Showing posts with label Henry Fonda. Show all posts
Showing posts with label Henry Fonda. Show all posts

Friday, 11 October 2013

The Best Man, Primary Colors, Election

Triple Presidential Elections!


Pemilihan presiden sering diangkat menjadi tema dalam film, terutama pemilihan presiden AS. By now, walaupun hampir semua orang mengetahui bahwa proses pemilihan tersebut berada jauh dari sempurna, dengan script yang baik dan akting yang meyakinkan filmnya masih akan mampu membuat penonton tersenyum getir menyaksikan segala ketidak-etisan yang terjadi. The Ides of March (2011) hampir penulis masukkan dalam trio film berikut ini, karena temanya mirip dengan dua film sebelumnya, tetapi penulis tiba-2 teringat dengan film kecil “cabe rawit” tentang pemilihan “presiden” yang lain -- sama sekali tidak kalah pentingnya dan tidak kalah intensitasnya, yaitu pemilihan ketua OSIS di SMA! :-)

1) The Best Man (1964)

Adaptasi dari teater dengan judul yang sama karya Gore Vidal, dibintangi oleh Henry Fonda dan Cliff Robertson, The Best Man adalah satire politik tentang pemilihan primary -- pemilihan kandidat sebuah partai politik, sebelum pemilihan umum. Fonda memerankan William Russell, konon mewakili figur intelektual Adlai Stevenson; dan Robertson memerankan Joe Cantwell, konon mewakili figur populis John F. Kennedy. Masing-2 saling berseberangan dan berambisi mewakili partainya menuju pemilihan umum. Masing-2 saling berebut dukungan dari senior partai, Lee Tracy, yang memerankan bekas presiden AS, Art Hockstader, konon mewakili figur pragmatis bekas presiden AS, Harry Truman. Hockstader menyukai Russell, tetapi khawatir dengan prinsip idealismenya; sebaliknya tidak menyukai Cantwell, tetapi kagum dengan ketegaran dan kesediaannya melakukan apa saja untuk mencapai tujuan. Sementara persaingan sengit semakin memuncak, serangan “ad hominem” (“to the person”) di antara mereka mulai merebak -- skandal pribadi dari masa lalu digali, ditemukan, bahkan kalau perlu dilebih-2kan, dan digunakan untuk menghancurkan kredibilitas kandidat. Dengan situasi hancur-2an tersebut, bagaimana pemilih, dhi. pemilih dalam partai tersebut, mesti memilih siapa yang bakal menjadi kandidat dari partai?

Didukung pengarahan dari Franklin J. Schaffner yang no non-sense, karya-2 selanjutnya termasuk Planet of the Apes (1968), Patton (1970), dan Papillon (1973), Henry Fonda, Cliff Robertson, dan Lee Tracy masing-2 memberikan akting yang luar biasa -- yang menonton saja merasakan betapa capeknya kampanye seperti itu, apalagi yang nglakoni :-) Lee Tracy menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik.

2) Primary Colors (1998)

Tiga dasawarsa selanjutnya taktik kampanye ternyata tidak berubah sama sekali, bahkan lebih sengit! Adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya jurnalis Joe Klein, dibintangi oleh all-star cast John Travolta, Emma Thompson, Billy Bob Thornton, Kathy Bates, dan Larry Hagman, Primary Colors adalah satire politik tentang (konon) pemilihan primary partai Demokrat pada tahun 1992 -- saat itu Joe Klein mengikuti kampanye primary Bill Clinton untuk majalah Newsweek. Cerita disampaikan dari kacamata sang jurnalis, yang diwakili oleh karakter Henry Burton (Adrian Lester), seorang political idealist yang muda, pandai, dan berkulit hitam, yang direkrut menjadi manajer kampanye -- hmmm, siapa yang nyangka satu dasawarsa kemudian seorang political idealist yang muda, pandai, dan berkulit hitam berhasil menjadi presiden AS. Seluruh film menjadi eye-opening experience bagi Burton yang masuk “hijau” di awal film dan keluar “abu-2” di akhir film :-) Betapa mudahnya kita terkecoh dengan so called “kharisma” seorang politikus. Betapa naifnya kita menganggap bahwa apa yang terlihat di luar sama dengan apa yang betul-2 ada di dalam. Betapa lugunya kita sebagai masyarakat awam, tidak menyadari betapa mujarabnya strategi seorang “spin doctor” :-)

Didukung script yang rapi, tajam, dan menampilkan realitas dengan dosis yang pas, dan pengarahan dari Mike Nichols yang simpatik -- karya-2 sebelumnya termasuk Who's Afraid of Virginia Woolf? (1966), The Graduate (1967), Catch-22 (1970), Silkwood (1983), dan Working Girl (1988), seluruh cast berhasil tampil endearing, dicintai penonton -- Travolta yang konon mewakili Clinton: tidak peduli apapun kekurangannya, orang tetap cinta padanya; Thompson yang konon mewakili Hillary: keras, ambisius, nevertheless partner yang sepadan dengan suaminya; Thornton sebagai political strategist yang ganas tetapi diperlukan; dan Bates sebagai “bumper” yang nampak tegar tetapi akhirnya mengalami breakdown. Script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik dan Kathy Bates menerima nominasi Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik.

