Saturday, 24 May 2014

The Seventh Seal

The Seventh Seal ★★★★★

Silence ... kebisuan ...

Faith is a torment. It is like loving someone who is out there in the darkness but never appears, no matter how loudly you call.


Tahun Keluar: 1957
Negara Asal: Sweden
Sutradara: Ingmar Bergman
Cast: Max von Sydow, Bengt Ekerot, Gunnar Björnstrand, Nils Poppe, Bibi Andersson

Seandainya film ini keluar saat ini, jaman dimana religious revival (baca: zealotry) (fanatisme atau persaingan keagamaan) merebak luas, besar kemungkinan film ini akan dinilai kontroversial atau bahkan dilarang-putar di banyak tempat. Menunjukkan bahwa tema film ini masih terus relevan sampai saat ini. Untungnya (atau sebaliknya, sayangnya), tidak banyak penonton yang tahu tentang film klasik ini. Seluruh pendidikan agama yang penulis terima sejak kecil bertujuan menjadikan penulis beriman “teguh” atau “kuat”, artinya yakin 100%, tidak ada keraguan sedikitpun, tidak goyah sama sekali, ... pasrah bongkokan. Semua hasil yang tidak seperti ini akan dinilai sebagai kegagalan. Penulis bisa membayangkan seandainya penulis dulu mengatakan: “faith is a torment, it is like loving someone who is out there in the darkness but never appears, no matter how loudly you call,” kepada guru agama di sekolah, penulis pasti akan kena tegur, kena hardik, atau bahkan kena maki sebagai umat yang tidak beriman -- karena itu penulis mending diam saja :-) Kira-2 demikian juga pendidikan agama yang diterima Ingmar Bergman, apalagi sebagai anak dari seorang pendeta Lutheran. Hampir semua film drama Bergman berkisar pada ketidakpuasannya dengan cara Tuhan memilih menampilkan (dhi, tidak menampilkan) dirinya pada manusia. Pencarian spiritual ini menjadi pusat dari film-2 Bergman di puncak kariernya. The Seventh Seal mengawali periode ini, dimana dia bertanya, lagi dan lagi, mengapa Tuhan seakan-2 absen dari dunia. Di awal 1960-an, dia mengarahkan trilogi yang mengeksplorasi tema keimanan dan keraguan: Through a Glass Darkly (1961), Winter Light (1962), dan The Silence (1963).

Antonius Block (Max von Sydow), seorang prajurit, pulang dari perang salib di Yerusalem, menemukan negerinya merana dan rakyatnya sekarat gara-2 serangan wabah penyakit pes. Tidak lama kemudian, malaikat kematian (Bengt Ekerot) datang untuk menjemputnya.

Antonius Block: “Who are you?
Death: “I am Death.
Antonius Block: “Have you come for me?
Death: “I have long walked by your side.
Antonius Block: “So I have noticed.
Death: “Are you ready?
Antonius Block: “My body is ready, but I am not.


Sebelum sang malaikat sempat merenggut nyawanya, Block -- mengetahui dari gambar-2 dinding di gereja bahwa sang malaikat gemar bermain catur, mengajukan tawaran kepada sang malaikat untuk bermain catur. Perjanjiannya: selama dia menang, dia boleh terus hidup. Sang malaikat setuju. Sambil mereka bermain catur, Block mulai bertanya-2 tentang Tuhan, dan sang malaikat tentang dirinya.

Suatu saat, ketika Block pergi mengaku dosa ke seorang imam di sebuah gereja kecil, dia menumpahkan segala kegelisahan hatinya:

My indifference has shut me out. I live in a world of ghosts, a prisoner of dreams. I want God to put out his hand, show his face, speak to me. I cry out to him in the dark but there is no one there.

Tidak bisa menanggapi kegelisahan Block, imam tersebut kemudian menoleh ke arahnya dan Block terkejut menemukan dia adalah malaikat kematian yang selama ini membuntutinya. Di saat lain, ketika Block bertemu dengan seorang wanita pesakitan yang dituduh berselingkuh dengan setan (maksudnya, tukang sihir) yang sedang menunggu hukuman matinya, dia bertanya pada wanita tersebut:

Antonius Block: “Have you met the devil? I want to meet him too.
Witch: “Why do you want to do that?
Antonius Block: “I want to ask him about God. He must know. He, if anyone.
Witch: “Look in my eyes. The priest could see him there, and the soldiers -- they would not touch me.
Antonius Block: “I see nothing but terror.

