Monday, 9 May 2011

Alfie

Resensi Film: Alfie (***/4)

Tahun Keluar: 1966
Negara Asal: UK
Sutradara: Lewis Gilbert
Cast: Michael Caine, Shelley Winters, Millicent Martin

Plot: Seorang pria tidak ingin terikat oleh komitmen; sedikit demi sedikit dia akhirnya memahami konsekuensi dari gaya hidupnya (IMDb).

Ada film-2 yang harus dipahami dari konteks jamannya, Alfie adalah salah satunya. Diproduksi pada era revolusi seks pada tahun 1960-an, Alfie menampilkan script yang rapi dan tajam, menjangkau sampai ke isyu-2 yang paling gelap dari topik yang ada dan memberikan waktu yang cukup untuk masing-2 isyu tersebut untuk berkembang. Alfie juga didukung oleh para pemain dengan akting yang menjiwai masing-2 perannya. Michael Cain dengan penuh kharisma membawakan peran Alfie yang sulit dan tidak simpatik, sedemikian rupa sehingga penonton memahami mengapa wanita sampai menggandrungi pria seperti Alfie  ... tanpa kualitas ini filmnya akan terasa hampa. Ketika konsekuensi akhirnya mengejar Alfie, dengan dia menyerahkan salah satu taklukannya (dimainkan dengan sangat baik oleh Vivien Merchant) ke tangan seorang dokter gelap, ekspresi wajah Alfie ketika dia melihat hasil dari perbuatannya betul-2 layak menerima nominasi Oscar. Pemeran pembantu, aktres kawakan Shelley Winters, hampir saja mencuri spotlight dengan permainan yang mengimbangi permainan Caine sebagai Alfie.

Cerita (***)
Screenplay (***1/2)
Karakter (***)
Akting (***1/2)

Keseluruhan: ***/4

Alfie dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 6 May 2011

Elizabeth

Resensi Film: Elizabeth (***/4)

Tahun Keluar: 1998
Negara Asal: UK
Sutradara: Shekhar Kapur
Cast: Cate Blanchett, Geoffrey Rush, Christopher Eccleston

Plot: Biopic Ratu Elizabeth I pada tahun-2 awal dia menduduki tahta kerajaan Inggris, menitikberatkan pada perjuangannya menempatkan dirinya sebagai kepala kerajaan (IMDb).

Penggalan cerita tentang Ratu Elizabeth I ini termasuk salah satu dari momen-2 paling penuh intrik dalam sejarah Inggris dan hasilnya cukup memukau. Walaupun mungkin tidak sepenuhnya cocok dengan sejarah, scriptnya berhasil menampilkan perseteruan/intrik antara kelompok Katolik (pro-Roma) dan kelompok Protestan (pro-Reformasi) dengan tempo yang tinggi dari awal sampai akhir. Didukung dengan cinematography yang menawan, Shekar Kapur berhasil menciptakan scene-2 yang tajam dan menggigit -- dua yang memukau, misalnya adalah: 1) scene ketika pemimpin Roma mengirim utusan untuk membunuh Elizabeth, 2) scene ketika Elizabeth memutuskan untuk membersihkan lawan-2 politiknya. Para pemainnya juga bermain dengan meyakinkan. Cate Blanchett tidak hanya mirip dengan Elizabeth, tetapi juga menyampaikan dialog-2nya dengan dingin. Namun demikian, satu kelemahannya adalah transformasi dari ketika dia belum menjadi ratu ke ketika dia sudah menjadi ratu terasa ada loncatan yang cukup jauh ... terasa kurang cukup waktu untuk mendalami transformasi tersebut. Sebaliknya, Geoffrey Rush bermain sangat meyakinkan sebagai penasehat politik Walsingham yang berdiri di latar belakang, tetapi sangat berpengaruh. Gara-2 permainan Rush yang sangat bagus, peran Elizabeth menjadi kurang sinarnya.

Cerita (***1/2)
Screenplay (***1/2)
Karakter (***)
Akting (***)

Keseluruhan: ***/4

Elizabeth dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 4 May 2011

Paradise Road

Resensi Film: Paradise Road (**1/2/4)

Tahun Keluar: 1997
Negara Asal: Australia, USA
Sutradara: Bruce Beresford
Cast: Glenn Close, Frances McDormand, Pauline Collins, Julianna Margulies, Cate Blanchett

Plot: Sekelompok wanita Barat menjadi tahanan perang di Sumatra ketika Jepang menyerbu Asia Tenggara dan menggunakan musik sebagai cara untuk meringankan beban penderitaan (IMDb).

Berdasarkan kisah nyata yang ditulis oleh Helen Colijn dan Betty Jeffrey dalam buku-2 mereka yang berjudul "Song of Survival" dan "White Coolies", Paradise Road semestinya dapat menjadi film yang lebih menarik dan mengena seandainya scriptnya lebih berani menampilkan kecamuk yang ada di dalam hati dan pikiran para pelakunya secara lebih terbuka. Visual saja (dengan cinematography yang cukup grafik menggambarkan setting yang ada) ternyata tidak cukup menutupi kekurangan ini. Walaupun akting para bintangnya cukup bagus, secara keseluruhan penonton hanya merasakan perjalanan para pelakunya di kulitnya saja, tetapi tidak pernah sampai mendalam.