3) Election (1999)

Orang-2 ambisius di dunia politik tersebut banyak yang memulai perjalanan (atau petualangan)-nya dari sekolah atau univeritas. Dalam film ini, adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Tom Perrotta, dari sekolah. Jangan dikira karena settingnya di sekolah kemudian intensitasnya berkurang :-) Untuk anak sekolah, pemilihan ketua OSIS adalah ajang berpolitik yang prestisius. Film dengan setting SMA dan mayoritas cast remaja ini betul-2 kejutan -- dan kejutan yang positif! Tetapi setelah melihat siapa yang menulis dan mengarahkan film ini, kita menjadi tidak heran lagi: Alexander Payne -- karya-2 selanjutnya termasuk About Schmidt (2002), Sideways (2009), dan The Descendants (2011).

Dengan gaya komedi fatalistic-nya, Payne menampilkan seorang guru Civic yang idealist, Jim McAllister (Matthew Broderick), yang berusaha mendidik siswanya menjadi pelaku demokrasi yang bertanggung-jawab. Di antara semua siswa yang indifferent (EGP ... nggak care lah :-)), ada satu yang sangat care :-), bahkan ambisius menjadi pemimpin, namanya Tracy Flick (Reese Witherspoon). Sementara Flick sibuk mempersiapkan diri untuk pemilihan ketua OSIS, McAllister terlibat dalam urusan pribadi yang akhirnya mempengaruhi judgement-nya sebagai guru. Dengan script yang rapi dan tajam, dan dibumbui dengan komedi fatalistic, semua sub-plot yang ada terjalin koheren menuju akhir yang bittersweet.

Lulus dari film-2 remaja sebelumnya, Witherspoon -- saat itu berusia 23 tahun -- dengan meyakinkan menampilkan versatilitas aktingnya; tidak mengherankan enam tahum kemudian dia berhasil menggondol Oscar untuk Aktres Terbaik dalam Walk the Line (2006). Script film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik.

The Best Man, Primary Colors, Election dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 9 August 2012

The Grapes of Wrath

Resensi Film: The Grapes of Wrath (9.0/10)

Tahun Keluar: 1940
Negara Asal: USA
Sutradara: John Ford
Cast: Henry Fonda, Jane Darwell, John Carradine

Plot: Pada jaman Great Depression*), setelah tergusur dari daerah pertaniannya, keluarga Joad terpaksa melanglang benua dari Oklahoma yang gersang**) ke "tanah terjanji" California yang hijau untuk mencari penghidupan yang layak (IMDb).

*) Great Depression: Resesi ekonomi global yang dimulai dengan peristiwa Black Tuesday, yaitu jatuhnya harga-2 saham di AS pada tanggal 29 Oktober 1929, dan berlangsung sampai setelah Perang Dunia ke 2 selesai. Periode resesi ini tercatat dalam sejarah sebagai resesi ekonomi paling parah, paling panjang, dan paling luas pada abad ke 20.

**) Pada dekade 1930-an terjadi fenomena alam, badai debu, yang menyapu bersih topsoil dari daerah-2 pertanian di Oklahoma, AS, meninggalkan tanah di lapisan bawahnya kering dan tandus.

Setelah bebas bersyarat dari penjara, Tom Joad (Henry Fonda) pulang ke rumahnya di daerah pertanian di Oklahoma. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang gelandangan yang bernama Jim Casy (John Carradine). Setelah berkenalan, Jim ternyata adalah pendeta yang dulu membaptis Tom, tetapi Jim sekarang telah kehilangan "panggilannya". Tom kemudian mengajak Jim pulang ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, mereka menemukan rumahnya kosong dan semuanya telah ditinggalkan. Di sana mereka bertemu dengan tetangganya, Muley Graves (John Qualen), yang sedang bersembunyi dari kejaran polisi. Muley kemudian bercerita apa yang telah terjadi dengan keluarganya, dengan keluarga Joad, dan dengan keluarga-2 yang lain di daerah pertanian tersebut. Mengikuti petunjuk Muley, Tom akhirnya menemukan keluarganya di rumah pamannya. Keluarganya bahagia melihat Tom kembali dan menjelaskan bahwa mereka telah memutuskan untuk pergi ke California untuk mencari pekerjaan, karena daerah pertanian mereka telah diambil-alih oleh bank. Keesokan harinya, seluruh anggota keluarga Joad meninggalkan Oklahoma, bersama dengan Jim yang memutuskan pergi bersama mereka. Mereka menjejal semua barang essential mereka ke dalam sebuah sedan kecil yang telah diubah bentuknya menjadi "truk" untuk melakukan perjalanan panjang dari Oklahoma ke "tanah terjanji" California -- dan dimulailah cerita yang sesungguhnya ...

