Friday, 3 August 2012

Marathon Man

Resensi Film: Marathon Man (7.7/10)

Tahun Keluar: 1976
Negara Asal: USA
Sutradara: John Schlesinger
Cast: Dustin Hoffman, Laurence Olivier, Roy Scheider

Plot: Seorang mahasiswa tingkat doktoral jurusan sejarah tanpa direncana terjebak dalam konspirasi internasional yang melibatkan seonggok berlian curian, penjahat perang Nazi yang bersembunyi di Uruguay, dan organisasi intelijen rahasia AS yang menamakan dirinya The Division (IMDb).

Sementara berlatih menjadi pelari maraton, Thomas Babington “Babe” Levy sedang mengalami krisis motivasi dalam mempersiapkan desertasi PhD-nya yang menyangkut topik McCarthyism*), topik yang membangkitkan kembali kenangannya terhadap tragedi keluarga yang terjadi di masa lalu, yaitu kematian ayahnya yang bunuh diri gara-2 “witch-hunting” yang terjadi pada jaman tersebut. Ibunya telah meninggal dunia ketika dia masih kecil, maka ketika ayahnya juga meninggal dunia ketika dia menginjak remaja, satu-2nya anggota keluarga yang dia miliki adalah kakaknya, Henry “Doc” Levy. Sejauh pengetahuan Babe, kakaknya adalah seorang eksekutif di sebuah perusahaan perminyakan di Washington. Tetapi kepercayaannya ini berubah seketika ketika pada suatu malam kakaknya pulang ke rumahnya dalam keadaan terluka parah, sekarat, dan sejenak kemudian tewas di dalam pelukannya. Dalam waktu sekejap dia harus belajar bahwa kakaknya selama ini bohong terhadapnya: dia sama sekali bukan seorang eksekutif di perusahaan perminyakan, tetapi seorang agen di organisasi intelijen rahasia yang menamakan dirinya The Division. Dicurigai telah menerima pesan rahasia dari kakaknya sebelum dia meninggal dunia, dia sekarang menjadi sasaran pengejaran kelompok yang sama yang telah membunuh kakaknya.

*) McCarthyism adalah praktek menuduh orang/organisasi sebagai subversif atau pengkhianat bangsa gara-2 orang/organisasi itu mempunyai paham atau ideologi yang berbeda dari pihak penguasa. Terminologi ini berasal dari Amerika Serikat pada tahun 1950-an ketika seorang senator dari Partai Republik yang bernama Joseph McCarthy membangkitkan histeria massal ketakutan terhadap bahaya komunisme dan memulai "witch-hunting" terhadap orang-2 atau organisasi-2 yang dinilai mempunyai paham atau ideologi kiri.

Bersetting di kota New York pada tahun 1970-an, film ini menampilkan kota New York yang terlihat kelabu dan terlantar -- ketika ditonton lagi sekarang, atmosfir tersebut mengingatkan penonton bahwa kota megapolitan ini tidak selamanya glamorous seperti sekarang, karena di masa yang lalu pernah berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan: law & order (hukum dan penegakannya) diabaikan, neighborhood (komunitas) dikuasai oleh mafia/gang preman, jalan-2 kotor dan terbengkalai, dan fasilitas-2 umum menjadi tempat terjadinya kejahatan. Sutradara John Schlesinger juga berhasil menampilkan atmosfir anxiety (kekhawatiran) dan paranoia dengan menempatkan kamera yang bergerak mengikuti pergerakan lakon utamanya atau dari point of view lakon utamanya. Walaupun sekarang terasa outdated, film ini meninggalkan dua legacy, yaitu: 1) Villain Dr. Christian Szell, seorang penjahat perang Nazi, yang diperankan dengan sangat baik -- dingin dan sadis -- oleh aktor veteran dari Golden Era of Hollywood, Sir Laurence Olivier, berhasil menduduki Top Villain dalam daftar villain dari American Film Institute. Sir Olivier menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik untuk perannya dalam film ini. Dua tahun kemudian, pada tahun 1978, Sir Olivier berganti peran menjadi seorang Yahudi, pemburu penjahat perang Nazi, Ezra Lieberman, dalam film The Boys from Brazil -- di sini Sir Olivier juga menerima nominasi Oscar untuk Aktor Pendukung Terbaik untuk peran terbaliknya tersebut. 2) Scene Szell menyiksa Babe dengan peralatan kedokteran gigi, sambil berulang-2 menginterogasi dia: "Is it safe? ", berhasil menduduki Top Thrill/Scariest Moment :-) dalam daftar thrill dari American Film Institute. Penulis sendiri sering berpikir, orang yang paling tahu dalam menyiksa manusia adalah dokter (!) Maaf, tidak ada maksud menjelekkan profesi dokter. Maksudnya, karena seorang dokter tahu persis bagian-2 mana yang paling sensitif, maka dia tahu persis bagaimana caranya menimbulkan rasa sakit yang paling maksimal. Uuuh ... mengerikan ya?! :-)

