Jerusalem, Israel
Israel, Gali Atari and Milk and Honey, "Hallelujah" (הללויה)
Showing posts with label 1970s. Show all posts
Showing posts with label 1970s. Show all posts
Wednesday, 1 April 2015
1979 Eurovision Winner ★★★★★
Tuesday, 31 March 2015
1978 Eurovision Winner
Paris, France
Israel, Izhar Cohen and the Alphabeta, "A-Ba-Ni-Bi" (א-ב-ני-בי)
Monday, 30 March 2015
1977 Eurovision Winner
London, United Kingdom
France, Marie Myriam, "L'oiseau et l'enfant"
Sunday, 29 March 2015
1976 Eurovision Winner ★★★★★
The Hague, Netherlands
United Kingdom, Brotherhood of Man, "Save Your Kisses for Me"
Saturday, 28 March 2015
Friday, 27 March 2015
Thursday, 26 March 2015
1973 Eurovision Winner
Luxembourg, Luxembourg
Luxembourg, Anne-Marie David, "Tu te reconnaîtras"
Wednesday, 25 March 2015
1972 Eurovision Winner ★★★★★
Edinburgh, United Kingdom
Luxembourg, Vicky Leandros, "Après toi"
Tuesday, 24 March 2015
1971 Eurovision Winner
Dublin, Ireland
Monaco, Séverine, "Un banc, un arbre, une rue"
Monday, 23 March 2015
1970 Eurovision Winner ★★★★★
Amsterdam, Netherlands
Ireland, Dana, "All Kinds of Everything"
Sunday, 6 July 2014
The Stepford Wives
The Stepford Wives ★★★★☆
Ideal: Standard kesempurnaan ciptaan manusia yang tidak manusiawi ...
“If I am wrong, I'm insane. But if I'm right, it's even worse than if I was wrong.”
Tahun Keluar: 1975
Negara Asal: USA
Sutradara: Bryan Forbes
Cast: Katharine Ross, Paula Prentiss, Peter Masterson, Patrick O'Neal
Dialog di atas dengan sangat perseptif meringkas perasaan protagonis tentang situasi yang terjadi dalam drama horor, sekaligus kritik sosial, karya penulis Ira Levin ini.
Karya Levin yang lain yang mungkin anda kenal adalah Rosemary's Baby -- yang juga sudah difilmkan dengan Mia Farrow sebagai pemeran utama dan Roman Polanksi sebagai sutradara. Kalau anda dapat menerima (menikmati) Rosemary's Baby, yang notabene adalah cerita horor klenik, meskipun anda mungkin bukan orang yang percaya dengan klenik -- setan gundul, sundel bolong, atau yang lainnya :-), maka anda semestinya dapat juga menerima The Stepford Wives, yang notabene adalah cerita horor science fiction. Anda tidak perlu menjadi believer dalam hal apapun, cukup imajinasi saja, untuk dapat menikmati science fiction. Am I right?!
Keluarga muda Joanna (Katharine Ross) dan Walter Eberhart (Peter Masterson), dan dua anaknya, pindah dari hiruk-pikuk kota New York ke aman dan tenteram kota Stepford di negara bagian Connecticut. Alasan utamanya, kota kecil ini cocok untuk membesarkan keluarga -- rumahnya besar, halamannya luas, dan untuk Joanna sendiri dia bisa mempunyai kamar gelap untuk menyalurkan bakat fotografinya. Walaupun mula-2 keputusan pindah tersebut nampak seperti keputusan bersama, scriptnya dengan cepat menunjukkan bagaimana Walter meng-fait accompli istrinya terhadap keputusan tersebut -- dan, as a matter of fact, keputusan-2 yang lain. Kebosanan dengan cepat menghinggapi Joanna, bukan melulu karena kota Stepford yang sepi, tetapi karena penduduk wanita sebayanya tidak mempunyai inklinasi intelektual seperti dirinya. Dengan suaminya bersosialiasi sendiri dalam Men's Association (klub khusus pria), dan tetangga sebelahnya, Carol (Nanette Newman), bersikap submisif seperti wanita dari era Jane Austen :-), Joanna lebih senang menyendiri saja.
Situasi mulai berubah ketika pada suatu hari Bobbie (Paula Prentiss), pendatang baru juga seperti dirinya, mendatanginya dan mengajaknya berteman. Bagaikan kutub utara bertemu dengan kutub selatan, Joanna dan Bobbie langsung berteman akrab, dan mereka mulai mencari wanita-2 sebaya pendatang baru yang lain, tetapi cuma menemukan satu saja, Charmaine (Tina Louise). Ketiganya mempunyai pendapat dan perasaan yang sama terhadap kaum wanita di kota Stepford, mereka berusaha mengorganisir pertemuan yang disebut dengan consciousness/awareness raising: membicarakan segala macam topik mulai dari sosial sampai politik. Tetapi usaha mereka mengumpulkan kaum wanita di kota ini menemui jalan buntu, karena mereka sama sekali tidak tertarik: ada yang tertariknya nyetrika saja, ada yang tertariknya bersih-2 rumah dan masak saja, ada yang tertariknya berkebun saja :-) Bahkan setelah Joanna mem-“blackmail” para suami untuk “mengutus” istrinya datang ke pertemuan tersebut, hasilnya tetap nihil. Tetapi yang membuat Joanna dan Bobbie kecewa berat, sekaligus terheran-2, adalah ketika beberapa hari kemudian Charmaine berubah total menjadi submisif seperti wanita-2 yang lain di kota ini. Berusaha memahami perubahan drastis tersebut, Bobbie mempunyai teori bahwa mungkin ada semacam konspirasi, disengaja atau tidak disengaja, yang mencemari atau meracuni persediaan air minum di kota ini yang menyebabkan kaum wanitanya berubah menjadi submisif -- mempertimbangkan banyaknya industri high-tech di kota ini.
Beberapa hari kemudian, ketika Bobbie juga berubah total menjadi submisif, Joanna tidak dapat lagi menyembunyikan ketakutan dan rasa paniknya, menyadari bahwa target berikutnya adalah dirinya!
Apa yang terjadi pada kaum wanita di kota Stepford?
Benarkah prasangka Joanna?
Sama seperti Rosemary's Baby (1968), script dan arahan film ini berhasil dengan sangat pas menangkap esensi dari cerita yang ada -- gosip yang ada menyebutkan sutradara Bryan Forbes terpaksa “melembutkan” script William Goldman (Butch Cassidy and the Sundance Kid, All the President's Men, Marathon Man, Misery) karena script tersebut dinilai terlalu horor, terutama bagian akhirnya. Goldman menggunakan pendekatan slow-burning: plot terkuak secara perlahan-2, seakan-2 sepele atau dapat kita abaikan, tetapi ketika kita menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Arahan Forbes terhadap akting para cast-nya juga subtle (tidak kentara): kita merasa ada sesuatu yang ganjil, tetapi perasaan tersebut tidak sampai membangkitkan kecurigaan ... sampai ketika kita menyadarinya, dan saat itu kita sudah kecolongan :-)
Penggunaan lensa soft-focus turut menciptakan nuansa surealis yang berhasil dengan sangat baik mencampur antara realitas dan mimpi (dhi, mimpi buruk). Penggunaan musik bernada mengancam di antara musik utama yang bernada romantis betul-2 “menangkap” penonton dalam keadaan tidak siap. Namun demikian, kalau anda teliti, script Goldman ini sesungguhnya menjatuhkan banyak clue/hint di sepanjang film, misalnya: di awal film, seorang pria menyeberang jalan sambil membawa mannequin, dialog Walter dengan tetangga sebelahnya, Ted, pada hari pertama kepindahan mereka di Stepford:
insiden di supermarket, dialog antara Walter dan Joanna di tengah malam setelah Walter datang untuk pertama kalinya di Men's Association, atau juga efek-2 suara synthesizer yang tajam dan memekakkan telinga pada momen-2 tertentu.
Satu adegan yang memorable, mula-2 membosankan tetapi kemudian berubah menjadi creepy, menakutkan, yaitu ketika teman-2 Walter dari Men's Association datang berkunjung ke rumah mereka, ngobrol ngalor-ngidul ndak karuan juntrungnya, tetapi ada satu orang yang membuat sketsa wajah Joanna -- luar biasa persisnya sampai membuat bulu kuduk penulis berdiri.
Namun demikian, film ini bukannya tanpa humor. Ketika menonton pertama kalinya, penulis memang kelewatan menikmati humor gelap yang ada. Tetapi menonton kedua kalinya, penulis bisa tertawa terpingkal-2 menyaksikan adegan ketika Joanna dan Bobbie berusaha mengumpulkan kaum wanita di kota Stepford untuk datang ke pertemuan mereka dan gagal total.
Sebagian film critic ternama, a.l. Roger Ebert, tidak menyukai pendekatan Forbes dan Goldman yang mereka nilai “berlebihan”, maksudnya terlalu serius dan gelap. Anehnya, mereka menyarankan pendekatan satir komedi -- dan saran ini ternyata terwujud dalam remake film ini, dengan judul yang sama pada tahun 2004, dengan Nicole Kidman sebagai pemeran utama; dan hasilnya: mengerikan, rubbish! :-) Lucunya, di lain pihak, Women's Lib menuduh film ini sebagai anti wanita -- entah mengapa, mungkin karena di akhir film protaganisnya kalah.
Tetapi untuk penulis, akhir dari protagonis yang mengenaskan ini, dilanjutkan dengan scene penutup yang seakan-2 mengabaikan semua peristiwa yang terjadi sebelumnya, justru membuat bulu kuduk penulis berdiri; dan kritik sosial dari cerita ini justru bergema lebih keras sampai ke sudut-2 yang paling jauh: Ideal adalah standard kesempurnaan ciptaan manusia yang tidak manusiawi -- dan tidak perlu disangsikan lagi, melanggar hak asasi manusia.
Film ini dibuat sebelum film-2 tentang humanoid, seperti Blade Runner (1982), menjadi tren populer. Dan sampai saat ini, film ini terus menciptakan pro dan kontra.
It's a cult classic.
The Stepford Wives dapat anda temukan di eBay.com
Ideal: Standard kesempurnaan ciptaan manusia yang tidak manusiawi ...
“If I am wrong, I'm insane. But if I'm right, it's even worse than if I was wrong.”
Tahun Keluar: 1975
Negara Asal: USA
Sutradara: Bryan Forbes
Cast: Katharine Ross, Paula Prentiss, Peter Masterson, Patrick O'Neal
Dialog di atas dengan sangat perseptif meringkas perasaan protagonis tentang situasi yang terjadi dalam drama horor, sekaligus kritik sosial, karya penulis Ira Levin ini.
Karya Levin yang lain yang mungkin anda kenal adalah Rosemary's Baby -- yang juga sudah difilmkan dengan Mia Farrow sebagai pemeran utama dan Roman Polanksi sebagai sutradara. Kalau anda dapat menerima (menikmati) Rosemary's Baby, yang notabene adalah cerita horor klenik, meskipun anda mungkin bukan orang yang percaya dengan klenik -- setan gundul, sundel bolong, atau yang lainnya :-), maka anda semestinya dapat juga menerima The Stepford Wives, yang notabene adalah cerita horor science fiction. Anda tidak perlu menjadi believer dalam hal apapun, cukup imajinasi saja, untuk dapat menikmati science fiction. Am I right?!
Keluarga muda Joanna (Katharine Ross) dan Walter Eberhart (Peter Masterson), dan dua anaknya, pindah dari hiruk-pikuk kota New York ke aman dan tenteram kota Stepford di negara bagian Connecticut. Alasan utamanya, kota kecil ini cocok untuk membesarkan keluarga -- rumahnya besar, halamannya luas, dan untuk Joanna sendiri dia bisa mempunyai kamar gelap untuk menyalurkan bakat fotografinya. Walaupun mula-2 keputusan pindah tersebut nampak seperti keputusan bersama, scriptnya dengan cepat menunjukkan bagaimana Walter meng-fait accompli istrinya terhadap keputusan tersebut -- dan, as a matter of fact, keputusan-2 yang lain. Kebosanan dengan cepat menghinggapi Joanna, bukan melulu karena kota Stepford yang sepi, tetapi karena penduduk wanita sebayanya tidak mempunyai inklinasi intelektual seperti dirinya. Dengan suaminya bersosialiasi sendiri dalam Men's Association (klub khusus pria), dan tetangga sebelahnya, Carol (Nanette Newman), bersikap submisif seperti wanita dari era Jane Austen :-), Joanna lebih senang menyendiri saja.