Adaptasi dari novel dengan judul yang sama, pemenang penghargaan sastra Pulitzer, karya John Steinbeck, The Grapes of Wrath dengan sangat inspiratif menunjukkan bagaimana kekuatan human spirit dapat bertahan dan mengalahkan deraan penderitaan dan kesengsaraan. Meskipun bersetting di Midwestern, AS, ketika jaman Great Depression, ceritanya mengandung pesan yang bersifat global/universal tentang humanity/kemanusiaan, sehingga penonton dapat dengan mudah mengapresiasi ceritanya dan bersimpati dengan karakter-2 yang ada. Ada banyak orang, tidak peduli ras atau kepercayaannya, dengan satu cara atau yang lainnya, pernah mengalami economic dislocation -- terpaksa menjadi migran/pindah tempat karena alasan ekonomi. Penggambaran yang grafik dari sutradara John Ford terhadap penderitaan dan perjuangan yang dialami keluarga Joad terasa riel dan memukul. Dalam perjalanan panjang yang menentukan masa depan mereka tersebut, keluarga Joad berhadapan dengan berbagai masalah yang mungkin terjadi, mulai dari anggota keluarga yang meninggal dunia karena usia tua sampai "truk" tidak-layak-kendara yang selalu mogok. Mereka bertemu dengan orang-2 yang mengaku telah sampai di California, tetapi tidak memperoleh pekerjaan, karena pekerjaan yang tersedia tidak sebanyak yang mereka bayangkan. Mereka juga mengalami perlakuan prejudice, diejek, dan diolok dengan julukan "Okies" ***) Setelah mereka sampai di California, ternyata "not all that glitters is gold" (sebuah pepatah, "tidak semua yang gemerlap adalah emas" ) ... dan penderitaan sama sekali tidak berkurang, malah bertambah (!) Mereka mesti berjuang untuk survive/mempertahankan hidup, bekerja untuk upah yang sama sekali tidak cukup untuk makan.

***) "Okies": Migran miskin/gelandangan dari Oklahoma.

Henry Fonda menerima nominasi Oscar-nya yang pertama untuk perannya sebagai Tom Joad, orang baik yang "terdampar" sebagai buronan gara-2 situasi. Fonda betul-2 menjiwai dalam perannya. Jane Darwell berhasil mencuri simpati penonton dan memenangkan Oscar untuk Aktres Pendukung Terbaik untuk perannya sebagai Ma Joad, tokoh matriarch/ibu yang menyampaikan dialog-2 penting dalam film ini. Darwell dengan sempurna menangkap esensi dari karakter yang dia mainkan. Anggota cast yang lainnya juga sangat baik dan meyakinkan dalam peran mereka masing-2. John Ford memperoleh Oscar-nya yang kedua untuk Sutradara Terbaik -- dan fim ini tentu saja adalah salah satu dari karya-2 terbaiknya.

Meskipun film ini menampilkan banyak penderitaan dan kesengsaraan, ceritanya uplifting, membangkitkan semangat, ditandai dengan compassion (simpati/pengertian) dan tenderness (kehangatan). Penulis secara personal begitu tergerak dan uplifted ketika Ma Joad berkata-2 berikut ini sebelum film berakhir:

Rich fellas come up an' they die,
an' their kids ain't no good an' they die out.
But we keep a' comin'. We're the people that live.
They can't wipe us out; they can't lick us.
We'll go on forever, Pa, 'cause we're the people!

Berasal dari AS yang kapitalis, adalah sesuatu yang luar biasa cerita bernuansa sosialis ini berhasil dipublikasikan dan diadaptasi ke film. Mengundang kontroversi ketika pertama kali dikeluarkan, The Grapes of Wrath berhasil bertahan dalam jajaran film-2 klasik. Pada tahun 1989, film ini terpilih sebagai salah satu dari 25 film pertama yang terpilih masuk dalam klasifikasi "culturally, historically, or aesthetically significant" dalam United States National Film Registry.

Kalau anda pernah merasakan penderitaan dan kesengsaraan sebagai migran, misalnya terpaksa pindah dari kota kecil tempat kelahiran anda yang tenang dan damai ke ibu kota yang hiruk-pikuk, memekakkan, dan bikin stress, sampai-2 anda mengumpat, "sekejam-2nya ibu tiri, masih lebih kejam ibu kota," maka ... this is it! This is the movie for you!

9.0/10

The Grapes of Wrath dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 29 November 2011

Once Upon a Time in the West

Resensi Film: Once Upon a Time in the West (C'era una volta il West) (****/4)

Tahun Keluar: 1968
Negara Asal: Italy, USA
Sutradara: Sergio Leone
Cast: Henry Fonda, Claudia Cardinale, Jason Robards, Charles Bronson

Plot: Seorang pemain harmonika bergabung dengan seorang buronan kriminal untuk melindungi seorang janda dari segerombolan bandit yang bekerja untuk seorang pengusaha yang rakus (IMDb).