Secara keseluruhan filmnya cukup cocok dengan novelnya, script-nya diadaptasi sendiri oleh penulis novelnya, tetapi ada dua bagian yang dihilangkan atau diubah, yaitu sequence kekerasan di awal cerita yang melibatkan Doc (dihilangkan) dan sequence kekerasan di akhir cerita yang melibatkan Babe (diubah sedemikian rupa sehingga Babe tetap bersih dari tindak kriminal).

7.7/10

Marathon Man dapat anda temukan di eBay.com

Tuesday, 31 July 2012

Finding Nemo

Resensi Film: Finding Nemo (8.5/10)

Tahun Keluar: 2003
Negara Asal: Australia, USA
Sutradara: Andrew Stanton
Cast: Albert Brooks, Ellen DeGeneres, Alexander Gould

Plot: Setelah hilang tertangkap jaring di Great Barrier Reef, Queensland, seekor ayah (ikan badut) yang penakut terpaksa pergi berkelana ke seberang lautan untuk menemukan kembali anaknya (IMDb).

Ada pepatah yang mengatakan, “There is a child in all of us.

Sedang filsuf Friedrich Nietzsche mengatakan, “In every person a child is hidden that wants to play.

Well, Finding Nemo adalah film yang membuktikan betapa benarnya kata-2 pepatah tersebut. Studio Pixar dengan animasinya yang halus dan riel, dalam setiap frame-nya, berhasil menampilkan keindahan dan keajaiban alam di dalam laut – yaitu, Great Barrier Reef, ekosistem karang terbesar di dunia yang terletak di lepas pantai Queensland, Australia. Sedang script dari Andrew Stanton et al. dengan karakterisasinya yang subyektif dan sensitif berhasil membuat setiap karakter dalam film ini unik dan menarik untuk “ditemukan”. Ingatkah anda ketika anda masih kecil, ketika anda untuk pertama kalinya pergi ke sekolah, meninggalkan rumah dan orangtua anda? Penuh dengan antisipasi dan harapan, tetapi juga bercampur dengan kecemasan. Ketika anda akhirnya bertemu dengan teman-2 baru anda, reaksi anda adalah subyektif dan sensitif, misalnya: iiih, ada yang rambutnya keriting (kok ada ya rambut seperti itu?); yang ini hidungnya mancung banget (yang bener aja?!); yang itu mukanya tembem kayak kue terang bulan :-); yang di sana pitanya menyala kayak stabilo :-); yang di sini saputangannya persis kayak taplak meja :-); dan ketika gurunya muncul, warakadah ... tinggi besar kayak gendruwo :-) Setiap penemuan, tidak peduli sesederhana apapun, adalah penemuan baru! Inilah reaksi yang timbul dari script film ini -- setiap karakter, besar atau kecil, adalah penemuan baru. Tidak ada satu momen-pun, dari awal sampai akhir, yang tidak membuat anda takjub, terpesona terhadap apa yang anda lihat. Finding Nemo dengan sangat baik berhasil menemukan kembali dan membawa keluar “anak” dalam diri penonton, tidak peduli dia sudah dewasa atau masih anak-2.

