Moscow, Russia
Norway, Alexander Rybak, "Fairytale"
Showing posts with label 2000s. Show all posts
Showing posts with label 2000s. Show all posts
Friday, 1 May 2015
Thursday, 30 April 2015
Wednesday, 29 April 2015
2007 Eurovision Winner ★★★★★
Helsinki, Finland
Serbia, Marija Šerifović, "Molitva" (Молитва)
Tuesday, 28 April 2015
Sunday, 26 April 2015
Saturday, 25 April 2015
Friday, 24 April 2015
Thursday, 23 April 2015
2001 Eurovision Winner ★★★★★
Copenhagen, Denmark
Estonia, Tanel Padar, Dave Benton and 2XL, "Everybody"
Wednesday, 22 April 2015
2000 Eurovision Winner ★★★★★
Stockholm, Sweden
Denmark, Olsen Brothers, "Fly on the Wings of Love"
Saturday, 28 September 2013
Grease, Walk the Line, Les Misérables
Triple Actors Turned Into Singers!
Kalau penyanyi tampil sebagai aktor jumlahnya lumayan banyak, sebaliknya sama sekali tidak banyak. Dari jumlah yang tidak banyak tersebut, sebagian besar tampil dengan resiko diketawain -- seperti dalam “The X Factor” -- misalnya, Jim Carrey dalam the Cable Guy (1996) atau Gwyneth Paltrow dalam Duets (2000), bikin penonton feel embarrassed melihatnya :-), dan hanya sebagian kecil tampil serius. Dari sebagian kecil yang tampil serius ini, mereka jatuh dalam dua kategori, yaitu: pertama, mereka yang suaranya di-dubbing, artinya mereka hanya akting menyanyi saja, a.l. Deborah Kerr dalam The King and I (1956), Audrey Hepburn dalam My Fair Lady (1964), atau Jamie Foxx dalam Ray (2004); kedua, mereka yang betulan menyanyi. Penulis kali ini memilih empat aktor yang tampil serius menyanyi dan memang betulan menyanyi. Dengan demikian, semua aktor yang asal-usulnya dari theatre musicals tidak penulis tampilkan, misalnya Gene Kelly atau Judy Garland dan anak perempuannya, Liza Minnelli.
1) Grease (1978)
John Travolta.
Adaptasi dari theatre musical dengan judul yang sama, walaupun ceritanya tipis (setipis romantika SMA :-)) dan tidak memenangkan satupun piala Oscar, Grease berada di posisi aman dalam daftar film klasik. Ada tiga faktor yang membuat Grease tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan: Pertama, chemistry antara John Travolta dan Olivia Newton-John terbukti everlasting, eternal, forever. Ditonton pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, oleh generasi yang lahir pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, chemistry di antara mereka tetap fully-charged! Dalam kenyataan, walaupun mereka terpisah 15000 km antara Amerika dan Australia, setiap kali Travolta datang ke Australia, pertemuan mereka selalu membangkitkan kembali popularitas Grease. Demikian juga sebaliknya. Mereka betul-2 pasangan on-screen yang sempurna -- till death they do part. Kedua, lagu-2nya juga terbukti forever. Didengarkan pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, oleh generasi yang lahir pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, lagu-2nya tetap terdengar in, fashionable. Ketiga, ada sesuatu yang “ndak bener” dengan Rydell High School; apa ya??? ... oh, para muridnya semuanya sudah ketuaan :-) -- Danny (John Travolta) berusia 24 tahun, Sandy (Olivia Newton-John) 30 tahun, Betty (Stockard Channing) 34 tahun, dan Kenickie (Jeff Conaway) 28 tahun. No wonder they were so good! Mana mungkin anak SMA betulan bisa sebagus itu? :-) Hahaha. Walaupun bersetting romantika SMA, Grease sesungguhnya adalah film nostalgia (atau imajinasi/mimpi yang ndak kesampean) penonton dewasa tentang masa lalu mereka di SMA.
Forever ... klasik.
2) Walk the Line (2005)
Joaquin Phoenix.
Reese Witherspoon.
Sayang sekali biopic penyanyi country Johnny Cash ini tidak menerima lebih banyak nominasi/piala dalam Oscar 2006. Penampilan Reese Witherspoon sebagai istri Cash, June Carter, betul-2 meruntuhkan typecast-nya sebagai Elle Woods dalam Legally Blonde (2001). Sejak penampilannya dalam film ini, Witherspoon bukan lagi aktres manis yang berambut pirang, tetapi aktres! Titik. A really good one. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia tidak hanya akting, tetapi menyanyi juga, dan tidak di-dubbing. Piala Oscar Aktres Terbaik yang sangat pantas untuk Witherspoon. Sayangnya, Joaquin Phoenix tidak mengalami nasib yang sama seperti rekannya ini. Saatnya sesungguhnya tepat untuk Phoenix untuk memenangkan Oscar Aktor Terbaik untuk perannya sebagai Johnny Cash ini -- menarik simpati dan dicintai banyak orang. Juga siapa yang nyangka Phoenix menyanyi betulan, lagu-2 legendaris Johnny Cash, sama sekali tidak di-dubbing. Keduanya tampil menyakinkan dan menghanyutkan.
3) Les Misérables (2012)
Anne Hathaway.
Setelah membaca bukunya, adaptasi dari theatre musical dengan judul yang sama ini ternyata lumayan patuh dengan bukunya. Bravo. Menonton pertama kali di gedung bioskop (tidak pernah nonton musical-nya), penulis kurang bisa mengapresiasi musiknya. Menonton kedua kalinya di DVD, dengan subtitle sengaja di-“on”-kan (agar dapat dengan lebih baik menangkap lirik dalam lagu-2nya), penulis terkejut -- bagaikan terjaga dari tidur lelap selama ini -- betapa indah dan betapa cocoknya lirik dalam lagu-2 tersebut menceritakan isi bukunya. Dan bukan pertama kali ini penulis keliru mengapresiasi gara-2 “tidur lelap”.
Yes, they are beautiful.
Selain Hugh Jackman dan sebagian cast yang berasal dari theatre musicals, cast Hollywood yang lain, termasuk Russell Crowe (!), dengan berani dan meyakinkan menyanyi betulan. Dan tidak hanya itu, menyanyinya tidak dilakukan di dalam studio kemudian ditambahkan ke dalam track film, tetapi direkam live bersamaan dengan shooting adegannya. Ini betul-2 menarik, karena menciptakan efek realism yang tajam. Di tengah pasukan theatre musicals yang berpengalaman, Anne Hathaway berhasil mencuri perhatian penonton, dan para film critic, dengan penampilannya sebagai Fantine dan lagunya “I Dreamed a Dream” yang heart-rending.
Grease, Walk the Line, Les Misérables dapat anda temukan di eBay.com
Kalau penyanyi tampil sebagai aktor jumlahnya lumayan banyak, sebaliknya sama sekali tidak banyak. Dari jumlah yang tidak banyak tersebut, sebagian besar tampil dengan resiko diketawain -- seperti dalam “The X Factor” -- misalnya, Jim Carrey dalam the Cable Guy (1996) atau Gwyneth Paltrow dalam Duets (2000), bikin penonton feel embarrassed melihatnya :-), dan hanya sebagian kecil tampil serius. Dari sebagian kecil yang tampil serius ini, mereka jatuh dalam dua kategori, yaitu: pertama, mereka yang suaranya di-dubbing, artinya mereka hanya akting menyanyi saja, a.l. Deborah Kerr dalam The King and I (1956), Audrey Hepburn dalam My Fair Lady (1964), atau Jamie Foxx dalam Ray (2004); kedua, mereka yang betulan menyanyi. Penulis kali ini memilih empat aktor yang tampil serius menyanyi dan memang betulan menyanyi. Dengan demikian, semua aktor yang asal-usulnya dari theatre musicals tidak penulis tampilkan, misalnya Gene Kelly atau Judy Garland dan anak perempuannya, Liza Minnelli.
1) Grease (1978)
John Travolta.
Adaptasi dari theatre musical dengan judul yang sama, walaupun ceritanya tipis (setipis romantika SMA :-)) dan tidak memenangkan satupun piala Oscar, Grease berada di posisi aman dalam daftar film klasik. Ada tiga faktor yang membuat Grease tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan: Pertama, chemistry antara John Travolta dan Olivia Newton-John terbukti everlasting, eternal, forever. Ditonton pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, oleh generasi yang lahir pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, chemistry di antara mereka tetap fully-charged! Dalam kenyataan, walaupun mereka terpisah 15000 km antara Amerika dan Australia, setiap kali Travolta datang ke Australia, pertemuan mereka selalu membangkitkan kembali popularitas Grease. Demikian juga sebaliknya. Mereka betul-2 pasangan on-screen yang sempurna -- till death they do part. Kedua, lagu-2nya juga terbukti forever. Didengarkan pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, oleh generasi yang lahir pada jamannya, sekarang, atau masa yang akan datang, lagu-2nya tetap terdengar in, fashionable. Ketiga, ada sesuatu yang “ndak bener” dengan Rydell High School; apa ya??? ... oh, para muridnya semuanya sudah ketuaan :-) -- Danny (John Travolta) berusia 24 tahun, Sandy (Olivia Newton-John) 30 tahun, Betty (Stockard Channing) 34 tahun, dan Kenickie (Jeff Conaway) 28 tahun. No wonder they were so good! Mana mungkin anak SMA betulan bisa sebagus itu? :-) Hahaha. Walaupun bersetting romantika SMA, Grease sesungguhnya adalah film nostalgia (atau imajinasi/mimpi yang ndak kesampean) penonton dewasa tentang masa lalu mereka di SMA.
Forever ... klasik.
2) Walk the Line (2005)
Joaquin Phoenix.
Reese Witherspoon.
Sayang sekali biopic penyanyi country Johnny Cash ini tidak menerima lebih banyak nominasi/piala dalam Oscar 2006. Penampilan Reese Witherspoon sebagai istri Cash, June Carter, betul-2 meruntuhkan typecast-nya sebagai Elle Woods dalam Legally Blonde (2001). Sejak penampilannya dalam film ini, Witherspoon bukan lagi aktres manis yang berambut pirang, tetapi aktres! Titik. A really good one. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia tidak hanya akting, tetapi menyanyi juga, dan tidak di-dubbing. Piala Oscar Aktres Terbaik yang sangat pantas untuk Witherspoon. Sayangnya, Joaquin Phoenix tidak mengalami nasib yang sama seperti rekannya ini. Saatnya sesungguhnya tepat untuk Phoenix untuk memenangkan Oscar Aktor Terbaik untuk perannya sebagai Johnny Cash ini -- menarik simpati dan dicintai banyak orang. Juga siapa yang nyangka Phoenix menyanyi betulan, lagu-2 legendaris Johnny Cash, sama sekali tidak di-dubbing. Keduanya tampil menyakinkan dan menghanyutkan.
3) Les Misérables (2012)
Anne Hathaway.
Setelah membaca bukunya, adaptasi dari theatre musical dengan judul yang sama ini ternyata lumayan patuh dengan bukunya. Bravo. Menonton pertama kali di gedung bioskop (tidak pernah nonton musical-nya), penulis kurang bisa mengapresiasi musiknya. Menonton kedua kalinya di DVD, dengan subtitle sengaja di-“on”-kan (agar dapat dengan lebih baik menangkap lirik dalam lagu-2nya), penulis terkejut -- bagaikan terjaga dari tidur lelap selama ini -- betapa indah dan betapa cocoknya lirik dalam lagu-2 tersebut menceritakan isi bukunya. Dan bukan pertama kali ini penulis keliru mengapresiasi gara-2 “tidur lelap”.
Yes, they are beautiful.
Selain Hugh Jackman dan sebagian cast yang berasal dari theatre musicals, cast Hollywood yang lain, termasuk Russell Crowe (!), dengan berani dan meyakinkan menyanyi betulan. Dan tidak hanya itu, menyanyinya tidak dilakukan di dalam studio kemudian ditambahkan ke dalam track film, tetapi direkam live bersamaan dengan shooting adegannya. Ini betul-2 menarik, karena menciptakan efek realism yang tajam. Di tengah pasukan theatre musicals yang berpengalaman, Anne Hathaway berhasil mencuri perhatian penonton, dan para film critic, dengan penampilannya sebagai Fantine dan lagunya “I Dreamed a Dream” yang heart-rending.
Friday, 23 August 2013
The Private Life of Henry VIII, Elizabeth, The Young Victoria, The Queen
Quadruple British Royals!
Amerika sudah melepaskan diri dari Inggris sejak tahun 1776, namun demikian rakyat Amerika terbukti sampai sekarang masih menyimpan fascination (ketertarikan/kekaguman) terhadap tradisi kuno di negeri nenek moyangnya tersebut, salah satu di antaranya adalah Keluarga Kerajaan.