Setelah menyelesaikan Trilogi Dollar-nya: A Fistful of Dollars (1964), For a Few Dollars More (1965), dan The Good, the Bad and the Ugly (1966), Sergio Leone sesungguhnya ingin pensiun dari membuat film-2 koboi -- dia merasa misi western-nya sudah selesai. Tetapi studio United Artists (studio yang memproduksi Trilogi Dollar) meminta Leone untuk membuat film koboi sekali lagi, untuk terakhir kalinya, dengan mengiming-2i dia anggaran yang besar dan akses ke aktor favoritnya, Henry Fonda! Sepanjang kariernya, Leone selalu ingin bekerja dengan Henry Fonda, maka diterimalah tawaran tersebut.

Ide awal dari film ini adalah cerita yang menggabungkan semua referensi dari film-2 klasik koboi Amerika, mulai dari My Darling Clementine (1946), Duel in the Sun (1946), High Noon (1952), Shane (1953), The Searchers (1956), The Magnificent Seven (1960) sampai The Man Who Shot Liberty Valance (1962). Hasilnya adalah Once Upon a Time in the West ... judul yang sangat cocok untuk cerita yang bersifat timeless -- tidak hanya mengacu pada waktu tertentu saja, tetapi pada kumpulan kenangan dari masa lalu yang berisi tema universal tentang kebaikan dan kejahatan, romans, dan yang lainnya. Mengacu ke sekitar 30 film klasik koboi Amerika (menurut film critic dan film historian Christopher Frayling), Once Upon a Time in the West menyampaikan cerita dari tiga tokoh utamanya: pemain harmonika yang misterius (Charles Bronson), buronan kriminal yang notorious Cheyenne (Jason Robards), dan pengantin baru yang cantik Jill McBain (Claudia Cardinale). Berada di tengah jalan mereka adalah Frank, seorang pembunuh bayaran yang sadis, yang dimainkan dengan sangat meyakinkan oleh aktor yang selama ini selalu berperan sebagai good guy, Henry Fonda!

Setiap karakter mempunyai cerita sendiri-2 (dan musik tema sendiri-2!), dan setiap cerita dimulai secara misterius -- dengan gaya Leone yang klasik, motivasi dan identitas setiap karakter terungkap secara perlahan-2. Walaupun ceritanya kental dengan plot dan sub-2 plot, film ini menitikberatkan pada style/gaya dalam menyampaikan cerita tersebut -- menghasilkan scene-2 yang indah, yang mempunyai daya tarik sinematik yang kuat. Sebagai contoh, film ini dimulai dengan sequence pembuka sepanjang 15 menit yang dimainkan praktis dalam kesunyian sementara tiga koboi jago tembak menunggu kedatangan Harmonica di stasiun kereta api yang sunyi. Sequence ini mensetup style/gaya dari film ini secara keseluruhan -- momen-2 penting dimainkan dengan gaya seperti ini untuk menghasilkan efek suspense yang maksimal. Untuk penonton yang tidak mengenal gaya Leone, cara ini mungkin terasa lambat dan membosankan, tetapi percayalah ... jika anda sabar menunggu, hasilnya sangat sumbut -- tidak ada sutradara lain (kecuali Alfred Hitchcock!) yang dapat secara konsisten melakukan hal ini dengan baik.

Secara keseluruhan, penampilan film ini sangat elegen, mulai dari pengambilan gambar-2 dari Claudia Cardinale yang bagaikan goddess, pengambilan gambar-2 dengan lensa lebar dari Monument Valley yang menakjubkan, sampai musical score dari Ennio Morricone yang mengusik sanubari (film ini dapat anda pinjam hanya untuk mendengarkan musiknya saja!). Setelah suspense bergaya Hitchcock, Leone melepas Fonda dan gerombolannya dengan suara-2 tembakan yang paling memekakkan telinga dalam sejarah film-2 koboi. Ketika seorang tertembak, dia bahkan mati dengan gaya Leone: jatuh terpelanting secara brutal ... !

Dari segi originalitas, film ini memang tidak orisinil. Ketika film ini keluar, film ini langsung menjadi populer di seluruh dunia, tetapi penonton Amerika tidak menyukainya. Dengan berjalannya waktu, film ini berhasil mengumpulkan fans di Amerika, karena Leone dinilai berhasil menjadikan film ini sebagai filmnya sendiri (menggunakan style/gayanya sendiri). Pada tahun 2009, Once Upon a Time in the West terpilih masuk dalam United States National Film Registry sebagai film yang "culturally, historically, or aesthetically significant."

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Once Upon a Time in the West dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 17 November 2011

Fail-Safe

Resensi Film: Fail-Safe (****/4)

Tahun Keluar: 1964
Negara Asal: USA
Sutradara: Sidney Lumet
Cast: Henry Fonda, Dan O'Herlihy, Walter Matthau

Plot: Sistem pertahanan AS yang terkomputerisasi mengalami electrical malfunction dan mengirim kode penyerangan nuklir ke Rusia (IMDb).