Akhirnya, ketika Block ter-skakmat oleh sang malaikat, dia bertanya lagi untuk terakhir kalinya, dan sang malaikat memberikan jawaban yang sama juga untuk terakhir kalinya, tetapi kali ini terdengar begitu mengejutkan:

Death: “When next we meet, the hour will strike for you and your friends.
Antonius Block: “And will you reveal your secrets?
Death: “I have no secrets.
Antonius Block: “So do you know nothing?
Death: “I AM UNKNOWING.


Bergman dengan percaya diri mengakhiri film ini tidak dengan pernyataan atau klimaks, tetapi dengan gambar parade kematian -- sama aslinya seperti gambar malaikat kematian yang mengawali film ini; seperti sebuah film bisu -- suasana bisu yang menyelimuti film ini justru berkorelasi kuat dengan jawaban-2 atas pertanyaan-2 Block yang selama ini dia cari: silence, kebisuan ...

Didukung sinematografi hitam-putih kontras tajam yang menghantui dan desain produksi & dekorasi set yang detil tentang Eropa di abad pertengahan, kekuatan film ini terletak pada directness/kelugasan Bergman menyampaikan tema yang ingin dia sampaikan. Walaupun Bergman tidak menyediakan resolusi di akhir film, dia menawarkan rekonsiliasi di tengah film, yang menurut penulis adalah scene paling indah dari film ini, yaitu ketika pemain sirkus Jof (Nils Poppe), istrinya Mia (Bibi Andersson), dan anak laki-2nya Mikael berbagi makan malam sebaskom strawberry dan semangkok susu dengan Block, pembantunya Jöns (Gunnar Björnstrand), dan seorang gadis bisu. Untuk pertama kalinya dalam film ini Block terlihat bahagia. Sambil menikmati santapan sederhana tersebut Block mengatakan:

I shall remember this moment: the silence, the twilight, the bowl of strawberries, the bowl of milk. Your faces in the evening light. Mikael asleep, Jof with his lyre. I shall try to remember our talk. I shall carry this memory carefully in my hands as if it were a bowl brimful of fresh milk. It will be a sign to me, and a great sufficiency.

Mungkinkah ini adalah rekonsiliasi atas pencarian spiritual Block (Bergman) tersebut?

Klasik.




The Seventh Seal dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 5 May 2014

The Women

The Women ★★★★*

Feminisme modern: Kritik terhadap gender sendiri

Satir yang menggigit, tajam, witty, ... b i t c h y, ... f u n n y !

Tahun Keluar: 1939
Negara Asal: USA
Sutradara: George Cukor
Cast: Norma Shearer, Joan Crawford, Rosalind Russell, Joan Fontaine

Tahun 1939 konon adalah “vintage” terbaik dalam sejarah Academy Awards, dimana pada tahun tersebut Hollywood menghasilkan film-2 handal yang di kemudian hari menjadi klasik, di antaranya: Mr. Smith Goes to Washington, Gone with the Wind, The Wizard of Oz, Ninotchka, Stagecoach, The Huncback of Notre Dame,  Wuthering Heights, The Roaring Twenties, Goodbye Mr. Chips, Love Affair. Dengan kompetisi seketat ini, bukan salah siapapun kalau film ini “keloncatan” dalam nominasi Oscar -- sama sekali bukan karena film ini kalah kualitas dari segi apapun. Kalau anda menyukai Ninotchka -- satir tentang Cold War, anda akan menyukai The Women -- satir dari wanita tentang gendernya sendiri. Adaptasi dari teater dengan judul yang sama karya Clare Boothe Luce -- bercerita tentang intrik dan kehidupan manja para istri dari pria berduit di Manhattan, New York, dan wanita-2 yang lain yang mereka temui, penulis anekdot ternama saat itu, Anita Loos, perlu “mempermak” scriptnya sedemikian rupa sehingga film ini lolos sensor dari Motion Picture Production Code (MPPC)/Hays Code, tetapi tetap menjaga satir tajam yang ada di dalamnya. Hasilnya, insinuasi yang menggigit, tajam, witty sekaligus bitchy, tetapi lucu sekaligus menghibur.