Film-2 tentang Keluarga Kerajaan sering tidak luput masuk dalam daftar nominasi Film Terbaik Oscar. Mereka yang memerankan British Royals juga sering tidak luput masuk dalam daftar nominasi Aktor atau Aktres Terbaik. Maka tidak mengherankan kalau ada banyak pengamat film yang berpendapat bahwa film-2 tentang Keluarga Kerajaan adalah “winning formula” dalam festival film Oscar. It's been proven, again and again.
Pada kesempatan kali ini penulis ingin memberi introduction kepada 4 film tentang Keluarga Kerajaan, dipilih karena significance dari filmnya dan subyek dari filmnya. Untuk subyek dari film, penulis memilih empat yang paling populer dalam sejarah (paling populer difilmkan), yaitu: Henry VIII, Elizabeth I, Victoria, dan Elizabeth II.
1) The Private Life of Henry VIII (1933)
Sampai saat ini tidak ada aktor yang mampu menandingi akting Charles Laughton sebagai Raja Henry VIII. Mempunyai reputasi buruk sebagai raja dengan enam istri (dua di antaranya dia pancung) dan dua wanita simpanan, Laughton berhasil dengan sangat meyakinkan “menghidupkan” Henry VIII menurut interpretasinya sendiri: mad (edan), rude (kasar), tetapi bukannya tanpa alasan! Ini penting. In fact, alasan tersebut sangat penting, sehingga walaupun edan dan kasar, Laughton berhasil memberi sisi manusiawi (kekocakan) terhadap karakter tersebut dan menarik simpati penonton. Betulkah tingkah laku Raja Henry VIII seperti itu? Tidak ada yang tahu. Tetapi akting Laughton sungguh mengesankan. Film ini masuk nominasi Film Terbaik Oscar dan Charles Laughton memenangkan Aktor Terbaik.
2) Elizabeth (1998)
Di antara empat subyek di atas, cerita seputar Ratu Elizabeth I adalah yang paling banyak difilmkan. Mengapa? Mungkin karena ceritanya paling menarik (baca, paling banyak mengandung konflik). Terpilih sebagai penerus ayahnya, Henry VIII, setelah adik laki-2 satu-2nya mati muda dan kakak perempuannya juga mati muda, Elizabeth I mewarisi kerajaan dengan seabreg masalah: mulai dari upaya pembunuhan terus-2an dari Gereja Katolik di Roma, persekongkolan politik terus-2an dari dalam kerajaan untuk menjatuhkan dirinya, sampai pemilihan jodoh yang selalu berakhir dengan patah hati. Film garapan sutradara kelahiran India, Shekhar Kapur, ini berhasil dengan sangat baik menampilkan semua konflik tersebut, menampilkan transisi Elizabeth I dari lemah pada awalnya sampai formidable (kuat dan disegani oleh musuh-2nya) pada akhirnya, dan menjaga tempo yang tinggi dari awal sampai akhir film. Film ini dan Cate Blanchett masuk nominasi Film Terbaik dan Aktres Terbaik Oscar, dan “unfairly” dikalahkan oleh sesama film dengan setting Inggris kuno, Shakespeare in Love. Judi Dench yang memerankan peran yang sama, Elizabeth I, dalam Shakespeare in Love berhasil menggondol Aktres Pendukung Terbaik. Sayang sekali Shekhar Kapur tidak berhasil mengulangi greget film ini dalam sequelnya, Elizabeth, The Golden Age (2007).
Catatan: Perlu ditengok 2 film dari Bette Davis tentang Ratu Elizabeth I yang berjudul: The Private Lives of Elizabeth and Essex (1939) dan The Virgin Queen (1955). 2 film ini menceritakan masa kejayaan Elizabeth I.
3) The Young Victoria (2009)
Lebih dari 200 tahun kemudian, Victoria tidak lagi mengalami ujian seberat Elizabeth I. Saat itu kepala kerajaan sudah tidak lagi memerintah secara langsung, dengan demikian membebaskan dia dari tugas-2 pelik memerintah. Berbeda dengan para pendahulunya, Victoria terkenal dengan kelembutan dan keharmonisan rumah tangganya. Ketika Albert, suaminya, meninggal dunia, di usia 42 tahun, dia memutuskan berkabung sampai akhir hayatnya di usia 82 tahun. Selain sebagai wanita pertama yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih, Victoria dikenang rakyatnya dengan cintanya yang seumur hidup terhadap suaminya. Emily Blunt memberi sweetness kepada peran Victoria muda. Film yang dengan setting yang indah ini memenangkan Best Costume Design Oscar, dan menerima nominasi untuk Best Art Direction, dan Best Makeup.
Catatan: Perlu ditengok film dari Judi Dench memerankan Ratu Victoria dalam Her Majesty Mrs. Brown (1997) yang berkisah tentang pembantu rumah tangga istana yang jatuh cinta dengan dia ketika dia menjanda.
4) The Queen (2006)
Adalah suatu keberanian dari penulis dan sutradara film ini membuat film ini sementara Ratu Elizabeth II masih hidup. Dan masalah yang dihadapi, walaupun tidak seberat masalah Henry VIII atau Elizabeth I, tetapi sensitif dengan berpotensi mendatangkan complaint. Masalah sensitif tersebut adalah Diana. Bekas anggota kerajaan (setelah perceraiannya dari Pangeran Charles), tetapi rakyat Inggris tetap menganggap Diana sebagai (calon) Ratu mereka. Ketika Diana meninggal dunia, rakyat Inggris menuntut pemerintah dan keluarga kerajaan memberi Diana upacara kematian seperti selayaknya seorang Ratu. Bagaimana Ratu yang sesungguhnya mesti bersikap terhadap tuntutan rakyatnya tersebut? Konon Ratu Elizabeth II menyukai film ini dan mengundang Helen Mirren untuk datang makan malam di istana Buckingham. Film ini masuk nominasi Film Terbaik Oscar dan Helen Mirren memenangkan Aktres Terbaik.
The Private Life of Henry VIII, Elizabeth, The Young Victoria, The Queen dapat anda temukan di eBay.com
Amerika sudah melepaskan diri dari Inggris sejak tahun 1776, namun demikian rakyat Amerika terbukti sampai sekarang masih menyimpan fascination (ketertarikan/kekaguman) terhadap tradisi kuno di negeri nenek moyangnya tersebut, salah satu di antaranya adalah Keluarga Kerajaan.
Film-2 tentang Keluarga Kerajaan sering tidak luput masuk dalam daftar nominasi Film Terbaik Oscar. Mereka yang memerankan British Royals juga sering tidak luput masuk dalam daftar nominasi Aktor atau Aktres Terbaik. Maka tidak mengherankan kalau ada banyak pengamat film yang berpendapat bahwa film-2 tentang Keluarga Kerajaan adalah “winning formula” dalam festival film Oscar. It's been proven, again and again.
Pada kesempatan kali ini penulis ingin memberi introduction kepada 4 film tentang Keluarga Kerajaan, dipilih karena significance dari filmnya dan subyek dari filmnya. Untuk subyek dari film, penulis memilih empat yang paling populer dalam sejarah (paling populer difilmkan), yaitu: Henry VIII, Elizabeth I, Victoria, dan Elizabeth II.
1) The Private Life of Henry VIII (1933)
Sampai saat ini tidak ada aktor yang mampu menandingi akting Charles Laughton sebagai Raja Henry VIII. Mempunyai reputasi buruk sebagai raja dengan enam istri (dua di antaranya dia pancung) dan dua wanita simpanan, Laughton berhasil dengan sangat meyakinkan “menghidupkan” Henry VIII menurut interpretasinya sendiri: mad (edan), rude (kasar), tetapi bukannya tanpa alasan! Ini penting. In fact, alasan tersebut sangat penting, sehingga walaupun edan dan kasar, Laughton berhasil memberi sisi manusiawi (kekocakan) terhadap karakter tersebut dan menarik simpati penonton. Betulkah tingkah laku Raja Henry VIII seperti itu? Tidak ada yang tahu. Tetapi akting Laughton sungguh mengesankan. Film ini masuk nominasi Film Terbaik Oscar dan Charles Laughton memenangkan Aktor Terbaik.
2) Elizabeth (1998)
Di antara empat subyek di atas, cerita seputar Ratu Elizabeth I adalah yang paling banyak difilmkan. Mengapa? Mungkin karena ceritanya paling menarik (baca, paling banyak mengandung konflik). Terpilih sebagai penerus ayahnya, Henry VIII, setelah adik laki-2 satu-2nya mati muda dan kakak perempuannya juga mati muda, Elizabeth I mewarisi kerajaan dengan seabreg masalah: mulai dari upaya pembunuhan terus-2an dari Gereja Katolik di Roma, persekongkolan politik terus-2an dari dalam kerajaan untuk menjatuhkan dirinya, sampai pemilihan jodoh yang selalu berakhir dengan patah hati. Film garapan sutradara kelahiran India, Shekhar Kapur, ini berhasil dengan sangat baik menampilkan semua konflik tersebut, menampilkan transisi Elizabeth I dari lemah pada awalnya sampai formidable (kuat dan disegani oleh musuh-2nya) pada akhirnya, dan menjaga tempo yang tinggi dari awal sampai akhir film. Film ini dan Cate Blanchett masuk nominasi Film Terbaik dan Aktres Terbaik Oscar, dan “unfairly” dikalahkan oleh sesama film dengan setting Inggris kuno, Shakespeare in Love. Judi Dench yang memerankan peran yang sama, Elizabeth I, dalam Shakespeare in Love berhasil menggondol Aktres Pendukung Terbaik. Sayang sekali Shekhar Kapur tidak berhasil mengulangi greget film ini dalam sequelnya, Elizabeth, The Golden Age (2007).
Catatan: Perlu ditengok 2 film dari Bette Davis tentang Ratu Elizabeth I yang berjudul: The Private Lives of Elizabeth and Essex (1939) dan The Virgin Queen (1955). 2 film ini menceritakan masa kejayaan Elizabeth I.
3) The Young Victoria (2009)
Lebih dari 200 tahun kemudian, Victoria tidak lagi mengalami ujian seberat Elizabeth I. Saat itu kepala kerajaan sudah tidak lagi memerintah secara langsung, dengan demikian membebaskan dia dari tugas-2 pelik memerintah. Berbeda dengan para pendahulunya, Victoria terkenal dengan kelembutan dan keharmonisan rumah tangganya. Ketika Albert, suaminya, meninggal dunia, di usia 42 tahun, dia memutuskan berkabung sampai akhir hayatnya di usia 82 tahun. Selain sebagai wanita pertama yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih, Victoria dikenang rakyatnya dengan cintanya yang seumur hidup terhadap suaminya. Emily Blunt memberi sweetness kepada peran Victoria muda. Film yang dengan setting yang indah ini memenangkan Best Costume Design Oscar, dan menerima nominasi untuk Best Art Direction, dan Best Makeup.
Catatan: Perlu ditengok film dari Judi Dench memerankan Ratu Victoria dalam Her Majesty Mrs. Brown (1997) yang berkisah tentang pembantu rumah tangga istana yang jatuh cinta dengan dia ketika dia menjanda.
4) The Queen (2006)
Adalah suatu keberanian dari penulis dan sutradara film ini membuat film ini sementara Ratu Elizabeth II masih hidup. Dan masalah yang dihadapi, walaupun tidak seberat masalah Henry VIII atau Elizabeth I, tetapi sensitif dengan berpotensi mendatangkan complaint. Masalah sensitif tersebut adalah Diana. Bekas anggota kerajaan (setelah perceraiannya dari Pangeran Charles), tetapi rakyat Inggris tetap menganggap Diana sebagai (calon) Ratu mereka. Ketika Diana meninggal dunia, rakyat Inggris menuntut pemerintah dan keluarga kerajaan memberi Diana upacara kematian seperti selayaknya seorang Ratu. Bagaimana Ratu yang sesungguhnya mesti bersikap terhadap tuntutan rakyatnya tersebut? Konon Ratu Elizabeth II menyukai film ini dan mengundang Helen Mirren untuk datang makan malam di istana Buckingham. Film ini masuk nominasi Film Terbaik Oscar dan Helen Mirren memenangkan Aktres Terbaik.
Saturday, 10 August 2013
The China Syndrome, Silkwood, Erin Brockovich
Triple Environmental Pollution!
Tiga perusahaan penghasil energi menyembunyikan fakta buruk dari mata publik.