Dalam bisnis perfilman, timing is everything! Dibuat setelah krisis Cuba pada tahun 1962, Fail-Safe dikeluarkan pada saat yang tepat. Tetapi, saat itu ada film yang lain yang juga bertemakan yang sama, yaitu Dr. Strangelove arahan Stanley Kubrick. Kubrick berhasil menunda pemutaran film ini, dengan mengancam lawsuit terhadap studio Columbia yang mendistribusikan kedua film ini, sehingga Dr. Strangelove keluar sebelum film ini. Dapat dimengerti mengapa Kubrick mendesak studio Columbia untuk mengeluarkan filmnya sebelum film ini, yaitu karena filmnya ternyata -- tanpa disengaja -- adalah komedi gelap/parodi (olok-2) dari situasi yang digambarkan dalam film ini. Ketika Fail-Safe akhirnya keluar, ceritanya terasa basi dan filmnya terasa inferior jika dibandingkan dengan Dr. Strangelove. Namun demikian, dengan berjalannya waktu, Fail-Safe -- dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Eugene Burdick and Harvey Wheeler -- berhasil dinobatkan sebagai salah satu dari film-2 thriller perang dingin yang terbaik. Novelnya terjual laris sampai tahun 1990-an dan film ini memperoleh pujian yang tinggi karena berhasil menangkap esensi dari cerita aslinya. Betul-2 gelap dan pesimistik terhadap prospek pecahnya perang nuklir, ada dua pendapat tentang film ini: pendapat pertama, film ini berlebihan dan konyol (apakah mungkin kesalahan konyol, dhi. eletrical malfunction yang sederhana, dapat men-trigger perang nuklir? ); pendapat kedua, film ini realistis dan menegangkan (memang betul, kesalahan konyol dapat men-trigger perang nuklir! :-)) Terlepas dari dua pendapat tersebut, penulis melihat film ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dari Dr. Strangelove -- bedanya, Dr. Strangelove betul-2 parodi, sedang film ini settingnya serius: ceritanya serius dan karakter-2nya serius ... in fact, riel, dan manusia riel sering melakukan kesalahan konyol, bahkan sangat konyol.

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Fail-Safe dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 21 September 2011

Jezebel

Resensi Film: Jezebel (***1/2/4)

Tahun Keluar: 1938
Negara Asal: USA
Sutradara: William Wyler
Cast: Bette Davis, Henry Fonda, George Brent

Plot: Pada jaman Antebellum*) di negara bagian Louisiana, AS, seorang wanita muda berusaha memberontak dari tradisi pada jamannya, dan akhirnya harus kehilangan pria yang dia cintai (IMDb).

Adaptasi dari teater dengan judul yang sama karya Owen Davis, Sr., Jezebel mempunyai plot yang mirip dengan Gone with the Wind (1939). Karakter-2 dalam dua film ini sama-2 berasal dari daerah selatan. Kisah cinta segitiganya juga mirip, dalam Jezebel -- Julie (Bette Davis), Preston (Henry Fonda), dan Buck (George Brent), dalam Gone with the Wind -- Scarlett, Ashley, dan Rhett. Krisisnya juga mirip, dalam Jezebel -- demam kuning (yellow fever), dalam Gone with the Wind -- perang sipil. Akhirnya juga mirip, sama-2 open ending ... mengejutkan, sekaligus menghantui. Meskipun cerita/filmnya diterbitkan/dikeluarkan terlebih dahulu, Jezebel tidak dapat mengalahkan popularitas Gone with the Wind yang didukung oleh cerita yang lebih kaya, karakter-2 yang lebih kompleks, setting produksi yang lebih mahal, dan publisitas yang lebih luas. Mempertimbangkan hal tersebut, beruntung sekali Jezebel dikeluarkan terlebih dahulu. Dan meskipun tidak se-extravagant Gone with the Wind, Jezebel mempunyai cast yang tidak kalah bobotnya dengan cast dalam Gone with the Wind. Bette Davis aktingnya sangat mengesankan sebagai Julie yang keras kepala, dan ketika karakternya berubah drastis -- ketika dia menyadari "harga" yang harus dia bayar, transformasinya juga meyakinkan. Untuk Henry Fonda, penampilannya dalam film ini adalah langkah penting untuk kariernya -- karakter yang dia mainkan, Preston, mencerminkan integritas yang sama yang di kemudian hari menjadi karakteristik dari penampilan Fonda. Jezebel menghasilkan trophy Oscar untuk Davis (aktres terbaik) dan Fay Bainter (aktres pendukung terbaik), dan nominasi Oscar untuk Warner Bros (film terbaik), Max Steiner (musical score terbaik), dan Ernest Haller (cinematography terbaik).

*) periode tahun 1789 sampai tahun 1849

Cerita (***)
Screenplay (***1/2)
Karakter (***1/2)
Akting (****)

Keseluruhan: ***1/2/4

Jezebel dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 17 August 2011

My Darling Clementine

Resensi Film: My Darling Clementine (***1/2/4)

Tahun Keluar: 1946
Negara Asal: USA
Sutradara: John Ford
Cast: Henry Fonda, Victor Mature, Linda Darnell

Plot: Pertempuran di O.K. Corral antara Earp bersaudara dan kelompok Clanton (IMDb).