Secepat api menyulut sumbu petasan, cerita dimulai dengan tempo tinggi dari salon kecantikan Sydney's di Park Avenue, dengan gosip bahwa Stephen Haines -- suami dari Mary Haines (Norma Shearer), seorang ibu rumah-tangga yang ceria dan bahagia, cinta terhadap suaminya, dan ibu dari Little Mary, menjalin hubungan asmara dengan Crystal Allen (Joan Crawford), seorang penjaga counter parfum di toserba Black's di distrik yang sama. Si penyebar gosip adalah Olga, si manicurist, yang berondongan celotehannya selalu menemani kunjungan setiap client yang duduk di depannya -- oooh, bayangkan :-) Si penerima gosip adalah Sylvia Fowler (Rosalind Russell), sepupu Mary, yang ternyata 10x lebih gossipy daripada Olga :-) Merasa kurang pantas (baca: kurang kejam!) kalau dia yang memberitahu Mary tentang gosip tersebut, Sylvia menyarankan Mary untuk pergi ke Sydney's untuk memperbarui warna kutek kukunya -- Jungle Red, seperti miliknya, dengan Olga, si manicurist. Terkejut mendengar gosip tersebut dan terlebih lagi malu menyadari semua temannya sudah mengetahuinya, ibunya -- yang juga client Olga, cepat-2 datang mengunjunginya dan memberi nasehat kepadanya: pertama, jangan mengkonfrontasi suaminya, alias pura-2 ndak tahu dan percaya bahwa affair tersebut akan berlalu dengan sendirinya; kedua, jangan minta nasehat pada teman-2nya, karena mereka hanya akan memperkeruh masalah. Tidak dapat menerima nasehat ibunya yang terasa tidak cocok dengan generasinya, Mary mula-2 mematuhi nasehat tersebut, tetapi akhirnya termakan oleh emosi juga ketika Sylvia memberi kabar bahwa Crystal mulai mendekati anaknya, Little Mary. Maka meletuslah hostility terbuka antara Mary dan Crystal, dan kehadiran majalah gosip semakin mempersulit Mary mencapai rekonsiliasi dengan suaminya. Berhasilkan Mary menyelamatkan perkawinannya?

Tetapi plot utama ini tidak berjalan sendirian, ada subplot-2 yang lain yang berjalan mendampinginya: Sylvia yang  mencintai suaminya hanya karena uangnya; Crystal yang melulu gold digger; Peggy (Joan Fontaine) yang penghasilannya lebih besar dari suaminya yang menimbulkan ketidakharmonisan dalam perkawinannya; Countess De Lave (Mary Bolland) yang perannya justru terbalik, ternyata dialah yang mengeluarkan uang untuk suami “piaraan”-nya :-); dan Miriam (Paulette Goddard) yang menjadi pihak ketiga. Juga tampil tersirat efek perceraian terhadap anak dan to a greater extent tema universal Pride & Prejudice. Scriptnya berhasil dengan rapi dan efektif menjalin semua subplot yang ada menuju resolusi akhir yang nilainya lebih besar daripada jumlah masing-2 subplot. Dikombinasikan dengan dialog-2 yang menggigit, tajam, witty sekaligus bitchy, dan pemilihan cast yang tepat, yang semuanya sweet dan adorable, bahkan untuk mereka yang paling bitchy sekalipun, misalnya Crawford! :-), hasilnya adalah satir yang menghibur karena menggabungkan keseriusan dengan kekonyolan, komentar sosial dengan komedi, dan kritik dengan kehangatan dengan dosis yang pas.