Sering luput dari concern kita bahwa produksi (dan konsumsi) energi sering dibarengi dengan produksi limbah yang mencemari lingkungan -- dan karena kita hidup di dalamnya, limbah tersebut juga mencemari kesehatan kita. Sadar atau tidak, kita sering tidak ingin memikirkan hal tersebut -- mungkin karena subconsciously kita mempunyai harapan bahwa planet kita mampu dengan sendirinya membersihkan segala kotoran tersebut. So, tidak mengherankan kalau topik pencemaran lingkungan bukan topik yang hot untuk difilmkan -- film-2nya sering terasa kering karena mengandung banyak jargon atau terminologi hukum dan teknis.
The China Syndrome (1979)
Tiga tahun setelah All the President's Men yang membongkar skandal riel Watergate, dalam film fiksi ini Jane Fonda berperan sebagai investigative journalist, Kimberly Wells, yang membongkar kelalaian prosedur keamanan di perusahaan pembangkit listrik bertenaga nuklir di Los Angeles. Coincidently, dua minggu sebelum film ini diputar, reaktor nuklir di negara bagian Pennsylvania mengalami kecelakaan yang sama seperti cerita dalam film ini. Setelah itu kita menyaksikan dua kecelakaan nuklir yang lain dengan skala yang sama, yaitu di Chernobyl, USSR, dan baru-2 ini di Fukushima, Jepang. So, walaupun fiktif film ini mempunyai dasar yang ilmiah. Peran Fonda dalam film ini terasa sama persis seperti dalam kehidupan nyatanya sebagai seorang social activist. Tetapi Jack Lemmon-lah yang aktingnya menciptakan realisme dari film “near miss” ini.
Silkwood (1983)
Lagi-2 perusahaan yang berhubungan dengan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Berdasarkan kisah nyata, perusahaan ini berusaha meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya. Hmmm, ada berapa banyak ya perusahaan yang meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya?? Dan di perusahaan ini resikonya tidak main-2: pencemaran radioaktif terhadap karyawannya. Dan mereka yang mengetahuinya justru menutup-nutupinya. Akhirnya karyawan sendiri yang harus turun tangan menyelidiki dan memperkarakan bosnya. Dan berakibat fatal! Selepas dari Sophie's Choice (1982), Meryl Streep dengan sangat meyakinkan memainkan perannya sebagai buruh pekerja.
Erin Brockovich (2000)
Berdasarkan kisah nyata juga, perusahaan penghasil gas alam di California ini sudah lama mencemari air tanah di daerah sekitarnya dan menutup-nutupi fakta yang mendatangkan bencana kesehatan terhadap penduduk di daerah tersebut ... sampai seorang wanita pengangguran yang sedang magang di kantor pengacara Edward Masry datang. Untuk tema yang maha penting ini, walaupun penampilan Julia Roberts tidak terlalu berbeda dari penampilan sepuluh tahun sebelumnya dalam Pretty Woman (she only looks older and a little bit wiser here :-)), Roberts berhasil menggondol piala Oscar untuk Aktres Terbaik.
The China Syndrome, Silkwood, Erin Brockovich dapat anda temukan di eBay.com
Tiga perusahaan penghasil energi menyembunyikan fakta buruk dari mata publik.
Sering luput dari concern kita bahwa produksi (dan konsumsi) energi sering dibarengi dengan produksi limbah yang mencemari lingkungan -- dan karena kita hidup di dalamnya, limbah tersebut juga mencemari kesehatan kita. Sadar atau tidak, kita sering tidak ingin memikirkan hal tersebut -- mungkin karena subconsciously kita mempunyai harapan bahwa planet kita mampu dengan sendirinya membersihkan segala kotoran tersebut. So, tidak mengherankan kalau topik pencemaran lingkungan bukan topik yang hot untuk difilmkan -- film-2nya sering terasa kering karena mengandung banyak jargon atau terminologi hukum dan teknis.
The China Syndrome (1979)
Tiga tahun setelah All the President's Men yang membongkar skandal riel Watergate, dalam film fiksi ini Jane Fonda berperan sebagai investigative journalist, Kimberly Wells, yang membongkar kelalaian prosedur keamanan di perusahaan pembangkit listrik bertenaga nuklir di Los Angeles. Coincidently, dua minggu sebelum film ini diputar, reaktor nuklir di negara bagian Pennsylvania mengalami kecelakaan yang sama seperti cerita dalam film ini. Setelah itu kita menyaksikan dua kecelakaan nuklir yang lain dengan skala yang sama, yaitu di Chernobyl, USSR, dan baru-2 ini di Fukushima, Jepang. So, walaupun fiktif film ini mempunyai dasar yang ilmiah. Peran Fonda dalam film ini terasa sama persis seperti dalam kehidupan nyatanya sebagai seorang social activist. Tetapi Jack Lemmon-lah yang aktingnya menciptakan realisme dari film “near miss” ini.
Silkwood (1983)
Lagi-2 perusahaan yang berhubungan dengan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Berdasarkan kisah nyata, perusahaan ini berusaha meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya. Hmmm, ada berapa banyak ya perusahaan yang meningkatkan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan karyawannya?? Dan di perusahaan ini resikonya tidak main-2: pencemaran radioaktif terhadap karyawannya. Dan mereka yang mengetahuinya justru menutup-nutupinya. Akhirnya karyawan sendiri yang harus turun tangan menyelidiki dan memperkarakan bosnya. Dan berakibat fatal! Selepas dari Sophie's Choice (1982), Meryl Streep dengan sangat meyakinkan memainkan perannya sebagai buruh pekerja.
Erin Brockovich (2000)
Berdasarkan kisah nyata juga, perusahaan penghasil gas alam di California ini sudah lama mencemari air tanah di daerah sekitarnya dan menutup-nutupi fakta yang mendatangkan bencana kesehatan terhadap penduduk di daerah tersebut ... sampai seorang wanita pengangguran yang sedang magang di kantor pengacara Edward Masry datang. Untuk tema yang maha penting ini, walaupun penampilan Julia Roberts tidak terlalu berbeda dari penampilan sepuluh tahun sebelumnya dalam Pretty Woman (she only looks older and a little bit wiser here :-)), Roberts berhasil menggondol piala Oscar untuk Aktres Terbaik.
Wednesday, 20 March 2013
The Tailor of Panama
Resensi Film: The Tailor of Panama (7.8/10)
Tahun Keluar: 2001
Negara Asal: USA, Ireland
Sutradara: John Boorman
Cast: Pierce Brosnan, Geoffrey Rush, Jamie Lee Curtis
Film kecil thriller espionase ini hampir saja luput dari perhatian penulis, if not because of Geoffrey Rush! :-)
Andrew 'Andy' Osnard (Pierce Brosnan), seorang agen MI6, disingkirkan dari posnya di Madrid, Spanyol, gara-2 skandal pribadi dengan wanita simpanan seorang pejabat tinggi di negeri tersebut dan dibuang/diasingkan ke Panama City, Panama. Selalu berpikiran korup, alias berniat memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan pribadi, Andy dengan cepat dan to-the-point “menitik” kontaknya di kota tujuan yang baru tersebut. Kontak tersebut adalah Harold 'Harry' Pendel (Geoffrey Rush), seorang imigran terpandang dari Inggris, sekaligus tukang jahit ternama di kota tersebut dengan jaringan pelanggan sampai ke presiden Panama. Dan tidak hanya itu saja, Harry menikah dengan Louisa (Jamie Lee Curtis), seorang wanita Amerika dari keluarga terpandang yang kebetulan menjabat posisi sebagai asisten direktur dari Panama Canal Authority. Tetapi Harry menyimpan masa lalu yang gelap di Inggris sebagai seorang bekas kriminal, situasi yang sangat disukai dan sengaja dimanfaatkan Andy untuk mem-blackmail Harry. Di bawah ancaman Andy, Harry terpaksa menjadi kontak, membawa dan memperkenalkan Andy ke pelanggannya dari kalangan elite/higher circle di Panama City. Sama sekali tidak puas dengan apa yang diberikan Harry dan mengetahui Harry sedang kesulitan keuangan, Andy mendorong (baca: memaksa) Harry untuk memberikan informasi yang “berguna” (baca: “bernilai uang”). Terpojok karena kesulitan keuangan tersebut, Harry akhirnya menyerah ke situasi yang ada. Dengan menggunakan pengetahuan dari pekerjaan istrinya dan reputasi dari teman-2 seperjuangannya, Harry menciptakan plot seakan-2 pemerintah Panama berencana menjual Panama Canal ke pihak musuh. Mengetahui sepenuhnya bahwa Harry ngibul, Andy mulai menghadiahi informasi tersebut dengan uang. Dan semakin besar ngibulnya, semakin besar uangnya. Sampai suatu saat Harry menyadari bahwa plot ciptaannya tersebut ternyata “hidup” betulan, yaitu dengan istrinya mulai curiga, teman-2 seperjuangannya mulai diburu oleh pihak otoritas Panama, dan CIA/Pentagon mulai mempersiapkan invasi militer ke Panama. Oh, Harry ... what have you done?! :-)
Walaupun Brosnan memperoleh first billing dan menyegarkan menyaksikan dia memerankan agen MI6 yang karakterisasinya terbalik dari James Bond, Rush adalah kunci kekuatan film ini. Sebagai aktor yang lebih berpengalaman, Rush menangani portfolio yang lebih kompleks: businessman tetapi romantis/gak tegaan, terpandang tetapi bermasa lalu gelap, dekat dengan kekuasaan tetapi sekaligus politically and socially conscious. Brosnan membuktikan dirinya mampu mengimbangi Rush, dan dinamika di antara mereka berdua sangat menarik untuk ditonton: Brosnan sebagai orang yang tidak punya niat menjadi orang baik dan Rush sebaliknya sebagai orang yang punya niat menjadi orang baik. Jamie Lee Curtis tampil restrained and controlled, dan menyumbang scene penutup yang manis, humane, dan tidak terduga. Anggota cast pendukung yang lain, Leonor Varela sebagai Marta dan Brendan Gleeson sebagai Michelangelo 'Mickie' Abraxas juga tampil meyakinkan. Daniel Radcliffe, saat itu berusia 11 tahun, tampil untuk pertama kalinya dalam film sebagai anak dari Harry dan Louisa -- oh, siapa yang nyangka dia menjadi tenar sebagai Harry Potter! :-) Dengan script yang ketat dan rapi, pengarahan yang imajinatif -- scene pembuka ketika Rush memotong kain betul-2 menghanyutkan atau scene Uncle Benny sebagai suara hati nurani Harry juga imajinatif, setting lokasi yang eksotik, dan musik yang meng-accentuate lokasinya, dibandingkan dengan Tinker Tailor Soldier Spy (2011), dari penulis novel yang sama, John le Carré, yang jauh lebih besar dan kompleks -- dan kering, The Tailor of Panama adalah film yang kecil dan sederhana -- and yet memiliki semua elemen thriller espionase yang lengkap dan menghibur. Satu-2nya pihak yang mungkin tidak suka dengan film ini adalah CIA atau Pentagon ... :-)
* 7.8/10
The Tailor of Panama dapat anda temukan di eBay.com
Tahun Keluar: 2001
Negara Asal: USA, Ireland
Sutradara: John Boorman
Cast: Pierce Brosnan, Geoffrey Rush, Jamie Lee Curtis
Film kecil thriller espionase ini hampir saja luput dari perhatian penulis, if not because of Geoffrey Rush! :-)
Andrew 'Andy' Osnard (Pierce Brosnan), seorang agen MI6, disingkirkan dari posnya di Madrid, Spanyol, gara-2 skandal pribadi dengan wanita simpanan seorang pejabat tinggi di negeri tersebut dan dibuang/diasingkan ke Panama City, Panama. Selalu berpikiran korup, alias berniat memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan pribadi, Andy dengan cepat dan to-the-point “menitik” kontaknya di kota tujuan yang baru tersebut. Kontak tersebut adalah Harold 'Harry' Pendel (Geoffrey Rush), seorang imigran terpandang dari Inggris, sekaligus tukang jahit ternama di kota tersebut dengan jaringan pelanggan sampai ke presiden Panama. Dan tidak hanya itu saja, Harry menikah dengan Louisa (Jamie Lee Curtis), seorang wanita Amerika dari keluarga terpandang yang kebetulan menjabat posisi sebagai asisten direktur dari Panama Canal Authority. Tetapi Harry menyimpan masa lalu yang gelap di Inggris sebagai seorang bekas kriminal, situasi yang sangat disukai dan sengaja dimanfaatkan Andy untuk mem-blackmail Harry. Di bawah ancaman Andy, Harry terpaksa menjadi kontak, membawa dan memperkenalkan Andy ke pelanggannya dari kalangan elite/higher circle di Panama City. Sama sekali tidak puas dengan apa yang diberikan Harry dan mengetahui Harry sedang kesulitan keuangan, Andy mendorong (baca: memaksa) Harry untuk memberikan informasi yang “berguna” (baca: “bernilai uang”). Terpojok karena kesulitan keuangan tersebut, Harry akhirnya menyerah ke situasi yang ada. Dengan menggunakan pengetahuan dari pekerjaan istrinya dan reputasi dari teman-2 seperjuangannya, Harry menciptakan plot seakan-2 pemerintah Panama berencana menjual Panama Canal ke pihak musuh. Mengetahui sepenuhnya bahwa Harry ngibul, Andy mulai menghadiahi informasi tersebut dengan uang. Dan semakin besar ngibulnya, semakin besar uangnya. Sampai suatu saat Harry menyadari bahwa plot ciptaannya tersebut ternyata “hidup” betulan, yaitu dengan istrinya mulai curiga, teman-2 seperjuangannya mulai diburu oleh pihak otoritas Panama, dan CIA/Pentagon mulai mempersiapkan invasi militer ke Panama. Oh, Harry ... what have you done?! :-)
Walaupun Brosnan memperoleh first billing dan menyegarkan menyaksikan dia memerankan agen MI6 yang karakterisasinya terbalik dari James Bond, Rush adalah kunci kekuatan film ini. Sebagai aktor yang lebih berpengalaman, Rush menangani portfolio yang lebih kompleks: businessman tetapi romantis/gak tegaan, terpandang tetapi bermasa lalu gelap, dekat dengan kekuasaan tetapi sekaligus politically and socially conscious. Brosnan membuktikan dirinya mampu mengimbangi Rush, dan dinamika di antara mereka berdua sangat menarik untuk ditonton: Brosnan sebagai orang yang tidak punya niat menjadi orang baik dan Rush sebaliknya sebagai orang yang punya niat menjadi orang baik. Jamie Lee Curtis tampil restrained and controlled, dan menyumbang scene penutup yang manis, humane, dan tidak terduga. Anggota cast pendukung yang lain, Leonor Varela sebagai Marta dan Brendan Gleeson sebagai Michelangelo 'Mickie' Abraxas juga tampil meyakinkan. Daniel Radcliffe, saat itu berusia 11 tahun, tampil untuk pertama kalinya dalam film sebagai anak dari Harry dan Louisa -- oh, siapa yang nyangka dia menjadi tenar sebagai Harry Potter! :-) Dengan script yang ketat dan rapi, pengarahan yang imajinatif -- scene pembuka ketika Rush memotong kain betul-2 menghanyutkan atau scene Uncle Benny sebagai suara hati nurani Harry juga imajinatif, setting lokasi yang eksotik, dan musik yang meng-accentuate lokasinya, dibandingkan dengan Tinker Tailor Soldier Spy (2011), dari penulis novel yang sama, John le Carré, yang jauh lebih besar dan kompleks -- dan kering, The Tailor of Panama adalah film yang kecil dan sederhana -- and yet memiliki semua elemen thriller espionase yang lengkap dan menghibur. Satu-2nya pihak yang mungkin tidak suka dengan film ini adalah CIA atau Pentagon ... :-)
* 7.8/10
The Tailor of Panama dapat anda temukan di eBay.com
Wednesday, 6 February 2013
Quantum of Solace
Resensi Film: Quantum of Solace (6.5/10)
Tahun Keluar: 2008
Negara Asal: UK
Sutradara: Marc Forster
Cast: Daniel Craig, Olga Kurylenko, Mathieu Amalric, Judi Dench, Giancarlo Giannini
Plot: Melanjutkan plot dari Casino Royale, James Bond menelusuri jejak jaringan terorisme internasional, Quantum, dan menemukan konspirasi pemimpinnya, Dominic Greene, untuk menguasai sumber daya air di Bolivia (IMDb).