Situasi mulai berubah ketika pada suatu hari Bobbie (Paula Prentiss), pendatang baru juga seperti dirinya, mendatanginya dan mengajaknya berteman. Bagaikan kutub utara bertemu dengan kutub selatan, Joanna dan Bobbie langsung berteman akrab, dan mereka mulai mencari wanita-2 sebaya pendatang baru yang lain, tetapi cuma menemukan satu saja, Charmaine (Tina Louise). Ketiganya mempunyai pendapat dan perasaan yang sama terhadap kaum wanita di kota Stepford, mereka berusaha mengorganisir pertemuan yang disebut dengan consciousness/awareness raising: membicarakan segala macam topik mulai dari sosial sampai politik. Tetapi usaha mereka mengumpulkan kaum wanita di kota ini menemui jalan buntu, karena mereka sama sekali tidak tertarik: ada yang tertariknya nyetrika saja, ada yang tertariknya bersih-2 rumah dan masak saja, ada yang tertariknya berkebun saja :-) Bahkan setelah Joanna mem-“blackmail” para suami untuk “mengutus” istrinya datang ke pertemuan tersebut, hasilnya tetap nihil. Tetapi yang membuat Joanna dan Bobbie kecewa berat, sekaligus terheran-2, adalah ketika beberapa hari kemudian Charmaine berubah total menjadi submisif seperti wanita-2 yang lain di kota ini. Berusaha memahami perubahan drastis tersebut, Bobbie mempunyai teori bahwa mungkin ada semacam konspirasi, disengaja atau tidak disengaja, yang mencemari atau meracuni persediaan air minum di kota ini yang menyebabkan kaum wanitanya berubah menjadi submisif -- mempertimbangkan banyaknya industri high-tech di kota ini.
Bobbie: “I think there's something in the water that turns us into house fraus.” :-)
Beberapa hari kemudian, ketika Bobbie juga berubah total menjadi submisif, Joanna tidak dapat lagi menyembunyikan ketakutan dan rasa paniknya, menyadari bahwa target berikutnya adalah dirinya!
Apa yang terjadi pada kaum wanita di kota Stepford?
Benarkah prasangka Joanna?
Joanna: “If I am wrong, I'm insane. But if I'm right, it's even worse than if I was wrong.”
Sama seperti Rosemary's Baby (1968), script dan arahan film ini berhasil dengan sangat pas menangkap esensi dari cerita yang ada -- gosip yang ada menyebutkan sutradara Bryan Forbes terpaksa “melembutkan” script William Goldman (Butch Cassidy and the Sundance Kid, All the President's Men, Marathon Man, Misery) karena script tersebut dinilai terlalu horor, terutama bagian akhirnya. Goldman menggunakan pendekatan slow-burning: plot terkuak secara perlahan-2, seakan-2 sepele atau dapat kita abaikan, tetapi ketika kita menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Arahan Forbes terhadap akting para cast-nya juga subtle (tidak kentara): kita merasa ada sesuatu yang ganjil, tetapi perasaan tersebut tidak sampai membangkitkan kecurigaan ... sampai ketika kita menyadarinya, dan saat itu kita sudah kecolongan :-)
Penggunaan lensa soft-focus turut menciptakan nuansa surealis yang berhasil dengan sangat baik mencampur antara realitas dan mimpi (dhi, mimpi buruk). Penggunaan musik bernada mengancam di antara musik utama yang bernada romantis betul-2 “menangkap” penonton dalam keadaan tidak siap. Namun demikian, kalau anda teliti, script Goldman ini sesungguhnya menjatuhkan banyak clue/hint di sepanjang film, misalnya: di awal film, seorang pria menyeberang jalan sambil membawa mannequin, dialog Walter dengan tetangga sebelahnya, Ted, pada hari pertama kepindahan mereka di Stepford:
Walter: “She cooks as good as she looks, Ted,”
insiden di supermarket, dialog antara Walter dan Joanna di tengah malam setelah Walter datang untuk pertama kalinya di Men's Association, atau juga efek-2 suara synthesizer yang tajam dan memekakkan telinga pada momen-2 tertentu.
Satu adegan yang memorable, mula-2 membosankan tetapi kemudian berubah menjadi creepy, menakutkan, yaitu ketika teman-2 Walter dari Men's Association datang berkunjung ke rumah mereka, ngobrol ngalor-ngidul ndak karuan juntrungnya, tetapi ada satu orang yang membuat sketsa wajah Joanna -- luar biasa persisnya sampai membuat bulu kuduk penulis berdiri.
Dale: [Joanna is brewing coffee] “I like to watch women doing little domestic chores.”
Joanna: “You came to the right town.”
Namun demikian, film ini bukannya tanpa humor. Ketika menonton pertama kalinya, penulis memang kelewatan menikmati humor gelap yang ada. Tetapi menonton kedua kalinya, penulis bisa tertawa terpingkal-2 menyaksikan adegan ketika Joanna dan Bobbie berusaha mengumpulkan kaum wanita di kota Stepford untuk datang ke pertemuan mereka dan gagal total.
Mary: “I'm sorry. I just can't waste my spare moments on something like that.”
Joanna: “But you do go out sometimes don't you?”
Mary: “Go out??? ... ... Of course I go out. I'm out now, aren't I?” :-)
Sebagian film critic ternama, a.l. Roger Ebert, tidak menyukai pendekatan Forbes dan Goldman yang mereka nilai “berlebihan”, maksudnya terlalu serius dan gelap. Anehnya, mereka menyarankan pendekatan satir komedi -- dan saran ini ternyata terwujud dalam remake film ini, dengan judul yang sama pada tahun 2004, dengan Nicole Kidman sebagai pemeran utama; dan hasilnya: mengerikan, rubbish! :-) Lucunya, di lain pihak, Women's Lib menuduh film ini sebagai anti wanita -- entah mengapa, mungkin karena di akhir film protaganisnya kalah.
Tetapi untuk penulis, akhir dari protagonis yang mengenaskan ini, dilanjutkan dengan scene penutup yang seakan-2 mengabaikan semua peristiwa yang terjadi sebelumnya, justru membuat bulu kuduk penulis berdiri; dan kritik sosial dari cerita ini justru bergema lebih keras sampai ke sudut-2 yang paling jauh: Ideal adalah standard kesempurnaan ciptaan manusia yang tidak manusiawi -- dan tidak perlu disangsikan lagi, melanggar hak asasi manusia.
Joanna: “Hello, Bobbie.”
Bobbie: “Oh, hello, Joanna.”
Joanna: “How are you?”
Bobbie: “I'm fine. How are you?”
Joanna: “I'm fine. How are the children?”
Bobbie: “Fine ...”
Film ini dibuat sebelum film-2 tentang humanoid, seperti Blade Runner (1982), menjadi tren populer. Dan sampai saat ini, film ini terus menciptakan pro dan kontra.
It's a cult classic.
Saturday, 23 November 2013
Duel, Jaws, Raiders of the Lost Ark
Triple Spielberg's!
The Irony of Academy Awards.
Melihat perjalanan karier Steven Spielberg penulis tiba-2 menemukan betapa nyarisnya Spielberg mengalami nasib yang sama seperti Alfred Hitchcock -- tidak pernah memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik -- seandainya dia tidak “ganti haluan”. Sebelum dia memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik untuk pertama kalinya, hampir semua film-2nya adalah thriller adventure/sci-fi adventure: Jaws (1975), Close Encounters of the Third Kind (1977), Raiders of the Lost Ark (1981), E.T. The Extra-Terrestrial (1982), Indiana Jones and the Temple of Doom (1984), Indiana Jones and the Last Crusade (1989), dan Jurassic Park (1993). Dari film-2 ini Jaws, Raiders of the Lost Ark, dan E.T. menerima nominasi Film Terbaik; dan Spielberg menerima nominasi Sutradara Terbaik untuk Close Encounters of the Third Kind, Raiders of the Lost Ark, dan E.T. Tetapi semuanya hanya nominasi saja, gagal memenangkannya -- nasibnya mirip seperti film-2 Hitchcock: instant classic, menerima banyak nominasi, tetapi semuanya gagal memenangkannya.
Memulai kariernya sebagai sutradara film-2 pendek dan televisi, Spielberg memperoleh “big break”-nya ketika dia mengarahkan film televisi dengan anggaran hanya $450,000 saja,
1) Duel (1971).
Dalam soal kreativitas, kita sering tercengang bagaimana seorang artis justru menghasilkan kreativitas terbaiknya ketika dirinya sedang dalam keadaan kepepet. Dengan anggaran cuma $450,000, Spielberg hanya mampu meng-cast satu aktor untuk pemeran utama -- inipun hanya aktor televisi saja, satu sedan tua, dan satu truk tanker tua. Setting produksinya juga murah: jalan berdebu di padang gurun California. Costume designer dan make-up artist, hampir tidak diperlukan sama sekali -- pemeran utama tidak perlu didandani keringatan dan berdebu, dengan setting yang ada dia sudah ‘mblegadus’ sendiri :-) Dengan anggaran minim ini, Spielberg justru memiliki kebebasan menampilkan kemampuannya menyusun tension dan suspense dari perjalanan antar kota yang mula-2 nampak biasa-2 saja menjadi road rage (perseteruan jalan raya) yang mencekam yang membuat penonton duduk di pinggir kursinya!
Pertama kali nonton film ini di televisi, tengah malam -- sekitar pukul 11.30 malam, yang semestinya hanya beberapa menit saja di depan TV sebelum pergi tidur, penulis akhirnya baru beranjak dari tempat duduk sekitar pukul 1 pagi :-) Baru di akhir film, ketika kredit film ditampilkan, penulis menemukan bahwa sutradaranya adalah Steven Spielberg -- oooooh, makanya :-) Selidik punya selidik, saking populernya film televisi ini, film ini akhirnya dikeluarkan/diputar di gedung-2 bioskop, dengan suntingan film diperpanjang menjadi 90 menit. Ada berapa banyak film televisi yang diputar di gedung-2 bioskop? Sama sekali tidak banyak (tidak ada). This is classic!
Kalau dengan anggaran kecil Spielberg mampu menghasilkan film sehebat ini, bayangkan dengan anggaran besar?! Benar sekali, dengan anggaran besar (20 kalinya) dia menghasilkan:
2) Jaws (1975).
Tidak banyak sutradara yang mampu menyamai Hitchcock ketika dia menghasilkan Psycho (1960). But, this is it! Bernasib sama seperti Psycho dalam Academy Awards, Jaws masuk nominasi Film Terbaik bersama dengan One Flew Over the Cuckoo's Nest, Stanley Kubrick's Barry Lyndon, Dog Day Afternoon, dan Robert Altman's Nashville; tetapi Spielberg sendiri ‘kecolongan’ menjadi satu-2nya sutradara dari film-2 yang masuk nominasi Film Terbaik yang tidak menerima nominasi Sutradara Terbaik -- Psycho terbalik, filmnya tidak masuk nominasi Film Terbaik, tetapi Hitchcock menerima Sutradara Terbaik. Tahun 1976 adalah tahun Oscar yang berat. Kita menyadari betapa sulitnya film thriller adventure tentang ikan hiu pemangsa manusia bisa mengalahkan film dengan “tema besar”, “tema penting” seperti One Flew Over the Cuckoo's Nest. Tetapi paling tidak John Williams berhasil mengantongi Musical Sore Terbaik untuk dua not bass legendarisnya:
E, F ... ... E, F ... ... E, F, E, F, E, F, ...
-- komposer Bernard Herrmann bahkan ‘kecolongan’ terus sepanjang kariernya bersama Hitchcock; tidak ada satupun musical scorenya dari film-2 Hitchcock yang menerima nominasi Musical Score Terbaik: Vertigo (1958), North by Northwest (1959), Psycho (1960) ... padahal semuanya klasik. Oh, how disgraceful :-(
Usaha Spielberg mencari nominasi ganda, Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, berjalan terus sampai akhirnya dia menghasilkan:
3) Raiders of the Lost Ark (1981)
Selama ini belum pernah ada seorang ahli purbakala menjadi hero dalam film thriller adventure. But, once again, this is it! Tahukah anda bahwa produser George Lucas mula-2 memilih Tom Selleck untuk memainkan Indiana Jones, tetapi dia menolak karena dia sedang sibuk dengan serial TV-nya, Magnum, P.I.? Spielberg kemudian memaksa Lucas untuk memilih Harrison Ford ... and the rest is history! Magnum, P.I. over Indiana Jones? Tom Selleck pasti nyesel banget atas keputusan bodoh tersebut :-)
Raiders of the Lost Ark berhasil memperoleh nominasi ganda: Film Terbaik -- bersama dengan Chariots of Fire, Atlantic City, On Golden Pond, dan Warren Beatty's Reds; dan Sutradara Terbaik -- bersama dengan sutradara-2 dari film-2 tersebut. Alangkah indahnya seandainya anggota Academy memilih film yang tidak membosankan sebagai Film Terbaik? Tetapi lagi-2 anggota Academy memilih film dengan “tema besar”, “tema penting” Chariots of Fire sebagai Film Terbaik. Spielberg juga “terlewati” untuk memberi jalan pada Warren Beatty.