Juga patut diacungi jempol adalah arahan George Cukor -- sutradara pria yang mempunyai sensitivitas tinggi terhadap tema-2 feminin: Little Women (1933), The Philadelphia Story (1940), Gaslight (1944), Adam's Rib (1949), My Fair Lady (1964), yang juga rapi dan efektif. Dari awal, dengan montage lucu dan mengena anggota cast utama yang tanpa tedeng aling-2 mengasosiasikan peran-2 mereka dengan karakter-2 binatang yang sepadan: Mary (Shearer): rusa -- tidak berprasangka buruk; Crystal (Crawford): macan tutul -- senang berburu dan memangsa; Sylvia (Russell): kucing hitam -- meongannya mendatangkan keributan, Countess De Lave (Bolland): monyet -- ndak punya malu; Miriam (Goddard): rubah -- licik dan licin; Peggy (Fontaine): domba -- kurang tegas; ibunya Mary (Lucile Watson): burung hantu -- bijaksana; Edith (Phyllis Povah): sapi -- senang ngikut; anaknya Mary, Little Mary (Virginia Weidler): anak rusa -- seperti ibunya; dan Lucy (Marjorie Main): kuda -- sak karepe dewe, Cukor dengan cepat menentukan “warna” film ini, menjaganya dengan baik di seluruh film, dan tidak mengecewakan penonton sampai film berakhir. Arahan lain yang mengagumkan adalah kecakapan Cukor menjaga karakter-2 yang ada -- yang jumlahnya banyak, sesuai dengan urutan prioritas dalam scriptnya, tampil dalam layar yang saat itu hanya berukuran/berasio 4:3 saja. Gerakan terkoreografi dari anggota cast -- entah berapa lama mereka berlatih, sedemikian rupa sehingga semuanya masuk dalam layar yang notebene berukuran kecil (bandingkan dengan saat ini yang berasio 16:9), dan kerapian/ketelitian Cukor menempatkan kamera, betul-2 patut diacungi jempol. Last, but not least, walaupun mula-2 Cukor tidak menyukai sequence fashion show yang berlangsung sekitar 6 menit di awal babak kedua film ini -- menurutnya menghentikan alur cerita yang sedang berjalan, sekarang sequence ini justru menjadi bagian unik karena menjadi bagian yang standout berwarna/Technicolor dari seluruh film yang hitam-putih. Memang betul terasa menghentikan alur cerita, tetapi setelah berondongan celotehan yang bagaikan mitraliur, bagian ini justru memberi kesempatan penonton untuk “beristirahat” sejenak.

Dengan total jumlah 130 peran, semuanya wanita, bahkan para binatang yang tampil -- paling tidak 2 anjing dan 1 kuda, juga berjenis kelamin perempuan, saat itu Cukor pasti adalah pria yang paling bahagia di seluruh dunia :-)

Film ini sudah di-remake paling tidak 3 kali: The Opposite Sex (1956), Women in New York (1977), dan The Women (2008), tetapi tidak satupun yang berhasil mendekati script dari Anita Loos dan arahan emas dari George Cukor ini.

Klasik.



The Women dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 22 April 2014

Witness for the Prosecution

Witness for the Prosecution ★★★★★

Sempurna: Cerita, arahan, script, dialog, karakter, dan akting.


Tahun Keluar: 1957
Negara Asal: USA
Sutradara: Billy Wilder
Cast: Tyrone Power, Marlene Dietrich, Charles Laughton, Elsa Lanchester

Film ini adalah film Billy Wilder yang menyejajarkan dirinya dengan Alfred Hitchcock -- tepat pada dekade dimana Hitchcock juga berada pada puncak prestasinya: Strangers on a Train (1951), Rear Window (1954), Vertigo (1958), North by Northwest (1959). Cerita karya Ratu Misteri Pembunuhan, Agatha Christie, ini adalah medium yang ideal untuk menampilkan semua elemen Hithcockian: a fish out of the water -- karakter utama yang bingung dan panik gara-2 terperosok ke dalam situasi yang dia tidak mengerti, karakter-2 pendukung yang menarik dan penuh intrik, misteri, witticism/humor, twist/unforeseen development -- faktor yang luput dari pengamatan kita, dan tentu saja suspense.

