton adalah film yang paling mendatangkan kenangan buruk untuk dirinya.
Di akhir hari, when the dust settles, setelah semuanya reda, pertanyaan terhadap keputusan Warner tersebut tetap tertinggal: Apakah keputusannya memilih Hepburn tersebut tepat? Dengan segala diskriminasi yang dialami Hepburn, sumbutkah hasilnya? Is it worth it? Jawabannya, YA ... dengan huruf besar! Dua scene, khususnya, yang membuat segala animosity tersebut sumbut hasilnya adalah:
1) Scene pacuan kuda; betul-2 scene yang fresh/original dan menyegarkan setelah penonton capek menyaksikan scene-2 latihan berbicara yang menjenuhkan. Admiration, surprise, suspense, dan comedy ... semuanya bertemu menjadi satu. Dan siapa yang tidak ingat gaun yang membalut rapat Eliza dan suspense menuju akhir pacuan kuda ketika Eliza akhirnya tidak mampu menyembunyikan karakter aslinya dan meledak menjadi comedy yang mengejutkan:
Eliza Doolittle: “Come on, Dover! Come on, Dover! Move your bloomin' arse! ”
Lagi-2, dialog ini tidak main-2 -- untuk mengucapkannya memerlukan penjiwaan yang tinggi. Tidak berhenti sampai di sini saja, Eliza tampil lebih mengejutkan lagi dalam:
2) Scene Embassy Ball; ketika Eliza dengan gaun pestanya turun dari tangga ... wow, tidak hanya memukau, tetapi sekaligus mengharukan. Vocal Hepburn tiba-2 berubah menjadi husky (seperti orang yang kehabisan suara) dan raut wajahnya berubah menjadi sendu/melankolis. Ketika Professor Higgins beranjak pergi meninggalkan ruangan sementara Eliza berdiri dengan tenang menunggunya di belakang dan Higgins kemudian menyadari kesalahan tersebut dan langsung berbalik menjemput Eliza ... ha, 1 - 0 untuk Eliza! :-)
Tidak mengherankan produser Jack Warner mati-2an menginginkan Hepburn memainkan peran Eliza.
Disamping kehebatan dialog dan musik, My Fair Lady adalah kehebatan visual. Cukor tidak menyia-nyiakan desain produksi dan desain kostum garapan fotografer Cecil Beaton. Bersama dengan ciematographer Harry Stradling, Cukor juga berhasil memasukkan kekayaan dan detil visual ke dalam filmnya, mulai dari stylization scene pacuan kuda sampai ke segala pernik peralatan aneh yang ada dalam ruang laboratorium Professor Higgins :-)
Pujian khusus perlu diberikan kepada Cecil Beaton: desain kostumnya dengan tepat menggambarkan desain gaun dari jamannya; yang saat itu desainnya mirip seperti yang dikatakan Coco Chanel -- seperti korden atau dekorasi kue tart :-) Menarik melihat perbedaan antara gaun yang dikenakan Eliza dalam scene pacuan kuda, yang notabene pilihan Colonel Pickering -- dia memilih desain Inggris, dan gaun yang dikenakan Eliza dalam scene Embassy Ball, yang notabene pilihan Professor Higgins -- dia memilih desain Perancis. Gaun yang dikenakan Eliza dalam scene Embassy Ball ini ternyata mirip seperti desain Coco Chanel: simple yet elegant. Dengan kata lain, modern. Dengan gaun modern ini (bahkan sampai saat ini!) Hepburn tampil stand-out di antara wanita-2 lain yang mengenakan gaun dari jamannya. Yes, long live Coco Chanel :-)
All in all, My Fair Lady adalah film dengan dialog yang tajam, musik yang indah, dan visual yang menakjubkan. Betul-2 komplit.
Professor Higgins: “MOTHER! MOTHER! ”
Mrs. Higgins: “What is it, Henry? What's happened? ”
Professor Higgins: “She's gone.”
Mrs. Higgins: “Well, of course, dear, what did you expect? ”
Professor Higgins: “What ... what am I to do? ”
Mrs. Higgins: “Do without, I suppose.”
Professor Higgins: “And so I shall! If the Higgins oxygen burns up her little lungs, let her seek some stuffiness that suits her. She's an owl sickened by a few days of my sunshine. Very well, let her go, I can do without her. I can do without anyone. I have my own soul! My own spark of divine fire! ”
Mrs. Higgins: “Bravo, Eliza! ”
2 - 0 untuk Eliza! :-)
Klasik.
Wednesday, 25 June 2014
The Misfits
The Misfits ★★★★☆
A Lost Soul: Bagaikan kapal yang berlabuh tanpa jangkar ...
“If I'm going to be alone, I want to be by myself.”
Tahun Keluar: 1961
Negara Asal: USA
Sutradara: John Huston
Cast: Clark Gable, Marilyn Monroe, Montgomery Clift, Thelma Ritter, Eli Wallach
Dalam release perdananya, film ini memperoleh review yang beragam dari penonton (film critic) -- sebagian besar negatif, mungkin karena produksi film ini diselimuti oleh gosip negatif mulai dari kematian Clark Gable -- dia menderita serangan jantung dua hari setelah shooting selesai dan meninggal dunia sepuluh hari kemudian, konon gara-2 suhu panas (42 derajat Celcius) di setting film ini di Reno, Nevada, dan gara-2 dia melakukan stunt sendiri dalam scene dimana dia diseret sejauh 120 meter dengan kecepatan sekitar 50 km/jam melalui gurun kering dan tandus oleh seekor kuda liar; sampai ke “kekacauan” dalam setting film ini -- Marilyn Monroe keluar-masuk rehab gara-2 kecanduan obat bius, dan revisi berkali-2 dari script film ini sementara perkawinan antara Arthur Miller, si penulis script, dan Monroe mengalami kehancuran (mereka akhirnya bercerai setelah shooting selesai). Namun demikian, dengan berjalannya waktu apresiasi penonton berubah menjadi positif -- penonton mulai menyadari bahwa film ini mungkin adalah cukilan biografi Monroe yang paling akurat dari orang/penulis yang paling memahami dirinya. Memang betul, suami tidak otomatis menjadi orang yang pendapatnya paling obyektif tentang istrinya -- biasanya justru sebaliknya :-), tetapi Miller adalah seorang penulis -- karya-2nya a.l. Death of a Salesman, The Crucible, yang notabene pakar dalam mengamati “the innards” karakter dari seseorang. So, I think, he deserves some credit. Tetapi Miller tidak mengungkapkannya secara blak-2an. Walaupun tokoh utama dalam film ini hanya satu, judul film ini adalah The Misfits, bukan The Misfit. Lima tokoh dalam film ini, masing-2 to a certain degree, adalah “misfit” -- orang yang tidak cocok dengan lingkungan dimana dia berada.