Tahun berikutnya Spielberg berhasil lagi memperoleh nominasi ganda, Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, untuk filmnya E.T. The Extra-Terrestrial. Tetapi tahun 1983 adalah tahun Oscar yang berat -- bagaimana mungkin film thriller adventure tentang extra-terrestrial bisa mengalahkan film dengan “tema besar”, “tema penting” Gandhi? Lagi-2 Spielberg gagal memenangkan penghargaan tertinggi.
Sampai akhirnya pada tahun 1987 Spielberg menerima penghargaan dari Academy yang dinamakan Irving G. Thalberg Memorial Award, penghargaan yang sama yang diterima Hitchcock di akhir kariernya pada tahun 1968. Seakan-2 melihat premonition -- dirinya bernasib sama seperti Hitchcock, pada tahun 1993 Spielberg memutuskan “ganti haluan” dan menghasilkan Schindler's List -- film dengan “tema besar”, “tema penting”, seperti yang diinginkan anggota Academy. Tetapi sejak itu Spielberg kehilangan mojo/magic power-nya dalam film-2 thriller adventure-nya.
Sebagai fans anda lebih suka Spielberg sebagai pemenang Oscar atau Spielberg sebagai Master of Thriller Adventure?
Duel, Jaws, Raiders of the Lost Ark dapat anda temukan di eBay.com
The Irony of Academy Awards.
Melihat perjalanan karier Steven Spielberg penulis tiba-2 menemukan betapa nyarisnya Spielberg mengalami nasib yang sama seperti Alfred Hitchcock -- tidak pernah memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik -- seandainya dia tidak “ganti haluan”. Sebelum dia memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik untuk pertama kalinya, hampir semua film-2nya adalah thriller adventure/sci-fi adventure: Jaws (1975), Close Encounters of the Third Kind (1977), Raiders of the Lost Ark (1981), E.T. The Extra-Terrestrial (1982), Indiana Jones and the Temple of Doom (1984), Indiana Jones and the Last Crusade (1989), dan Jurassic Park (1993). Dari film-2 ini Jaws, Raiders of the Lost Ark, dan E.T. menerima nominasi Film Terbaik; dan Spielberg menerima nominasi Sutradara Terbaik untuk Close Encounters of the Third Kind, Raiders of the Lost Ark, dan E.T. Tetapi semuanya hanya nominasi saja, gagal memenangkannya -- nasibnya mirip seperti film-2 Hitchcock: instant classic, menerima banyak nominasi, tetapi semuanya gagal memenangkannya.
Memulai kariernya sebagai sutradara film-2 pendek dan televisi, Spielberg memperoleh “big break”-nya ketika dia mengarahkan film televisi dengan anggaran hanya $450,000 saja,
1) Duel (1971).
Dalam soal kreativitas, kita sering tercengang bagaimana seorang artis justru menghasilkan kreativitas terbaiknya ketika dirinya sedang dalam keadaan kepepet. Dengan anggaran cuma $450,000, Spielberg hanya mampu meng-cast satu aktor untuk pemeran utama -- inipun hanya aktor televisi saja, satu sedan tua, dan satu truk tanker tua. Setting produksinya juga murah: jalan berdebu di padang gurun California. Costume designer dan make-up artist, hampir tidak diperlukan sama sekali -- pemeran utama tidak perlu didandani keringatan dan berdebu, dengan setting yang ada dia sudah ‘mblegadus’ sendiri :-) Dengan anggaran minim ini, Spielberg justru memiliki kebebasan menampilkan kemampuannya menyusun tension dan suspense dari perjalanan antar kota yang mula-2 nampak biasa-2 saja menjadi road rage (perseteruan jalan raya) yang mencekam yang membuat penonton duduk di pinggir kursinya!
Pertama kali nonton film ini di televisi, tengah malam -- sekitar pukul 11.30 malam, yang semestinya hanya beberapa menit saja di depan TV sebelum pergi tidur, penulis akhirnya baru beranjak dari tempat duduk sekitar pukul 1 pagi :-) Baru di akhir film, ketika kredit film ditampilkan, penulis menemukan bahwa sutradaranya adalah Steven Spielberg -- oooooh, makanya :-) Selidik punya selidik, saking populernya film televisi ini, film ini akhirnya dikeluarkan/diputar di gedung-2 bioskop, dengan suntingan film diperpanjang menjadi 90 menit. Ada berapa banyak film televisi yang diputar di gedung-2 bioskop? Sama sekali tidak banyak (tidak ada). This is classic!
Kalau dengan anggaran kecil Spielberg mampu menghasilkan film sehebat ini, bayangkan dengan anggaran besar?! Benar sekali, dengan anggaran besar (20 kalinya) dia menghasilkan:
2) Jaws (1975).
Tidak banyak sutradara yang mampu menyamai Hitchcock ketika dia menghasilkan Psycho (1960). But, this is it! Bernasib sama seperti Psycho dalam Academy Awards, Jaws masuk nominasi Film Terbaik bersama dengan One Flew Over the Cuckoo's Nest, Stanley Kubrick's Barry Lyndon, Dog Day Afternoon, dan Robert Altman's Nashville; tetapi Spielberg sendiri ‘kecolongan’ menjadi satu-2nya sutradara dari film-2 yang masuk nominasi Film Terbaik yang tidak menerima nominasi Sutradara Terbaik -- Psycho terbalik, filmnya tidak masuk nominasi Film Terbaik, tetapi Hitchcock menerima Sutradara Terbaik. Tahun 1976 adalah tahun Oscar yang berat. Kita menyadari betapa sulitnya film thriller adventure tentang ikan hiu pemangsa manusia bisa mengalahkan film dengan “tema besar”, “tema penting” seperti One Flew Over the Cuckoo's Nest. Tetapi paling tidak John Williams berhasil mengantongi Musical Sore Terbaik untuk dua not bass legendarisnya:
E, F ... ... E, F ... ... E, F, E, F, E, F, ...
-- komposer Bernard Herrmann bahkan ‘kecolongan’ terus sepanjang kariernya bersama Hitchcock; tidak ada satupun musical scorenya dari film-2 Hitchcock yang menerima nominasi Musical Score Terbaik: Vertigo (1958), North by Northwest (1959), Psycho (1960) ... padahal semuanya klasik. Oh, how disgraceful :-(
Usaha Spielberg mencari nominasi ganda, Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, berjalan terus sampai akhirnya dia menghasilkan:
3) Raiders of the Lost Ark (1981)
Selama ini belum pernah ada seorang ahli purbakala menjadi hero dalam film thriller adventure. But, once again, this is it! Tahukah anda bahwa produser George Lucas mula-2 memilih Tom Selleck untuk memainkan Indiana Jones, tetapi dia menolak karena dia sedang sibuk dengan serial TV-nya, Magnum, P.I.? Spielberg kemudian memaksa Lucas untuk memilih Harrison Ford ... and the rest is history! Magnum, P.I. over Indiana Jones? Tom Selleck pasti nyesel banget atas keputusan bodoh tersebut :-)
Raiders of the Lost Ark berhasil memperoleh nominasi ganda: Film Terbaik -- bersama dengan Chariots of Fire, Atlantic City, On Golden Pond, dan Warren Beatty's Reds; dan Sutradara Terbaik -- bersama dengan sutradara-2 dari film-2 tersebut. Alangkah indahnya seandainya anggota Academy memilih film yang tidak membosankan sebagai Film Terbaik? Tetapi lagi-2 anggota Academy memilih film dengan “tema besar”, “tema penting” Chariots of Fire sebagai Film Terbaik. Spielberg juga “terlewati” untuk memberi jalan pada Warren Beatty.
Tahun berikutnya Spielberg berhasil lagi memperoleh nominasi ganda, Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, untuk filmnya E.T. The Extra-Terrestrial. Tetapi tahun 1983 adalah tahun Oscar yang berat -- bagaimana mungkin film thriller adventure tentang extra-terrestrial bisa mengalahkan film dengan “tema besar”, “tema penting” Gandhi? Lagi-2 Spielberg gagal memenangkan penghargaan tertinggi.
Sampai akhirnya pada tahun 1987 Spielberg menerima penghargaan dari Academy yang dinamakan Irving G. Thalberg Memorial Award, penghargaan yang sama yang diterima Hitchcock di akhir kariernya pada tahun 1968. Seakan-2 melihat premonition -- dirinya bernasib sama seperti Hitchcock, pada tahun 1993 Spielberg memutuskan “ganti haluan” dan menghasilkan Schindler's List -- film dengan “tema besar”, “tema penting”, seperti yang diinginkan anggota Academy. Tetapi sejak itu Spielberg kehilangan mojo/magic power-nya dalam film-2 thriller adventure-nya.
Sebagai fans anda lebih suka Spielberg sebagai pemenang Oscar atau Spielberg sebagai Master of Thriller Adventure?
Friday, 8 November 2013
The Deer Hunter, Apocalypse Now, Platoon, Full Metal Jacket
Quadruple Vietnam Wars!
Empat film berikut ini selain terbaik di genre-nya juga mewakili hampir semua dampak negatif yang timbul akibat peperangan. Impact-nya semakin membekas kalau film-2 ini kita sandingkan dan kita kontraskan dengan apa yang ada dalam Konvensi Jenewa (konvensi yang mengatur perang). Membuat kita sadar betapa ironisnya, betapa mustahil dan sia-2nya, usaha untuk mendefinisikan aturan perang tersebut. Perang pada dasarnya terjadi karena segala upaya yang beraturan tidak berhasil menyelesaikan konflik -- kok sekarang malah perangnya sendiri yang ingin dibuat beraturan, mana mungkin?! :-)
Satirically, empat film perang berikut ini dengan sangat mengena menyampaikan pesan anti-perangnya.
1) The Deer Hunter (1978)
Film arahan sutradara tak ternama, Michael Cimino, ini tidak tergesa-2 masuk ke dalam scene action, tetapi lebih menitikberatkan pada bagaimana perang secara total mengubah (baca, merusak/menghancurkan) kehidupan empat sekawan: Mike (Robert De Niro), Nick (Christopher Walken), Steven (John Savage), dan Stan (John Cazale), yang tinggal di sebuah kota kecil di selatan kota Pittsburgh, AS. Hampir separuh film bersetting di kota tempat tinggal mereka -- menceritakan kehidupan rutin dan kegiatan sehari-2 mereka sebagai pekerja pabrik baja: pulang kerja, pergi ke pub/bar untuk minum, melepas lelah, dan bersosialisasi, menghadiri pesta perkawinan kerabat, dan pergi berburu rusa; penulis script memberi banyak waktu untuk menampilkan masing-2 karakter, kekuatan dan kelemahannya.
Setengah jalan, film tiba-2 berubah arah, meloncat masuk ke dalam scene action -- perang di belantara Vietnam, menimbulkan kontras yang drastis, kesan yang mengena betapa “misplaced” (salah tempat)-nya empat sekawan dari kota yang tenang dan damai di AS tersebut di belantara Vietnam yang “anything but” -- bahaya mengancam di mana-2 dan kematian mengintai di segala waktu. Dari empat sekawan tersebut, ada yang survive, ada yang tewas, ada yang kuat mental, ada yang trauma, ... atau apapun di antaranya.
Arahan Cimino dengan efek slow-burning ini meninggalkan kesan yang mendalam di akhir film. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik (Walken -- siapa yang tidak ingat scene Russian roulette Walken?!); dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Terbaik (De Niro), Aktres Pendukung Terbaik (Meryl Streep -- film pertama Streep dengan peran penting), dan Script Original Terbaik.
2) Apocalypse Now (1979)
Jangan mengira hanya prajurit wajib militer saja yang bisa “edan” gara-2 perang (seperti dalam The Deer Hunter), prajurit profesional-pun tidak luput dari dampak negatif tersebut. Film arahan Francis Ford Coppola ini adalah film anti-perang yang dengan berani menampilkan horor perang: perang menciptakan “monster”!
Kolonel baret hijau, Walter Kurtz (Marlon Brando), adalah prajurit teladan yang memperoleh banyak penghargaan atas prestasinya di perang Vietnam. Suatu saat dia menghilang/desersi (melepaskan diri dari komando atasannya) dan melaksanakan misinya sendiri, bersama prajurit-2 yang lain yang juga desersi, membasmi Viet Cong (dan sekaligus yang lainnya!). Komando atasannya memutuskan bahwa Kurtz sudah menjadi gila dan harus dihentikan. Kapten Benjamin Willard (Martin Sheen), belum sembuh dari trauma perangnya, ditunjuk untuk melacak Kurtz dan membasminya. Pesan komando atasannya jelas dan gamblang: “Terminate with extreme prejudice!”