Ada pepatah mengatakan: “When you're at the top, the only way you can go is down.”
Despite tujuan dan usaha baik dari filmmaker, film lanjutan dari Casino Royale ini mengalami nasib persis sama seperti kata pepatah di atas. Ketika film diproduksi, WGA (Writers Guild of America -- perserikatan penulis script di AS) sedang melancarkan aksi mogok menulis. Akibatnya, anggota cast yang bukan penulis -- yang semestinya tidak menulis -- mesti ikut rembukan menulis, a.l. sang sutradara sendiri, Marc Forster, dan Daniel Craig! Craig? Ikut menulis script?! Lebih parah lagi, script ditulis dan di-revisi sementara shooting berlangsung. Hasilnya, mengerikan ... :-) Kalau dalam Casino Royale semua elemen yang menyusun film Bond tampil secara seimbang, dalam film ini yang tersisa hanyalah bitterness (marah) dan revenge (balas dendam). Bond-nya bitter, vengeful, dan vindictive; Bond girl-nya (Olga Kurylenko) juga ikut bitter, vengeful, dan vindictive. Untuk pertama kali dalam sejarah film Bond, antara Bond dan Bond girl tidak ada chemistry/saling ketertarikan. Apakah ini awal dari akhir untuk Bond girl?
Mathieu Amalric, aktor berpengalaman asal Perancis, adalah aktor sekelas Mads Mikkelsen. Namun sayang dia tampil dalam film Bond yang script-nya buruk. Perannya sebagai Dominic Greene, pemimpin jaringan terorisme internasional yang bersembunyi di balik kedok philanthropist (pecinta manusia) dan environmentalist (pecinta lingkungan), ternyata tidak dibarengi dengan karakterisasi yang sepadan, instead dia ditampilkan sebagai “common criminal in a suit.” Ini betul-2 BIG let down (gagal memenuhi harapan) -- mempertimbangkan harapan tinggi penonton terhadap karakternya dari film sebelumnya. Judi Dench, seperti biasanya, tampil meyakinkan, tetapi bahkan aktres sekaliber Dench-pun tidak berhasil mengangkat script dari absurdity. Giancarlo Giannini, yang dalam film sebelumnya perannya melengkapi palette warna hubungannya dengan Bond dengan abu-2, dalam film ini kehadirannya terasa unneeded, tidak diperlukan. Last but not least, bahkan usaha Gemma Arterton me-reprise scene Shirley Eaton dalam Goldfinger (1964) tidak berhasil menyelamatkan film ini.
Setelah segalanya melambung tinggi dalam Casino Royale, semuanya terperosok masuk ke dalam "abyss" dalam film ini. Quantum of Solace dengan mudah menjadi film Bond yang terburuk, dimana para penggemar Bond lebih senang melupakannya.
* 6.5/10
Quantum of Solace dapat anda temukan di eBay.com
Tahun Keluar: 2008
Negara Asal: UK
Sutradara: Marc Forster
Cast: Daniel Craig, Olga Kurylenko, Mathieu Amalric, Judi Dench, Giancarlo Giannini
Plot: Melanjutkan plot dari Casino Royale, James Bond menelusuri jejak jaringan terorisme internasional, Quantum, dan menemukan konspirasi pemimpinnya, Dominic Greene, untuk menguasai sumber daya air di Bolivia (IMDb).
Ada pepatah mengatakan: “When you're at the top, the only way you can go is down.”
Despite tujuan dan usaha baik dari filmmaker, film lanjutan dari Casino Royale ini mengalami nasib persis sama seperti kata pepatah di atas. Ketika film diproduksi, WGA (Writers Guild of America -- perserikatan penulis script di AS) sedang melancarkan aksi mogok menulis. Akibatnya, anggota cast yang bukan penulis -- yang semestinya tidak menulis -- mesti ikut rembukan menulis, a.l. sang sutradara sendiri, Marc Forster, dan Daniel Craig! Craig? Ikut menulis script?! Lebih parah lagi, script ditulis dan di-revisi sementara shooting berlangsung. Hasilnya, mengerikan ... :-) Kalau dalam Casino Royale semua elemen yang menyusun film Bond tampil secara seimbang, dalam film ini yang tersisa hanyalah bitterness (marah) dan revenge (balas dendam). Bond-nya bitter, vengeful, dan vindictive; Bond girl-nya (Olga Kurylenko) juga ikut bitter, vengeful, dan vindictive. Untuk pertama kali dalam sejarah film Bond, antara Bond dan Bond girl tidak ada chemistry/saling ketertarikan. Apakah ini awal dari akhir untuk Bond girl?
Mathieu Amalric, aktor berpengalaman asal Perancis, adalah aktor sekelas Mads Mikkelsen. Namun sayang dia tampil dalam film Bond yang script-nya buruk. Perannya sebagai Dominic Greene, pemimpin jaringan terorisme internasional yang bersembunyi di balik kedok philanthropist (pecinta manusia) dan environmentalist (pecinta lingkungan), ternyata tidak dibarengi dengan karakterisasi yang sepadan, instead dia ditampilkan sebagai “common criminal in a suit.” Ini betul-2 BIG let down (gagal memenuhi harapan) -- mempertimbangkan harapan tinggi penonton terhadap karakternya dari film sebelumnya. Judi Dench, seperti biasanya, tampil meyakinkan, tetapi bahkan aktres sekaliber Dench-pun tidak berhasil mengangkat script dari absurdity. Giancarlo Giannini, yang dalam film sebelumnya perannya melengkapi palette warna hubungannya dengan Bond dengan abu-2, dalam film ini kehadirannya terasa unneeded, tidak diperlukan. Last but not least, bahkan usaha Gemma Arterton me-reprise scene Shirley Eaton dalam Goldfinger (1964) tidak berhasil menyelamatkan film ini.
Setelah segalanya melambung tinggi dalam Casino Royale, semuanya terperosok masuk ke dalam "abyss" dalam film ini. Quantum of Solace dengan mudah menjadi film Bond yang terburuk, dimana para penggemar Bond lebih senang melupakannya.
* 6.5/10
Quantum of Solace dapat anda temukan di eBay.com
Sunday, 20 January 2013
Casino Royale
Resensi Film: Casino Royale (8.0/10)
Tahun Keluar: 2006
Negara Asal: UK
Sutradara: Martin Campbell
Cast: Daniel Craig, Eva Green, Mads Mikkelsen, Judi Dench, Giancarlo Giannini
Plot: Setelah memperoleh status double-O (licence to kill), James Bond mengusut jejak jaringan terorisme internasional dari seorang perakit bom di Madagascar, ke seorang associate di kepulauan Bahama, ke seorang banker/penyandang dana di Montenegro, dan akhirnya ke seorang liaison/penghubung dari jaringan tersebut di Venice, Italy (IMDb).
Sama seperti personal computer yang perlu di-reboot kalau memorinya jenuh, Casino Royale adalah "reboot" dari series James Bond -- menyediakan timeline baru dan cerita yang bukan prequel (pendahulu) atau sequel (lanjutan) dari film-2 Bond sebelumnya. "Reboot" ini memberi peluang kepada filmmaker untuk mendefinisi-ulang pakem James Bond. Ketika film ini dibuat, tokoh spionase yang sedang populer saat itu adalah JB -- bukan James Bond, tetapi JB yang lain, Jason Bourne. Maka tidak mengherankan, James Bond kali ini tidak terlalu menonjolkan suaveness, tetapi lebih ke agility (fisik dan mental yang cekatan). Dalam film ini, Bond baru saja memulai kariernya sebagai agen double-O setelah berhasil mengeliminasi agen ganda dalam tubuh MI6 -- dia nampak dingin dan brutal. Namun demikian, bukan itu saja, dia juga menampilkan emosi yang riel -- selanjutnya di dalam film, kita menemukan Bond yang bisa simpati, bisa sakit, bisa kecewa, dan yang paling penting: bisa serius dan bisa patah hati! (satu hal yang tidak pernah terjadi pada Sean Connery atau Roger Moore -- dalam Bond mereka, semua percintaan yang terjadi hanyalah "intermezzo" belaka, tidak pernah serius). Menengok ke belakang secara penuh, penampilan Daniel Craig ini sesungguhnya mirip dengan penampilan dua pendahulunya yang lain: George Lazenby -- yang dalam filmnya, On Her Majesty's Secret Service (1969), dia mengawini kekasihnya, dan Timothy Dalton -- yang dalam dua filmnya, The Living Daylights (1987) dan Licence to Kill (1989), dia menampilkan kualitas multi-dimensi: tidak hanya rileks dan suave saja, tetapi juga personal dan emosional. Bedanya, sekarang penonton siap menerima kualitas multi-dimensi tersebut. Dengan demikian, dari segi karakterisasi, ini adalah improvement/kemajuan besar!
Bersetting di Madagascar, Czech Republic (untuk Montenegro), kepulauan Bahama, dan Italy, Martin Campbell berhasil ditarik kembali mengarahkan film ini setelah sukses dalam Goldeneye (1995). Ditandai dengan karakterisasi yang detil, Casino Royale juga berhasil menampilkan karakter-2 yang lain yang standout:
1) Judi Dench, sebagai M, walaupun muncul hanya di beberapa scene saja, penampilannya efektif dan memberi kedalaman terhadap hubungannya dengan Bond -- lebih dari sekedar atasan-bawahan, tetapi sebagai patron-protégé (pengasuh-anak asuh). Sebelum ini, hubungan M dengan Bond melulu adalah atasan-bawahan saja. Dalam film-2 Bond berikutnya, hubungan patron-protégé ini dieksplorasi lebih lanjut.