Cerita diawali dengan Roslyn (Monroe) pindah ke Reno, Nevada, untuk mendapatkan perceraian dari suaminya. Dia indekos di rumah Isabelle (Thelma Ritter), juga seorang wanita yang bercerai. Beberapa saat setelah perceraian, Roslyn dan Isabelle merayakan hari “kemerdekaan” tersebut dengan minum di sebuah bar dan di sana mereka bertemu dengan Guido (Eli Wallach), mekanik yang mereparasi mobil Roslyn, dan temannya, Gay (Gable), seorang cowboy berusia setengah baya. Setelah berkenalan mereka berempat sepakat pergi ke luar kota, ke rumah Guido di pedalaman Nevada untuk ... “just live.”
Beberapa waktu kemudian Guido dan Gay mengajak Roslyn pergi melihat mereka berburu kuda liar. Di tengah perjalanan mereka merekrut Perce (Montgomery Clift), seorang pemain rodeo, untuk membantu mereka. Kemanapun Roslyn pergi, dimanapun dia berada, dirinya adalah magnet bagi semua pria yang melihatnya. Demikian juga dengan ketiga pria ini: Guido berharap, tetapi dia tidak mampu bersaing dengan Gay yang jauh lebih berkharisma, sedang Perce hanya mampu menarik belas kasihan Roslyn. Dinamika persahabatan, sekaligus persaingan, di antara ketiga pria ini menjadi latar belakang dari emotional conflict/emotional turmoil yang dialami Roslyn dalam menemukan jati dirinya. Cerita diakhiri dengan Gay mengalah secara tulus dan sikapnya ini nampaknya berhasil “menyembuhkan” apapun emotional turmoil yang ada dalam diri Roslyn.
Arahan dari John Huston (The Maltese Falson, The Treasure of the Sierra Madre, Key Largo, The African Queen), sangat membantu mengekspresikan realism dalam film ini. Dengan setting flora dan fauna yang gersang dan liar, Gable nampak tua, capek, tetapi langsung bersemangat ketika melihat Monroe :-), Monroe nampak sedih walaupun dia tersenyum, dan Clift nampak vulnerable, rapuh. In fact, kelima tokoh dalam film ini, masing-2 to a certain degree, vulnerable, rapuh. Entah akting, entah scriptnya memang menceritakan situasi yang ada secara betulan, penampilan mereka dalam film ini sangat cocok dengan karakter-2 yang mereka mainkan. Arahan Huston berhasil menghasilkan tiga scene yang memorable, yaitu: 1) Scene Monroe bermain paddle-ball yang hampir saja menimbulkan perkelahian di dalam bar :-), 2) Scene Clift bermain rodeo, dimana dia terpelanting dua kali dari punggung kuda dan punggung banteng yang membuatnya gegar otak, 3) Scene perburuan kuda liar (seandainya film ini dibuat sekarang film ini pasti diboikot karena scene ini menampilkan kekejaman terhadap binatang) yang membuat emosi Monroe meletup:
juga konon akhirnya membunuh Gable.
Wow, what a film!
Could this be a snippet of Monroe's life? Maybe.
The Misfits dapat anda temukan di eBay.com
A Lost Soul: Bagaikan kapal yang berlabuh tanpa jangkar ...
“If I'm going to be alone, I want to be by myself.”
Tahun Keluar: 1961Negara Asal: USA
Sutradara: John Huston
Cast: Clark Gable, Marilyn Monroe, Montgomery Clift, Thelma Ritter, Eli Wallach
Dalam release perdananya, film ini memperoleh review yang beragam dari penonton (film critic) -- sebagian besar negatif, mungkin karena produksi film ini diselimuti oleh gosip negatif mulai dari kematian Clark Gable -- dia menderita serangan jantung dua hari setelah shooting selesai dan meninggal dunia sepuluh hari kemudian, konon gara-2 suhu panas (42 derajat Celcius) di setting film ini di Reno, Nevada, dan gara-2 dia melakukan stunt sendiri dalam scene dimana dia diseret sejauh 120 meter dengan kecepatan sekitar 50 km/jam melalui gurun kering dan tandus oleh seekor kuda liar; sampai ke “kekacauan” dalam setting film ini -- Marilyn Monroe keluar-masuk rehab gara-2 kecanduan obat bius, dan revisi berkali-2 dari script film ini sementara perkawinan antara Arthur Miller, si penulis script, dan Monroe mengalami kehancuran (mereka akhirnya bercerai setelah shooting selesai). Namun demikian, dengan berjalannya waktu apresiasi penonton berubah menjadi positif -- penonton mulai menyadari bahwa film ini mungkin adalah cukilan biografi Monroe yang paling akurat dari orang/penulis yang paling memahami dirinya. Memang betul, suami tidak otomatis menjadi orang yang pendapatnya paling obyektif tentang istrinya -- biasanya justru sebaliknya :-), tetapi Miller adalah seorang penulis -- karya-2nya a.l. Death of a Salesman, The Crucible, yang notabene pakar dalam mengamati “the innards” karakter dari seseorang. So, I think, he deserves some credit. Tetapi Miller tidak mengungkapkannya secara blak-2an. Walaupun tokoh utama dalam film ini hanya satu, judul film ini adalah The Misfits, bukan The Misfit. Lima tokoh dalam film ini, masing-2 to a certain degree, adalah “misfit” -- orang yang tidak cocok dengan lingkungan dimana dia berada.
Cerita diawali dengan Roslyn (Monroe) pindah ke Reno, Nevada, untuk mendapatkan perceraian dari suaminya. Dia indekos di rumah Isabelle (Thelma Ritter), juga seorang wanita yang bercerai. Beberapa saat setelah perceraian, Roslyn dan Isabelle merayakan hari “kemerdekaan” tersebut dengan minum di sebuah bar dan di sana mereka bertemu dengan Guido (Eli Wallach), mekanik yang mereparasi mobil Roslyn, dan temannya, Gay (Gable), seorang cowboy berusia setengah baya. Setelah berkenalan mereka berempat sepakat pergi ke luar kota, ke rumah Guido di pedalaman Nevada untuk ... “just live.”
Guido: “Have you ever been outside Reno, Ms. Taber? ”
Roslyn: “Once I walked to the edge of town; doesn't look like there's much out there.”
Gay: “Everything's there! ”
Roslyn: “Like what? ”
Gay: “The country! ”
Roslyn: “Well, what do you do with yourself? ”
Gay: “Just live.”