Horor perang yang ditampilkan dalam film ini, yang pada saat pertama kali dikeluarkan terkesan fiktif, dengan berjalannya waktu ternyata sama sekali tidak fiktif -- faktanya, AS sampai sekarang masih sibuk melacak dan membasmi “monster”-2 perang yang notabene hasil ciptaannya sendiri. Pesan moral dengan universal truth ini dengan meyakinkan memasukkan Apocalypse Now dalam jajaran klasik.
Mungkin karena setahun sebelumnya Academy Awards sudah menghadiahkan Film Terbaik ke film dengan tema yang sama, film ini hanya berhasil menerima nominasi Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Script Adaptasi Terbaik.
3) Platoon (1986)
Orang-2 muda yang naif, yang belum pernah pergi (atau mengalami) perang, sering mempunyai imajinasi patriotisme yang muluk tentang perang -- mungkin seraya membayangkan pepatah masyhur: “Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country.” Inilah imajinasi keliru mahasiswa drop-out, Chris Taylor (Charlie Sheen, anaknya Martin Sheen), dalam film arahan Oliver Stone ini. Idealisme (baca, kenaifan) Chris segera menemui “batu”-nya di medan pertempuran di Vietnam -- apa yang dia lihat sama sekali tidak cocok dengan apa yang ada di dalam peraturan ... let alone Geneva Conventions. Sementara dia berjuang untuk survive, dia akhirnya menyadari bahwa dia menghadapi tidak hanya perang melawan Viet Cong, tetapi juga perang melawan rekan-2 prajurit sepeletonnya sendiri.
Sama seperti Coppola, Stone juga dengan berani menampilkan horor perang. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik; dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik (Tom Berenger dan Willem Dafoe), dan Script Original Terbaik.
4) Full Metal Jacket (1987)
Kalau Coppola menampilkan “monster” perang, film arahan Stanley Kubrick ini menampilkan bagaimana “monster” perang tersebut diciptakan. Bagian pertama film ini betul-2 monumental: menampilkan bagaimana rekrut baru yang naif dan hijau, digojlok -- bastardised and to a certain extent ... brainwashed! (arahan Kubrick di sini betul-2 memukau), untuk dipersiapkan terjun ke medan pertempuran di Vietnam. Setelah bagian pertama yang berat -- bikin hati penonton miris dan jantung deg-2an, bagian kedua (scene action-nya) menjadi terasa ringan :-) Ternyata Kubrick tidak hanya mempersiapkan karakter-2 dalam film ini saja sebelum mereka terjun ke medan pertempuran, Kubrick juga mempersiapkan penonton sebelum kita melihat scene action-nya. Tidakkah ini adalah arahan yang pandai?!
Sama seperti film-2 Kubrick yang lain, anggota Academy Awards membutuhkan waktu yang lama untuk mengapresiasi karya Kubrick ini. Film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik.
The Deer Hunter, Apocalypse Now, Platoon, Full Metal Jacket dapat anda temukan di eBay.com
Empat film berikut ini selain terbaik di genre-nya juga mewakili hampir semua dampak negatif yang timbul akibat peperangan. Impact-nya semakin membekas kalau film-2 ini kita sandingkan dan kita kontraskan dengan apa yang ada dalam Konvensi Jenewa (konvensi yang mengatur perang). Membuat kita sadar betapa ironisnya, betapa mustahil dan sia-2nya, usaha untuk mendefinisikan aturan perang tersebut. Perang pada dasarnya terjadi karena segala upaya yang beraturan tidak berhasil menyelesaikan konflik -- kok sekarang malah perangnya sendiri yang ingin dibuat beraturan, mana mungkin?! :-)
Satirically, empat film perang berikut ini dengan sangat mengena menyampaikan pesan anti-perangnya.
1) The Deer Hunter (1978)
Film arahan sutradara tak ternama, Michael Cimino, ini tidak tergesa-2 masuk ke dalam scene action, tetapi lebih menitikberatkan pada bagaimana perang secara total mengubah (baca, merusak/menghancurkan) kehidupan empat sekawan: Mike (Robert De Niro), Nick (Christopher Walken), Steven (John Savage), dan Stan (John Cazale), yang tinggal di sebuah kota kecil di selatan kota Pittsburgh, AS. Hampir separuh film bersetting di kota tempat tinggal mereka -- menceritakan kehidupan rutin dan kegiatan sehari-2 mereka sebagai pekerja pabrik baja: pulang kerja, pergi ke pub/bar untuk minum, melepas lelah, dan bersosialisasi, menghadiri pesta perkawinan kerabat, dan pergi berburu rusa; penulis script memberi banyak waktu untuk menampilkan masing-2 karakter, kekuatan dan kelemahannya.
Setengah jalan, film tiba-2 berubah arah, meloncat masuk ke dalam scene action -- perang di belantara Vietnam, menimbulkan kontras yang drastis, kesan yang mengena betapa “misplaced” (salah tempat)-nya empat sekawan dari kota yang tenang dan damai di AS tersebut di belantara Vietnam yang “anything but” -- bahaya mengancam di mana-2 dan kematian mengintai di segala waktu. Dari empat sekawan tersebut, ada yang survive, ada yang tewas, ada yang kuat mental, ada yang trauma, ... atau apapun di antaranya.
Arahan Cimino dengan efek slow-burning ini meninggalkan kesan yang mendalam di akhir film. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik (Walken -- siapa yang tidak ingat scene Russian roulette Walken?!); dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Terbaik (De Niro), Aktres Pendukung Terbaik (Meryl Streep -- film pertama Streep dengan peran penting), dan Script Original Terbaik.
2) Apocalypse Now (1979)
Jangan mengira hanya prajurit wajib militer saja yang bisa “edan” gara-2 perang (seperti dalam The Deer Hunter), prajurit profesional-pun tidak luput dari dampak negatif tersebut. Film arahan Francis Ford Coppola ini adalah film anti-perang yang dengan berani menampilkan horor perang: perang menciptakan “monster”!
Kolonel baret hijau, Walter Kurtz (Marlon Brando), adalah prajurit teladan yang memperoleh banyak penghargaan atas prestasinya di perang Vietnam. Suatu saat dia menghilang/desersi (melepaskan diri dari komando atasannya) dan melaksanakan misinya sendiri, bersama prajurit-2 yang lain yang juga desersi, membasmi Viet Cong (dan sekaligus yang lainnya!). Komando atasannya memutuskan bahwa Kurtz sudah menjadi gila dan harus dihentikan. Kapten Benjamin Willard (Martin Sheen), belum sembuh dari trauma perangnya, ditunjuk untuk melacak Kurtz dan membasminya. Pesan komando atasannya jelas dan gamblang: “Terminate with extreme prejudice!”
Horor perang yang ditampilkan dalam film ini, yang pada saat pertama kali dikeluarkan terkesan fiktif, dengan berjalannya waktu ternyata sama sekali tidak fiktif -- faktanya, AS sampai sekarang masih sibuk melacak dan membasmi “monster”-2 perang yang notabene hasil ciptaannya sendiri. Pesan moral dengan universal truth ini dengan meyakinkan memasukkan Apocalypse Now dalam jajaran klasik.
Mungkin karena setahun sebelumnya Academy Awards sudah menghadiahkan Film Terbaik ke film dengan tema yang sama, film ini hanya berhasil menerima nominasi Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Script Adaptasi Terbaik.
3) Platoon (1986)
Orang-2 muda yang naif, yang belum pernah pergi (atau mengalami) perang, sering mempunyai imajinasi patriotisme yang muluk tentang perang -- mungkin seraya membayangkan pepatah masyhur: “Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country.” Inilah imajinasi keliru mahasiswa drop-out, Chris Taylor (Charlie Sheen, anaknya Martin Sheen), dalam film arahan Oliver Stone ini. Idealisme (baca, kenaifan) Chris segera menemui “batu”-nya di medan pertempuran di Vietnam -- apa yang dia lihat sama sekali tidak cocok dengan apa yang ada di dalam peraturan ... let alone Geneva Conventions. Sementara dia berjuang untuk survive, dia akhirnya menyadari bahwa dia menghadapi tidak hanya perang melawan Viet Cong, tetapi juga perang melawan rekan-2 prajurit sepeletonnya sendiri.
Sama seperti Coppola, Stone juga dengan berani menampilkan horor perang. Film ini memenangkan Oscar untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik; dan menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik (Tom Berenger dan Willem Dafoe), dan Script Original Terbaik.
4) Full Metal Jacket (1987)
Kalau Coppola menampilkan “monster” perang, film arahan Stanley Kubrick ini menampilkan bagaimana “monster” perang tersebut diciptakan. Bagian pertama film ini betul-2 monumental: menampilkan bagaimana rekrut baru yang naif dan hijau, digojlok -- bastardised and to a certain extent ... brainwashed! (arahan Kubrick di sini betul-2 memukau), untuk dipersiapkan terjun ke medan pertempuran di Vietnam. Setelah bagian pertama yang berat -- bikin hati penonton miris dan jantung deg-2an, bagian kedua (scene action-nya) menjadi terasa ringan :-) Ternyata Kubrick tidak hanya mempersiapkan karakter-2 dalam film ini saja sebelum mereka terjun ke medan pertempuran, Kubrick juga mempersiapkan penonton sebelum kita melihat scene action-nya. Tidakkah ini adalah arahan yang pandai?!
Sama seperti film-2 Kubrick yang lain, anggota Academy Awards membutuhkan waktu yang lama untuk mengapresiasi karya Kubrick ini. Film ini menerima nominasi Oscar untuk Script Adaptasi Terbaik.
Saturday, 28 September 2013
Grease, Walk the Line, Les Misérables
Triple Actors Turned Into Singers!
Kalau penyanyi tampil sebagai aktor jumlahnya lumayan banyak, sebaliknya sama sekali tidak banyak. Dari jumlah yang tidak banyak tersebut, sebagian besar tampil dengan resiko diketawain -- seperti dalam “The X Factor” -- misalnya, Jim Carrey dalam the Cable Guy (1996) atau Gwyneth Paltrow dalam Duets (2000), bikin penonton feel embarrassed melihatnya :-), dan hanya sebagian kecil tampil serius. Dari sebagian kecil yang tampil serius ini, mereka jatuh dalam dua kategori, yaitu: pertama, mereka yang suaranya di-dubbing, artinya mereka hanya akting menyanyi saja, a.l. Deborah Kerr dalam The King and I (1956), Audrey Hepburn dalam My Fair Lady (1964), atau Jamie Foxx dalam Ray (2004); kedua, mereka yang betulan menyanyi. Penulis kali ini memilih empat aktor yang tampil serius menyanyi dan memang betulan menyanyi. Dengan demikian, semua aktor yang asal-usulnya dari theatre musicals tidak penulis tampilkan, misalnya Gene Kelly atau Judy Garland dan anak perempuannya, Liza Minnelli.
1) Grease (1978)
John Travolta.
Adaptasi dari theatre musical dengan judul yang sama, walaupun ceritanya tipis (setipis romantika SMA :-)) dan tidak memenangkan satupun piala Oscar, Grease berada di posisi aman dalam daftar film klasik. Ada tiga faktor yang membuat Grease tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan: Pertama, chemistry antara John Travolta dan Olivia Newton-John terbukti everlasting, eternal, forever. Ditonton pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, oleh generasi yang lahir pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, chemistry di antara mereka tetap fully-charged! Dalam kenyataan, walaupun mereka terpisah 15000 km antara Amerika dan Australia, setiap kali Travolta datang ke Australia, pertemuan mereka selalu membangkitkan kembali popularitas Grease. Demikian juga sebaliknya. Mereka betul-2 pasangan on-screen yang sempurna -- till death they do part. Kedua, lagu-2nya juga terbukti forever. Didengarkan pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, oleh generasi yang lahir pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, lagu-2nya tetap terdengar in, fashionable. Ketiga, ada sesuatu yang “ndak bener” dengan Rydell High School; apa ya??? ... oh, para muridnya semuanya sudah ketuaan :-) -- Danny (John Travolta) berusia 24 tahun, Sandy (Olivia Newton-John) 30 tahun, Betty (Stockard Channing) 34 tahun, dan Kenickie (Jeff Conaway) 28 tahun. No wonder they were so good! Mana mungkin anak SMA betulan bisa sebagus itu? :-) Hahaha. Walaupun bersetting romantika SMA, Grease sesungguhnya adalah film nostalgia (atau imajinasi/mimpi yang ndak kesampean) penonton dewasa tentang masa lalu mereka di SMA.
Forever ... klasik.
2) Walk the Line (2005)
Joaquin Phoenix.
Reese Witherspoon.