2) Eva Green, sebagai Bond girl, Vesper Lynd, walaupun muncul hampir satu jam setelah film dimulai, wow ... what an entrance she made! Diawali dengan prejudice/prasangka, sama seperti 'great love stories' yang lain, chemistry antara Vesper dan Bond kemudian tumbuh dan berkembang.
3) Mads Mikkelsen, sebagai musuh Bond, Le Chiffre, penampilan sinister dengan air mata darahnya surely menempatkan dirinya di antara musuh-2 Bond yang paling well-cast -- bersama dengan Joseph Wiseman dalam Dr. No (1962), Gert Fröbe dalam Goldfinger (1964), Donald Pleasence dalam You Only Live Twice (1967), dan Curd Jürgens dalam The Spy Who Loved Me (1977). Pemilihan Mikkelsen, aktor berpengalaman asal Denmark ini, menunjukkan kepiawaian produser Bond dalam meng-cast aktor non-Hollywood yang berpotensi. Sejak kemunculannya dalam film ini, penampilan Mikkelsen dalam film-2 lokalnya selalu ditinjau oleh penonton internasional.
4) Giancarlo Giannini, sebagai kontak MI6, Rene Mathis, penampilan smooth dan relax-nya juga efektif dan melengkapi palette warna hubungannya dengan Bond dengan abu-2: kawan atau lawan? trustworthy atau untrustworthy?
Karakter-2 pendukung yang lain: Jeffrey Wright sebagai agen CIA, Felix Leiter, Simon Abkarian sebagai associate dari Le Chiffre, Alex Dimitrios, Caterina Murino sebagai Bond girl, Solange, Isaac de Bankolé sebagai kepala Lord's Resistance Army, Obanno, Sébastien Foucan sebagai perakit bom, Mollaka, dan Claudio Santamaria sebagai pembawa bom, Carlos, masing-2 memperoleh screen time/kesempatan untuk "bersinar". Sedang Jesper Christensen sebagai Mr. White disimpan tetap misterius sampai akhir film -- ditujukan sebagai link/penghubung ke film Bond berikutnya.
Selain karakterisasi yang detil, Casino Royale menampilkan sequence-2 action yang fun, a.l.: sequence Bond mengejar Mollaka di area pembangunan di Madagascar, sequence Bond mengejar Carlos di bandara Miami, dan sequence Bond membuntuti Vesper Lynd ke gedung kuno yang sedang renovasi di Venice; tetapi yang paling memorable adalah:
1) Title sequence.
Tidak seperti biasanya -- menampilkan montage siluet wanita tanpa makna tertentu, title sequence dalam film ini menampilkan montage siluet Bond, dengan latar belakang design kartu yang kompleks dan inovatif, yang mencerminkan jiwa dan plot ceritanya, sekaligus melambangkan perjalanan cinta Bond.
2) Bond bertemu Vesper Lynd untuk pertama kalinya.
Penonton sama kagetnya seperti Craig ketika Green tiba-2 masuk ke dalam scene, duduk di depan Craig, dan meluncurkan serangan verbal terhadapnya dengan berondongan prejudice/prasangka, dibumbui dengan sarkasme di sana-sini (seperti Elizabeth Bennet terhadap Mr. Darcy dalam "Pride & Prejudice" :-)), membuat Craig gelagapan dan penonton menahan nafas menyaksikan pertukaran dialog yang "menyesakkan" tersebut. Wow ... what a spicy dan delicious exchange! :-) Subplot antara Bond dan Vesper ini penting untuk mengimbangi kekerasaan yang ada dalam film ini, dimana tanpa kehadirannya James Bond akan tergelincir menjadi seperti Jason Bourne belaka.
3) Turnamen poker di Casino Royale.
Walaupun sebagian besar penonton tidak mengerti permainan poker tersebut, sequence ini berhasil mengajak penonton ikut deg-2an :-)
4) Bond disiksa secara kejam oleh Le Chiffre.
Scene penyiksaan ini (bersama dengan scene fight Bond vs. Obanno di tangga hotel Casino Royale), betul-2 meruntuhkan pakem escapism film-2 Bond selama ini -- tidak ada lagi gaya Sean Connery atau Roger Moore yang bercanda ketika tertangkap oleh musuh :-) Seakan-2 membangunkan penonton dari mimpi indah selama ini bahwa pekerjaan agen rahasia adalah pekerjaan yang sadis dan kotor.
5) Di akhir film, Bond berjalan mendekati Mr. White yang merangkak kesakitan setelah kakinya tertembak.
Musik tema Bond dan introduction Bond yang legendaris disimpan sampai akhir film, yaitu ketika Bond berjalan mendekati Mr. White yang merangkak kesakitan, seraya memperkenalkan diri: "The name's Bond. James Bond." -- menciptakan klimaks untuk karakter Bond. Wow, what a climactic ending!
Last, but not least, walaupun David Arnold sudah mengiringi film-2 Bond sejak Tomorrow Never Dies (1997) dengan musiknya yang indah, baru kali ini dia berhasil menyamai pesona musik inspirator-nya, John Barry. Musiknya romantis, dengan pas menangkap perjalanan cinta Bond dan Vesper yang ill-fated tersebut.
"Reboot" dari series James Bond ini adalah kejutan yang sangat positif. Beberapa elemen yang terasa out-of-date mengalami definisi-ulang, tetapi semuanya tetap berada dalam batas-2 pakem James Bond.
Petualangan non-stop dari awal sampai akhir, Casino Royale adalah correct balance of all Bond elements. Penulis dengan percaya diri (dan senang hati) memberi rating film ini minimal sama dengan, atau bahkan lebih dari, Goldfinger (1964).
Salute, salutare, salut!
* 8.0/10
Casino Royale dapat anda temukan di eBay.com
Tahun Keluar: 2006
Negara Asal: UK
Sutradara: Martin Campbell
Cast: Daniel Craig, Eva Green, Mads Mikkelsen, Judi Dench, Giancarlo Giannini
Plot: Setelah memperoleh status double-O (licence to kill), James Bond mengusut jejak jaringan terorisme internasional dari seorang perakit bom di Madagascar, ke seorang associate di kepulauan Bahama, ke seorang banker/penyandang dana di Montenegro, dan akhirnya ke seorang liaison/penghubung dari jaringan tersebut di Venice, Italy (IMDb).
Sama seperti personal computer yang perlu di-reboot kalau memorinya jenuh, Casino Royale adalah "reboot" dari series James Bond -- menyediakan timeline baru dan cerita yang bukan prequel (pendahulu) atau sequel (lanjutan) dari film-2 Bond sebelumnya. "Reboot" ini memberi peluang kepada filmmaker untuk mendefinisi-ulang pakem James Bond. Ketika film ini dibuat, tokoh spionase yang sedang populer saat itu adalah JB -- bukan James Bond, tetapi JB yang lain, Jason Bourne. Maka tidak mengherankan, James Bond kali ini tidak terlalu menonjolkan suaveness, tetapi lebih ke agility (fisik dan mental yang cekatan). Dalam film ini, Bond baru saja memulai kariernya sebagai agen double-O setelah berhasil mengeliminasi agen ganda dalam tubuh MI6 -- dia nampak dingin dan brutal. Namun demikian, bukan itu saja, dia juga menampilkan emosi yang riel -- selanjutnya di dalam film, kita menemukan Bond yang bisa simpati, bisa sakit, bisa kecewa, dan yang paling penting: bisa serius dan bisa patah hati! (satu hal yang tidak pernah terjadi pada Sean Connery atau Roger Moore -- dalam Bond mereka, semua percintaan yang terjadi hanyalah "intermezzo" belaka, tidak pernah serius). Menengok ke belakang secara penuh, penampilan Daniel Craig ini sesungguhnya mirip dengan penampilan dua pendahulunya yang lain: George Lazenby -- yang dalam filmnya, On Her Majesty's Secret Service (1969), dia mengawini kekasihnya, dan Timothy Dalton -- yang dalam dua filmnya, The Living Daylights (1987) dan Licence to Kill (1989), dia menampilkan kualitas multi-dimensi: tidak hanya rileks dan suave saja, tetapi juga personal dan emosional. Bedanya, sekarang penonton siap menerima kualitas multi-dimensi tersebut. Dengan demikian, dari segi karakterisasi, ini adalah improvement/kemajuan besar!
Bersetting di Madagascar, Czech Republic (untuk Montenegro), kepulauan Bahama, dan Italy, Martin Campbell berhasil ditarik kembali mengarahkan film ini setelah sukses dalam Goldeneye (1995). Ditandai dengan karakterisasi yang detil, Casino Royale juga berhasil menampilkan karakter-2 yang lain yang standout:
1) Judi Dench, sebagai M, walaupun muncul hanya di beberapa scene saja, penampilannya efektif dan memberi kedalaman terhadap hubungannya dengan Bond -- lebih dari sekedar atasan-bawahan, tetapi sebagai patron-protégé (pengasuh-anak asuh). Sebelum ini, hubungan M dengan Bond melulu adalah atasan-bawahan saja. Dalam film-2 Bond berikutnya, hubungan patron-protégé ini dieksplorasi lebih lanjut.
2) Eva Green, sebagai Bond girl, Vesper Lynd, walaupun muncul hampir satu jam setelah film dimulai, wow ... what an entrance she made! Diawali dengan prejudice/prasangka, sama seperti 'great love stories' yang lain, chemistry antara Vesper dan Bond kemudian tumbuh dan berkembang.
3) Mads Mikkelsen, sebagai musuh Bond, Le Chiffre, penampilan sinister dengan air mata darahnya surely menempatkan dirinya di antara musuh-2 Bond yang paling well-cast -- bersama dengan Joseph Wiseman dalam Dr. No (1962), Gert Fröbe dalam Goldfinger (1964), Donald Pleasence dalam You Only Live Twice (1967), dan Curd Jürgens dalam The Spy Who Loved Me (1977). Pemilihan Mikkelsen, aktor berpengalaman asal Denmark ini, menunjukkan kepiawaian produser Bond dalam meng-cast aktor non-Hollywood yang berpotensi. Sejak kemunculannya dalam film ini, penampilan Mikkelsen dalam film-2 lokalnya selalu ditinjau oleh penonton internasional.
4) Giancarlo Giannini, sebagai kontak MI6, Rene Mathis, penampilan smooth dan relax-nya juga efektif dan melengkapi palette warna hubungannya dengan Bond dengan abu-2: kawan atau lawan? trustworthy atau untrustworthy?
Karakter-2 pendukung yang lain: Jeffrey Wright sebagai agen CIA, Felix Leiter, Simon Abkarian sebagai associate dari Le Chiffre, Alex Dimitrios, Caterina Murino sebagai Bond girl, Solange, Isaac de Bankolé sebagai kepala Lord's Resistance Army, Obanno, Sébastien Foucan sebagai perakit bom, Mollaka, dan Claudio Santamaria sebagai pembawa bom, Carlos, masing-2 memperoleh screen time/kesempatan untuk "bersinar". Sedang Jesper Christensen sebagai Mr. White disimpan tetap misterius sampai akhir film -- ditujukan sebagai link/penghubung ke film Bond berikutnya.
Selain karakterisasi yang detil, Casino Royale menampilkan sequence-2 action yang fun, a.l.: sequence Bond mengejar Mollaka di area pembangunan di Madagascar, sequence Bond mengejar Carlos di bandara Miami, dan sequence Bond membuntuti Vesper Lynd ke gedung kuno yang sedang renovasi di Venice; tetapi yang paling memorable adalah:
1) Title sequence.
Tidak seperti biasanya -- menampilkan montage siluet wanita tanpa makna tertentu, title sequence dalam film ini menampilkan montage siluet Bond, dengan latar belakang design kartu yang kompleks dan inovatif, yang mencerminkan jiwa dan plot ceritanya, sekaligus melambangkan perjalanan cinta Bond.
2) Bond bertemu Vesper Lynd untuk pertama kalinya.
Penonton sama kagetnya seperti Craig ketika Green tiba-2 masuk ke dalam scene, duduk di depan Craig, dan meluncurkan serangan verbal terhadapnya dengan berondongan prejudice/prasangka, dibumbui dengan sarkasme di sana-sini (seperti Elizabeth Bennet terhadap Mr. Darcy dalam "Pride & Prejudice" :-)), membuat Craig gelagapan dan penonton menahan nafas menyaksikan pertukaran dialog yang "menyesakkan" tersebut. Wow ... what a spicy dan delicious exchange! :-) Subplot antara Bond dan Vesper ini penting untuk mengimbangi kekerasaan yang ada dalam film ini, dimana tanpa kehadirannya James Bond akan tergelincir menjadi seperti Jason Bourne belaka.