Seorang veteran prajurit PD2, Leonard Vole (Tyrone Power), ditangkap polisi dengan tuduhan membunuh Mrs. Emily French (Norma Varden), seorang janda kaya berusia setengah baya yang menyimpan afeksi terhadap Vole sedemikian dalamnya sampai-2 memasukkan dia sebagai pewaris utama harta kekayaannya. Walapun tidak ada bukti yang konkret, semua circumstantial evidence mengarah ke dirinya sebagai pembunuh. Baru saja sembuh dari sakit parahnya, Sir Wilfrid Robarts (Charles Laughton),  seorang Q.C./pengacara terkemuka di London, mula-2 menolak menangani kasus Vole ini, tetapi kemudian berubah pikiran (baca, merasa tertantang) -- melawan semua nasehat dan larangan dari perawat pribadinya, Miss Plimsoll (Elsa Lanchester), setelah bertemu dengan istri Vole, Christine (Marlene Dietrich), seorang wanita Jerman yang bernasib malang, tetapi “kaku”/“kerasdan tidak mau dikasihani. Maka disusunlah pembelaan untuk Vole melawan semua circumstantial evidence yang mengarah ke dirinya. Mengetahui aturan hukum bahwa istri tidak boleh menjadi saksi untuk suaminya, Robarts terkejut ketika jaksa penuntut memanggil Christine sebagai saksi dan membongkar masa lalu Christine yang ternyata sudah kawin dengan pria Jerman ketika dia dulu tinggal di Jerman; membuat perkawinannya dengan Vole tidak sah, membuat mereka bukanlah suami-istri, dengan demikian Christine harus menjawab semua pertanyaan jaksa tentang Vole. Robarts semakin terkejut ketika Christine justru memberi kesaksian yang memberatkan Vole! Biasanya seperti ikan hiu yang memangsa buruannya, Robarts kali ini merasa sebaliknya: seperti buruan, dan betul-2 pusing (baca, tertantang) berhadapan dengan wanita Jerman yang dia tidak mengerti “manuver”-nya ini :-)


Adaptasi dari teater dengan judul yang sama, Witness for the Prosecution adalah film yang tidak pernah membosankan ditonton berulang-2, atau direview berulang-2. Walaupun Tyrone Power menempati first-billing, star performance film ini terletak pada Marlene Dietrich, Charles Laughton, dan dinamika antara Laughton dan Elsa Lanchester, yang dalam kehidupan nyata adalah istrinya. Dietrich, satu dari sedikit aktres dari era film bisu yang sukses bertahan melalui transformasi ke era baru film bersuara -- satu angkatan dengan Greta Garbo dan Gloria Swanson, yang tampil dalam film klasik Wilder yang lain, Sunset Boulevard (1950), berhasil dengan sangat baik memanfaatkan gaya theatrical-nya yang khas, yang untuk ukuran film bersuara memang terasa over the top”, tetapi di sini justru menguatkan karakter Jermannya yang “asing”, “kaku”, dan “keras” untuk ukuran Anglo-Saxon, yang sengaja ditonjolkan Wilder untuk membawa penonton melalui “roller-coaster” perasaan: mula-2 membangkitkan antipati penonton terhadapnya, kemudian pertanyaan/misteri, dan akhirnya simpati. Peran dan penampilan Dietrich betul-2 central dan pivotal -- hanya akting yang luar biasa yang mampu mengubah opini penonton dari antipati ke simpati. Christine Vole/Christine Helm dalam film ini adalah reprise dari Norma Desmond dalam Sunset Boulevard. Laughton, pemain watak dengan penampilan-2 iconic seperti Henry VIII dalam The Private Life of Henry VIII (1933), Inspector Javert dalam Les Misérables (1935), dan Quasimodo dalam The Hunchback of Notre Dame (1939), kebagian semua dialog terbaik dalam scriptnya dan membawakannya dengan mudah dan meyakinkan. Peran dan penampilan Laughton, sambil dia mondar-mandir kesana-kemari di seluruh film pusing memikirkan kasusnya, betul-2 mengasyikkan untuk ditonton. Lanchester, pemain watak juga yang mungkin diingat penonton sebagai Mary Shelley dalam The Bride of Frankenstein (1935), menyediakan momen-2 lucu dan menyegarkan. Last, but not least, cast pendukung yang lain: John Williams, reguler dalam film-2 Hitchcock, sebagai asisten Robarts; Henry Daniell, pemain watak juga, sebagai penasehat hukum Vole; dan Norma Varden, reguler dalam film-2 period drama, sebagai janda kaya yang naif, semuanya tampil mengesankan.