Sayang sekali biopic penyanyi country Johnny Cash ini tidak menerima lebih banyak nominasi/piala dalam Oscar 2006. Penampilan Reese Witherspoon sebagai istri Cash, June Carter, betul-2 meruntuhkan typecast-nya sebagai Elle Woods dalam Legally Blonde (2001). Sejak penampilannya dalam film ini, Witherspoon bukan lagi aktres manis yang berambut pirang, tetapi aktres! Titik. A really good one. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia tidak hanya akting, tetapi menyanyi juga, dan tidak di-dubbing. Piala Oscar Aktres Terbaik yang sangat pantas untuk Witherspoon. Sayangnya, Joaquin Phoenix tidak mengalami nasib yang sama seperti rekannya ini. Saatnya sesungguhnya tepat untuk Phoenix untuk memenangkan Oscar Aktor Terbaik untuk perannya sebagai Johnny Cash ini -- menarik simpati dan dicintai banyak orang. Juga siapa yang nyangka Phoenix menyanyi betulan, lagu-2 legendaris Johnny Cash, sama sekali tidak di-dubbing. Keduanya tampil menyakinkan dan menghanyutkan.
3) Les Misérables (2012)
Anne Hathaway.
Setelah membaca bukunya, adaptasi dari theatre musical dengan judul yang sama ini ternyata lumayan patuh dengan bukunya. Bravo. Menonton pertama kali di gedung bioskop (tidak pernah nonton musical-nya), penulis kurang bisa mengapresiasi musiknya. Menonton kedua kalinya di DVD, dengan subtitle sengaja di-“on”-kan (agar dapat dengan lebih baik menangkap lirik dalam lagu-2nya), penulis terkejut -- bagaikan terjaga dari tidur lelap selama ini -- betapa indah dan betapa cocoknya lirik dalam lagu-2 tersebut menceritakan isi bukunya. Dan bukan pertama kali ini penulis keliru mengapresiasi gara-2 “tidur lelap”.
Yes, they are beautiful.
Selain Hugh Jackman dan sebagian cast yang berasal dari theatre musicals, cast Hollywood yang lain, termasuk Russell Crowe (!), dengan berani dan meyakinkan menyanyi betulan. Dan tidak hanya itu, menyanyinya tidak dilakukan di dalam studio kemudian ditambahkan ke dalam track film, tetapi direkam live bersamaan dengan shooting adegannya. Ini betul-2 menarik, karena menciptakan efek realism yang tajam. Di tengah pasukan theatre musicals yang berpengalaman, Anne Hathaway berhasil mencuri perhatian penonton, dan para film critic, dengan penampilannya sebagai Fantine dan lagunya “I Dreamed a Dream” yang heart-rending.
Grease, Walk the Line, Les Misérables dapat anda temukan di eBay.com
Kalau penyanyi tampil sebagai aktor jumlahnya lumayan banyak, sebaliknya sama sekali tidak banyak. Dari jumlah yang tidak banyak tersebut, sebagian besar tampil dengan resiko diketawain -- seperti dalam “The X Factor” -- misalnya, Jim Carrey dalam the Cable Guy (1996) atau Gwyneth Paltrow dalam Duets (2000), bikin penonton feel embarrassed melihatnya :-), dan hanya sebagian kecil tampil serius. Dari sebagian kecil yang tampil serius ini, mereka jatuh dalam dua kategori, yaitu: pertama, mereka yang suaranya di-dubbing, artinya mereka hanya akting menyanyi saja, a.l. Deborah Kerr dalam The King and I (1956), Audrey Hepburn dalam My Fair Lady (1964), atau Jamie Foxx dalam Ray (2004); kedua, mereka yang betulan menyanyi. Penulis kali ini memilih empat aktor yang tampil serius menyanyi dan memang betulan menyanyi. Dengan demikian, semua aktor yang asal-usulnya dari theatre musicals tidak penulis tampilkan, misalnya Gene Kelly atau Judy Garland dan anak perempuannya, Liza Minnelli.
1) Grease (1978)
John Travolta.
Adaptasi dari theatre musical dengan judul yang sama, walaupun ceritanya tipis (setipis romantika SMA :-)) dan tidak memenangkan satupun piala Oscar, Grease berada di posisi aman dalam daftar film klasik. Ada tiga faktor yang membuat Grease tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan: Pertama, chemistry antara John Travolta dan Olivia Newton-John terbukti everlasting, eternal, forever. Ditonton pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, oleh generasi yang lahir pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, chemistry di antara mereka tetap fully-charged! Dalam kenyataan, walaupun mereka terpisah 15000 km antara Amerika dan Australia, setiap kali Travolta datang ke Australia, pertemuan mereka selalu membangkitkan kembali popularitas Grease. Demikian juga sebaliknya. Mereka betul-2 pasangan on-screen yang sempurna -- till death they do part. Kedua, lagu-2nya juga terbukti forever. Didengarkan pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, oleh generasi yang lahir pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, lagu-2nya tetap terdengar in, fashionable. Ketiga, ada sesuatu yang “ndak bener” dengan Rydell High School; apa ya??? ... oh, para muridnya semuanya sudah ketuaan :-) -- Danny (John Travolta) berusia 24 tahun, Sandy (Olivia Newton-John) 30 tahun, Betty (Stockard Channing) 34 tahun, dan Kenickie (Jeff Conaway) 28 tahun. No wonder they were so good! Mana mungkin anak SMA betulan bisa sebagus itu? :-) Hahaha. Walaupun bersetting romantika SMA, Grease sesungguhnya adalah film nostalgia (atau imajinasi/mimpi yang ndak kesampean) penonton dewasa tentang masa lalu mereka di SMA.
Forever ... klasik.
2) Walk the Line (2005)
Joaquin Phoenix.
Reese Witherspoon.
Sayang sekali biopic penyanyi country Johnny Cash ini tidak menerima lebih banyak nominasi/piala dalam Oscar 2006. Penampilan Reese Witherspoon sebagai istri Cash, June Carter, betul-2 meruntuhkan typecast-nya sebagai Elle Woods dalam Legally Blonde (2001). Sejak penampilannya dalam film ini, Witherspoon bukan lagi aktres manis yang berambut pirang, tetapi aktres! Titik. A really good one. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia tidak hanya akting, tetapi menyanyi juga, dan tidak di-dubbing. Piala Oscar Aktres Terbaik yang sangat pantas untuk Witherspoon. Sayangnya, Joaquin Phoenix tidak mengalami nasib yang sama seperti rekannya ini. Saatnya sesungguhnya tepat untuk Phoenix untuk memenangkan Oscar Aktor Terbaik untuk perannya sebagai Johnny Cash ini -- menarik simpati dan dicintai banyak orang. Juga siapa yang nyangka Phoenix menyanyi betulan, lagu-2 legendaris Johnny Cash, sama sekali tidak di-dubbing. Keduanya tampil menyakinkan dan menghanyutkan.
3) Les Misérables (2012)
Anne Hathaway.
Setelah membaca bukunya, adaptasi dari theatre musical dengan judul yang sama ini ternyata lumayan patuh dengan bukunya. Bravo. Menonton pertama kali di gedung bioskop (tidak pernah nonton musical-nya), penulis kurang bisa mengapresiasi musiknya. Menonton kedua kalinya di DVD, dengan subtitle sengaja di-“on”-kan (agar dapat dengan lebih baik menangkap lirik dalam lagu-2nya), penulis terkejut -- bagaikan terjaga dari tidur lelap selama ini -- betapa indah dan betapa cocoknya lirik dalam lagu-2 tersebut menceritakan isi bukunya. Dan bukan pertama kali ini penulis keliru mengapresiasi gara-2 “tidur lelap”.
Yes, they are beautiful.
Selain Hugh Jackman dan sebagian cast yang berasal dari theatre musicals, cast Hollywood yang lain, termasuk Russell Crowe (!), dengan berani dan meyakinkan menyanyi betulan. Dan tidak hanya itu, menyanyinya tidak dilakukan di dalam studio kemudian ditambahkan ke dalam track film, tetapi direkam live bersamaan dengan shooting adegannya. Ini betul-2 menarik, karena menciptakan efek realism yang tajam. Di tengah pasukan theatre musicals yang berpengalaman, Anne Hathaway berhasil mencuri perhatian penonton, dan para film critic, dengan penampilannya sebagai Fantine dan lagunya “I Dreamed a Dream” yang heart-rending.
Thursday, 12 September 2013
Cool Hand Luke, Papillon, Midnight Express
Triple Prison Breaks!
Ada jaman-2 dimana penjara identik dengan hukuman -- murni hukuman. Kemudian pada tanggal 10 Desember 1948 PBB menandatangani deklarasi yang disebut dengan The Universal Declaration of Human Rights (UDHR). Sejak itu penjara berubah fungsinya dari tempat hukuman menjadi tempat rehabilitasi. Tetapi perubahan ini tidak terjadi secara sekejap dan sepenuhnya: di beberapa tempat di dunia penjara masih berfungsi sebagai tempat hukuman, di beberapa tempat yang lain 50-50, di beberapa tempat yang lain lagi, misalnya di negara-2 Skandinavia, murni rehabilitasi -- ada televisi untuk hiburan, ada gym untuk olahraga, ada perpustakaan untuk belajar, ada klinik untuk berobat ... saking lengkapnya sampai orang yang tidak dipenjara pingin masuk penjara :-) I should move to Sweden :-) Tetapi kalau semua negara patuh terhadap UDHR, para filmmakers bakal kehilangan inspirasi untuk membuat film-2 dengan topik Prison Breaks -- bisa dibayangkan betapa uninteresting dan boring-nya cerita-2 penjara di negara-2 tersebut.
Cool Hand Luke (1967) dan Papillon (1973) bersetting di jaman sebelum UDHR; Midnight Express (1978) bersetting di negara yang saat itu mungkin belum sepenuhnya menerima UDHR.
1) Cool Hand Luke (1967)
Di masa lalu, kejahatan kecil menerima hukuman berat.
Setelah semalam suntuk menghabiskan waktunya di bar dan merusaki meteran-2 parkir di pinggir jalan, Luke Jackson (Paul Newman)ditangkap dan dihukum penjara dua tahun di “chain gang prison”* di Florida (* penjara dimana para napinya dirantai secara berentetan). Di dalam penjara Luke -- yang ternyata seorang hero/veteran PD-2 -- berhasil memperoleh respect dari teman-2 napinya. Kepala penjaranya, yang ternyata seorang sadistis (normal untuk ukuran jamannya), berusaha “mematahkan” Luke, jiwa dan raga -- apalagi Luke sering berusaha melarikan diri. Ketegaran Luke membuat dirinya diidolakan oleh teman-2 napinya, tetapi at the end apakah dia berhasil mengalahkan sistem yang memang didesain untuk “mematahkan” dirinya???
Film klasik yang menjadi signature dari Paul Newman.
2) Papillon (1973)
Lagi-2 di masa lalu, kejahatan kecil diganjar dengan hukuman berat.
Berdasarkan kisah nyata dari Henri Charrière dalam sistem penjara Perancis yang sadis, brutal, dan without mercy/tanpa ampun, sutradara Franklin J. Schaffner -- Planet of the Apes (1968) -- mempunyai keahlian menampilkan realitas buruk tanpa tedeng aling-2. Dan tidak hanya itu saja, ketika penonton mengira bahwa situasi sudah sangat buruk dan tidak mungkin menjadi lebih buruk lagi, Schaffner tanpa sungkan-2 menyodori penonton dengan situasi yang ternyata lebih buruk, dan lebih buruk lagi, dan lebih buruk lagi. Penonton tidak bisa lagi menebak sampai seburuk apa situasi bakalan menjadi. Ujian berat inilah yang harus dilalui oleh Henri Charrière (Steve McQueen) dan Louis Dega (Dustin Hoffman). At the end apakah mereka berhasil mengalahkan sistem yang memang didesain untuk “menghancurkan” mereka???
McQueen dan Hoffman secara fisik perlu diacungi jempol dengan diet ketatnya sehingga mereka tampil meyakinkan seperti napi yang betul-2 kurang makan. Secara akting, menjadi salah satu dari akting terbaik mereka. Klasik juga.
3) Midnight Express (1978)
Berdasarkan kisah nyata juga, tetapi bersetting di Turki. Mahasiswa Amerika, Billy Hayes (Brad Davis), bersama dengan kekasihnya berlibur di Turki. Mungkin karena harga cannabis di Turki murah, dia menyelundupkan 2 kg cannabis, strapped to his body, untuk dibawa pulang ke Amerika. Tetapi dia tertangkap di bandara dan dihukum penjara beberapa tahun, yang kemudian diubah dan diperpanjang menjadi 30 tahun! Berada di negara asing sendirian, tidak punya kerabat/keluarga untuk menjenguknya, harapan demi harapan pupus, dan penjara Turki yang mengerikan, sutradara Alan Parker dengan berhasil menampilkan bagaimana situasi ini sedikit demi sedikit menggerogoti jiwa dan raga Billy -- mendorongnya sampai ke batas antara waras dan gila. Ada banyak scene yang heartbreaking, tetapi dua yang paling memorable adalah ketika kekasihnya mengunjunginya di penjara dan scene terakhir. Berhasilkah Billy melarikan diri dari neraka tersebut?