Selain efek di atas, film ini mempunyai keunggulan yang lain, yaitu multi-layered storytelling atau penceritaan yang berlapis-2. Ada banyak film yang penampilan luarnya kompleks, tetapi isinya sesungguhnya dangkal; Finding Nemo justru sebaliknya. Dari luar, secara sepintas, ceritanya sederhana, yaitu ayah yang mencari anaknya yang hilang. Namun demikian, despite its outwardly simple facade, Finding Nemo adalah so much more – jauuuh lebih dari itu. Disuarakan oleh para aktor/aktres yang memahami bahwa bersuara-pun memerlukan penghayatan (selain tiga suara di atas, kita juga mendengarkan suara-2 berkarakter dari para aktor/aktres senior seperti Willem Dafoe sebagai Gill the Moorish Idol, Allison Janney sebagai Peach the Starfish :-), Geoffrey Rush (!) sebagai Nigel the Pelican :-), dan comedian Barry Humphries sebagai Bruce the Great White Shark ... whooo :-)), Finding Nemo adalah cerita tentang petualangan (dengan membawa penonton ke daerah eksotik di dalam laut yang tidak banyak kita kenal, sutradara/penulis Andrew Stanton betul-2 memahami kecintaan penonton untuk menemukan dan melihat sesuatu yang baru), cerita tentang persahabatan (antara Marlin dan Dory, antara Nemo dan teman-2nya di akuarium di Sydney), cerita tentang perjuangan hidup, cerita tentang proses menjadi dewasa, cerita tentang menemukan jati diri. Wow, di balik facade yang sederhana, anda dapat menemukan cerita yang berlapis-2!

Bersetting di dalam laut, Finding Nemo adalah metafora dari laut itu sendiri – permukaannya nampak datar dan sederhana, tetapi dalamnya ... so deep and full of creamy nuggets! Dan setelah selesai menonton film ini, para orangtua memahami anaknya lebih baik, dan para anak memahami orangtuanya lebih baik.

8.5/10

Finding Nemo dapat anda temukan di eBay.com

Wednesday, 25 July 2012

Headhunters

Resensi Film: Headhunters (Hodejegerne) (7.8/10)

Tahun Keluar: 2011
Negara Asal: Norway, Germany
Sutradara: Morten Tyldum
Cast: Aksel Hennie, Nikolaj Coster-Waldau, Synnøve Macody Lund

Plot: Seorang headhunter*) dengan Napoleon-complex**) mempunyai kehidupan ganda sebagai pencuri benda-2 seni berharga untuk membiayai gaya hidupnya yang mewah untuk meng-impress istrinya (IMDb).

*) agen HR untuk top executive untuk perusahaan-2 besar
**) perasaan minder gara-2 tubuh yang pendek :-)

Jangan heran kalau beberapa tahun lagi Hollywood me-remake film ini. Roger Brown (Aksel Hennie) adalah seorang headhunter yang sukses. Namun demikian, dia mempunyai Napoleon-complex gara-2 tubuhnya yang pendek (168 cm – ini pendek untuk ukuran pria Norwegia :-)). Dia merasa perlu agar istrinya yang cantik dan tinggi, Diana (Synnøve Macody Lund), pemilik art gallery di Oslo, tidak meninggalkannya, dia meng-impress istrinya dengan gaya hidup yang mewah – padahal istrinya hanya menginginkan anak darinya. Penghasilan dari headhunter yang sukses tampaknya tidak cukup membiayai gaya hidup tersebut. Maka, dia mempunyai pekerjaan sambilan sebagai pencuri benda-2 seni berharga. Dalam melakukan kejahatan ini, Roger dibantu oleh seorang pegawai perusahaan security/alarm, Ove (Eivind Sander), yang akan mematikan alarm di TKP ketika dia beraksi. Selama ini dia selalu berhasil mencuri dan lolos, karena pemiliknya sering-2 bahkan tidak menyadari kalau barangnya telah dicuri (ditukar dengan yang palsu); atau kalau akhirnya menyadari, ini terjadi jauh setelah jejak pencurian tersebut hilang. Suatu hari istrinya memberitahu dia bahwa dia mempunyai client yang bernama Clas Greve (Nikolaj Coster-Waldau) yang menyimpan lukisan karya pelukis terkenal Rubens. Harganya dapat mencapai ratusan juta dollar! Kontan saja mata Roger berkunang-2 ... :-) Maka, dipersiapkanlah segala sesuatunya untuk mencuri lukisan tersebut. Pada hari H-nya, ketika Roger menyelinap masuk ke dalam rumah Clas, dia tidak hanya menemukan lukisan berharga tersebut, tetapi juga sesuatu yang menjungkir-balikkan hidupnya. Segera setelah itu segala sesuatunya berubah menjadi sinister dan serius. Clas yang dulunya juga "headhunter" dalam arti yang lain, yaitu anggota special force, ternyata mempunyai "permainan"-nya sendiri. Roger tidak menyangka dia menggigit mangsa yang lebih besar daripada yang bisa dia telan.