Roslyn: “How does anyone "just live"? ”
Gay: “Well, you start by going to sleep. You get up when you feel like it. You scratch yourself. You fry yourself some eggs. You see what kind of a day it is; throw stones at a can, whistle.” :-)
Beberapa waktu kemudian Guido dan Gay mengajak Roslyn pergi melihat mereka berburu kuda liar. Di tengah perjalanan mereka merekrut Perce (Montgomery Clift), seorang pemain rodeo, untuk membantu mereka. Kemanapun Roslyn pergi, dimanapun dia berada, dirinya adalah magnet bagi semua pria yang melihatnya. Demikian juga dengan ketiga pria ini: Guido berharap, tetapi dia tidak mampu bersaing dengan Gay yang jauh lebih berkharisma, sedang Perce hanya mampu menarik belas kasihan Roslyn. Dinamika persahabatan, sekaligus persaingan, di antara ketiga pria ini menjadi latar belakang dari emotional conflict/emotional turmoil yang dialami Roslyn dalam menemukan jati dirinya. Cerita diakhiri dengan Gay mengalah secara tulus dan sikapnya ini nampaknya berhasil “menyembuhkan” apapun emotional turmoil yang ada dalam diri Roslyn.
Gay: “What makes you so sad? You're the saddest girl I ever met.”
Roslyn: “You're the first man who's ever said that. I'm usually told how happy I am.”
Arahan dari John Huston (The Maltese Falson, The Treasure of the Sierra Madre, Key Largo, The African Queen), sangat membantu mengekspresikan realism dalam film ini. Dengan setting flora dan fauna yang gersang dan liar, Gable nampak tua, capek, tetapi langsung bersemangat ketika melihat Monroe :-), Monroe nampak sedih walaupun dia tersenyum, dan Clift nampak vulnerable, rapuh. In fact, kelima tokoh dalam film ini, masing-2 to a certain degree, vulnerable, rapuh. Entah akting, entah scriptnya memang menceritakan situasi yang ada secara betulan, penampilan mereka dalam film ini sangat cocok dengan karakter-2 yang mereka mainkan. Arahan Huston berhasil menghasilkan tiga scene yang memorable, yaitu: 1) Scene Monroe bermain paddle-ball yang hampir saja menimbulkan perkelahian di dalam bar :-), 2) Scene Clift bermain rodeo, dimana dia terpelanting dua kali dari punggung kuda dan punggung banteng yang membuatnya gegar otak, 3) Scene perburuan kuda liar (seandainya film ini dibuat sekarang film ini pasti diboikot karena scene ini menampilkan kekejaman terhadap binatang) yang membuat emosi Monroe meletup:
Roslyn: “Horse killers! Killers! Murderers! You're liars! All of you, liars! You're only happy when you can see something die! Why don't you kill yourself to be happy? You and your God's country! Freedom! I pity you! You're three dear, sweet, dead men! ”
juga konon akhirnya membunuh Gable.
Wow, what a film!
Could this be a snippet of Monroe's life? Maybe.
Friday, 11 October 2013
The Best Man, Primary Colors, Election
Triple Presidential Elections!
Pemilihan presiden sering diangkat menjadi tema dalam film, terutama pemilihan presiden AS. By now, walaupun hampir semua orang mengetahui bahwa proses pemilihan tersebut berada jauh dari sempurna, dengan script yang baik dan akting yang meyakinkan filmnya masih akan mampu membuat penonton tersenyum getir menyaksikan segala ketidak-etisan yang terjadi. The Ides of March (2011) hampir penulis masukkan dalam trio film berikut ini, karena temanya mirip dengan dua film sebelumnya, tetapi penulis tiba-2 teringat dengan film kecil “cabe rawit” tentang pemilihan “presiden” yang lain -- sama sekali tidak kalah pentingnya dan tidak kalah intensitasnya, yaitu pemilihan ketua OSIS di SMA! :-)
1) The Best Man (1964)
Adaptasi dari teater dengan judul yang sama karya Gore Vidal, dibintangi oleh Henry Fonda dan Cliff Robertson, The Best Man adalah satire politik tentang pemilihan primary -- pemilihan kandidat sebuah partai politik, sebelum pemilihan umum. Fonda memerankan William Russell, konon mewakili figur intelektual Adlai Stevenson; dan Robertson memerankan Joe Cantwell, konon mewakili figur populis John F. Kennedy. Masing-2 saling berseberangan dan berambisi mewakili partainya menuju pemilihan umum. Masing-2 saling berebut dukungan dari senior partai, Lee Tracy, yang memerankan bekas presiden AS, Art Hockstader, konon mewakili figur pragmatis bekas presiden AS, Harry Truman. Hockstader menyukai Russell, tetapi khawatir dengan prinsip idealismenya; sebaliknya tidak menyukai Cantwell, tetapi kagum dengan ketegaran dan kesediaannya melakukan apa saja untuk mencapai tujuan. Sementara persaingan sengit semakin memuncak, serangan “ad hominem” (“to the person”) di antara mereka mulai merebak -- skandal pribadi dari masa lalu digali, ditemukan, bahkan kalau perlu dilebih-2kan, dan digunakan untuk menghancurkan kredibilitas kandidat. Dengan situasi hancur-2an tersebut, bagaimana pemilih, dhi. pemilih dalam partai tersebut, mesti memilih siapa yang bakal menjadi kandidat dari partai?
Didukung pengarahan dari Franklin J. Schaffner yang no non-sense, karya-2 selanjutnya termasuk Planet of the Apes (1968), Patton (1970), dan Papillon (1973), Henry Fonda, Cliff Robertson, dan Lee Tracy masing-2 memberikan akting yang luar biasa -- yang menonton saja merasakan betapa capeknya kampanye seperti itu, apalagi yang nglakoni :-) Lee Tracy menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik.
