Tuesday, 13 September 2011

Bringing Up Baby

Resensi Film: Bringing Up Baby (***1/2/4)

Tahun Keluar: 1938
Negara Asal: USA
Sutradara: Howard Hawks
Cast: Katharine Hepburn, Cary Grant

Plot: Seorang paleontologist yang culun dikejar cewek yang punya banyak akal untuk menjebak dirinya masuk ke dalam perangkapnya (IMDb).

Ada film-2 yang lebih maju dari jamannya, Bringing Up Baby adalah satu di antaranya. Ketika film ini keluar pada tahun 1938, film ini gagal di box-office (tidak berhasil meraup jumlah penjualan tiket yang diharapkan): topik tentang wanita yang mengetahui apa yang dia inginkan dan berusaha mewujudkan keinginannya itu terasa bertentangan dengan tradisi yang ada saat itu. Sutradara Howard Hawks dipecat dari studio RKO dan Katharine Hepburn dinobatkan sebagai "racun box-office" -- bersama dengan Joan Crawford, Fred Astaire, dan Marlene Dietrich -- oleh jaringan bioskop di Amerika. Tetapi dengan berjalannya waktu, dengan berubahnya tradisi, penonton sedikit demi sedikit dapat memahami topik yang ada dalam film ini. Film komedi romantis ini dibintangi oleh dua bintang legendaris: Katharine Hepburn, yang dengan sangat mulus memainkan perannya sebagai Susan Vance, wanita yang mengetahui apa yang dia inginkan dan mempunyai segudang trik untuk menjebak mangsanya masuk ke dalam perangkapnya; dan Cary Grant, yang dengan sangat kocak memainkan perannya sebagai Dr. David Huxley, paleontologist yang culun yang semakin dia berusaha melepaskan diri dari Susan, semakin dia terjebak masuk ke dalam perangkapnya. Hepburn dan Grant mempunyai chemistry yang pas di antara keduanya. Cast pendukung, termasuk leopard "Baby" yang namanya menjadi bagian dari judul film ini dan anjing George -- anjing aktor yang tampil dalam lusinan film pada tahun 1930-an, masing-2 memberikan penampilan yang mengesankan. Penempatan waktu dari komedi yang ada juga terasa pas. Segala twist dan turn yang ada, walaupun penonton menyadari semua ini akal-2an saja, terasa mengalir secara mulus ... dan segala loose knot yang ada di akhir film berhasil "ditalikan" kembali dengan rapi. Pada tahun 1990, Bringing Up Baby memperoleh tempatnya dalam sejarah perfilman sebagai karya yang "culturally, historically and aesthetically significant" (United States National Film Registry).

Cerita (***1/2)
Screenplay (****)
Karakter (***1/2)
Akting (***1/2)

Keseluruhan: ***1/2/4

Bringing Up Baby dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 9 September 2011

Ivanhoe

Resensi Film: Ivanhoe (***/4)

Tahun Keluar: 1952
Negara Asal: USA
Sutradara: Richard Thorpe
Cast: Robert Taylor, Elizabeth Taylor, Joan Fontaine, George Sanders

Plot: Sepulangnya dari perang salib, Ivanhoe menemukan Inggris dikuasai oleh Pangeran John yang korup. Bergabung dengan Robin dari Locksley (Robin Hood), Ivanhoe berusaha mengumpulkan uang untuk menebus Raja Richard Berhati Singa yang ditahan di Austria, agar dia dapat kembali ke Inggris (IMDb).