Ketika membuat film ini (dan sesudahnya) Brad Davis bukan aktor yang ternama, tetapi aktingnya di sini sangat meyakinkan. Film ini adalah film klasik penting bagi semua anak muda yang bepergian ke luar negeri -- jangan macem-2, jangan banyak tingkah.
Cool Hand Luke, Papillon, Midnight Express dapat anda temukan di eBay.com
Ada jaman-2 dimana penjara identik dengan hukuman -- murni hukuman. Kemudian pada tanggal 10 Desember 1948 PBB menandatangani deklarasi yang disebut dengan The Universal Declaration of Human Rights (UDHR). Sejak itu penjara berubah fungsinya dari tempat hukuman menjadi tempat rehabilitasi. Tetapi perubahan ini tidak terjadi secara sekejap dan sepenuhnya: di beberapa tempat di dunia penjara masih berfungsi sebagai tempat hukuman, di beberapa tempat yang lain 50-50, di beberapa tempat yang lain lagi, misalnya di negara-2 Skandinavia, murni rehabilitasi -- ada televisi untuk hiburan, ada gym untuk olahraga, ada perpustakaan untuk belajar, ada klinik untuk berobat ... saking lengkapnya sampai orang yang tidak dipenjara pingin masuk penjara :-) I should move to Sweden :-) Tetapi kalau semua negara patuh terhadap UDHR, para filmmakers bakal kehilangan inspirasi untuk membuat film-2 dengan topik Prison Breaks -- bisa dibayangkan betapa uninteresting dan boring-nya cerita-2 penjara di negara-2 tersebut.
Cool Hand Luke (1967) dan Papillon (1973) bersetting di jaman sebelum UDHR; Midnight Express (1978) bersetting di negara yang saat itu mungkin belum sepenuhnya menerima UDHR.
1) Cool Hand Luke (1967)
Di masa lalu, kejahatan kecil menerima hukuman berat.
Setelah semalam suntuk menghabiskan waktunya di bar dan merusaki meteran-2 parkir di pinggir jalan, Luke Jackson (Paul Newman)ditangkap dan dihukum penjara dua tahun di “chain gang prison”* di Florida (* penjara dimana para napinya dirantai secara berentetan). Di dalam penjara Luke -- yang ternyata seorang hero/veteran PD-2 -- berhasil memperoleh respect dari teman-2 napinya. Kepala penjaranya, yang ternyata seorang sadistis (normal untuk ukuran jamannya), berusaha “mematahkan” Luke, jiwa dan raga -- apalagi Luke sering berusaha melarikan diri. Ketegaran Luke membuat dirinya diidolakan oleh teman-2 napinya, tetapi at the end apakah dia berhasil mengalahkan sistem yang memang didesain untuk “mematahkan” dirinya???
Film klasik yang menjadi signature dari Paul Newman.
2) Papillon (1973)
Lagi-2 di masa lalu, kejahatan kecil diganjar dengan hukuman berat.
Berdasarkan kisah nyata dari Henri Charrière dalam sistem penjara Perancis yang sadis, brutal, dan without mercy/tanpa ampun, sutradara Franklin J. Schaffner -- Planet of the Apes (1968) -- mempunyai keahlian menampilkan realitas buruk tanpa tedeng aling-2. Dan tidak hanya itu saja, ketika penonton mengira bahwa situasi sudah sangat buruk dan tidak mungkin menjadi lebih buruk lagi, Schaffner tanpa sungkan-2 menyodori penonton dengan situasi yang ternyata lebih buruk, dan lebih buruk lagi, dan lebih buruk lagi. Penonton tidak bisa lagi menebak sampai seburuk apa situasi bakalan menjadi. Ujian berat inilah yang harus dilalui oleh Henri Charrière (Steve McQueen) dan Louis Dega (Dustin Hoffman). At the end apakah mereka berhasil mengalahkan sistem yang memang didesain untuk “menghancurkan” mereka???
McQueen dan Hoffman secara fisik perlu diacungi jempol dengan diet ketatnya sehingga mereka tampil meyakinkan seperti napi yang betul-2 kurang makan. Secara akting, menjadi salah satu dari akting terbaik mereka. Klasik juga.
3) Midnight Express (1978)
Berdasarkan kisah nyata juga, tetapi bersetting di Turki. Mahasiswa Amerika, Billy Hayes (Brad Davis), bersama dengan kekasihnya berlibur di Turki. Mungkin karena harga cannabis di Turki murah, dia menyelundupkan 2 kg cannabis, strapped to his body, untuk dibawa pulang ke Amerika. Tetapi dia tertangkap di bandara dan dihukum penjara beberapa tahun, yang kemudian diubah dan diperpanjang menjadi 30 tahun! Berada di negara asing sendirian, tidak punya kerabat/keluarga untuk menjenguknya, harapan demi harapan pupus, dan penjara Turki yang mengerikan, sutradara Alan Parker dengan berhasil menampilkan bagaimana situasi ini sedikit demi sedikit menggerogoti jiwa dan raga Billy -- mendorongnya sampai ke batas antara waras dan gila. Ada banyak scene yang heartbreaking, tetapi dua yang paling memorable adalah ketika kekasihnya mengunjunginya di penjara dan scene terakhir. Berhasilkah Billy melarikan diri dari neraka tersebut?
Ketika membuat film ini (dan sesudahnya) Brad Davis bukan aktor yang ternama, tetapi aktingnya di sini sangat meyakinkan. Film ini adalah film klasik penting bagi semua anak muda yang bepergian ke luar negeri -- jangan macem-2, jangan banyak tingkah.
Friday, 6 September 2013
Deliverance, Frantic, The Impossible
Triple Holidays Turned Into Nightmare!
Siapa yang nyangka bahwa nasib buruk bisa datang ketika kita sedang liburan? Memangnya, siapa sih yang bertujuan mencelakai orang yang sedang liburan? Orang yang predisposisi setiap harinya waspada-pun, ketika liburan dia akan bersikap rileks dan tidak cepat menaruh kecurigaan terhadap hal-2 yang nampak sepele.
Tetapi menurut tiga film berikut ini nasib buruk ternyata bisa datang di waktu yang kita paling tidak waspada tersebut.
1) Deliverance (1972)
Empat sekawan, Lewis (Burt Reynolds), Ed (Jon Voight), Bobby (Ned Beatty), dan Drew (Ronny Cox), memutuskan pergi berakhir pekan dengan ber-canoe di sebuah sungai di belantara terpencil di negara bagian Georgia sebelah utara. Lewis dan Ed sudah berpengalaman, sedang Bobby dan Drew adalah “newbies” -- baru pertama kali ini pergi ke belantara. Sesampai di tempat tujuan mereka bertemu dengan penduduk lokal yang uncivilized dan nampak hasil inbreeding (perkawinan terlalu dekat antara keluarga). Lewis dan Ed meyakinkan Bobby dan Drew bahwa mereka tidak apa-2. Tetapi Bobby dan Drew khawatir dan mempunyai firasat buruk. Entah apa.
Di akhir film, salah satu dari empat sekawan tersebut tewas dan yang lainnya bersumpah tidak bercerita tentang pengalaman tersebut kepada siapapun seumur hidup mereka. Nightmare ini sebaiknya dikubur saja -- karena kalau diceritakan, memangnya siapa sih yang mau percaya?
Film arahan John Boorman dengan rating 94% di Rotten Tomatoes ini betul-2 original dan berhasil dengan sangat baik membangkitkan “primal fear” dalam diri kita. Classic.
Hati-2 kalau pergi camping/canoe ke daerah terpencil :-)
2) Frantic (1988)
Lima tahun sebelum memerankan dokter yang kehilangan istrinya akibat pembunuhan, Harrison Ford sudah memerankan dokter yang juga kehilangan istrinya! :-) Tetapi kali ini bukan akibat pembunuhan, tetapi hilang begitu saja. Just vanished, without a trace!
Sambil mengunjungi konferensi kedokteran, suami-istri Dr. & Mrs. Walker siap berbulan madu kedua di kota paling romantis di dunia, Paris. Tiba di Paris pagi hari, masih jet-lagged, mereka langsung check-in ke hotel. Sementara istrinya mulai membongkar bagasi mereka, sang suami pergi mandi. Di saat paling kritis dalam film ini sutradara Roman Polanski dengan sangat pandai menempatkan kamera dari sisi suami yang sedang mandi, dengan suara air mengalir deras memekakkan telinga suami (penonton) -- dia (penonton) sayup-2 mendengar telpon berdering dan istrinya mengucapkan sesuatu. Kemudian kamera bergerak perlahan-2 menuju sudut pintu kamar mandi mengikuti gerakan terakhir istrinya. Sang suami menyelesaikan mandinya, mencukur jenggotnya, memesan makan pagi, membaca koran, dan ... ketiduran. Bangun kesiangan, istrinya ternyata belum kembali juga ke kamar. Kemana gerangan istrinya? Hilang, tanpa jejak.
Tidak bisa lagi bekerja di AS, Polanski menyelesaikan seluruh film ini di Perancis. Dari segi thriller film ini sama sekali tidak kalah dengan The Fugitive (1993). Dari segi akting, Ford sebagai suami yang desperate membongkar teka-teki yang misterius ini, juga tidak kalah dengan aktingnya dalam The Fugitive. Musik dari Ennio Morricone, walaupun beliau berasal dari Itali, terdengar begitu melankolis Perancis-nya, menghantui dari awal sampai akhir film, dengan menyertakan alat musik akordion. Memperoleh rating tinggi dari para film critic, tetapi gagal di box-office AS, satu-2nya kekurangan film ini adalah tidak bersetting di AS dan saat itu (bahkan sampai saat ini) Polanski masih di-“persona non grata” oleh publik AS.
Hati-2 kalau ngambil bagasi :-)
3) The Impossible (2012)
Berdasarkan kisah nyata tentang keluarga Spanyol yang sedang liburan di Thailand ketika tsunami tanggal 26 Desember 2004 menghantam hotel di mana mereka menginap di pantai Khao Lak, Thailand. Film ini tidak hanya menampilkan nasib buruk yang bisa datang sewaktu-2, bagaikan pencuri di malam hari, tetapi juga mukjizat yang bisa terjadi darinya. Musibah seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, mengapa terjadinya pas ketika mereka berlibur di sana? Mukjizatnya, sementara hampir semua orang kehilangan anggota keluarganya, keluarga ini seluruh anggotanya berhasil lolos dari maut. It's impossible!
Sayang sekali film produksi Spanyol ini cepat-2 memutuskan meng-“inggris”-kan film ini dengan meng-cast Naomi Watts dan Ewan McGregor sebagai keluarga Inggris yang sedang berlibur ke Thailand. Padahal ada banyak aktor dan aktres Spanyol yang mampu memainkan peran ini dengan sangat baik juga. Mungkin karena alasan distribusi -- mungkin takut jangkauan distribusinya tidak seluas kalau filmnya dibuat dalam bahasa Inggris. But anyway, it's an inspiring and uplifting film.
Selama liburan kita hanya bisa berdoa saja moga-2 tidak ada musibah.
Deliverance, Frantic, The Impossible dapat anda temukan di eBay.com
Siapa yang nyangka bahwa nasib buruk bisa datang ketika kita sedang liburan? Memangnya, siapa sih yang bertujuan mencelakai orang yang sedang liburan? Orang yang predisposisi setiap harinya waspada-pun, ketika liburan dia akan bersikap rileks dan tidak cepat menaruh kecurigaan terhadap hal-2 yang nampak sepele.
Tetapi menurut tiga film berikut ini nasib buruk ternyata bisa datang di waktu yang kita paling tidak waspada tersebut.
1) Deliverance (1972)
Empat sekawan, Lewis (Burt Reynolds), Ed (Jon Voight), Bobby (Ned Beatty), dan Drew (Ronny Cox), memutuskan pergi berakhir pekan dengan ber-canoe di sebuah sungai di belantara terpencil di negara bagian Georgia sebelah utara. Lewis dan Ed sudah berpengalaman, sedang Bobby dan Drew adalah “newbies” -- baru pertama kali ini pergi ke belantara. Sesampai di tempat tujuan mereka bertemu dengan penduduk lokal yang uncivilized dan nampak hasil inbreeding (perkawinan terlalu dekat antara keluarga). Lewis dan Ed meyakinkan Bobby dan Drew bahwa mereka tidak apa-2. Tetapi Bobby dan Drew khawatir dan mempunyai firasat buruk. Entah apa.
Di akhir film, salah satu dari empat sekawan tersebut tewas dan yang lainnya bersumpah tidak bercerita tentang pengalaman tersebut kepada siapapun seumur hidup mereka. Nightmare ini sebaiknya dikubur saja -- karena kalau diceritakan, memangnya siapa sih yang mau percaya?