2) Primary Colors (1998)
Tiga dasawarsa selanjutnya taktik kampanye ternyata tidak berubah sama sekali, bahkan lebih sengit! Adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya jurnalis Joe Klein, dibintangi oleh all-star cast John Travolta, Emma Thompson, Billy Bob Thornton, Kathy Bates, dan Larry Hagman, Primary Colors adalah satire politik tentang (konon) pemilihan primary partai Demokrat pada tahun 1992 -- saat itu Joe Klein mengikuti kampanye primary Bill Clinton untuk majalah Newsweek. Cerita disampaikan dari kacamata sang jurnalis, yang diwakili oleh karakter Henry Burton (Adrian Lester), seorang political idealist yang muda, pandai, dan berkulit hitam, yang direkrut menjadi manajer kampanye -- hmmm, siapa yang nyangka satu dasawarsa kemudian seorang political idealist yang muda, pandai, dan berkulit hitam berhasil menjadi presiden AS. Seluruh film menjadi eye-opening experience bagi Burton yang masuk “hijau” di awal film dan keluar “abu-2” di akhir film :-) Betapa mudahnya kita terkecoh dengan so called “kharisma” seorang politikus. Betapa naifnya kita menganggap bahwa apa yang terlihat di luar sama dengan apa yang betul-2 ada di dalam. Betapa lugunya kita sebagai masyarakat awam, tidak menyadari betapa mujarabnya strategi seorang “spin doctor” :-)
Didukung script yang rapi, tajam, dan menampilkan realitas dengan dosis yang pas, dan pengarahan dari Mike Nichols yang simpatik -- karya-2 sebelumnya termasuk Who's Afraid of Virginia Woolf? (1966), The Graduate (1967), Catch-22 (1970), Silkwood (1983), dan Working Girl (1988), seluruh cast berhasil tampil endearing, dicintai penonton -- Travolta yang konon mewakili Clinton: tidak peduli apapun kekurangannya, orang tetap cinta padanya; Thompson yang konon mewakili Hillary: keras, ambisius, nevertheless partner yang sepadan dengan suaminya; Thornton sebagai political strategist yang ganas tetapi diperlukan; dan Bates sebagai “bumper” yang nampak tegar tetapi akhirnya mengalami breakdown. Script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik dan Kathy Bates menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik.
3) Election (1999)
Orang-2 ambisius di dunia politik tersebut banyak yang memulai perjalanan (atau petualangan)-nya dari sekolah atau univeritas. Dalam film ini, adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Tom Perrotta, dari sekolah. Jangan dikira karena settingnya di sekolah kemudian intensitasnya berkurang :-) Untuk anak sekolah, pemilihan ketua OSIS adalah ajang berpolitik yang prestisius. Film dengan setting SMA dan mayoritas cast remaja ini betul-2 kejutan -- dan kejutan yang positif! Tetapi setelah melihat siapa yang menulis dan mengarahkan film ini, kita menjadi tidak heran lagi: Alexander Payne -- karya-2 selanjutnya termasuk About Schmidt (2002), Sideways (2009), dan The Descendants (2011).
Dengan gaya komedi fatalistic-nya, Payne menampilkan seorang guru Civic yang idealist, Jim McAllister (Matthew Broderick), yang berusaha mendidik siswanya menjadi pelaku demokrasi yang bertanggung-jawab. Di antara semua siswa yang indifferent (EGP ... nggak care lah :-)), ada satu yang sangat care :-), bahkan ambisius menjadi pemimpin, namanya Tracy Flick (Reese Witherspoon). Sementara Flick sibuk mempersiapkan diri untuk pemilihan ketua OSIS, McAllister terlibat dalam urusan pribadi yang akhirnya mempengaruhi judgement-nya sebagai guru. Dengan script yang rapi dan tajam, dan dibumbui dengan komedi fatalistic, semua sub-plot yang ada terjalin koheren menuju akhir yang bittersweet.
Lulus dari film-2 remaja sebelumnya, Witherspoon -- saat itu berusia 23 tahun -- dengan meyakinkan menampilkan versatilitas aktingnya; tidak mengherankan enam tahum kemudian dia berhasil menggondol Oscar untuk Aktres Terbaik dalam Walk the Line (2006). Script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik.
The Best Man, Primary Colors, Election dapat anda temukan di eBay.com
Pemilihan presiden sering diangkat menjadi tema dalam film, terutama pemilihan presiden AS. By now, walaupun hampir semua orang mengetahui bahwa proses pemilihan tersebut berada jauh dari sempurna, dengan script yang baik dan akting yang meyakinkan filmnya masih akan mampu membuat penonton tersenyum getir menyaksikan segala ketidak-etisan yang terjadi. The Ides of March (2011) hampir penulis masukkan dalam trio film berikut ini, karena temanya mirip dengan dua film sebelumnya, tetapi penulis tiba-2 teringat dengan film kecil “cabe rawit” tentang pemilihan “presiden” yang lain -- sama sekali tidak kalah pentingnya dan tidak kalah intensitasnya, yaitu pemilihan ketua OSIS di SMA! :-)
1) The Best Man (1964)
Adaptasi dari teater dengan judul yang sama karya Gore Vidal, dibintangi oleh Henry Fonda dan Cliff Robertson, The Best Man adalah satire politik tentang pemilihan primary -- pemilihan kandidat sebuah partai politik, sebelum pemilihan umum. Fonda memerankan William Russell, konon mewakili figur intelektual Adlai Stevenson; dan Robertson memerankan Joe Cantwell, konon mewakili figur populis John F. Kennedy. Masing-2 saling berseberangan dan berambisi mewakili partainya menuju pemilihan umum. Masing-2 saling berebut dukungan dari senior partai, Lee Tracy, yang memerankan bekas presiden AS, Art Hockstader, konon mewakili figur pragmatis bekas presiden AS, Harry Truman. Hockstader menyukai Russell, tetapi khawatir dengan prinsip idealismenya; sebaliknya tidak menyukai Cantwell, tetapi kagum dengan ketegaran dan kesediaannya melakukan apa saja untuk mencapai tujuan. Sementara persaingan sengit semakin memuncak, serangan “ad hominem” (“to the person”) di antara mereka mulai merebak -- skandal pribadi dari masa lalu digali, ditemukan, bahkan kalau perlu dilebih-2kan, dan digunakan untuk menghancurkan kredibilitas kandidat. Dengan situasi hancur-2an tersebut, bagaimana pemilih, dhi. pemilih dalam partai tersebut, mesti memilih siapa yang bakal menjadi kandidat dari partai?
Didukung pengarahan dari Franklin J. Schaffner yang no non-sense, karya-2 selanjutnya termasuk Planet of the Apes (1968), Patton (1970), dan Papillon (1973), Henry Fonda, Cliff Robertson, dan Lee Tracy masing-2 memberikan akting yang luar biasa -- yang menonton saja merasakan betapa capeknya kampanye seperti itu, apalagi yang nglakoni :-) Lee Tracy menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik.