Berdasarkan kisah nyata pertempuran di O.K. Corral yang terjadi pada tahun 1881 antara Earp bersaudara dan kelompok Clanton, meskipun secara historis tidak akurat, John Ford berhasil memberikan pengarahan yang membangkitkan sensasi dan mood yang memikat. Mulai dari saat Wyatt (Henry Fonda) dan saudara-2nya ditemukan di padang gurun yang luas dan ganas, menggiring ternak mereka ke tanah terjanji nun jauh di sana, sensasi dan mood tersebut langsung hadir -- misalnya, penyinaran yang menimbulkan bayangan, kontras yang lembut antara mood dan tempo, dan efek-2 stylization yang lain -- dan berhasil terus terjaga sampai film berakhir. Didukung dengan script yang rapi dan ketat, dan karakterisasi yang matang, setiap scene, setiap shot adalah hasil dari arahan yang perseptif dan sensitif -- yaitu, arahan yang menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang keindahan dunia yang ganas dan masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Cerita (***)
Screenplay (***1/2)
Karakter (****)
Akting (***)

Keseluruhan: ***1/2/4

My Darling Clementine dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 1 June 2011

Jesse James

Resensi Film: Jesse James (**1/2/4)

Tahun Keluar: 1939
Negara Asal: USA
Sutradara: Henry King
Cast: Tyrone Power, Henry Fonda, Nancy Kelly

Plot: Setelah perusahaan kereta api menggusur keluarganya dari tanah miliknya, dua bersaudara Jesse dan Frank James berubah menjadi bandit untuk balas dendam (IMDb).

Berdasarkan legenda Jesse James, film ini didukung oleh cast yang mumpuni: Tyrone Power sebagai Jesse, Henry Fonda sebagai Frank, Brian Donlevy sebagai tengkulak tanah yang licik, Jane Darwell sebagai ibu Jesse dan Frank, Randolph Scott sebagai Marshall, Nancy Kelly sebagai istri Jesse, dan Slim Summerville sebagai penjaga penjara. Tetapi Henry Hull yang berperan sebagai Major/Editor Rufus Cobb berhasil mencuri perhatian penonton. Hull dengan gayanya yang kocak ("Take an editorial. The first thing we need to do is hang all the ....") berhasil membumbui film dengan humor segar dan menjadikan dirinya icon untuk karakter-2 editor yang lain di dunia perfilman -- misalnya, karakter editor J. Jonah Jameson dalam film Spider-Man.

Cerita (***)
Screenplay (**1/2)
Karakter (***)
Akting (**1/2)

Keseluruhan: **1/2/4

Jesse James dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 26 April 2011

Fort Apache

Resensi Film: Fort Apache (***/4)

Tahun Keluar: 1948
Negara Asal: USA
Sutradara: John Ford
Cast: John Wayne, Henry Fonda, Shirley Temple

Plot: Bertentangan dengan nasehat bawahannya, seorang letnan kolonel berusaha menghancurkan suku Apache sebagai cara untuk mendapatkan penghargaan yang dia percaya dia patut menerima (IMDb).

Fort Apache adalah film pertama dari "cavalry trilogy" John Ford, yang diikuti oleh She Wore a Yellow Ribbon (1949) dan Rio Grande (1950). Semuanya dibintangi oleh John Wayne. Cerita dalam film ini secara bebas didasarkan pada George Armstrong Custer, perang Little Bighorn dan pembantaian Fetterman pada tahun 1866. Film ini tercatat dalam sejarah sebagai film pertama yang menampilkan pandangan otentik dan simpatik terhadap suku Indian di Amerika. John Ford terkenal dengan gaya penyutradaraan yang berpusat pada karakter-2nya, memberikan waktu yang cukup pada mereka untuk berkembang sehingga penonton dapat mengenalinya secara mendalam. Satu kelemahan dalam film ini adalah subplot yang melibatkan Shirley Temple -- penampilan Temple lemah dan ceritanya dengan mudah tidak perlu.

Cerita (***)
Screenplay (***)
Karakter (***)
Akting (***)

Keseluruhan: ***/4

Fort Apache dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 24 December 2009

12 Angry Men

Movie Review: 12 Angry Men

Year of Release: 1957
Country of Origin: USA
Director: Sidney Lumet
Cast: Henry Fonda, Martin Balsam, John Fiedler, Lee J. Cobb, E. G. Marshall

Plot outline: A dissenting juror in a murder trial slowly manages to convince the others that the case is not as obviously clear as it seemed in court (IMDb).