Melihat posternya, mempertimbangkan judulnya, penulis menyangka film ini adalah film tentang pembunuh bayaran, ternyata bukan. Walaupun alasan Roger menjadi pencuri cukup menggelikan (yet manusiawi), plotnya lumayan believable -- penulis sendiri sering berpikir, betapa mudahnya seorang pegawai perusahaan security/alarm, kalau dia memang mau, berkomplot atau ber-kongkalikong dengan seorang pencuri untuk melicinkan jalan baginya ketika dia beraksi. Semakin canggih, semakin computerized sistem keamanan sebuah rumah, semakin mudah membobolnya :-) Film ini mempunyai script yang ketat dan sutradara Morten Tyldum menyampaikannya dengan tempo yang tinggi. Sebelum penonton sempat menebak ke arah mana cerita kira-2 bergulir, plotnya bergerak ke arah yang tidak kita sangka. Script-nya mengkombinasikan antara elemen thriller, surprise, dan satu elemen lagi yang membuat film ini “berbeda”, yaitu komedi -- tepatnya, komedi tingkah laku manusia sebagai makhluk yang rasional, sekaligus irrasional :-) Hasilnya, penulis setuju dengan pendapat Roger Ebert, tidak seperti film-2 thriller yang lain yang sering-2 cuma mengandalkan energi kinetik saja: stunt (akrobatik), special effects, dan gerakan kamera yang eratik (uuuh, pusing melihatnya), perasaan tegang yang muncul di sini berasal dari plot yang terjadi. Tidak seperti film-2 thriller Hollywood yang sering-2 ‘kebacut’ (berlebihan) dalam “memelintir” plot, misalnya karakter-2 yang ketemon melakukan double-crossing, film ini membuat kita tidak putus asa karena di tengah situasi dimana kita tidak tahu siapa atau apa yang bisa dipercaya, paling tidak ada satu karakter yang bisa dipercaya :-) Dan alangkah indahnya bahwa satu karakter tersebut adalah istri yang cantik dan tinggi :-) Aneh bin ajaib, kebetulan atau disengaja (?), Hennie wajahnya mirip seperti Christopher Walken, Coster-Waldau mirip seperti Aaron Eckhart, dan Lund mirip seperti foto model Christie Brinkley – membuat film ini dalam sekejap mempunyai daya tarik international. Maka, kalau betul Hollywood nanti me-remake film ini, Tom Cruise yang tubuhnya pendek mungkin cocok memerankan Roger, Aaron Eckhart definitely cocok menjadi Clas, sedang Charlize Theron yang berambut pirang dan bertinggi badan mendekati 180 cm semestinya cocok menjadi Diana. Let’s wait and see ...

7.8/10

Headhunters dapat anda temukan di eBay.com

Saturday, 21 July 2012

Lolita

Resensi Film: Lolita (8.5/10)

Tahun Keluar: 1962
Negara Asal: UK
Sutradara: Stanley Kubrick
Cast: James Mason, Shelley Winters, Sue Lyon, Peter Sellers

Plot: Seorang profesor berusia setengah baya jatuh cinta dengan seorang remaja berusia 14 tahun (IMDb).