2) Primary Colors (1998)
Tiga dasawarsa selanjutnya taktik kampanye ternyata tidak berubah sama sekali, bahkan lebih sengit! Adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya jurnalis Joe Klein, dibintangi oleh all-star cast John Travolta, Emma Thompson, Billy Bob Thornton, Kathy Bates, dan Larry Hagman, Primary Colors adalah satire politik tentang (konon) pemilihan primary partai Demokrat pada tahun 1992 -- saat itu Joe Klein mengikuti kampanye primary Bill Clinton untuk majalah Newsweek. Cerita disampaikan dari kacamata sang jurnalis, yang diwakili oleh karakter Henry Burton (Adrian Lester), seorang political idealist yang muda, pandai, dan berkulit hitam, yang direkrut menjadi manajer kampanye -- hmmm, siapa yang nyangka satu dasawarsa kemudian seorang political idealist yang muda, pandai, dan berkulit hitam berhasil menjadi presiden AS. Seluruh film menjadi eye-opening experience bagi Burton yang masuk “hijau” di awal film dan keluar “abu-2” di akhir film :-) Betapa mudahnya kita terkecoh dengan so called “kharisma” seorang politikus. Betapa naifnya kita menganggap bahwa apa yang terlihat di luar sama dengan apa yang betul-2 ada di dalam. Betapa lugunya kita sebagai masyarakat awam, tidak menyadari betapa mujarabnya strategi seorang “spin doctor” :-)
Didukung script yang rapi, tajam, dan menampilkan realitas dengan dosis yang pas, dan pengarahan dari Mike Nichols yang simpatik -- karya-2 sebelumnya termasuk Who's Afraid of Virginia Woolf? (1966), The Graduate (1967), Catch-22 (1970), Silkwood (1983), dan Working Girl (1988), seluruh cast berhasil tampil endearing, dicintai penonton -- Travolta yang konon mewakili Clinton: tidak peduli apapun kekurangannya, orang tetap cinta padanya; Thompson yang konon mewakili Hillary: keras, ambisius, nevertheless partner yang sepadan dengan suaminya; Thornton sebagai political strategist yang ganas tetapi diperlukan; dan Bates sebagai “bumper” yang nampak tegar tetapi akhirnya mengalami breakdown. Script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik dan Kathy Bates menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik.
3) Election (1999)
Orang-2 ambisius di dunia politik tersebut banyak yang memulai perjalanan (atau petualangan)-nya dari sekolah atau univeritas. Dalam film ini, adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Tom Perrotta, dari sekolah. Jangan dikira karena settingnya di sekolah kemudian intensitasnya berkurang :-) Untuk anak sekolah, pemilihan ketua OSIS adalah ajang berpolitik yang prestisius. Film dengan setting SMA dan mayoritas cast remaja ini betul-2 kejutan -- dan kejutan yang positif! Tetapi setelah melihat siapa yang menulis dan mengarahkan film ini, kita menjadi tidak heran lagi: Alexander Payne -- karya-2 selanjutnya termasuk About Schmidt (2002), Sideways (2009), dan The Descendants (2011).
Dengan gaya komedi fatalistic-nya, Payne menampilkan seorang guru Civic yang idealist, Jim McAllister (Matthew Broderick), yang berusaha mendidik siswanya menjadi pelaku demokrasi yang bertanggung-jawab. Di antara semua siswa yang indifferent (EGP ... nggak care lah :-)), ada satu yang sangat care :-), bahkan ambisius menjadi pemimpin, namanya Tracy Flick (Reese Witherspoon). Sementara Flick sibuk mempersiapkan diri untuk pemilihan ketua OSIS, McAllister terlibat dalam urusan pribadi yang akhirnya mempengaruhi judgement-nya sebagai guru. Dengan script yang rapi dan tajam, dan dibumbui dengan komedi fatalistic, semua sub-plot yang ada terjalin koheren menuju akhir yang bittersweet.
Lulus dari film-2 remaja sebelumnya, Witherspoon -- saat itu berusia 23 tahun -- dengan meyakinkan menampilkan versatilitas aktingnya; tidak mengherankan enam tahum kemudian dia berhasil menggondol Oscar untuk Aktres Terbaik dalam Walk the Line (2006). Script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik.
Thursday, 12 September 2013
Cool Hand Luke, Papillon, Midnight Express
Triple Prison Breaks!
Ada jaman-2 dimana penjara identik dengan hukuman -- murni hukuman. Kemudian pada tanggal 10 Desember 1948 PBB menandatangani deklarasi yang disebut dengan The Universal Declaration of Human Rights (UDHR). Sejak itu penjara berubah fungsinya dari tempat hukuman menjadi tempat rehabilitasi. Tetapi perubahan ini tidak terjadi secara sekejap dan sepenuhnya: di beberapa tempat di dunia penjara masih berfungsi sebagai tempat hukuman, di beberapa tempat yang lain 50-50, di beberapa tempat yang lain lagi, misalnya di negara-2 Skandinavia, murni rehabilitasi -- ada televisi untuk hiburan, ada gym untuk olahraga, ada perpustakaan untuk belajar, ada klinik untuk berobat ... saking lengkapnya sampai orang yang tidak dipenjara pingin masuk penjara :-) I should move to Sweden :-) Tetapi kalau semua negara patuh terhadap UDHR, para filmmakers bakal kehilangan inspirasi untuk membuat film-2 dengan topik Prison Breaks -- bisa dibayangkan betapa uninteresting dan boring-nya cerita-2 penjara di negara-2 tersebut.
Cool Hand Luke (1967) dan Papillon (1973) bersetting di jaman sebelum UDHR; Midnight Express (1978) bersetting di negara yang saat itu mungkin belum sepenuhnya menerima UDHR.
1) Cool Hand Luke (1967)
Di masa lalu, kejahatan kecil menerima hukuman berat.
Setelah semalam suntuk menghabiskan waktunya di bar dan merusaki meteran-2 parkir di pinggir jalan, Luke Jackson (Paul Newman)ditangkap dan dihukum penjara dua tahun di “chain gang prison”* di Florida (* penjara dimana para napinya dirantai secara berentetan). Di dalam penjara Luke -- yang ternyata seorang hero/veteran PD-2 -- berhasil memperoleh respect dari teman-2 napinya. Kepala penjaranya, yang ternyata seorang sadistis (normal untuk ukuran jamannya), berusaha “mematahkan” Luke, jiwa dan raga -- apalagi Luke sering berusaha melarikan diri. Ketegaran Luke membuat dirinya diidolakan oleh teman-2 napinya, tetapi at the end apakah dia berhasil mengalahkan sistem yang memang didesain untuk “mematahkan” dirinya???
Film klasik yang menjadi signature dari Paul Newman.
2) Papillon (1973)
Lagi-2 di masa lalu, kejahatan kecil diganjar dengan hukuman berat.
