Monday, 22 July 2013

Pillow Talk

Resensi Film: Pillow Talk (7.7/10)


Tahun Keluar: 1959
Negara Asal: USA
Sutradara: Michael Gordon
Cast: Rock Hudson, Doris Day, Tony Randall, Thelma Ritter

Walaupun cuma romcom (romantic comedy) dan para film critic saat itu memperkirakan film ini bakal dengan cepat masuk kotak ketinggalan jaman, Doris Day dan Rock Hudson ternyata tetap mampu menarik minat penonton baru dari generasi masa depan untuk menonton film ini. Memang betul, topiknya sendiri sudah ketinggalan jaman, tetapi chemistry antara Day dan Hudson tetap segar dan mempesona sedemikian rupa sehingga topik yang ketinggalan jaman tersebut justru terasa delightful, greatly pleasing and entertaining :-)

Dalam komedi salah identitas ini, kocak sekali menyaksikan Day mempertahankan kegadisannya -- bagaikan benteng terakhir yang perlu dipertahankan :-), mengingatkan kita bahwa once upon a time, di suatu waktu di masa lalu, orang Barat itu luar biasa santunnya dan cewek Barat itu juga sangat care menjaga kegadisannya. Saat itu National Legion of Decency dan Motion Picture Production Code memegang keputusan terakhir apakah suatu film boleh dibuat dan diputar di AS atau tidak, so jangan main-2 atau meremehkan mereka -- jadi ingat dialog dalam film Hitchcock (2012) ketika official dari biro sensor menghardik Hitchcock tanpa tedeng aling-2 karena dia dianggap 'cengengesan':

Shurlock: “Is there any improper suggestion of nudity in this, uh, murder in the shower scene?”

Hitchcock: “She won't be nude, she'll be wearing a shower cap.” :-)

Saat itu Day konon sudah menikah sebanyak tiga kali, entah bagaimana caranya dia menjaga image-nya di publik sebagai “virgin”? Mungkin karena saat itu belum ada social media seperti Twitter atau Facebook, sehingga image-nya yang virginal tidak pernah luntur. Belum lagi tentang Hudson ... :-)

Duet Doris Day dan Rock Hudson adalah salah satu dari sedikit on-screen couple made-in-Hollywood yang paling memorable dan pesona mereka di dalam layar perak terbukti tidak pernah lapuk dengan berjalannya waktu.

* 7.7/10




Pillow Talk dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 16 April 2013

Shanghai Triad

Resensi Film: Shanghai Triad (Yao a yao yao dao waipo qiao) (7.8/10)


Tahun Keluar: 1995
Negara Asal: France, China
Sutradara: Zhang Yimou
Cast: Gong Li, Li Baotian, Wang Xiaoxiao

Jangan membandingkan film gangster beranggaran kecil ini dengan film gangster beranggaran besar seperti The Godfather (1972), Scarface (1983), atau Goodfellas (1990). Dibandingkan film-2 tersebut, film ini ceritanya memang sederhana dan penyampaiannya tidak hard-hitting -- sutradara Zhang Yimou tidak menampilkan scene-2 kekerasan secara grafis, sebagian darinya disampaikan dari POV (point of view) protagonis film ini yang masih di bawah umur, dengan demikian membiarkan penonton menggunakan imajinasinya sendiri -- dan cara ini sudah cukup untuk mencapai efek yang dia inginkan, yaitu pesan utamanya tetap tersampaikan secara efektif di akhir film.

Shuisheng (Wang Xiaoxiao) adalah anak petani miskin yang dikirim ibunya ke kota untuk bekerja dengan pamannya yang konon adalah orang “sukses”. Tidak pernah menjelaskan apa pekerjaannya, pamannya memberi Shuisheng pekerjaan sebagai pelayan seorang penyanyi cabaret/nightclub yang ketus dan bermulut tajam, namanya Jingbao (Gong Li). Kontan saja Shuisheng tidak menyukai majikannya. Sampai suatu saat, ketika majikannya sedang vulnerable, majikannya mengatakan bahwa dia sesungguhnya berasal dari latar belakang yang sama seperti Shuisheng, yaitu anak petani miskin yang pergi ke kota untuk menjadi orang sukses. Sejak itu Shuisheng mulai dapat berempati terhadap majikannya: sikapnya yang judes tersebut ternyata adalah ungkapan frustrasinya terhadap nasibnya sendiri -- wanita simpanan seorang boss mafia, orang “sukses” (?), dan mulailah terjalin persahabatan antara mereka berdua. Pikirannya terbelah antara cita-2 yang muluk dan kenyataan yang sebaliknya, Jingbao sedikit demi sedikit terseret ke titik nadir paling bawah ... sementara Shuisheng, yang masih di bawah umur, tidak berdaya melindunginya dan hanya bisa menyaksikan saja.