The earnest 1957 jury-room drama 12 Angry Men promotes skepticism as civic duty - a lesson too often forgotten. Henry Fonda's juror No. 8 is the only one who takes the concept of reasonable doubt seriously, while his peers initially want a quick guilty verdict. Slowly, quietly Fonda convinces the others that the state's case is full of holes. The speechifying is didactic '50s liberal, and Fonda's character engages in some stunts that would get him thrown off a real jury, but screenwriter Reginald Rose is serious about the duty not to rush to judgment. Much of the message for both justice and mercy depends on our repugnance for juror No. 10 Ed Begley's obvious bigotry, although the script has been de-ethnicized to such a degree that it's not clear who the objects of his hatred are - slum dwellers in general, apparently. The movie showcases a roster of great character actors: Martin Balsam as the foreman; Lee J. Cobb as a father alienated from his own son; E.G. Marshall as the rectitudinous stock broker who "never sweats"; Jack Klugman as the token slum dweller; George Voskovec as the quiet immigrant faithful to American values; Robert Webber as the wishy-washy ad executive; and a brash young Jack Warden as a know-nothing who just wants to go to the Yankees game. Sidney Lumet, in his first directorial job, showed a sure hand at milking the claustrophobia as the arguments and animosities escalate. He was helped immensely by Boris Kaufman, a master of black-and-white cinematography. Lumet remembers that while screenwriter Rose "believed that people were good ... I don't feel that." (MSG)

My judgement: **** out of 4 stars

Friday, 27 March 2009

Midway

Movie Review: Midway

Year of Release: 1976
Country of Origin: USA
Director: Jack Smight
Cast: Charlton Heston, Edward Albert, Henry Fonda, James Coburn, Glenn Ford

Plot outline: A dramatization of the battle that turned out to be the turning point of the Pacific theatre of World War II (IMDb).

The battle - history - survives while the movie blows up harmlessly in a confusion of familiar old newsreel footage, idiotic fiction war movie clichés, and a series of wooden-faced performances by almost a dozen male stars, some of whom appear so briefly that recognizing them is like taking a World War II aircraft-identification test: Is that a single-wing Robert Mitchum? A modified Cliff Robertson? A rebuilt Glenn Ford? The movie attempts to recreate the circumstances leading up to the battle of Midway Island, June 4-5, 1942, when a perilously small US Navy task force decisively defeated Admiral Yamamoto's much larger Japanese fleet whose mission had been the invasion and occupation of Midway. Most of these things are reported quite dutifully by the movie. It solemnly cross-cuts between the war councils, chart rooms and communications offices on the American side and those on the Japanese side, with characters, who often have to be identified by subtitles, laboriously trying to give us all of the exposition necessary to make the battle coherent. There's no way to act such roles, though Henry Fonda as Admiral Nimitz shows a certain amount of ease reading decoded messages and shaking hands with junior officers. Charlton Heston plays a fictional character who might have been stolen from some terrible movie made shortly after World War II. He is given the movie's silliest lines, though the fact that there really was an Admiral Yamamoto doesn't exactly protect Toshiro Mifune from his share of duds. "Ah," says the movie's Yamamoto when informed of Gen. Jimmy Doolittle's token air raid on Tokyo in early 1942, "this is a blessing in disguise. There'll be no more foot-dragging by the general staff." Small-talk among flag officers is one of the movie's more minor problems. The major one is the battle, which is a badly edited and badly matched series of scenes made up of studio stuff, miniatures and actual battle footage. The director and his editors also appear to repeat battle footage when it's really good. Maybe not, but it certainly seems that way. (NYT)

My judgement: **1/2 out of 4 stars

Wednesday, 14 January 2009

The Wrong Man

Movie Review: The Wrong Man

Year of Release: 1956
Country of Origin: USA
Director: Alfred Hitchcock
Cast: Henry Fonda, Vera Miles, Anthony Quayle, Harold Stone

Plot outline: A true story of an innocent man charged for a crime he didn't commit, even though witnesses swear he's guilty (IMDb).

Whilst it may embrace many familiar Hitchcockian themes, such as mistaken identity, mental derangement and transference of guilt, The Wrong Man is markedly different from Hitchcock’s other movies, and could even be mistaken as the work of an altogether different director. The surprising stylistic change of direction is heralded at the start of the movie by the appearance of Hitchcock himself, not in his usual fleeting cameo but as a ghostly silhouette in film noir long shot, to tell us that what we are about to see is based entirely on a true story. The factual nature of the narrative is reflected in the strikingly realist approach which Hitchcock adopts for this movie. It is probable that he had been influenced by the emergence of neo-realism in European cinema at the time - exemplified by the work of the Italian cineaste Roberto Rossellini. Real locations and naturalistic performances are complemented by a very restrained cinematographic style and a meticulous attention to detail, which heighten the sense of realism, to the point of risking viewer antipathy. The Wrong Man is much more a film d’auteur than a typical Hollywood commercial movie. It may have fared very poorly at the box office when it was first released, but it is undoubtedly one of Hitchcock’s most daring and inspired contributions to the art of cinema. Much of the movie’s intense emotional realism comes from Henry Fonda’s convincing portrayal of an innocent family man who is drawn into a Kafkaesque nightmare from which there is, apparently, no escape. Fonda’s talent for playing the ordinary man is put to good use and he really does get across the immense trauma and pathos of a man who is on the brink of losing everything. The subjective camera work (consisting of some very effective point-of-view shots) and Bernard Herrmann’s appropriately subdued score complement Fonda’s performance superbly, helping the viewer to identify with his character's growing anxiety and shame as the net closes in around him. An equally impressive performance from Vera Miles heightens the movie’s tragic dimension, helping to make this Hitchcock’s bleakest and most poignant movie. (JT)

My judgement: *** out of 4 stars

Tuesday, 2 December 2008

The Best Man

Movie Review: The Best Man

Year of Release: 1964
Country of Origin: USA
Director: Franklin J. Schaffner
Cast: Henry Fonda, Cliff Robertson, Lee Tracy, Edie Adams, Margaret Leighton

Plot outline: The other party is in disarray. Five men vie for the party nomination for president. No one has a majority (IMDb).