Berdasarkan kisah nyata dari Henri Charrière dalam sistem penjara Perancis yang sadis, brutal, dan without mercy/tanpa ampun, sutradara Franklin J. Schaffner -- Planet of the Apes (1968) -- mempunyai keahlian menampilkan realitas buruk tanpa tedeng aling-2. Dan tidak hanya itu saja, ketika penonton mengira bahwa situasi sudah sangat buruk dan tidak mungkin menjadi lebih buruk lagi, Schaffner tanpa sungkan-2 menyodori penonton dengan situasi yang ternyata lebih buruk, dan lebih buruk lagi, dan lebih buruk lagi. Penonton tidak bisa lagi menebak sampai seburuk apa situasi bakalan menjadi. Ujian berat inilah yang harus dilalui oleh Henri Charrière (Steve McQueen) dan Louis Dega (Dustin Hoffman). At the end apakah mereka berhasil mengalahkan sistem yang memang didesain untuk “menghancurkan” mereka???
McQueen dan Hoffman secara fisik perlu diacungi jempol dengan diet ketatnya sehingga mereka tampil meyakinkan seperti napi yang betul-2 kurang makan. Secara akting, menjadi salah satu dari akting terbaik mereka. Klasik juga.
3) Midnight Express (1978)
Berdasarkan kisah nyata juga, tetapi bersetting di Turki. Mahasiswa Amerika, Billy Hayes (Brad Davis), bersama dengan kekasihnya berlibur di Turki. Mungkin karena harga cannabis di Turki murah, dia menyelundupkan 2 kg cannabis, strapped to his body, untuk dibawa pulang ke Amerika. Tetapi dia tertangkap di bandara dan dihukum penjara beberapa tahun, yang kemudian diubah dan diperpanjang menjadi 30 tahun! Berada di negara asing sendirian, tidak punya kerabat/keluarga untuk menjenguknya, harapan demi harapan pupus, dan penjara Turki yang mengerikan, sutradara Alan Parker dengan berhasil menampilkan bagaimana situasi ini sedikit demi sedikit menggerogoti jiwa dan raga Billy -- mendorongnya sampai ke batas antara waras dan gila. Ada banyak scene yang heartbreaking, tetapi dua yang paling memorable adalah ketika kekasihnya mengunjunginya di penjara dan scene terakhir. Berhasilkah Billy melarikan diri dari neraka tersebut?
Ketika membuat film ini (dan sesudahnya) Brad Davis bukan aktor yang ternama, tetapi aktingnya di sini sangat meyakinkan. Film ini adalah film klasik penting bagi semua anak muda yang bepergian ke luar negeri -- jangan macem-2, jangan banyak tingkah.
Cool Hand Luke, Papillon, Midnight Express dapat anda temukan di eBay.com
Ada jaman-2 dimana penjara identik dengan hukuman -- murni hukuman. Kemudian pada tanggal 10 Desember 1948 PBB menandatangani deklarasi yang disebut dengan The Universal Declaration of Human Rights (UDHR). Sejak itu penjara berubah fungsinya dari tempat hukuman menjadi tempat rehabilitasi. Tetapi perubahan ini tidak terjadi secara sekejap dan sepenuhnya: di beberapa tempat di dunia penjara masih berfungsi sebagai tempat hukuman, di beberapa tempat yang lain 50-50, di beberapa tempat yang lain lagi, misalnya di negara-2 Skandinavia, murni rehabilitasi -- ada televisi untuk hiburan, ada gym untuk olahraga, ada perpustakaan untuk belajar, ada klinik untuk berobat ... saking lengkapnya sampai orang yang tidak dipenjara pingin masuk penjara :-) I should move to Sweden :-) Tetapi kalau semua negara patuh terhadap UDHR, para filmmakers bakal kehilangan inspirasi untuk membuat film-2 dengan topik Prison Breaks -- bisa dibayangkan betapa uninteresting dan boring-nya cerita-2 penjara di negara-2 tersebut.
Cool Hand Luke (1967) dan Papillon (1973) bersetting di jaman sebelum UDHR; Midnight Express (1978) bersetting di negara yang saat itu mungkin belum sepenuhnya menerima UDHR.
1) Cool Hand Luke (1967)
Di masa lalu, kejahatan kecil menerima hukuman berat.
Setelah semalam suntuk menghabiskan waktunya di bar dan merusaki meteran-2 parkir di pinggir jalan, Luke Jackson (Paul Newman)ditangkap dan dihukum penjara dua tahun di “chain gang prison”* di Florida (* penjara dimana para napinya dirantai secara berentetan). Di dalam penjara Luke -- yang ternyata seorang hero/veteran PD-2 -- berhasil memperoleh respect dari teman-2 napinya. Kepala penjaranya, yang ternyata seorang sadistis (normal untuk ukuran jamannya), berusaha “mematahkan” Luke, jiwa dan raga -- apalagi Luke sering berusaha melarikan diri. Ketegaran Luke membuat dirinya diidolakan oleh teman-2 napinya, tetapi at the end apakah dia berhasil mengalahkan sistem yang memang didesain untuk “mematahkan” dirinya???
Film klasik yang menjadi signature dari Paul Newman.
2) Papillon (1973)
Lagi-2 di masa lalu, kejahatan kecil diganjar dengan hukuman berat.
Berdasarkan kisah nyata dari Henri Charrière dalam sistem penjara Perancis yang sadis, brutal, dan without mercy/tanpa ampun, sutradara Franklin J. Schaffner -- Planet of the Apes (1968) -- mempunyai keahlian menampilkan realitas buruk tanpa tedeng aling-2. Dan tidak hanya itu saja, ketika penonton mengira bahwa situasi sudah sangat buruk dan tidak mungkin menjadi lebih buruk lagi, Schaffner tanpa sungkan-2 menyodori penonton dengan situasi yang ternyata lebih buruk, dan lebih buruk lagi, dan lebih buruk lagi. Penonton tidak bisa lagi menebak sampai seburuk apa situasi bakalan menjadi. Ujian berat inilah yang harus dilalui oleh Henri Charrière (Steve McQueen) dan Louis Dega (Dustin Hoffman). At the end apakah mereka berhasil mengalahkan sistem yang memang didesain untuk “menghancurkan” mereka???
McQueen dan Hoffman secara fisik perlu diacungi jempol dengan diet ketatnya sehingga mereka tampil meyakinkan seperti napi yang betul-2 kurang makan. Secara akting, menjadi salah satu dari akting terbaik mereka. Klasik juga.