Cerita klasik karya Sir Walter Scott ini mengingatkan kita pada buku cerita di masa kecil dimana imajinasi kita ikut terbawa dalam petualangan Ivanhoe. Baru setelah dewasa kita menyadari betapa kaya dan indahnya cerita karya Scott ini kalau dibandingkan dengan legenda Robin Hood. Sayang sekali, film ini tidak mempunyai anggaran yang besar sehingga setting produksinya tidak seindah film tentang Robin Hood yang diproduksi sebelumnya, The Adventures of Robin Hood (1938). Selain itu, film ini tidak memasukkan semua plot dari cerita aslinya, misalnya: tidak menyertakan karakter-2 Aethelstane, Lucas Beaumanoir, dan Gurth; tidak menampilkan keterlibatan pasukan perang salib; juga tidak menampilkan keterlibatan Raja Richard sampai scene terakhir. Namun demikian, dengan script yang rapi dan ketat, dan penampilan aktor-2 dengan nama dan kharisma yang besar, secara keseluruhan film ini sangat menghibur -- khususnya untuk para penggemar novel klasik Ivanhoe.

Cerita (***1/2)
Screenplay (***)
Karakter (***)
Akting (***)

Keseluruhan: ***/4

Ivanhoe dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 8 September 2011

Shadow of a Doubt

Resensi Film: Shadow of a Doubt (****/4)

Tahun Keluar: 1943
Negara Asal: USA
Sutradara: Alfred Hitchcock
Cast: Teresa Wright, Joseph Cotten, Macdonald Carey, Patricia Collinge, Henry Travers

Plot: Seorang wanita muda menemukan bahwa paman tercintanya ternyata adalah seorang pembunuh berantai (IMDb).

Alfred Hitchcock pernah berkata:
Pada dasarnya, orang jahat tidak seluruhnya hitam, dan orang baik tidak seluruhnya putih -- ada abu-2 dimana-2.

Di luar dugaan mayoritas penggemar Hitchcock, menurut biografinya, Shadow of a Doubt adalah film favorit Hitchcock -- melebihi film-2nya yang lain, yang lebih terkenal secara popularitas dan lebih sukses secara komersial, misalnya Strangers on a Train (1951), Rear Window (1954), North by Northwest (1959), atau Psycho (1960) -- untuk alasan-2 yang dapat dimengerti ...

Apa alasan-2 tersebut?

Cerita thriller psikologis tentang konflik antara baik dan buruk, antara terang dan gelap ini dimulai dengan Charlie Oakley (Joseph Cotten) berbaring di tempat tidur di sebuah flat di New Jersey, memikirkan langkah selanjutnya setelah membunuh tiga janda kaya dan merampok kekayaannya. Untuk menghilangkan jejak, Charlie memutuskan pergi ke California, mengunjungi kakak perempuan dan keluarganya. Sementara itu di seberang benua di sebelah barat, seorang wanita muda, Charlotte 'Charlie' Newton (Teresa Wright), juga berbaring di tempat tidur di rumahnya di Santa Rosa, memikirkan betapa membosankan hidup orangtua dan keluarganya ... setiap hari selalu sama ... tidak ada kejadian menarik, tidak ada perubahan apapun. Charlie tiba-2 teringat pada paman tercintanya, Charlie -- dimana dia mendapatkan namanya, yang tinggal di seberang benua di sebelah timur. Ketika Charlie akan mengirim telegram ke pamannya, dia mendapat kabar bahwa pamannya akan datang ke Santa Rosa. Begitu terkesima dengan coincidence ini, Charlie yakin bahwa pamannya adalah orang yang bakal "menyelamatkan" keluarganya (dari rutinitas yang membosankan).