Diadaptasi dari drama teater, scriptnya mempunyai dialog-2 yang tajam  dan berhasil dengan sangat baik menyimpan twist dengan rapi. Jika ada kelemahannya, kelemahannya adalah scriptnya tidak dapat secara penuh lepas dari asal-usulnya, dan dari waktu ke waktu memang terasa talky (terlalu banyak pembicaraannya). Tetapi karena para pemainnya sangat ahli dalam berbicara, penonton justru terhibur mendengarkannya.

Mengkombinasikan semua ini adalah arahan Wilder yang kreatif. Kemampuannya mengkombinasikan antara drama dan komedi tanpa mengurangi bobot masing-2 adalah kekuatan utama film ini. Seandainya dimainkan melulu sebagai drama, filmnya akan menjadi kering dan membosankan. Seandainya dimainkan melulu sebagai komedi, filmnya akan menjadi parodi dan tidak berbobot. Tetapi dimainkan sebagai kombinasi antara drama dan komedi, filmnya menjadi betul-2 mengesankan.

Klasik.



Witness for the Prosecution dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 9 April 2014

Noah

Noah ★★★☆☆

Gagal membangkitkan inspirasi ...

Tahun Keluar: 2014
Negara Asal: USA
Sutradara: Darren Aronofsky
Cast: Russell Crowe, Jennifer Connelly, Ray Winstone, Emma Watson, Anthony Hopkins

Darren Aronofsky (Requiem for a Dream, The Wrestler, Black Swan)  mengawali film ini dengan latar belakang dystopia/post-apocalypse: langit yang kelabu, tanah yang tandus, manusia yang hidup dengan cara nomaden -- tidak memiliki tempat tinggal, tetapi berpindah-2 dari satu tempat ke tempat yang lain, dan kalau berkelompok, mereka lebih berfungsi sebagai “gerombolan” daripada masyarakat -- menyerang gerombolan yang lain: membunuh, menjarah, dan bahkan melakukan kanibalisme. Demikianlah gambaran Aronofsky dari kehidupan gelap keturunan Adam Adam dan Hawa sejak diusir dari Taman Firdaus. Dalam mimpi-2nya yang menakutkan, Noah (Russell Crowe) melihat permukaan bumi berubah menjadi lautan yang memusnahkan segala kehidupan di atasnya. Dengan bijih pohon pemberian kakeknya, Methuselah (Anthony Hopkins), Noah menanam bijih pohon tersebut dan dalam waktu sekejap tumbuh menjadi hutan yang lebat. Dibantu oleh The Watchers -- para malaikat yang dihukum tinggal di bumi sebagai raksasa berbatu gara-2 melanggar perintah Sang Pencipta, Noah dan keluarganya mulai membangun sebuah bahtera besar. Delapan tahun kemudian, ketika pembangunan tersebut hampir selesai, binatang-2 mulai berdatangan dari segala penjuru dan memasuki bahtera tersebut. Mengikuti binatang-2 tersebut, gerombolan yang dipimpin Tubal-Cain (Ray Winstone) juga ingin memasuki bahtera tersebut tetapi dilarang oleh Noah yang percaya bahwa Sang Pencipta ingin menamatkan riwayat hidup manusia, termasuk garis keturunannya sendiri, dari atas muka bumi ini. Masalah timbul ketika dua anak Noah yang menginjak dewasa, Shem dan Ham, ingin berkeluarga. Shem mengetahui calon istrinya, Ila (Emma Watson), anak terlantar yang dipungut Noah dan istrinya Naameh (Jennifer Connelly), mandul sehingga tidak mungkin memberinya keturunan. Ham, melawan perintah ayahnya, pergi mencari istri dari antara gerombolan Tubal-Cain. Masalah lebih pelik lagi timbul ketika Ila yang kemudian menjadi istri Shem ternyata melahirkan anak, bukan satu tetapi bahkan kembar. Benarkah keyakinan Noah bahwa Sang Pencipta ingin memusnahkan manusia dari atas muka bumi ini?