Ada film-2 yang setiap kali kita menontonnya, kita memperoleh pemahaman tambahan/berbeda daripada ketika terakhir kali kita menontonnya. Film-2 karya Stanley Kubrick banyak yang seperti ini dan Lolita adalah salah satu di antaranya. Penulis sudah beberapa kali menonton film ini; dan setiap kali menontonnya, penulis memperoleh pemahaman tambahan/berbeda daripada ketika terakhir kali menontonnya -- seakan-2 ceritanya sedemikian luasnya sehingga selalu saja ada bagian-2 kecil yang luput dari perhatian atau pemahaman, atau kadang-2 terasa seperti parable yang menyembunyikan cerita sesungguhnya di balik facade yang kasat mata. Stanley Kubrick konon tidak dapat secara bebas mengadaptasi isi novel dengan judul yang sama karya Vladimir Nabokov ini ke dalam layar lebar karena batasan-2 censorship yang ketat saat itu. Mungkin gara-2 ini Kubrick mesti "berkelit" di balik facade yang dapat diterima oleh kode etik perfilman saat itu -- tidak ada adegan erotik, apalagi seks, dalam film ini, semuanya disampaikan secara implisit, namun demikian penonton menyadari sepenuhnya sifat hubungan antara profesor tersebut dan Lolita. Akibatnya, ada perbedaan cukup besar, dari segi plot dan karakterisasi, antara novelnya dan film ini. Despite all this, mungkin justru di sinilah letak keunggulan film ini -- membuatnya bertahan melawan waktu, karena penonton dapat selalu menemukan hal baru setiap kali menontonnya. Penulis belum pernah membaca novelnya, karena itu review ini hanya membahas filmnya saja -- sama sekali tidak ada perbandingan dengan novelnya.

Film drama serius yang dikemas dalam komedi gelap ini dibintangi oleh tiga bintang besar Hollywood pada jamannya, yaitu: James Mason, Shelley Winters, dan Peter Sellers, dan satu pendatang baru, Sue Lyon, yang memainkan 'title role' Lolita. Kesan pertama yang menggelitik dari film ini adalah nama-2 karakternya: 1) Profesor Humbert Humbert. Dengan jabatan profesor dan nama Humbert Humbert (seakan-2 satu Humbert saja tidak cukup :-)), penonton mencium ada sesuatu yang "tidak beres" dengan dirinya -- di balik eksterior yang terhormat, tersimpan interior yang sleazy, disreputable, tidak bermoral. 2) Charlotte dan Dolores Haze. Haze mempunyai arti kabut atau pikiran yang tidak jelas atau bingung. Charlotte adalah nama priyayi, sementara karakternya adalah wanita dari kelas bawah. Sedang Dolores adalah nama seorang wanita suci dari Spanyol -- gabungan Dolores + Haze menimbulkan kesan nama seorang prostitute. 3) Clare Quilty. Clare adalah nama wanita, sementara karakternya adalah pria, menimbulkan kesan foxy, serigala berbulu domba, tidak dapat dipercaya. Pertama kali menonton film ini, penulis menangkap kesan ini, tetapi baru menyadari sepenuhnya setelah beberapa kali menontonnya: nama-2 tersebut adalah summary atau ringkasan dari masing-2 karakternya! So spot on.