Tidak setuju dengan pendapat Roger Ebert yang menilai Wang Xiaoxiao (protagonis film ini) sebagai titik lemah dari film ini, penulis justru menilai pemilihan Wang, anak laki-2 yang sama sekali tidak 'polished' dan tidak 'cute', sangat cocok dengan peran yang dia mainkan: a country bumpkin! Namun demikian penulis memahami pendapat tersebut karena di Hollywood produser hanya memilih anak-2 yang 'cute' (lucu dan menggemaskan) saja -- bahkan overly cute :-), misalnya: Jonathan Lipnicki dalam Jerry Maguire (1996), Dakota Fanning dalam I am Sam (2001), atau Abigail Breslin dalam Little Miss Sunshine (2006), untuk “memeras” simpati penonton. Tetapi untuk penulis, hal ini justru kurang realistis, apalagi kalau perannya tidak memerlukan kualitas tersebut, karena itu penulis sama sekali tidak melihat Wang sebagai titik lemah dari film ini. Gong Li membuktikan dirinya tidak hanya rupawan saja, tetapi juga aktres yang berbobot, menampilkan variasi personality mulai dari penyanyi cabaret yang mempesona, majikan yang menjengkelkan, wanita simpanan yang tidak bahagia, sampai ke dirinya sendiri yang masih terpendam di dalam. Sayang sekali, Gong Li sampai saat ini belum pernah diperhitungkan di Academy Awards. Semoga dia masih mempunyai kesempatan membuat film-2 yang berbobot.

Memperhitungkan anggaran pembuatan film ini yang termasuk kecil, two thumbs up untuk Zhang Yimou yang berhasil dengan sangat baik menampilkan romantika, dan sekaligus dekadensi, kota Shanghai pra-revolusi, yang saat itu dijuluki sebagai “Paris of the East”, melalui sinematografi, desain produksi, desain kostum, dan arahan seni yang memukau. Dikemas sebagai film gangster, Shanghai Triad adalah film tentang mimpi muluk yang harus berakhir dengan tragedi (judul aslinya dalam bahasa Mandarin lebih mencerminkan isi ceritanya daripada judul dalam bahasa Inggrisnya).

* 7.8/10





Shanghai Triad dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 27 March 2013

"Dracula" oleh Bram Stoker

Public Domain.

Sebuah karya, karena satu dan lain sebab, kadang-2 sudah tidak dimiliki lagi oleh siapapun (oleh penciptanya, atau keluarga/keturunan penciptanya, atau pemilik yang lain) dan masuk ke dalam Public Domain. Sebanyak kita menyukai Public Domain (baca: gratisan), ramifikasi negatif darinya adalah semua orang boleh 'menggunakan' karya tersebut sesuka hati/keinginan mereka -- and over a period of time, karya tersebut menjadi luntur dari karya asliya. Nasib ini dialami oleh kisah Gothic horor “Dracula” karya penulis asal Irlandia, Bram Stoker.

Menurut survey ada lebih dari 200 film yang menampilkan tokoh Dracula, tetapi hanya ada 1 film saja plotnya dekat dengan kisah aslinya -- menjadikan Dracula sebagai tokoh fiksi nomor 2 yang paling misunderstood, misjudged, misinterpreted, misread, misconstrued.

Siapakah Dracula? Mari membaca dari penulis aslinya.

Kuis: Siapa tokoh fiksi nomor 1 yang paling misunderstood, misjudged, misinterpreted, misread, misconstrued?





"Dracula" oleh Bram Stoker dapat anda temukan di eBay.com

Monday, 25 March 2013

The Shop Around the Corner

Sekelumit tentang: The Shop Around the Corner (1940)

Tahun Keluar: 1940
Negara Asal: USA
Sutradara: Ernst Lubitsch
Cast: Margaret Sullavan, James Stewart, Frank Morgan, Joseph Schildkraut

 
Romantic comedy, atau sering disingkat dengan “romcom”, adalah genre film yang populer -- disukai antar gender, dan kadang-2 antar generasi (yang sudah setengah bayapun bisa memahami dan menikmati). Walaupun tidak terkenal sebagai genre film dengan tema yang berat/serius, dari waktu ke waktu kita menemukan film romcom yang “di atas rata-2,” karena selain menampilkan romans dan komedi, script-nya ternyata menyisipkan topik yang lumayan penting. The Shop Around the Corner (1940) adalah salah satu di antaranya. Alfred Kralik (James Stewart) dan Klara Novak (Margaret Sullavan) adalah rekan sekerja. Masing-2 tidak cocok dengan yang lainnya, dan masing-2 mempunyai kawan pena yang merupakan jodoh impian. Yang tidak mereka ketahui adalah masing-2 adalah kawan pena dari yang lainnya tersebut :-) Sampai suatu saat salah satu di antara mereka menemukan fakta tersebut!

Tidakkah kita masih sering berjuang untuk menjadi yang terbaik dari diri kita sendiri? Bukankah kita juga benci kalau kita tidak berhasil menjadi yang terbaik dari diri kita sendiri?

How do you think Tom Hanks and Meg Ryan in You've Got Mail (1998) measure up against James Stewart and Margaret Sullavan in this film?