Penulis tidak ingin membahas “keakuratan” cerita Noah di atas, karena keakuratan bukanlah pendekatan yang tepat untuk storytelling yang selalu pasti dan semestinya (baca, sepatutnya) mengandung interpretasi pribadi dari storyteller/penyampai cerita (dhi, filmmaker). Tetapi justru di sinilah letak kelemahan film ini.


Aronofsky, yang ikut menggarap scriptnya, gagal membangkitkan inspirasi penonton terhadap pesan penting dari musibah air bah ini: manusia sudah terlanjur mewarisi bumi dan isinya, dan sekarang terserah kita bagaimana kita memelihara warisan tersebut. Script dan dialog-2nya ternyata hanya menyentuh bagian-2 luarnya saja, seakan-2 dia sendiri kurang yakin apa pesan dari cerita ini. Ditunjukkan Noah adalah keturunan Seth, menjadikan dirinya keturunan baik -- pengembara, pemakan tumbuhan; sedang Tubal-Cain keturunan Cain, menjadikan dirinya keturunan jahat -- industrialis, pemakan daging. Tetapi justru Noah-lah yang percaya Sang Pencipta ingin memusnahkan manusia dari atas muka bumi; sedang Tubal-Cain, dengan segala keburukannya, justru menampilkan kemanusiaannya dengan memohon kepada Noah bahwa manusia patut diselamatkan. Dengan script yang lemah (baca, tidak berarah), Aronofsky memusatkan perhatiannya pada visual effects, special effects, dan aksi pertempuran antara gerombolan Tubal-Cain dan raksasa berbatu The Watchers, membuat hasil akhir cerita biblical ini kurang meyakinkan, pada saat-2 tertentu membosankan, dan terasa seperti campuran antara Mad Max (latar belakang dystopia/post-apocalypse), The Lord of the Rings (gerombolan Tubal-Cain), Transformers (raksasa berbatu The Watchers), dan Waterworld (musibah air bah).

Kombinasi yang aneh dengan pesan akhir yang lemah.



Noah dapat anda temukan di eBay.com

Friday, 4 April 2014

Double Indemnity

Double Indemnity ★★★★☆

Femme fatale: Bahaya yang terlalu manis untuk dilewatkan begitu saja ...

Tahun Keluar: 1944
Negara Asal: USA
Sutradara: Billy Wilder
Cast: Fred MacMurray, Barbara Stanwyck, Edward G. Robinson

Mirip seperti Alfred Hitchcock, Billy Wilder menyukai suspense: menunggu, mengantisipasi sesuatu yang kita mengetahui bakal terjadi. Untuk sutradara: Patience is a virtue. Untuk penonton: Good things come to those who wait.