3) Midnight Express (1978)
Berdasarkan kisah nyata juga, tetapi bersetting di Turki. Mahasiswa Amerika, Billy Hayes (Brad Davis), bersama dengan kekasihnya berlibur di Turki. Mungkin karena harga cannabis di Turki murah, dia menyelundupkan 2 kg cannabis, strapped to his body, untuk dibawa pulang ke Amerika. Tetapi dia tertangkap di bandara dan dihukum penjara beberapa tahun, yang kemudian diubah dan diperpanjang menjadi 30 tahun! Berada di negara asing sendirian, tidak punya kerabat/keluarga untuk menjenguknya, harapan demi harapan pupus, dan penjara Turki yang mengerikan, sutradara Alan Parker dengan berhasil menampilkan bagaimana situasi ini sedikit demi sedikit menggerogoti jiwa dan raga Billy -- mendorongnya sampai ke batas antara waras dan gila. Ada banyak scene yang heartbreaking, tetapi dua yang paling memorable adalah ketika kekasihnya mengunjunginya di penjara dan scene terakhir. Berhasilkah Billy melarikan diri dari neraka tersebut?
Ketika membuat film ini (dan sesudahnya) Brad Davis bukan aktor yang ternama, tetapi aktingnya di sini sangat meyakinkan. Film ini adalah film klasik penting bagi semua anak muda yang bepergian ke luar negeri -- jangan macem-2, jangan banyak tingkah.
Friday, 16 August 2013
Sabotage, The Trouble with Harry, Topaz
Triple Hitchcock's Classics!
Bagaimana anda merayakan ulang tahun Alfred Hitchcock?
Nonton film-2nya? Tentu saja!
Pada kesempatan kali ini penulis ingin memberi introduction kepada tiga film Hitchcock yang tidak terlalu sering ditonton, atau dibahas. Tiga film berikut ini memang tidak sepopuler Rear Window, Vertigo, North by Northwest, atau Psycho, tetapi kalau anda penggemar Hitchcock anda dapat dengan mudah menemukan semua “trademark” Hitchcock di dalamnya: suspense, thriller, komedi, dan ... “Hitchcock Blondes” -- dalam tiga film berikut ini para pemeran utama wanitanya tidak berambut pirang, namun demikian mempunyai kualitas “Hitchcock Blondes”, yaitu: sexy, smart, sophisticated, sekaligus icy, strong, and fearless (eksterior yang kalem, interior yang membara).
1) Sabotage (1936)
Bersama dengan The Man Who Knew Too Much (1934) dan The 39 Steps (1935), Sabotage adalah film yang memindahkan Hitchcock dari studio lokal di Inggris ke Hollywood. Walaupun Hitchcock saat itu merasa dirinya masih amatir, film Sabotage menunjukkan keahlian penyutradaraannya sudah professional, matang.
Seorang pemilik bioskop, Verloc, ternyata adalah seorang anggota grup teroris yang merencanakan serangkaian serangan di kota London. Polisi mencium gelagat ini, maka membuntuti gerak-geriknya. Sang pemilik bioskop hidup bersama istri dan adik laki-2 istrinya yang masih di bawah umur, Stevie -- keduanya tidak mengetahui secret life Verloc. Pada hari H yang sudah ditentukan untuk meledakkan time-bomb di stasiun kereta api Piccadilly Circus di bawah tanah (London Underground), mengetahui polisi sudah membuntuti gerak-geriknya, Verloc menyuruh Stevie membawa dan meletakkan bungkusan reel film (berisi bom waktu) di tempat yang ditentukan. Dalam perjalanan, Stevie ternyata mampir dulu di tempat orang jualan obat :-) , kemudian terhalang iring-2an parade di jalan ... dasar anak kecil, Stevie malah senang nonton parade tersebut. Tik, tok, tik, tok, tik, tok, ... waktu berjalan terus mendekati jam dimana bom tersebut bakal meledak. Akankah Hitchcock mengorbankan/mematikan anak kecil dalam filmnya??? Bagaimana reaksi Mrs. Verloc ketika mengetahui bahwa suaminya ternyata seorang teroris?
Suspense, suspense, suspense.
2) The Trouble with Harry (1955)
Ketika film ini dibuat Hitchcock sudah berada di puncak ketenarannya di Hollywood. Entah ada angin apa, Hitchcock tiba-2 memutuskan membuat film komedi! Yes, comedy! :-) Tetapi tidak berarti tanpa suspense dan thriller.
Suatu siang yang cerah di sebuah desa di negara bagian Vermont, AS, seorang pemburu sedang berburu kelinci di hutan belukar di dekat tempat tinggalnya; seorang anak kecil sedang bermain tembak-2an dengan senjata plastiknya; seorang wanita muda baru saja melempar botol susu ke bekas suaminya karena tidak mau diajak damai; dan seorang wanita setengah baya baru saja memukul seorang pria dengan sepatu bootnya gara-2 dia keluar dari hutan belukar secara tiba-2. Beberapa saat kemudian satu per satu menemukan pria tersebut (Harry) terkapar mati di tengah hutan belukar. Dan semuanya merasa bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut. Dan masing-2 berusaha menutupi kejahatan tersebut :-) Benarkah mereka semua bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut? Berhasilkah mereka menutupi kejahatan tersebut? Akankah Hitchcock membiarkan kejahatan tersebut menang?
Edmund Gwenn, Mildred Natwick, dan Mildred Dunnock memberikan performance yang hangat, sehangat udara Vermont di musim panas dengan pemandangan yang super indah. Film ini adalah film pertama Shirley MacLaine -- siapa yang nyangka dia bertahan terus main film sampai saat ini. Juga film pertama untuk John Forsythe, yang kariernya ternyata lebih banyak di televisi -- siapa yang nyangka dia menjadi terkenal sebagai suara dari Charles Townsend dalam serial TV “Charlie's Angels” dan multi-billionaire Blake Carrington dalam soap opera TV “Dynasty”.
Kocak, kocak, kocak.
3) Topaz (1969)
Banyak penggemar Hitchcock yang menilai bahwa menuju akhir kariernya karya-2 Hitchcock tidak sebagus karya-2 awalnya. Ya, pasti berbeda, karena waktunya berbeda. Namun demikian, Hitchcock tetap Hitchcock -- dasarnya tetap sama.
Bersetting krisis missile Cuba pada tahun 1962, CIA (John Forsythe tampil lagi) menggunakan agen Perancis, Andre Devereaux, untuk mengintai sepak terjang Sovyet di Cuba. Tetapi ada masalah, karena ada jaringan mata-2 Sovyet di kalangan pejabat tinggi Perancis, namanya Topaz. Siapa pemimpin Topaz? Bersediakan Andre Devereaux mengorbankan kariernya, kekasihnya, dan bahkan keluarganya, untuk AS?