James Mason yang selalu tampil suave (smooth & sophisticated) adalah aktor yang tepat memainkan peran Humbert Humbert. Dengan censorship yang ketat saat itu, penampilan Mason berhasil menghindari kesan penonton secara frontal terhadap karakternya sebagai seorang fedofilia*) -- walaupun penonton menyadari sepenuhnya. Selanjutnya, di sepanjang film Mason berhasil menampilkan berbagai warna dari kepribadian karakternya: condescending -- memandang rendah orang dari kelas bawah (terhadap Charlotte, juga terhadap Dolores/Lolita), scheming -- memanipulasi untuk kepentingan diri sendiri, dan possessive -- menguasai, mengontrol untuk memuaskan diri sendiri. Shelley Winters yang selalu tampil menjiwai sebagai wanita yang histeris dan pathetic/'ngenes' :-) adalah aktres yang tepat memainkan peran Charlotte Haze. Charlotte, seorang janda dari kelas bawah, sangat ingin menaikkan status sosialnya dengan bersosialisasi dengan orang-2 dari kelas atas -- istilahnya, social climber. Sedemikian desperate-nya, dia menutup mata terhadap motivasi sesungguhnya dari pria-2 dari so called "kelas atas" tersebut. Sedemikian ignorant-nya, dia tidak mampu melihat anaknya yang menginjak dewasa ini mulai menampilkan kedewasaannya secara tidak pantas, dia juga tidak mampu melihat pria-2 dari "kelas atas" tersebut menyimpan agenda terselubung setiap kali mereka tersenyum kepadanya. Singkat kata, Charlotte adalah ibu dan wanita yang betul-2 pathetic, mengenaskan (!) ... dan Winters membawakan peran ini dengan sempurna! Peter Sellers dengan kemampuannya menampilkan "seribu wajah" adalah aktor yang tepat memainkan peran Clare Quilty. Charlotte tergila-2 dengan Clare karena dia adalah seorang playwright (penulis teater) -- menuju akhir film reputasi sesungguhnya terkuak sebagai seorang pornographer. Kubrick memberi kebebasan kepada Sellers untuk berimprovisasi dan hasilnya sangat menarik! Sebagai playwright, Sellers tampil avant-garde, superior, dan sekaligus arogan (tidak heran Charlotte tergila-2 ingin mendekatinya). Sebagai polisi, Sellers tampil misterius dengan gaya interogasinya yang pasif-agresif. Sebagai Doctor Zempf, Sellers tampil betul-2 maniak (peran ini nampaknya menjadi acuan bagi Sellers untuk perannya di kemudian hari dalam film Dr. Strangelove yang juga disutradarai oleh Kubrick). Karakter-2 samaran yang dimainkan Sellers ini betul-2 menggelitik, karena dia tidak ada habisnya "menyiksa" Humbert dari awal sampai akhir film :-) Di Golden Globes, ajang penghargaan yang diberikan oleh kalangan jurnalis, Mason, Winters, dan Sellers, ketiganya menerima nominasi untuk aktor terbaik, aktres terbaik, dan aktor pendukung terbaik. Penulis setuju sekali, kekuatan utama film ini ada di pundak mereka.

*) Orang dewasa yang mempunyai nafsu birahi terhadap anak-2.

Bagaimana dengan ceritanya sendiri? Sebagian besar penonton menilai film ini sebagai cerita tabu tentang fedofilia. Penulis setuju, tetapi fedofilia bukan satu-2nya topik yang dieksplorasi oleh Kubrick di sini; ada topik yang lain, yaitu: (kecenderungan) sifat posesif pria terhadap wanita, dhi. sifat posesif tiga pria dalam hidup Lolita. Humbert ingin memiliki Lolita dan kemudian berusaha "mendidik"-nya -- seakan-2 tidak cukup menjadi kekasih saja, dia juga ingin menjadi ayah Lolita! :-) Sikap Humbert yang senang mengontrol ini akhirnya "menyesakkan" Lolita. Clare juga ingin memiliki Lolita (Lolita mula-2 mempunyai "crush" terhadapnya). Tetapi segera setelah Lolita memberontak darinya, ketika dia menolak berperan dalam film "seni"-nya (baca: pornografi), Clare mencampakkannya. Di akhir film, Lolita ditampilkan sudah berkeluarga. Suaminya juga posesif terhadap dirinya, menuntut ini dan itu tanpa mempedulikan perasaannya. Di akhir film, Lolita mengakui bahwa dia tidak pernah mencintai Humbert, tidak mencintai Clare, juga tidak mencintai suaminya -- well, tidak mengherankan kalau dia tidak mencintai semuanya! :-) Kalau dipikir-2, semua karakter dalam film ini betul-2 hopeless dan tragis; nevertheless, ada pelajaran berharga yang dapat ditarik dari komedi gelap ini.

All in all, Lolita is an incredibly sharp piece of filmmaking; khususnya penampilan Mason, Winters, dan Sellers. Sayangnya, karakter Winters dimatikan di tengah film, padahal karakter ini mempunyai fungsi penting sebagai ground/foundation di tengah-2 Humbert yang semakin neurotic, obsessive dan Clare yang semakin evil, sinister.