Joseph Cotten & Teresa Wright
Sehari setelah Charlie menyambut kedatangan pamannya, dua pria muncul di rumahnya mengaku sebagai jurnalis Jack Graham (Macdonald Carey) dan fotografer Fred Saunders (Wallace Ford) yang sedang melakukan survey tentang "average American family". Berusaha mewawancarai seluruh anggota keluarga, paman Charlie menolak mentah-2 ambil bagian dalam survey tersebut. Beberapa saat kemudian, salah satu dari dua pria tersebut mengajak Charlie keluar dan memberitahu Charlie identitas dan maksud dia sesungguhnya, yaitu dia adalah detektif yang sedang mengintai paman Charlie, yang merupakan salah satu dari dua tersangka yang dicurigai sebagai pembunuh berantai -- yang mendapat julukan "Merry Widow Murderer", dengan modus operandi menggaet janda kaya untuk kemudian dibunuh dan dirampok kekayaannya. Marah karena merasa dikelabui dan kaget mendengar berita tersebut, Charlie mula-2 menolak mempertimbangkan kemungkinan pamannya adalah pembunuh berantai, tetapi tidak dapat melepaskan kecurigaan terhadap tingkah-laku aneh pamannya. Charlie kemudian mengkonfirmasi kecurigaan tersebut setelah melihat inisial nama pada cincin yang diberikan pamannya kepadanya ternyata sama dengan inisial nama dari korban terakhir dari pembunuh berantai tersebut.

Kegundahan hati Charlie akhirnya diketahui pamannya ketika pada suatu malam Charlie menghardik pamannya ketika dia dengan sangat emosional mengungkapkan kebenciannya terhadap wanita-2 janda yang kaya-raya, dengan menyebut mereka sebagai "binatang gemuk yang pantas untuk disembelih". Tanpa diketahui orangtua Charlie, pamannya mengkonfrontasi Charlie dan mengakui bahwa memang betul dirinya adalah pembunuh berantai yang sedang dicari oleh polisi. Pamannya memohon pada Charlie untuk tutup mulut. Charlie setuju, tetapi pamannya harus pergi dari rumahnya, untuk menghindari skandal yang dapat menghancurkan keluarganya, khususnya ibunya, yang sangat mencintai adik laki-2nya.

Beberapa hari kemudian, datang berita yang mengatakan bahwa orang lain yang juga dicurigai sebagai pembunuh berantai mati terbunuh ketika melarikan diri dari kejaran polisi dan orang tersebut dinyatakan sebagai pembunuh berantai tersebut. Mendengar berita tersebut, paman Charlie tersenyum lega dan memutuskan untuk tinggal lebih lama di rumah Charlie ... tetapi dia kemudian menyadari bahwa Charlie masih mengetahui rahasianya. Segera setelahnya, Charlie mengalami serangkaian "kecelakaan": jatuh terjerembab di atas tangga, terkunci di dalam garasi dengan mesin mobil menyala dan menyemburkan asap beracun ... dan cincin yang diberikan pamannya kepadanya tiba-2 hilang! Yakin ini semua adalah perbuatan pamannya, Charlie menggeledah kamar pamannya dan berhasil menemukan cincin tersebut -- cincin yang membuktikan bahwa pamannya adalah pembunuh berantai! Charlie bermaksud menggunakan cincin tersebut untuk mengusir pamannya. Tetapi sebelum Charlie sempat melaksanakan niat tersebut, pamannya langsung pamit pada kakak perempuannya, dengan alasan bahwa dia harus pergi ke kota lain untuk urusan bisnis. Keesokan harinya, Charlie sekeluarga pergi mengantar paman Charlie ke stasiun kereta api -- Charlie dan dua adiknya mengantar sampai ke dalam gerbong. Ketika kereta akan berangkat, dua adiknya turun dari kereta; tetapi ketika Charlie akan turun, paman Charlie menghalangi Charlie ... dan ketika kereta mulai bergerak dan bergerak lebih cepat, paman Charlie menyeret Charlie ke pinggir pintu kereta ...