Film arahan John Boorman dengan rating 94% di Rotten Tomatoes ini betul-2 original dan berhasil dengan sangat baik membangkitkan “primal fear” dalam diri kita. Classic.
Hati-2 kalau pergi camping/canoe ke daerah terpencil :-)
2) Frantic (1988)
Lima tahun sebelum memerankan dokter yang kehilangan istrinya akibat pembunuhan, Harrison Ford sudah memerankan dokter yang juga kehilangan istrinya! :-) Tetapi kali ini bukan akibat pembunuhan, tetapi hilang begitu saja. Just vanished, without a trace!
Sambil mengunjungi konferensi kedokteran, suami-istri Dr. & Mrs. Walker siap berbulan madu kedua di kota paling romantis di dunia, Paris. Tiba di Paris pagi hari, masih jet-lagged, mereka langsung check-in ke hotel. Sementara istrinya mulai membongkar bagasi mereka, sang suami pergi mandi. Di saat paling kritis dalam film ini sutradara Roman Polanski dengan sangat pandai menempatkan kamera dari sisi suami yang sedang mandi, dengan suara air mengalir deras memekakkan telinga suami (penonton) -- dia (penonton) sayup-2 mendengar telpon berdering dan istrinya mengucapkan sesuatu. Kemudian kamera bergerak perlahan-2 menuju sudut pintu kamar mandi mengikuti gerakan terakhir istrinya. Sang suami menyelesaikan mandinya, mencukur jenggotnya, memesan makan pagi, membaca koran, dan ... ketiduran. Bangun kesiangan, istrinya ternyata belum kembali juga ke kamar. Kemana gerangan istrinya? Hilang, tanpa jejak.
Tidak bisa lagi bekerja di AS, Polanski menyelesaikan seluruh film ini di Perancis. Dari segi thriller film ini sama sekali tidak kalah dengan The Fugitive (1993). Dari segi akting, Ford sebagai suami yang desperate membongkar teka-teki yang misterius ini, juga tidak kalah dengan aktingnya dalam The Fugitive. Musik dari Ennio Morricone, walaupun beliau berasal dari Itali, terdengar begitu melankolis Perancis-nya, menghantui dari awal sampai akhir film, dengan menyertakan alat musik akordion. Memperoleh rating tinggi dari para film critic, tetapi gagal di box-office AS, satu-2nya kekurangan film ini adalah tidak bersetting di AS dan saat itu (bahkan sampai saat ini) Polanski masih di-“persona non grata” oleh publik AS.
Hati-2 kalau ngambil bagasi :-)
3) The Impossible (2012)
Berdasarkan kisah nyata tentang keluarga Spanyol yang sedang liburan di Thailand ketika tsunami tanggal 26 Desember 2004 menghantam hotel di mana mereka menginap di pantai Khao Lak, Thailand. Film ini tidak hanya menampilkan nasib buruk yang bisa datang sewaktu-2, bagaikan pencuri di malam hari, tetapi juga mukjizat yang bisa terjadi darinya. Musibah seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, mengapa terjadinya pas ketika mereka berlibur di sana? Mukjizatnya, sementara hampir semua orang kehilangan anggota keluarganya, keluarga ini seluruh anggotanya berhasil lolos dari maut. It's impossible!
Sayang sekali film produksi Spanyol ini cepat-2 memutuskan meng-“inggris”-kan film ini dengan meng-cast Naomi Watts dan Ewan McGregor sebagai keluarga Inggris yang sedang berlibur ke Thailand. Padahal ada banyak aktor dan aktres Spanyol yang mampu memainkan peran ini dengan sangat baik juga. Mungkin karena alasan distribusi -- mungkin takut jangkauan distribusinya tidak seluas kalau filmnya dibuat dalam bahasa Inggris. But anyway, it's an inspiring and uplifting film.
Selama liburan kita hanya bisa berdoa saja moga-2 tidak ada musibah.
Thursday, 5 September 2013
The Cassandra Crossing, Outbreak, Contagion
Triple Outbreaks!
Epidemi atau wabah penyakit sering tidak masuk dalam daftar yang kita paling takutkan terjadi dalam hidup ini. Subconsciously kita menaruh kepercayaan bahwa teknologi kedokteran jaman sekarang mampu menanggulangi segala macam penyakit yang ada. Kenyataannya tidak seperti itu, karena penyakit senantiasa berubah karena virus juga senantiasa berubah/bermutasi. Antara penyakit baru dan ditemukannya obat untuk mengalahkannya ternyata selalu “kejar-2an”.
Coba bayangkan seandainya virus HIV bermutasi menjadi airborne sehingga penularannya menjadi seperti influenza?! Dan obatnya belum ada. Seluruh dunia pasti panik. Dan skenario seperti ini yang sering diangkat masuk ke dalam film.
1) The Cassandra Crossing (1976)
Dibuat pada era film malapetaka, film dengan all-star cast ini -- mulai dari Sophia Loren, Richard Harris, Burt Lancaster, Martin Sheen, Lee Strasberg, Ava Gardner, sampai bintang sepakbola AS saat itu O. J. Simpson -- bersetting di Eropa dan memadukan antara drama, romance, dan malapetaka wabah penyakit.
Dimulai dengan tiga “teroris” (imho, “aktivis”) memasuki instalasi fiktif International Health Organization di Jenewa, Swiss (parodinya WHO???) untuk menghancurkan lab milik AS yang diduga menyimpan berbagai bibit penyakit untuk riset senjata biologis. Dua tertembak, satu lolos, dan lab-nya berantakan ... sudah tahu lab-nya menyimpan banyak bibit penyakit, satpamnya trigger happy nembak kesana, nembak kemari :-) ... hasilnya, satu yang lolos terinfeksi salah satu bibit penyakit yang ada. Dia melarikan diri ke stasiun kereta api dan menyelinap masuk kereta api tujuan Stockholm, Swedia.
Sementara obat untuk mengalahkan bibit penyakit ini belum ditemukan, kereta api ini tidak boleh berhenti di semua stasiun kereta api antara Jenewa dan Stockholm -- tidak ada satu negarapun antara Swiss dan Swedia yang bersedia menerima kereta api ini. Drama kehidupan berlangsung terus di dalam kereta api bernasib buruk ini sementara mereka tidak menyadari akhir yang mengerikan menunggu di Cassandra Crossing.
Superb thriller. Sukses di pasar internasional, tetapi tidak di AS, karena penonton AS tidak suka film yang menggambarkan negaranya sebagai “bad guy” :-)
2) Outbreak (1995)
Sementara wabah penyakit Ebola yang mengerikan merebak di benua Afrika, Hollywood memanfaatkan momentum ini dengan memproduksi Outbreak yang dibintangi oleh Dustin Hoffman, Rene Russo, dan Morgan Freeman. Dalam film ini mulai ditampilkan bagaimana politik di balik penemuan penyakit baru dan pembuatan obatnya. Lagi-2 AS selalu ingin menjadi yang pertama -- dan kalau bisa, satu-2nya -- yang mempunyai obatnya. Tetapi dalam film ini korbannya adalah warga negara AS sendiri (hmmm, seakan-2 wabah penyakit itu tidak bisa loncat ke negara lain? :-)) dan obatnya belum ditemukan.
Dihadapkan pada wabah penyakit yang bakal memusnahkan seluruh negara (koreksi, seluruh dunia), militer terpaksa turun tangan. Dan kita tahu sendiri apa yang bakal terjadi kalau militer ikut turun tangan ... :-)
Sukses di pasar AS, walaupun imho endingnya rada silly.
3) Contagion (2011)
Empat puluh tahun selepas era film malapetaka, filmmakers jaman sekarang tidak takut memasukan elemen scientific yang dapat dipertanggung-jawabkan. Film garapan Steven Soderbergh dengan all-star cast ini -- Marion Cotillard, Matt Damon, Laurence Fishburne, Jude Law, dan Kate Winslet -- tidak hanya sekedar thriller yang menghibur tetapi juga pesan/informasi lingkungan hidup yang penting.
Diilhami oleh flu babi yang beberapa tahun sebelumnya menjadi wabah di seluruh dunia, film ini secara komplit menampilkan semua segi ketika sebuah wabah penyakit muncul: dari segi politik, komersial, dan sosial. Contagion dengan sangat baik menunjukkan tidak ada lagi wabah penyakit yang terbatas hanya di satu negara saja, semua wabah selalu menyebar ke seluruh dunia, karena itu sangat diperlukan kerjasama internasional untuk menyelesaikan masalah bersama ini.
Scene akhir film ini sangat bagus.
Ketika teknologi kedokteran akhirnya berhasil menanggulangi wabah penyakit tersebut, kita semua lega. Tetapi, sadarkah kita bahwa kita sendiri yang sesungguhnya sering menjadi catalyst utama dari wabah penyakit itu?
An excellent film.
The Cassandra Crossing, Outbreak, Contagion dapat anda temukan di eBay.com
Epidemi atau wabah penyakit sering tidak masuk dalam daftar yang kita paling takutkan terjadi dalam hidup ini. Subconsciously kita menaruh kepercayaan bahwa teknologi kedokteran jaman sekarang mampu menanggulangi segala macam penyakit yang ada. Kenyataannya tidak seperti itu, karena penyakit senantiasa berubah karena virus juga senantiasa berubah/bermutasi. Antara penyakit baru dan ditemukannya obat untuk mengalahkannya ternyata selalu “kejar-2an”.
Coba bayangkan seandainya virus HIV bermutasi menjadi airborne sehingga penularannya menjadi seperti influenza?! Dan obatnya belum ada. Seluruh dunia pasti panik. Dan skenario seperti ini yang sering diangkat masuk ke dalam film.
1) The Cassandra Crossing (1976)
Dibuat pada era film malapetaka, film dengan all-star cast ini -- mulai dari Sophia Loren, Richard Harris, Burt Lancaster, Martin Sheen, Lee Strasberg, Ava Gardner, sampai bintang sepakbola AS saat itu O. J. Simpson -- bersetting di Eropa dan memadukan antara drama, romance, dan malapetaka wabah penyakit.
Dimulai dengan tiga “teroris” (imho, “aktivis”) memasuki instalasi fiktif International Health Organization di Jenewa, Swiss (parodinya WHO???) untuk menghancurkan lab milik AS yang diduga menyimpan berbagai bibit penyakit untuk riset senjata biologis. Dua tertembak, satu lolos, dan lab-nya berantakan ... sudah tahu lab-nya menyimpan banyak bibit penyakit, satpamnya trigger happy nembak kesana, nembak kemari :-) ... hasilnya, satu yang lolos terinfeksi salah satu bibit penyakit yang ada. Dia melarikan diri ke stasiun kereta api dan menyelinap masuk kereta api tujuan Stockholm, Swedia.
Sementara obat untuk mengalahkan bibit penyakit ini belum ditemukan, kereta api ini tidak boleh berhenti di semua stasiun kereta api antara Jenewa dan Stockholm -- tidak ada satu negarapun antara Swiss dan Swedia yang bersedia menerima kereta api ini. Drama kehidupan berlangsung terus di dalam kereta api bernasib buruk ini sementara mereka tidak menyadari akhir yang mengerikan menunggu di Cassandra Crossing.
Superb thriller. Sukses di pasar internasional, tetapi tidak di AS, karena penonton AS tidak suka film yang menggambarkan negaranya sebagai “bad guy” :-)
2) Outbreak (1995)
Sementara wabah penyakit Ebola yang mengerikan merebak di benua Afrika, Hollywood memanfaatkan momentum ini dengan memproduksi Outbreak yang dibintangi oleh Dustin Hoffman, Rene Russo, dan Morgan Freeman. Dalam film ini mulai ditampilkan bagaimana politik di balik penemuan penyakit baru dan pembuatan obatnya. Lagi-2 AS selalu ingin menjadi yang pertama -- dan kalau bisa, satu-2nya -- yang mempunyai obatnya. Tetapi dalam film ini korbannya adalah warga negara AS sendiri (hmmm, seakan-2 wabah penyakit itu tidak bisa loncat ke negara lain? :-)) dan obatnya belum ditemukan.
Dihadapkan pada wabah penyakit yang bakal memusnahkan seluruh negara (koreksi, seluruh dunia), militer terpaksa turun tangan. Dan kita tahu sendiri apa yang bakal terjadi kalau militer ikut turun tangan ... :-)
Sukses di pasar AS, walaupun imho endingnya rada silly.
3) Contagion (2011)
Empat puluh tahun selepas era film malapetaka, filmmakers jaman sekarang tidak takut memasukan elemen scientific yang dapat dipertanggung-jawabkan. Film garapan Steven Soderbergh dengan all-star cast ini -- Marion Cotillard, Matt Damon, Laurence Fishburne, Jude Law, dan Kate Winslet -- tidak hanya sekedar thriller yang menghibur tetapi juga pesan/informasi lingkungan hidup yang penting.