3) Turnamen poker di Casino Royale.
Walaupun sebagian besar penonton tidak mengerti permainan poker tersebut, sequence ini berhasil mengajak penonton ikut deg-2an :-)
4) Bond disiksa secara kejam oleh Le Chiffre.
Scene penyiksaan ini (bersama dengan scene fight Bond vs. Obanno di tangga hotel Casino Royale), betul-2 meruntuhkan pakem escapism film-2 Bond selama ini -- tidak ada lagi gaya Sean Connery atau Roger Moore yang bercanda ketika tertangkap oleh musuh :-) Seakan-2 membangunkan penonton dari mimpi indah selama ini bahwa pekerjaan agen rahasia adalah pekerjaan yang sadis dan kotor.
5) Di akhir film, Bond berjalan mendekati Mr. White yang merangkak kesakitan setelah kakinya tertembak.
Musik tema Bond dan introduction Bond yang legendaris disimpan sampai akhir film, yaitu ketika Bond berjalan mendekati Mr. White yang merangkak kesakitan, seraya memperkenalkan diri: "The name's Bond. James Bond." -- menciptakan klimaks untuk karakter Bond. Wow, what a climactic ending!
Last, but not least, walaupun David Arnold sudah mengiringi film-2 Bond sejak Tomorrow Never Dies (1997) dengan musiknya yang indah, baru kali ini dia berhasil menyamai pesona musik inspirator-nya, John Barry. Musiknya romantis, dengan pas menangkap perjalanan cinta Bond dan Vesper yang ill-fated tersebut.
"Reboot" dari series James Bond ini adalah kejutan yang sangat positif. Beberapa elemen yang terasa out-of-date mengalami definisi-ulang, tetapi semuanya tetap berada dalam batas-2 pakem James Bond.
Petualangan non-stop dari awal sampai akhir, Casino Royale adalah correct balance of all Bond elements. Penulis dengan percaya diri (dan senang hati) memberi rating film ini minimal sama dengan, atau bahkan lebih dari, Goldfinger (1964).
Salute, salutare, salut!
* 8.0/10
Casino Royale dapat anda temukan di eBay.com
Sunday, 30 December 2012
Die Another Day
Resensi Film: Die Another Day (7.5/10)
Tahun Keluar: 2002
Negara Asal: UK
Sutradara: Lee Tamahori
Cast: Pierce Brosnan, Halle Berry, Toby Stephens, Rosamund Pike
Plot: Setelah terbuka samarannya, tertangkap, dan dibebaskan melalui pertukaran tahanan, James Bond mengusut identitas agen MI6 yang berkhianat dari Hong Kong, ke Kuba, dan akhirnya ke Eslandia, dan menemukan konspirasi penyelundupan "blood diamond"*) untuk mengkonstruksi senjata luar angkasa bertenaga sinar matahari untuk menghancurkan dunia (IMDb).
*) Blood diamond = Berlian yang diperoleh dari daerah perang di Sierra Leone dan dijual untuk membiayai perang tersebut.
Setelah lebih dari satu dasawarsa tidak menemukan musuh a la "perang dingin", Presiden AS saat itu, George W. Bush, melalui pidato "axis of evil"-nya, akhirnya memberi inspirasi kepada produser film Bond bahwa dunia masih punya musuh, yaitu Korea Utara! Korea Utara masuk, Kuba -- musuh AS dari dulu sampai sekarang -- sekalian masuk juga. Namun demikian, tradisi film Bond dari awal adalah musuh-2 Bond tidak pernah negara atau pemerintah (apalagi rakyat), tetapi selalu oknum/renegade, yaitu orang yang berlawanan dengan pemerintah resmi. Maka, walaupun musuh Bond dalam film ini berasal dari Korea Utara, musuh tersebut adalah oknum. Sedang Kuba, yang pelayanan kesehatannya lebih superior daripada AS (diakui sendiri oleh filmmaker/social critic Michael Moore), mendapat peran terhormat sebagai setting dari klinik terapi genetika yang mutakhir -- pasien bisa berganti ras sesuai dengan keinginannya :-) ... betul-2 mind-boggling, mencengangkan.
Die Another Day di-release bertepatan dengan ulang tahun series ini ke 40. Plotnya me-reprise plot dari Diamonds Are Forever (1971), Halle Berry me-reprise scene Ursula Andress muncul dari laut seraya mengenakan bikini dalam Dr. No (1962). Berbagai gadget yang pernah digunakan dalam film-2 Bond sebelumnya dipajang di gudang tempat kerja Q di London Underground, a.l. jetpack yang dikenakan Sean Connery dalam Thunderball (1965) dan sepatu berujung pisau beracun yang dipakai Rosa Klebb (Lotte Lenya) dalam From Russia with Love (1963). Q kemudian mengatakan kepada Bond bahwa arloji yang dia persiapkan adalah “your 20th, I believe”, sebagai referensi bahwa Die Another Day adalah film Bond ke 20.
Bersetting di Hong Kong, Spanyol (untuk Kuba), dan Eslandia, Die Another menandai era baru dari 1) sisi produksinya, yaitu penggunaan CGI (computer-generated imagery) yang lebih dari cukup untuk menciptakan scene-2 action yang impossible, yang tidak mungkin dilakukan dengan stunt normal, misalnya scene Icarus mengejar Bond dan menghancurkan teluk es di Eslandia; dan 2) sisi karakter Bond-nya (!) Film terakhir Pierce Brosnan ini menampilkan Bond yang tidak hanya cool, suave, dan ber-tuxedo saja, tetapi juga Bond yang bisa merasa sakit, dendam, kecewa, tampil kotor, gondrong, dan tidak terurus. Sean Connery tidak pernah sampai emosional, kotor, dan gondrong ... apalagi Roger Moore! :-) Sebagai penggemar Bond yang mengikuti series ini dari awal, scene Bond disiksa secara kejam dalam title sequence terasa begitu vivid/graphic, terasa begitu un-Bond. Tetapi dimensi baru dari karakter Bond ini adalah jalan pembuka untuk Bond berikutnya, Daniel Craig -- Bond yang worn-out (capek), veteran (terlalu banyak cedera), bitter, dan patah hati. Selain scene kekerasan yang grafik dan riel, film ini adalah film Bond pertama yang menampilan adegan seks secara eksplisit; sebelumnya selalu implisit -- maksudnya, setelah semuanya berakhir (sebelum atau setelah, tetapi tidak pernah ketika sedang ... :-)) Untuk pasar AS, untuk menerima rating PG-13, adegan eksplisit ini harus dipotong.
Tidak dapat dipungkiri Halle Berry menjadi atraksi utama dalam film ini, bersama dengan mobil Aston Martin Vanquish yang bisa vanish, menghilang. Namun demikian, cast pendukung yang lain juga berhasil menarik perhatian penonton: Toby Stephens sebagai villain hasil rekayasa genetika, Rick Yune sebagai henchman hasil setengah jadi rekayasa genetika, dan Rosamund Pike sebagai agen ganda MI6. Madonna, selain menyanyikan lagu tema, juga tampil singkat sebagai pelatih anggar sang villain.
Not bad at all sebagai film perpisahan Brosnan.
* 7.5/10
Die Another Day dapat anda temukan di eBay.com
Tahun Keluar: 2002
Negara Asal: UK
Sutradara: Lee Tamahori
Cast: Pierce Brosnan, Halle Berry, Toby Stephens, Rosamund Pike
Plot: Setelah terbuka samarannya, tertangkap, dan dibebaskan melalui pertukaran tahanan, James Bond mengusut identitas agen MI6 yang berkhianat dari Hong Kong, ke Kuba, dan akhirnya ke Eslandia, dan menemukan konspirasi penyelundupan "blood diamond"*) untuk mengkonstruksi senjata luar angkasa bertenaga sinar matahari untuk menghancurkan dunia (IMDb).
*) Blood diamond = Berlian yang diperoleh dari daerah perang di Sierra Leone dan dijual untuk membiayai perang tersebut.
Setelah lebih dari satu dasawarsa tidak menemukan musuh a la "perang dingin", Presiden AS saat itu, George W. Bush, melalui pidato "axis of evil"-nya, akhirnya memberi inspirasi kepada produser film Bond bahwa dunia masih punya musuh, yaitu Korea Utara! Korea Utara masuk, Kuba -- musuh AS dari dulu sampai sekarang -- sekalian masuk juga. Namun demikian, tradisi film Bond dari awal adalah musuh-2 Bond tidak pernah negara atau pemerintah (apalagi rakyat), tetapi selalu oknum/renegade, yaitu orang yang berlawanan dengan pemerintah resmi. Maka, walaupun musuh Bond dalam film ini berasal dari Korea Utara, musuh tersebut adalah oknum. Sedang Kuba, yang pelayanan kesehatannya lebih superior daripada AS (diakui sendiri oleh filmmaker/social critic Michael Moore), mendapat peran terhormat sebagai setting dari klinik terapi genetika yang mutakhir -- pasien bisa berganti ras sesuai dengan keinginannya :-) ... betul-2 mind-boggling, mencengangkan.
Die Another Day di-release bertepatan dengan ulang tahun series ini ke 40. Plotnya me-reprise plot dari Diamonds Are Forever (1971), Halle Berry me-reprise scene Ursula Andress muncul dari laut seraya mengenakan bikini dalam Dr. No (1962). Berbagai gadget yang pernah digunakan dalam film-2 Bond sebelumnya dipajang di gudang tempat kerja Q di London Underground, a.l. jetpack yang dikenakan Sean Connery dalam Thunderball (1965) dan sepatu berujung pisau beracun yang dipakai Rosa Klebb (Lotte Lenya) dalam From Russia with Love (1963). Q kemudian mengatakan kepada Bond bahwa arloji yang dia persiapkan adalah “your 20th, I believe”, sebagai referensi bahwa Die Another Day adalah film Bond ke 20.
Bersetting di Hong Kong, Spanyol (untuk Kuba), dan Eslandia, Die Another menandai era baru dari 1) sisi produksinya, yaitu penggunaan CGI (computer-generated imagery) yang lebih dari cukup untuk menciptakan scene-2 action yang impossible, yang tidak mungkin dilakukan dengan stunt normal, misalnya scene Icarus mengejar Bond dan menghancurkan teluk es di Eslandia; dan 2) sisi karakter Bond-nya (!) Film terakhir Pierce Brosnan ini menampilkan Bond yang tidak hanya cool, suave, dan ber-tuxedo saja, tetapi juga Bond yang bisa merasa sakit, dendam, kecewa, tampil kotor, gondrong, dan tidak terurus. Sean Connery tidak pernah sampai emosional, kotor, dan gondrong ... apalagi Roger Moore! :-) Sebagai penggemar Bond yang mengikuti series ini dari awal, scene Bond disiksa secara kejam dalam title sequence terasa begitu vivid/graphic, terasa begitu un-Bond. Tetapi dimensi baru dari karakter Bond ini adalah jalan pembuka untuk Bond berikutnya, Daniel Craig -- Bond yang worn-out (capek), veteran (terlalu banyak cedera), bitter, dan patah hati. Selain scene kekerasan yang grafik dan riel, film ini adalah film Bond pertama yang menampilan adegan seks secara eksplisit; sebelumnya selalu implisit -- maksudnya, setelah semuanya berakhir (sebelum atau setelah, tetapi tidak pernah ketika sedang ... :-)) Untuk pasar AS, untuk menerima rating PG-13, adegan eksplisit ini harus dipotong.
Tidak dapat dipungkiri Halle Berry menjadi atraksi utama dalam film ini, bersama dengan mobil Aston Martin Vanquish yang bisa vanish, menghilang. Namun demikian, cast pendukung yang lain juga berhasil menarik perhatian penonton: Toby Stephens sebagai villain hasil rekayasa genetika, Rick Yune sebagai henchman hasil setengah jadi rekayasa genetika, dan Rosamund Pike sebagai agen ganda MI6. Madonna, selain menyanyikan lagu tema, juga tampil singkat sebagai pelatih anggar sang villain.
Not bad at all sebagai film perpisahan Brosnan.
* 7.5/10
Die Another Day dapat anda temukan di eBay.com
Tuesday, 4 September 2012
It's Complicated
Resensi Film: It's Complicated (7.0/10)
Tahun Keluar: 2009
Negara Asal: USA
Sutradara: Nancy Meyers
Cast: Meryl Streep, Steve Martin, Alec Baldwin
Plot: Ketika menghadiri acara wisuda anaknya, sepasang eks -- one thing led to another -- membangkitkan kembali api asmara di antara mereka. Satu kesempatan yang merupakan "kecelakaan" tersebut ternyata berkelanjutan menjadi affair serius. Masalahnya, si eks suami sudah menikah lagi dan si eks istri sudah terbiasa hidup sebagai wanita single (IMDb).