Dengan running time sepanjang 143 menit, Topaz sama sekali tidak kalah dengan spy thriller The Day of the Jackal yang dibuat empat tahun kemudian. Membawa penonton dari Copenhagen, ke Washington, ke Paris, ke New York, ke Havana, dan kembali lagi ke Paris ... wow, what an adventure! Topaz membangkitkan nostalgia penonton terhadap siapa lagi kalau bukan North by Northwest. Frederick Stafford, walaupun sama sekali bukan Cary Grant, membangkitkan nostalgia penonton terhadap ... Cary Grant :-)
Thriller, thriller, thriller.
Sabotage, The Trouble with Harry, Topaz dapat anda temukan di eBay.com
Bagaimana anda merayakan ulang tahun Alfred Hitchcock?
Nonton film-2nya? Tentu saja!
Pada kesempatan kali ini penulis ingin memberi introduction kepada tiga film Hitchcock yang tidak terlalu sering ditonton, atau dibahas. Tiga film berikut ini memang tidak sepopuler Rear Window, Vertigo, North by Northwest, atau Psycho, tetapi kalau anda penggemar Hitchcock anda dapat dengan mudah menemukan semua “trademark” Hitchcock di dalamnya: suspense, thriller, komedi, dan ... “Hitchcock Blondes” -- dalam tiga film berikut ini para pemeran utama wanitanya tidak berambut pirang, namun demikian mempunyai kualitas “Hitchcock Blondes”, yaitu: sexy, smart, sophisticated, sekaligus icy, strong, and fearless (eksterior yang kalem, interior yang membara).
1) Sabotage (1936)
Bersama dengan The Man Who Knew Too Much (1934) dan The 39 Steps (1935), Sabotage adalah film yang memindahkan Hitchcock dari studio lokal di Inggris ke Hollywood. Walaupun Hitchcock saat itu merasa dirinya masih amatir, film Sabotage menunjukkan keahlian penyutradaraannya sudah professional, matang.
Seorang pemilik bioskop, Verloc, ternyata adalah seorang anggota grup teroris yang merencanakan serangkaian serangan di kota London. Polisi mencium gelagat ini, maka membuntuti gerak-geriknya. Sang pemilik bioskop hidup bersama istri dan adik laki-2 istrinya yang masih di bawah umur, Stevie -- keduanya tidak mengetahui secret life Verloc. Pada hari H yang sudah ditentukan untuk meledakkan time-bomb di stasiun kereta api Piccadilly Circus di bawah tanah (London Underground), mengetahui polisi sudah membuntuti gerak-geriknya, Verloc menyuruh Stevie membawa dan meletakkan bungkusan reel film (berisi bom waktu) di tempat yang ditentukan. Dalam perjalanan, Stevie ternyata mampir dulu di tempat orang jualan obat :-) , kemudian terhalang iring-2an parade di jalan ... dasar anak kecil, Stevie malah senang nonton parade tersebut. Tik, tok, tik, tok, tik, tok, ... waktu berjalan terus mendekati jam dimana bom tersebut bakal meledak. Akankah Hitchcock mengorbankan/mematikan anak kecil dalam filmnya??? Bagaimana reaksi Mrs. Verloc ketika mengetahui bahwa suaminya ternyata seorang teroris?
Suspense, suspense, suspense.
2) The Trouble with Harry (1955)
Ketika film ini dibuat Hitchcock sudah berada di puncak ketenarannya di Hollywood. Entah ada angin apa, Hitchcock tiba-2 memutuskan membuat film komedi! Yes, comedy! :-) Tetapi tidak berarti tanpa suspense dan thriller.
Suatu siang yang cerah di sebuah desa di negara bagian Vermont, AS, seorang pemburu sedang berburu kelinci di hutan belukar di dekat tempat tinggalnya; seorang anak kecil sedang bermain tembak-2an dengan senjata plastiknya; seorang wanita muda baru saja melempar botol susu ke bekas suaminya karena tidak mau diajak damai; dan seorang wanita setengah baya baru saja memukul seorang pria dengan sepatu bootnya gara-2 dia keluar dari hutan belukar secara tiba-2. Beberapa saat kemudian satu per satu menemukan pria tersebut (Harry) terkapar mati di tengah hutan belukar. Dan semuanya merasa bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut. Dan masing-2 berusaha menutupi kejahatan tersebut :-) Benarkah mereka semua bertanggung-jawab terhadap kematian tersebut? Berhasilkah mereka menutupi kejahatan tersebut? Akankah Hitchcock membiarkan kejahatan tersebut menang?
Edmund Gwenn, Mildred Natwick, dan Mildred Dunnock memberikan performance yang hangat, sehangat udara Vermont di musim panas dengan pemandangan yang super indah. Film ini adalah film pertama Shirley MacLaine -- siapa yang nyangka dia bertahan terus main film sampai saat ini. Juga film pertama untuk John Forsythe, yang kariernya ternyata lebih banyak di televisi -- siapa yang nyangka dia menjadi terkenal sebagai suara dari Charles Townsend dalam serial TV “Charlie's Angels” dan multi-billionaire Blake Carrington dalam soap opera TV “Dynasty”.
Kocak, kocak, kocak.
3) Topaz (1969)
Banyak penggemar Hitchcock yang menilai bahwa menuju akhir kariernya karya-2 Hitchcock tidak sebagus karya-2 awalnya. Ya, pasti berbeda, karena waktunya berbeda. Namun demikian, Hitchcock tetap Hitchcock -- dasarnya tetap sama.
Bersetting krisis missile Cuba pada tahun 1962, CIA (John Forsythe tampil lagi) menggunakan agen Perancis, Andre Devereaux, untuk mengintai sepak terjang Sovyet di Cuba. Tetapi ada masalah, karena ada jaringan mata-2 Sovyet di kalangan pejabat tinggi Perancis, namanya Topaz. Siapa pemimpin Topaz? Bersediakan Andre Devereaux mengorbankan kariernya, kekasihnya, dan bahkan keluarganya, untuk AS?
Dengan running time sepanjang 143 menit, Topaz sama sekali tidak kalah dengan spy thriller The Day of the Jackal yang dibuat empat tahun kemudian. Membawa penonton dari Copenhagen, ke Washington, ke Paris, ke New York, ke Havana, dan kembali lagi ke Paris ... wow, what an adventure! Topaz membangkitkan nostalgia penonton terhadap siapa lagi kalau bukan North by Northwest. Frederick Stafford, walaupun sama sekali bukan Cary Grant, membangkitkan nostalgia penonton terhadap ... Cary Grant :-)
Thriller, thriller, thriller.
Subscribe to:
Posts (Atom)