The Shop Around the Corner dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 20 March 2013

The Tailor of Panama

Resensi Film: The Tailor of Panama (7.8/10)


Tahun Keluar: 2001
Negara Asal: USA, Ireland
Sutradara: John Boorman
Cast:  Pierce Brosnan, Geoffrey Rush, Jamie Lee Curtis

Film kecil thriller espionase ini hampir saja luput dari perhatian penulis, if not because of Geoffrey Rush! :-)

Andrew 'Andy' Osnard (Pierce Brosnan), seorang agen MI6, disingkirkan dari posnya di Madrid, Spanyol, gara-2 skandal pribadi dengan wanita simpanan seorang pejabat tinggi di negeri tersebut dan dibuang/diasingkan ke Panama City, Panama. Selalu berpikiran korup, alias berniat memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan pribadi, Andy dengan cepat dan to-the-point “menitik” kontaknya di kota tujuan yang baru tersebut. Kontak tersebut adalah  Harold 'Harry' Pendel (Geoffrey Rush), seorang imigran terpandang dari Inggris, sekaligus tukang jahit ternama di kota tersebut dengan jaringan pelanggan sampai ke presiden Panama. Dan tidak hanya itu saja, Harry menikah dengan Louisa (Jamie Lee Curtis), seorang wanita Amerika dari keluarga terpandang yang kebetulan menjabat posisi sebagai asisten direktur dari Panama Canal Authority. Tetapi Harry menyimpan masa lalu yang gelap di Inggris sebagai seorang bekas kriminal, situasi yang sangat disukai dan sengaja dimanfaatkan Andy untuk mem-blackmail Harry. Di bawah ancaman Andy, Harry terpaksa menjadi kontak, membawa dan memperkenalkan Andy ke pelanggannya dari kalangan elite/higher circle di Panama City. Sama sekali tidak puas dengan apa yang diberikan Harry dan mengetahui Harry sedang kesulitan keuangan, Andy mendorong (baca: memaksa) Harry untuk memberikan informasi yang “berguna” (baca: “bernilai uang”). Terpojok karena kesulitan keuangan tersebut, Harry akhirnya menyerah ke situasi yang ada. Dengan menggunakan pengetahuan dari pekerjaan istrinya dan reputasi dari teman-2 seperjuangannya, Harry menciptakan plot seakan-2 pemerintah Panama berencana menjual Panama Canal ke pihak musuh. Mengetahui sepenuhnya bahwa Harry ngibul, Andy mulai menghadiahi informasi tersebut dengan uang. Dan semakin besar ngibulnya, semakin besar uangnya. Sampai suatu saat Harry menyadari bahwa plot ciptaannya tersebut ternyata “hidup” betulan, yaitu dengan istrinya mulai curiga, teman-2 seperjuangannya mulai diburu oleh pihak otoritas Panama, dan CIA/Pentagon mulai mempersiapkan invasi militer ke Panama. Oh, Harry ... what have you done?! :-)

Walaupun Brosnan memperoleh first billing dan menyegarkan menyaksikan dia memerankan agen MI6 yang karakterisasinya terbalik dari James Bond, Rush adalah kunci kekuatan film ini. Sebagai aktor yang lebih berpengalaman, Rush menangani portfolio yang lebih kompleks: businessman tetapi romantis/gak tegaan, terpandang tetapi bermasa lalu gelap, dekat dengan kekuasaan tetapi sekaligus politically and socially conscious. Brosnan membuktikan dirinya mampu mengimbangi Rush, dan dinamika di antara mereka berdua sangat menarik untuk ditonton: Brosnan sebagai orang yang tidak punya niat menjadi orang baik dan Rush sebaliknya sebagai orang yang punya niat menjadi orang baik. Jamie Lee Curtis tampil restrained and controlled, dan menyumbang scene penutup yang manis, humane, dan tidak terduga. Anggota cast pendukung yang lain, Leonor Varela sebagai Marta dan Brendan Gleeson sebagai Michelangelo 'Mickie' Abraxas juga tampil meyakinkan. Daniel Radcliffe, saat itu berusia 11 tahun, tampil untuk pertama kalinya dalam film sebagai anak dari Harry dan Louisa -- oh, siapa yang nyangka dia menjadi tenar sebagai Harry Potter! :-) Dengan script yang ketat dan rapi, pengarahan yang imajinatif -- scene pembuka ketika Rush memotong kain betul-2 menghanyutkan atau scene Uncle Benny sebagai suara hati nurani Harry juga imajinatif, setting lokasi yang eksotik, dan musik yang meng-accentuate lokasinya, dibandingkan dengan Tinker Tailor Soldier Spy (2011), dari penulis novel yang sama, John le Carré, yang jauh lebih besar dan kompleks -- dan kering, The Tailor of Panama adalah film yang kecil dan sederhana -- and yet memiliki semua elemen thriller espionase yang lengkap dan menghibur. Satu-2nya pihak yang mungkin tidak suka dengan film ini adalah CIA atau Pentagon ... :-)

* 7.8/10




The Tailor of Panama dapat anda temukan di eBay.com