Shadow of a Doubt dikategorikan sebagai film Hitchcock pertama yang "betul-2 Amerika" -- Rebecca (1940) bersetting di Inggris, Foreign Correspondent (1940) bersetting di Eropa, Mr. and Mrs. Smith (1941) tidak secara khusus menunjukkan keamerikaannya, Suspicion (1941) kembali bersetiing di Inggris, Saboteur (1942) walaupun secara jelas bersetting di Amerika, Hitchcock terasa hanya "mengamati" Amerika saja. Dalam Shadow of a Doubt, Hitchcock terasa betul-2 "at home" dengan Amerika -- negeri barunya, dan ini tercermin dari dosis realisme dalam film ini: ceritanya terjadi pada "average American family" (keluarga middle-class) dan settingnya berada di "average American city" (Santa Rosa). Dosis realisme yang tinggi ini adalah medium favorit Hitchcock untuk menyampaikan topik favoritnya, yaitu: kejahatan dapat terjadi di mana saja, termasuk di tempat yang paling kita kenal, misalnya rumah; kejahatan dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk oleh orang yang paling kita anggap baik ...

Shadow of a Doubt ditandai dengan kebebasan kreativitas Hitchcock sebagai sutradara. Dengan produser yang tidak bossy (Jack H. Skirball), Hitchcock berhasil mengumpulkan crew dan cast yang secara optimal dapat bekerja sama dengan dirinya. Thornton Wilder, novelis pemenang penghargaan Pulitzer, menulis script untuk film ini. Alma Reville, istri Hitchcock -- sekaligus partner kerja Hitchcock yang paling memahami visinya, membantu "menghaluskan" script tersebut. Khusus untuk dialog anak-2, Hitchcock memasukkan Sally Benson, yang terkenal dengan karyanya yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama, Meet Me in St. Louis (1944). Selama shooting, untuk scene antara Teresa Wright dan Macdonald Carey, Hitchcock meminta Patricia Collinge, yang memainkan peran Emma Newton (ibu Charlie, kakak perempuan paman Charlie), menulis dialog romans untuk mereka. Collinge adalah penulis cerita pendek untuk majalah The New Yorker dan majalah The New York Times Book Review. Hasilnya adalah script yang terkonstruksi dengan sangat baik.

Dengan dosis realisme yang tinggi tersebut, Shadow of a Doubt juga ditandai dengan pemilihan cast yang tidak glamorous, namun demikian mereka adalah pemain-2 yang sangat mumpuni. Teresa Wright, walaupun jauh dari apa yang dikenal dengan sebutan "Hitchcock's woman" -- glamorous, dingin dan pirang, berhasil memainkan perannya dengan penghayatan yang dalam. Joseph Cotten, walaupun tidak mempunyai kharisma sebesar Cary Grant, berhasil menangkap esensi pribadi ganda dari peran yang dia mainkan: hangat dan sekaligus mengancam. Patricia Collinge berhasil meyakinkan penonton sebagai istri dan ibu rumah tangga, yang saking terbenamnya dalam rutinitas rumah tangga, sama sekali tidak melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan adik laki-2nya (karakternya konon diciptakan berdasarkan ibunya Hitchcock). Sedang Henry Travers dan Hume Cronyn berhasil menyediakan peran pendukung yang kocak à la Hitchcock dengan humor-2 gelap mereka. Kalau cast dengan nama besar sering mempunyai ego yang besar, sehingga mereka sering bersaing di antara mereka sendiri, hal tersebut tidak terjadi selama shooting film ini. Teresa Wright pernah berkata, dialog romans antara dirinya dan Carey mula-2 lebih intens daripada yang kita lihat dalam hasil akhir film ini; tetapi dia mengusulkan pada Hitchcock untuk mengurangi intensitas tersebut agar plot cerita tetap terpusat pada plot utama, dan Hitchcock setuju. Patricia Hitchcock, anak perempuan Hitchcock, juga ambil bagian selama shooting, yaitu sebagai pelatih dialog untuk Edna May Wonacott (adik perempuan Charlie), yang menyediakan peran pendukung yang meyakinkan sebagai anak perempuan à la Hitchcock -- brainy dan intelligent, yang dari sejak awal tidak percaya dengan pamannya ... :-) Dengan set yang menyenangkan, sebagian besar dari mereka setelah shooting selesai tetap menjadi teman keluarga Hitchcock.