Pertama, apresiasi. Menurut organisasi riset pemasaran AC Nielsen, demografi terbesar dari pengunjung gedung bioskop adalah pria berusia 18 sampai 35 tahun. Konsekuensinya, film-2 yang diproduksi juga terbanyak untuk penonton dalam demografi tersebut. Kalau dipikir-2, kasihan nich jadi penonton yang jatuh di luar demografi tersebut -- apalagi penonton yang mulai menginjak usia setengah baya. Mosok mereka tidak diberi hiburan? Padahal kelompok ini jumlahnya (semakin) banyak (khususnya di negara-2 Barat yang mengalami 'aging population') dan mereka mempunyai kemampuan finansial (setelah anak-2nya meninggalkan rumah dan tidak menjadi beban lagi) untuk memperoleh hiburan. Mungkin pertimbangan inilah yang ada dalam benak Nancy Meyers, sang sutradara, merangkap penulis, sekaligus produser, dari film ini. Melihat catatan karier dari Meyers, dia nampaknya menulis cerita yang sesuai dengan usianya, misalnya: ketika dia berusia 30-an, dia menulis Private Benjamin (1980) -- cerita tentang wanita yang frustrasi dalam hidup percintaannya; ketika berusia 40-an, menulis remake Father of the Bride (1991) -- cerita tentang ayah yang pusing mempersiapkan acara perkawinan putrinya; dan ketika berusia 50-an, menulis Something's Gotta Give (2003) -- cerita tentang pria berusia 60-an jatuh cinta dengan wanita berusia 50-an. Film terbaru Meyers ini mungkin dibuat untuk mengulang kesuksesan Something's Gotta Give. Dari segi finansial film ini hampir menyamai kesuksesan box-office film sebelumnya, tetapi dari segi cerita dan akting tidak dapat mengalahkannya. Apresiasi juga perlu diberikan kepada Meryl Streep yang tidak takut berakting sesuai dengan usianya -- dia tidak memerlukan body-double untuk menghindari lemak di beberapa bagian tubuhnya. Alec Baldwin juga, berani mengolok-2 dada dan perutnya sendiri yang sama sekali sudah gak seksi lagi :-) Sayangnya, justru Steve Martin-lah yang wajahnya kelihatan plasticky :-)
Kedua, kritik. Dibandingkan dengan Something's Gotta Give, ceritanya predictable (mudah ditebak) dan karakterisasinya juga kurang dalam. Dari segi akting, Meryl Streep dapat menyamai pesona Diane Keaton; tetapi Streep di sini tampil rileks, nuanced, laid-back, menempatkan karakternya dalam posisi "hanyut ikut arus" (tetapi protes dalam hati), sedang Keaton tidak pernah melepaskan feminisme-nya, menempatkan karakternya dalam posisi "pegang kendali" -- so, memberi karakternya tepi yang lebih tajam. Alec Baldwin, walaupun tampil lucu dan menyenangkan, tidak dapat menyamai pesona Jack Nicholson yang justru tampil sebaliknya: irritating dan menggemaskan -- sekali lagi, memberi karakternya tepi yang lebih tajam. Akibatnya, chemistry antara Streep dan Baldwin tidak "semeletup" atau semenarik chemistry pasangan Keaton/Nicholson. Sedang karakter yang dimainkan Steve Martin terasa kurang berperan (under-developed/under-used). Untungnya, akhir ceritanya masuk akal dan tidak terjebak dalam Hollywood happy ending.
Dengan production design kota Santa Barbara dan arsitektur peninggalan Spanyol-nya yang hangat dan eksotik dan set decoration dapur koki yang elegan (dan istri yang pandai masak!), ya ... penonton percaya mengapa si eks suami ingin kembali ke cinta lamanya.
* 7.0/10
It's Complicated dapat anda temukan di eBay.com
Tuesday, 31 July 2012
Finding Nemo
Resensi Film: Finding Nemo (8.5/10)
Tahun Keluar: 2003
Negara Asal: Australia, USA
Sutradara: Andrew Stanton
Cast: Albert Brooks, Ellen DeGeneres, Alexander Gould
Plot: Setelah hilang tertangkap jaring di Great Barrier Reef, Queensland, seekor ayah (ikan badut) yang penakut terpaksa pergi berkelana ke seberang lautan untuk menemukan kembali anaknya (IMDb).
Ada pepatah yang mengatakan, “There is a child in all of us.”
Sedang filsuf Friedrich Nietzsche mengatakan, “In every person a child is hidden that wants to play.”
Well, Finding Nemo adalah film yang membuktikan betapa benarnya kata-2 pepatah tersebut. Studio Pixar dengan animasinya yang halus dan riel, dalam setiap frame-nya, berhasil menampilkan keindahan dan keajaiban alam di dalam laut – yaitu, Great Barrier Reef, ekosistem karang terbesar di dunia yang terletak di lepas pantai Queensland, Australia. Sedang script dari Andrew Stanton et al. dengan karakterisasinya yang subyektif dan sensitif berhasil membuat setiap karakter dalam film ini unik dan menarik untuk “ditemukan”. Ingatkah anda ketika anda masih kecil, ketika anda untuk pertama kalinya pergi ke sekolah, meninggalkan rumah dan orangtua anda? Penuh dengan antisipasi dan harapan, tetapi juga bercampur dengan kecemasan. Ketika anda akhirnya bertemu dengan teman-2 baru anda, reaksi anda adalah subyektif dan sensitif, misalnya: iiih, ada yang rambutnya keriting (kok ada ya rambut seperti itu?); yang ini hidungnya mancung banget (yang bener aja?!); yang itu mukanya tembem kayak kue terang bulan :-); yang di sana pitanya menyala kayak stabilo :-); yang di sini saputangannya persis kayak taplak meja :-); dan ketika gurunya muncul, warakadah ... tinggi besar kayak gendruwo :-) Setiap penemuan, tidak peduli sesederhana apapun, adalah penemuan baru! Inilah reaksi yang timbul dari script film ini -- setiap karakter, besar atau kecil, adalah penemuan baru. Tidak ada satu momen-pun, dari awal sampai akhir, yang tidak membuat anda takjub, terpesona terhadap apa yang anda lihat. Finding Nemo dengan sangat baik berhasil menemukan kembali dan membawa keluar “anak” dalam diri penonton, tidak peduli dia sudah dewasa atau masih anak-2.
Sedang filsuf Friedrich Nietzsche mengatakan, “In every person a child is hidden that wants to play.”
Well, Finding Nemo adalah film yang membuktikan betapa benarnya kata-2 pepatah tersebut. Studio Pixar dengan animasinya yang halus dan riel, dalam setiap frame-nya, berhasil menampilkan keindahan dan keajaiban alam di dalam laut – yaitu, Great Barrier Reef, ekosistem karang terbesar di dunia yang terletak di lepas pantai Queensland, Australia. Sedang script dari Andrew Stanton et al. dengan karakterisasinya yang subyektif dan sensitif berhasil membuat setiap karakter dalam film ini unik dan menarik untuk “ditemukan”. Ingatkah anda ketika anda masih kecil, ketika anda untuk pertama kalinya pergi ke sekolah, meninggalkan rumah dan orangtua anda? Penuh dengan antisipasi dan harapan, tetapi juga bercampur dengan kecemasan. Ketika anda akhirnya bertemu dengan teman-2 baru anda, reaksi anda adalah subyektif dan sensitif, misalnya: iiih, ada yang rambutnya keriting (kok ada ya rambut seperti itu?); yang ini hidungnya mancung banget (yang bener aja?!); yang itu mukanya tembem kayak kue terang bulan :-); yang di sana pitanya menyala kayak stabilo :-); yang di sini saputangannya persis kayak taplak meja :-); dan ketika gurunya muncul, warakadah ... tinggi besar kayak gendruwo :-) Setiap penemuan, tidak peduli sesederhana apapun, adalah penemuan baru! Inilah reaksi yang timbul dari script film ini -- setiap karakter, besar atau kecil, adalah penemuan baru. Tidak ada satu momen-pun, dari awal sampai akhir, yang tidak membuat anda takjub, terpesona terhadap apa yang anda lihat. Finding Nemo dengan sangat baik berhasil menemukan kembali dan membawa keluar “anak” dalam diri penonton, tidak peduli dia sudah dewasa atau masih anak-2.
Selain efek di atas, film ini mempunyai keunggulan yang lain, yaitu multi-layered storytelling atau penceritaan yang berlapis-2. Ada banyak film yang penampilan luarnya kompleks, tetapi isinya sesungguhnya dangkal; Finding Nemo justru sebaliknya. Dari luar, secara sepintas, ceritanya sederhana, yaitu ayah yang mencari anaknya yang hilang. Namun demikian, despite its outwardly simple facade, Finding Nemo adalah so much more – jauuuh lebih dari itu. Disuarakan oleh para aktor/aktres yang memahami bahwa bersuara-pun memerlukan penghayatan (selain tiga suara di atas, kita juga mendengarkan suara-2 berkarakter dari para aktor/aktres senior seperti Willem Dafoe sebagai Gill the Moorish Idol, Allison Janney sebagai Peach the Starfish :-), Geoffrey Rush (!) sebagai Nigel the Pelican :-), dan comedian Barry Humphries sebagai Bruce the Great White Shark ... whooo :-)), Finding Nemo adalah cerita tentang petualangan (dengan membawa penonton ke daerah eksotik di dalam laut yang tidak banyak kita kenal, sutradara/penulis Andrew Stanton betul-2 memahami kecintaan penonton untuk menemukan dan melihat sesuatu yang baru), cerita tentang persahabatan (antara Marlin dan Dory, antara Nemo dan teman-2nya di akuarium di Sydney), cerita tentang perjuangan hidup, cerita tentang proses menjadi dewasa, cerita tentang menemukan jati diri. Wow, di balik facade yang sederhana, anda dapat menemukan cerita yang berlapis-2!
Bersetting di dalam laut, Finding Nemo adalah metafora dari laut itu sendiri – permukaannya nampak datar dan sederhana, tetapi dalamnya ... so deep and full of creamy nuggets! Dan setelah selesai menonton film ini, para orangtua memahami anaknya lebih baik, dan para anak memahami orangtuanya lebih baik.
8.5/10
Thursday, 12 July 2012
School of Rock
Resensi Film: School of Rock (7.8/10)
Tahun Keluar: 2003
Negara Asal: USA, Germany
Sutradara: Richard Linklater
Cast: Jack Black, Joan Cusack, Mike White, Miranda Cosgrove, Sarah Silverman
Plot: Dipecat dari grup rock band-nya karena dinilai terlalu fanatik, Dewey Finn terancam kehilangan atap di atas kepalanya karena sudah lama nunggak biaya sewanya. Out of desperation, dia "membajak" lowongan pekerjaan untuk temannya, Ned Schneebly, dan berpura-2 menjadi guru di sebuah sekolah dasar (IMDb).
Masih dalam tema yang sama seperti Tootsie (1982), pemeran utama dalam film ini adalah seorang artis yang harus berjuang untuk mencari nafkah. Sama seperti Dustin Hoffman yang sangat menjiwai perannya sebagai aktor, Jack Black juga sangat menjiwai perannya sebagai pemusik rock -- selidik punya selidik, dia ternyata adalah pemusik rock dalam kehidupan sehari-2nya; dia adalah lead singer/guitarist dalam grup rock band-nya, "Tenacious D", dan masih aktif sampai sekarang! Sama seperti Michael Dorsey (Hoffman) yang percaya bahwa dia adalah aktor yang baik, Dewey Finn (Black) juga percaya bahwa dia adalah pemusik rock yang baik ... sayangnya, hanya dia saja yang bisa mengapresiasi bakat tersebut; orang lain tidak ada yang peduli terhadapnya. Penulis rada kecewa melihat rating film ini di IMDb yang suam-2 kuku/bahkan semakin turun -- mungkin para film critic tersebut sudah kehilangan sense of humour-nya? :-) Kalau dibandingkan dengan film-2 drama, serius, high-minded, cerita dalam film ini memang sederhana dan predictable; tetapi kalau dibandingkan dengan film-2 komedi sekelasnya, film ini berada di atas rata-2. Apalagi film komedi ini dapat dinikmati oleh orang dewasa dan anak-2; bukan sekedar orang dewasa yang terpaksa pergi nonton karena harus mengantar anaknya nonton, tetapi orang dewasa yang pergi sendirian untuk menontonnya.