8.5/10

Lolita dapat anda temukan di eBay.com


Thursday, 12 July 2012

School of Rock

Resensi Film: School of Rock (7.8/10)

Tahun Keluar: 2003
Negara Asal: USA, Germany
Sutradara: Richard Linklater
Cast: Jack Black, Joan Cusack, Mike White, Miranda Cosgrove, Sarah Silverman

Plot: Dipecat dari grup rock band-nya karena dinilai terlalu fanatik, Dewey Finn terancam kehilangan atap di atas kepalanya karena sudah lama nunggak biaya sewanya. Out of desperation, dia "membajak" lowongan pekerjaan untuk temannya, Ned Schneebly, dan berpura-2 menjadi guru di sebuah sekolah dasar (IMDb).

Masih dalam tema yang sama seperti Tootsie (1982), pemeran utama dalam film ini adalah seorang artis yang harus berjuang untuk mencari nafkah. Sama seperti Dustin Hoffman yang sangat menjiwai perannya sebagai aktor, Jack Black juga sangat menjiwai perannya sebagai pemusik rock -- selidik punya selidik, dia ternyata adalah pemusik rock dalam kehidupan sehari-2nya; dia adalah lead singer/guitarist dalam grup rock band-nya, "Tenacious D", dan masih aktif sampai sekarang! Sama seperti Michael Dorsey (Hoffman) yang percaya bahwa dia adalah aktor yang baik, Dewey Finn (Black) juga percaya bahwa dia adalah pemusik rock yang baik ... sayangnya, hanya dia saja yang bisa mengapresiasi bakat tersebut; orang lain tidak ada yang peduli terhadapnya. Penulis rada kecewa melihat rating film ini di IMDb yang suam-2 kuku/bahkan semakin turun -- mungkin para film critic tersebut sudah kehilangan sense of humour-nya? :-) Kalau dibandingkan dengan film-2 drama, serius, high-minded, cerita dalam film ini memang sederhana dan predictable; tetapi kalau dibandingkan dengan film-2 komedi sekelasnya, film ini berada di atas rata-2. Apalagi film komedi ini dapat dinikmati oleh orang dewasa dan anak-2; bukan sekedar orang dewasa yang terpaksa pergi nonton karena harus mengantar anaknya nonton, tetapi orang dewasa yang pergi sendirian untuk menontonnya.

Satu-2nya kelemahan dalam film ini adalah cerita yang predictable dan rada ndak masuk akal. Tetapi, hey ... memangnya ada berapa banyak film yang ceritanya predictable dan ndak masuk akal? Mengapa para film critic tersebut nge-"pick on" Jack Black? :-) Menurut penulis, JB berperan sangat baik dalam film ini. Dari awal sampai akhir, JB berhasil "menularkan" spirit/antusiasme dan energi-nya ke penonton yang duduk di seberang layar. Dan sutradara film indie, Richard Linklater, mengetahui hal ini dan memberi kebebasan JB untuk bersinar. Namun demikian, Linklater tidak melupakan peran-2 yang lainnya; dia memastikan peran-2 tersebut juga bersinar: Joan Cusack tampil meyakinkan sebagai kepala sekolah yang kaku dan disiplin, yang di kemudian hari ketemon bahwa dia sesungguhnya merindukan kehidupan yang berbeda dari yang dia jalani saat ini -- di masa mudanya, dia adalah penggemar Stevie Nicks dengan "Edge of Seventeen"-nya :-) Mike White tampil meyakinkan sebagai flat mate JB, Ned Schneebly, yang terjepit antara kesetiaan terhadap teman dan pacarnya yang judes (akting White setingkat dengan akting Paul Giamatti), yang di kemudian hari ketemon bahwa di masa mudanya dia adalah anggota grup rock band :-) Sarah Silverman tampil meyakinkan sebagai pacar yang judes, sarkastik -- karakternya sengaja di-single-dimensional-kan, di-karikatur-kan, untuk menimbulkan rasa antipati/kebencian penonton terhadapnya (beberapa kali dalam 108 menit masa putar film ini penulis sempat mengumpat dalam hati: "Shut up you bitch!" :-))