Cerita (***)
Screenplay (**1/2)
Karakter (**1/2)
Akting (**1/2)

Keseluruhan: **1/2/4

Paradise Road dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 3 May 2011

28 Days Later

Resensi Film: 28 Days Later (**1/2/4)

Tahun Keluar: 2002
Negara Asal: UK
Sutradara: Danny Boyle
Cast: Cillian Murphy, Naomie Harris, Christopher Eccleston

Plot: 28 hari setelah virus misterius menyebar ke seluruh Inggris, sekelompok orang yang selamat berusaha menemukan tempat perlindungan (IMDb).

Film diawali dengan manusia terinfeksi oleh virus misterius dan selanjutnya (sampai akhir film) cerita berkutat pada usaha survival (menyelamatkan diri) dan menemukan tempat perlindungan. Dengan cinematography yang gelap dan abu-2, penyuntingan yang cepat untuk scene-2 yang menampilkan kekerasan yang grafik dan efek suara yang menusuk telinga, film dari Danny Boyle ini adalah melulu cerita tentang survival dengan pesan di bawahnya tentang sifat alami kebinatangan manusia. Kalau anda menyukai cerita apocalyptic (kehancuran kehidupan) yang akhirnya terbuka atau tidak ada resolusinya, anda mungkin akan menyukai film ini.

Cerita (**1/2)
Screenplay (**1/2)
Karakter (**1/2)
Akting (**1/2)

Keseluruhan: **1/2/4

28 Days Later dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 2 May 2011

Jane Eyre

Resensi Film: Jane Eyre (7.7/10)

Tahun Keluar: 1943
Negara Asal: USA
Sutradara: Robert Stevenson
Cast: Orson Welles, Joan Fontaine, Margaret O'Brien, Peggy Ann Garner, Elizabeth Taylor

Plot: Setelah menjalani kehidupan pahit di sebuah asrama yatim piatu, Jane Eyre bekerja sebagai pengasuh anak di sebuah puri bangsawan yang ternyata menyimpan sebuah misteri (IMDb).

Ketika film dimulai dengan Joan Fontaine membacakan paragraf pertama dari novel Jane Eyre karya Charlotte Brontë, penonton langsung menyadari bahwa cerita yang disampaikan adalah cerita dari salah satu karya-2 sastra paling terkenal dan berpengaruh di dunia.

"My name is Jane Eyre... I was born in 1820, a harsh time of change in England. Money and position seemed all that mattered. Charity was a cold and disagreeable word. Religion too often wore a mask of bigotry and cruelty. There was no proper place for the poor or the unfortunate. I had no father or mother, brother or sister. As a child I lived with my aunt, Mrs. Reed of Gateshead Hall. I do not remember that she ever spoke one kind word to me."

Jika anda belum membaca novel Jane Eyre, film ini akan membuat anda ingin membaca novel tersebut. Film ini terbagi dalam dua bagian: Jane ketika kanak-2 di asrama yatim piatu dan Jane ketika dewasa di puri bangsawan Edward Rochester. Sayangnya, bagian pertama ternyata lebih baik daripada bagian kedua (yang merupakan bagian utama). Joan Fontaine adalah aktres yang piawai; tetapi dalam film ini, Peggy Ann Garner yang berperan sebagai Jane kanak-2 ternyata "mencuri" spotlight dengan aktingnya yang meyakinkan. Sementara Fontaine sebagai Jane dewasa cenderung mengenakan ekspresi wajah yang sama di seluruh bagian, Garner berhasil mengenakan ekspresi wajah yang kompleks yang mengungkapkan kekompleksan karakter Jane sebagai anak yang sederhana dan pendiam tetapi menyimpan bara perjuangan dan cita-2 yang tinggi.

Mr. Brocklehurst: No sight so sad as that of a wicked child. Where do the wicked go after death?
Jane Eyre: They go to hell.
Mr. Brocklehurst: And what is hell?
Jane Eyre: A pit full of fire.
Mr. Brocklehurst: And should you like to fall into that pit and be burning there forever?
Jane Eyre: No, sir.
Mr. Brocklehurst: Then what must you do to avoid it?
Jane Eyre: I must keep in good health and not die.

Orson Welles, seperti biasanya, tampil meyakinkan sebagai Edward Rochester yang berperawakan tinggi besar tetapi tidak berdaya dan bersikap kasar tetapi menarik simpati ... sebuah studi karakter yang menarik. Dan Elizabeth Taylor tampil memegang peran minor; siapa yang menyangka gadis kecil dengan sinar mata yang tajam ini akhirnya menjadi legenda Hollywood (mengalahkan semua pemain yang lain dalam film ini). Cinematography hitam-putih menampilkan gaya gothic yang menyeramkan yang menggambarkan atmosfir jamannya dengan sangat pas. Dan Bernard Herrmann menciptakan musik dengan sangat pas juga. Lebih dari sekedar kisah cinta, Jane Eyre adalah kisah tentang pencarian jati diri.

"As the months went past, he came to see the light once more as well as to feel its warmth; to see first the glory of the sun, and then the mild splendour of the moon, and at last the evening star. And then one day, when our firstborn was put into his arms, he could see that the boy had inherited his own eyes as they once were ... large, brilliant and black.

The end."

7.7/10


Jane Eyre dapat anda temukan di eBay.com