Mempertimbangkan semua faktor di atas, Shadow of a Doubt adalah quintessential Hitchcock! Semua elemen yang membuat sebuah film Hitchcock betul-2 Hitchcock ada di dalamnya: kreativitasnya, ceritanya, dan settingnya. Kekuatan terbesar film ini mungkin terletak pada suspense yang terjadi ketika bahaya yang ada akhirnya terwujud ketika film hampir berakhir. Dapat dimengerti mengapa Shadow of a Doubt adalah film favorit Hitchcock.

Menerima nominasi Academy Award untuk:
  • Best Writing, Original Story (Gordon McDonell)

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Shadow of a Doubt dapat anda temukan di eBay.com

Sunday, 4 September 2011

Grand Hotel

Resensi Film: Grand Hotel (****/4)

Tahun Keluar: 1932
Negara Asal: USA
Sutradara: Edmund Goulding
Cast: Greta Garbo, John Barrymore, Joan Crawford, Wallace Beery, Lionel Barrymore, Lewis Stone, Jean Hersholt

Plot: Seorang tamu di Grand Hotel, Berlin, Dr. Otternschlag, berkata, "Grand Hotel ... Orang datang dan pergi -- tidak pernah terjadi apa-2." Komentarnya ini ternyata adalah ironi; karena ternyata terjadi banyak peristiwa, dari romans ke pencurian ke pembunuhan (IMDb).

Adaptasi dari novel berjudul Menschen im Hotel (People in a Hotel) karya Vicki Baum, Grand Hotel adalah cermin menarik dari hari-2 terakhir di Jerman sebelum kebangkitan Adolf Hitler dan Partai Nazi pada tahun 1933. Bersetting pada masa Great Depression, sementara sebagian orang berhasil berpegang pada sisa kekayaannya dan tinggal di Grand Hotel -- yang merupakan hotel paling tersohor dan mewah di Berlin, fim ini dengan sangat baik menunjukkan keputusasaan yang "menjalar" di bawahnya. Sutradara Edmund Goulding mengarahkan film ini dengan kecepatan yang tinggi, dimulai dengan sequence pembuka yang memperkenalkan karakter-2 utamanya secara singkat tetapi mendalam, yaitu:
  • Senf (Jean Hersholt) -- kepala porter, yang menunggu berita tentang istrinya yang akan melahirkan
  • Otto Kringelein (Lionel Barrymore) -- pegawai pembukuan, yang didiagnosis dengan penyakit terminal, yang keluar dari pekerjaannya untuk menikmati hari-2 terakhirnya
  • Preysing (Wallace Beery) -- industrialis kikir, hampir bangkrut, yang tinggal di hotel untuk melakukan negosiasi bisnis dengan client penting
  • Suzette (Rafaela Ottiano) -- pembantu prima-ballerina Rusia di masa senja kariernya, Grusinskaya (Greta Garbo), yang mengungkapkan kekhawatiran tentang majikannya
  • Baron Felix von Geigern (John Barrymore), aristokrat, sekarang hidup dalam kemiskinan terselubung, yang membutuhkan uang untuk membayar hutang, yang merencanakan mencuri perhiasan dari ballerina tersebut 
  • Dr. Otternschlag (Lewis Stone), veteran Perang Dunia Pertama dengan wajah bopeng, yang berjalan mondar-mandir di lobby hotel, mengamati kejadian di sekitarnya, sambil berkata ke dirinya sendiri "Grand Hotel ... People coming, going. Nothing ever happens."
Satu-2nya karakter utama yang tidak diperkenalkan dalam sequence pembuka adalah Flaemmchen (Joan Crawford), sekretaris muda dan cantik, yang bersedia melakukan apa saja, apa saja!, untuk mendapatkan uang. Namanya tertera nomor tiga setelah Garbo dan Barrymore (John), Crawford muncul beberapa menit setelah film dimulai dan keberadannya kontinyu terus sampai sebelum film berakhir; sedang Garbo tidak tampil sampai 20 menit setelah film dimulai dan menghilang 10 menit sebelum film berakhir. Kenyataannya, Crawford mempunyai screen time paling banyak. Namun demikian, Garbo memainkan karakter yang lebih kompleks. Pada awalnya, dia kesepian dan kelabu. Setelah dia bertemu dengan Barrymore (John), dia berubah menjadi gembira dan penuh tawa. Melihat transformasi ini adalah melihat dua sisi dari Garbo. Antara John dan Lionel, Lionel lebih menunjukkan kepribadiannya pada karakternya (dia mungkin adalah yang paling berbakat dari keluarga Barrymore). Wallace Beery sangat meyakinkan sebagai industrialis Preysing yang kampungan, egois dan jahat. Sementara Lewis Stone, Jean Hersholt dan Rafaela Ottiano semuanya memberikan dukungan yang sempurna.