Satu-2nya kelemahan dalam film ini adalah cerita yang predictable dan rada ndak masuk akal. Tetapi, hey ... memangnya ada berapa banyak film yang ceritanya predictable dan ndak masuk akal? Mengapa para film critic tersebut nge-"pick on" Jack Black? :-) Menurut penulis, JB berperan sangat baik dalam film ini. Dari awal sampai akhir, JB berhasil "menularkan" spirit/antusiasme dan energi-nya ke penonton yang duduk di seberang layar. Dan sutradara film indie, Richard Linklater, mengetahui hal ini dan memberi kebebasan JB untuk bersinar. Namun demikian, Linklater tidak melupakan peran-2 yang lainnya; dia memastikan peran-2 tersebut juga bersinar: Joan Cusack tampil meyakinkan sebagai kepala sekolah yang kaku dan disiplin, yang di kemudian hari ketemon bahwa dia sesungguhnya merindukan kehidupan yang berbeda dari yang dia jalani saat ini -- di masa mudanya, dia adalah penggemar Stevie Nicks dengan "Edge of Seventeen"-nya :-) Mike White tampil meyakinkan sebagai flat mate JB, Ned Schneebly, yang terjepit antara kesetiaan terhadap teman dan pacarnya yang judes (akting White setingkat dengan akting Paul Giamatti), yang di kemudian hari ketemon bahwa di masa mudanya dia adalah anggota grup rock band :-) Sarah Silverman tampil meyakinkan sebagai pacar yang judes, sarkastik -- karakternya sengaja di-single-dimensional-kan, di-karikatur-kan, untuk menimbulkan rasa antipati/kebencian penonton terhadapnya (beberapa kali dalam 108 menit masa putar film ini penulis sempat mengumpat dalam hati: "Shut up you bitch!" :-))
Dan Linklater tidak berhenti sampai di sini saja. Dia memberi kesempatan anggota cast anak-2 untuk turut bersinar: Miranda Cosgrove, 10 tahun, sebagai Summer, anak ambisius yang menghalalkan segala cara untuk mencapai sukses -- Cosgrove hampir saja "mencuri" centre stage dari JB (Dewey menjulukinya "Tinker Bell"). Joey Gaydos Jr., 12 tahun, sebagai Zack, anak pemalu tetapi berbakat main gitar (Dewey menjulukinya "Zack-Attack"). Kevin Clark, 15 tahun, sebagai Freddy, anak bully tetapi berbakat main drum (Dewey menjulukinya "Spazzy McGee"). Rebecca Brown, 11 tahun, sebagai Katie, anak pendiam tetapi berbakat main gitar bass (Dewey menjulukinya "Posh Spice"). Robert Tsai, 15 tahun, sebagai Lawrence, anak terkucil tetapi berbakat main keyboard (Dewey menjulukinya "Mr. Cool"). Maryam Hassan, 10 tahun, sebagai Tomika, anak tidak percaya diri yang ternyata mempunyai suara merdu (Dewey menjulukinya "Songbird"). Dan semuanya yang lain -- tidak peduli sekecil apapun perannya, semuanya turut bersinar.
Penulis khususnya terkesan dengan scene ketika JB menjelaskan definisi musik rock -- bukan definisi menurut kamus, tetapi definisi menurut dia ... sticking it to "The Man"! :-)
Dewey Finn (berpose sebagai Ned Schneebly): "Yes! But, you can't just say it, man. You've gotta feel it in you're blood and guts! If you wanna rock, you gotta break the rules. You gotta get mad at the man! And right now, I'm the man. That's right, I'm the man, and who's got the guts to tell me off? Huh? Who's gonna tell me off?"
Freddy: "Shut the hell up, Schneebly!"
Dewey Finn: "That's it Freddy, that's it! Who can top him?"
Alicia: "Get outta here, stupidass."
Dewey Finn: "Yes, Alicia!"
Summer: "You're a joke, you're the worst teacher I've ever had!"
Dewey Finn: "Summer, that is great! I like the delivery because I felt your anger!"
Summer: "Thank you."
Lawrence: "You're a fat loser and you have body odour."
Dewey Finn: "... All right, all right! Now, is everybody nice and pissed off?"
Definisi musik rock dari JB ini betul-2 definisi yang paling berkesan. Ndak perlu buka kamus, langsung teringat dan selalu terkenang ... :-)
Secara keseluruhan, kelemahan film ini berhasil ditempuhi dengan kekuatannya, yaitu: 1) Jack Black, 2) Script yang pandai dan lucu, 3) Arahan Linklater yang memberi kesempatan semua cast, termasuk cast anak-2, untuk tampil unik dan bersinar, 4) Menunjukkan bagaimana musik, bahkan musik rock-pun, dapat membantu anak-2 membangun rasa percaya diri sehingga mereka mampu mencapai potensi yang ada di dalam dirinya (ini adalah hal yang sering dilupakan, apalagi di Indonesia dimana pendidikan musik boleh dikatakan tidak pernah memperoleh tempat serius -- paling-2 cuma menjadi pelajaran ekstra kurikuler), bahkan untuk anak-2 yang tidak mempunyai bakat musik sekalipun -- misalnya dalam film ini, Summer, yang pintarnya cuma nge-boss-i orang saja :-), dan last but not least, 5) Soundtracks fim ini berisi segudang musik rock dari grup-2 rock band ternama, mulai dari The Doors, AC/DC, Metallica, Led Zeppelin, Stevie Nicks, sampai David Bowie.
Anda mempunyai sense of humour? Anda penggemar musik rock? Anda semestinya dapat menikmati film ini.
Anda mempunyai sense of humour? Anda bukan penggemar musik rock? Hati-2, setelah menonton film ini anda bakalan menggemari musik rock :-)
* 7.8/10
Friday, 20 April 2012
The Motorcycle Diaries
Resensi Film: The Motorcycle Diaries (Diarios de motocicleta) (8.5/10)
Tahun Keluar: 2004
Negara Asal: Argentina, USA, Chile, Peru, Brazil, UK, Germany, France
Sutradara: Walter Salles
Cast: Gael García Bernal, Rodrigo de la Serna
Plot: Catatan perjalanan Ernesto 'Che' Guevara dan temannya, Alberto Granado, ketika mereka berpetualang mengelilingi benua Amerika Latin (IMDb).
Penulis mula-2 tidak mengetahui siapa Ernesto 'Che' Guevara ini, selain mengenalnya dari potret atau gambar wajahnya di banyak T-shirt yang dikenakan oleh anak-2 muda di negara-2 Barat. Baru setelah itu, penulis mengetahui bahwa 'Che' Guevara adalah tokoh revolusi di benua Amerika Latin, khususnya berperan dalam revolusi di Cuba. Oooh, ... makanya, 'Che' Guevara adalah idola anak-2 muda, simbol dari "hero" atau "pemberontak" -- pemberontakan terhadap sistem yang ada, pemberontakan terhadap orangtua mereka, pemberontakan terhadap segala sesuatu yang mengekang atau membatasi dirinya. 'Che' Guevara adalah anak muda, seorang idealis, dan sebagai anak muda yang menginjak dewasa, dia mempunyai panggilan untuk berperan dalam hidup ini -- dia mempunyai ide bagaimana dia dapat menyumbangkan pikiran dan tenaganya untuk memperbaiki hidup dirinya dan hidup sesamanya.
Berbeda dari sebagian film critic yang tidak menyukai film ini (di antaranya adalah Roger Ebert) karena film ini tidak menceritakan sisi politik dari 'Che', penulis justru sebaliknya -- menyukai film ini justru karena film ini tidak menceritakan sisi politik dari 'Che'. Mirip seperti cerita Chanel sebelum dia memasuki masa kejayaannya dalam film Coco avant Chanel (2009), adaptasi dari catatan perjalanan yang ditulis oleh 'Che' ini menceritakan 'Che' ketika dia muda belia -- berusia 23 tahun, satu semester sebelum dia lulus menjadi dokter, totally non-political, yang sama seperti anak-2 muda yang lain, hanya bertujuan untuk mencari kesenangan dan petualangan ketika dia dan temannya, Alberto -- juga seorang dokter muda, memutuskan untuk mengelilingi benua Amerika Latin dengan sebuah sepeda motor tua. Berasal dari keluarga kaya, 'Che' sama sekali tidak menyangka perjalanan tersebut bakal mengubah dirinya.
Aktor Meksiko, Gael García Bernal, dengan penampilannya yang dreamy memainkan perannya sebagai 'Che' dengan penuh kharisma: perasa, poetic, sensitive, dan kadang-2 foolish karena usianya yang masih muda sehingga kurang berpengalaman dalam "seni" menjalani hidup. Sedang aktor Argentina, Rodrigo de la Serna, dengan sangat baik melengkapi penampilan Bernal tersebut sebagai teman perjalanan yang lebih tua dan lebih berpengalaman. Istilahnya, keduanya saling melengkapi satu sama lain. Sejak awal penulis sudah waswas apakah sepeda motor tua tersebut, yang dijuluki La Poderosa (The Mighty One), mampu membawa mereka dari rumah mereka di Argentina ke 8,000 kilometer mengelilingi benua Amerika Latin? Dalam perjalanan tersebut, La Poderosa yang tua dan setia ini pernah kecebur masuk ke dalam sungai, pernah tergelincir di jalan bersalju, pernah nabrak sapi, ... sampai akhirnya menemui ajalnya di Chile. Sementara itu, 'Che' pernah jatuh cinta dengan seorang cewek, pernah hampir dikeroyok orang sekampung gara-2 "main mata" dengan istri orang (beruntung dia berhasil meloloskan diri), sedang Alberto yang lebih berpengalaman justru jarang mendapatkan cewek karena cewek lebih menyukai 'Che' yang dreamy. Dengan kematian La Poderosa, rute dan tempo perjalanan mereka berubah total! Tidak dapat bergerak secara bebas dan cepat lagi, ditambah dengan masalah kehabisan uang, mau tidak mau mereka harus meneruskan perjalanan secara primitive, yaitu hitchhike (cari tumpangan gratis dari penduduk lokal), atau kalau gak ketemu tumpangan ya jalan kaki (!), dan cari teman baru agar dapat makan gratis :-) Persahabatan antara 'Che' dan Alberto mengalami ujian berat: mereka berbeda pendapat, mereka bertengkar, tetapi persahabatan tidak pernah putus. Pertemuan dengan penduduk lokal di setiap tempat yang mereka singgahi ternyata adalah eye-opening experience (pengalaman yang membuka mata) untuk 'Che' dan Alberto: di suatu tempat di pegunungan Andes mereka bertemu dengan seorang petani yang kehilangan tanahnya karena perlakuan tidak adil dari pemerintah setempat; di tempat yang lain di tengah padang gurun Atacama mereka bertemu dengan sepasang suami-istri yang terlunta-2 setelah diusir dari rumahnya karena mereka adalah komunis; di tempat yang lain lagi mereka menyaksikan bagaimana perusahaan pertambangan mengeksploitasi para buruh tambang. Eye-opening experience ini diakhiri dengan mereka mengunjungi leper colony (kompleks penderita kusta) di daerah Amazon, Peru, dimana mereka dapat menyumbangkan keahlian mereka sebagai dokter. Setelah menyelesaikan perjalanan mereka di tujuan akhir di Caracas, Venezuela, 'Che' adalah orang yang berbeda dari orang yang dia kenal sebelum dia melakukan perjalanan tersebut.
Sutradara Brazil, Walter Salles, dengan sangat baik menghidupkan kembali perjalanan 'Che' dan Alberto tersebut -- melibatkan lebih dari 30 lokasi di Amerika Latin, menggunakan rute yang sama seperti yang dilalui oleh 'Che' dan Alberto, menampilkan kontras dari masing-2 lokasi tersebut, dan menggunakan aktor-2 non-professional untuk orang-2 yang ditemui dalam perjalanan tersebut. Dibantu dengan penempatan kamera yang membuat penonton seakan-2 "ikut" atau "masuk" dalam perjalanan tersebut, cinematography yang menangkap keindahan alam Amerika Latin, dan musical score yang menyiratkan budaya benua ini, film ini mempunyai nilai authenticity yang tinggi yang sangat mengesankan. Selain cerita tentang persahabatan -- penampilan Bernal dan de la Serna berhasil mencerminkan kedalaman persahabatan tersebut, film ini juga cerita tentang menemukan jati diri.
Keabsenan politik dalam film ini justru mencerminkan authenticity dari kepingan sejarah tentang tokoh revolusioner abad ke 20 yang mungkin paling illusive ini -- membuat penonton semakin ingin tahu: "So, ... terus bagaimana perjalanan 'Che' sampai akhirnya dia terlibat langsung dalam revolusi?"
Film ini adalah film untuk anak muda dan mereka yang berjiwa muda.
* 8.5/10
Subscribe to:
Posts (Atom)