Dan Linklater tidak berhenti sampai di sini saja. Dia memberi kesempatan anggota cast anak-2 untuk turut bersinar: Miranda Cosgrove, 10 tahun, sebagai Summer, anak ambisius yang menghalalkan segala cara untuk mencapai sukses -- Cosgrove hampir saja "mencuri" centre stage dari JB (Dewey menjulukinya "Tinker Bell"). Joey Gaydos Jr., 12 tahun, sebagai Zack, anak pemalu tetapi berbakat main gitar (Dewey menjulukinya "Zack-Attack"). Kevin Clark, 15 tahun, sebagai Freddy, anak bully tetapi berbakat main drum (Dewey menjulukinya "Spazzy McGee"). Rebecca Brown, 11 tahun, sebagai Katie, anak pendiam tetapi berbakat main gitar bass (Dewey menjulukinya "Posh Spice"). Robert Tsai, 15 tahun, sebagai Lawrence, anak terkucil tetapi berbakat main keyboard (Dewey menjulukinya "Mr. Cool"). Maryam Hassan, 10 tahun, sebagai Tomika, anak tidak percaya diri yang ternyata mempunyai suara merdu (Dewey menjulukinya "Songbird"). Dan semuanya yang lain -- tidak peduli sekecil apapun perannya, semuanya turut bersinar.

Penulis khususnya terkesan dengan scene ketika JB menjelaskan definisi musik rock -- bukan definisi menurut kamus, tetapi definisi menurut dia ... sticking it to "The Man"! :-)

Dewey Finn (berpose sebagai Ned Schneebly): "Yes! But, you can't just say it, man. You've gotta feel it in you're blood and guts! If you wanna rock, you gotta break the rules. You gotta get mad at the man! And right now, I'm the man. That's right, I'm the man, and who's got the guts to tell me off? Huh? Who's gonna tell me off?"

Freddy: "Shut the hell up, Schneebly!"
Dewey Finn: "That's it Freddy, that's it! Who can top him?"

Alicia: "Get outta here, stupidass."
Dewey Finn: "Yes, Alicia!"

Summer: "You're a joke, you're the worst teacher I've ever had!"
Dewey Finn: "Summer, that is great! I like the delivery because I felt your anger!"
Summer: "Thank you."

Lawrence: "You're a fat loser and you have body odour."
Dewey Finn: "... All right, all right! Now, is everybody nice and pissed off?"

Definisi musik rock dari JB ini betul-2 definisi yang paling berkesan. Ndak perlu buka kamus, langsung teringat dan selalu terkenang ... :-)

Secara keseluruhan, kelemahan film ini berhasil ditempuhi dengan kekuatannya, yaitu: 1) Jack Black, 2) Script yang pandai dan lucu, 3) Arahan Linklater yang memberi kesempatan semua cast, termasuk cast anak-2, untuk tampil unik dan bersinar, 4) Menunjukkan bagaimana musik, bahkan musik rock-pun, dapat membantu anak-2 membangun rasa percaya diri sehingga mereka mampu mencapai potensi yang ada di dalam dirinya (ini adalah hal yang sering dilupakan, apalagi di Indonesia dimana pendidikan musik boleh dikatakan tidak pernah memperoleh tempat serius -- paling-2 cuma menjadi pelajaran ekstra kurikuler), bahkan untuk anak-2 yang tidak mempunyai bakat musik sekalipun -- misalnya dalam film ini, Summer, yang pintarnya cuma nge-boss-i orang saja :-), dan last but not least, 5) Soundtracks fim ini berisi segudang musik rock dari grup-2 rock band ternama, mulai dari The Doors, AC/DC, Metallica, Led Zeppelin, Stevie Nicks, sampai David Bowie.

Anda mempunyai sense of humour? Anda penggemar musik rock? Anda semestinya dapat menikmati film ini.

Anda mempunyai sense of humour? Anda bukan penggemar musik rock? Hati-2, setelah menonton film ini anda bakalan menggemari musik rock :-)

* 7.8/10

School of Rock dapat anda temukan di eBay.com