Walter Neff (Fred MacMurray), seorang salesman asuransi, mendatangi rumah client-nya, Mr. Dietrichson, untuk mengingatkan bahwa asuransi mobilnya hampir kadaluarsa dan perlu diperbarui. Sesampainya di sana, Mr. Dietrichson ternyata tidak ada di rumah; yang ada adalah Mrs. Dietrichson, Phyllis (Barbara Stanwyck) -- jauh lebih muda dari suaminya, alluring/menarik, dan tanpa tedeng aling-2 menunjukkan ketertarikan terhadap Walter. Bujangan dan adventurous, Walter menerima godaan Phyllis tersebut dengan senang hati. Di tengah pembicaraan yang flirtatious/menggoda, Phyllis tiba-2 bertanya apakah mungkin dia membeli asuransi jiwa untuk suaminya tanpa sepengetahuan suaminya -- agar uang tanggungannya tidak jatuh ke anak tirinya. Mencium maksud buruk di balik pertanyaan tersebut, Walter langsung mengundurkan diri dan permisi pulang. Namun demikian, Walter tidak dapat melupakan Phyllis, dan ketika Phyllis membuntutinya ke apartemennya dan memaksakan dirinya kepadanya, Walter tidak dapat lagi menahan nafsunya. Well, well, well ... :-) Maka langsung digodoklah rencana Phyllis tersebut;  pertama-2, mengelabui Mr. Dietrichson untuk menandatangani polis asuransi jiwa tanpa dia sendiri menyadarinya. Mengetahui seluk-beluk produk yang dia tawarkan, Walter memberitahu Phyllis bahwa polis asuransi jiwa tersebut mempunyai pasal “double indemnity” untuk kecelakaan-2 yang terjadi dalam perjalanan dengan kereta api, artinya jika suaminya meninggal dunia akibat kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dengan kereta api, uang tanggungan yang dibayarkan akan double/ganda. Pas ketika suaminya patah kaki dan tidak bisa mengendarai mobil, sehingga harus menggunakan kereta api, mereka menyusun konspirasi untuk memastikan Mr. Dietrichson ini mengalami kecelakaan selama perjalanan dengan kereta api. Konspirasi tersebut praktis berjalan dengan mulus. Barton Keyes (Edward G. Robinson), atasan Walter, mula-2 percaya bahwa kejadian tersebut adalah kecelakaan, tetapi CEO perusahaan menduga bunuh diri. Kesangsian tersebut membuat Barton memeriksa lagi polis asuransi jiwa Mr. Dietrichson dan menemukan kejanggalan: Mengapa Mr. Dietrichson tidak mengajukan claim untuk patah kakinya? Apakah mungkin dia tidak tahu kalau dia berhak mengajukan claim untuk patah kakinya? Atau bahkan, apakah  mungkin dia tidak tahu kalau dia mempunyai polis asuransi jiwa???

Plot selanjutnya tidak perlu diteruskan lagi, karena penonton mengetahui nasib Walter selanjutnya bakalan seperti kereta api yang remnya blong dan bakalan nabrak stop terakhir di stasiun terakhir :-)


Fred MacMurray (mengingatkan penulis betapa mirip wajah Pierce Brosnan dengan bintang layar perak jaman keemasan Hollywood ini) tampil meyakinkan sebagai pria yang walaupun sudah matang dan berpengalaman di dunianya, tetapi tetap saja foolish/bodoh ketika berhadapan dengan wanita yang jelas-2 bakal menghancurkan hidupnya. Seakan-2 ingin mencemooh gender-nya sendiri: pria memang seperti ini, “bodoh”! Tetapi Barbara Stanwyck-lah yang menjadi bintang dalam film ini -- femme fatale yang mengetahui persis kelemahan lawan jenisnya dan memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin. Di saat-2 tertentu penampilannya bernuansa sehingga penontonpun terkecoh: mungkin dia betulan istri yang terabaikan sehingga patut dikasihani (?), mungkin dia betulan cinta terhadap Walter (?) Tetapi di saat-2 yang lain penampilannya begitu gamblang: Black Widow -- laba-2 hitam yang memangsa pasangannya setelah selesai bercinta (!) :-) Edward G. Robinson, yang saat itu sudah ter-typecast sebagai  “tough guy” gara-2 penampilannya yang meyakinkan dalam film-2 mafia/gangster, a.l. Little Caesar (1931), Smart Money (1931) -- bersama James Cagney, atau Kid Galahad (1937) -- bersama Bette Davis dan Humphrey Bogart, berhasil menampilkan wajah lain dari typecast tersebut sebagai figur ayah yang membimbing anak asuhnya, tetapi akhirnya harus menyaksikan kejatuhan anak asuhnya ini dengan perasaan campur-aduk antara tidak percaya dan kecewa. Dialog terakhir film ini menyimpulkan dengan tepat perasaannya:
Walter, you're all washed up.
Sama seperti dalam film-2 Wilder yang lain, sinematografi hitam-putih kontras tajam dari John F. Seitz berhasil dengan sangat baik menampilkan suasana “noir” yang menciptakan perasaan “doom” dari cerita yang hanya dapat berakhir dengan kehancuran ini.



Double Indemnity dapat anda temukan di eBay.com