Diilhami oleh flu babi yang beberapa tahun sebelumnya menjadi wabah di seluruh dunia, film ini secara komplit menampilkan semua segi ketika sebuah wabah penyakit muncul: dari segi politik, komersial, dan sosial. Contagion dengan sangat baik menunjukkan tidak ada lagi wabah penyakit yang terbatas hanya di satu negara saja, semua wabah selalu menyebar ke seluruh dunia, karena itu sangat diperlukan kerjasama internasional untuk menyelesaikan masalah bersama ini.
Scene akhir film ini sangat bagus.
Ketika teknologi kedokteran akhirnya berhasil menanggulangi wabah penyakit tersebut, kita semua lega. Tetapi, sadarkah kita bahwa kita sendiri yang sesungguhnya sering menjadi catalyst utama dari wabah penyakit itu?
An excellent film.
Saturday, 10 August 2013
The China Syndrome, Silkwood, Erin Brockovich
Triple Environmental Pollution!
Tiga perusahaan penghasil energi menyembunyikan fakta buruk dari mata publik.
Sering luput dari concern kita bahwa produksi (dan konsumsi) energi sering dibarengi dengan produksi limbah yang mencemari lingkungan -- dan karena kita hidup di dalamnya, limbah tersebut juga mencemari kesehatan kita. Sadar atau tidak, kita sering tidak ingin memikirkan hal tersebut -- mungkin karena subconsciously kita mempunyai harapan bahwa planet kita mampu dengan sendirinya membersihkan segala kotoran tersebut. So, tidak mengherankan kalau topik pencemaran lingkungan bukan topik yang hot untuk difilmkan -- film-2nya sering terasa kering karena mengandung banyak jargon atau terminologi hukum dan teknis.
The China Syndrome (1979)
Tiga tahun setelah All the President's Men yang membongkar skandal riel Watergate, dalam film fiksi ini Jane Fonda berperan sebagai investigative journalist, Kimberly Wells, yang membongkar kelalaian prosedur keamanan di perusahaan pembangkit listrik bertenaga nuklir di Los Angeles. Coincidently, dua minggu sebelum film ini diputar, reaktor nuklir di negara bagian Pennsylvania mengalami kecelakaan yang sama seperti cerita dalam film ini. Setelah itu kita menyaksikan dua kecelakaan nuklir yang lain dengan skala yang sama, yaitu di Chernobyl, USSR, dan baru-2 ini di Fukushima, Jepang. So, walaupun fiktif film ini mempunyai dasar yang ilmiah. Peran Fonda dalam film ini terasa sama persis seperti dalam kehidupan nyatanya sebagai seorang social activist. Tetapi Jack Lemmon-lah yang aktingnya menciptakan realisme dari film “near miss” ini.
Silkwood (1983)
Lagi-2 perusahaan yang berhubungan dengan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Berdasarkan kisah nyata, perusahaan ini berusaha meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya. Hmmm, ada berapa banyak ya perusahaan yang meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya?? Dan di perusahaan ini resikonya tidak main-2: pencemaran radioaktif terhadap karyawannya. Dan mereka yang mengetahuinya justru menutup-nutupinya. Akhirnya karyawan sendiri yang harus turun tangan menyelidiki dan memperkarakan bosnya. Dan berakibat fatal! Selepas dari Sophie's Choice (1982), Meryl Streep dengan sangat meyakinkan memainkan perannya sebagai buruh pekerja.
Erin Brockovich (2000)
Berdasarkan kisah nyata juga, perusahaan penghasil gas alam di California ini sudah lama mencemari air tanah di daerah sekitarnya dan menutup-nutupi fakta yang mendatangkan bencana kesehatan terhadap penduduk di daerah tersebut ... sampai seorang wanita pengangguran yang sedang magang di kantor pengacara Edward Masry datang. Untuk tema yang maha penting ini, walaupun penampilan Julia Roberts tidak terlalu berbeda dari penampilan sepuluh tahun sebelumnya dalam Pretty Woman (she only looks older and a little bit wiser here :-)), Roberts berhasil menggondol piala Oscar untuk Aktres Terbaik.
The China Syndrome, Silkwood, Erin Brockovich dapat anda temukan di eBay.com
Tiga perusahaan penghasil energi menyembunyikan fakta buruk dari mata publik.
Sering luput dari concern kita bahwa produksi (dan konsumsi) energi sering dibarengi dengan produksi limbah yang mencemari lingkungan -- dan karena kita hidup di dalamnya, limbah tersebut juga mencemari kesehatan kita. Sadar atau tidak, kita sering tidak ingin memikirkan hal tersebut -- mungkin karena subconsciously kita mempunyai harapan bahwa planet kita mampu dengan sendirinya membersihkan segala kotoran tersebut. So, tidak mengherankan kalau topik pencemaran lingkungan bukan topik yang hot untuk difilmkan -- film-2nya sering terasa kering karena mengandung banyak jargon atau terminologi hukum dan teknis.
The China Syndrome (1979)
Tiga tahun setelah All the President's Men yang membongkar skandal riel Watergate, dalam film fiksi ini Jane Fonda berperan sebagai investigative journalist, Kimberly Wells, yang membongkar kelalaian prosedur keamanan di perusahaan pembangkit listrik bertenaga nuklir di Los Angeles. Coincidently, dua minggu sebelum film ini diputar, reaktor nuklir di negara bagian Pennsylvania mengalami kecelakaan yang sama seperti cerita dalam film ini. Setelah itu kita menyaksikan dua kecelakaan nuklir yang lain dengan skala yang sama, yaitu di Chernobyl, USSR, dan baru-2 ini di Fukushima, Jepang. So, walaupun fiktif film ini mempunyai dasar yang ilmiah. Peran Fonda dalam film ini terasa sama persis seperti dalam kehidupan nyatanya sebagai seorang social activist. Tetapi Jack Lemmon-lah yang aktingnya menciptakan realisme dari film “near miss” ini.
Silkwood (1983)
Lagi-2 perusahaan yang berhubungan dengan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Berdasarkan kisah nyata, perusahaan ini berusaha meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya. Hmmm, ada berapa banyak ya perusahaan yang meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya?? Dan di perusahaan ini resikonya tidak main-2: pencemaran radioaktif terhadap karyawannya. Dan mereka yang mengetahuinya justru menutup-nutupinya. Akhirnya karyawan sendiri yang harus turun tangan menyelidiki dan memperkarakan bosnya. Dan berakibat fatal! Selepas dari Sophie's Choice (1982), Meryl Streep dengan sangat meyakinkan memainkan perannya sebagai buruh pekerja.
Erin Brockovich (2000)
Berdasarkan kisah nyata juga, perusahaan penghasil gas alam di California ini sudah lama mencemari air tanah di daerah sekitarnya dan menutup-nutupi fakta yang mendatangkan bencana kesehatan terhadap penduduk di daerah tersebut ... sampai seorang wanita pengangguran yang sedang magang di kantor pengacara Edward Masry datang. Untuk tema yang maha penting ini, walaupun penampilan Julia Roberts tidak terlalu berbeda dari penampilan sepuluh tahun sebelumnya dalam Pretty Woman (she only looks older and a little bit wiser here :-)), Roberts berhasil menggondol piala Oscar untuk Aktres Terbaik.
Friday, 2 August 2013
Airport, The Bullet Train, Speed
Triple Bombs!
Bom di pesawat.
Bom di kereta api.
Bom di bis.
Kita tidak memerlukan teroris betulan untuk menciptakan skenario tragedi yang mengerikan -- cukup panggil filmmakers saja :-) Sebelum era terorism merebak dalam satu dasawarsa terakhir ini, filmmakers sudah mengisi imajinasi kita dengan berbagai skenario tragedi yang mengerikan.
Airport (1970) menandai dimulainya genre film yang memadukan antara drama dan petualangan yang bersetting malapetaka (alami atau buatan manusia). Tidak tanggung-2, film pertama genre film malapetaka ini menempatkan bom di dalam pesawat. Kalau kita melayang 30.000 feet di atas daratan, kita tidak ingin menemui masalah sekecil apapun, apalagi bom. Dengan all star cast mulai dari Burt Lancaster, Dean Martin, Jacqueline Bisset, George Kennedy, sampai Maureen Stapleton, dan screenplay yang rapi dan ketat, Airport adalah film hiburan yang tidak hanya menghandalkan action, tetapi juga isi.
Kalau filmmaker di Hollywood menempatkan bom di dalam pesawat, betapa pasnya filmmaker di Jepang menyamai skenario tersebut dengan menempatkan bom di dalam kendaraan magnet kebanggaan mereka, Shinkansen -- The Bullet Train (Shinkansen Daibakuha) (1975). Awas, kalau kecepatan jatuh di bawah 50 mph, bom bakal meledak. Film garapan Jepang ini terasa out-dated, kekurangan elemen thriller dan suspense, sehingga cocok untuk di-remake, oleh Hollywood (!), mungkin dengan menggabungkan cast internasional -- some Japanese stars, some American stars, and some European stars, karena penumpang Shinkansen juga internasional.
Sekitar dua dekade kemudian, mengapa tidak memindah skenario di atas ke setting yang berbeda -- bis kota di tengah kepadatan lalu lintas di Los Angeles, Speed (1994). Dengan thriller dan suspense tempo tinggi, tidak seperti Airport yang memberi kesempatan kepada semua anggota cast untuk bersinar, Speed menggantungkan hampir semua daya tarik ke chemistry antara Keanu Reeves dan Sandra Bullock. Saking nemennya sampai Bullock dimasukkan terus sampai scene klimaks/akhir dimana Reeves akhirnya berhadapan dengan nemesisnya, Dennis Hopper. Tidakkah lebih baik kalau mereka berdua saja yang berhadapan satu sama lain (Bullock gak perlu diikutkan)?! Only to get the two share a kiss while onlookers watch, oooh :-) ... hmmm, bloody Hollywood ending! :-)
Airport, The Bullet Train, Speed dapat anda temukan di eBay.com
Bom di pesawat.
Bom di kereta api.
Bom di bis.
Kita tidak memerlukan teroris betulan untuk menciptakan skenario tragedi yang mengerikan -- cukup panggil filmmakers saja :-) Sebelum era terorism merebak dalam satu dasawarsa terakhir ini, filmmakers sudah mengisi imajinasi kita dengan berbagai skenario tragedi yang mengerikan.
Airport (1970) menandai dimulainya genre film yang memadukan antara drama dan petualangan yang bersetting malapetaka (alami atau buatan manusia). Tidak tanggung-2, film pertama genre film malapetaka ini menempatkan bom di dalam pesawat. Kalau kita melayang 30.000 feet di atas daratan, kita tidak ingin menemui masalah sekecil apapun, apalagi bom. Dengan all star cast mulai dari Burt Lancaster, Dean Martin, Jacqueline Bisset, George Kennedy, sampai Maureen Stapleton, dan screenplay yang rapi dan ketat, Airport adalah film hiburan yang tidak hanya menghandalkan action, tetapi juga isi.
Kalau filmmaker di Hollywood menempatkan bom di dalam pesawat, betapa pasnya filmmaker di Jepang menyamai skenario tersebut dengan menempatkan bom di dalam kendaraan magnet kebanggaan mereka, Shinkansen -- The Bullet Train (Shinkansen Daibakuha) (1975). Awas, kalau kecepatan jatuh di bawah 50 mph, bom bakal meledak. Film garapan Jepang ini terasa out-dated, kekurangan elemen thriller dan suspense, sehingga cocok untuk di-remake, oleh Hollywood (!), mungkin dengan menggabungkan cast internasional -- some Japanese stars, some American stars, and some European stars, karena penumpang Shinkansen juga internasional.
Sekitar dua dekade kemudian, mengapa tidak memindah skenario di atas ke setting yang berbeda -- bis kota di tengah kepadatan lalu lintas di Los Angeles, Speed (1994). Dengan thriller dan suspense tempo tinggi, tidak seperti Airport yang memberi kesempatan kepada semua anggota cast untuk bersinar, Speed menggantungkan hampir semua daya tarik ke chemistry antara Keanu Reeves dan Sandra Bullock. Saking nemennya sampai Bullock dimasukkan terus sampai scene klimaks/akhir dimana Reeves akhirnya berhadapan dengan nemesisnya, Dennis Hopper. Tidakkah lebih baik kalau mereka berdua saja yang berhadapan satu sama lain (Bullock gak perlu diikutkan)?! Only to get the two share a kiss while onlookers watch, oooh :-) ... hmmm, bloody Hollywood ending! :-)
Subscribe to:
Posts (Atom)