Gaya Goulding memulai trials and tribulations para tamu di Grand Hotel ini betul-2 mengesankan: dimulai dengan camera shot pada Dr. Otternschlag berkata, "Grand Hotel ... People coming, going. Nothing ever happens" dan scene lobby hotel yang sibuk sementara musik indah Blue Danube karya Johann Strauss melantun merdu di latar belakang, dan diakhiri dengan camera shot yang sama pada Dr. Otternschlag berkata yang sama, "Grand Hotel ... always the same. People come, people go. Nothing ever happens" dan scene lobby hotel yang sama yang sibuk sementara musik indah yang sama melantun merdu di latar belakang. Grand Hotel adalah kemenangan dari pengarahan yang efektif, script yang pandai, dan akting yang mengesankan. Grand Hotel memenangkan Film Terbaik dalam Academy Awards pada tahun 1932.

Cerita (****)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Grand Hotel dapat anda temukan di eBay.com

Thursday, 1 September 2011

Dog Day Afternoon

Resensi Film: Dog Day Afternoon (****/4)

Tahun Keluar: 1975
Negara Asal: USA
Sutradara: Sidney Lumet
Cast: Al Pacino, John Cazale, Charles Durning

Plot: Suatu sore, Sonny dan temannya, Sal, merampok bank -- di luar rencana, situasi memanas menjadi penyanderaan dan mereka terjebak dalam sirkus media (IMDb).

Berdasarkan kisah nyata perampokan bank di Brooklyn, NY yang terjadi tiga tahun sebelumnya, Sidney Lumet mengarahkan film ini dengan dosis realisme yang tinggi -- setting, pengambilan gambar, karakterisasi, dan dialog-2nya terasa sangat riel. Musical score tidak digunakan dalam film ini, menimbulkan kesan dokumenter yang kuat. Dibuat pada jaman dimana generasi muda tidak percaya pada otoritas, Lumet berhasil menampilkan tokoh yang sesungguhnya anti-hero menjadi hero dalam waktu sekejap, dan secepat itu pula (gara-2 media) menjadi bahan cemoohan. Pada saat yang sama, penonton mengalami transisi perasaan: dari antipati, menjadi simpati, menjadi heran, campur aduk ... tetapi akhirnya, crime doesn't pay (kejahatan, apapun alasannya, akan membawa bencana). Film bertumpu pada script yang rapi dan ketat, studi karakter yang detil dan cermat, dan kemampuan akting para pemeran utama dan pendukungnya, khususnya Al Pacino yang memberikan akting terbaiknya sebagai Sonny, dan Chris Sarandon, yang walaupun muncul hanya sebentar, tetapi hampir saja mencuri perhatian, sebagai pacar gay Sonny.

Cerita (***1/2)
Screenplay (****)
Karakter (****)
Akting (****)

Keseluruhan: ****/4

Dog Day Afternoon dapat anda temukan di eBay.com