Based on the play of the same title by Gore Vidal, this movie is a hypothetical battle between two front-running candidates on the eve of the balloting at a presidential nominating convention. The drama of this confrontation, happening in the midst of a hot and howling but strangely oblivious convention, is shockingly intense. That is because Schaffner has shrewdly directed the movie to emphasize the rasp of a convention as well as of individuals. While the personal hostility between two taut and determined men is stingingly shown in the foreground, the atmosphere of all that's going on around is caught in brilliant simulation and made to crackle with the tensions of a mob. Henry Fonda gets precisely the mixture of hot ambition and cool humility to make the presidential aspirations of an evident egghead credible. And he is able to play a participant in a threatened retaliatory smear with the becoming distaste of a gentleman and yet with a certain bright-eyed zeal. In the end, of course, his behavior is that of a starry idealist. As his rigid and ruthless rival, Cliff Robertson is excellent, too - a fair reflection of a type of opportunist that has been all too evident on political scene. And as the shrewd and conniving former President, Lee Tracy comes charging through with a performance that prickles with witty cynicism and drips with phony sentiment. Kevin McCarthy as Fonda's henchman who pulls the political tricks, Ann Sothern as a brassy and brutal manipulator of the "women's vote", John Henry Faulk as a Southern politician and William R. Ebersol as a lily-white dark horse stand out in a cast that is notable for its authenticity. (NYT)

My judgement: *** out of 4 stars

Thursday, 9 October 2008

Mister Roberts

Movie Review: Mister Roberts

Year of Release: 1955
Country of Origin: USA
Directors: John Ford, Mervyn LeRoy
Cast: Henry Fonda, James Cagney, William Powell, Jack Lemmon

Plot outline: Comedy-drama about life on a not particularly important ship of the US Navy during WW2 (IMDb).

Adapted from the play based on Thomas Heggen's book of the same name, this movie perfectly captures the life aboard a non-combatant ship. Far away from the action of the war, the ship provides a vital service, but rarely get recognized for it. Henry Fonda plays the title character, Lt. Douglas Roberts, who spends more time defending his crew from the tyranny of the ship's commanding officer than he does from the enemy. He remarkably demonstrates what true leadership is. James Cagney, in one of his best performances, plays the selfish and ambitious skipper, Captain Morton. He cunningly uses Roberts' work to advance his own career. With this motive in mind he blocks all of Roberts' requests and makes his life as miserable as possible into the bargain. William Powell, in his last appearance, plays the aging and quick witted sidekick, Lt. 'Doc'. His comic timing and sophisticated presence steal every scene in which he appears. Jack Lemmon provides the touch of comic frivolity as the good natured but lazy Ensign Frank Thurlowe Pulver. Lemmon was relatively new when the movie was made, but none of that seemed evident in his performance. He held his own against three of the best in the business and was awarded an Oscar for his efforts. It takes Mister Roberts a while, and a few lectures from 'Doc', to realize that what he and his crew do is an important job even as they sail "from apathy to tedium with occasional side trips to monotony and ennui," as he says in his letter to Pulver in one of the movie's last scenes. Its realism provides a good balance of comedy and drama throughout. This movie has the ability to touch everyone on at least one level.

My judgement: *** out of 4 stars

Thursday, 17 July 2008

The Lady Eve

Movie Review: The Lady Eve

Year of Release: 1941
Country of Origin: USA
Director: Preston Sturges
Cast: Barbara Stanwyck, Henry Fonda

Plot outline: Returning from a year up the Amazon studying snakes, the rich but unsophisticated Charles Pike meets con-artist Jean Harrington on a ship (IMDb).

This classic romantic comedy starring Barbara Stanwyck and Henry Fonda is a scintillating battle of the sexes, as writer and director Preston Sturges shows us the terrors of sexual passion and the unattainability of the romantic ideal. Barbara Stanwyck gives one of her best performances. The scene - an unbroken shot that lasts three minutes and 51 seconds - where Stanwyck toys with Fonda's hair as he reclines, uncomfortably, on the floor beside her is incredibly seductive. Henry Fonda, without looking like a loser - he trips over four times, get spilled over by food trays twice and nibbled by a horse once, plays his role absolutely straight. No tongue in cheek, no winks at the audience. He plays it straight and sincere. The dialogue is sharp and witty ("Don't be vulgar, Jean. Let us be crooked, but never common."). And all other characters are equally as scintillating as the lead stars. After almost seven decades the story still rings true and the movie remains thoroughly enjoyable.

My judgement: *** out of 4 stars